Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 198 - Kepanasan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Li, kenapa Yuna masuk ke perusahaan ini lagi?” Bellina menerobos masuk ke ruang kerja Lian.

 

Lian menatap Bellina. Ia menoleh ke arah Citra yang duduk di sofa ruang kerjanya. “Kenapa lagi si Belli? Mau bikin masalah lagi?” gumam Lian dalam hati. Ia kerap dibuat pusing dengan sikap Bellina. Jika bukan karena anak yang ada di dalam perut Bellina, ia sudah membuang jauh-jauh wanita itu dari kehidupannya.

 

“Oh, bagus. Kamu ada di sini.” Bellina menatap Citra. “Kenapa kamu rekrut dia lagi ke perusahaan ini?”

 

“Kinerja dia bagus. Perusahaan butuh orang seperti dia. Sebelum dia direkrut perusahaan pesaing, lebih baik kita rekrut duluan,” jawab Citra santai.

 

“Emang seberapa pentingnya sih Yuna buat perusahaan ini? Masih banyak orang yang punya keahlian lebih bagus dari dia. Kenapa harus pilih dia?”

 

“Aku punya pertimbangan sendiri.”

 

“Kamu sekongkol sama Yuna biar dia bisa masuk perusahaan ini lagi?” tanya Bellina dengan nada tinggi.

 

Citra tertawa kecil menanggapi ucapan Bellina. “Kamu nggak bisa bersikap lebih realistis? Bahkan di saat perusahaan dalam masalah, kamu nggak ada gunanya sama sekali. Malah nambah masalah.”

 

Bellina mendelik ke arah Citra.

 

“Udah, Bel. Ngapain sih ngeributin hal kecil kayak gini?”

 

“Kamu bilang ini masalah kecil?” Bellina mengernyitkan dahi sambil menatap Lian.

 

Citra bangkit dari tempat duduk sambil membawa dokumen proyek yang sedang ia diskusikan bersama Lian. “Urusan proyek, kita bicarakan nanti. Kamu urus dulu perempuan gilamu itu!” ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Lian dan Bellina.

 

“Kamu!?” Bellina menatap geram ke arah Citra. Ia menghentakkan kaki sambil mengerutkan wajahnya. “Kenapa semua orang di perusahaan ini udah berani ngelawan aku?” celetuknya kesal.

 

“Bel, kamu bisa jaga sikap atau nggak sih?” Lian menatap Bellina yang berdiri di hadapannya. “Aku masih ada kerjaan sama Bu Citra. Perusahaan lagi banyak masalah. Kamu bisa nggak jangan campur urusan pribadi kamu ke kerjaan? Jadi kacau semuanya!”

 

“Gimana aku bisa tenang kalo kamu rekrut si Yuna lagi? Kamu sengaja pakai alasan kerjaan buat deketin dia, kan?”

 

“Astaga! Kamu ini nggak bisa berpikir sehat ya? Yuna itu di divisi proyek. Bu Citra sangat tahu gimana kemampuan anak buahnya. Kalau perusahaan ini memang butuh Yuna, aku harus gimana lagi?”

 

“Perusahaan atau kamu yang butuh dia!?” seru Bellina.

 

“Ck, kenapa sih nggak percaya sama aku?” Lian bangkit dari tempat duduk dan langsung memeluk pinggang Bellina. “Udah, ibu hamil nggak boleh marah-marah!” pintanya lembut.

 

Bellina terdiam sesaat. Kemudian tersenyum menatap Lian. “Beneran nggak berniat ngejar Yuna lagi?”

 

Lian menggelengkan kepala. “Jangan mikir macam-macam!” pinta Lian. “Lebih baik, kamu pikirin kondisi anak kita. Kamu udah makan?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Ayo, kita makan!” ajak Lian. Ia menggandeng tangan Bellina keluar dari ruangannya.

 

Bellina tersenyum. Ia bergelayut manja di lengan Lian.

 

Lian melangkah menyusuri koridor, melalui beberapa ruang kerja karyawannya. Dengan sudut matanya, ia memerhatikan Yuna yang begitu serius dan tulis dalam melakukan pekerjaan. Hatinya diselimuti rasa bersalah. Ia merasa Yuna jauh lebih baik dari Bellina. Ia terpaksa menggandeng Bellina demi anak yang ada di dalam perutnya.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di salah satu restoran.

 

“Sayang, aku boleh minta sesuatu?” tanya Bellina sambil menatap Lian.

 

“Apa?”

 

“Pecat Yuna. Please!”

 

Lian mengernyitkan dahi.

 

“Kamu nggak mau mecat dia? Lebih milih dia daripada aku?”

 

“Jangan suruh aku milih!” pinta Lian. “Masalah pribadi nggak ada hubungannya sama masalah kerjaan.”

 

“Tapi, aku nggak tenang kalo di kantor kamu ada dia. Kamu nggak mikirin perasaanku?” tanya Bellina sambil memijat keningnya. “Kalo aku nggak tenang, nanti janin yang ada di perutku terganggu perkembangannya,” lanjut Bellina sambil mengelus perutnya.

 

Lian menatap Bellina. “Kamu nggak perlu terlalu mikirin keberadaan Yuna. Dia sama aja kayak karyawan yang lain. Kamu yang terlalu negatif thingking ke dia. Percayalah, semua bakal baik-baik aja.”

 

Bellina menatap wajah Lian tanpa berkedip. Ia masih berharap kalau tunangannya itu bisa segera membuang jauh-jauh sepupunya itu dari perusahaan.

 

Lian menghela napas mendapati tatapan Bellina. “Bel, beberapa proyek perusahaan kita lagi dalam masalah. Sebelumnya, semua berjalan lancar. Setelah proyek itu ditinggal sama Yuna, ada kekacauan di lokasi dan Citra nggak bisa nge-back up semua proyek sendirian. Jadi, Citra minta aku buat ngembaliin Yuna ke perusahaan dan ngembaliin keadaan seperti semula. Soal kerjaan, Yuna nggak pernah main-main.”

 

Bellina menggigit bibir bawahnya. Ia masih tidak mengerti kenapa Lian bersikeras mempertahankan Yuna di perusahaannya. Terlebih lagi, Yuna bersedia masuk kembali ke perusahaan dan hal ini membuatnya semakin kesal.

 

Lian menatap layar ponselnya sambil tersenyum. “Citra udah ngasih kabar. Yuna sudah ke lokasi proyek yang di Kedung. Aku percaya kalo dia pasti bisa ngelarin semua proyek yang ada di sana. Karena sebelumnya, dia juga yang megang proyek ini.”

 

Bellina memutar bola mata tanpa berkata-kata. Ia menunjukkan sikap tidak senang karena Lian melontarkan pujian untuk kinerja Yuna.

 

“Kalo cuma ngurusin proyek kayak gitu aja aku bisa. Kenapa harus Yuna?”

 

“Kamu nggak ngerti apa-apa soal departemen proyek. Secara teknis, Yuna lebih menguasai itu. Dia juga cekatan dan kreatif dalam menyelesaikan masalah.”

 

“Iih ... kenapa sih kamu selalu aja muji-muji dia?” seru Bellina kesal.

 

“Aku nggak muji-muji dia. Emang kenyataannya dia kayak gitu, Bel.”

 

“Kamu sadar nggak kalau kamu menempatkan Yuna lebih unggul daripada aku?” tanya Bellina kesal.

 

Lian tertawa kecil. “Kamu masih cemburu sama Yuna?” Ia mencoba menenangkan Bellina agar emosinya bisa stabil dan anak yang ada di dalam perut Bellina bisa bertumbuh sehat.

 

“Gimana nggak cemburu kalau lihat tunangan satu kantor sama mantan pacar terus?”

 

“Bel, kalau di departemen proyek. Yuna jelas lebih unggul dari kamu. Kalau di departemen personalia, kamu yang lebih unggul,” tutur Lian sambil tersenyum menatap Bellina. “Kalian itu di departemen yang berbeda. Mana bisa mau dibandingkan siapa yang lebih unggul.”

 

Bellina menatap Lian. Ia merasa ucapan Lian ada benarnya juga.

 

“Kamu percaya sama aku! Masalah Yuna di perusahaan, nggak akan mengganggu hubungan kita. Aku pasti bertanggung jawab sama anakku. Kamu nggak perlu khawatir!” pinta Lian.

 

“Beneran?”

 

Lian mengangguk sambil tersenyum.

 

“Janji?”

 

“Iya. Aku janji.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia berharap kalau Lian bisa memegang ucapannya sendiri. Namun, perasaannya tetap saja gelisah. Pikirannya melayang-layang mencari cara untuk membuat Lian mengeluarkan Yuna dari perusahaan.

 

Bellina tetap tidak tenang. Yuna dan Lian, memiliki banyak kesempatan untuk bersama. Terlebih, Yuna sekarang menjadi asisten direktur di kantor pusat dan akan lebih intens bertemu Lian daripada sebelumnya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Perfect Hero Bab 197 - Best Teamwork || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna bercengkerama dengan semua karyawan di departemen proyek saat jam makan siang. Mayoritas karyawan di departemen ini adalah laki-laki. Mereka sangat suka dengan bercengkerama dengan Yuna. Selain cantik, Yuna juga menyenangkan.

 

Usai memarahi staff karena kesalahan pekerjaan, ia akan mengajak mereka bercanda saat jam makan siang atau setelah jam kerja usai.

 

“Eh, kalian tahu nggak kenapa di keyboard komputer itu tulisannya ENTER?” tanya Pak Heri di sela-sela jam makan siang.

 

“Emang perintahnya begitu kali, Pak,” sahut Icha.

 

“Salah! Ada yang bisa nebak?”

 

Semua orang saling pandang dan berpikir.

 

“Kalo tulisannya ‘ENTAR’ programnya nggak jalan-jalan. Hahaha.”

 

“Hahaha.” Semua orang tertawa.

 

“Bener-bener,” tutur Yuna sambil mengendalikan tawanya.

 

“Eh, aku punya tebak-tebakan juga,” tutur Yuna.

 

“Apa itu?” tanya Pak Yoga.

 

“Ada lima orang yang lagi jalan di bawah satu payung kecil. Anehnya, lima orang itu nggak ada yang basah kehujanan. Tau nggak kenapa?” tanya Yuna.

 

Semua orang saling pandang.

 

“Karena orangnya lebih kecil dari payungnya,” seru Icha.

 

“Salah.”

 

“Gimana ya? Kalo lima orang, pasti kehujanan. Pake payung dua orang aja masih kena air hujan. Gimana caranya nggak kehujanan?” tanya Juan.

 

“Karena lagi nggak hujan, Pak,” sahut Yuna.

 

“Astaga!”

 

 “Terus ngapain pake payung kalo nggak hujan!?” seru Juan kesal. “Minta dijitak juga nih anak.”

 

Yuna meringis ke arah Juan. “Bisa aja kan biar nggak kepanasan kalo matahari lagi terik.”

 

“Iya, lah. Terserah kamu, Yun. Yang penting kamu senang.” Semua orang tertawa.

 

“Eh, ada satu lagi.” Yuna menarik napas sejenak. “Pintu apa yang nggak bisa terbuka walau udah ditarik atau didorong?” tanya Yuna.

 

“Pintu hatimu, Yun,” jawab Juan.

 

“Hahaha. Istrinya orang loh!” sahut Pak Heri sambil menoyor kepala Juan.

 

“Hatiku nggak ada pintunya, jendela semua. Hihihi,” sahut Yuna. “Ayo, jawab!” pinta Yuna.

 

“Pintu yang dikunci, Yun,” sahut Pak Yoga.

 

“Kalo dibuka kuncinya, berarti bisa dibuka dong Pak? Ini pintunya tetep nggak bisa didorong atau ditarik walau nggak dikunci. Nggak mau terbuka,” jelas Yuna.

 

“Pintu apa sih, Yun? Nggak usah bikin kita pusing deh?” tutur Icha.

 

Yuna terkekeh. “Pintu geser,” tuturnya.

 

“Ya ampun! Gampang jawabannya. Gak kepikiran,” sahut Pak Heri.

 

“Hahaha. Bener, bener.” Juan menimpali.

 

“Bisa aja kamu, Yun.”

 

Semua orang tertawa riang dan terus bercanda sambil menikmati makan siang di kantin. Bagi Yuna, bercanda saat jam makan siang juga bagian dari ice breaking agar semua karyawan kembali bersemangat setelah melakukan banyak pekerjaan dari pagi hingga siang hari.

 

Dari kejauhan, Bellina melihat Yuna yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya di kantin. Ia berjalan menghampiri Yuna, meraih gelas air putih dan menyiramkan ke wajah Yuna.

 

Mulut Yuna menganga saat tiba-tiba tubuhnya wajah dan pakaiannya basah. Ia menatap Bellina yang berdiri di samping meja. Ia bangkit dan memukul meja dengan keras.

 

“Heh!? Kamu datang-datang mau cari masalah sama aku, hah!?” sentak Yuna. Ia meraih gelas jus yang ada di hadapan Icha dan balas menyiramkan ke tubuh Bellina.

 

“Kamu!?” Bellina kesal karena kemeja putihnya ternoda oleh jus alpukat yang disiramkan oleh Yuna. “Kamu ngapain kerja di sini lagi? Kegatelan banget!” Bellina berusaha meraih tubuh Yuna penuh kekesalan.

 

Icha langsung menghalau tangan Bellina. Ia tidak akan membiarkan Bellina menyakiti sahabatnya. Sementara karyawan lain tertegun melihat sikap Bellina yang tiba-tiba menyerang Yuna.

 

“Kamu nggak usah ikut campur ya!” sentak Bellina sambil mendorong tubuh Icha.

 

“Aw ...!” Icha merintih saat tubuhnya tersungkur ke lantai dan salah satu lututnya memar.

 

“Cha, kamu nggak papa?” tanya Yuna sambil membantu Icha bangkit.

 

“Nggak papa, Yun. Cuma lecet sedikit,” jawab Icha lirih.

 

Yuna menatap tajam ke arah Bellina. Ia langsung mendorong dada Bellina dengan kasar. “Mau kamu apa sih?” sentaknya.

 

“Aku mau kamu keluar dari perusahaan ini!” tegas Bellina. “Lagian, udah berhenti kerja. Kenapa masih masuk ke sini lagi? Pasti karena Lian kan? Bisa nggak kalo nggak godain calon suami orang? Kamu juga udah punya suami, masih aja kegatelan.”

 

“Bangsat kamu, Bel!” maki Yuna. “Nggak ada berhentinya kamu ngatain aku kayak gitu. Ngaca!” teriak Yuna di depan wajah Bellina.

 

“Kalo emang bukan karena Lian, kamu pergi dari perusahaan ini sekarang juga!”

 

“Nggak akan!” dengus Yuna.

 

Bellina tersenyum sinis. “Kenapa? Suami kamu punya perusahaan yang lebih besar. Kenapa nggak kerja di sana aja? Malah milih kerja di sini. Pasti karena masih cinta sama Lian, kan?”

 

“Bel, kalo aku masih cinta sama Lian. Aku bisa dengan mudah ngerebut dia dari kamu. Cukup satu kalimat dari aku dan dia bakal ninggalin kamu buat selamanya. Sayangnya, aku udah nggak punya perasaan apa pun ke Lian. So, aku kasih aja dia ke kamu. Makan tuh bekasku!”

 

“Kamu bener-bener nggak tahu diri!” sentak Bellina.  Ia berusaha menyerang Yuna.

 

Juan dan yang lainnya berusaha melindungi Yuna dan Icha dari serangan Bellina.

 

“Bu, Yuna kembali ke sini karena direkrut kembali oleh Pak Lian dan Bu Citra. Kami juga butuh dia,” tutur Juan. Ia mulai memberanikan diri melawan Bellina walau resikonya cukup besar.

 

“Kamu berani ngelawan saya, hah!?”

 

“Juan, nggak usah ikutan!” pinta Yuna sambil menarik tubuh Juan. “Ini urusan aku sama Bellina.”

 

“Tapi, Yun ...”

 

Yuna menggelengkan kepala sambil menatap Juan.

 

“Kamu sekarang punya komplotan buat nyerang aku?” tanya Bellina.

 

“Bu, kami bukan nyerang Ibu. Kami cuma berusaha melindungi Mbak Yuna.” Pak Heri angkat bicara.

 

Yuna tersenyum sinis menatap Bellina. “Bukannya kamu yang nyerang aku duluan? Cewek gila! Lebih baik kamu urus diri kamu sendiri dulu. Nggak usah ngurusin aku!” sentak Yuna sambil menatap wajah Bellina.

 

Bellina menghentakkan kaki, ia kesal dengan Yuna dan teman-teman departemen yang melindungi Yuna. Ia berbalik dan bergegas meninggalkan Yuna.

 

“Cha, kamu nggak papa?” tanya Pak Heri sambil menatap kaki Icha yang memar.

 

“Nggak papa, Pak.”

 

“Itu Mak Lampir makin menggila aja,” celetuk Pak Yoga.

 

Yuna tertawa kecil. “Mak Lampir? Hahaha.”

 

“Tenang aja, Yun. Kita semua pasti belain kamu dan nggak akan biarin dia nyerang kamu terus,” tutur Juan. Ia melangkahkan kaki menuju pantry. “Bulek, ada es batu?”

 

“Ada.”

 

“Minta sedikit.” Juan segera mengambil es batu untuk mengompres luka memar yang ada di lutut Icha.

 

“Biar aku aja!” pinta Yuna, ia merebut bungkusan es batu dari tangan Juan. “Duduk, Cha!” pintanya pada Icha.

 

Icha mengangguk. Ia duduk di kursi.

 

“Maafin aku, Cha!” tutur Yuna. “Lagi-lagi, kamu luka kayak gini karena aku.” Yuna mengompres memar di lutut Icha perlahan.

 

Icha tersenyum. “Udah seharusnya aku belain kamu. Bukan salah kamu, kok. Aku yang terlalu lemah.”

 

“Siapa bilang kamu lemah? Kamu kuat, kok.”

 

Icha mengerutkan bibirnya menatap Yuna. “Kamu didorong sama Bellina, nggak bergerak sama sekali. Sedangkan aku, didorong sama dia langsung jatuh.”

 

“Itu bukan karena aku lebih kuat, Cha. Karena aku udah siap nerima hal buruk dari dia. Aku udah hafal dia seperti apa. Lain kali, kamu nggak perlu belain aku sampai kayak gini. Aku bakal ngerasa bersalah terus sama kamu.”

 

“Aku yang ngerasa bersalah kalo nggak bisa belain kamu. Sebagai temen, jahat banget kalo ngebiarin kamu menghadapi kesulitan sendirian.”

 

Yuna tersenyum. Ia sangat bahagia memiliki sahabat seperti Icha. “Makasih ya!” tuturnya sambil memeluk Icha.

 

Semua orang terharu melihat hubungan pertemanan Icha dan Yuna yang begitu dekat. Saling peduli, saling melindungi dan saling mengerti satu sama lain.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Kasih Star Vote dan hadiah seikhlasnya biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 196 - Back to Daily Office || a Romance Novel by Vella Nine

 


“My Bear, I have something for you,” tutur Yuna saat ia selesai mengenakan jas dan dasi suaminya.

 

“Apa?” tanya Yeriko.

 

Yuna membuka laci lemari dan mengeluarkan kotak dari dalamnya. “Aku buatin ini khusus buat kamu. Semoga kamu suka,” tutur Yuna sambil menyodorkan kotak tersebut.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap kotak tersebut. Meraihnya dari tangan Yuna dan membuka perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat isi kotak tersebut. Ia meraih sweeter berwarna abu-abu dengan corak batik di pundak dan ujung lengannya. Huruf ‘YY’ yang ada di dada kiri baju membuatnya tersenyum.

 

“Ini beneran bikin sendiri?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguknya. Yeriko langsung melepas jasnya.

 

“Eh!? Kenapa dilepas?” Yuna menaikkan kedua alisnya.

 

“Kayaknya, enak pake ini.” Yeriko langsung memakai sweater buatan Yuna.

 

“Lah? Bukannya kamu harus ke kantor? Masa pakai sweater?”

 

“Emang kenapa? Siapa yang mau ngelarang bos pakai sweater ke kantor?” tanya Yeriko.

 

Yuna meringis sambil menatap wajah suaminya.

 

“Iya, percaya. Bagus deh kalo kamu suka. Soalnya, baru pertama kali aku bikin motif ini.”

 

“Kamu bisa ngerajut? Kenapa aku baru tahu?”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko yang sudah mengenakam sweater buatannya.

 

“Gimana? Gantengku bertambah?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum bahagia.

 

“Ayo, kita sarapan!” ajak Yeriko. “Hari ini hari pertama kamu masuk kerja lagi kan?”

 

Yuna mengangguk.

 

Yeriko langsung merangkul pinggang Yuna dan mengajaknya sarapan sebelum pergi bekerja bersama-sama seperti biasa.

 

Bibi War tersenyum melihat Yuna dan Yeriko begitu mesra saat berangkat bersama-sama ke tempat kerja. Mungkin, perasaan Yuna akan jauh lebih baik bila menyibukkan diri dengan bekerja.

 

Beberapa menit kemudian, mobil Yeriko sudah sampai di halaman kantor Wijaya Group.

 

“Aku kerja dulu ya!” pamit Yuna sambil mengecup pipi Yeriko dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko tersenyum. Ia membuka kaca mobil dan memerhatikan Yuna yang melenggang memasuki kantornya. Ia sama sekali tidak khawatir Yuna kembali bekerja di perusahaan Lian. Melihat istrinya bersemangat pergi kerja, ia hanya perlu mendukungnya. Mengandalkan dirinya sendiri untuk mencapai karirnya, membuat Yuna tak perlu merasa rendah diri berdiri di antara keluarga besar Hadikusuma.

 

Yuna melenggang memasuki kantor Departemen Proyek. Ia langsung disambut dengan teriakan beberapa karyawan yang sudah menanti kedatangannya.

 

“Welcome to your team!” seru Icha berbarengan dengan rekan-rekan lainnya.

 

Yuna terkejut melihat sambutan yang begitu hangat. “Aargh ...! Kalian bikin aku terharu!” seru Yuna.

 

“Selamat juga buat jabatan barunya sebagai asisten direktur,” tutur salah seorang karyawan.

 

“Makasih!” seru Yuna dengan mata berbinar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau akan mendapat sambutan hangat dari rekan-rekan kerjanya. Ia pikir, jabatan baru yang didapatnya akan menimbulkan kecemburuan bagi karyawan lain. Ternyata, mereka tetap menerima Yuna dengan senang hati.

 

“Yun, kamu sekarang udah jadi atasan kami. Kami pasti nurut semua yang kamu perintah,” tutur Juan penuh keyakinan dan langsung diiyakan oleh rekan kerja yang lain.

 

“Jangan anggap aku bos!” pinta Yuna. “Aku tetep adik kecil kalian yang masih harus belajar banyak. Jangan sungkan buat negur aku kalo aku salah. Jangan langsung diambil hati kalau aku marah. Kita satu team, sudah seperti keluarga. Kita buat kerja kita enak tapi tidak seenaknya, oke?”

 

“Siap, Bu Bos!” sahut semua karyawan yang ada di ruangan itu.

 

“Jangan panggil aku Bu Bos!” seru Yuna sambil menahan tawa. “Panggil aku seperti biasanya aja!” pintanya.

 

“Yun, karena kamu udah jadi asisten direktur. Kamu nggak bakal satu ruangan lagi sama kita,” tutur Icha sambil memasang wajah muram.

 

“Astaga, aku cuma di ruangan sebelah. Kayak beda lantai aja,” sahut Yuna.

 

“Tapi kan, nggak bisa kerja sambil mandangin wajah kamu yang cantik itu, Yun,” celetuk Juan.

 

“Iya, Yun. Mana semangat kerja kalo nggak ada yang bening-bening buat dilihat,” celetuk Pak Heri bercanda.

 

Yuna tertawa kecil menanggapi candaan teman-temannya. “Kan ada si Icha.”

 

“Bosan lihat Icha mulu. Icha lagi, Icha lagi,” sahut Juan.

 

“Hahaha.” Semua orang tertawa. Mereka bercanda dengan Yuna sesaat sebelum Yuna masuk ke ruang kerjanya.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna masuk ke ruangan direktur. Ia langsung duduk di meja asisten direktur yang sudah disediakan.

 

“Hei, Yun ... udah datang?” sapa Citra sambil masuk ke ruangannya.

 

“Iya, Bu.”

 

“Selamat ya! Akhirnya kamu bergabung kembali bersama kami.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Oh ya, kamu udah tahu beberapa proyek yang lagi kita jalankan. Kira-kira, kamu bisa nggak tangani tiga proyek yang lagi di garap di sebelah utara provinsi?” tanya Citra.

 

“Bisa, Bu.”

 

Citra mengambil dokumen di atas mejanya dan menyodorkannya ke hadapan Yuna. “Ini ... dokumen proyek yang harus kamu tangani secepatnya.”

 

Yuna mengangguk dan mengambil dokumen dari tangan Citra.

 

“Kamu pasti bisa mengatasi ini. Aku percaya sama kamu.” Citra menepuk bahu Yuna.

 

“Eh!?” Yuna melongo menatap Citra.

 

Citra mengernyitkan dahi. “Pak Lian nggak cerita sama kamu?”

 

“Apaan?”

 

“Beberapa proyek kita lagi dalam masalah. Aku nggak bisa mengatasi semua sendirian. Aku butuh orang kayak kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku usahain, Bu.”

 

Citra tersenyum ke arah Yuna. Ia sangat lega, kinerja Yuna memang jauh lebih unggul daripada karyawan lain walau ia seorang wanita.

 

“Yun, dulu saya juga staff biasa seperti kamu. Sampai bisa di posisi ini, banyak hal yang harus dijalani, dilewati bahkan dikorbankan.”

 

Yuna tersenyum kecil menanggapi ucapan Citra. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana mengejar mimpi-mimpinya. Punya jabatan tinggi di perusahaan memang sangatlah bagus. Tapi, impian itu kini terlihat samar walau sudah di depan mata. Kini, ia bukan gadis lajang yang berjuang meraih mimpinya. Ada seseorang di belakangnya yang akan mendorong dan menarik dirinya menggapai impian itu.

 

Yuna membuka dokumen proyek yang akan ia tangani. Mempelajarinya sejenak dan bergegas keluar dari ruangannya. Ia masuk ke ruangan staff departemen proyek yang ada di sebelah ruangannya.

 

“Pak Heri, bisa temani saya ke proyek yang di Kedung?” tanya Yuna.

 

“Bisa, Mbak. Sekarang?” tanya Pak Heri.

 

Yuna mengangguk. Ia dan salah satu staffnya langsung bergegas keluar ruangan.

 

“Mbak Yuna mau lihat proyek yang di sana?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Tapi, proyek itu dalam masalah. Apa masih bisa diselamatkan? Takutnya, justru merugikan perusahaan kalau kita memaksa proyek tersebut tetap berjalan.”

 

“Aku mau lihat lokasi dulu. Kita harus bisa cari alternatif lain yang tidak merugikan perusahaan.”

 

Pak Heri mengangguk. Ia bergegas mengikuti langkah Yuna keluar dari perusahaan. Walau Yuna usianya jauh lebih muda darinya, tapi ia sangat kagum dengan kerja keras dan kemampuan Yuna. Tidak salah jika direktur mereka memilih Yuna menjadi asistennya. Di hari pertamanya masuk kerja lagi, Yuna langsung pergi ke lokasi proyek tanpa ragu-ragu.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas