Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 266 || Tak Terima Kenyataan || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko menyentuh pipi Yuna sambil menatap wajah Yuna yang tertidur pulas di siang hari.

Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan lembut di pipinya. Ia langsung bangkit sambil mengucek kedua matanya perlahan. “Udah pulang?” tanya Yuna sambil melirik jam dinding yang ada di kamarnya.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Ini baru jam dua. Kenapa udah pulang?”

“Nggak terlalu banyak kerjaan. Semua dokumen udah aku selesaikan. Rapat juga nggak terlalu lama. Jadi, bisa pulang lebih awal.”

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko.

“Oh ya, di bawah ada banyak pelayan. Datang kapan?”

“Tadi pagi, Mama ke sini. Bawa koki, ahli gizi sama pelayan ke rumah ini. Sebenarnya, aku kurang nyaman kalo ada pelayan sebanyak itu. Aku sendiri, nggak tahu mau ngapain.”

Yeriko tertawa kecil. “Santai aja di rumah!” pintanya lembut. “Kamu masih hamil muda, jangan banyak beraktivitas. Emangnya, nggak sayang sama anak kita?”

“Sayang banget.”

“Ya udah, nggak usah mikir macem-macem dan nggak perlu ngerjain apa pun!” pinta Yeriko. “Bulan depan, kita periksa lagi untuk memastikan kondisi anak kita selalu sehat dan kuat.”

Yuna menganggukkan kepala.

Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Ia meraih ponsel tersebut.

Mata Yeriko justru tertuju pada kertas undangan yang ada di samping ponsel Yuna. Ia mengambil dan memerhatikan kertas undangan pernikahan mereka.

“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.

“Kantor.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu.” Yuna menggeser ikon answer dan langsung menjawab telepon dari kantornya. “Halo ...!”

“Halo ... Mbak Yuna!” sapa seseorang di seberang sana.

“Iya, Pak. Ada apa, ya?”

“Mbak Yuna beneran mau resign? Sudah dua tiga hari nggak masuk kerja.”

“Iya, Pak.”

“Mmh ... kalo gitu, tolong urus prosedur pengunduran dirinya terlebih dahulu ya!”

“Oh. Iya. Oke, Pak!”

“Oke. Kami tunggu surat pengunduran dirinya.”

“Mmh ... bisa dikirim lewat email aja?”

“Bisa.”

“Oke. Saya kirim suratnya via email.”

“Baik. Akan kami tunggu!”

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian menatap ponselnya yang sudah mati.

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

“Disuruh urus prosedur pengunduran diri.”

“Kamu mau ke kantor sana?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku kirim lewat email aja surat pengunduran diriku.”

“Jangan! Biar Riyan yang antar ke kantor kamu.”

“Eh!? Kenapa? Bukannya sama aja?”

“Lebih etis kalau diantar langsung ke sana.”

Yuna mengangguk, ia menuruti semua yang dikatakan oleh Yeriko.

“Udah makan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Yeriko melepaskan jasnya dan berbaring di tempat tidur.

“Capek ya?” tanya Yuna sambil tersenyum.

Yeriko menatap wajah Yuna sambil tersenyum. “Asal lihat kamu, semua capekku langsung hilang.” Ia menarik Yuna ke dalam pelukannya.

Yuna tersenyum sambil memeluk tubuh Yeriko. Ia menempelkan hidungnya ke leher Yeriko. Mereka terdiam selama beberapa saat. Tak ada kata yang terucap, hanya senyuman kebahagiaan yang mengembang di bibir keduanya. Saat ini, mereka sedang menikmati kebahagiaan mereka karena akan menjadi pasangan yang sejati.

“Oh ya, hari ini aku belum bisa ajak kamu main ke luar. Sore ini, aku masih ada urusan,” tutur Yeriko.

Yuna mengangguk kecil. “Aku ngerti kesibukan kamu. Bisa menyempatkan waktu buat aku setiap hari aja, aku udah seneng banget.”

Yeriko tersenyum bahagia sambil membelai kepala Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena istrinya, selalu mengerti bagaimana posisi suaminya dan tidak menuntut banyak hal. Membuat rasa cinta di hatinya, justru semakin meningkat setiap harinya.

 

...

 

Di tempat lain, Bellina masih saja terus mempertanyakan keadaan kandungannya sebelum ia dioperasi. Ia masih tidak percaya kalau telah salah mengira. Diagnosa dokter sebelumnya mengatakan kalau anaknya sudah meninggal dalam kandungan. Bagaimana anak itu masih hidup saat ia menjatuhkan dirinya di tangga. Ia merasa sangat bersalah kepada bayinya sendiri.

“Bel, kamu belum makan?” tanya Lian saat masuk ke ruangan dan melihat makanan Bellina masih utuh.

Bellina menggelengkan kepala. Ia duduk di atas ranjang sambil memangku wajah dengan lututnya. Pandangannya kosong, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, ia selalu mendengarkan tangisan bayi menggema di semua ruangan.

“Makan dulu, aku suapin!” pinta Lian.

Bellina menggelengkan kepala. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Ia mengira yang datang adalah mamanya. Namun, ternyata seorang pria yang tidak asing lagi di matanya.

“Selamat sore ...!” sapa Riyan sambil menghampiri Lian dan Bellina.

Bellina tertegun melihat kehadiran Riyan. Di belakangnya, ada Yeriko dan seorang pria dengan setelan jas rapi.

“Kalian mau ngapain ke sini?” tanya Lian.

Yeriko hanya tersenyum sinis dan duduk di salah satu sofa sambil melipat kakinya dengan santai.

“Selamat siang, Pak Lian. Saya Fariz, pengacara keluarga Hadikusuma.” Seorang pria di sebelah Riyan memperkenalkan diri.

Lian dan Bellina terkejut melihat Yeriko datang menghampiri mereka bersama seorang pengacara kondang yang sudah tidak asing lagi di mata mereka.

“Selamat siang!” Lian mencoba menghadapi pengacara tersebut dengan bijaksana.

“Li, kamu udah laporin Yuna ke polisi?” tanya Bellina berbisik.

Lian menggelengkan kepala. Ia menoleh ke arah Fariz. “Ada apa ya?” tanyanya sambil melirik Yeriko yang terlihat sangat santai.

“Kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait fitnah yang ditujukan pada Nyonya Yeriko.”

“Aku nggak fitnah, itu kenyataan!” seru Bellina. “Yuna udah dorong aku.”

Pengacara tersebut tersenyum kecil. “Saat kejadian, Pak Yeriko dan Pak Lian juga ada di sana, bukan?”

“Iya.” Lian menjawab pertanyaan Fariz dengan santai.

“Apakah saat terjatuh, Bu Bellina berteriak?”

“Iya.”

“Pak Lian dengar?”

Lian menganggukkan kepala.

“Bapak mendengar suara teriakan pertamanya di atas atau di bawah tangga?” tanya Fariz lagi.

“Di atas.”

“Oke. Artinya, Ibu Bellina berteriak dahulu baru jatuh?”

“Iya.” Lian langsung menjawab pertanyaan Fariz dengan cepat karena Fariz juga mengajukan pertanyaan kepadanya begitu cepat.

“Baiklah. Ini saja yang akan saya tanyakan. Ke depannya, kalau memang harus berhadapan dengan hukum, saya akan membela Nyonya Yeriko sampai titik darah penghabisan!” tegas Fariz.

Bellina dan Lian terkejut mendengar ancaman Fariz. Mereka belum melaporkan Yuna ke kantor polisi, namun Yeriko sudah bergerak terlebih dahulu dan mengancam posisi mereka.

Fariz tersenyum kecil. “Kami permisi dulu!” Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan perasaan yang tak karuan.

Yeriko bangkit dari sofa. Ia berjalan menghampiri Lian dengan santai sambil menyimpan kedua telapak tangan di sakunya. “Kalau mau laporin Yuna ke polisi, sebaiknya kalian siapin pengacara yang lebih hebat lagi dari Fariz!” bisiknya penuh kekejaman.

Yeriko tersenyum sinis melihat wajah Bellina yang ketakutan. Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Lian dan Bellina dengan santai.

“Bel, kamu jujur sama aku. Ada apa sebenarnya? Apa kamu memang fitnah Yuna?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala.

“Kalo nggak, aku bakal lapor ke polisi secepatnya. Tapi, aku juga nggak bisa melindungi kamu kalau memang kamu yang bersalah.”

“Li, aku ini istri kamu. Kenapa kamu nggak percaya sama aku. Bahkan kamu nggak mau melindungi aku?”

“Kalau terbukti benar, aku pasti melindungi kamu. Tapi, kalau kamu yang salah. Aku nggak akan melindungi kamu sekalipun kamu istriku.”

Bellina menggelengkan kepalanya. “Yuna bisa bayar pengacara mahal karena dia punya banyak uang, Li. Walau aku nggak salah, aku bisa jadi salah karena pengacara itu. Kamu tahu, Yuna bisa melakukan segalanya karena uang.”

“Yuna bukan orang yang seperti itu.”

“Li, semua orang bisa berubah. Yuna bisa jadi jahat karena ...” Bellina menghentikan ucapannya saat Melan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Ma ...!” sapa Bellina sambil tersenyum ke arah mamanya.

Melan tersenyum sambil menghampiri Bellina. “Li, kamu sudah lama jagain Belli. Sekarang, biar Mama yang jaga dia. Kamu istirahat!” perintah Melan sambil menatap Lian.

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menatap Bellina penuh tanya. Dengan berat hati, ia keluar dari ruang rawat Bellina. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia merasa, ada hal yang sengaja disembunyikan oleh Bellina.

“Bel, kamu udah baikan?” tanya Melan.

Bellina menganggukkan kepala.

“Mama dengar, Yuna sudah hamil,” tutur Melan lirih.

 

“Apa!?” Bellina terkejut mendengar pernyataan mamanya. “Nggak mungkin!” Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mamanya.

 

Bellina meneteskan air mata. Ia merasa dunia ini sangat tidak adil. Sejak dulu, Yuna selalu mendapatkan kebahagiaan dan hidup lebih baik dari dirinya. Kenapa dia harus kehilangan anaknya? Sementara, di luar sana Yuna sedang menikmati kebahagiaannya sebagai seorang ibu.

 

“Selamat sore ...!” sapa dokter Heru yang akan memeriksa kondisi Bellina.

 

“Sore, Dok!” balas Melan. Ia langsung memberikan tempat untuk dokter tersebut agar memeriksa kondisi Bellina.

 

“Dok, bayi saya udah mati di dalam kandungan kan, Dok?” tanya Bellina.

 

Dokter Heru menggelengkan kepala. “Bayi itu masih hidup.”

 

“Nggak mungkin!” seru Melan. “Nggak mungkin bayi itu masih hidup. Dia sudah mati sebelumnya, makanya dia sengaja jatuh dari tangga. Karena jatuh atau tidak, hari itu Bellina tetap harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya.”

 

Dokter Heru hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Soal itu, saya tidak tahu karena dokter kandungan Bu Bellina yang sebelumnya bukan saya.”

 

Bellina langsung berteriak histeris. “Nggak mungkin! Dokter pasti udah dibayar sama Yuna supaya bikin aku bersalah!”

 

Dokter Heru menggelengkan kepala. “Ini nggak ada hubungannya dengan saya. Tapi, kalau memang Anda tidak bisa menjaga sikap, saya bisa membocorkan hal ini ke keluarga Pak Yeriko.”

 

Bellina menatap dokter Heru penuh kebencian. Hanya dokter Heru yang mengetahui kenyataan sebenarnya. Jika hal ini sampai bocor ke keluarga Lian. Ia tidak akan mendapatkan tempat lagi di keluarga itu.

 

(( Bersambung ... ))


   

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas