Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 215 - Tamparan Keras || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yulia, apa yang sudah kamu lakuin di luar sana?” tanya Agung begitu puterinya kembali ke rumah.

 

“Aku nggak bikin apa-apa,” jawab Yulia santai.

 

“Kamu masih bilang nggak bikin apa-apa, hah!? Galaxy bisa dengan mudah mengakuisisi perusahaan keluarga kita karena sikap kamu.” Ratih, mama Yulia angkat bicara.

 

“Sikap aku yang mana?”

 

“Apa yang udah kamu bikin di acara ulang tahun istri walikota? Andre sudah menceritakan semuanya dan membatalkan perjodohan kalian.”

 

“Apa? Ngebatalin perjodohan?” Yulia mengernyitkan dahi. “Nggak mungkin. Ma, perjodohanku sama Andre nggak boleh batal. Please, bantu aku, Ma!”

 

“Kamu udah bikin malu keluarga. Bisa-bisanya kamu bikin kekacauan di pesta orang penting. Sekarang, Galaxy sudah mengambil alih semua perusahaan kita. Kalau bukan karena ulah kamu. Proses negosiasi perusahaan kita masih berjalan sampai sekarang. Kita nggak akan jadi seperti ini!” seru Ratih.

 

“Ma, aku nggak ngapa-ngapain. Dia memang licik banget. Aku nggak akan diam aja! Aku bakal balas dia.”

 

“Mau balas gimana? Penghindaran pajak perusahaan keluarga kita sudah diselidiki. Kamu tahu, kita bukan Cuma kehilangan saham perusahaan. Tapi juga harus membayar dalam jumlah yang sangat besar,” tutur Ratih sambil mendelik ke arah Yulia.

 

“Ma, aku nggak pernah ngurusin pajak perusahaan. Jadi, hal ini nggak ada hubungannya sama sekali sama aku!” sahut Yulia kesal.

 

“Kalau kamu nggak cari gara-gara sama Direktur Galaxy, semua nggak akan seperti ini!”

 

“Aku nggak tahu apa-apa,Ma. Yeriko bisa nyelidiki kasus pajak di Duta Group, itu karena dia berkolusi sama walikota!” tutur Yulia kesal. Ia tidak terima karena kedua orang tua justru menyalahkannya terus menerus.

 

 

 

PLAK ...!

 

Telapak tangan Ratih langsung mendarat di pipi Yulia. “Anak kurang ajar! Mama besarin kamu sampai bisa kayak gini, buat apa? Buat ngancurin keluarga kamu sendiri, hah!?”

 

Seumur hidupnya, Yulia tidak pernah ditampar oleh mamanya sendiri. Kali ini, Yulia benar-benar membenci mamanya sendiri. Ia tidak terima karena menjadi satu-satunya orang yang disalahkan dalam masalah ini.

 

“Ma, penghindaran pajak itu bukan aku yang buat. Itu semua keputusan Papa. Kalau aja Papa bisa jujur, semua nggak akan seperti ini!” seru Yulia dengan mata berkaca-kaca.

 

 

 

PLAK  ...!!!

 

Tangan Ratih kembali mendarat di pipi Yulia. “Papa kamu ngelakuin ini semua buat keluarga. Buat kamu!” sentaknya. “Masih aja nggak tahu diri!”

 

“Udah, Ma. Nggak ada gunanya Mama mukulin Yulia!” Agung menengahi pertengkaran istri dan anaknya.

 

Yulia dan mamanya saling pandang penuh kebencian.

 

Agung menarik napas panjang. “Lebih baik, kita pikirkan gimana minta maaf sama Pak Yeri.”

 

“Pak Yeri? Dia masih muda, Pa. Papa manggil dia ‘Pak’? Yeriko itu nggak pantas buat dihormati. Papa nggak bisa kayak gini!?” protes Yulia.

 

“Yulia!” sentak Agung. “Kamu ngerti etika sedikit atau nggak? Papa sekolahin kamu jauh-jauh, ini hasilnya?”

 

Yulia semakin kesal mendapati makian dari kedua orang tuanya.

 

“Kita nggak punya pilihan lain. Kita harus minta maaf sama dia!” pinta Agung.

 

“Pa, aku nggak sudi minta maaf sama dia!” tegas Yulia.

 

“Di saat seperti ini, kamu masih bisa mikirin diri kamu sendiri? Semua ini karena ulah kamu juga. Kalau bukan karena kamu, Yeriko nggak akan ambil alih perusahaan kita secepat ini!” Agung menatap kesal ke arah Yulia.

 

Agung menarik napas beberapa kali. Ia khawatir tidak bisa mengendalikan emosinya dan justru akan menyakiti puterinya.

 

“Ma, kamu siapin hadiah sebagai permintaan maaf!” pinta Agung pada istrinya. “Kamu, ikut kami ke rumah Yeriko!” pintanya sambil menatap Yulia.

 

Yulia terdiam. Ia tidak menolak, juga tidak mengiyakan perintah papanya. Pikirannya semakin kacau. Ia tidak bisa mendapatkan Andre, keluarganya juga dibuat berantakan oleh Yeriko. Kini, ia mengerti kenapa Yeriko begitu disegani dan ditakuti oleh para pebisnis besar di kota ini.

 

Ratih dan Agung menyiapkan banyak hadiah sebagai permintaan maafnya kepada Yeriko. Setelah semuanya siap, mereka bergegas pergi menuju rumah villa Yeriko.

 

“Semoga aja, Yeriko mau maafin keluarga kita. Setidaknya, Papa masih bisa ikut mengelola perusahaan walau sudah diambil alih,” tutur Ratih saat mereka sudah tiba di depan halaman rumah Yeriko.

 

Agung menarik napas panjang. “Semoga, Ma!”

 

Mereka bergegas keluar dari mobil.

 

Yulia tetap memasang wajah tak bersahabat. Ia merasa, harga dirinya begitu terinjak karena harus meminta maaf pada Yeriko dan istrinya.

 

“Pa ...!” Ratih menyenggol lengan Agung sambil menengadahkan kepalanya. Matanya tertuju pada sosok Yeriko yang berdiri di atas balkon. Menatap mereka tanpa ekspresi.

 

Agung dan Yulia ikut menatap Yeriko.

 

“Selamat sore, Pak Ye!” Agung menunduk hormat kepada Yeriko yang sedang menatapnya.

 

Yeriko melipat kedua tangan sambil menatap tiga orang yang berdiri di halaman rumahnya. Ia tak membuka mulut sedikitpun. Mata dan wajahnya membeku, membiarkan tiga orang tersebut berdiri di bawah terik matahari.

 

Yeriko melirik arloji di tangannya. Terik matahari jam empat sore cukup untuk memberi mereka kehangatan selama dua puluh menit. Yeriko tersenyum sinis dan masuk ke rumahnya.

 

“Ma, lihat! Dia sombong banget. Kita udah lima belas menit berdiri di sini, dia cuma ngelihatin kita aja. Bahkan, salam papa aja nggak dihiraukan. Kulitku udah gosong kayak gini,” omel Yulia.

 

“Diam, Yul!” pinta Agung. “Kita nggak boleh pergi sebelum dia menerima permintaan maaf keluarga kita.”

 

“Pa, kenapa dia belum keluar juga?” tanya Ratih. Ia mulai cemas karena pintu rumah Yeriko tak kunjung terbuka.

 

“Sabar, Ma. Kita harus menunjukkan kalau kita memang bersungguh-sungguh meminta maaf pada keluarga Yeriko.”

 

“Udahlah, Pa. Aku males harus kayak gini. Kenapa sih Mama sama Papa mau menjatuhkan harga diri buat dia?” tutur Yulia.

 

“Yulia, kami ngelakuin ini buat kamu juga. Kamu mau keluarga kita bener-bener jatuh miskin? Jadi gembel di jalanan?” sahut Agung sambil menatap Yulia.

 

Yulia menggelengkan kepala.

 

“Selama ini, papa kamu bekerja keras membangun sebuah perusahaan, supaya kita semua bisa hidup layak dan bahagia. Kamu malah menghancurkan perusahaan papa kamu gara-gara kelakuan kamu ini.”

 

Yulia terdiam. Ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan kedua orang tuanya. Sebenarnya, ia muak berada di depan rumah Yuna dan Yeriko. Apalagi harus masuk dan meminta maaf.

 

“Pa, lihat! Ada yang lagi bukain pintu,” tutur Ratih sambil menatap pintu rumah Yeriko yang terbuat dari kaca.

 

“Ayo, Ma!” Agung mengajak Ratih dan Yulia melangkah menuju pintu rumah Yeriko.

 

Mereka akhirnya bisa bernapas lega karena pintu rumah Yeriko terbuka dan mau menerima kehadiran mereka. Bagi Agung, asal sudah bisa masuk ke rumah Yeriko, ia memiliki kesempatan baik untuk meminta maaf atas nama puterinya.

 

Yulia menarik napas. Ia mengikuti langkah kedua orang tuanya tak bersemangat. Ini adalah hal paling memalukan yang ia lakukan seumur hidup. Ia sama sekali tak menyangka kalau akan bertemu dengan orang sekuat Yeriko. Bahkan semua orang, mengenalnya sebagai.

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 214 - Sisi Lain Mr. Ye || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yer, kamu beneran udah ambil alih perusahaan Yulia?” tanya Yuna sambil membaca berita online.

 

Yeriko mengangguk. “Kamu mau ngelola salah satu anak perusahaanku?”

 

Yuna menggeleng. “Aku belum punya banyak pengalaman mengurus perusahaan. Masih harus belajar.” Ia tersenyum kecil tanpa mengalahkan pandangan dari ponselnya.

 

“Kamu mainan apa?” tanya Yeriko sambil merebut ponsel Yuna.

 

“Nggak main. Cuma cari tema yang cute aja.”

 

Yeriko mengembalikan ponsel Yuna.

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

 

 

Yeriko dan Yuna langsung menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.

 

“Masuk, Bi!” pinta Yeriko.

 

“Ini pesanan Mbak Yuna.” Bibi War menyodorkan nampan ke arah Yeriko.

 

Yeriko mengernyitkan dahi.

 

“Makasih, Bi!” Yuna langsung meraih nampan yang ada di tangan Bibi War.

 

“Bibi turun lagi. Kalau perlu sesuatu, telepon Bibi aja ya! Nggak usah naik turun tangga!”

 

Yuna mengangguk.

 

Yeriko menatap wajah Yuna. “Sejak kapan kamu request makanan ke Bibi?”

 

“Sejak hari ini. Aku kan nggak boleh makan ice cream. Aku minta bibi bikinin ini sebagai gantinya,” jawab Yuna sambil menyendok bubur sumsum buatan Bibi War.

 

Yeriko terus mengamati Yuna yang asyik menikmati bubur sumsum. “Kamu nggak nawarin aku?”

 

“Hehehe. Mau?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna mengambil satu sendok bubur dan menyuapkan ke mulut Yeriko.

 

“Gimana? Enak?”

 

Yeriko mengangguk. Ia langsung merebut mangkuk bubur dari tangan Yuna dan melahapnya.

 

“Iih ... ini aku yang minta buatin sama Bibi!” seru Yuna. “Main rebut aja “

 

“Minta bawain lagi sama Bibi! Kok, enak banget ya?” Yeriko melahap bubur tersebut penuh semangat.

 

Yuna tertawa kecil. Hanya semangkuk bubur sumsum bis membuat suaminya makan begitu lahap. Ini pertama kalinya ia melihat suaminya mengunyah makanan seperti orang kelaparan.

 

“Kenapa ketawa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Nggak papa.”

 

“Kamu minta lagi sama Bibi!”

 

“Nggak usah. Lihat kamu makan selahap ini, aku udah kenyang.”

 

Yeriko tersenyum. Ia langsung menghabiskan suapan terakhirnya.

 

“Mau lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk sambil menyodorkan mangkuk yang ada di tangannya.

 

Yuna tersenyum, ia bangkit dari sofa dan bergegas turun ke dapur.

 

“Bi, bubur sumsum masih ada?” tanya Yuna.

 

“Masih, Mbak. Mau lagi?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Sini, biar Bibi yang ambilkan!” Bibi War mengambil mangkuk dari tangan Yuna.

 

“Agak banyakin ya, Bi!” pinta Yuna. “Kayaknya, Yeriko kelaparan.”

 

“Hah!? Mas Yeri makan bubur?”

 

“He-em.” Yuna mengangguk.

 

“Aneh!?” celetuk Bibi War.

 

“Aneh kenapa?”

 

“Setahu Bibi, Mas Yeri nggak pernah mau makan bubur. Bubur apa aja dia nggak mau makan sama sekali. Lihat aja dia nggak mau.”

 

“Masa sih?”

 

Bibi War mengangguk. “Dari kecil, dia nggak suka makanan yang lembek-lembek kayak bubur.”

 

“Tadi aku suruh dia cobain sedikit. Eh, keenakan,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

Bibi War tersenyum kecil. “Semenjak nikah, kebiasaan Mas Yeri memang banyak berubah.”

 

“Semua orang bisa berubah, Bi. Termasuk selera makan.”

 

“Iya juga, sih. Bibi nggak tahu kalau Mas Yeri juga suka. Jadi, Bibi cuma buat sedikit buburnya.”

 

“Nggak papa, Bi. Ini udah cukup, kok.” Yuna meraih mangkuk dari tangan Bibi War dan bergegas naik ke kamarnya.

 

“Udah dibilangin, kalau perlu sesuatu tinggal telepon aja. Kenapa masih turun sendiri?” gumam Bibi War sambil menatap tubuh Yuna yang langsung menghilang di ujung tangga.

 

“Beruang ... buburnya sudah datang!” seru Yuna sambil menghampiri Yeriko.

 

Yeriko tersenyum. Ia meletakkan ponsel ke atas meja dan menatap Yuna yang sudah duduk di sampingnya. “Suapin!” pintanya manja.

 

“Eh!?” Yuna mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba begitu manja. Ia hanya tersenyum dan menyuapkan bubur ke mulut Yeriko satu persatu.

 

“Kata bibi, kamu nggak doyan makan bubur. Kenapa sekarang makan bubur lahap banget?”

 

“Nggak tahu.”

 

“Kok, nggak tahu?”

 

“Lihat kamu makan, kayaknya enak banget. Pas udah nyobain, ternyata emang enak.”

 

“Kamu bener-bener nggak pernah makan bubur?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Kenapa?”

 

“Nggak tahu. Males aja lihatnya.”

 

“Ini nggak males?”

 

Yeriko menggeleng.

 

“Aneh banget!” gumam Yuna.

 

“Mungkin, karena ada kamu,” tutur Yeriko sambil tersenyum.

 

“Iih ... gombal!” sahut Yuna sambil tertawa.

 

Yeriko tersenyum. Ia meraih remote dan menyalakan televisi. “Temenin aku nonton ya!”

 

“Horor lagi?” tanya Yuna.

 

Yeriko nyengir sambil mengeluarkan koleksi kaset film miliknya.

 

“Kamu takut tapi ngajak nonton film horor mulu?”

 

“Aku penasaran. Kan ada kamu yang nemenin aku.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia tidak begitu berani dan tidak bisa bilang tidak takut. Kalau ada yang menemaninya menonton, ia bisa dibilang cukup berani.

 

“Kamu yang pilih filmnya!” pinta Yeriko sambil menunjukkan beberapa kaset yang belum ia tonton bersama Yuna.

 

“The Forest aja!” jawab Yuna sambil menunjuk salah satu cover DVD yang terlihat lebih seram daripada yang lainnya.

 

“Yakin mau nonton ini?”

 

Yuna mengangguk. “Kamu takut?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia memasangkan kaset tersebut ke dalam DVD player dan bergegas kembali ke sofa.

 

“Belum mulai filmnya, udah ketakutan. Kalo takut, nggak usah nonton horor. Nonton berita aja!”

 

“Ah, kamu ini!” Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Yeriko dan menemani suaminya menonton salah satu film horor garapan sutradara Jason Zada.

 

“Yun ...!”

 

“Umh ....”

 

“Waktu pacaran sama Lian, pernah nonton film bareng?”

 

“Nggak pernah.”

 

“Serius? Pacaran ngapain aja?”

 

“Pacaran di sekolah doang.” Yuna meringis ke arah Yeriko. “Masa remajaku nggak sebebas anak-anak remaja yang lain. Jadi, aku nggak pernah ngerasain nonton film bareng pacar.”

 

“Oh ya? Mmh ... gimana kalo malam minggu nanti, aku ajak kamu pacaran?”

 

“Eh!?” Yuna langsung mengangkat wajahnya menatap Yeriko.

 

“Bukannya kita nggak pernah pacaran juga?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Enaknya  ... kita ke mana dan ngapain aja?”

 

“Mmh ... jalan-jalan, nonton film, cari makanan enak, apalagi ya?”

 

“Keliling kota sampai pagi!” sahut Yuna.

 

“Mmh ... boleh juga.” Yeriko manggut-manggut.

 

Mereka kembali fokus menonton film bersama.

 

“Sebentar lagi keluar hantunya!” seru Yeriko.

 

“Kamu udah nonton ini?”

 

“Belum.”

 

“Gimana bisa tahu kalau setannya mau keluar?”

 

“Biasanya, kalo udah ada lampu mati-nyala-mati begitu, keluar hantunya.”

 

“Aaargh ...!” Yuna berteriak dan disambut teriakan Yeriko.

 

“Beneran kan?” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna.

 

“Enggak.”

 

“Kenapa teriak?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna terkekeh. “Biar kamu takut, hahaha.”

 

“Sempat-sempatnya kamu ngerjain aku di saat lagi tegang-tegangnya kayak gini?” dengus Yeriko sambil mencolek pinggang Yuna.

 

“Aw ... geli!” seru Yuna sambil berkelit.

 

“Biar aja!” Yeriko terus menggelitik pinggang Yuna dan tertawa bersama.

 

“Udah, jangan gelitikin aku terus!” pinta Yuna. “Nggak aku temani nonton, nih!” ancamnya.

 

“Nggak papa. Kamu temani aku tidur aja!” Yeriko mematikan televisi, menggendong tubuh Yuna dan mengajaknya naik ke tempat tidur.

 

“Filmnya belum kelar. Nanggung!” seru Yuna.

 

“Bisa ditonton lagi besok.”

 

“Tapi ...”

 

Yeriko langsung menghisap leher Yuna. Membuat mereka tenggelam dalam satu nafas penuh gairah.

Perfect Hero Bab 213 - Proses Akuisisi Duta Group || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, gimana obat herbalnya? Masih ada?” tanya Rullyta di sela-sela makan siang bersama Yuna dan Yeriko di Jamoo Restaurant.

 

“Masih, Ma.”

 

“Hmm ... semoga aja, pas udah habis obatnya, kamu bisa langsung hamil,” tutur Rullyta.

 

“Aamiin. Aku juga dikasih pil hormon sama dokter, Ma.”

 

“Bagus, deh. Kamu minum semua?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Yer, kamu harus jaga istri kamu baik-baik ya! Jangan sampai bikin dia stres!” pinta Rullyta sambil menatap Yeriko.

 

“He-em,” sahut Yeriko santai.

 

“Gimana di kerjaan kamu? Bellina nggak menindas kamu terus kan?”

 

“Kadang-kadang?” Rullyta mengernyitkan dahi menatap Yuna.

 

“Dia kan sebenarnya di kantor cabang. Kadang-kadang aja dateng ke kantor buat nemuin tunangannya itu. Asal nggak ketemu, semua baik-baik aja.”

 

“Huft, Mama khawatir kalau kamu kayak gini terus. Pokoknya, kamu jangan pikirin orang-orang yang selalu cari gara-gara ke keluarga kita!” pinta Rullyta.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Apa sebaiknya, kamu berhenti kerja?”

 

“Eh!?” Yuna menatap ke arah Yeriko dan Rullyta bergantian. “Kalo aku berhenti kerja, aku nggak ada kesibukan, Ma. Yang ada akunya malah stres karena nggak ada kegiatan.”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Kerja juga bagus, bisa belajar banyak hal baru setiap hari. Suatu saat, kamu juga bakal bantu Yeri ngurus perusahaan. Oh ya, kalau sudah hamil, Mama nggak mau kamu pergi kerja. Terlalu riskan. Kamu harus ingat gimana perjuangan kalian buat bisa punya anak. Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa,” cerocos Rullyta.

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

“Permisi, Pak Bos!” Riyan tiba-tiba sudah berada di samping Yeriko.

 

“Ya.”

 

“Proses akuisisi Duta Group sudah hampir selesai.” Riyan melaporkan perkembangan terbaru perusahaannya.

 

“Bagus. Update terus informasinya setiap dua jam sekali!”

 

Riyan mengangguk. Ia bergegas kembali ke meja makannya bersama Angga, supir pribadi Rullyta.

 

“Kamu beneran mau ambil alih Duta Group?” tanya Rullyta.

 

Yeriko mengangguk sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja.

 

“Duta Group punya ...?” Yuna menoleh ke arah Yeriko yang duduk di sampingnya.

 

“Keluarganya Yulia.”

 

“Hah!?”

 

“Kenapa?” Yeriko menatap wajah Yuna.

 

“Kamu beneran mau akuisisi perusahaan dia secepat ini? Bukannya, proses akuisisi nggak bisa secepat membalikkan telapak tangan? Kamu nggak lagi bercanda kan?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kapan aku pernah bercanda soal bisnis? Duta Group memang sudah aku incar sebelumnya. Jauh sebelum acara ulang tahun Bunda Yana, kami sudah melakukan proses akuisisi Duta Group.”

 

Yuna memerhatikan wajah Yeriko sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau suaminya benar-benar memiliki kekuatan sebesar ini.

 

“Yeriko ...!” Sebuah suara terdengar dari kejauhan. Membuat semua mata terarah ke sumber suara.

 

Yuna menatap Yulia yang melangkah menghampiri meja makan mereka.

 

“Mau kamu apa, hah!?” Yulia langsung memukul meja yang ada di hadapan Yeriko.

 

Yeriko mengangkat salah satu alis sambil menatap Yulia.

 

“Kamu beneran mau akuisisi perusahaan keluarga aku? Kamu cuma bercanda kan? Mau ngancam aku? Kamu pikir kamu bisa main-main sama aku?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku nggak pernah main-main soal bisnis.”

 

“Kamu ...!?” Yulia menunjuk Yeriko. “Nggak mungkin kamu bisa ambil alih perusahaan hanya dalam waktu dua hari. Kamu pasti udah ngincar perusahaan kami sebelumnya kan?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku nggak perlu jelasin lagi.”

 

“Aku nggak akan ngebiarin kamu ambil alih Duta Group semudah itu!” tegas Yulia.

 

Yeriko mengangkat kedua bahu dan alisnya. “Coba aja! Waktu kamu tinggal satu hari.”

 

Yulia gelagapan. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana Yeriko bisa dengan mudah menguasai para pemegang saham di perusahaannya.

 

“Kamu bener-bener licik! Masalah pribadi antara aku dan istri kamu, seharusnya nggak kamu bawa dalam bisnis perusahaan!” sentak Yulia. “Nggak profesional!”

 

“Heh, kamu ngomong apa?” Rullyta balik meneriaki Yulia. “Jelas-jelas kamu yang nggak profesional sedikitpun. Buat apa kamu ke sini datengin kami, hah!? Harusnya, kamu evaluasi lagi kenapa perusahaan kamu dengan mudah bisa diambil alih?”

 

Yulia menatap Rullyta kesal. Otaknya tak bisa berpikir dengan baik dan semua kata yang telah ia susun, berterbangan entah ke mana. Membuatnya tak bisa berucap. Ia menghentakkan kaki dan berlalu pergi.

 

“Itu anak kerasukan setan?” celetuk Rullyta kesal.

 

Yuna hanya memerhatikan tubuh Yulia yang semakin menjauh dan keluar dari restoran. Ia juga masih tidak mengerti kenapa suaminya bisa mengakuisisi perusahaan Yulia dengan mudah. Julukan ‘Iblis Berdarah Dingin’ yang ditujukan untuk Yeriko, memang sangat tepat. Perasaannya mengambang, ia tidak tahu harus bahagia atau sedih.

 

“Hei, kenapa ngelamun?” tanya Yeriko sambil menempelkan potongan buah ke mulut Yuna.

 

“Eh!? Nggak papa.” Yuna tersenyum sambil mengelus tengkuk.

 

“Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, Yun?” tanya Rullyta.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Lanjutin makannya!” pinta Rullyta. “Kamu harus makan yang banyak!”

 

Yuna mengangguk dan melanjutkan makan siangnya bersama suami dan mama mertuanya.

 

 

 

Di tempat lain, Yulia langsung menghampiri Andre di tempat kerjanya.

 

“Ndre, kamu harus tolongin aku!” Yulia memohon. “Galaxy sudah melakukan proses akuisisi ke Duta. Besok adalah hari penandatanganan akta peralihan saham. Aku nggak bisa ngebiarin Galaxy nyaplok Duta gitu aja.”

 

Andre menarik napas. Ia tidak mengerti bagaimana harus menyelamatkan perusahaan keluarga Yulia. “Aku udah peringatkan kamu buat nggak macem-macem!”

 

“Aku tahu. Tapi itu semua masalah pribadi. Nggak ada hubungannya sama bisnis. Selama ini, aku selalu bantu bisnis kamu. Apa kamu nggak bisa bantu aku menyelamatkan perusahaan papa?”

 

“Yeriko selalu menganggap pribadinya adalah bisnis. Kamu sudah mempermalukan dia di depan banyak orang. Sekarang, kamu tahu siapa dia. Nggak bisa kamu anggap remeh.”

 

“Ndre, aku tahu aku salah udah maki keluarga dia. Tapi, itu semua karena Yuna yang selalu godain kamu. Siapa sih yang nggak marah kalau lihat tunangannya masih aja deket sama perempuan lain? Apalagi, perempuan itu udah bersuami.”

 

“Yul, kita nggak ada hubungan apa-apa!” tegas Andre.

 

“Tapi keluarga udah jodohin kita, Ndre.”

 

“Perjodohan kita batal!” tegas Andre.

 

“Kamu nggak bisa ngebatalin perjodohan ini!” seru Yulia. “Setelah apa yang aku lakuin ke kamu. Kamu balas aku kayak gini?”

 

“Aku nggak pernah minta kamu datang ke sini. Kamu yang datang dengan sendirinya. Masalah perusahaan kamu. Sama sekali nggak ada hubungannya sama aku.”

 

“Tapi, Ndre ... aku butuh bantuan kamu kali ini.”

 

“Maaf, Yul. Aku nggak bisa bantu kamu. Yeriko terlalu cepat mengambil alih perusahaan kamu. Kalau bukan karena kesalahan perusahaan kamu sendiri,dia nggak akan semudah itu mengambil alih. Aku percaya kamu bukan perempuan bodoh soal bisnis. Tapi, ketika kamu melakukan kesalahan dan kehilangan kepercayaan. Kerja keras kamu selama ini nggak ada gunanya.”

 

“Aku yakin banget kalo dia udah ngincar Duta dari dulu. Perselisihan antara aku sama Yuna, cuma dijadiin alasan supaya aku berlutut di depan dia yang angkuh itu!” seru Yulia.

 

“Sikap kamu yang keras kepala ini ... bener-bener nggak cocok sama aku!”

 

“Ndre ...? Kamu ...!?”

 

“Lebih baik, kamu introspeksi diri!” pinta Andre. “Sampai kapan pun, aku nggak akan ngebiarin orang lain nyakitin Yuna!” tegasnya sambil berlalu pergi meninggalkan Yulia yang menangis histeris di ruang kerjanya.

 

“Ndre, kamu udah dibikin buta sama cewek itu? Kenapa? Kenapa sampai sekarang kamu masih nggak lihat aku?” Yulia merosot ke lantai. Ia menatap lantai yang kosong. Samar tergambar wajah Yuna yang tersenyum kepadanya. Membuatnya semakin membenci sikap Yuna dan Yeriko yang keterlaluan terhadap dirinya.

 

 (( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas