Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 201 - Good Partner || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jangan berpikir kalau kamu bisa ambil Yeriko dari aku cuma karena masalah ini. Aku nggak akan nyerah gitu aja!” tutur Yuna sambil menatap Refi.

 

Refi tersenyum sinis sambil menatap Yuna. “Kenapa? Kalo bukan aku, pasti ada orang lain yang bakal ambil Yeriko dari kamu kalau kamu nggak bisa ngasih dia keturunan.”

 

“Yeriko nggak akan ngelakuin itu!” seru Yuna.

 

“Kenapa nggak? Dia pengusaha kaya. Keluarganya pasti butuh pewaris untuk perusahaan dia. Kalo kamu nggak bisa punya anak, dia pasti bakal cari perempuan lain yang bisa ngasih dia keturunan.”

 

“STOP!” teriak Yuna sambil menutup kedua telinganya. Ia tidak ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulut Refi dan membuat perasaannya semakin memburuk.

 

“Ada apa ini?” tanya Yeriko yang sudah kembali masuk ke dalam ruangan. Ia langsung menghampiri Yuna dan menurunkan lengan Yuna dari kepalanya.

 

“Kamu cari masalah lagi sama istriku?” tanya Yeriko sambil menatap Refi. “Ref, aku ke sini karena menghargai Yuna sebagai istriku. Menghargai kamu sebagai teman. Jangan bikin aku kehilangan kesabaran karena tingkah kamu ini!” sentak Yeriko.

 

“Aku nggak ngapa-ngapain dia. Emang dianya aja yang bermasalah. Kamu nggak tahu kenapa istri kamu ini sampai sekarang masih belum hamil juga?” sahut Refi tanpa rasa bersalah.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna memegang erat dokumen yang ada di tangannya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Yeriko jika tahu kalau ia sulit untuk mendapatkan seorang anak.

 

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna yang terus menundukkan kepalanya.

 

Refi tersenyum sinis ke arah Yuna. “Kenapa? Kamu nggak berani bilang ke suami kamu ini kalo kamu nggak bisa hamil?”

 

“Bener kamu nggak bisa hamil?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala sambil menahan air yang siap keluar dari sudut-sudut matanya.

 

“Terus?” Yeriko mengernyitkan dahi.

 

Yuna perlahan menyodorkan laporan diagnosis dokter ke arah Yeriko.

 

Yeriko membaca laporan tersebut. Ia tersenyum ke arah Yuna dan langsung menarik Yuna ke pelukannya. “Kamu masih bisa hamil!” tutur Yeriko meyakinkan.

 

“Tapi ...”

 

“Percaya sama aku!” pinta Yeriko. “Lagipula, kamu juga masih muda. Masih ada waktu buat main-main. Nggak perlu buru-buru memikirkan anak!”

 

“Emang kamu nggak pengen punya anak?” tanya Yuna sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko.

 

“Pengen. Makanya, kamu harus jadi partner yang baik supaya bisa secepatnya punya Ye kecil di dalam perut kamu!” pinta Yeriko sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia memiliki seorang suami seperti Yeriko. Bukan hanya menyayangi dan melindunginya, tapi juga bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri Yuna.

 

Refi semakin kesal dengan sikap Yeriko dan Yuna yang sengaja memamerkan kemesraan di hadapannya.

 

“Yer, dia itu belum tentu bisa ngasih kamu keturunan. Kondisi rahimnya yang dingin, nggak bisa dipastikan kapan dia bisa punya anak. Bisa jadi, sampai sepuluh atau lima belas tahun ke depan, kalian masih belum bisa punya anak.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Refi. “Sekecil apa pun kemungkinannya, aku pasti perjuangkan. Sama seperti kaki kamu. Dokter bilang, kemungkinan kamu bisa sembuh cuma sepuluh persen. Sekarang, bahkan nilai sepuluh persen itu sudah berubah menjadi lima puluh persen.”

 

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Refi. “Kalau seandainya dia nggak bisa ngasih kamu keturunan sampai dia menopose, apa yang kamu lakuin?”

 

“Aku tetep di samping dia.”

 

“Kamu gila, Yer? Kamu udah dibikin buta sama perempuan ini. Harusnya, kamu bisa mikirin pewaris perusahaan kamu. Kalo kamu nggak punya keturun—”

 

“Itu bukan urusan kamu,” sela Yeriko. “Lebih baik, kamu urus diri kamu sendiri dulu. Soal pewaris perusahaanku, kamu nggak perlu repot-repot mikirin. Cuma buang-buang waktu kamu aja.”

 

“Aku kayak gini karena aku peduli sama kamu, Yer. Aku pasti mikirin gimana kamu di masa depan. Aku cinta sama kamu, kamu masih nggak ngerti perasaanku?”

 

“Sepertinya kamu yang nggak ngerti membedakan mana cinta dan mana obsesi!?” sahut Yeriko ketus.

 

Yuna terdiam. Ia hanya melihat perdebatan Refi dengan suaminya. Ia sama sekali tidak bersemangat meladeni Refi. Ia sibuk memikirkan dirinya sendiri. Sebenarnya, ia tak punya keyakinan yang besar.

 

Yeriko menarik napas melihat wajah Yuna yang murung. Refi akan terus memancing perdebatan dengannya dan semakin memperburuk kondisi kesehatan Yuna. Ia menarik lengan Yuna dan mengajak istrinya keluar dari ruang rawat Refi.

 

“Yun, kamu harus tenang dan jangan banyak pikiran!” pinta Yeriko sambil menangkup wajah Yuna dengan dua telapak tangannya saat mereka sudah sampai di depan lift.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Gitu, dong! Istri aku harus selalu senyum setiap saat,” pintanya. “Kamu bukan mandul. Kemungkinan buat punya anak masih sangat besar. Kita usaha sama-sama. Kamu juga harus jadi partner yang baik dan penurut!”

 

Yuna mengangguk.

 

“Ayo, pulang!” ajak Yeriko. “Aku buatin masakan yang enak buat kamu.”

 

Yuna mengangguk dan mengikuti langkah Yeriko yang menggenggam erat tangannya.

 

“Kamu mau makan apa?” tanya Yeriko saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.

 

“Apa aja yang kamu kasih, aku makan,” jawab Yuna.

 

Yeriko tersenyum. Ia mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah sakit. “Gimana kerjaan kamu?”

 

“Baik,” jawab Yuna sambil tersenyum. “Semua orang di departemen menyambut kehadiranku dengan baik.”

 

“Sepupu kamu gimana? Masih suka gangguin kamu?”

 

Yuna mengangguk. “Dia itu nggak mungkin diem aja kalo lihat aku. Pasti langsung marah-marah nggak jelas. Dari dulu, itu-itu aja yang dibahas. Selalu gara-gara Lian. Takut banget aku ambil lagi,” cerocos Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu nggak terganggu sama dia?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Sekarang, banyak orang yang belain aku. Bellina mati kutu. Tapi, lagi-lagi dia bikin Icha cedera.”

 

“Icha cedera lagi?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk. “Nggak separah waktu itu sih. Tapi aku tetep aja ngerasa bersalah. Dia begitu karena belain aku.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna. “Nanti malam, kita ke rumah dia buat ngucapin terima kasih. Gimana?”

 

“Eh!?”

 

“Kamu siapin hadiah kesukaan Icha!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak bisa menjaga Yuna selama dua puluh empat jam. Ia hanya bisa mengandalkan orang-orang terdekat Yuna. Ia harus berterima kasih pada orang-orang yang telah membantu melindungi istrinya.

 

“Mmh … soal kondisi rahimku, gimana ngomongnya ke Mama Rully?”

 

“Nggak usah khawatir!” pinta Yeriko lirih. “Aku yang bakal ngomong ke Mama.” Ia langsung menelepon Riyan untuk segera mengurusi masalah Refina.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia meremas safety belt yang tersemat di dadanya. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi mama mertuanya. Bagaimana jika kasih sayang mama mertuanya berubah begitu mengetahui kalau Yuna sulit memberikan keturunan untuk keluarga Hadikusuma.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 200 - In Frame Again || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko bergegas masuk ke ruang rawat Refi begitu ia sampai di rumah sakit tempat Refi mendapatkan perawatan intensif.

 

“Yer, aku tahu kamu pasti datang,” tutur Refi lirih sambil menatap Yeriko yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.

 

“Aku ke sini karena Yuna yang minta,” sahut Yeriko dingin.

 

Refi tersenyum. Tenggorokannya cekat dan matanya berkunang-kunang. Bayangan tubuh Yeriko yang ada di sampingnya terus meredup hingga ia tak bisa melihat apa pun lagi. “Yeriko ...!” panggilnya lirih.

 

Yeriko menempelkan punggung tangannya di kening Refi saat melihat Refi tiba-tiba memejamkan mata. “Panas banget?” gumamnya. Ia bergegas keluar dari ruangan, mencari perawat yang bertugas menjaga Refi.

 

“Suster!” teriak Yeriko kesal sambil menatap dua orang suster yang melintas dengan terburu-buru.

 

“Ada apa, Pak?”

 

“Ke mana suster yang harusnya jaga di ruangan ini?”

 

“Sepertinya sedang membantu di IGD, Pak. Ada kecelakaan beruntun di jalan tol. Ada apa, Pak?”

 

“Pasien di dalam sini demam tinggi. Bisa ditangani secepatnya?”

 

“Sebentar, Pak. Kami panggilkan dokter yang bertugas.”

 

“Cepetan!” sentak Yeriko.

 

Dua suster tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

 

Beberapa menit kemudian, seorang dokter dan asistennya masuk ke dalam ruangan Refi. Ia langsung memeriksa kondisi tubuh Refi yang sudah tidak sadarkan diri.

 

“Pasang Infus!” pinta dokter tersebut pada perawat yang membantunya.

 

Perawat tersebut mengikuti semua intruksi dari dokter.

 

“Sus, apa tadi malam ada laporan kesehatan dia yang bermasalah?” tanya dokter yang memeriksa.

 

“Nggak ada, Dok. Sepertinya, demamnya baru aja,” jawab suster tersebut.

 

Dokter memasukkan obat melalui cairan infus yang tersambung ke tubuh Refi.

 

“Dia kenapa, Dok?” tanya Yeriko saat dokter telah selesai melakukan penanganan.

 

“Nggak papa. Hanya demam biasa dan dehidrasi. Setelah sadar, beri dia makan dan air minum yang banyak supaya kondisinya bisa cepat pulih!”

 

Yeriko mengangguk.

 

Dokter dan perawat tersebut bergegas meninggalkan ruang rawat Refi.

 

Yeriko menghela napas. Ia duduk di kursi sambil menatap wajah Refi yang terbaring lemah di ranjangnya. Ia memang pernah menyukai Refi di masa lalu. Tapi kini perasaannya berbeda. Baginya, Yuna adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi istrinya seumur hidup.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Yeriko langsung merogoh ponselnya yang berdering. “Halo ..!” sapa Yeriko begitu ia menjawab panggilan telepon. “Udah kelar periksa?”

 

“Iya. Kamu udah di rumah RSOT kan?” tanya Yuna dari ujung telepon.

 

“Kamu mau ke sini juga? Aku jemput ya?”

 

“Nggak usah, aku udah di dalam taksi. Bentar lagi nyampe.”

 

“Oh. Oke. Aku tunggu di sini.”

 

“Iya. Gimana keadaan Refi?”

 

“Masih belum sadar.”

 

“Parah banget?”

 

“Yah, lumayan. Demamnya terlalu tinggi, sampai pingsan.”

 

“Astaga ...! Bisa sampai kayak gitu?”

 

“He-em.”

 

“Ya udah, kamu jagain dia! Aku bentar lagi nyampe.”

 

“Oke. Hati-hati, Istriku yang cantik. Bye!”

 

“Bye!” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yeriko menghela napas sambil menyimpan kembali ponsel ke sakunya.

 

“Yer ...!” panggil Refi lirih.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Refi. “Udah sadar?”

 

Refi mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah Yeriko. Ini adalah hari paling membahagiakan baginya, sebab ia bisa melihat wajah Yeriko begitu ia membuka mata. Ia mengangkat tubuhnya untuk bangkit dari tempat tidur.

 

“Minum dulu!” pinta Yeriko sambil menyodorkan gelas air putih ke hadapan Refi.

 

Refi mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih gelas yang diberikan oleh Yeriko dan menyeruputnya perlahan.

 

“Yer, aku mau ke toilet, bisa bantu aku?” tanya Refi.

 

Yeriko mengangguk. Ia meraih gelas dari tangan Refi dan meletakkannya di atas meja.

 

Refina meraih lengan tangan Yeriko dan bertumpu pada tubuh Yeriko untuk berdiri.

 

“Kaki kamu sudah lebih baik?” tanya Yeriko.

 

Refi mengangguk. Ia menggenggam pundak Yeriko agar tidak terjatuh.

 

Di saat yang bersamaan, Yuna masuk ke dalam ruang rawat Refi. Refi menggunakan kesempatan ini untuk membuat Yuna cemburu. Dengan sengaja, ia menopangkan dagunya di pundak Yeriko.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna sambil tersenyum menatap Refi dan Yeriko.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka. Menatap Yuna sambil tersenyum, kemudian membantu Refi duduk di kursi roda.

 

“Kenapa Yuna santai banget?” batin Refi sambil menatap Yuna yang terus tersenyum sambil menghampiri suaminya.

 

Yeriko tersenyum, ia merangkul pinggang Yuna dan mengecup kening Yuna dengan mesra.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko, dengan ekor matanya ia bisa melihat ekspresi buruk yang tersirat di wajah Refi.

 

“Cepet banget sampe sini? Kamu terbang?” tanya Yeriko sambil tersenyum kecil menatap Yuna.

 

Yuna meringis ke arah Yeriko. “Iya, pakai sayap yang kamu kasih ke aku,” jawabnya sambil meletakkan dagunya di dada Yeriko.

 

Refi semakin kesal dangan Yuna dan Yeriko yang sengaja menunjukkan kemesraan di hadapannya.

 

“Oh ya, bukannya kamu mau ke toilet?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Refi.

 

“Iya?” tanya Yuna sambil menatap wajah Refi.

 

Refi mengangguk.

 

Yuna tersenyum. Ia meraih kursi roda Refi. “Ayo, aku antar!” tuturnya sambil mendorong kursi roda Refi menuju toilet.

 

“Yun, aku ada telepon dari kantor. Aku keluar dulu terima telepon!” pamit Yeriko sambil menunjukkan ponselnya yang berdering.

 

Yuna mengangguk. Ia membantu Refi masuk ke dalam pintu toilet yang ada dalam ruang rawatnya dan menunggu di luar pintu.

 

Beberapa menit kemudian, Refi keluar dari toilet. Yuna kembali membantu Refi. Tak terasa ia menjatuhkan laporan diagnosis ginekologi miliknya.

 

Refi memungut kertas yang jatuh ke lantai tersebut dan membacanya. Ia tersenyum sinis saat mengetahui kalau kondisi rahim Yuna bermasalah.

 

“Ini apa, Yun?” tanya Refi sambil menunjukkan laporan diagnosis milik Yuna yang terjatuh.

 

“Eh!? Oh, ini ... abis periksa ke rumah sakit,” jawab Yuna. Ia langsung merebut laporan tersebut dari tangan Refi.

 

“Kamu nggak bisa hamil?” tanya Refi sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum kecut. “Dokter nggak bilang begitu.”

 

Refi tertawa sinis. “Nggak bisa hamil ya nggak bisa. Rahim dingin, sulit buat hamil kan?”

 

Yuna tersenyum menatap Refi. “Sulit, bukan berarti nggak bisa.”

 

Refi tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Kamu memang punya percaya diri yang besar banget, Yun. Nggak tahu berapa lama kamu bakal punya anak. Bisa aja kan sampai lima belas tahun lagi, kamu masih belum bisa hamil. Keburu menopose.”

 

Yuna menatap Refi kesal. Apa yang diucapkan oleh Refi memang benar. Dia tidak tahu kapan bisa mendapatkan anak dengan kondisi rahimnya yang seperti ini. Ia sendiri, tidak memiliki keyakinan yang cukup besar. Bagaimana dengan Yeriko dan keluarganya? Bisakah mereka menerima kondisi Yuna yang sulit mendapatkan keturunan?

 

“Tante Rully pasti menginginkan seorang cucu. Gimana kalau dia tahu, menantu kesayangannya ini nggak bisa ngasih keturunan?” tanya Refi sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

Yuna menggigit bibir bawahnya sambil menatap Refi penuh amarah.

 


Sementara, Refi tersenyum lebar saat mengetahui kelemahan Yuna yang bisa membuatnya menjauh dari Yeriko. Ia merasa memiliki kesempatan besar untuk membawa Yeriko kembali ke pelukannya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus. 

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 199 -Cold Uterus || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Nyonya, udah siap?” tanya Yeriko sambil menatap tubuh Yuna dari balik cermin.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Bagus?” tanyanya sambil menunjukkan gaun yang sudah ia kenakan.

 

Yeriko mengangguk sambil meletakkan dagunya di pundak Yuna. “Cantik,” pujinya.

 

Yuna tersenyum kecil sambil mengelus pipi Yeriko. “Ayo, berangkat!” ajaknya.

 

Yeriko mengangguk. Ia menggandeng tangan Yuna keluar dari rumah dan membawanya menuju rumah sakit bersalin untuk melakukan pemeriksaan.

 

Yuna meremas tangan dan menggigit bibir berkali-kali selama dalam perjalanan.

 

“Kamu kenapa? Gelisah banget?”

 

“Aku takut,” jawab Yuna sambil menatap pilu ke arah Yeriko.

 

“Takut kenapa?”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Entahlah. Aku ngerasa takut aja.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap ujung kepala Yuna. “Nggak usah takut. Pasti semua baik-baik aja.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung menatap layar dashboard yang tersambung ke ponsel Yeriko.

 

 

 

Refina Calling ...

 

 

 

“Mantanmu tuh. Kangen,” celetuk Yuna.

 

Yeriko tak menghiraukan. Ia membiarkan teleponnya berdering, tak ada keinginan untuk menjawab panggilan dari Refina.

 

“Yer, angkat gih!” pinta Yuna.

 

“Ck, males banget!” sahut Yeriko kesal. Ia membiarkan Refina meneleponnya beberapa kali.

 

“Siapa tahu ada sesuatu yang terjadi sama Refi.”

 

“Chandra pasti udah ngabarin duluan kalo ada masalah sama Refi.”

 

“Emangnya Chandra lagi di rumah sakit?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Gimana dia bisa tahu update kondisi Refi?” tanya Yuna.

 

“Yun, kenapa sih kamu masih aja peduliin Refi!?” tanya Yeriko balik.

 

“Aku harus peduli sama dia. Setidaknya, dia bisa cepet sembuh dan nggak ngerecokin kamu terus,” sahut Yuna.

 

“Ck, kamu ini ...!?” gumam Yeriko kesal. Ia langsung menjawab telepon dari Refi penuh kekesalan.

 

“Halo ...!” sapa Yeriko ketus.

 

“Halo, Yer. Kamu bisa temui aku?” tanya Refi.

 

“Nggak bisa,” jawab Yeriko tanpa pikir panjang.

 

“Badanku tiba-tiba demam. Aku nggak bisa apa-apa. Kamu bisa ke sini temani aku?” tanya Refina.

 

“Di sana ada suster yang jaga kamu, kan?”

 

“Iya. Tapi semua orang lagi sibuk. Belum ada yang masuk ke sini. Sepertinya, lagi pergantian shift kerja.”

 

Yeriko menghela napas. “Kamu tunggu di sana, aku kirim orangku buat jagain kamu.”

 

Yuna menatap Yeriko yang duduk di sebelahnya.

 

“Aku maunya kamu yang nemenin aku, please!”

 

“Nggak bisa, Ref. Aku lagi ada urusan penting banget. Aku kirim orangku ke sana. Kamu tunggu aja!” Yeriko melirik Yuna yang duduk di sebelahnya dan langsung mematikan telepon.

 

“Kamu ke sana aja!” pinta Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku temenin kamu periksa. Bisa suruh Riyan ke sana.”

 

“Yer, dia pasti bisa lebih baik kalo kamu yang datang ke sana. Bukan malah nyuruh Riyan.”

 

“Ck, Yuna!” Yeriko geram sambil menatap Yuna. “Kamu ini malah nyodorin suami kamu ke Refi. Kamu jangan terlalu baik sama dia!”

 

“Iih .. kamu ini nggak ngerti juga. Dia itu maunya cuma sama kamu. Kalo kamu yang datang, suasana hatinya dia pasti bisa lebih baik. Supaya terapi dia berjalan lancar, dia cepet sembuh dan nggak perlu nempel sama kamu lagi.”

 

“Oke. Kita ke sana setelah periksa kandungan kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia percaya, suaminya tidak akan berpaling darinya.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna sejenak. Kemudian, ia kembali fokus menatap jalanan kota yang lumayan padat. Ia sangat bangga dengan sifat istrinya yang baik dan berlapang dada. Kebaikan Yuna, memberikan ruang yang begitu luas pada orang-orang yang akan menghancurkan hidupnya. Sebagai suami, ia punya tekad besar untuk melindungi kepolosan dan kebaikan hati Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah sampai di halaman parkir rumah sakit bersalin.

 

“Yer, kamu langsung susul Refi aja ya!” pinta Yuna sambil melepas safety belt dari pinggangnya. “Aku bisa periksa sendiri, kok.”

 

“Tapi …”

 

“Aku baik-baik aja. Kamu pergi urus Refi dulu!” pinta Yuna. “Nanti, aku nyusul pakai taksi.”

 

“Ah, aku nggak bisa pergi ke sana tanpa kamu.”

 

“Aku nggak apa-apa. Jangan membiasakan manjain aku!” pinta Yuna sambil menahan tawa. “Kamu pergi ke sana aja! Nanti aku kasih tahu hasil pemeriksan dokter. Doain ya!”

 

Yeriko mengangguk. “Goodluck my wife! Semoga, cepet ada Yeri kecil di keluarga kita.”

 

“Aamiin,” sahut Yuna penuh harap. Ia mengecup pipi Yeriko dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap tubuh istrinya yang perlahan masuk ke rumah sakit. Ia kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit orthopedi setelah tubuh Yuna tak terlihat lagi.

 

Yuna melenggang masuk ke lobi rumah sakit. Mengambil nomor antrian dari mesin antrian yang ada di sudut ruangan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya nomor antrian yang ada di tangan Yuna dipanggil oleh resepsionis. Ia bangkit, menghampiri meja resepsionis untuk melengkapi keperluan pemeriksaan. Kemudian, ia bergegas ke ruang pemeriksaan dokter kandungan.

 

“Gimana hasilnya, Dok?” tanya Yuna setelah ia menjalani pemeriksaan.

 

“Kamu mengalami Cold Uterus atau rahim dingin.”

 

“Rahim dingin?”

 

“Iya. Kondisi seperti ini membuat embrio sulit berkembang.”

 

“Maksud Dokter? Aku nggak bisa hamil?”

 

“Saya tidak bilang seperti itu. Kamu masih bisa hamil. Hanya saja, kondisi seperti ini memang sulit untuk hamil.”

 

“Berapa besar kemungkinan aku bisa hamil, Dok?”

 

“Lima puluh persen. Kamu masih bisa hamil jika memperhatikan kondisi kesehatan kamu. Jaga pola makan, jaga kesehatan, jangan sampai stres berlebihan dan harus banyak istirahat.”

 

Yuna mengangguk. “Mmh … apa lagi yang bisa aku lakukan supaya bisa cepat hamil?”

 

Dokter tersebut tersenyum. Ia menyodorkan hasil pemeriksaan dan memberikan resep untuk Yuna. “Saya kasih pil hormon untuk membantu mempercepat kehamilan kamu. Semuanya, tergantung sama usaha kamu mengubah pola hidup sehat menjadi lebih baik lagi. Hindari makan-makanan yang terlalu dingin dan terlalu pedas!” pinta dokter tersebut.

 

Yuna mengangguk. Ia mengambil kertas hasil pemeriksaan. “Terima kasih, Dok!”

 

Dokter tersebut mengangguk.

 

Yuna langsung berpamitan dan bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Ia melangkahkan kakinya menyusuri koridor. Ia duduk di salah satu kursi tunggu sambil menatap laporan pemeriksaan kesehatannya.

 

“Cold Uterus?” gumam Yuna. “Apa Yeriko bisa terima aku yang kayak gini?” Ia menyandarkan kepalanya ke dinding.

 

Mata Yuna, tiba-tiba perih, mengeluarkan bulir air mata yang tak bisa lagi ia tahan. Perasaannya kini tak karuan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak bisa melahirkan anak untuk Yeriko. Akankah suaminya itu tetap bertahan di sisinya dan menyayangi sepenuh hati?

 

Yuna bangkit, melangkah perlahan keluar dari rumah sakit tak bersemangat. Ia melihat beberapa perempuan hamil keluar masuk di rumah sakit tersebut. Membuatnya menginginkan seorang anak tumbuh di dalam rahimnya.

 

Yuna mengelus perutnya yang mungil. “Yun, kamu pasti bisa hamil!” ucapnya menyemangati diri sendiri. “Cukup berusaha lebih keras dari sebelumnya.” Ia terus melangkah keluar dari rumah sakit.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas