Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 212 - Romantic and Noisy || A Romance Novel by Vella Nine

 


“Abis ngapain sama Andre?” tanya Yeriko saat Yuna menghampirinya.

 

Yuna tersenyum dan menceritakan pembicaraannya dengan Andre.

 

“Dia belum kapok?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengedikkan bahunya.

 

“Hmm ... semua salahku,” tutur Yeriko sambil menarik Yuna ke pelukannya.

 

“Eh!? Salah kenapa?”

 

“Punya istri terlalu cantik,” jawab Yeriko sambil tersenyum. Ia mengecup kening Yuna dan mengedarkan pandangannya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. Ia merapikan rambut Yeriko yang sedikit berantakan.

 

“Aku kenalin kamu sama kolega-kolegaku,” Yeriko mengajak Yuna berkeliling dan memperkenalkan istrinya pada beberapa teman bisnis yang belum mengenal Yuna.

 

Pasangan serasi ini berhasil merebut perhatian semua orang.

 

“Yer, menurut kamu  ... kenapa Chandra sampai sekarang nggak nembak Jheni? Tapi ... dia selalu bawa Jheni ke pertemuan-pertemuan penting. Sebenarnya, perasaan Chandra ke Jheni gimana sih?”

 

“Nggak tahu.”

 

“Iih ... kok, nggak tahu?” Yuna menepuk bahu Yeriko. “Kamu kan deket sama dia. Apa nggak bisa nyari informasi antara pria dan pria?” tanya Yuna sambil memainkan  matanya.

 

Yeriko mengernyitkan dahi menatap Yuna.

 

“Puhlisss! Please ...!”  Yuna menangkup kedua telapak tangannya.

 

Yeriko menarik napas. “Aku pikirkan dulu.”

 

“Pikirkan? Berapa lama?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... nggak tahu.”

 

“Iih ... rese banget sih!?” dengus Yuna.

 

Yeriko tersenyum sambil mengecup kening Yuna.

 

“Hei, kalian ini ... dari tadi mesra-mesraan mulu. Bikin orang lain iri aja.” Jheni tiba-tiba sudah ada di samping Yuna.

 

Yuna dan Yeriko tertawa kecil menatap Jheni.

 

“Itu Chandra!” Yuna menunjuk Chandra dengan dagunya. “Pepet aja napa?”

 

“Iih ... dia lagi sibuk ngomongin bisnis. Aku nggak paham obrolan mereka.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kalo gitu, biar aku yang temani Chandra. Oh ya, Jhen, jagain Yuna!” pinta Yeriko. “Jangan sampai minum alkohol dan makan makanan pedas!”

 

Jheni mengangguk. “Siap, Tuan!”

 

Yeriko tertawa kecil dan bergegas menghampiri Chandra.

 

“Yun, kamu beneran nggak boleh makan pedas?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Bisa ketelan tuh makanan?”

 

“Bisa, Jhen. Kamu sebagai sahabat harusnya dukung aku, bukan ngeledekin!”

 

“Idih, baru ngeledekin sekali aja udah diprotes. Kamu hampir tiap hari ngeledekin aku sama Chandra.”

 

“Hahaha.” Yuna tergelak.

 

Jheni mengerutkan hidungnya sambil menggelitik pinggang Yuna. Mereka tertawa ceria bersama.

 

“Kelihatannya seneng banget setelah selesai godain tunangan orang?” Yulia tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.

 

Yuna dan Jheni berbalik, mereka menatap Yulia yang sudah berdiri di hadapan mereka.

 

“Kamu barusan ngatain siapa?” tanya Jheni.

 

“Siapa lagi kalau bukan temen kamu yang sok cantik ini?”

 

“Oh ... kamu mau bilang kalau Yuna abis godain Andre?” tanya Jheni sambil mendelik ke arah Yulia. “Asal kamu tahu, si Andre yang nggak berhenti ngejar-ngejar Yuna. Udah tahu kalau Yuna bersuami. Masih aja digangguin.”

 

“Andre nggak mungkin mau sama istri orang kalau dia nggak kecentilan godain Andre duluan.”

 

“Apa kamu bilang?” sentak Yuna. Ia tidak tahan mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yulia.

 

“Yulia, kamu apa-apaan?” Andre langsung menarik lengan Yulia.

 

Yulia mengernyitkan dahi menatap Andre. “Kamu belain dia?”

 

“Aku nggak akan biarin kamu nyentuh Yuna!” tegas Andre.

 

“Kamu kenapa sih masih aja ngejar-ngejar dia, Ndre? Dia jelas-jelas udah bersuami. Kenapa kamu nggak pernah lihat aku?”

 

Yuna menatap Yulia yang sedang terbakar cemburu.

 

“Kamu bisa jaga sikap, nggak?” tanya Andre. “Kita nggak ada hubungan apa-apa. Kamu nggak berhak buat ngelarang aku deket sama siapa aja!”

 

“Kamu aneh banget sih? Ada banyak cewek di dunia ini. Kenapa harus dia?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Andre. “Ndre, kamu urus tunangan kamu ini dengan baik. Ini acara ulang tahun Bunda Yana. Nggak enak kalo bikin keributan di sini cuma karena salah paham doang!” pinta Yuna sambil berbalik pergi.

 

Andre langsung menatap tajam ke arah Yulia. “Yul, aku sama Yuna udah bersahabat dari kecil. Jarak kami memang semakin jauh sejak dia nikah. Aku nggak suka kamu ngata-ngatain dia kayak gitu. Aku yang ngejar dia dari dulu.”

 

“Ndre, kamu tahu kalau Yuna udah nikah. Kenapa kamu masih ngejar-ngejar dia?”

 

“Karena dia baik.”

 

“Aku juga baik sama kamu. Kenapa kamu nggak lihat aku?”

 

“Kalo sikap kamu kayak gini, aku bakal makin benci sama kamu!” tegas Andre. “Aku udah ngasih kamu kesempatan, Yul. Jangan bikin aku semakin muak sama kamu!”

 

“Kamu muak sama aku? Aku muak sama perempuan penggoda itu!” Yulia menepis tangan Andre dan langsung mengejar Yuna.

 

“Yulia ...!” Andre mengerutkan wajah sambil mengepalkan tangannya.

 

Yulia melangkah cepat dan berusaha menyerang Yuna.

 

Yeriko menatap dingin dan menghalau tangan Yulia yang nyaris menyentuh tubuh Yuna.

 

Yulia langsung menghentikan langkahnya dan menatap Yeriko. “Kamu ... suaminya Yuna kan?”

 

Yeriko mengangguk.

 

“Kamu jagain istri kamu ini, jangan sampe godain cowok lain!” sentak Yulia.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu nggak perlu ajari aku!”

 

Yulia gelagapan. Ia justru kesal dengan sikap Yeriko yang begitu angkuh.

 

“Pantes aja si Yuna masih ngejar laki-laki lain. Punya suami kayak gini,” tutur Yulia sambil tersenyum sinis.

 

“Heh, kamu jangan asal ngomong ya!” Yuna menerobos tubuh Yeriko dan menatap Yulia kesal. “Kamu masih kurang puas ngata-ngatain aku? Masih ngatain suamiku juga?”

 

“Yun, biar aku yang urus dia!” pinta Yeriko sambil menarik Yuna ke belakang punggungnya. Ia langsung menatap Yulia sambil mengangkat dagunya.

 

“Kamu tadi mau ngatain aku apa?” tanya Yeriko sambil menatap Yulia.

 

“Sombong!” dengus Yulia. “Kalau kamu emang kaya, kamu nggak akan ambil mobil Andre. Jangan-jangan, perusahaan kamu udah mau bangkrut. Makanya, ambil mobil Andre buat menunjang hidup kamu?”

 

Yeriko mengernyitkan dahi mendapati tuduhan Yulia. Ia menatap Yulia sambil tertawa kecil. “Kamu punya otak nggak? Aku ambil mobil Andre bukan karena aku jatuh miskin. Aku justru bisa bikin keluarga kamu jatuh miskin!”

 

“Nggak semudah itu!” sahut Yulia kesal.

 

“Mudah. Dalam dua hari, aku bakal akuisisi perusahaan keluarga kamu!” tegas Yeriko penuh keyakinan.

 

Yulia membelalakkan mata. Ia mulai cemas dengan ucapan Yeriko. “Dua hari? Nggak mungkin dia bisa ngelakuin itu cuma dalam dua hari?” batin Yulia.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia berbalik sambil merangkul pinggang Yuna dengan mesra.

 

Yulia menghentakkan kakinya. Ia langsung ditarik paksa oleh Andre keluar dari ruang acara.

 

“Berani-beraninya kamu bikin gara-gara sama Yeriko. Kamu tahu nggak apa akibatnya kalau sampai dia bener-bener mengakuisisi perusahaan kamu?” Andre melepas lengan Yulia dan menekan tubuh gadis itu ke badan mobil.

 

“Aku yakin dia nggak serius. Cuma mau ngancam aku aja biar aku takut sama dia,” sahut Yulia.

 

Andre mengerutkan hidung sambil mengepal tangan. Ia meninju badan mobil Yulia. “Kamu bener-bener nggak ngerti siapa dia.”

 

Yulia terdiam. Ia masih tidak mengerti kesalahan yang ia lakukan. Ia merasa kalau Yeriko hanya menakut-nakutinya saja. 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 211 - Celah Kecil || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun ...!” Jheni menyenggol lengan Yuna.

 

Yuna menoleh ke arah Jheni, melepas pelukan Yeriko dan bertanya, “ada apa?”

 

“Kayaknya si Yulia nggak suka banget sama kamu. Kenapa dia?” bisik Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahu sambil tersenyum. “Cemburu kali,” sahutnya sambil tertawa kecil.

 

“Nyonya Ye memang pandai bikin orang cemburu,” tutur Jheni lirih. “Panasin sekalian, Yun!”

 

“Hush, jangan mancing keributan, Jhen!” bisik Yuna.

 

“Aku nggak mancing. Lihat aja sebentar lagi!”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

 

“Kenapa?” Yeriko memerhatikan Yuna dan Jheni yang saling berbisik.

 

Yuna membisikkan sesuatu ke telinga Yeriko. Yeriko hanya tersenyum kecil sambil mengangguk menanggapinya.

 

“Jhen, tadi aku cobain kue enak banget. Nggak tahu apa namanya. Aku belum pernah makan. Yuk, kita ke sana lagi!” Yuna menarik Jheni menuju salah satu meja yang berisi aneka dessert.

 

Jheni mengikuti Yuna sambil mengamati semua makanan yang ada di atas meja. “Makanan mana yang kamu maksud?”

 

Yuna meringis. Ia menyuap potongan brownis ke mulutnya.

 

“Kamu bohongin aku, Yun?”

 

Yuna terkekeh geli. “Aku males aja berhadapan sama tunangannya Andre. Tunangan Lian aja udah bikin aku muak, Jhen. Apalagi kalau sampai si Yulia juga nyerang aku gara-gara Andre.”

 

Jheni tertawa kecil. “Aku heran sama kamu, Yun.” Jheni menggenggam rahang Yuna dan memerhatikan wajahnya dengan teliti. “Kamu nggak pake susuk kan? Kenapa cowok-cowok itu tergila-gila sama kamu walau kamu udah bersuami?”

 

“Apaan sih!?” Yuna menepis lengan Jheni. “Aku nggak pernah pake-pake begituan. Kuno banget!” tuturnya kesal.

 

Jheni tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Abisnya ... aku iri sama kamu. Dikejar-kejar sama cowok ganteng dan kaya meski sudah punya suami yang nggak kalah ganteng dan kaya. Aku yang jomlo kayak gini, malah nggak ada yang ngejar-ngejar.”

 

“Uch ... kamu jangan ngomong gitu, dong! Mungkin banyak aja cowok yang lagi ngejar kamu. Tapi, kamu nggak lihat karena sibuk ngejar Chandra.”

 

Jheni langsung menoleh ke arah Chandra yang sedang berbincang dengan beberapa tamu yang ada di ruangan tersebut. “Sampai sekarang, dia masih aja belum nyatakan cinta ke aku. Bayangin aja, udah sedekat ini dan dia masih aja belum ngerespon perhatian aku.”

 

“Apa perlu aku bilang ke Chandra, kalau kamu suka sama dia?”

 

“Nggak ada gunanya kalo Chandra emang nggak suka sama aku. Dia belum bisa ngelupain Amara sepenuhnya. Aku nggak mau jadi bahan pelampiasan. Biar aja, semua berjalan seperti ini. Asal masih bisa deket sama dia. Tanpa status yang jelas, aku tetep bahagia.”

 

Yuna terharu mendengar ucapan Jheni. Ia langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu.

 

“Yun ...!” Andre tiba-tiba sudah berdiri di belakang Yuna.

 

Yuna berbalik dan menatap Andre yang berdiri di belakangnya. “Ada apa, Nde?”

 

“Aku mau ngomong berdua sama kamu. Penting.” Ia menatap Jheni yang berdiri di belakang Yuna.

 

Jheni tersenyum. “Kalian bicaralah!” Ia melangkah pergi meninggalkan Andre dan Yuna.

 

“Ada apa, Ndre?” tanya Yuna.

 

“Yun, kamu jangan salah paham!” pinta Andre.

 

Yuna mengernyitkan dahinya. “Eh!? Salah paham gimana?”

 

“Aku sama Yulia nggak ada hubungan apa-apa. Dia yang ngaku-ngaku jadi tunangan aku.”

 

Yuna tertawa kecil mendengar pernyataan Andre.

 

“Ada juga nggak papa, Ndre. Aku malah senang banget lihat kamu bisa punya pasangan.”

 

“Aku nggak suka sama dia. Keluarga yang jodohin kami. Kami sama sekali nggak ada hubungan apa-apa.”

 

Yuna tertawa kecil. “Kamu nggak perlu capek-capek jelasin ini ke aku. Aku bukan siapa-siapa kamu, Ndre. Kamu sama Yulia, cocok banget.”

 

Andre menarik napas dalam-dalam sambil menatap Yuna. “Aku cuma suka sama kamu, Yun.”

 

“Aku udah punya suami, Ndre. Nggak ada pengaruhnya sama sekali kamu mau punya tunangan atau nggak. Aku lebih suka, kalau kamu bisa buka hati kamu buat orang lain. Ngejar aku, kamu Cuma ngelakuin hal yang sia-sia. Karen aku nggak akan pernah menghianati suamiku sendiri.”

 

“Yun, kamu nikah sama Yeriko cuma terpaksa demi ayah kamu. Kenapa kamu mau bertahan kayak gini? Jelas-jelas, nggak ada perasaan cinta di antara kalian.”

 

“Awalnya, aku emang nggak cinta sama Yeriko. Tapi, dia tetep suamiku dan sekarang aku cinta banget sama dia. Jadi, kamu nggak usah berpikir buat ngejar aku lagi, Ndre!” pinta Yuna. “Yulia kelihatan cocok banget sama kamu. Lama-lama, bisa tumbuh cinta di antara kalian. Kalian cuma butuh waktu.” Yuna tersenyum sambil menatap Andre.

 

“Yun ...!”

 

“Ndre, aku pasti bahagia lihat kamu bisa menjalani hidup yang baik di masa depan. Jangan sia-siakan wanita yang lagi ada di samping kamu demi wanita yang sudah dimiliki oleh orang lain.”

 

Andre terdiam. Ia masih tidak mengerti kenapa Yuna selalu menolaknya. Ia masih berharap kalau Yuna bisa berpisah dengan Yeriko sebab pernikahan mereka bukan karena saling mencintai. Bisa saja, perasaan cinta yang Yuna rasakan saat ini hanya sementara saja karena Yeriko masih memperlakukannya begitu istimewa.

 

Yuna tersenyum sambil meraih lengan Andre. “Ndre, lepasin ya! Kamu akan lebih bahagia saat bisa membuka hati kamu untuk orang lain!” pinta Yuna. Ia mengelus punggung tangan Andre. Melepas tangannya perlahan dan berbalik pergi. Ia melangkah sambil tersenyum penuh percaya diri menghampiri suaminya.

 

Dari kejauhan, sepasang mata Yuli terus memerhatikan Andre dan Yuna. Perasaannya semakin tak karuan. Ia merasa kalau kehadiran Yuna adalah ancaman terbesar bagi hubungannya dengan Andre yang baru saja akan terjalin.

 

“Kamu siapanya Andre?” tanya Bellina sambil menghampiri Yulia.

 

Yulia langsung menoleh ke arah Bellina. “Kamu siapa?”

 

“Kenalin, aku Bellina. Tunangannya Wilian Wijaya. Temennya Andre juga waktu kecil.” Bellina mengulurkan tangannya ke arah Yulia.

 

“Oh. Yulia. Tunangannya Andre.” Yulia membalas uluran tangan Bellina.

 

“Sombong banget nih cewek?” gumam Belina dalam hati. Ia menarik napas perlahan dan tersenyum manis ke arah Yulia.

 

“Oh, kamu tunangannya Andre? Aku baru tahu kalau Andre punya tunangan. Selama ini ... Andre selalu deketin Yuna. Aku pikir, dia nggak punya hubungan sama orang lain,” tutur Bellina.

 

“Kamu tahu siapa cewek yang lagi sama Andre itu?” tanya Yulia.

 

Bellina mengangguk sambil memainkan gelas jus di tangannya. “Dia bukan cuma deketin Andre yang masih single. Dia juga deketin tunanganku. Wanita penggoda kayak dia, siapa yang nggak kenal?”

 

“Maksud kamu?”

 

Bellina mengangguk kecil.

 

“Dia udah punya suami. Tapi masih gangguin tunangan orang?” Yulia mengernyitkan dahi.

 

Bellina mengangguk. “Secara, cowok yang udah punya tunangan, nggak akan tertarik sama istri orang kalau nggak digodain duluan kan?”

 

Yulia manggut-manggut. Ia kini mengerti kenapa Andre terus mengejar Yuna dan mengabaikan dirinya yang telah melakukan banyak hal untuk Andre. Ia menatap Yuna dari kejauhan dengan tatapan penuh kebencian.

 

Bellina tersenyum puas melihat raut wajah Yulia. Ia bisa menggunakan Yulia untuk menindas Yuna. Cukup memberikan sedikit bumbu dalam kisah-kisah Yuna dan Andre, maka ia bisa memperalat Yulia untuk membalaskan dendamnya.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 210 - Kehadiran Walikota || a Romance Novel by Vella Nine

 

 


 

“Ada apa ini?” tanya Lian sambil menghampiri Bellina.

 

“Bagus kamu datang. Kasih tahu tunangan kamu ini buat berhenti ganggu istriku!” sahut Yeriko dingin.

 

“Ini ada apa?” tanya Lian bingung.

 

“Li, Bellina nggak ada capeknya gangguin Yuna mulu. Aku heran, kenapa sih dia masih aja bikin Yuna susah. Yuna udah memilih keluar dari keluarga kalian. Masih kurang puas?” sahut Jheni kesal.

 

Lian menoleh ke arah Bellina. “Kamu ... gangguin Yuna lagi?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Aku udah peringatin kamu berkali-kali. Jangan sampe kesabaranku habis!” Yeriko menunjuk wajah Bellina penuh kebencian.

 

Bellina semakin kesal karena Lian juga memilih untuk membela Yuna.

 

“Sorry, Yer!” Lian langsung menarik Bellina menjauhi kerumunan orang-orang tersebut.

 

“Ckckck, itu anak bener-bener nggak tahu malu,” celetuk Bunda Yana.

 

“Maaf, Bunda ... aku bikin kekacauan di sini,” tutur Yuna.

 

“Bukan salah kamu,” sahut Bunda Yana sambil tersenyum menatap Yuna.

 

Yuna balas tersenyum. Sebenarnya, ia tidak ingin membuat kekacauan di acara pesta. Namun, sikap Bellina yang sudah keterlaluan membuatnya tidak tahan dan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang. Untungnya, suami, mama mertua dan sahabatnya ikut membantunya menyelesaikan Bellina.

 

Sementara itu, Lian membawa tunangannya menjauh dari keramaian. “Bel, kamu bisa nggak berhenti gangguin Yuna?”

 

“Kamu belain dia?”

 

“Aku bukan belain dia. Tapi, sikap kamu ini udah keterlaluan. Nggak seharusnya kamu kayak gini di sini. Kamu selalu aja bikin masalah setiap kali ada Yuna. Apa nggak bisa diam-diam aja?”

 

“Dia yang cari masalah duluan sama aku.”

 

“Nggak mungkin dia yang cari gara-gara duluan. Aku tahu banget gimana dia. Dia nggak akan bikin keributan sama orang lain kalau dia nggak terganggu.”

 

“Oh ... sekarang kamu lebih belain dia daripada aku? Bilang aja kalo kamu masih cinta sama dia!” seru Bellina.

 

“Bel, bisa nggak kamu berpikir santai? Aku sama Yuna udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Dia juga udah nikah sama Yeriko.”

 

“Kenapa? Nggak ada hubungannya dia udah nikah atau belum. Bisa aja kamu suka sama istri orang. Sama aja kayak Andre yang ngejar Yuna terang-terangan walau dia tahu kalau Yuna udah nikah.”

 

“Bel, bisa nggak kamu berpikir lebih terbuka? Kamu lagi hamil muda. Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Lian. “Lebih baik, kamu pikirkan kondisi perkembangan anak kita!”

 

Bellina terdiam. Ia semakin merasa posisinya tersingkir karena semua orang membela Yuna termasuk tunangannya sendiri.

 

“Bel, sudahlah. Kamu lupain semua masa lalu yang udah terjadi antara kita bertiga. Kita udah punya kehidupan masing-masing. Daripada kamu sibuk ngurusin Yuna, lebih baik kamu fokus sama hubungan kita!” pinta Lian sambil merengkuh tubuh Bellina ke pelukannya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Bellina agar tidak terus menerus mengintimidasi Yuna.

 

Semakin banyak hal yang dilakukan Bellina, bukan membuatnya semakin cinta. Ia justru merasa kalau Yuna jauh lebih baik dari Bellina. Ia tidak tahu bagaimana cara melindungi Yuna tanpa menyakiti Bellina dan calon anak yang ada dalam rahim tunangannya itu.

 

Bellina tersenyum bahagia dalam pelukan Lian. Matanya tiba-tiba tertuju pada sosok Andre yang menggandeng wanita cantik masuk ke ruangan. Ia tersenyum puas melihatnya.

 

Di saat bersamaan, Walikota masuk ke ruangan. Ia langsung menyapa Yeriko dan Chandra yang sedang asyik berbincang.

 

“Hei, gimana kabar kalian?” tanya Damono sambil menatap Yeriko dan Chandra.

 

Yeriko dan Chandra menunduk hormat.

 

“Baik, Pak. Gimana kabar Bapak?” sapa Yeriko.

 

“Baik, baik. Gimana proyek yang lagi kamu kerjakan? Lancar?” tanya Damono.

 

Yeriko mengangguk. “Semua lancar.”

 

Damono menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Saya dengar, kamu juga sudah menikah ya?”

 

Yeriko tersenyun sambil mengangguk.

 

Damono tertawa kecil. “Memang benar apa kata orang, menikah itu bisa mendatangkan rejeki. Saya dengar, dalam waktu lima bulan ini kamu sudah mengakuisisi beberapa perusahaan dan mulai mengembangkan bisnis ke sektor lain. Apa benar?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Bapak bisa aja.”

 

“Kamu gimana?” tanya Damono sambil menatap Chandra.

 

Chandra tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Damono. “Belum ada jodohnya, Pak.”

 

“Sudah sedewasa ini, harusnya kamu sudah menikah. Jangan kalah sama Yeri!”

 

Chandra hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Lihat Yeriko! Setelah menikah, bisnisnya berkembang pesat. Kalian tahu, istri itu membawa keberuntungan. Kalau rumah tangga harmonis, rejeki keluarga mengalir dengan baik. Kamu pikirkan buat segera menikah!” pinta Damono. “Muda dan sukses, semua perempuan pasti mau sama kamu,” lanjutnya sambil menatap Chandra.

 

“Ah, Bapak bisa aja,” sahut Chandra sambil tersenyum kecil.

 

“Oh ya, istri kamu yang mana?” tanya Damono sambil mengedarkan pandangannya.

 

“Itu, lagi sama Mama!” Yeriko menunjuk Yuna yang sedang berbincang kembali dengan Bunda Yana dan yang lainnya.

 

“Cantik banget. Bukan cuma pandai berbisnis, pandai juga pilih istri,” puji Damono.

 

“Hahaha.”

 

“Gadis di sebelahnya lagi, pacarnya Chandra,” bisik Yeriko di telinga Damono.

 

“Oh ... ternyata sudah punya calon? Saya tunggu kabar baiknya segera!” Damono tertawa kecil sambil menatap Chandra.

 

“Kapan aku bilang pacaran sama Jheni?” bisik Chandra di telinga Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil.

 

“Ayo, kita datangi bidadari-bidadari kita!” ajak Damono sambil mengajak Yeriko dan Chandra menghampiri Yana dan yang lainnya.

 

Yeriko dan Chandra tertawa kecil dan mengikuti langkah Damono. Ia kembali menghampiri Yuna dan langsung memeluknya dengan mesra.

 

“Bellina nggak ganggu kamu lagi kan?” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala sambil menatap Yeriko.

 

“Pengantin baru, mesra banget!” tutur Damono.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengecup pelipis Yun dan mengeratkan pelukannya.

 

Damono ikut merangkul istrinya. “Kita jangan kalah sama yang muda. Semakin tua, harus makin sayang.” Ia mengecup kening istrinya. “Selamat ulang tahun Bunda-nya anak-anak di kota ini. Dapet salam dari semua warga lewat twitter.”

 

“Oh ya? Sampaikan salam balik Mama ke semuanya!”

 

Damono tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Semua orang tersenyum bahagia melihat kemesraan Walikota dengan istrinya. Mereka juga sangat senang dengan sikap Walikota yang humble, menyapa semua orang yang hadir di ruangan itu dengan ramah.

 

“Selamat malam, Pak!” sapa Andre yang tiba-tiba muncul bersama Yulia. “Maaf, kami terlambat,” ucapnya sambil menunduk hormat.

 

“Selamat ulang tahun, Bunda!” Yulia mengulurkan tangannya ke arah Yana.

 

“Makasih!” Yana membalas uluran tangan Yulia dan tersenyum manis.

 

“Selamat ulang tahun, Bunda.” Ande mengulurkan tangannya sambil mengucapkan selamat untuk Yana.

 

Yana tersenyum. Ia membalas uluran tangan Andre. “Makasih banyak, ya!”

 

Yulia tersenyum sambil menyodorkan paper bag ke arah Yana. “Hadiah dari kami.”

 

“Ah, kalian repot-repot bawa hadiah. Kalian datang aja, Bunda udah senang.”

 

Yulia dan Andre saling pandang sambil tersenyum. Mereka juga menyapa semua orang.

 

Andre terus menatap Yuna yang berada dalam pelukan Yeriko. Membuat Yulia, ikut menatap kesal ke arah Yuna.

 

Yulia masih tidak mengerti kenapa Andre terus mengejar Yuna yang sudah menikah dan terlihat sangat bahagia bersama suaminya.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas