Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 266 || Tak Terima Kenyataan || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko menyentuh pipi Yuna sambil menatap wajah Yuna yang tertidur pulas di siang hari.

Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan lembut di pipinya. Ia langsung bangkit sambil mengucek kedua matanya perlahan. “Udah pulang?” tanya Yuna sambil melirik jam dinding yang ada di kamarnya.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ini baru jam dua. Kenapa udah pulang?”

“Nggak terlalu banyak kerjaan. Semua dokumen udah aku selesaikan. Rapat juga nggak terlalu lama. Jadi, bisa pulang lebih awal.”

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko.

“Oh ya, di bawah ada banyak pelayan. Datang kapan?”

“Tadi pagi, Mama ke sini. Bawa koki, ahli gizi sama pelayan ke rumah ini. Sebenarnya, aku kurang nyaman kalo ada pelayan sebanyak itu. Aku sendiri, nggak tahu mau ngapain.”

Yeriko tertawa kecil. “Santai aja di rumah!” pintanya lembut. “Kamu masih hamil muda, jangan banyak beraktivitas. Emangnya, nggak sayang sama anak kita?”

“Sayang banget.”

“Ya udah, nggak usah mikir macem-macem dan nggak perlu ngerjain apa pun!” pinta Yeriko. “Bulan depan, kita periksa lagi untuk memastikan kondisi anak kita selalu sehat dan kuat.”

Yuna menganggukkan kepala.

Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Ia meraih ponsel tersebut.

Mata Yeriko justru tertuju pada kertas undangan yang ada di samping ponsel Yuna. Ia mengambil dan memerhatikan kertas undangan pernikahan mereka.

“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.

“Kantor.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu.” Yuna menggeser ikon answer dan langsung menjawab telepon dari kantornya. “Halo ...!”

“Halo ... Mbak Yuna!” sapa seseorang di seberang sana.

“Iya, Pak. Ada apa, ya?”

“Mbak Yuna beneran mau resign? Sudah dua tiga hari nggak masuk kerja.”

“Iya, Pak.”

“Mmh ... kalo gitu, tolong urus prosedur pengunduran dirinya terlebih dahulu ya!”

“Oh. Iya. Oke, Pak!”

“Oke. Kami tunggu surat pengunduran dirinya.”

“Mmh ... bisa dikirim lewat email aja?”

“Bisa.”

“Oke. Saya kirim suratnya via email.”

“Baik. Akan kami tunggu!”

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian menatap ponselnya yang sudah mati.

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

“Disuruh urus prosedur pengunduran diri.”

“Kamu mau ke kantor sana?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku kirim lewat email aja surat pengunduran diriku.”

“Jangan! Biar Riyan yang antar ke kantor kamu.”

“Eh!? Kenapa? Bukannya sama aja?”

“Lebih etis kalau diantar langsung ke sana.”

Yuna mengangguk, ia menuruti semua yang dikatakan oleh Yeriko.

“Udah makan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Yeriko melepaskan jasnya dan berbaring di tempat tidur.

“Capek ya?” tanya Yuna sambil tersenyum.

Yeriko menatap wajah Yuna sambil tersenyum. “Asal lihat kamu, semua capekku langsung hilang.” Ia menarik Yuna ke dalam pelukannya.

Yuna tersenyum sambil memeluk tubuh Yeriko. Ia menempelkan hidungnya ke leher Yeriko. Mereka terdiam selama beberapa saat. Tak ada kata yang terucap, hanya senyuman kebahagiaan yang mengembang di bibir keduanya. Saat ini, mereka sedang menikmati kebahagiaan mereka karena akan menjadi pasangan yang sejati.

“Oh ya, hari ini aku belum bisa ajak kamu main ke luar. Sore ini, aku masih ada urusan,” tutur Yeriko.

Yuna mengangguk kecil. “Aku ngerti kesibukan kamu. Bisa menyempatkan waktu buat aku setiap hari aja, aku udah seneng banget.”

Yeriko tersenyum bahagia sambil membelai kepala Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena istrinya, selalu mengerti bagaimana posisi suaminya dan tidak menuntut banyak hal. Membuat rasa cinta di hatinya, justru semakin meningkat setiap harinya.

 

...

 

Di tempat lain, Bellina masih saja terus mempertanyakan keadaan kandungannya sebelum ia dioperasi. Ia masih tidak percaya kalau telah salah mengira. Diagnosa dokter sebelumnya mengatakan kalau anaknya sudah meninggal dalam kandungan. Bagaimana anak itu masih hidup saat ia menjatuhkan dirinya di tangga. Ia merasa sangat bersalah kepada bayinya sendiri.

“Bel, kamu belum makan?” tanya Lian saat masuk ke ruangan dan melihat makanan Bellina masih utuh.

Bellina menggelengkan kepala. Ia duduk di atas ranjang sambil memangku wajah dengan lututnya. Pandangannya kosong, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, ia selalu mendengarkan tangisan bayi menggema di semua ruangan.

“Makan dulu, aku suapin!” pinta Lian.

Bellina menggelengkan kepala. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Ia mengira yang datang adalah mamanya. Namun, ternyata seorang pria yang tidak asing lagi di matanya.

“Selamat sore ...!” sapa Riyan sambil menghampiri Lian dan Bellina.

Bellina tertegun melihat kehadiran Riyan. Di belakangnya, ada Yeriko dan seorang pria dengan setelan jas rapi.

“Kalian mau ngapain ke sini?” tanya Lian.

Yeriko hanya tersenyum sinis dan duduk di salah satu sofa sambil melipat kakinya dengan santai.

“Selamat siang, Pak Lian. Saya Fariz, pengacara keluarga Hadikusuma.” Seorang pria di sebelah Riyan memperkenalkan diri.

Lian dan Bellina terkejut melihat Yeriko datang menghampiri mereka bersama seorang pengacara kondang yang sudah tidak asing lagi di mata mereka.

“Selamat siang!” Lian mencoba menghadapi pengacara tersebut dengan bijaksana.

“Li, kamu udah laporin Yuna ke polisi?” tanya Bellina berbisik.

Lian menggelengkan kepala. Ia menoleh ke arah Fariz. “Ada apa ya?” tanyanya sambil melirik Yeriko yang terlihat sangat santai.

“Kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait fitnah yang ditujukan pada Nyonya Yeriko.”

“Aku nggak fitnah, itu kenyataan!” seru Bellina. “Yuna udah dorong aku.”

Pengacara tersebut tersenyum kecil. “Saat kejadian, Pak Yeriko dan Pak Lian juga ada di sana, bukan?”

“Iya.” Lian menjawab pertanyaan Fariz dengan santai.

“Apakah saat terjatuh, Bu Bellina berteriak?”

“Iya.”

“Pak Lian dengar?”

Lian menganggukkan kepala.

“Bapak mendengar suara teriakan pertamanya di atas atau di bawah tangga?” tanya Fariz lagi.

“Di atas.”

“Oke. Artinya, Ibu Bellina berteriak dahulu baru jatuh?”

“Iya.” Lian langsung menjawab pertanyaan Fariz dengan cepat karena Fariz juga mengajukan pertanyaan kepadanya begitu cepat.

“Baiklah. Ini saja yang akan saya tanyakan. Ke depannya, kalau memang harus berhadapan dengan hukum, saya akan membela Nyonya Yeriko sampai titik darah penghabisan!” tegas Fariz.

Bellina dan Lian terkejut mendengar ancaman Fariz. Mereka belum melaporkan Yuna ke kantor polisi, namun Yeriko sudah bergerak terlebih dahulu dan mengancam posisi mereka.

Fariz tersenyum kecil. “Kami permisi dulu!” Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan perasaan yang tak karuan.

Yeriko bangkit dari sofa. Ia berjalan menghampiri Lian dengan santai sambil menyimpan kedua telapak tangan di sakunya. “Kalau mau laporin Yuna ke polisi, sebaiknya kalian siapin pengacara yang lebih hebat lagi dari Fariz!” bisiknya penuh kekejaman.

Yeriko tersenyum sinis melihat wajah Bellina yang ketakutan. Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan santai.

“Bel, kamu jujur sama aku. Ada apa sebenarnya? Apa kamu memang fitnah Yuna?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala.

“Kalo nggak, aku bakal lapor ke polisi secepatnya. Tapi, aku juga nggak bisa melindungi kamu kalau memang kamu yang bersalah.”

“Li, aku ini istri kamu. Kenapa kamu nggak percaya sama aku. Bahkan kamu nggak mau melindungi aku?”

“Kalau terbukti benar, aku pasti melindungi kamu. Tapi, kalau kamu yang salah. Aku nggak akan melindungi kamu sekalipun kamu istriku.”

Bellina menggelengkan kepalanya. “Yuna bisa bayar pengacara mahal karena dia punya banyak uang, Li. Walau aku nggak salah, aku bisa jadi salah karena pengacara itu. Kamu tahu, Yuna bisa melakukan segalanya karena uang.”

“Yuna bukan orang yang seperti itu.”

“Li, semua orang bisa berubah. Yuna bisa jadi jahat karena ...” Bellina menghentikan ucapannya saat Melan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Ma ...!” sapa Bellina sambil tersenyum ke arah mamanya.

Melan tersenyum sambil menghampiri Bellina. “Li, kamu sudah lama jagain Belli. Sekarang, biar Mama yang jaga dia. Kamu istirahat!” perintah Melan sambil menatap Lian.

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menatap Bellina penuh tanya. Dengan berat hati, ia keluar dari ruang rawat Bellina. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia merasa, ada hal yang sengaja disembunyikan oleh Bellina.

“Bel, kamu udah baikan?” tanya Melan.

Bellina menganggukkan kepala.

“Mama dengar, Yuna sudah hamil,” tutur Melan lirih.

 

“Apa!?” Bellina terkejut mendengar pernyataan mamanya. “Nggak mungkin!” Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mamanya.

 

Bellina meneteskan air mata. Ia merasa dunia ini sangat tidak adil. Sejak dulu, Yuna selalu mendapatkan kebahagiaan dan hidup lebih baik dari dirinya. Kenapa dia harus kehilangan anaknya? Sementara, di luar sana Yuna sedang menikmati kebahagiaannya sebagai seorang ibu.

 

“Selamat sore ...!” sapa dokter Heru yang akan memeriksa kondisi Bellina.

 

“Sore, Dok!” balas Melan. Ia langsung memberikan tempat untuk dokter tersebut agar memeriksa kondisi Bellina.

 

“Dok, bayi saya udah mati di dalam kandungan kan, Dok?” tanya Bellina.

 

Dokter Heru menggelengkan kepala. “Bayi itu masih hidup.”

 

“Nggak mungkin!” seru Melan. “Nggak mungkin bayi itu masih hidup. Dia sudah mati sebelumnya, makanya dia sengaja jatuh dari tangga. Karena jatuh atau tidak, hari itu Bellina tetap harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya.”

 

Dokter Heru hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Soal itu, saya tidak tahu karena dokter kandungan Bu Bellina yang sebelumnya bukan saya.”

 

Bellina langsung berteriak histeris. “Nggak mungkin! Dokter pasti udah dibayar sama Yuna supaya bikin aku bersalah!”

 

Dokter Heru menggelengkan kepala. “Ini nggak ada hubungannya dengan saya. Tapi, kalau memang Anda tidak bisa menjaga sikap, saya bisa membocorkan hal ini ke keluarga Pak Yeriko.”

 

Bellina menatap dokter Heru penuh kebencian. Hanya dokter Heru yang mengetahui kenyataan sebenarnya. Jika hal ini sampai bocor ke keluarga Lian. Ia tidak akan mendapatkan tempat lagi di keluarga itu.

 

(( Bersambung ... ))


   

Perfect Hero Bab 265 || Antusiasme Mama Rully || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yuna ...!” Suara Rullyta menggema di seluruh ruangan.

Yuna yang sedang bersantai di halaman belakang, langsung bangkit dan menghampiri Rullyta. “Pagi, Ma!” Ia menyalami dan mencium tangan Rullyta dengan hormat.

Rullyta tersenyum menatap Yuna. Ia merasa sangat bahagia mendengar kabar kalau Yuna sudah mengandung.

“Mama dari rumah? Tumben pagi-pagi gini udah ...” Ucapan Yuna terhenti saat melihat dua orang pria dan beberapa pelayan tiba-tiba masuk dan berdiri di belakang Rullyta.

“Ini ada apa, Ma?” Yuna kebingungan sambil menatap banyak orang yang ada di belakang mamanya.

“Yun, kamu kan lagi hamil. Mama siapin mereka buat kamu.”

“Eh!?” Yuna masih tidak mengerti maksud mama mertuanya.

Rullyta tersenyum, ia menatap salah seorang pria yang memakai baju koki. “Ini, namanya Chef Rafa, dia yang akan memasakkan khusus buat kamu setiap hari.”

“Ini ...” Rullyta tersenyum sambil menatap pria yang berdiri di sebelah Chef  Rafa. “Namanya Mas Nanda. Dia ahli gizi, yang akan mengatur asupan nutrisi kamu selama kehamilan.”

Yuna melebarkan kelopak matanya. Ia tidak menyangka kalau mama mertuanya begitu memperhatikan kehamilannya begitu detail.

“Mereka pelayan yang akan melayani kamu di rumah ini.” Rullyta menatap empat pelayan yang berjejar di belakang Chef Rafa. “Namanya Sari, Inah, Sri dan Rini.”

“Yang ini, kamu sudah kenal.” Rullyta menepuk bahu Angga, supir pribadinya. “Mama percayakan kamu sama Angga. Dia yang akan mengantar kamu ke mana pun kamu pergi.”

Yuna melongo. Ada begitu banyak orang yang akan melayaninya di rumah ini. Sedangkan ia sendiri, tidak punya banyak kegiatan di rumah. “Ma, udah ada Bibi War. Kayaknya, aku nggak perlu pelayan lagi. Aku masih bisa ngerjain semuanya sendiri.”

“Nggak bisa!” sahut Rullyta. “Kamu nggak boleh banyak beraktivitas. Mereka akan melayani semua kebutuhan kamu di rumah ini.”

Yuna meringis. Ia terpaksa menganggukkan kepala. Ia tak bisa membantah keinginan mama mertuanya. Menjadi menantu kesayangan keluarga Hadikusuma ternyata tidak mudah. Ia bukan lagi gadis yang bisa hidup bebas untuk melakukan apa pun yang ia sukai.

“Bibi ...!” teriak Rullyta.

Bibi War langsung muncul dari dapur dan menghampiri Rullyta. “Ada apa, Bu?”

“Mereka sudah saya bawa ke sini. Bibi yang atur tugas-tugas mereka!” perintah Rullyta.

“Baik, Bu!” Bibi War mengangguk, ia langsung mengajak empat pelayan tersebut ke belakang untuk mengatur pekerjaan mereka.

Sementara, Rafa dan Nanda mulai berdiskusi untuk membuat menu yang baik dan sehat. Mereka akan memberikan nutrisi yang baik untuk masa kehamilan Yuna.

“Ma, apa ini nggak berlebihan?” tanya Yuna. Ia merasa kurang nyaman karena semua kehidupannya dilayani. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana harus menjalani hari-harinya dengan empat orang pelayan.

“Yun, Bibi War itu sudah semakin tua. Dia ngerawat Yeriko sejak Yeriko masih kecil. Apa kamu tega membiarkan Bibi War mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian?”

“Tapi ...”

“Nggak ada tapi-tapian! Kalo kamu nggak mau nerima mereka, nggak usah anggap Mama lagi!” ancam Rullyta. Ia memasang wajah kesal untuk membuat Yuna menerima pemberiannya.

“Iih ... nggak gitu, Mak. Oke, oke. Aku terima mereka semua. Jangan marah!” pinta Yuna sambil menggoyang-goyangkan lengan Rullyta.

Rullyta tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Gitu dong, manis!” Ia mencubit pipi Yuna.

“Makasih ya, Ma!” tutur Yuna sambil tersenyum.

“Mama akan memberikan yang terbaik buat calon cucu Mama. Jadi, kamu juga harus menerima dan menjaga anak ini dengan baik.” Rullyta tersenyum sambil mengelus perut Yuna yang masih mungil.

Yuna tersenyum.

“Oh ya, Mama bawa hadiah buat kamu.” Rullyta memberikan satu buah paper bag ke hadapan Yuna.

“Apa ini, Ma?”

“Buka!”

Yuna membuka membuka paper bag itu perlahan. Ia tersenyum melihat satu set pakaian hangat yang ada di dalam paper bag tersebut.

“Suka?” tanya Rullyta saat melihat wajah Yuna begitu sumringah.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar. “Suka banget!”

 

Rullyta tersenyum. Ia sangat bahagia melihat Yuna yang sudah seperti anaknya sendiri. Andai ia memiliki anak perempuan, mungkin akan secantik Yuna. Setiap ia bepergian, bisa memberikan hadiah lucu untuk anaknya.

 

Yuna bangkit dari tempat duduknya. “Mama mau minum apa?” tanya Yuna.

 

“Duduk aja!” perintah Rullyta.

 

“Tapi, Ma ...”

 

“Bibi War sebentar lagi datang bawakan Mama minum. Kamu duduk aja! Kandungan kamu masih muda, jangan banyak bergerak!”

 

Yuna menggigit bibir dan kembali duduk di sebelah Rullyta.

 

“Oh ya, undangan udah Mama cetak.” Rullyta mengambil selembar undangan dari dalam tasnya dan menunjukkan kepada Yuna. “Bagus nggak?”

 

Yuna tersenyum. “Bagus banget!” Ia mengamati undangan pernikahan yang dilapisi kain tile bermotif batik warna emas. Pita warna mustard yang mengikat di tengahnya membuat undangan tersebut terlihat sangat mewah.

 

“Boleh aku buka?” tanya Yuna sambil tersenyum.

 

“Boleh, dong!”

 

Yuna tersenyum. Ia menarik ujung pita dan mengeluarkan undangan berwarna dark brown itu dari balutan tile. Ia tersenyum sambil menyentuh tulisan nama Yeriko dan Yuna berwarna silver yang dicetak emboss atau timbul.

 

“Ini bagus banget, Ma!” seru Yuna. “Aku ambil satu, boleh?”

 

“Boleh. Mau kamu simpan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Mau aku bingkai, buat kenang-kenangan.”

 

Rullyta tersenyum kecil menatap Yuna. Tak berapa lama, Bibi War menghampiri mereka sambil membawakan minuman dan beberapa cemilan.

“Makasih, Bi!” Yuna tersenyum senang ke arah Bibi War.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Rullyta juga ikut tersenyum. “Bi, Bibi harus jaga Yuna baik-baik ya!” pintanya.

“Siap, Bu!”

“Oh ya, Mama denger dari Yeri, kamu udah berhenti kerja?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Bagus, deh. Lebih baik kamu di rumah. Fokus dengan kehamilan kamu.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat berharap kalau mama mertuanya tidak mengetahui perseteruannya dengan Bellina. Selama Mama Rullyta tidak mempertanyakannya, ia tidak perlu mengatakan hal tersebut.

“Mama heran, kenapa keluarga Wijaya dan keluarga kamu itu nggak ada berhentinya gangguin kamu terus.”

“Eh!? Mama tahu kalau ...”

“Jelas aja Mama tahu. Yeriko selalu cerita ke Mama.”

Yuna menggigit bibirnya.

“Kamu nggak mau kasih mereka pelajaran?”

Yuna menggeleng sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Aku nggak perlu jadi seperti mereka. Aku masih berharap, Bellina bisa berubah. Walau gimana pun, mereka tetap keluarga aku, Ma.”

Rullyta tersenyum bangga menatap wajah Yuna. Ia tidak tahu bagaimana Yeriko bisa mendapatkan seorang istri yang hatinya begitu baik.

“Yun, kamu terlalu berbesar hati sama mereka. Mereka masih aja jahat sama kamu. Mama bener-bener nggak bisa membayangkan gimana kehidupan kamu saat masih tinggal sama mereka.”

Yuna tersenyum menatap Rullyta. “Aku baik-baik aja, Ma. Aku udah terbiasa dengan perlakuan mereka. Paman Tarudi selalu baik sama aku. Sebenarnya, dia bukan orang yang jahat. Hanya saja, pengaruh Tante Melan terlalu menguasai dia dan paman nggak pernah berani melawan tante.”

“Melan itu dari keluarga mana ya?” tanya Rullyta.

Yuna menggelengkan kepala.

“Sepertinya, Mama harus cari tahu latar belakang keluarga dia.”

“Buat apa, Ma?”

Rullyta terdiam sambil menatap Yuna. Kemudian ia tersenyum manis. “Nggak papa. Cuma pengen tahu aja.” Ia tidak bisa mengatakan banyak hal kepada Yuna. Bagaimanapun, ia harus tetap menjaga suasana hati Yuna agar janin di perutnya tetap sehat. Ia lebih memilih mengajak Yuna membicarakan banyak hal tentang persiapan pernikahan mereka.

 

(( Bersambung ... ))

Asyik ya punya mama mertua yang super duper perhatian?

Terima kasih sudah baca terus sampai di sini. Mohon dukungannya dengan cara kasih Star atau review ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 264 || Bukan Aku yang Bunuh || a Romance Novel by Vella Nine

 


Sejak kejadian pertengkaran Yuna dan mamanya Wilian, Yeriko tidak mengizinkan Yuna kembali masuk ke perusahaan tersebut. Yuna menghabiskan waktunya hanya di dalam rumah. Ia hanya keluar dari rumah bersama dengan Yeriko.

“Yan, kamu nggak temenin Bapak di kantor?” sapa Yuna sambil menghampiri Riyan yang sedang duduk di serambi rumah.

“Eh, Nyonya Muda?” Riyan langsung bangkit dari duduknya. “Pak Bos yang nyuruh saya standby di sini temenin Nyonya Muda. Nyonya mau jalan ke luar?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kalau Nyonya Muda mau keluar, saya bisa temenin.”

“Nggak usah,” jawab Yuna santai. “Kamu kenapa manggil aku Nyonya Muda terus?”

“Eh!?”

“Panggil aku Yuna aja!” perintah Yuna.

“Tapi ... ” Riyan kebingungan. Ia tidak mungkin lancang kepada istri bosnya. “Nyonya jangan mempersulit saya. Kalo Pak Bos tahu, saya bisa dipecat. Masa sama istrinya Bos, saya panggil nama?”

Yuna menatap wajah Riyan yang terlihat gelisah. Ia tidak tega jika sikapnya benar-benar menyulitkan Riyan. “Hmm ... okelah kalo emang harus begitu.”

 

Riyan langsung tersenyum lebar. “Makasih, Nyonya Muda.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Riyan. Riyan memakinya begitu saja. Sekarang, Riyan begitu hormat padanya. Dunia benar-benar cepat berubah.

 

“Yan, di rumah ini ada Bibi War dan satpam juga. Kamu nggak perlu sampai mengorbankan kerjaan kamu. Lebih baik, kamu kembali ke perusahaan!” pinta Yuna. “Dia lebih butuh kamu.”

 

“Pak Bos nyuruh saya ke sini. Semua pekerjaan kantor sudah diurus sama sekretaris.”

 

Yuna menghela napas. Kali ini,  Yeriko benar-benar memperlakukan dirinya seperti tawanan yang harus dijaga dua puluh empat jam.

 

“Mbak, ini buah untuk  Mbak Yuna.” Bibi War menghampiri Yuna sambil menyodorkan piring berisi potongan buah-buahan.

 

“Makasih, Bi!” Yuna meraih piring tersebut dan duduk di teras rumah bersama Riyan.

 

“Yan, aku bosen di rumah. Kamu bisa antar aku lihat ayah?”

 

“Eh!? Maaf, Nyonya. Saat ini, Pak Adjie sedang mendapatkan terapi secara intensif. Lebih baik, Nyonya Muda jangan jenguk beliau dulu. Kalau sudah waktunya, Nyonya bisa jenguk beliau.”

 

“Mmh ...” Yuna menggigit bibirnya.

 

“Nyonya Muda tenang aja. Pak Adjie perkembangannya sangat baik.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat percaya kalau suaminya akan memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya.

 

 

...

 

 

Di tempat lain, Bellina terus menerus diselimuti kesedihan karena kehilangan anaknya. Ia berjalan lunglai menyusuri koridor rumah sakit.

 

“Ooee ...!” Terdengar suara tangisan bayi dari setiap sudut ruangan. Bellina langsung mengedarkan pandangannya.

 

 

Ooee ...!

 

Suara bayi itu terdengar jelas keluar dari dinding yang ia sentuh.

 

Bellina melepas telapak tangannya dari dinding yang mengajaknya bicara. Suara tangisan bayi terus keluar dari dinding ruangan, dari langit-langit dan dari lantai yang ia pijak.

 

“Ma ...!” Panggilan kecil dari belakangnya membuat Bellina memutar kepala. Menatap sosok anak kecil yang berdiri di ujung koridor. Anak itu menangis menatap Bellina.

 

Bellina menutup mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Anak kecil itu menatap pilu ke arahnya.

 

“Ma ...!”

 

Bellina melangkah perlahan mendekati anak tersebut.

 

“Ma, kenapa aku nggak boleh hidup?”

 

Bellina menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap gadis mungil tersebut. Ia berusaha meraih tangan gadis mungil tersebut. Namun, kilat tiba-tiba menyambar gadis kecil itu.

 

“Aaargh ...! Mama, tolong aku! TOLONG ...!” Suara gadis itu melengking hingga tak terdengar lagi bersamaan dengan tubuhnya yang menghilang.

 

Bellina masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia tidak bisa menolong anaknya sendiri.

 

“Nggak, Nggak mungkin!” gumamnya sambil terisak. Tubuhnya lemah dan merosot ke lantai. “Nggak mungkin!”

 

“AARGH ...!” Bellina berteriak histeris.

 

“Bel, Bellina!” Tiba-tiba sebuah telapak tangan besar bertengger di bahu Bellina.

 

Bellina langsung membuka mata. Ia melihat Wilian sudah ada di hadapannya.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Lian saat melihat Bellina terbangun dari tidurnya.

 

“Aku cuma mimpi?” Napas Bellina tersengal. Keringat deras keluar dari ujung-ujung anak rambut Bellina.

 

Lian mengangguk. Ia memeluk Bellina yang terlihat sangat ketakutan. Melihat kegelisahan yang tersirat dari wajah Bellina akhir-akhir ini. Membuat ia yakin kalau Yuna memang tidak bersalah.

“Kamu nggak papa?” tanya Lian.

“Aku nggak papa. Aku cuma mimpiin anak kita.”

“Mimpi gimana?”

Bellina tidak berani menjawab pertanyaan Bellina. Ia menyembunyikan rapat-rapat apa yang sebenarnya terjadi pada kandungannya.

“Bel ...!?”

“Aku haus.”

Lian langsung mengambilkan air minum untuk Bellina.

Bellina menghabiskan satu gelas air minum hanya dalam beberapa tegukan.

Sikap Bellina, benar-benar membuat Lian curiga. Tapi, otaknya masih tak mampu berpikir dengan jernih. Ia tidak tahu siapa yang sebenarnya bersalah. Ia ingin mempercayai kalau Yuna tidak bersalah. Tapi ia lebih tidak percaya lagi kalau Bellina tega membunuh anaknya sendiri.

“Li, aku bisa minta tolong?”

“Apa?”

“Belikan aku bubur ayam di tempat biasa.”

“Tapi jauh, Bel.”

“Nggak papa. Aku pengen banget. Aku bisa nunggu, kok.”

Lian mengangguk. “Kamu tunggu di sini!” Ia bergegas pergi meninggalkan bangsal untuk mencari makanan yang diinginkan oleh Bellina.

Setelah Lian pergi meninggalkannya, Bellina langsung turun dari ranjang. Ia melangkah perlahan keluar dari ruangan.

 

“Sus, ruangan dokter Heru Purnomo di mana ya?” tanya Bellina sambil mencegat perawat yang berpapasan dengannya.

 

“Mbaknya jalan aja terus. Di ujung koridor belok kanan. Di pintu ada tulisan dr. Heru Purnomo.”

 

“Oke. Makasih, Sus!”

 

Perawat itu mengangguk dan bergegas pergi.

 

Bellina segera melangkah menuju ruangan dokter yang ingin ia temui.

 

“Siang, Dok!” sapa Bellina begitu ia masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.

 

Dokter tersebut mendongakkan kepala karena Bellina tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.

 

“Siang!” balas dokter tersebut dengan ramah. “Silakan duduk!”

 

Bellina mengangguk, ia duduk di kursi, tepat di hadapan dokter tersebut.

 

“Gimana? Sudah enakan?” tanya dokter tersebut.

 

Bellina mengangguk.

 

“Ada apa cari saya sampai ke sini? Seharusnya, kamu masih istirahat.”

 

“Ada yang ingin saya tanyakan soal anak saya,Dok.”

 

Dokter tersebut menghela napas kecewa. “Maafkan kami karena tidak bisa menyelamatkan anak kamu. Anak itu benar-benar malang. Seharusnya, anak itu bisa terlahir dengan baik dan sehat.”

 

“Maksud dokter? Bukannya anak itu sudah meninggal di dalam kandungan?”

 

“Siapa yang bilang begitu?” Dokter tersebut balik bertanya.

 

“Dokter saya sebelumnya, mengatakan kalau bayi itu sudah meninggal di dalam kandungan.”

 

“Bayi itu masih hidup dan kelihatan sehat. Saat kami mengeluarkannya, bayi itu masih dalam keadaan bernyawa. Hanya saja, sudah terlambat menyelamatkannya.”

 

Bellina terdiam. Pernyataan dokter tersebut membuat dirinya sangat sakit. Seluruh dunianya hancur. “Gimana bisa masih hidup? Bukannya dia udah meninggal duluan? Nggak mungkin! Nggak mungkin!” gumam Bellina sambil menggelengkan kepalanya.

 

Dokter tersebut terus memerhatikan Bellina yang terlihat sangat gelisah.

 

“Nggak mungkin aku bunuh anakku sendiri?” racaunya sambil bangkit dari tempat duduk. “Anak itu sudah mati, bukan aku yang bunuh dia.” Ia melangkah lunglai keluar dari ruangan dokter Heru.

 

Bellina terduduk lemas di salah satu kursi tunggu. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan dokter yang mengoperasinya. “Aku nggak bunuh dia. Aku nggak bunuh anak aku. Kenapa bisa kayak gini? AARGH ...!” Bellina berteriak histeris. Dunianya tiba-tiba kosong. Sangat kosong. Hingga ia tak bisa mendengar lagi suara lain selain suara dirinya sendiri.

 

(( Bersambung ... ))

It’s time ... membuat Bellina menderita secara perlahan, hihihi.

Terima kasih sudah baca terus sampai di sini. Mohon dukungannya dengan cara kasih review ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas