Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 206 : Dukungan Sahabat || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, kenapa kemarin nggak masuk kerja? Kamu sakit?” tanya Icha di sela-sela jam makan siang.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kamu bawa bekal sendiri?” tanya Icha melihat Yuna yang mengeluarkan bekal makannya di kantin.

 

Yuna mengangguk. “Aku lagi program hamil. Yeriko protective banget. Dia ganti semua menu makanan aku. Biasanya, aku makan apa aja yang aku mau. Sekarang ... lihat!” Yuna menunjukkan isi kotak bekalnya.

 

Icha tertawa kecil. “Ini kan sehat, Yun. Yeriko bener, kamu terlalu banyak makan pedas. Jangan-jangan, itu yang bikin rahim kamu bermasalah.”

 

“Kata dokter, rahim aku dingin, bukan pedas!” sahut Yuna.

 

Yuna meringis sambil melahap potongan buah pir.

 

“Santai aja kali, Cha. Bukan masalah besar. Aku nggak ngerasa rugi sedikit pun.”

 

“Beneran nggak dirugikan?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Yun, hamil itu nggak mudah.”

 

“Aku tahu. Ini lagi usaha.”

 

“Ck, bukan itu maksud aku.”

 

“Terus?”

 

“Kalo hamil, kamu bakal mengalami perubahan bentuk tubuh yang signifikan. Kamu udah siap punya anak?”

 

Yuna mengangguk pasti.

 

“Beneran?”

 

“Beneran, Cha.”

 

“Aku nggak nyangka kalau kamu punya keberanian sebesar ini.”

 

Yuna tertawa kecil. “Emangnya kenapa? Bukannya sudah jadi kodratnya perempuan, hamil dan melahirkan.”

 

“Iya, sih. Tapi, aku nggak berani buat hamil.”

 

“Kamu belum nikah. Jangan hamil duluan!”

 

“Idih, amit-amit jabang bayi, Yun. Jauhkan bala!” Icha mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya.

 

Yuna tertawa kecil. “Hayo ngaku, kamu sama Lutfi udah …?”

 

“Udah apa!?” dengus Icha. “Nggak usah mikir macem-macem!”

 

Yuna meringis. “Aku nggak mikir macem-macem. Cuma … Lutfi sama kamu kan udah dewasa. Masa nggak ada perkembangan dalam hubungan kalian? Tunangan, menikah?”

 

“Yun, aku ini baru aja mulai kerja. Aku bahkan belum jadi apa-apa. Hidupku harus stabil dulu baru mikir nikah.”

 

“Kenapa harus nunggu stabil? Lutfi hidupnya sudah stabil. Kamu nggak perlu kerja keras, dia pasti bisa penuhi semua kebutuhan kamu.”

 

“Jodohku belum tentu dia.”

 

“Kamu gimana sih Cha? Harusnya kamu berdoa, semoga dia jadi jodohku, gitu!” sahut Yuna.

 

Icha menghela napas. “Akhir-akhir ini, aku berantem mulu sama Lutfi.”

 

“Berantem kenapa?”

 

“Salah paham terus, Yun. Dia juga sekarang makin posesif. Hal kecil aja dibikin jadi besar sama dia. Makin lama, aku makin males ngadepin dia.”

 

“Kok, dia begitu?”

 

“Iya. Aku juga nggak ngerti. Ada saat di mana aku ngerasa dia sayang banget sama aku. Ada saatnya juga aku ngerasa … dia nggak butuh aku sama sekali,” tutur Icha sambil menundukkan kepala.

 

“Cha, kamu nggak boleh ngerasa rendah diri terus kayak gini. Setiap orang punya masalah. Bisa aja Lutfi lagi ada masalah sama kerjaan dan dia nggak bisa mengendalikan diri saat sama kamu.”

 

“Apa suami kamu juga gitu?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Ck, dia kayak gitu karena sayang sama kamu, Yun. Kalo Lutfi, kadar cintanya masih perlu dipertanyakan.”

 

“Kamu ini aneh, nggak percaya sama pacar kamu sendiri.”

 

“Gimana mau percaya kalo kelakuannya aja kayak gitu. Masih aja jalan sama cewek lain.”

 

“Hahaha. Kamu masih cemburu sama Lutfi?”

 

Icha terdiam mendengar pertanyaan Yuna.

 

“Cha, cuma masalah kayak gini aja kamu udah nggak percaya diri. Gimana kalau kamu jadi aku? Mantan pacar suami terang-terangan mau ngerusak rumah tanggaku. Mantan pacarku juga masih ngejar-ngejar aku. Kalau kita nggak saling percaya, rumah tangga aku sudah ‘END’ dari dulu.”

 

“Iya sih, tapi ...”

 

“Cha, di antara kalian harus ada yang saling mengalah. Lutfi memang masih kekanak-kanakkan. Kamu jauh lebih dewasa daripada dia. Harusnya, kamu bisa berpikiran lebih terbuka. Nerima dia yang memang seperti itu.”

 

“Awalnya, aku emang biasa aja sebelum kami menjalin hubungan serius. Dia pergi sama cewek lain, aku nggak pernah gelisah. Tapi, makin ke sini aku makin takut, Yun. Aku ... takut kehilangan dia.”

 

“Cha, aku ngerti kok perasaan kamu. Aku juga selalu merasa kayak gitu. Mungkin, aku bisa bertahan untuk tetap di sisi Yeriko. Tapi, kalau suatu hari nanti dia yang memilih untuk pergi. Aku juga nggak bisa memaksakan keinginanku.”

 

Icha tersenyum ke arah Yuna. Ia sangat bahagia mengenal Yuna selama beberapa bulan terakhir. Andai bisa memilih, ia ingin mengenal Yuna jauh sebelum ia menginjakkan kakinya ke Pulau Jawa.

 

“Huft, saat ini aku dihadapi sama masalah baru. Gimana caranya bisa cepet ngasih Yeriko keturunan. Aku nggak mau ngecewain keluarga Yeriko yang udah memperlakukan aku begitu baik. Kamu bantu aku ya, Cha!”

 

“Eh!? Aku bisa bantu apa?”

 

“Bantu ingatin aku buat nggak makan dan minum sembarangan lagi. Biar aku bisa cepet hamil!” pinta Yuna ceria.

 

Icha menganggukkan kepala. “Aku pasti selalu ingatin dan jagain kamu di sini. Hmm ... aku jadi ngebayangin gimana wajah anak kamu nanti. Kalo cewek, pasti cantik banget kayak kamu. Kalo cowok, pasti sekeren Yeriko kan?”

 

Yuna tertawa kecil. “Iya, dong. Kalo nggak mirip aku sama Yeri, mau mirip siapa lagi?”

 

“Mmh ... aku jadi nggak sabar pengen punya keponakan yang lucu. Aku bakal simpan jatah cutiku kalau kamu udah mulai hamil.”

 

“Eh!? Apa hubungannya aku hamil sama kamu cuti?”

 

“Biar bisa lihat ponakan setiap hari!” seru Icha bahagia.

 

“Astaga, nggak usah sampe segitunya. Cuti kerja, bisa kamu pakai buat pulang kampung nemuin orang tua kamu. Kalo mau lihat ponakan setiap hari, bisa setelah pulang kerja kan?”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Tapi ... waktunya pasti sebentar. Nggak puas, Yun.”

 

“Kamu nginap aja di rumah aku!” pinta Yuna.

 

“Nginap? Mmh ... kayaknya nggak etis kalo aku nginap di rumah kamu.”

 

“Kenapa?”

 

“Sungkan sama Yeriko.”

 

“Hihihi. Udah ah, menghayalnya. Aku juga belum tahu kapan aku hamil. Doain ya! Semoga program aku cepat membuahkan hasil!” pinta Yuna sambil bangkit dari tempat duduknya.

 

“Oke. Semangat!” seru Icha.

 

“Loh? Yun, udah mau pergi? Aku baru datang,” tanya Juan yang tiba-tiba duduk di samping Icha.

 

“Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Nggak bisa lama-lama di sini. Bye!” Yuna melambaikan tangan dan bergegas melenggang penuh ceria.

 

“Eh, tumben dia makannya cepat?” tanya Juan sambil menatap Icha.

 

“Udah dari tadi di sini. Kamu aja yang lambat. Tumben banget jam segini baru ke kantin, banyak kerjaan?”

 

Juan menganggukkan kepala.

 

Dari balik dinding yang ada di sisi meja Icha, Bellina bisa mendengar percakapan Yuna dan sahabatnya itu dengan sangat jelas. Bibir setengahnya menyunggingkan senyum penuh arti.

 

(( Bersambung ))

 

Bulan baru, jadi awal yang baru juga. Dukung terus Perfect Hero biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih manis dan lebih seru lagi. Thanks semua atas dukungan Star dan hadiahnya. I Love you double-double ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 205 - Bitter Hot Kiss || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Mbak Yuna, waktunya minum obat. Udah Bibi seduhin,” tutur Bibi War sambil meletakkan secangkir ramuan herbal di atas meja.

 

Yuna mengangguk sambil membaca buku yang ada di tangannya. “Makasih, Bi!”

 

Bibi War mengangguk dan bergegas keluar dari kamar Yuna.

 

Yuna menghela napas saat melihat cangkir ramuan herbal di atas meja. Ia menutup buku yang ia baca dan meraih cangkir tersebut. Ia menutup hidung saat mencium aroma ramuan obat yang membuat perutnya mual.

 

“Aargh ...! Kenapa obat harus pahit?” seru Yuna sambil merengek.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Eh, nggak papa,” jawab Yuna sambil memperbaiki posisi duduknya. Ia menutup hidung dan menyeruput obat itu perlahan. “Uweeek ...!” Kerongkongannya seakan menolak ramuan tersebut masuk ke tubuhnya.

 

Yeriko menghampiri Yuna dan merebut cangkir yang ada di tangan Yuna.

 

Yuna langsung melongo menatap Yeriko. Beberapa hari ke depan, ia akan meminum ramuan herbal secara rutin. Rasanya sangat tidak enak, tapi ia tidak ingin mengecewakan Yeriko. Ia harus berusaha keras agar bisa memberikan keturunan untuk Yeriko.

 

“Pahit ya?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk. “Aku nggak suka pahit,” jawabnya sambil memonyongkan bibir.

 

“Jadi, kamu nggak mau minum obat ini?”

 

“Mau!” sahut Yuna sambil berusaha merebut cangkir dari tangan Yeriko.

 

“Kamu nggak suka pahit, kan? Biar aku yang minum.” Yeriko menyeruput ramuan herbal milik Yuna.

 

“Bukan gitu. Dari kemarin aku sudah minum obatnya, kok. Lagian, cuma sebentar aja minum obatnya. Kalau udah hamil, nggak ba–”

 

Yeriko langsung membungkam mulut Yuna dengan bibirnya. Mengalirkan ramuan obat ke mulut Yuna perlahan.

 

Yuna menerima ramuan obat dari mulut Yeriko dan langsung menelannya hingga habis. Pipinya menghangat, ia terus mengulum bibir Yeriko penuh cinta. Hingga rasa pahit di mulutnya perlahan berubah menjadi begitu manis.

 

“Masih pahit?” tanya Yeriko sambil melepas ciumannya.

 

Yuna menggelengkan kepala, ia tersenyum sambil menyentuh bibirnya.

 

“Obatnya masih ada. Mau lagi?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk.

 

Yeriko menyodorkan cangkir tersebut ke arah Yuna. “Minum sendiri!” pintanya sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia sangat kecewa dengan sikap Yeriko yang mempermainkan dirinya.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengambil seteguk besar ramuan tradisional yang tersisa di cangkir tersebut. Meletakkan kembali cangkir ke atas meja dan langsung menyerang bibir Yuna tanpa ampun.

 

“Mmh ... mmh ...” Yuna memberontak saat tubuh Yeriko menekan tubuhnya berbaring di sofa.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Kamu mau cabulin aku?” dengus Yuna. Matanya mendelik, namun bibirnya menahan tawa penuh arti.

 

“Iya. Karena kamu nggak mau jadi istri yang penurut,” sahut Yeriko sambil menggelitik pinggang Yuna.

 

“Hahaha.” Yuna tergelak. Ia berusaha melepaskan diri dari tangan Yeriko. “Ampuuun ...!” serunya sambil melarikan diri dan melompat ke atas tempat tidur.

 

“Kamu mau kabur dari aku, hah!?” Yeriko menatap Yuna dan bersiap memangsa gadis itu.

 

Yuna menjulurkan lidah sambil menari-nari.

 

Yeriko ikut melompat ke atas tempat tidur. Menangkap dan membanting tubuh Yuna ke kasur.

 

“Kamu nggak bisa pergi lagi dari aku!” tegas Yeriko sambil memeluk erat tubuh Yuna. Ia juga menjepit tubuh Yuna dengan kedua kakinya.

 

Yuna terkekeh, jemari tangannya merayap di kaki Yeriko perlahan.

 

“Aargh ...!” Yeriko berteriak saat Yuna menarik beberapa bulu kakinya. “Kamu jahil banget sih!?” Ia mengelus kakinya yang terasa perih.

 

“Iih ... beneran tercabut!” seru Yuna sambil menunjukkan bulu kaki yang ada di tangannya.

 

“Kamu ... bener-bener nggak punya perasaan!” Yeriko mengeratkan giginya, ia gemas dengan tingkah laku istrinya yang kerap kali mencabut bulu kakinya.

 

Yuna terkekeh sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Kayak gini cara kamu berterima kasih sama suami kamu, hah!?” goda Yeriko sambil menggelitik pinggang Yuna.

 

“Aargh ...!” Yuna tertawa sambil menahan geli di pinggangnya. “Sst ...!” Yuna menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

 

“Kenapa?” bisik Yeriko sambil menoleh ke arah pintu. Ia tidak mendengar suara langkah kaki, namun Yuna menyuruhnya untuk diam sambil menoleh ke arah pintu.

 

“Waktunya makan malam, makan yuk!” ajak Yuna sambil menyentuh pipi Yeriko.

 

“Ayo ...!” Yeriko melepas pelukannya dan bangkit dari tempat tidur.

 

Yuna langsung melompat ke punggung Yeriko sambil tertawa riang.

 

Yeriko tersenyum. Ia mengecup pipi Yuna dan menggendongnya turun ke ruang makan.

 

Yuna menatap menu makanan yang terhidang di meja. Ia berkacak pinggang sambil mengitari meja makan tiga ratus enam puluh derajat.

 

Yeriko tertawa kecil, ia menarik kursi dan duduk sambil menatap Yuna yang masih belum berminat untuk duduk di kursinya.

 

“Mulai hari ini, kamu nggak boleh makan makanan pedas!” tegas Yeriko. “Nggak ada sambal, nggak ada cabai di makanan kamu.”

 

Yuna menghela napas, ia duduk di kursi yang ada di sebelah Yeriko. “Nggak masalah.” Ia tersenyum dan mulai menyantap makanan yang terhidang di atas meja. Lidahnya terasa hambar, ia terbiasa makan makanan pedas. Kali ini, ia pasti bisa melewati semuanya demi menghidupkan seorang bayi dalam perutnya.

 

Yeriko tersenyum bahagia melihat kerja keras Yuna. Yuna harus meninggalkan semua hal yang ia sukai dan menerima hal yang ia benci demi memberikan keturunan.

 

“Yun, kamulah yang paling bekerja keras untuk ini. Terima kasih, sudah bersedia melakukannya demi aku” tutur Yeriko dalam hati. Ia mengelus rambut Yuna sambil tersenyum hangat.

 

“Oh ya, kata dokter aku harus rajin olahraga ringan. Mulai besok pagi, aku mau ikut kamu jogging.”

 

“Serius?”

 

Yuna mengangguk. “Emang kelihatannya main-main?”

 

“Mmh ... nggak, sih. Aneh aja. Biasanya, kamu paling males diajak jogging.”

 

“Sebenernya males, sih. Tapi kalo nggak jogging, aku nggak tahu harus olahraga apa lagi. Aku emang kurang gerak. Di kantor lebih banyak duduk, jarang banget turun ke proyek.”

 

“Nggak usah sampai ke proyek!” pinta Yeriko.

 

“Kenapa?”

 

“Kamu sekarang asisten direktur, bisa suruh staff kamu buat ke lokasi. Di sana, terlalu berbahaya buat perempuan kayak kamu. Aku nggak mau, terjadi apa-apa sama kamu.”

 

Yuna mengangguk.

 

“Oh ya, selama program hamil, kamu jangan makan ice cream dan minum alkohol!” pinta Yeriko lagi.

 

“He-em.” Yuna mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya.

 

“Nggak boleh jajan di luar sembarangan. Tiap jam makan siang, Bibi bakal antar bekal makan kamu ke kantor.”

 

“Eh!?”

 

“Nggak boleh nolak!” tegas Yeriko.

 

Yuna mengangguk lagi. Ia merasa Yeriko mulai protective dan banyak mengatur dirinya.

 

“Satu lagi. Sebisa mungkin nggak ketemu sama sepupu kamu yang jahat itu!”

 

“Iya.”

 

“Oh ya, kamu juga nggak boleh kerja lembur!” pinta Yeriko.

 

“He-em.”

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Kamu nggak keberatan sama semua peraturan ini?”

 

Yuna menggelengkan kepala sambil tersenyum.

 

Yeriko menghela napas. Ia harap, sikapnya kali ini tidak membebani pikiran Yuna. Walau menginginkan yang terbaik untuk Yuna, ia juga tidak bisa terus memaksakan diri dan membuat suasana hati Yuna justru memburuk.

 

(( Bersambung ))

 

Bulan baru, jadi awal yang baru juga. Dukung terus Perfect Hero biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih manis dan lebih seru lagi. Thanks semua atas dukungan Star dan hadiahnya. I Love you double-double ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 204 - Rahasia Masa Lalu Yuna || a Romance Novel by Vella Nine

 


Keesokan harinya, Rullyta langsung membawa Yuna ke dokter pengobatan tradisional. Dokter tersebut menyentuh denyut nadi Yuna. “Apa kamu pernah mengalami kejadian buruk di masa lalu?” tanya dokter tersebut.

 

Yuna terpaku mendengar pertanyaan dokter. Otaknya tak bisa ia ajak berpikir dengan baik, di pelupuk matanya, terbayang kisah pilu sebelas tahun lalu saat kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Satu titik, di mana kehidupannya berubah drastis. Seorang putri yang memiliki segalanya menjadi upik abu yang tidak berdaya.

 

“Nggak perlu takut untuk bercerita. Kamu ke sini, pasti sudah siap melepas semua beban masa lalumu satu per satu. Jika tidak, kondisi mentalmu akan mempengaruhi proses kehamilan.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan banyak kekuatan.

 

“Sebelas tahun yang lalu ....” Yuna mulai menceritakan masa lalunya setelah kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.

 

“Saya kasih kamu obat,” tutur dokter tersebut setelah mendengarkan cerita singkat dari Yuna.

 

Yuna mengangguk, ia tersenyum ke arah Rullyta yang menemaninya berobat.

 

Rullyta hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Yuna. Ia semakin mengerti dengan apa yang terjadi pada Yuna. Menghadapi masa depan bersama masa lalu yang terus menghantuinya, tentunya tidak mudah.

 

“Bu, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda.” Dokter tersebut menatap Rullyta.

 

Rullyta mengangguk dan mengikuti dokter tersebut ke ruangannya.

 

“Gimana keadaan menantu saya, Dok? Apa dia bisa hamil?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Dari catatan medis dokter sebelumnya, hormon progesteronnya memang kurang, tapi tidak terlalu parah. Embrio sulit berkembang karena ini. Dengan bantuan obat-obatan herbal, dia bisa cepat hamil. Dia juga harus menjaga pola makan dan pola hidup yang baik.”

 

“Kondisi psikisnya kurang baik. Orang-orang terdekat dia, harus bisa menjaga suasana hatinya dengan baik untuk membantu mempercepat proses pemulihan.”

 

Rullyta mengangguk tanda mengerti. “Apa dia juga harus berhenti bekerja, istirahat total supaya bisa cepet hamil?”

 

“Apa pekerjaan dia angkat yang berat-berat?”

 

Rullyta menggelengkan kepala. “Dia bekerja di kantor.”

 

“Saya rasa pekerjaannya nggak masalah. Dia harus banyak bergerak dan berolahraga ringan supaya kondisi badannya tetap sehat.”

 

“Oh, gitu ya?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Suaminya kenapa nggak antar dia ke sini?”

 

“Ada banyak pekerjaan di perusahaannya.”

 

“Suaminya harus memberikan dukungan yang besar, supaya dia bisa tetap nyaman dan tenang.”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Mmh ... Dok, apa trauma masa lalu Yuna bisa disembuhkan?”

 

“Soal itu, lebih baik konsultasi dengan psikiater. Apa dia selalu murung?”

 

Rullyta menggelengkan kepala. “Dia justru selalu ceria, sampai kami tidak mengetahui kalau dia punya masa lalu yang begitu buruk.”

 

“Baguslah kalau begitu. Semoga kondisinya bisa cepat pulih. Setelah obatnya habis, harus kembali ke sini lagi untuk melihat perkembangannya.”

 

“Baik, Dokter. Kalau gitu. Kami pamit pulang.” Rullyta langsung bergegas membawa Yuna pulang ke rumah usai membayar semua biaya pemeriksaan.

 

Sesampainya di rumah, Rullyta mengajak Yuna makan bersama.

 

“Kakek ...!” sapa Yuna ceria saat melihat kakek Nurali bergabung di meja makan bersamanya.

 

“Eh, ada cucu kesayangan Kakek. Kapan datang?”

 

“Baru aja, Kek. Bareng Mama. Kakek sehat, kan?”

 

“Yah, seperti yang kamu lihat. Kakek masih segar bugar seperti ini,” jawab Nurali sambil tertawa kecil.

 

“Syukurlah kalau gitu, seneng lihat Kakek selalu sehat.”

 

“Yeri mana? Nggak ikut ke sini?”

 

“Lagi banyak kerjaan di kantor,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Iya. Kami juga baru pulang dari pengobatan tradisional. Yang aku ceritain ke Papa semalam.”

 

“Gimana hasilnya?”

 

“Semuanya baik-baik aja.”

 

“Baguslah. Semoga, kalian bisa cepet ngasih Kakek teman main!”

 

“Aamiin,” sahut Yuna penuh harap.

 

Mereka menikmati makan siang sambil berbincang ceria. Usai makan, Rullyta mengajak Yuna masuk ke dalam kamarnya.

 

Rullyta mengajak Yuna berbincang banyak hal tentang fashion dan kuliner favoritnya dari berbagai negara.

 

Mata Yuna tertuju pada potret Rullyta dan Yeri kecil dengan latar Tokyo Disneyland.

 

“Ini foto waktu kami liburan ke Jepang. Saat itu, Yeri baru lulus SD,” jelas Rullyta.

 

Yuna tersenyum kecil. “Aku juga pernah ke sana waktu umur sepuluh tahun. Setiap tahunnya, setiap liburan sekolah, ayah selalu ngajak kami liburan ke luar negeri. Di tahun dia kecelakaan, dia berjanji akan membawa kami berlibur ke Hongaria. Aku harap, saat ayah sembuh, aku bisa membawa dia ke tempat itu.”

 

Rullyta tersenyum sambil menggenggam pundak Yuna. “Kamu selalu diperlakukan dengan baik oleh orang tua kamu. Gimana paman dan bibi kamu memperlakukan kamu setelah itu?”

 

“Awalnya, mereka memperlakukan aku sangat baik. Lama kelamaan, kondisi kesehatan ayah tidak kunjung membaik. Semua harta yang ayah tinggalkan, dijual untuk biaya pengobatan, termasuk rumah kami,” tutur Yuna sambil meneteskan air mata.

 

“Setiap hari, aku harus bekerja keras mengurus rumah dan menuruti semua keinginan Tante Melan supaya dia tetep biayain semua pengobatan ayah.”

 

“Gimana mereka memperlakukan kamu sehari-hari. Apa mereka pernah mukul kamu juga?”

 

Yuna mengangguk kecil. “Saat itu, aku masih umur tiga belas tahun. Aku nggak punya keberanian untuk melawan mereka. Sampai akhirnya, aku daftar beasiswa diam-diam. Kepala sekolah yang bantu aku buat keluar dari rumah neraka itu. Sejak keluar, aku nggak pernah menginjakkan kakiku di rumah itu lagi.”

 

Rullyta merengkuh kepala Yuna ke dalam pelukannya. “Mulai sekarang, rumah ini jadi rumah kamu. Nggak ada satu orang pun yang bisa melukai kamu. Kami akan selalu melindungi kamu.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia merasa sangat bahagia memiliki keluarga baru yang begitu menyayanginya.

 

“Gimana kehidupan kamu di luar negeri?” tanya Rullyta.

 

“Survive banget. Tapi aku bahagia karena punya banyak teman yang mendukungku di sana.”

 

“Baguslah. Mulai sekarang, kamu harus hidup dengan baik!” pinta Rullyta sambil tersenyum manis ke arah Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia kembali memeluk erat tubuh Rullyta. “Ma, makasih ya! Mama udah menyayangi aku seperti anak sendiri. Aku nggak tahu gimana menghadapi semua ini tanpa Mama dan Yeri.”

 

Rullyta tersenyum sambil mengelus punggung Yuna. “Semua orang tua ingin melindungi kebahagiaan anak-anaknya. Mama nggak akan ngebiarin siapa pun menyakiti anak-anak Mama. Seekor kelinci, bisa berubah menjadi singa saat kehidupan anak-anaknya diusik.”

 

“Maaf, aku udah jadi menantu yang merepotkan. Menimbulkan banyak masalah di keluarga ini.”

 

“Sst ...! Jangan ngomong kayak gitu lagi!” pinta Mama Rully. “Semua manusia yang hidup punya masalahnya masing-masing. Kita harus saling mendukung, supaya bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan menjalani hidup lebih baik.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mulai sekarang, kamu harus cerita ke Mama kalau ada masalah!” pinta Rullyta. “Jangan main rahasia-rahasiaan. Terutama, kalau sampai Yeriko menindas kamu. Mama bakal ngasih dia pelajaran!”

 

Yuna tertawa kecil mendengar ucapan Rullyta.

 

Rullyta ikut tertawa. Ia memilih untuk membahas hal-hal indah seputar persiapan pernikahan Yuna dan Yeriko. Membahas masa lalu Yuna terus menerus, hanya akan membuat suasana hati Yuna semakin buruk.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas