Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 258 || Give Me a Clarity

 


“Pagi, Bunda!” sapa Yeriko saat Yuna baru saja membuka mata.

 

Mata Yuna ikut tersenyum seiring dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. “Pagi, Ayah!” balasnya sambil mengusap pipi Yeriko yang masih berbaring di sisinya.

 

Yuna menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit perlahan.

 

“Mau ke mana?” tanya Yeriko.

 

“Mau mandi.”

 

“Tunggu!” pinta Yeriko sambil melompat turun dari tempat tidurnya. “Tunggu dulu di sini!” Ia melangkah mundur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

 

Yuna tertawa kecil. “Kenapa sih tuh orang?” gumamnya sambil menggelengkan kepala.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko kembali menghampiri Yuna. Ia langsung menggendong tubuh Yuna dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Ini terlalu berlebihan. Kamu mau gendong aku setiap hari kayak gini?” tanya Yuna saat Yeriko menurunkan tubuh Yuna.

 

“Lantai kamar mandi masih licin. Aku nggak akan ngebiarin kamu bergerak sendirian. Hari ini, design interior bakal ngubah semua ruangan supaya nggak berbahaya buat kamu bergerak,” tutur Yeriko sambil membantu melepaskan pakaian Yuna.

 

“Semua lantai ruangan bakal aku lapisi parket kayu solid supaya nggak terlalu licin saat kamu jalan. Tangga juga akan dilapisi karpet, lantai kamar mandi harus dipasangi Ring Mat Interlock supaya kamu nggak kepeleset,” lanjut Yeriko lagi. Ia langsung mengangkat tubuh Yuna dan memasukkannya ke dalam bathtub.

 

Yuna hanya tersenyum sambil terus menatap wajah Yeriko yang sangat serius.

 

“Aku pastikan semuanya aman buat kamu bergerak.”

 

Yuna mengangguk. Ia tidak bisa membantah sikap suaminya yang tiba-tiba sangat protektif terhadap dirinya. Ia merasa diperlakukan sangat istimewa.

 

Usai mandi, mereka bersama-sama mengganti pakaian.

 

“Kamu yakin mau ketemu Bellina hari ini?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak salah. Aku nggak mau disalahkan kayak gini. Bellina harus ngakuin perbuatannya kalo dia yang bunuh anaknya sendiri.”

 

Yeriko tersenyum sambil menoleh ke arah Yuna. Ia memakai sweater rajut buatan tangan istrinya. Matanya tiba-tiba tertuju pada kaki Yuna yang telah mengenakan high heels.

 

“Lepas sepatunya!” perintah Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna melongo beberapa saat.

 

Yeriko membuka lemari kaca yang berisi semua sepatu Yuna dan dirinya. Ia mengambil satu flat shoes milik Yuna. Menghampiri Yuna dan mengganti sepatu Yuna dengan sepatu flat shoes.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa berkata-kata setiap kali Yeriko memerhatikan detail penampilan dan apa pun yang ada di sekitarnya.

 

“Jangan pakai high heels!” pinta Yeriko. “High heels bahaya buat kamu.”

 

Yuna mengangguk. Ia meraih tas tangannya dan bergegas keluar dari kamar bersama Yeriko.

 

Yeriko masih saja khawatir dengan Yuna, ia menggendong istrinya turun dari kamar menuju meja makan untuk sarapan bersama.

 

Usai sarapan, mereka bergegas menuju rumah sakit tempat Bellina mendapatkan perawatan.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam saat mobil Yeriko sudah berhenti di halaman parkir rumah sakit.

 

“Kamu yakin mau ketemu sama Bellina?” tanya Yeriko yang bisa menangkap kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku nggak mau kamu jadi stres karena masalah kamu dengan Bellina ini.”

 

Yuna tersenyum. “Nggak papa, semua akan baik-baik aja. Aku cuma butuh penjelasan dari Bellina.

 

“Oke.” Yeriko melepas safety belt dan bergegas keluar dari mobil. Ia terus menggenggam tangan Yuna sampai ke depan ruang rawat Bellina.

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

 

 

Yuna mengetuk pintu perlahan. Tak lama kemudian, Melan membukakan pintu untuk Yuna.

 

“Mau ngapain ke sini?” tanya Melan ketus.

 

“Kami mau jenguk Bellina,” jawab Yuna sambil meremas tempat parsel buah yang ia bawa.

 

“Bellina nggak mau ketemu sama kalian,” sahut Melan, ia langsung menutup pintu tanpa mau mendengarkan ucapan Yuna berikutnya.

 

Yuna terdiam, ia menoleh ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum dan langsung mengelus pundak Yuna. “Sabar ya!” bisiknya.

 

Yuna mengangguk, ia bertekad untuk menunggu sampai Bellina bersedia untuk menemui dirinya.

 

“Siapa, Ma?” tanya Lian saat mendengar mama mertuanya meracau tak jelas.

 

“Yuna,” jawabnya kesal.

 

“Aku nggak mau ketemu sama dia, jangan biarin dia masuk ke sini!” pinta Bellina.

 

“Iya, Mama sudah tahu. Mama nggak akan izinin dia masuk ke ruangan ini.”

 

Bellina tersenyum menatap ibunya. Ia kemudian menoleh ke arah Lian yang duduk di sampingnya. “Aku nggak mau ketemu sama pembunuh anakku, dia sudah membunuh anak kita,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Lian langsung merengkuh kepala Bellina ke pelukannya. “Semua akan baik-baik aja,” tuturnya. Ia tidak yakin kalau Yuna yang sengaja mendorong istrinya jatuh dari tangga. Beberapa hari lalu, Yuna bahkan memintanya untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Tidak mungkin Yuna melakukan perbuatan sekeji itu.

 

Bellina terisak dalam pelukan Lian. “Li, aku udah kehilangan anakku. Yuna tega banget ngelakuin ini. Padahal, aku sudah berusaha berubah dan minta maaf ke dia. Dia malah memperlakukan aku kayak gini.”

 

“Sudahlah. Jangan terlalu sedih!” pinta Lian sambil mengusap punggung Bellina dengan lembut. “Soal anak, kita bisa bikin lagi. Yang penting, kamu sudah selamat dan baik-baik aja.”

 

Bellina menganggukkan kepala. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecil di bawah air mata yang menetes deras. Kini, Lian mulai memberikan banyak perhatian kepadanya dan akan membenci Yuna karena telah membunuh anaknya. Ia merasa, pengorbanannya kali ini benar-benar sepadan dengan hasilnya.

 

“Li, Mama pulang dulu. Nanti sore, Mama ke sini lagi.” Melan berpamitan dengan Lian dan Bellina.

 

Lian menganggukkan kepala. “Mau aku antar, Ma?”

 

“Nggak usah, Mama udah pesan taksi.”

 

Lian mengangguk kecil. “Hati-hati, Ma!”

 

Melan mengangguk dan bergegas keluar dari ruang rawat Bellina.

 

Yuna yang duduk di kursi tunggu langsung menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Ia bangkit begitu melihat Melan keluar dari ruangan tersebut.

 

“Kamu masih di sini?” sapa Melan kesal.

 

“Tante, aku beneran harus ketemu Bellina.”

 

“Bellina nggak mau ketemu sama kamu. Lebih baik, kamu pergi dari sini. Masalah ini kita selesaikan di kantor polisi nanti.”

 

Yeriko geram dengan sikap Melan. “Tante, Yuna sama sekali nggak bersalah. Aku pasti bisa bikin kalian yang masuk penjara karena sudah menuduh Yuna tanpa bukti!” tegas Yeriko.

 

“Silakan!” sahut Melan tanpa menoleh ke arah Yuna dan Yeriko. Ia langsung melangkah pergi penuh percaya diri. Ia yakin, keluarganya bisa menjebloskan Yuna ke penjara karena perbuatannya.

 

Yeriko benar-benar geram dengan sikap Melan. Ia melihat keluarga Bellina benar-benar mengerikan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Yuna melalui hari-harinya sebelas tahun yang lalu bersama dengan keluarga ini.

 

Yuna menatap pintu ruang rawat, ia melangkah perlahan menghampirinya dan langsung meraih gagang pintu.

 

“Kamu yakin?” tanya Yeriko sambil menahan lengan Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia membuka pintu ruangan tersebut perlahan dan melangkah masuk.

 

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna, ia tidak akan membiarkan Yuna menghadapinya seorang diri. Ia akan melakukan segala cara untuk membuktikan kalau Yuna tidak bersalah.

 

Bellina langsung menatap tajam ke arah Yuna begitu melihat Yuna masuk ke dalam ruangannya. Matanya dipenuhi aura hitam kebenciannya terhadap Yuna dan suaminya.

 

“Kenapa dia bisa masuk ke sini?” tanya Bellina pada Lian yang duduk di sampingnya.

 

Lian langsung menoleh ke arah Yuna dan tidak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu harus memilih percaya pada Yuna atau Bellina. Keduanya, benar-benar membuat hatinya sangat bimbang. Ia tidak ingin menyalahkan Yuna begitu saja tanpa bukti yang jelas. Namun ...?

 

“Usir dia dari ruangan ini!” pinta Bellina histeris. “Aku nggak mau lihat wajah pembunuh anakku!”

 

Yuna membelalakkan matanya. Ia benar-benar tidak terima dengan ucapan Bellina kali ini. Ia bukan seorang pembunuh seperti yang dituduhkan oleh Bellina.

 

Lian berjalan perlahan menghampiri Yuna. “Yun, bisa keluar dulu!” pintanya. Masalah ini, bisa kita bicarakan setelah Bellina benar-benar membaik,” tuturnya pelan.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia tidak ingin menunda masalah ini dan membuat Bellina terus memfitnahnya semakin keji.

 

“Aku cuma butuh waktu sebentar buat ngomong sama Bellina. Please ...!” pinta Yuna.

 

Lian terdiam, ia menatap wajah Bellina sejenak. Ia memberikan kesempatan untuk Yuna dan Bellina saling bicara.

 

 

 

(( Bersambung ...))

 

Hai, maaf kalo aku masih terus menghadirkan tokoh antagonis dan bikin kalian kecewa. Soalnya, untuk menjadi Hero nggak bisa lepas dari konflik dengan tokoh antagonisnya. Apa pun masalahnya, Perfect Hero harus selalu melindungi orang yang dia cintai. So, ambil hikmahnya. Yang jahat pasti akan kalah, kok.

Perfect Hero Bab 257 || Demi si Kecil || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Ada tamu siapa?” tanya Yuna saat Yeriko baru saja kembali ke kamarnya. Ia mengetahui kalau Yeriko kedatangan tamu, tapi tidak diizinkan turun oleh suaminya itu dan hanya menunggu suaminya kembali ke kamar.

“Design interior,” jawab Yeriko sambil menghampiri Yuna yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Yuna mengernyitkan dahinya. “Mau ngapain?”

“Ngubah dekorasi rumah.”

“Hah!?”

Yeriko tersenyum, ia langsung menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu lagi hamil, aku harus pastikan semua ruangan aman buat kamu. Setelah semuanya selesai, kamu bisa bergerak bebas di rumah ini,” tutur Yeriko di telinga Yuna.

“Oh ya?” Yuna tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.

Yeriko mengangguk kecil. “Besok udah mau masuk kerja?” tanya Yeriko.

“Mmh ... besok, aku kelarin dulu masalahku sama Bellina.”

Yeriko mengangguk. “Aku temenin kamu ke sana.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Yeriko memasukkan tangannya perlahan ke dalam baju Yuna dan mengelus lembut perut Yuna yang masih mungil. “Jadi anak baik ya, Nak! Kami selalu menunggumu lahir ke dunia.”

Yuna tersenyum sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Karena udah mau jadi papa, aku boleh panggil kamu Papa Yeri?”

“Papa?” Yeriko memutar bola matanya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Papa atau papi?” tanya Yuna sambil tersenyum.

“Mmh ... Papa aja!”

“Kenapa? Nggak mau dipanggil Papi? Pipi, Pupu, Popo ...?”

“Jangan dilanjutin!”

“Eh!?” Yuna mengernyitkan dahi, kemudian tertawa lebar. “Mmh ... Ayah aja deh kalo gitu.”

“Apa aja boleh,” tutur Yeriko sambil tersenyum dan mengecup leher Yuna.

Yuna tersenyum sambil mencubit kedua pipi Yeriko. “Ayah Yeri ...! Ayah ...! Ay ...! Ai, aishiteru ... ai, ai ni ... wo ai ni!”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kamu ... bisa aja,” tutur Yeri sambil memainkan hidungnya di atas hidung Yuna. “Kalo gitu, aku juga harus manggil kamu Bunda Yuyun.”

“Aku masih nggak percaya kalo aku bakal jadi ‘Bunda’. Ini bukan mimpi kan?”

Yeriko menggelengkan kepalanya. “Aku juga bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Mmh ... kita mau kasih dia nama apa ya?”

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu yang paling berhak buat kasih dia nama. Aku yang akan memanggil dia setiap hari, setiap bangun tidur, sebelum tidur ... setiap mau melakukan apa pun, dia akan mewarnai hari-hari kita.”

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna penuh kehangatan. “Terima kasih karena kamu sudah menerima semua ini. Melakukan banyak hal demi aku. Aku nggak pernah merasa seistimewa ini.”

“Bukannya kamu yang udah ngelakuin banyak hal buat aku? Aku yang seharusnya berterima kasih.”

Yeriko menggelengkan kepala. “Semuanya nggak akan sebanding dengan apa yang akan kamu terima selama mengandung anakku. Aku akan menjaga kalian dengan baik.”

 Yuna terus tersenyum menatap wajah suaminya. Ia tidak bisa berkata-kata. Semua hal yang diucapkan Yeriko, membuat hatinya sangat nyaman dan berbunga-bunga.

 

“Obatnya sudah diminum?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nggak ngerasain apa-apa?” tanya Yeriko lagi.

 

Yuna menggeleng.

 

“Kenapa aku yang sering mual ya?” tanyanya pada diri sendiri. “Bener-bener nggak masuk akal. Yang hamil kamu, kenapa aku yang kesulitan makan?”

 

“Biar adil,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Adil gimana?”

 

“Ya, bayangin aja kalo aku yang mual-mual dan susah makan. Pasti, aku bakal lemes setiap hari. Anak ini juga bisa-bisa kekurangan nutrisi karena setiap makanan yang masuk, pasti keluar lagi.”

 

“Mmh ... iya juga, ya? Nggak papa deh aku yang mual-mual. Asalkan anak kita selalu sehat.”

 

Yuna terkekeh menatap wajah Yeriko. Ia langsung mengecup bibir Yeriko. “Ayah yang baik!” pujinya.

 

“Biasanya, orang ngidam berapa lama ya?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepalanya. “Nggak tahu. Ini hamil pertamaku, jadi nggak banyak tahu.”

 

“Aku langganan newsletter online untuk ibu dan bayi. Banyak tips dan ilmu soal kandungan dan bayi.” Yeriko meraih ponsel dari atas meja dan membukanya.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. “Kamu udah langganan begituan?”

 

Yeriko mengangguk. “Aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik.”

 

“Mana? Aku lihat!”

 

Yeriko merapatkan pelukannya. Mereka membaca beberapa artikel tentang usia kandungan yang masih muda. Hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada kandungan yang masih berusia di bawah dua puluh minggu.

 

“Huft, aku harus bener-bener cuti selama ini?” tanya Yeriko setelah membaca salah satu artikel di ponselnya.

 

“Dokter udah bilang, kalau kita nggak boleh berhubungan dulu selama tiga bulan ke depan.” Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kamu tahan?”

 

Yeriko memutar bola matanya. “Aku tahan-tahanin. Asal kamu nggak godain aku.”

 

“Emang kapan aku godain kamu?”

 

“Setiap malam.”

 

Yuna terkekeh. “Gimana kalo ... kita tidur sendiri-sendiri aja dulu?”

 

“Eh!? Kenapa begitu?”

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku takut, kita sama-sama nggak bisa mengendalikan diri dan ...”

 

“Kita nggak boleh ngelakuin hubungan suami-istri bukan berarti harus pisah ranjang kan? Aku nggak mau tidur pisahan!” Yeriko mengeratkan pelukannya.

 

“Tapi ...”

 

“Yun, aku masih bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku nggak mau tidur sendirian.”

 

“Yakin?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Tiga bulan, loh.”

 

Yeriko mengangguk lagi. “Masa kamu tega biarin aku tidur di ruang kerja selama tiga bulan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Asal kamu tahan godaan,” jawabnya sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Iya, aku tahanin!” sahut Yeriko kesal.

 

Yuna tersenyum sambil memainkan ujung jemari tangannya di dada Yeriko yang sedikit terbuka.

 

“Nah, kan?” Yeriko langsung menangkap telapak tangan Yuna.

 

“Nah kan, apa?” tanyanya sambil menahan tawa.

 

“Kamu mau bikin aku menderita?” tanya Yeriko sambil menatap tajam ke arah Yuna.

 

“Menderita kenapa?”

 

“Yuna ...! Kalo si Kecil bangun, kamu mau tanggung jawab?” rengek Yeriko.

 

Yuna terkekeh geli. “Aku cuma bercanda. Lagian, katanya tahan. Baru disentuh dikit aja udah kelimpungan,” celetuknya.

 

“Aku mana tahan kalo kamu genit kayak gini.”

 

“Makanya, sementara kita tidur terpisah aja dulu. Gimana?”

 

“Nggak mau!”

 

“Demi si Kecil. Biar aman.”

 

“Nggak mau! Aku nggak mau tidur terpisah.” Yeriko bersikeras.

 

Yuna tersenyum jahil. “Yakin tahan sama godaanku?” tanya Yuna sambil menyodorkan dadanya ke wajah Yeriko.

 

Yeriko memejamkan mata. Ia langsung menggendong Yuna dan membawanya ke tempat tidur. “Tidurlah!” pintanya sambil menyelimuti tubuh Yuna.

 

“Kamu mau ke mana?”

 

“Aku mau ngerjain laporan. Kamu baik-baik di sini!” pintanya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum bahagia. “Jangan terlalu malam kerjanya!”

 

Yeriko mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas keluar dari kamar.

 

Yuna tersenyum menatap pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Yeriko. Ia merasa kalau Yeriko semakin lembut dan penuh perhatian. Ini semua karena anak yang dikandung oleh Yuna. Sebab kehadirannya sudah dinantikan sejak lama oleh mereka. Yeriko pasti akan melakukan apa pun untuk menjaga anak dalam kandungan Yuna.

 

 

(( Bersambung ... ))

 


 

Perfect Hero Bab 256 || Perhatian untuk Ye Kecil

 


Jheni dan Icha bergegas pergi ke rumah Yuna setelah pulang bekerja. Mereka masih tidak mengerti kenapa Yuna tiba-tiba meminta mereka datang ke rumah secepatnya.

“Sore, Bi!” sapa Jheni pada Bibi War yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah.

“Sore ...!” balas Bibi War. “Mau ketemu Mbak Yuna?”

Jheni dan Icha menganggukkan kepala.

“Sar, tolong antarkan dua Mbak ini ke kamar Nyonya!” Bibi War berteriak ke arah rumah.

Sari langsung keluar dari rumah, ia menyapa Jheni dan Icha dengan ramah dan membawa keduanya naik ke kamar  Yuna.

“Yun, ini ada apa sih? Nggak biasanya rumah kamu dijagain orang banyak. Nggak ada masalah kan?” tanya Jheni saat ia sudah berada di dalam kamar Yuna.

Yuna menggelengkan kepala.”Nggak ada apa-apa. Yeriko aja berlebihan jagain aku.”

“Eh!? Emang ada apa?”

Yuna tersenyum sambil menatap Icha dan Jheni. “Aku punya kejutan buat kalian.”

“Apa itu?” tanya Jheni, ia dan Icha saling pandang.

Yuna tersenyum dan menyodorkan kertas hasil pemeriksaan.

“Astaga! Ini beneran, Yun?” tanya Jheni, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia baca.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu beneran hamil? Akhirnya ... aku bakal punya keponakan!” seru Icha. Ia dan Jheni melompat kegirangan dan langsung memeluk tubuh Yuna.

“Usaha kamu nggak sia-sia, Yun. Akhirnya, bakal punya anak juga.” Jheni terus tersenyum mendengar kabar bahagia ini.

Yuna tersenyum bahagia. “Iya. Makanya, Yeriko protective banget sekarang. Aseelii, aku nggak boleh keluar dari kamar.”

“Hah!? Cuma hamil nggak boleh keluar dari kamar?” tanya Jheni.

“Dia bilang, tangga berbahaya buat aku. Soalnya, Bellina baru aja jatuh dari tangga dan akhirnya keguguran.”

“What!? Serius kalo si Belli itu keguguran?”

“Iya, Jhen. Di kantor juga beritanya udah nyebar kalau Bu Belli keguguran.”

“Kapok! Rasain tuh iblis betina akhirnya kena batunya,” tutur Jheni kesal.

“Beneran udah sampe kantor beritanya, Cha?” tanya Yuna.

Icha menganggukkan kepala.

“Ada berita apa lagi?” tanya Yuna penasaran.

Icha terdiam sejenak. “Eh, nggak ada apa-apa. Cuma itu doang.”

“Nggak bawa-bawa namaku?” tanya Yuna lagi.

Icha menggelengkan kepala.

“Emang kenapa, Yun?” Jheni justru penasaran mendengar pertanyaan Yuna. “Ada hubungannya sama kamu?”

Yuna mengangguk.

“Serius?” Jheni dan Icha bertanya bersamaan.

“Iya. Mereka ngundang aku buat makan malam. Katanya sih mau minta maaf, sekalinya malah jebak aku,” tutur Yuna.

“Jebak gimana?”

“Bellina itu pura-pura jatuh di tangga. Terus, dia nuduh aku yang dorong dia. Jahat banget kan?” jelas Yuna.

“Gila tuh Bellina. Dia sampe ngorbanin anaknya cuma buat fitnah kamu?” sahut Jheni kesal. “Asli, itu mah dia sengaja bunuh anaknya.”

“Keji banget sih, Bellina?” tanya Icha.

“Iya, Cha. Makanya, Yeriko protective banget sama aku waktu tahu aku hamil.”

“Bener juga sih suami kamu itu,” sahut Jheni.

“Tapi nggak kayak gini juga kali, Jhen. Aku berasa kayak lagi dipenjara di rumah sendiri,” celetuk Yuna.

Jheni tertawa kecil. “Kamu beruntung karena punya suami yang baik, penyayang dan perhatian banget. Harusnya kamu seneng diperhatiin kayak gini.”

“Hmm ... iya juga, sih.”

“Udah, terima aja jadi ratunya  Bos Ye!” perintah Jheni. “Semua cewek pengen kali diperhatiin kayak gini.”

“Eh, kamu ngidam atau nggak?” tanya Icha.

“Nggak, sih.”

“Nggak mual-mual?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Nggak pengen makan sesuatu?”

“Pengen makan telur lele digoreng. Sampe sekarang belum dapet. Bantu cariin!” pinta Yuna manja.

“Hah!?” Jheni dan Icha membelalakkan matanya.

“Yun, kalo ngidam berkelas dikit!” sahut Jheni. “Minta pesawat jet, kek. Suami kamu kan kaya raya.”

“Itu mah bukan ngidam, emang emaknya aja yang kepengen,” sahut Yuna sambil tertawa.

“Sesekali kerjain Yeriko, Yun. Aku pengen tahu gimana reaksi dia kalau kamu pengen sesuatu yang susah didapat.”

“Jangan, Jhen! Nyari telur lele belum dapet aja dia udah kayak mau nangis gitu. Nggak tega aku ngerjain dia.”

 

“Sebagai calon ayah, dia harus menunjukkan kegigihan dan perjuangannya. Harus dites dulu, beneran sayang atau nggak sama anaknya?”

 

“Sayangnya Yeriko ke aku dan anaknya nggak perlu di tes, Jhen. Harusnya kamu yang ngetes sayangnya Chandra ke kamu. Hahaha.” Yuna tergelak sambil menatap Jheni.

 

“Jahat kamu, Yun!” dengus Jheni sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Eh, aku jadi kepikiran ngerjain Yeriko. Soalnya, dia kadang lucu banget kalo dikerjain,” tutur Yuna.

 

“Yee ... katanya nggak mau ngerjain?” sahut Jheni.

 

Yuna terkekeh. “Iya, nggak tega sih sebenarnya. Eh, kalian jadi berangkat besok?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Jangan lupa oleh-oleh ya!” pinta Yuna.

 

“Oleh-oleh apaan? Orang masih di Indonesia.”

 

“Bawain Pempek!” pinta Yuna.

 

“Nggak janji,” sahut Jheni.

 

“Yaelah, nggak kasihan amat sama ibu hamil,” celetuk Yuna.

 

Jheni langsung menatap tajam ke arah Yuna. “Kamu tuh emang demen makan. Hamil jadi alasan. Padahal emang emaknya yang kepengen. Bukan bayinya.”

 

“Iih ... tega banget sih?”

 

“Iya, iya. Nanti aku bawain!” sahut Jheni.

 

“Nah, gitu dong!”

 

“Yun, kita nggak bisa lama-lama di sini. Soalnya, mau siap-siap berangkat besok pagi. Kita pulang dulu ya!” pamit Jheni.

 

“Yah, aku kesepian di sini.”

 

“Ini udah sore banget. Palingan, Yeriko bentar lagi balik. Lagian aku lihat, ada banyak pelayan dan penjaga di rumah ini.” Jheni bangkit dari duduknya.

 

“Istirahat yang baik ya, Yun. Jangan sampai kecapean. Pokoknya, harus jagain keponakan aku dengan baik!” pinta Icha.

 

“Iya ... kalian ini ikutan cerewet juga,” sahut Yuna.

 

“Harus cerewet sama calon Mama muda yang suka ngeyel kalo dikasih tahu!” dengus Jheni sambil tertawa kecil. “Kita balik dulu, Ya! Bye-bye!” Ia melambaikan tangan dan bergegas keluar dari rumah Yuna.

 

Tepat di depan pintu keluar, mereka berpapasan dengan Yeriko yang baru saja datang.

 

“Kalian di sini? Udah lama?” sapa Yeriko sambil menatap Jheni dan Icha.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Selamat ya! Yang sebentar lagi bakal jadi ayah,” tuturnya.

 

Yeriko tersenyum. “Makasih, Jhen!”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Kalian nggak mau main dulu?”

 

“Kita udah lama di sini. Lagian, aku sama Icha mau packing. Besok pagi mau berangkat.”

 

“Ke mana?” tanya Yeriko.

 

“Ke Sumatera. Icha sama Lutfi ke Bali.”

 

“Biasanya, Lutfi ke Bali cuma sehari doang. Perlu persiapan segala?”

 

Icha tersenyum menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku baru pulang kerja juga. Belum mandi. Jadi, nggak bisa lama-lama di sini.”

 

“Oh. Oke. Hati-hati di jalan!”

 

Jheni dan Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar dari rumah Yeriko dan kembali ke rumah masing-masing.

 

Yeriko tersenyum, ia merasa sangat bahagia karena sahabat-sahabat Yuna juga memberikan dukungan.

 

“Bi, Yuna masih di kamar?” tanya Yeriko.

 

Bibi War mengangguk.

 

Salah seorang ajudan langsung menghampiri Yeriko dan membantu membawakan paper bag yang ada di tangan Yeriko tanpa diminta.

 

Yeriko bergegas naik ke kamarnya. Ia langsung menyuruh ajudan meletakkan beberapa paper bag yang ia bawa ke atas sofa.

 

“Dari mana aja?” tanya Yuna sambil membantu Yeriko melepas jaketnya.

 

“Abis dari rumah sakit nemuin Bellina.”

 

“Terus?”

 

“Bellina nggak mau ketemu sama aku.”

 

“Hmm ... ya udah, besok aja ke sana lagi bareng aku juga.”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil melepas pakaiannya dan menggantinya dengan handuk mandi.

 

“Aku mandi dulu. Aku beliin beberapa baju hamil buat kamu. Cobain ya!” pinta Yeriko sambil menunjuk beberapa paper bag yang ada di atas sofa.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil menatap punggung Yeriko yang tenggelam di balik pintu kamar mandi. Ia bergegas menghanpiri sofa dan melihat isi paper bag satu persatu.

 

“Banyak banget?”

 

Yuna tersenyum bahagia melihat banyak baju hamil. Ia tak menyangka kalau Yeriko begitu memerhatikan setiap detail kebutuhan kehamilannya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas