Yeriko menyentuh pipi Yuna sambil menatap wajah Yuna yang
tertidur pulas di siang hari.
Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan lembut
di pipinya. Ia langsung bangkit sambil mengucek kedua matanya perlahan. “Udah
pulang?” tanya Yuna sambil melirik jam dinding yang ada di kamarnya.
Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Ini baru jam dua. Kenapa udah pulang?”
“Nggak terlalu banyak kerjaan. Semua dokumen udah aku
selesaikan. Rapat juga nggak terlalu lama. Jadi, bisa pulang lebih awal.”
Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko.
“Oh ya, di bawah ada banyak pelayan. Datang kapan?”
“Tadi pagi, Mama ke sini. Bawa koki, ahli gizi sama pelayan
ke rumah ini. Sebenarnya, aku kurang nyaman kalo ada pelayan sebanyak itu. Aku
sendiri, nggak tahu mau ngapain.”
Yeriko tertawa kecil. “Santai aja di rumah!” pintanya
lembut. “Kamu masih hamil muda, jangan banyak beraktivitas. Emangnya, nggak
sayang sama anak kita?”
“Sayang banget.”
“Ya udah, nggak usah mikir macem-macem dan nggak perlu
ngerjain apa pun!” pinta Yeriko. “Bulan depan, kita periksa lagi untuk
memastikan kondisi anak kita selalu sehat dan kuat.”
Yuna menganggukkan kepala.
Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Ia meraih ponsel tersebut.
Mata Yeriko justru tertuju pada kertas undangan yang ada di
samping ponsel Yuna. Ia mengambil dan memerhatikan kertas undangan pernikahan
mereka.
“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.
“Kantor.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu.” Yuna menggeser ikon answer dan langsung
menjawab telepon dari kantornya. “Halo ...!”
“Halo ... Mbak Yuna!” sapa seseorang di seberang sana.
“Iya, Pak. Ada apa, ya?”
“Mbak Yuna beneran mau resign? Sudah dua tiga hari nggak
masuk kerja.”
“Iya, Pak.”
“Mmh ... kalo gitu, tolong urus prosedur pengunduran
dirinya terlebih dahulu ya!”
“Oh. Iya. Oke, Pak!”
“Oke. Kami tunggu surat pengunduran dirinya.”
“Mmh ... bisa dikirim lewat email aja?”
“Bisa.”
“Oke. Saya kirim suratnya via email.”
“Baik. Akan kami tunggu!”
“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian
menatap ponselnya yang sudah mati.
“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.
“Disuruh urus prosedur pengunduran diri.”
“Kamu mau ke kantor sana?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku kirim lewat email aja surat
pengunduran diriku.”
“Jangan! Biar Riyan yang antar ke kantor kamu.”
“Eh!? Kenapa? Bukannya sama aja?”
“Lebih etis kalau diantar langsung ke sana.”
Yuna mengangguk, ia menuruti semua yang dikatakan oleh
Yeriko.
“Udah makan?” tanya Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Yeriko melepaskan jasnya dan berbaring di tempat tidur.
“Capek ya?” tanya Yuna sambil tersenyum.
Yeriko menatap wajah Yuna sambil tersenyum. “Asal lihat
kamu, semua capekku langsung hilang.” Ia menarik Yuna ke dalam pelukannya.
Yuna tersenyum sambil memeluk tubuh Yeriko. Ia menempelkan
hidungnya ke leher Yeriko. Mereka terdiam selama beberapa saat. Tak ada kata
yang terucap, hanya senyuman kebahagiaan yang mengembang di bibir keduanya.
Saat ini, mereka sedang menikmati kebahagiaan mereka karena akan menjadi
pasangan yang sejati.
“Oh ya, hari ini aku belum bisa ajak kamu main ke luar.
Sore ini, aku masih ada urusan,” tutur Yeriko.
Yuna mengangguk kecil. “Aku ngerti kesibukan kamu. Bisa
menyempatkan waktu buat aku setiap hari aja, aku udah seneng banget.”
Yeriko tersenyum bahagia sambil membelai kepala Yuna. Ia
merasa sangat bahagia karena istrinya, selalu mengerti bagaimana posisi
suaminya dan tidak menuntut banyak hal. Membuat rasa cinta di hatinya, justru
semakin meningkat setiap harinya.
...
Di tempat lain, Bellina masih saja terus mempertanyakan
keadaan kandungannya sebelum ia dioperasi. Ia masih tidak percaya kalau telah
salah mengira. Diagnosa dokter sebelumnya mengatakan kalau anaknya sudah
meninggal dalam kandungan. Bagaimana anak itu masih hidup saat ia menjatuhkan
dirinya di tangga. Ia merasa sangat bersalah kepada bayinya sendiri.
“Bel, kamu belum makan?” tanya Lian saat masuk ke ruangan
dan melihat makanan Bellina masih utuh.
Bellina menggelengkan kepala. Ia duduk di atas ranjang
sambil memangku wajah dengan lututnya. Pandangannya kosong, ia tidak bisa tidur
dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, ia selalu mendengarkan tangisan
bayi menggema di semua ruangan.
“Makan dulu, aku suapin!” pinta Lian.
Bellina menggelengkan kepala. Tiba-tiba, pintu ruangan
terbuka. Ia mengira yang datang adalah mamanya. Namun, ternyata seorang pria
yang tidak asing lagi di matanya.
“Selamat sore ...!” sapa Riyan sambil menghampiri Lian dan
Bellina.
Bellina tertegun melihat kehadiran Riyan. Di belakangnya,
ada Yeriko dan seorang pria dengan setelan jas rapi.
“Kalian mau ngapain ke sini?” tanya Lian.
Yeriko hanya tersenyum sinis dan duduk di salah satu sofa
sambil melipat kakinya dengan santai.
“Selamat siang, Pak Lian. Saya Fariz, pengacara keluarga
Hadikusuma.” Seorang pria di sebelah Riyan memperkenalkan diri.
Lian dan Bellina terkejut melihat Yeriko datang menghampiri
mereka bersama seorang pengacara kondang yang sudah tidak asing lagi di mata
mereka.
“Selamat siang!” Lian mencoba menghadapi pengacara tersebut
dengan bijaksana.
“Li, kamu udah laporin Yuna ke polisi?” tanya Bellina
berbisik.
Lian menggelengkan kepala. Ia menoleh ke arah Fariz. “Ada
apa ya?” tanyanya sambil melirik Yeriko yang terlihat sangat santai.
“Kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait
fitnah yang ditujukan pada Nyonya Yeriko.”
“Aku nggak fitnah, itu kenyataan!” seru Bellina. “Yuna udah
dorong aku.”
Pengacara tersebut tersenyum kecil. “Saat kejadian, Pak
Yeriko dan Pak Lian juga ada di sana, bukan?”
“Iya.” Lian menjawab pertanyaan Fariz dengan santai.
“Apakah saat terjatuh, Bu Bellina berteriak?”
“Iya.”
“Pak Lian dengar?”
Lian menganggukkan kepala.
“Bapak mendengar suara teriakan pertamanya di atas atau di
bawah tangga?” tanya Fariz lagi.
“Di atas.”
“Oke. Artinya, Ibu Bellina berteriak dahulu baru jatuh?”
“Iya.” Lian langsung menjawab pertanyaan Fariz dengan cepat
karena Fariz juga mengajukan pertanyaan kepadanya begitu cepat.
“Baiklah. Ini saja yang akan saya tanyakan. Ke depannya,
kalau memang harus berhadapan dengan hukum, saya akan membela Nyonya Yeriko
sampai titik darah penghabisan!” tegas Fariz.
Bellina dan Lian terkejut mendengar ancaman Fariz. Mereka
belum melaporkan Yuna ke kantor polisi, namun Yeriko sudah bergerak terlebih
dahulu dan mengancam posisi mereka.
Fariz tersenyum kecil. “Kami permisi dulu!” Ia berbalik dan
bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan perasaan yang tak karuan.
Yeriko bangkit dari sofa. Ia berjalan menghampiri Lian
dengan santai sambil menyimpan kedua telapak tangan di sakunya. “Kalau mau
laporin Yuna ke polisi, sebaiknya kalian siapin pengacara yang lebih hebat lagi
dari Fariz!” bisiknya penuh kekejaman.
Yeriko tersenyum sinis melihat wajah Bellina yang
ketakutan. Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan
santai.
“Bel, kamu jujur sama aku. Ada apa sebenarnya? Apa kamu
memang fitnah Yuna?” tanya Lian.
Bellina menggelengkan kepala.
“Kalo nggak, aku bakal lapor ke polisi secepatnya. Tapi,
aku juga nggak bisa melindungi kamu kalau memang kamu yang bersalah.”
“Li, aku ini istri kamu. Kenapa kamu nggak percaya sama
aku. Bahkan kamu nggak mau melindungi aku?”
“Kalau terbukti benar, aku pasti melindungi kamu. Tapi,
kalau kamu yang salah. Aku nggak akan melindungi kamu sekalipun kamu istriku.”
Bellina menggelengkan kepalanya. “Yuna bisa bayar pengacara
mahal karena dia punya banyak uang, Li. Walau aku nggak salah, aku bisa jadi
salah karena pengacara itu. Kamu tahu, Yuna bisa melakukan segalanya karena
uang.”
“Yuna bukan orang yang seperti itu.”
“Li, semua orang bisa berubah. Yuna bisa jadi jahat karena
...” Bellina menghentikan ucapannya saat Melan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan
tersebut.
“Ma ...!” sapa Bellina sambil tersenyum ke arah mamanya.
Melan tersenyum sambil menghampiri Bellina. “Li, kamu sudah
lama jagain Belli. Sekarang, biar Mama yang jaga dia. Kamu istirahat!” perintah
Melan sambil menatap Lian.
Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menatap
Bellina penuh tanya. Dengan berat hati, ia keluar dari ruang rawat Bellina. Ia
masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia merasa, ada hal yang
sengaja disembunyikan oleh Bellina.
“Bel, kamu udah baikan?” tanya Melan.
Bellina menganggukkan kepala.
“Mama dengar, Yuna sudah hamil,” tutur Melan lirih.
“Apa!?” Bellina terkejut mendengar pernyataan mamanya.
“Nggak mungkin!” Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mamanya.
Bellina meneteskan air mata. Ia merasa dunia ini sangat
tidak adil. Sejak dulu, Yuna selalu mendapatkan kebahagiaan dan hidup lebih
baik dari dirinya. Kenapa dia harus kehilangan anaknya? Sementara, di luar sana
Yuna sedang menikmati kebahagiaannya sebagai seorang ibu.
“Selamat sore ...!” sapa dokter Heru yang akan memeriksa
kondisi Bellina.
“Sore, Dok!” balas Melan. Ia langsung memberikan tempat
untuk dokter tersebut agar memeriksa kondisi Bellina.
“Dok, bayi saya udah mati di dalam kandungan kan, Dok?”
tanya Bellina.
Dokter Heru menggelengkan kepala. “Bayi itu masih hidup.”
“Nggak mungkin!” seru Melan. “Nggak mungkin bayi itu masih
hidup. Dia sudah mati sebelumnya, makanya dia sengaja jatuh dari tangga. Karena
jatuh atau tidak, hari itu Bellina tetap harus melakukan operasi untuk
mengeluarkan bayinya.”
Dokter Heru hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan.
“Soal itu, saya tidak tahu karena dokter kandungan Bu Bellina yang sebelumnya
bukan saya.”
Bellina langsung berteriak histeris. “Nggak mungkin! Dokter
pasti udah dibayar sama Yuna supaya bikin aku bersalah!”
Dokter Heru menggelengkan kepala. “Ini nggak ada
hubungannya dengan saya. Tapi, kalau memang Anda tidak bisa menjaga sikap, saya
bisa membocorkan hal ini ke keluarga Pak Yeriko.”
Bellina menatap dokter Heru penuh kebencian. Hanya dokter
Heru yang mengetahui kenyataan sebenarnya. Jika hal ini sampai bocor ke
keluarga Lian. Ia tidak akan mendapatkan tempat lagi di keluarga itu.
(( Bersambung ... ))

0 komentar:
Post a Comment