Wednesday, May 21, 2025

Perfect Hero Bab 226 - Kuat Bercinta || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jhen, kamu kenapa kayak gini sih!?” tanya Yuna kesal.

 

“Huft, kamu nggak akan ngerti, Yun. Aku nggak bisa maksain perasaan orang,” jawab Jheni sambil menatap lantai yang kosong.

 

“Siapa bilang maksain? Jelas-jelas Chandra baru aja ngungkapin perasaannya ke kamu. Kamu mau ngelepasin dia gitu aja?”

 

Jheni tersenyum menatap Yuna. “Yun, aku juga nggak mau kayak gini. Aku suka sama Chandra sejak dia masih tunangan sama Amara. Ini semua bukan salah dia. Aku yang salah, aku yang nekat masuk ke kehidupan mereka,” tuturnya sambil terisak.

 

Yuna langsung memeluk tubuh Jheni. “Jhen, jangan nyalahin diri kamu sendiri!” pintanya lembut sambil mengelus pundak Jheni. “Mmh ... kamu cewek yang baik, lebih pantes buat dapetin cowok yang baik. Bukan yang plin-plan kayak Chandra.”

 

Lutfi dan Yeriko saling pandang. Mereka juga merasa tindakan Chandra tidak benar. Tidak seharusnya Chandra memilih menemani Amara di rumah sakit dan mengabaikan Jheni begitu saja.

 

“Aku kesel banget sama Chandra!” Yuna menghentakkan kaki sambil mondar-mandir.  “Jheni itu kurang apa sih? Udah baik, sabar, nggak marah dan nggak egois. Eh, dianya malah milih cewek jahat itu!” serunya kesal.

 

“Yun, aku jadi senewen kalo lihat kamu uring-uringan gini,” celetuk Icha.

 

Yuna mengerutkan bibirnya. Ia menarik napas panjang. “Okelah. Daripada aku buang-buang energi buat mikirin Chandra sama Amara, lebih baik kita cari makan yuk! Aku laper.”

 

Yeriko tertawa kecil melihat tingkah Yuna.

 

“Kakak Ipar, kamu masih ingat aja kalau soal makanan,” sahut Lutfi sambil tertawa kecil.

 

“Nomer satu. Aku udah buang banyak energi hari ini. Lagian, ini udah tengah malam dan aku belum makan. Harusnya perutku udah kenyang dan udah tidur nyenyak,” tutur Yuna lemas.

 

Yeriko tersenyum sambil merangkul tubuh Yuna. “Ayo, kita cari makan!”

 

“Cari makan di mana jam segini?” tanya Jheni.

 

“Banyak restoran dua puluh empat jam,” sahut Yeriko. Ia langsung melangkah meninggalkan rumah sakit bersama Yuna dan yang lainnya.

 

 

 

Sesampainya di restoran, mereka memilih untuk tidak membahas hubungan Jheni dan Chandra agar suasana hati Jheni bisa lebih baik.

 

“Kakak Ipar, malam ini bukannya acara nikahannya sepupu kamu itu? Kamu nggak datang ke sana?” tanya Lutfi.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Hari ini ulang tahun Jheni. Nggak mungkin aku mengabaikan hari penting sahabatku sendiri.”

 

“Duh, Yun. Aku jadi terhura ... eh, terharu,” sahut Jheni dengan mata berbinar.

 

Yuna tersenyum bangga. “Kamu harus ingat, Jhen. Nggak ada orang lain yang mencintai kamu selain aku!” tegasnya sambil tersenyum ke arah Jheni.

 

“Iya, Sayangkuh!” sahut Jheni sambil mencubit gemas kedua pipi Yuna. “Makan yang banyak!” perintahnya.

 

Yuna tertawa bahagia melihat Jheni yang telah kembali ceria.

 

“Mmh ... aku nggak masuk ya?” tanya Icha. “Aku juga kan sayang sama kalian.”

 

“Uch ... iya, dong!” sahut Jheni sambil memeluk Icha yang duduk di sampingnya. “I love you so much! Betewe, makasih banyak ya hadiahnya.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Iih ... kamu ngasih hadiah apa ke Jheni?” tanya Yuna penasaran.

 

“Ada, deh. Kepo!” sahut Jheni.

 

“Iih ... kok, gitu sih?” Yuna merengut ke arah Jheni dan Icha yang ada di hadapannya.

 

Jheni dan Icha tertawa bersama.

 

“Emangnya kamu ngasih kado apa buat Jheni?” tanya Icha.

 

“Mmh ... ada, deh.”

 

“E-eh, dia nggak ngasih aku kado, Cha. Dia malah sibuk nyari boneka beruang buat dirinya sendiri,” sahut Jheni. “Kamu tahu nggak, dia ngajak aku muter-muter selama dua jam. Kurang ajar nggak tuh!?” dengus Jheni.

 

“Hahaha.” Yuna tergelak menanggapi ucapan Jheni. “Icha loh yang suruh!” tuturnya sambil menunjuk wajah Icha.

 

“Oh, jadi kalian sekongkol buat ngerjain aku?”

 

“Kalo nggak sekongkol, mana bisa ngasih kejutan buat kamu.” Yuna menjulurkan lidahnya ke arah Jheni.

 

“Sialan banget! Dia bawa aku keluar, katanya mau belanja bahan masakan. Sekalinya, muter-muter cuma beli boneka sebiji. Harusnya, aku udah curiga dari awal. Nggak jelas banget!” tutur Jheni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni.

 

Mereka menikmati hidangan tengah malam sambil terus bercanda. Usai makan, mereka kembali ke rumah masing-masing.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari saat Yuna dan Yeriko tiba di rumah.

 

“Huuaa ... ngantuk banget!” Yeriko langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.

 

Yuna tersenyum jahil, ia menjatuhkan tubuhnya ke dada Yeriko.

 

“Aw ...!” Yeriko langsung melebarkan kelopak matanya sambil menahan sakit di perut dan dadanya. “Yun, bisa nggak kalo ngasih aba-aba dulu biar aku siap?”

 

“Siap apa?” tanya Yuna sambil tersenyum dan menggigit bibir bawahnya.

 

“Siap nerima kamu jatuh di pelukanku,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Iih .. kuat ngegombal ya sekarang!?” dengus Yuna sambil memukul dada Yeriko.

 

“Aku bukan cuma kuat ngegombal, tapi juga kuat bercinta,” sahut Yeriko sambil menggenggam kedua pergelangan tangan Yuna dan balik menekan tubuh Yuna.

 

Yuna tertawa kecil. “Yer, makasih ya!”

 

“Untuk?”

 

“Hmm ... karena kamu selalu bikin aku bahagia, bikin aku nyaman. Selalu jagain aku dan ... mau menerima aku yang rewel dan merepotkan ini,” tutur Yuna sambil tersenyum. Ia terus menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa sangat beruntung memiliki suami yang begitu hebat dalam segala hal, termasuk menyingkirkan cinta pertamanya demi Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Kamu baru sadar kalau kamu rewel dan merepotkan, hah!?”

 

Yuna meringis. “Kenapa bisa sayang sama perempuan yang merepotkan?”

 

“Mmh ... harusnya aku nggak suka sama cewek rewel kayak kamu. Tapi ...” Yeriko mengamati wajah Yuna.

 

“Tapi apa?”

 

“Aku suka sama kamu yang genit,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Iih ... aku gak genit!”

 

“Udah genit gini, masih aja nggak mau ngaku,” sahut Yeriko.

 

“Genitnya kan sama suami doang,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Mmh ... waktu kita pertama kali ketemu, kamu yang nyium aku duluan kan?”

 

Yuna menyembunyikan bibir, menahan senyuman yang tetap saja terlihat di mata Yeriko. “Hmm ....jangan diungkit lagi!” pinta Yuna. “Waktu itu, aku bener-bener bodoh karena baru aja putus sama Lian dan aku sakit hati banget. Jadi, aku pake kamu buat bikin dia cemburu.”

 

“Oh ... jadi, selama ini kamu manfaatin aku biar Lian cemburu?” Yeriko bangkit dari tubuh Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Cuma sekali itu aja. Suer!”

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia berkacak pinggang dan berbalik membelakangi Yuna.

 

Yuna langsung bangkit, menarik tubuh Yeriko kembali ke atas kasur. “Nggak perlu diungkit lagi ya!” bisik Yuna. “Sekarang, kita berusaha untuk bikin Ye kecil aja, gimana?”

 

“Huft, kamu memang yang paling pintar bikin aku nggak berdaya,” jawab Yeriko sambil menenggelamkan tubuh Yuna ke dalam pelukannya. 

 

(( Bersambung ... ))

 

Scene kali ini bakal bikin senam jantung.

So, ikuti terus keseruan kisah Chan & Jhen ya!

Thank you so much... I Love you double-double

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 225 - Berbesar Hati || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Chan, tolongin aku!” pinta Amara dengan langkah tertatih menghampiri Chandra.

Di belakang Amara, muncul beberapa orang preman bertubuh kekar yang sedang mengejar Amara.

“Chan, tolongin aku, please!” Amara berlutut di hadapan Chandra sambil memegang tangan Chandra. Ia menatap Iba, berharap Chandra bisa menolongnya.

Chandra menarik napas perlahan saat melihat luka yang ada di punggung Amara. Sementara, Jheni tak bisa berkata-kata. Ia melepaskan tubuhnya dari pelukan Chandra. Amara kembali dalam keadaan terluka seperti ini, apakah Chandra akan menolongnya dan kembali ke pelukan Amara?

“Heh, kalian siapa?” tanya Lutfi sambil menatap preman yang ada di hadapannya.

“Kami mau nagih hutang. Dia berhutang banyak sama kami dan sampai sekarang belum bisa bayar. Orang tua dia sangat kaya, kenapa nggak mau bayar hutang ke kami!?” sentak preman tersebut sambil menatap Amara.

“Chan, aku nggak tahu kalau Harry pinjam uang atas namaku. Mereka selalu ngejar-ngejar aku. Aku nggak tahu harus minta perlindungan ke siapa lagi. Cuma kamu yang bisa nolongin aku sekarang. Please, Candra!” pinta Amara yang semakin lemah.

Yeriko tersenyum kecil menatap beberapa preman yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia tetap duduk santai tanpa ada keinginan untuk menanganinya.

Chandra menatap pimpinan preman yang ada di hadapannya. Wajah itu tak asing lagi, ia sangat mengenal David, raja judi se-Asia. Memiliki beberapa tempat judi offline dan online. Ia tidak tahu bagaimana Amara bisa berhubungan dengan preman-preman mengerikan tersebut.

“Dav, kasih aku waktu buat ngembalikan hutangnya Amara!” pinta Chandra.

Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menatap Chandra.

“Bodoh!” maki Yeriko dalam hati. Ia menahan kesal karena Chandra justru membela Amara yang sengaja ia buat susah untuk memberinya pelajaran.

David tertawa kecil. “Aku bukan mau uang kamu. Aku mau uang dia!” tegasnya sambil menunjuk Amara.

Amara menunduk ke lantai. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya terhuyung ke lantai, pandangannya semakin gelap. Suara-suara di ruangan itu samar-samar menghilang dari pendengarannya.

“Amara!” Chandra langsung mengangkat tubuh Amara. “Amara, bangun!” pintanya sambil menepuk pelan pipi Amara.

Amara tidak bereaksi, Chandra memeriksa denyut nadi Amara dan langsung menggendong tubuh Amara keluar dari ruangan tersebut.

“Dav, soal ini kita bicarakan nanti!” pinta Chandra sambil melewati tubuh David. “Aku harus bawa dia ke rumah sakit.”

Jheni sangat kecewa melihat sikap Chandra yang masih begitu memperdulikan Amara. Tapi, ia juga tidak bisa menyalahkan Amara jika melihat kondisi gadis itu memang sangat buruk.

 Yuna berdiri sambil berkacak pinggang menatap semua preman yang ada di ruangan itu. “Kalian udah ngerusak acaraku. Kenapa harus sekarang sih?” Yuna geram. Ia sendiri sangat bingung mengungkapkan kalimat apa yang tepat untuk memaki preman-preman tersebut.

Yeriko menarik lengan Yuna, memintanya untuk duduk di sisinya.

“Kalian pergi dari sini! Masalah ini, bisa kita bicarakan besok lagi,” perintah Yeriko.

David langsung membawa orang-orangnya keluar dari ruangan tersebut.

“Jhen, maaf ya! Aku bener-bener nggak nyangka kalau bakal kayak gini. Aku ... aku ...”

“Yun, kamu nggak salah, kok.” Jheni tersenyum sambil menatap Yuna. Perasaannya kini tak karuan, ia tidak tahu harus bahagia atau sedih. Ia sangat bahagia karena Chandra telah menyatakan cinta untuknya. Tapi di saat yang bersamaan, Amara muncul kembali dalam kehidupan Chandra dan membuat perasaannya tak karuan.

Icha dan Lutfi hanya saling pandang. Mereka juga tidak tahu bagaimana menghibur Jheni agar suasana hatinya menjadi lebih baik. Walau terus tersenyum, mereka bisa memahami kalau Jheni sangat kecewa terhadap Chandra.

“Jhen ...!” Yuna menghampiri Jheni, memeluk tubuh Jheni dengan mata berkaca-kaca. Walau terlihat baik-baik saja, ia tahu bagaimana kesedihan yang dialami oleh sahabatnya itu.

Jheni tersenyum, tapi ia tidak bisa menahan air matanya jatuh membasahi pipi.

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Udah, jangan sedih ya!” pintanya sambil mengusap air mata Jheni. “Be positif! Mungkin, Chandra cuma mau nolong Amara doang.”

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

“Ya udah, kita lanjutin acara ulang tahun kamu walau tanpa dia. Gimana?” tanya Yuna.

“Mmh ... lebih baik, kita susul mereka. Aku juga kepikiran sama keadaan Amara.”

“Eh!?” Yuna menatap semua orang bergantian. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. “Oke. Kita ke rumah sakit sekarang!”

Lutfi dan Yeriko saling pandang. Mereka enggan beranjak dari tempatnya.

Yuna merasa suasana menjadi sangat canggung. Yuna melangkah perlahan menghampiri Yeriko. “Ayo!” ajaknya sambil menarik lengan baju Yeriko.

“Kamu yakin, Jhen?” tanya Yeriko sambil menatap Jheni.

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

“Oke.” Yeriko bangkit, mereka semua bergegas keluar dari ruangan dan langsung menuju ke rumah sakit tempat Chandra membawa Amara untuk mendapatkan perawatan.

“Chan, gimana keadaan Amara?” tanya Jheni begitu ia sampai di rumah sakit.

 

“Masih diperiksa sama dokter.”

 

Jheni tersenyum kecil. Ia duduk di kursi tunggu bersama Yuna dan yang lainnya.

 

Chandra menyandarkan kepalanya ke dinding.

 

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

 

“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Chandra.

 

“Baik-baik saja. Hanya shock sementara. Lukanya tidak terlalu parah. Tapi, tetap harus menginap untuk kami pantau perkembangannya.”

 

Chandra mengangguk tanda mengerti.

 

Dokter tersebut bergegas pergi.

 

Chandra dan Jheni masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Amara, diikuti oleh Yuna dan yang lainnya.

 

Amara langsung tersenyum begitu membuka mata begitu melihat Chandra ada di hadapannya.

 

“Chandra ...!” panggil Amara lirih.

 

Chandra tersenyum dan langsung menghampiri Amara. “Kamu udah sadar?”

 

Amara mengangguk. Matanya tertuju pada Jheni yang berdiri di belakang Chandra. Perasaannya sangat sakit saat melihat Chandra sudah memilih untuk bersama wanita lain.

 

“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Chandra sambil menatap Amara.

 

“Aku nggak tahu kalau Harry pinjam uang atas namaku. Dia punya banyak hutang dan aku harus ikut bertanggung jawab sama hutang-hutang dia karena dia pakai namaku. Beberapa hari ini mereka terus ngejar-ngejar aku. Bahkan sampai bikin aku kayak gini. Mereka bener-bener mengerikan,” jelas Amara sambil menangis.

 

Yuna mengernyitkan dahi melihat cara Chandra menatap Amara. Sepertinya, Chandra masih belum bisa melupakan Amara. Terlebih saat melihat Amara menangis. Ia merasa kalau Amara sengaja membuat Jheni cemburu.

 

“Amara, kenapa kamu malah cari Chandra? Kenapa nggak minta perlindungan suami kamu tercinta itu? Kamu kayak gini, itu hukuman buat kamu karena kamu udah nyakitin Chandra,” tutur Yuna. Ia semakin tidak tahan melihat sahabatnya terus terluka.

 

“Aku tahu aku salah. Aku bener-bener nyesal sama keputusanku memilih Harry,” sahut Amara lirih. “Please, maafin aku, Chan!” Amara menatap pilu ke arah Chandra.

 

Chandra tersenyum sambil mengangguk kecil.

 

Yuna geram dengan sikap Chandra yang mudah luluh dengan permintaan Amara. Ia terus menatap Jheni yang terlihat sangat tenang. Ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.

 

“Chan, tolong temenin aku malam ini!” pinta Amara.

 

Chandra menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut. Ia bimbang menjawab pertanyaan Amara. Ia tidak  tega meninggalkan Amara yang sedang terluka, juga tak ingin menyakiti hati Jheni yang dengan setia menemaninya bangkit dari keterpurukan.

 

“Amara, kamu ini nggak punya perasaan dan nggak tahu diri!” sahut Yuna kesal. “Kamu udah nikah sama cowok lain. Sekarang kamu minta Chandra nemenin kamu. Kalian udah nggak asa hubungan apa-apa lagi,” cerocos Yuna.

 

“Aku tahu, Yun. Aku cuma minta temenin malam ini aja. Aku takut, preman-preman itu bakal nyari aku ke sini.”

 

Yuna mengerutkan hidungnya. Ia hampir saja menyemprot Amara, namun Jheni justru menahannya.

 

“Udah, Yun. Nggak baik berdebat di sini. Aku nggak papa, kok. Biar Chandra temenin Amara,” tutur Jheni.

 

Yuna mengernyitkan dahi menatap Jheni. “Kamu ...!?”

 

Jheni tersenyum sambil menarik lengan Yuna. “Chan, kami pulang dulu ya!” pamit Jheni sambil tersenyum.

 

Chandra tersenyum sambil mengangguk. “Hati-hati ya!”

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Scene kali ini bakal bikin senam jantung.

So, ikuti terus keseruan kisah Chan & Jhen ya!

Thank you so much... I Love you double-double

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 224 - Romantic Surprise || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, ntar malam dateng ke Sangri-La ya!” pinta Yuna. “Ajak Lutfi juga!” lanjutnya sambil mengunyah makanan di sela-sela makan siangnya di rumah Icha.

“Ada acara apa, Yun?”

“Mau kasih kejutan buat Jheni,” tutur Yuna sambil menatap layar ponselnya.

“Bukannya semalam udah ngasih kejutan buat dia?” tanya Icha.

“Itu kan kejutan dari kita. Kali ini kejutan spesial dari orang yang spesial.”

“Hah!? Serius!? Si Chandra?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Akhirnya ... Chandra mau nembak Jheni?” tanya Icha.

Yuna mengedikkan bahu. “Mudahan aja, Cha. Aku masih nunggu chat dari Chandra nih.”

“Dia ngerencanain sesuatu?”

“Emang ini rencananya dia, Cha. Dari kemarin, dia nggak ada hubungi si Jheni sama sekali. Makanya, dia juga sengaja nggak dateng semalam. Lihat!” Yuna menyodorkan layar ponselnya ke wajah Icha. “Jheni udah uring-uringan. Hahaha.”

“Kasihan banget sih Jheni. Kalian ngerjain dia sampai segitunya.”

“Ah, kamu ini gimana sih Cha? Orang lagi ulang tahun itu harus dikerjain habis-habisan. Hahaha.”

Icha ikut tertawa kecil. Ia tahu, cara menyayangi sahabat bukanlah hanya dengan membuatnya tertawa. Tapi juga dengan membuatnya menangis, menangis bahagia.

“Oh ya, promil kamu gimana?” tanya Icha.

“Bagus.”

“Iih ... kok bagus?”

“Terus, maunya jelek?”

“Ya nggak gitu juga. Berhasil atau nggak?”

“Kalo bagus, mudahan berhasil. Kemarin, udah periksa ke dokter. Kondisi rahimku udah normal.”

“Wah ... mudahan cepet hamil ya! Aku nggak sabar pengen lihat anak kamu.”

Yuna tersenyum kecil.

“Kalo kamu udah hamil, kira-kira masih kerja atau nggak, Yun?”

“Mmh ....” Yuna melirik ke atas. “Lihat sikonnya.”

“Kayaknya, Yeriko nggak akan ngebiarin kamu kerja ya?”

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Icha. “Yeriko bukan suami yang menahan istrinya untuk berkembang. Tapi, dia juga mulai protektif. Mungkin, semuanya bakal beda kalau aku sudah hamil nanti.”

“Seneng kali, Yun. Kalo hamil lebih disayang sama suami. Katanya, suami bakal ngelakuin apa aja demi anak yang ada di dalam perut.”

“Oh ya?”

Icha mengangguk. “Semua yang kamu minta pasti dikasih. Enak banget kalo orang ngidam.”

“Hahaha. Bisa minta apa aja ya? Ngidam pesawat jet keren kali ya? High class banget!” sahut Yuna sambil tertawa.

“Yaelah, suami kamu kan kaya raya. Kamu ngidam pesawat jet pasti dikasih.”

“Hahaha. Nggak segitunya juga kali, Cha. Pemborosan banget!” sahut Yuna. “Padahal, hari-hari cuma di rumah sama ke kantor. Beli pesawat jet buat apa?” mending buat ngembangin bisnis dia.”

“Eh, iya. Aku kemarin ada baca-baca majalah bisnis. Galaxy Group terus mengembangkan bisnisnya ke banyak sektor. Eh, suami kamu kok bisa hebat banget sih? Bisnisnya di ibukota juga berkembang pesat. Apa ada kemungkinan kalian bakal tinggal di sana?”

Yuna tertawa kecil. “Dia nggak pernah membicarakan soal tempat tinggal. Kayaknya, dia udah nyaman sama rumah villa yang ada di sini. Buktinya, dia nggak mau tinggal di rumah orang tuanya yang super mewah dan banyak pelayan itu.”

“Kenapa?”

Yuna mengedikkan bahunya. “Mungkin, dia bisa lebih tenang. Aku juga ngerasa gitu sih. Udah capek di kerjaan, pengen bisa istirahat di rumah tanpa gangguan orang banyak. Waktu mama mertuaku ngirim banyak pelayan ke rumah, rasanya mau gila. Hahaha.”

“Kamu aneh, Yun. Dikasih fasilitas enak dan mewah, malah nggak mau.”

“Nggak nyaman aja, Cha. Aku biasanya bebas, trus mau ngapa-ngapain dilihatin banyak orang kayak gitu rasanya aneh.”

Icha tertawa kecil. Mereka menyelesaikan makannya sambil terus berbincang asyik.

 

Tepat jam tujuh malam ...

Jheni keluar dari rumahnya dan bergegas menuju Sangri-La. Sesampainya di Sangri-La, ia langsung menelepon Yuna.

“Halo, Yun! Kamu di mana?”

“Aku di private room nomor tiga. Buruan ke sini ya!”

“He-em.” Jheni mengangguk dan langsung mematikan teleponnya. Ia bergegas menuju ruangan yang dimaksud oleh Yuna.

Jheni tertegun saat masuk ruangan yang gelap. Tak ada suara sedikitpun, bahkan suara angin pun tak terdengar apalagi kehidupan.

“Aku nggak salah ruangan kan?” batin Jheni. “Kok, Yuna nggak ada?” batin Jheni.

“Yun, kamu nggak lagi ngerjain aku kan?” tanya Jheni hati-hati sambil melangkah perlahan.

Tiba-tiba lampu sorot menyala, cahayanya tertuju pada sosok pria yang duduk di kursi sambil memetik senar gitar yang ada di pelukannya.

Jheni tertegun saat mendengar lantunan gitar menggema ke seluruh ruangan.

 

“Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan ... Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada ... sejak kau hadir di setiap malam di tidurku ... aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku.” Chandra melantunkan syair lagu cinta milik Roullete sambil tersenyum menatap Jheni yang terpaku di tempatnya.

Jheni terus tersenyum menatap Chandra yang menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya. Ia tak menyangka kalau pria yang dikenalnya sebagai pria yang super cuek, memiliki sisi romantis juga.

“Sudah sekian lama kualami pedih putus cinta ... dan mulai terbiasa hidup sendiri, tanpa asmara ... dan hadirmu membawa cinta, sembuhkan lukaku ... kau berbeda, dari yang kukira ... Aku jatuh cinta, kepada dirimu ...” Chandra tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Jheni.

Jheni tertawa kecil, ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia tak menyangka kalau Chandra akan mengungkapkan perasaannya dengan sebuah lagu yang sangat romantis.

Chandra mengakhiri lagunya, ia menyandarkan gitar ke kursi. Melangkah perlahan menghampiri Jheni yang masih terpesona dengan apa yang dilakukan oleh Chandra malam ini.

“Jhen, selamat ulang tahun!” ucap Chandra sambil menyodorkan hadiah kecil untuk Jheni.

Jheni tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Ia menatap sepasang anting-anting mutiara yang ada di tangan Chandra. “Ini buat aku?” tanya Jheni. Ia masih tak percaya kalau Chandra akan memberikan hadiah untuknya.

Chandra mengangguk sambil tersenyum. “Semoga kamu suka sama pemberian kecil dari aku.”

Jheni mengangguk. “Suka banget!” sahutnya. “Pakein ya!” pintanya sambil tersenyum manis.

Chandra mengangguk. Ia mengambil anting-anting dari dalam kotak dan memasangkannya di telinga Jheni.

Jheni terus tersenyum sambil menatap wajah Chandra yang berjarak tak lebih dari sepuluh senti dengan hidungnya. Perasaannya semakin tak karuan, ia tidak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Chandra tersenyum saat ia selesai memakaikan anting-anting di telinga Jheni. Gadis itu terlihat sangat cantik. Bukan hanya cantik, tapi juga sangat ...?

Yuna, Icha, Lutfi dan Yeriko ikut tersenyum dari balik kegelapan saat melihat Chandra dan Jheni penuh cinta.

Chandra terus menatap manik mata Jheni tanpa kata. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Ia merasa, ada medan magnet yang terus menariknya, hingga bibirnya menyentuh bibir Jheni yang begitu manis.

Jheni tertegun, ia tidak tahu bagaimana memberikan reaksi untuk tindakan Chandra kali ini. Apakah ini artinya ... Chandra juga mencintainya?

Chandra melepas bibirnya perlahan. Ia tersenyum kecil karena Jheni tidak menolak ciumannya. Dengan cepat, ia menarik tengkuk Jheni dan mengulum bibirnya penuh cinta.

“Aargh ...!” Yuna berteriak tanpa suara saat melihat Chandra dan Jheni berciuman panas. Ia langsung memeluk lengan Yeriko yang berdiri di sampingnya sambil melompat kegirangan.

 

Yeriko tertawa kecil melihat kebahagiaan yang terpancar dari istrinya. Ia menoleh ke belakang, melihat Lutfi dan Icha yang juga ikut berciuman.

 

Yeriko langsung menyalakan saklar lampu yang ada di sebelahnya. Seketika seluruh ruangan berubah menjadi terang benderang.

 

Lutfi melepas ciumannya, begitu juga dengan Chandra.

 

“Kalian di sini!?” seru Jheni sambil menoleh ke arah Yuna dan tiga orang yang bersamanya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum menggoda.

 

Jheni menahan tawa sambil menggigit bibir bawahnya. Ia menundukkan kepala. “Astaga, malunya!” gumamnya lirih.

 

Chandra tersenyum kecil. Ia merengkuh Jheni ke dadanya. “Malu kenapa?”

 

Yuna bertepuk tangan riang melihat kemesraan Jheni dan Chandra. “Akhirnya ... kalian bersatu juga.”

 

BRAAK ...!

 

Semua orang langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.

Amara menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil membungkuk. Penampilannya terlihat sangat kacau, rambut acak-acakan dan pakaiannya sangat berantakan. Ia langsung menoleh ke arah Chandra yang sedang merangkul Jheni.

“Kenapa dia bisa ke sini?” Yuna membelalakkan mata sambil menatap Yeriko.

Semua orang menggelengkan kepala. Amara tidak ada dalam rencana mereka, bagaimana gadis itu bisa mengetahui keberadaan Chandra? Apakah dia ...?

Yuna benar-benar kesal dengan kehadiran Amara.

 

 

(( Bersambung ... ))

Uuch ... part.nya bikin deg-degan ...

Dukung terus cerita ini , biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas