Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 193 - The Power of Mr. Ye || a Romance Novel by Vella Nine

 


Andre menghampiri Yeriko yang sedang duduk di meja makan bersama teman-temannya. Ia menatap wajah Yuna yang berada dalam pelukan Yeriko dan melempar kunci mobilnya ke hadapan Yeriko dengan gaya tak bersahabat.

 

“Heh, baik-baik kalo ngasih barang!” tegur Lutfi. Sementara Yeriko hanya tersenyum kecil tanpa menatap wajah Andre.

 

“Buat apa aku baik sama orang licik kayak gini!?” sahut Andre kesal.

 

Yeriko menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja dan menyodorkannya ke wajah Yuna yang berada dalam pelukannya. “Buat kamu!” tuturnya lembut.

 

Yuna langsung menengadahkan kepalanya menatap mata Yeriko. “Eh, buat aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil menatap Yuna.

 

“Makasih!” Yuna langsung menyambar kunci mobil dari tangan Yeriko.

 

“Yun, kamu udah ketularan jadi jahat kayak dia?” tutur Andre.

 

“Eh, jahat kenapa? Aku nggak ngapa-ngapain,” sahut Yuna.

 

“Dia itu licik banget. Kamu udah mulai ketularan sama suami kamu yang brengsek ini, hah!?”

 

“Udah, kita balik aja!” pinta Yulia sambil menarik lengan Andre. Ia tidak bisa membiarkan Andre dipermalukan di depan begitu banyak orang.

 

Andre menepis lengan Yulia dan menatap Yuna. “Ayuna yang aku kenal dulu nggak kayak gini. Baik, polos, apa adanya dan nggak melukai orang lain. Sejak kamu nikah sama Yeriko, kamu berubah banyak. Kamu jadi jahat, Yun. Sama kayak dia!” Andre menunjuk wajah Yeriko.

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil menatap jari telunjuk Andre yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidungnya. Ia menurunkan jemari itu perlahan dan bangkit dari tempat duduknya.

 

“Ini bukan kejahatan, tapi kekuatan!” tegas Yeriko. “Kalo kamu nggak punya kekuatan yang besar, jangan pernah mimpi bisa ada di samping Yuna!”

 

Andre menatap Yeriko penuh amarah.

 

“Daripada kamu sibuk ngejar Yuna yang sama sekali nggak cinta sama kamu, mending kamu urusin tunangan kamu itu!” Yeriko menunjuk Yulia dengan dagunya.

 

“Setelah ini, aku bakal bikin perhitungan sama kamu!” ancam Andre.

 

“Silakan!” sahut Yeriko santai.

 

Andre bergegas pergi meninggalkan Yeriko dan teman-temannya.

 

“Gila, Yer! Kamu beneran taruhan mobil sama Andre?” tanya Lutfi. “Mobilnya Porsche boo ... menang banyak!” seru Lutfi.

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Dia cuma minta kesempatan buat deketin Yuna kalo dia menang. Daripada taruhan minta dia jauhin Yuna, mending aku ambil mobilnya dia. Aku tahu, istriku nggak bakal suka sama dia. Enak aja mau ambil istri orang, mobilnya kuambil duluan.”

 

“Hahaha. Bener, bener. Kamu pintar juga, Yer!” sahut Lutfi.

 

“Kenapa kamu nggak minta dia jauhin Yuna? Bukannya dia bakal jadi masalah buat rumah tangga kalian kalo dibiarkan?” tanya Jheni.

 

“Biar Yuna yang jauhin dia. Biar dia sadar dengan sendirinya, kalau ngambil istri orang itu nggak mudah.”

 

“Sadis kamu, Yer! Itu sih, rasanya kayak nembak cewek berkali-kali, ditolak mentah-mentah mulu,” sahut Lutfi.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak akan membiarkan Yuna jatuh ke pelukan siapa pun. Siapa pun yang berani merebut Yuna dari pelukannya, maka ia akan menjatuhkan orang tersebut.

 

“Itu orang ndak waras ya? Udah tahu istri orang, masih aja dikejar-kejar,” celetuk Lutfi sambil menatap punggung Andre yang berlalu pergi.

 

“Iya, dia ke sini juga sama tunangannya. Bisa-bisanya malah ngejar Yuna terang-terangan. Kalo aku yang jadi tunangannya, udah kubunuh,” sahut Jheni kesal.

 

Yuna tertawa mendengar ucapan sahabatnya.

 

“Eh, kalian berdua kan laki-laki,” tutur Jheni sambil menatap Lutfi dan Chandra. “Apa ngejar istri orang itu lebih menarik?”

 

“Nggak,” jawab Chandra.

 

“Mmh ...” Lutfi mengamati Yuna sambil mengelus dagunya. “Kalo perempuannya kayak Kakak Ipar, aku juga mau. Cantik, mulus, baik hati. Ngejar cinta istri orang lebih menantang. Hahaha.”

 

 “Gila kamu, Lut!” dengus Jheni.

 

“Loh? Kamu kan tadi nanya. Ya aku jawab. Secara, mayoritas laki-laki suka sama perempuan karena fisiknya. Apalagi kalau hatinya baik, sempurna ...”

 

“Hahaha. Iya, juga sih. Apalagi body-nya Yuna bagus banget. Kulitnya putih mulus, aku yang cewek aja suka lihatnya, apalagi cowok?”

 

“Apa-apaan sih kamu, Jhen!?” dengus Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan Jheni.

 

“Loh? Iya kan, Yer?” tanya Jheni sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Tuh, suaminya aja ngakuin. Dia udah tahu luar dalem, hahaha,” tutur Jheni.

 

“Pantes aja Yeriko nempel terus kayak perangko,” sahut Lutfi. “Chan, kita harus berhasil bikin dia mabuk malam ini!” bisik Lutfi di telinga Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Kenapa bisik-bisik?” tanya Yeriko.

 

“Nggak papa,” jawab Lutfi. “Buat rayain kemenangan kamu hari ini, gimana kalo kita bersaing minum bir?” ajak Lutfi. “Kita lihat, siapa di antara kita bertiga yang paling kuat?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Boleh, siapa takut?”

 

Ketiga pria itu bersaing untuk minum. Akhirnya, Yeriko yang berhasil membuat Chandra dan Lutfi mabuk berat. Jheni dan Icha kewalahan mengurus Lutfi dan Chandra yang mabuk berat.

 

Yuna juga memapah Yeriko kembali ke kamar mereka.

 

Yeriko duduk di tempat tidur sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Kalian kenapa harus bersaing minum segala?” tanya Yuna sambil menyodorkan segelas air putih ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil meraih gelas dari tangan Yuna. “Mereka selalu nantangin aku minum, tapi mereka nggak lebih kuat dari aku,” tutur Yeriko. Ia menenggak air putih sampai habis dan menyodorkan gelasnya kembali ke tangan Yuna.

 

Yuna langsung meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja.

 

“Uweek ...!” Yeriko langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Ia langsung memuntahkan isi perutnya.

 

Yuna tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Katanya kuat minum? Masih mabuk juga?”

 

“Setidaknya, nggak separah mereka,” jawab Yeriko. Ia merangkul tubuh Yuna dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.

 

Yuna memperbaiki posisi tidur Yeriko dan menyelimutinya.

 

Yuna langsung menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia bangkit dan meraih ponsel tersebut.

 

“Siapa yang telepon malam-malam begini?” tanya Yeriko sambil memejamkan mata.

 

“Bu Citra.”

 

“Bos kamu itu?”

 

“Iya.”

 

“Jawab aja, siapa tahu penting!”

 

Yuna mengangguk dan langsung menjawab panggilan dari Citra, Labor and Project Director di Wijaya Group.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan teleponnya.

 

“Halo, Yuna. Gimana kabarnya?”

 

“Baik, Bu.”

 

“Maaf, Ibu ganggu malam-malam gini. Kira-kira, kamu bisa nggak ke kantor besok pagi?”

 

“Pagi?”

 

“Iya.”

 

“Kayaknya nggak bisa, Bu. Aku masih di Trawas. Gimana kalau lusa?”

 

 “Oke. Lusa aku tunggu ya!”

 

“Ada apa ya?” tanya Yuna.

 

“Kita bicarakan nanti kalau kamu sudah bisa ke kantor. Oke?”

 

“Oke.”

 

“Maaf, sudah ganggu kamu malam-malam gini. Sampai ketemu lagi!”

 

Yuna menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan dari Citra sudah berakhir.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil memicingkan mata menatap Yuna.

 

“Disuruh dateng ke kantornya Lian.”

 

“Ada apa? Bukannya udah resign?”

 

“Nggak tahu,” jawab Yuna.

 

“Ya udah, nggak usah dipikirin!” pinta Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Kita bikin Ye kecil aja!” bisiknya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Yer, apa kamu udah siap jadi seorang ayah?” tanya Yuna sambil memainkan jari telunjuknya di leher Yeriko.

 

Yeriko langsung membuka mata dan menatap wajah Yuna. “Yakin!” jawabnya penuh percaya diri. “Kamu sendiri, apa sudah siap jadi Ibu?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kita udah berusaha terus, tapi ... kenapa sampai sekarang belum berhasil juga?”

 

“Mmh ... mungkin Tuhan masih pengen kita main-main dulu. Ngasih kesempatan buat kita berdua dulu.”

 

“Kalau seandainya ... aku nggak bisa hamil juga, apa aku bakal dipecat jadi menantu keluarga Hadikusuma?” tanya Yuna dengan wajah muram.

 

“Ah, jangan berpikir terlalu jauh!” pinta Yeriko. “Kita periksa ke dokter minggu ini. Gimana?”

 

Yuna mengangguk dan membenamkan wajahnya ke dada Yeriko. Ia sangat berharap bisa memberikan keturunan untuk melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Kasih Star Vote dan hadiah seikhlasnya biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 192 - Two Fighter, One Porsche || a Romance Novel by Vella Nine

 


Keesokan harinya, Chandra dan dan Lutfi menunjukkan sifat aslinya saat berlatih di ring tinju.

 

“Kamu nggak ikutan main?” tanya Yuna sambil menghampiri Yeriko yang sedang duduk di kursi sambil mengamati kedua sahabatnya.

 

“Nggak ada lawannya, kamu mau main sama aku?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Boleh,” jawab Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Nggak yakin,” sahut Yeriko. “Kamu jadi lawanku di atas ranjang aja, nggak usah di atas ring!” pintanya sambil mencubit dagu Yuna.

 

Yuna tersenyum dan langsung mengecup bibir Yeriko. “Siap, Bos!”

 

Yeriko tersenyum dan langsung mengulum bibir Yuna penuh kehangatan.

 

“Weh ...! Semalam masih kurang jatahnya? Sempat-sempatnya mesum di sini!” teriak Lutfi dari atas ring tinju.

 

Yeriko langsung melepas ciumannya dan menoleh ke arah Lutfi. “Ganggu orang aja!” sahutnya.

 

Yuna menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.

 

“Suami istri nggak berperasaan!” celetuk Lutfi. “Nggak kasihan apa sama kita yang belum nikah ini?”

 

Yuna dan Yeriko tergelak mendengar ucapan Lutfi.

 

Lutfi langsung turun dari ring dan memberikan sarung tinjunya kepada Yeriko. “Gantian!” perintahnya.

 

Yeriko menerima sarung tangan tersebut dan bergegas naik ke atas ring untuk berlatih bersama Chandra.

 

“Icha sama Jheni mana?” tanya Lutfi.

 

“Kayaknya, mereka lagi jalan-jalan di luar.”

 

“Oh.” Lutfi duduk, ia meraih botol mineral yang ada di sebelah Yuna dan menenggaknya hingga habis.

 

Yuna tersenyum, ia melihat Yeriko dan Chandra yang sedang bergulat di atas ring.

 

“Eh, itu bukannya si Andre itu ya?” tanya Lutfi sambil menunjuk ke arah pintu yang terbuka.

 

“Iya. Kok, dia di sini?” Yuna ikut menoleh ke arah pintu dan langsung bertatapan dengan Andre.

 

“Sama siapa tuh?” tanya Lutfi sambil menatap gadis yang menggandeng lengan Andre.

 

“Nggak tahu, mungkin pacarnya.” Yuna bangkit dan melangkah menghampiri Andre.

 

Andre ikut melangkah menghampiri Yuna. “Kamu di sini juga, Yun?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu sendiri, ngapain di sini?”

 

“Liburan. Kamu?”

 

“Iya. Liburan juga sama suamiku dan temen-temen yang lain.”

 

“Rame-rame?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kayaknya asyik banget?”

 

“Iya. Eh, ini siapa kamu?” tanya Yuna sambil tersenyum ke arah Yulia.

 

Yulia tersenyum, ia mengulurkan tangan ke arah Yuna. “Yulia, tunangannya Andre.”

 

Yuna menyambut uluran tangan Yulia dan tersenyum manis. “Ayuna. Temennya Andre waktu masih kecil.”

 

“Kamu kenapa nggak bilang kalo udah punya tunangan?” tanya Yuna sambil menepuk lengan Andre.

 

“Kami baru aja tunangan,” sela Yulia.

 

“Oh ... selamat ya! Semoga hubungan kalian langgeng sampai ke pelaminan. Awas aja kalo nikah nggak undang aku!” dengus Yuna sambil menatap wajah Andre.

 

Andre terdiam selama beberapa saat. Ucapan selamat yang keluar dari mulut Yuna begitu menyayat hatinya. Ia merasa hubungannya dengan Yuna menjadi semakin jauh.

 

Yeriko menghentikan latihannya begitu melihat Yuna berbincang dengan Andre. “Penggangu datang lagi,” celetuk Yeriko. Ia melepas sarung tinju, melemparkannya begitu saja dan melompat turun dari ring tinju.

 

Chandra dan Lutfi saling pandang. Lutfi mengedikkan bahu. Chandra turun dari ring dan menghampiri Lutfi.

 

“Kayaknya, bakal ada pertunjukkan bagus,” bisik Lutfi di telinga Chandra.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapinya.

 

“Kamu ngapain di sini?” tanya Yeriko sambil menatap Andre dan merangkul pinggang Yuna.

 

“Liburan,” jawab Andre santai.

 

“Kamu ngasih tahu dia kalo kita lagi di sini?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa dia ada di sini juga?”

 

“Tanya aja ke dia!” sahut Yuna sambil mengedikkan bahu.

 

“Aku ke sini buat liburan,” sela Andre. “Nggak sengaja ketemu sama Yuna. Emang kalo jodoh itu nggak akan ke mana,” lanjutnya sambil tersenyum.

 

“Jodoh apaan!? Yuna udah jadi istriku, masih aja kamu kejar-kejar!” sentak Yeriko.

 

Andre tersenyum sinis. “Yuna nikah sama kamu karena terpaksa. Kamu gunain ayahnya dia buat dapetin Yuna.”

 

“Seandainya yang biayain pengobatan ayah kamu itu aku. Apa kamu juga bersedia nikah sama aku?” tanya Andre sambil menatap Yuna.

 

“Kamu apa-apaan sih, Ndre!?” sentak Yuna.

 

“Oh, jadi ini cewek yang lagi dikejar-kejar sama Andre. Dia sudah bersuami?” batin Yulia dalam hati.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Andre. “Aku nggak maksa Yuna buat nikah. Dia sendiri yang bersedia jadi istriku!” tegasnya.

 

Andre tersenyum sinis. “Kamu pikir aku nggak tahu isinya otak kamu yang licik itu?”

 

Yeriko mengepalkan tangannya sambil menatap Andre penuh amarah.

 

Yuna langsung memeluk lengan Yeriko begitu menyadari kalau emosi suaminya terpancing. “Udah, kita balik aja!” pinta Yuna sambil memutar tubuh Yeriko yang kaku.

 

“Gimana kalo kita main tinju? Kalo kamu kalah, kamu nggak boleh ngelarang aku deketin Yuna!” seru Andre.

 

“Kamu ke sini sama perempuan lain dan masih pengen ngerebut Yuna dari aku?” Dengan cepat tangan Yeriko mencengkeram bagian depan kaos Andre.

 

“Yer, nggak usah berantem!” pinta Yuna sambil berusaha melepas lengan Yeriko dari tubuh Andre.

 

Yeriko melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Andre.

 

Andre tertawa kecil. “Kenapa? Kamu takut kalah?” tantangnya.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. “Oke. Aku ambil tantangan kamu. Kalo kamu kalah, mobil kamu harus kamu tinggal di sini buat aku!”

 

Andre mengangkat dua alisnya. “Oke.” Andre menganggukkan kepala. Permintaan Yeriko bukan hal yang sulit baginya. Ia pikir, Yeriko akan memintanya menjauhi Yuna. Ternyata, Yeriko pria yang begitu terang-terangan.

 

“Kenapa kamu minta mobilnya dia?” bisik Yuna sambil mengiringi langkah Yeriko.

 

“Lumayan kan dapet satu mobil Porsche,” jawab Yeriko sambil memainkan alisnya.

 

“Licik! Aku pikir, kamu bakal nyuruh dia jauhin aku. Kayak di film-film gitu.”

 

“Kamu kira ini drama? Biar cinta, tetep aja harus realistis.” Yeriko tertawa kecil sambil memakai sarung tinju. “Aku percaya kalo kamu nggak bakal berpaling dari aku. Buat apa aku minta dia jauhin kamu? Kamu yang harus jauhin dia! Oke?” Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... aku udah lemes banget nih. Butuh energi tambahan. Cium!” pinta Yeriko sambil menyodorkan wajahnya ke hadapan Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil sambil mengecup bibir Yeriko. “Semangat!”

 

Yeriko mengerdipkan mata sambil mengacungkan jari telunjuknya. “Porsche,” tuturnya tanpa suara.

 

Yuna tersenyum kecil sambil mengacungkan jempolnya. Ia tak menyangka kalau suaminya yang sudah kaya raya itu begitu mata duitan.

 

Yuna menggigit jarinya sambil menatap Yeriko dan Andre yang sudah saling berhadapan di atas ring. Ia langsung memejamkan mata begitu mereka mulai saling pukul.

 

Sementara itu, Yulia sangat yakin kalau Andre akan memenangkan pertandingan.

 

Andre terus menghujani pukulan ke arah Yeriko. Membuat jantung Yuna ingin melompat dari tempatnya. “Ya Allah ... tolong suamiku, jangan sampai kalah!” Ia terus berdoa dalam hati.

 

Pertahanan Yeriko sangat kuat. Meski dihujani pukulan beberapa kali, ia masih bisa tetap bertahan.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Andre. Ia mengamati napas dan tenaga Andre yang semakin berkurang. Ia menoleh ke arah Yuna yang berdiri menatapnya. Senyuman manis istrinya berhasil membuat semangatnya semakin meningkat.

 

Dalam waktu beberapa menit, Yeriko balas menghujani pukulan ke tubuh Andre hingga Andre tersungkur ke lantai dan tak sanggup bangkit lagi.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia melepas sarung tinju, melemparkan tepat di hadapan Andre yang tak berdaya. “Payah! Kalau mau main-main, jangan sama aku!”

 

Andre menatap Yeriko penuh kebencian. “Sial!”

 

Yulia langsung menghampiri Andre dan memapahnya turun dari ring. Ia menatap sengit ke arah Yuna dan Yeriko. Ia langsung membawa Andre keluar dari ruang olahraga tersebut.

 

Yuna dan Yeriko tersenyum sambil menatap kepergian Andre dan Yulia.

 

“Good job, My Husband!” seru Yuna. Ia langsung mengusap peluh Yeriko menggunakan handuk kecil yang ia bawa.

 

Yeriko tersenyum. “Dapet dua-duanya kan? Aku bisa ngelarang Andre deketin kamu dan dapet kunci mobil sekalian.”

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 191 - Cheerfull Night at Vanda || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Sate, ayam bakar, bebek bakar, rendang, iga bakar, kepiting, jagung bakar, rica-rica ...” Lutfi mengamati satu per satu makanan yang sedang disiapkan oleh Chandra dan Jheni. “Eh, gudeng sama rendangnya mana?” tanya Lutfi.

 

“Tak sampluk kowe!” sahut Chandra kesal.

 

“Hahaha. Keluar jawanya,” tutur Lutfi sambil tertawa lebar. “Jhen, kamu kan keturunan orang Padang, masa nggak bisa bikin rendang?”

 

“Bukan nggak bisa, Lut. Bikinnya ribet dan lama. Ini aja udah banyak banget. Kasihan Chandra. Mau kulempar pake bara?” sahut Jheni kesal.

 

“Kan ada kamu yang bantuin. Itung-itung, belajar berumah tangga. Ke pasar bareng, masak bareng, makan bareng, yang belum ... tidur bareng,” tutur Lutfi sambil cekikikan.

 

“Kamu!?” Jheni mendelik ke arah Lutfi dan langsung melempar spatula yang ada di tangannya.

 

Lutfi langsung berlari menghindar dan menghampiri Yeriko yang sedang duduk bersama Yuna dan Icha.

 

Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi candaan Lutfi.

 

“Itu bocah ngeselin banget sih!?” celetuk Jheni sambil menatap Lutfi dari kejauhan. “Lebih ngeselin dari Yuna. Berdua cocok tuh suka ngejahilin orang.”

 

Jheni menoleh ke arah Chandra yang sedang memanggang sate. “Kamu kenapa sih diem aja dikerjain sama Lutfi?”

 

“Terus, aku harus gimana?”

 

“Lawan, kek,” jawab Jheni kesal.

 

Chandra tertawa kecil. “Dia emang begitu. Makin dilawan makin jadi. Ikuti aja apa maunya!”

 

Jheni menghela napas menatap Chandra. Ia masih tak mengerti kenapa ada pria yang begitu sabar menghadapi orang lain.

 

“Jangan lihatin aku terus, ntar jatuh cinta!” tutur Chandra sambil memanggang makanan berikutnya.

 

“Eh!?” Jheni gelagapan mendengar ucapan Chandra. “Aku udah jatuh cinta sama kamu dari dulu, kamunya aja yang nggak peka,” sahut Jheni dalam hati.

 

“Ini, bawa ke sana!” pinta Chandra sambil menyodorkan piring berisi tumpukan sate ke arah Jheni.

 

Jheni mengangguk dan membawa sate tersebut ke meja tempat mereka berkumpul.

 

“Yeay! Udah mateng!” seru Yuna begitu Jheni meletakkan makanan ke atas meja. Ia langsung mencomot satu tusuk sate dari atas piring.

 

“Ini punyaku,” tutur Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Mau ...!” Yuna menatap manja ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Suapin aku!”

 

Yuna meniup daging sate yang masih panas dan menyuapkannya ke mulut Yeriko.

 

“Astaga! Kalian ini mesra-mesraan kayak gini, nggak kasihan sama yang jomblo?” tanya Lutfi.

 

“Eh!? Siapa yang jomblo?”

 

Lutfi menunjuk Jheni dengan menggerakkan alisnya.

 

“Dia ke sini sama Chandra, anggap aja lagi pacaran,” tutur Yeriko.

 

“Bisa gitu ya?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Kalian ini, seneng banget kalo ngeledek aku sama Chandra,” sahut Jheni.

 

“Makanya, buruan jadian!” tutur Lutfi.

 

Jheni menoleh ke arah Chandra yang masih sibuk membakar daging dan ikan untuk teman-temannya. “Huft, udah sedekat ini ... dia masih aja nggak mau nembak aku.” Jheni menundukkan kepalanya.

 

“Pekok memang dia itu,” tutur Lutfi.

 

“Kamu kalo ngatain orang, suka bener,” sahut Yuna sambil tertawa.

 

“Iya, cowok tuh kalo nggak peka ya pekok,” tutur Lutfi kesal.

 

“Bantuin, Lut!” pinta Yuna.

 

“Udah aku bantuin,” sahut Lutfi. “Aku udah atur biar dia bisa pergi ke sini sama Jheni, ke pasar bareng, masak bareng. Kurang apa lagi coba?” tanya Lutfi sambil menatap Jheni dan Yuna bergantian. “Tidur bareng yang belum,” lanjutnya sambil tertawa.

 

“Sembarangan kalo ngomong!” Jheni langsung melempar kulit kacang ke arah Lutfi.

 

“Jhen, kenapa sih suka banget lempar-lempar?” tanya Lutfi sambil membersihkan bajunya. “Bajuku udah kotor ini gara-gara spatulamu tadi itu.”

 

“Biar aja!” Jheni menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.

 

“Udah, kamu ke sana bantu Chandra!” pinta Lutfi. “Hush, hush! Ganggu orang pacaran aja,” usirnya.

 

Jheni langsung bangkit dari kursi, mencebik ke arah Lutfi dan bergegas pergi menghampiri Chandra.

 

Beberapa menit kemudian, Chandra dan Jheni sudah menghidangkan makanan ke atas meja. Mereka berenam makan bersama sambil bersenda gurau di bawah taburan bintang yang menghiasi langit malam di Trawas.

 

“Chan, besok latihan tinju, yok!” ajak Lutfi sambil menenggak bir yang ada di tangannya.

 

“Boleh.”

 

“Mau taruhan lagi?” tanya Yeriko.

 

“Nggak usah taruhan!” sahut Jheni. Ia sangat kasihan dengan Chandra yang sudah lelah seharian karena kalah taruhan.

 

“Jiiah .. nggak berani? Payah!” sahut Lutfi.

 

“Latihan biasa aja, nggak usah taruhan,” tutur Chandra.

 

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Eh, kita main game yuk!” ajak Yuna.

 

“Game apa?”

 

“Enaknya apa?”

 

“Truth or Dare!” sahut Lutfi.

 

“Ah, nggak mau. Main Buka Rahasia aja! False or True, gimana?”

 

“Apaan!?” sahut Lutfi sambil menatap Yuna.

 

“Berani nggak?”

 

“Oke. Siapa takut!?” sahut Lutfi.

 

“Oke. Jawabnya harus cepet ya! Yang jawabnya lama, harus minum ini!” tutur Yuna sambil meletakkan satu gelas bir di tengah meja.

 

“Aku duluan!” seru Yuna. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari mangsa yang bisa ia tanya. Matanya langsung tertuju pada Chandra.

 

“Chandra ... !” Yuna menatap Chandra menggoda. “Jheni pernah tidur di rumah kamu. False or True?”

 

Chandra melebarkan kelopak matanya. Ia menoleh ke arah Jheni yang duduk di sebelahnya.

 

“Ah, lama! Minum!” seru Yuna sambil menyodorkan segelas bir ke hadapan Chandra.

 

Chandra langsung meraih gelas dari tangan Yuna dan menenggaknya.

 

“Giliran aku!” seru Lutfi sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap wajah teman-temannya satu per satu. Matanya tertuju pada Yuna. “Kamu nikah sama Yeriko karena terpaksa. False or True?”

 

“False. Eh, True. Eh, False ...” Yuna tertawa kecil sambil menenggelamkan wajahnya di ketiak Yeriko.

 

“Aargh ... nggak ada jawaban kayak gitu! Minum!” Lutfi menyodorkan segelas bir ke arah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil sambil meraih gelas dari tangan Lutfi dan meminumnya.

 

“Giliran kamu, Cha!” seru Lutfi sambil menatap Icha yang duduk di sebelahnya.

 

“Mmh ...” Icha mengedarkan pandangannya dan menatap Lutfi. “Kamu pernah mukul meja sampe hancur waktu berantem di bar. False or True?”

 

“True,” jawab Lutfi.

 

“Wuiih ... serius, Lut?” tanya Yuna.

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Iya. Dia ngancurin meja cuma sekali pukul,” sahut Icha.

 

“Kamu berantem sama siapa?” tanya Yuna.

 

“Sama preman yang gangguin Icha. Eh, giliran kamu, Jhen!” pinta Lutfi. Ia meraih gelas bir dari tangan Icha dan memberikan pada Jheni. “Aku aman,” tuturnya sambil tertawa senang.

 

Jheni bangkit dari tempat duduk dan langsung menatap Yeriko. “Yeriko, kamu jatuh cinta sama Yuna pada pandangan pertama. False or True?”

 

“True,” jawab Yeriko santai.

 

Jheni kembali duduk. Ia menyodorkan gelas bir kepada Chandra. “Giliran kamu. Mau buka rahasia siapa?”

 

Chandra bangkit dan langsung menatap Lutfi. “Kamu pernah nginap di rumah Icha. True or False?”

 

“False. Hahaha,” jawab Lutfi sambil tertawa.

 

“Iih.. bohong!” dengus Chandra sambil menunjuk wajah Lutfi.

 

“Waktu itu aku cuma bercanda, Chan. Tanya aja ke Icha!”

 

“Pernah atau nggak, Cha?” tanya Chandra sambil menatap Icha.

 

Icha menggeleng. “Nggak pernah.”

 

“Huu ... minum!” seru Lutfi sambil menjulurkan lidahnya ke arah Chandra.

 

“Sialan kamu!” maki Chandra sambil menatap Lutfi. Ia langsung menenggak bir yang ada di tangannya.

 

Lutfi tergelak diiringi dengan tawa teman-teman yang lainnya.

 

Mereka menghabiskan malam di Vanda penuh suka cita dan kembali ke kamar masing-masing.

 

Lutfi memapah Chandra masuk ke kamar karena Chandra mabuk berat. Chandra yang paling banyak minum karena selalu kalah dalam permainan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Kasih Star Vote dan hadiah seikhlasnya biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas