Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 209 - Serangan Balik untuk Bellina || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jhen, ibu itu tahu dari mana ya kalo aku punya masalah sama rahimku ya?” tanya Yuna sambil menatap kartu nama yang ada di tangannya.

 

“Temen mama mertua kamu kali, Yun.”

 

“Mama nggak akan nyebarin gosip ke mana-mana.”

 

Jheni mengedarkan pandangannya. Ia menangkap tubuh Bellina yang sedang berbincang dengan seorang ibu yang memberikan kartu kepada Yuna. Ia perlahan mendekatkan tubuhnya hingga bisa menangkap pembicaraan Bellina dengan baik.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. Dugaannya benar, Bellina yang menyebarkan rumor kalau Yuna tidak bisa memiliki anak. Ia geram melihat tingkah Bellina yang sengaja menyebarkan rumor ke para tamu tentang kondisi Yuna.

 

“Heh!? Tukang gosip!” sentak Jheni sambil menarik pundak Bellina agar berbalik ke arahnya.

 

Bellina langsung berbalik dan menatap Jheni yang berdiri di belakangnya. “Oh ... sahabatnya Yuna kan? Pasti kamu lebih tahu kondisi Yuna yang sebenarnya. Apa bener dia mandul? Kenapa sampai sekarang masih belum hamil juga?”

 

Jheni gelagapan mendengar pertanyaan Bellina. “Kamu jangan ngomong macem-macem! Kata siapa Yuna nggak bisa hamil?”

 

Bellina tersenyum sinis. “Masalah kayak gini nggak bisa disembunyikan. Bukannya, Yuna lagi program hamil? Dia pasti bakal ngelakuin banyak cara supaya bisa hamil, kan?”

 

“Belum hamil bukan berarti nggak bisa hamil!” tegas Jheni.

 

“Ya udah sih, lebih baik bilang aja ke semua orang kalau Yuna memang lagi program buat cepet hamil. Siapa tahu, ada banyak orang yang bisa bantu. Sebagai sahabat, kamu harusnya peduli kan?”

 

“Mulutmu rombeng banget sih?” Jheni menatap sengit ke arah Bellina. “Sama murahnya kayak badanmu!”

 

“Kamu ...!?” Bellina menunjuk wajah Jheni dengan jari telunjuknya.

 

“Apa!?” Jheni semakin menantang Bellina untuk berkelahi. “Kalo mau ngata-ngatain orang, ngaca dulu!” sentak Jheni.

 

Yuna langsung meletakkan gelas jusnya ke meja dan menghampiri Jheni yang terlihat akan berkelahi dengan kakak sepupunya.

 

“Jhen ...!” Yuna menarik lengan Jheni agar menghentikan perdebatannya dengan Bellina. “Nggak usah diladeni!” pinta Yuna.

 

Bellina tersenyum sinis. “Kenapa? Kamu takut kalau semua orang tahu, istri Tuan Ye yang terhormat ini nggak bisa ngasih keturunan alias mandul?”

 

Yuna mengeratkan gigi dan bibirnya. Ia menatap tajam ke arah Bellina. “Bukan urusan kamu!” sentaknya.

 

“Jelas jadi urusan aku, dong. Aku peduli sama kamu. Makanya, aku carikan orang sebanyak mungkin yang bisa bantu kamu. Kalau mandul, masih bisa program bayi tabung kan?”

 

Yuna terdiam. Ia tidak bisa mengingkari kalau ia butuh banyak referensi untuk mendukung program kehamilannya. Tapi, ia juga merasa sakit ketika Bellina menyebutnya mandul. Ia masih bisa memiliki seorang anak, bukan seorang wanita yang mandul.

 

“Bel, aku nggak mandul. Kamu jangan nyebarin gosip aneh-aneh!” pinta Yuna.

 

Bellina tersenyum sinis. “Nggak bisa hamil, apa namanya kalo bukan mandul?”

 

“Aku masih bisa hamil. Yang bilang aku nggak bisa hamil siapa?” tanya Yuna balik. “Kamu jangan suka mengada-ngada ya!”

 

“Kalo bisa hamil, buat apa kamu nerima kartu rumah sakit infertilitas itu? Mau program bayi tabung?”

 

“Emang kenapa? Masalah buat kamu?”

 

Bellina tertawa kecil. “Yuna, Yuna … kamu harusnya udah mulai sadar kamu ini siapa. Nggak cocok jadi keluarga Hadikusuma. Kamu nggak bisa ngasih keturunan. Sebentar lagi, bakal didepak sama keluarga Yeriko.”

 

“Kata siapa? Aku nggak seburuk kamu, Bel. Yang ngelakuin semua cara demi dapetin harta keluarga Wijaya. Suatu saat, kamu bakal dapet balasan atas semua yang udah kamu lakuin ke aku selama ini!” Yuna meninggikan nada suaranya.

 

“Kamu pikir aku takut sama ancaman kamu? Kalo nggak dipungut sama Yeriko, kamu Cuma gembel di jalanan. Nggak usah ngancam-ngancam aku!”

 

“Heh, jaga mulutmu, Bel!” Jheni mendorong pundak Bellina. “Kamu nggak sadar lagi berhadapan sama siapa?”

 

Rullyta dan Yana yang melihat perselisihan antara Bellina dan Yuna, langsung bergegas menghampiri Yuna.

 

“Ada apa ini?” tanya Rullyta.

 

“Dia tuh, Tante!” Jheni menunjuk Bellina dengan dagunya. “Nggak ada bosen-bosennya cari masalah sama Yuna.”

 

“Bel, kamu masih gangguin Yuna terus? Jangan bikin kesabaran kami habis!” pinta Rullyta.

 

“Tante, aku nggak gangguin Yuna sama sekali. Aku cuma ngomong apa adanya. Menantu kesayangan Tante ini mandul, nggak bakal bisa ngasih keturunan buat Yeriko. Emangnya, mau pelihara menantu nggak berguna kayak gini!”

 

“Jaga mulutmu, Bel!” sentak Jheni. “Pengen kusobek bener ini mulut,” ucapnya geram.

 

“Yuna bisa hamil dan bakal ngasih keturunan buat Yeriko. Kamu nggak perlu ikut sibuk ngurusin dia. Lebih baik, kamu urus dirimu sendiri dengan baik!” tutur Rullyta sambil tersenyum penuh arti.

 

“Bener banget! Lebih baik, kamu fokus urus bayi yang ada dalam perut kamu itu. Jangan keseringan gangguin Yuna, kualat baru tahu rasa!” Jheni menjulurkan lidahnya ke arah Bellina.

 

“Kalian berkomplot buat nyerang aku?”

 

“Kami bakal belain Yuna sampai titik darah penghabisan. Aku nggak akan biarin kamu menindas Yuna lagi!” tegas Jheni. “Selama ini, kamu masih belum puas sama apa yang udah kamu lakuin ke Yuna, hah!?”

 

“Aku nggak akan puas sebelum lihat dia bener-bener menderita,” bisik Bellina di telinga Jheni.

 

Jheni melebarkan kelopak matanya. Ia sangat mengetahui bagaimana keluarga Bellina memperlakukan Yuna sebelum akhirnya Yuna bisa pergi ke luar negeri.

 

“Kali ini, aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna!” tegas Jheni sambil mendorong pundak Bellina.

 

Bellina tertawa kecil. “Kalian berdua ino cocoknya jadi preman pasar. Di tempat seperti ini, kamu masih aja berani main kasar.”

 

“Kami nggak akan main kasar kalau kamu nggak cari gara-gara duluan!” tegas Rullyta. “Kamu nggak tahu lagi berhadapan sama siapa? Kalau sampai terjadi apa-apa sama Yuna. Aku bikin perhitungan sama kamu!”

 

Belina menatap empat wanita yang berdiri di depannya. Ia semakin membenci Yuna karena perhatian dan dukungan semua orang mengarah pada Yuna.

 

“Ada apa ini?” tanya Yeriko. Ia merangkul pinggang Yuna dengan mesra.

 

“Nggak ada apa-apa,” sahut Bellina.

 

“Heh, kamu tadi abis ngata-ngatain Yuna. Sekarang bilang nggak papa. Dasar penjilat!” Jheni langsung memaki Bellina.

 

“Kenapa kamu masih aja menindas Yuna?” tanya Yeriko dingin.

 

“Aku nggak menindas dia. Aku cuma mau dia sadar kalo dia itu nggak pantes buat kamu. Emangnya kamu mau hidup selamanya sama perempuan yang nggak bisa ngasih keturunan buat kamu?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Bisa ngasih keturunan atau nggak. Cintaku sama dia nggak akan berubah!” tegasnya.

 

Yuna terharu mendengar ucapan Yeriko. Ia tak menyangka kalau suaminya yang begitu sempurna, bisa menerima dirinya yang memiliki banyak kekurangan.

 

“Jangan ganggu Yuna lagi! Lebih baik, kamu fokus ngurusin bayi yang ada di dalam perut kamu!” pinta Yeriko.

 

Rullyta menatap perut Bellina. “Kamu hamil? Bukannya kamu belum nikah?”

 

Bellina terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa-apa ketika semua mata tertuju padanya.

 

Rullyta tersenyum sinis. “Daripada kami sibuk ngurusin masalah kehamilan Yuna, lebih baik kamu urus anak kamu itu dengan baik!”

 

Bellina menundukkan kepala, ia menahan air mata dan rasa malunya karena dipermalukan di depan umum.

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 208 : Ulang Tahun Bunda Yana || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna dan Yeriko langsung menjadi pusat perhatian begitu mereka turun dari mobil.

 

Yeriko menggandeng tangan Yuna dengan mesra, memasuki venue perlahan.

 

Yuna menyunggingkan senyum manisnya kepada semua orang yang menatap kehadiran mereka.

 

“Yer, kenapa semua orang lihatin kita?” bisik Yuna.

 

“Nggak papa. Nanti juga terbiasa diperhatikan.” Yeriko tersenyum ke arah Yuna. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, berbeda dengan istrinya yang lebih memilih untuk bersembunyi dari keramaian dan tidak terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang.

 

Yuna tersenyum, ia langsung menghampiri Bunda yana yang berdiri di antara tamu-tamu yang sudah datang di pesta tersebut.

 

“Halo ... Bunda!” sapa Yuna sambil menghampiri Bunda Yana.

 

“Halo, cantik! Udah dari tadi datangnya?” balas Bunda Yana, ia tersenyum ramah dan mengajak Yuna bersalaman pipi.

 

“Selamat ulang tahun, Bunda!” tutur Yeriko sambil mengulurkan tangannya.

 

“Iya. Makasih!” Bunda Yana menyambut uluran tangan Yeriko.

 

“Selamat ulang tahun ya, Bunda. Semoga sehat selalu, diberi umur yang bermanfaat dan makin disayang sama suami,” tutur Yuna sambil menyodorkan hadiahnya ke hadapan Yana.

 

“Ah, kamu repot-repot sekali. Makasih banyak ya, anak Bunda yang cantik!”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Yana, selamat ulang tahun!” Rullyta tiba-tiba datang dan langsung menghambur ke pelukan Yana.

 

“Makasih,” sahut Yana sambil membalas pelukan Rullyta.

 

“Ini hadiah buat kamu. Kamu suka hadiah yang kecil kayak gini kan?” Rullyta memberikan sebuah kotak kecil yang hanya berukuran lima sentimeter persegi.

 

“Ah, kamu bisa aja,” tutur Yana sambil tersenyum menatap Rullyta.

 

Yuna tersenyum melihat kehangatan pertemanan mama mertua dengan sahabatnya itu.

 

Semua orang menatap Rullyta dan Yuna yang berdiri di sebelah Yeriko. Berbincang hangat dengan istri walikota.

 

Di saat yang sama, Lian dan Bellina juga datang ke acara perjamuan tersebut. Yuna menarik napas, ia langsung memeluk lengan Yeriko dan tidak ingin sama sekali berhubungan dengan Bellina.

 

“Yer, kita ke sana yuk!” bisik Yuna sambil menunjuk meja prasmanan yang berisi banyak makanan enak.

 

Yeriko mengangguk.

 

“Bunda, aku ke sana dulu ya!” pamit Yuna.

 

“Iya. Banyak makanan enak. Makan apa aja yang kamu suka!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. Ia berbalik sambil menggandeng tangan Yeriko. Ia melangkah perlahan sambil mengangkat dagu penuh percaya diri dan bersikap seolah tidak melihat Bellina yang berpapasan dengannya.

 

Ke mana pun Yuna melangkah, semua mata tertuju padanya. Berparas cantik, memiliki tubuh yang indah dan mengenakan pakaian yang berkelas. Siapa yang bisa melewatkannya begitu saja.

 

Yeriko tersenyum, ia sangat mengerti kalau Yuna sedang berusaha menghindari konflik dengan sepupunya.

 

Yuna langsung menatap Jheni dan Chandra yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Ia melambaikan tangan ke arah Jheni.

 

Jheni balas melambaikan tangannya dan menghampiri Yuna yang sedang bersama dengan Yeriko.

 

“Udah lama, Yun?” tanya Jheni sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna mengangguk. “Kenapa nggak bilang kalau ke sini juga? Kalo tahu, kita bisa berangkat bareng.”

 

Jheni tersenyum sambil menatap Yuna. “Chandra ngajakin aku ke sini, mendadak banget. Aku nggak sempat kabarin kamu.”

 

“Hihihi. Iya juga, sih. Aku juga dapet undangannya baru tadi sore.”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna dan Jheni. Ia membiarkan keduanya berbincang. Ia mengajak Chandra berbincang dengan beberapa pejabat dan pengusaha lain yang diundang ke acara tersebut.

 

Jheni meraih segelas anggur merah yang ada di atas meja. “Kamu nggak minum alkohol Yun?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku lagi program hamil. Jadi, nggak bisa minum alkohol.”

 

“Oh ya? Berarti, bentar lagi aku bakal punya keponakan dong?”

 

Yuna tersenyum menanggapi pertanyaan Jheni. “Doain ya!”

 

“Mmh ... Yeriko pasti bakal makin sayang sama kamu.”

 

“Iya, Jhen. Dia mulai protective banget.”

 

“Pasti karena khawatir, Yun. Tahu sendiri Yeriko gimana. Saking cintanya sama cewek aneh satu ini.”

 

“Iih … kamu ngatain aku apa!?” dengus Yuna.

 

“Cewek aneh.”

 

“Bukannya kamu yang aneh?”

 

“Kok, aku?”

 

“Sering diajak jalan sama Chandra tanpa status yang jelas, tapi mau aja. Aneh kan?”

 

Jheni memonyongkan bibirnya. “Siapa sih yang bisa nolak kalo diajak jalan sama gebetan?”

 

“Makanya, buruan dijadiin, Jhen!”

 

“Iih … Kok aku sih, Yun?”

 

“Terus?”

 

“Harusnya Chandra dong yang nembak aku. Masa aku duluan yang nyatain cinta ke dia?”

 

“Emansipasi, Jhen.”

 

“Nggak ah.” Jheni mengedikkan bahu.

 

“Daripada di-PHP mulu?”

 

“Ah, udahlah. Semuanya butuh proses. Mungkin, dia belum bisa move on sepenuhnya dari Amara.”

 

“Hmm … Amara lagi, Amara lagi,” desis Yuna.

 

Jheni hanya tersenyum kecil. Bisa menemani Chandra saja sudah membuatnya bahagia. Walau belum ada status yang jelas di antara mereka. Ia ingin, Chandra benar-benar bisa melepaskan masa lalunya dan tidak perlu hidup dalam bayang-bayang Amara.

 

“Hai …!” sapa salah seorang wanita bertubuh tinggi yang tiba-tiba menghampiri Yuna.

 

“Hai, juga!” balas Yuna sambil tersenyum manis.

 

“Istrinya Pak Ye ya?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Perkenalkan, saya Arita, salah satu pengusaha real estate di kota ini.” Ia mengulurkan tangan ke hadapan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil membalas uluran tangan Arita. “Yuna,” tuturnya memperkenalkan diri.

 

“Wah, seneng banget bisa ketemu sama istrinya Pak Ye di sini. Suami saya, sering banget nyeritain kalian. Yeriko, masih muda sudah jadi pengusaha sukses. Punya istri yang sangat cantik seperti ini.”

 

“Ah, Ibu terlalu berlebihan. Saya biasa saja, kok.”

 

“Eh, ini kartu nama buat kamu.” Arita menyodorkan kartu nama ke arah Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia meraih kartu tersebut dari tangan Arita dan membaca kartu nama sebuah rumah sakit infertilitas.

 

“Semoga, ini bisa sedikit membantu kamu agar segera mendapatkan anak.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Terima kasih, Bu!”

 

“Nggak perlu sungkan! Eh, saya temui Ibu Walikota dulu. Kalian, selamat menikmati hidangannya!”

 

Yuna mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

 

Arita berlalu pergi, ia melangkah menghampiri Yana yang dikerumuni beberapa orang.

 

“Yun, enak ya jadi istrinya Yeriko? Semua orang kenal sama kamu.” Jheni menatap Yuna sambil tersenyum.

 

“Huft, ada enaknya, ada nggak enaknya juga.”

 

“Eh, si Lutfi nggak diundang ke sini? Aku nggak ada lihat dia atau Icha.”

 

“Mungkin dia masih di luar kota. Tahu sendiri, Lutfi selalu sibuk ngurusin villa-nya yang tersebar di mana-mana.”

 

“Hahaha. Iya juga, sih.Dia lebih sibuk dari Yeriko.”

 

“Dia sibuknya asyik, jalan-jalan bareng selebgram atau model yang dia endorse. Bikin kepala si Icha cenat-cenut.”

 

“Oh ya? Icha masih cemburu?”

 

“Kayaknya sih gitu. Wajar sih. Apalagi si Lutfi juga ramah banget sama cewek-cewek cantik itu. Kalo aku jadi dia, aku juga nggak bakal tenang.”

 

“Berarti, hatinya Icha kuat banget,” sahut Jheni.

 

“Tetep kamu yang paling kuat, Jhen. Kuat di-PHP sama Chandra.” Yuna menahan senyum sembari menatap wajah Jheni.

 

“Rese banget kamu, Yun!” dengus Jheni sambil memukul lengan Yuna.

 

Yuna tergelak. Sebenarnya ia merasa iba dengan Jheni, tapi jiwa bercandanya meronta-ronta dan tidak bisa jika tidak tertawa bersama sahabatnya itu.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Awal bulan nih, semua balik ke nol lagi. Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star, hadiah atau review ya. Kasih peluk_kiss juga boleh, biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru dan lebih manis lagi. Jiayou!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 207 - Mulai Protektif || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Sore ...!” Yuna langsung menghambur ke pelukan Yeriko yang sedang menunggunya di halaman kantor Wijaya Group.

 

“Terlambat lima menit,” tutur Yeriko dingin sambil melirik arloji yang ada di tangannya.

 

“Cuma lima menit. Ruangan aku ada di lantai enam. Butuh waktu buat turun ke sini.”

 

“Tetep aja telat,” sahut Yeriko. Ia langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

Yuna memerhatikan wajah Yeriko yang begitu buruk seperti saat pertama kali ia mengenalnya. “Kamu abis makan apa?” goda Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Yeriko.

 

Yeriko langsung mendorong kepala Yuna masuk ke mobil dan menutup pintu mobil.

 

“Ini orang kenapa sih?” gumam Yuna sambil mengamati tubuh Yeriko sampai ia masuk ke dalam mobil.

 

“Kamu kenapa sih?” tanya Yuna sambil menatap Yeriko.

 

“Nggak papa.”

 

“Jutek amat!?” celetuk Yuna.

 

“Lagi kesel sama kamu!”

 

“Kesel kenapa?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Kamu nggak mau nurut sama aku.”

 

Yuna tertawa kecil menatap Yeriko. “Kamu kekanak-kanakkan banget sih? Kalo aku keluar kantor buru-buru, terus aku jatuh gimana? Bukannya malah rugi?”

 

Yeriko melirik ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia mencubit kedua pipi Yeriko. “Senyum!” pintanya manja.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Mulai besok, kamu yang nunggu aku aku kasih waktu sepuluh menit buat turun!”

 

“Oke.” Yuna langsung mengecup bibir Yeriko. “Jangan marah lagi ya!”

 

Yeriko mengangguk. Ia menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya perlahan.

 

“Oh ya, ada undangan dari Bunda Yana.” Yeriko menyodorkan kertas undangan ke hadapan Yuna.

 

“Wah …! Bunda Yana ulang tahun? Malam ini?” Yuna memerhatikan undangan yang ada di tangannya.

 

“He-em.”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Mendadak banget? Kita belum nyiapin kado buat Bunda Yana.”

 

“Cari sekarang aja. Gimana?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Di acara nanti, akan ada banyak orang penting yang datang. Pejabat dan para pebisnis besar di kota ini, pasti datang ke sana. Jadi, kamu harus mempersiapkan diri dengan baik!” pinta Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Mereka berkeliling untuk mencari kado yang cocok untuk mereka berikan pada istri walikota.

 

Setelah berkeliling, mata Yuna akhirnya tertuju pada satu set lengkap Tea Set Yixing Pasir Ungu yang sangat unik dan elegan.

 

“Yer, ini gimana?” tanya Yuna sambil menatap Tea Set tersebut dengan mata berbinar.

 

“Bagus. Selera kamu emang berkelas,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna tersenyum dan terus memerhatikan Tea Set tersebut. Ia tak menyangka kalau bisa menemukan barang yang bagus di tempat seperti ini. Ia langsung mengambil barang tersebut untuk ia berikan sebagai hadiah ulang tahun.

 

“Yer, di daerah sini ada pengrajin gerabah kayak gini atau nggak sih?” tanya Yuna sambil melangkahkan kakinya ke luar usai membeli hadiah untuk istri walikota.

 

“Ada.”

 

“Di mana?”

 

“Malang.”

 

“Kapan-kapan, ajak aku ke sana ya!”

 

“Mau ngapain?”

 

“Pengen belajar.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Nanti, aku panggil orangnya ke rumah buat ngajarin kamu.”

 

“Eh!?”

 

“Yun, kamu nggak usah pengen macem-macem, deh!” pinta Yeriko. “Malang bukan kota yang dekat, kamu kira lima menit nyampe?” lanjutnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia sedikit kecewa karena Yeriko tidak mengizinkan dirinya pergi melihat kerajinan gerabah yang ada di kota sebelah.

 

“Iya, nanti aku ajak kamu main ke sana.” Yeriko tak tahan melihat raut wajah Yuna yang tiba-tiba murung.

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Beneran?”

 

Yeriko mengangguk.

 

“Janji?”

 

“Iya, janji. Tunggu aku nggak sibuk, ya?”

 

Yuna mengangguk. Mereka melangkahkan kakinya masuk ke salah satu toko pakaian.

 

Yuna melihat-lihat beberapa gaun yang ada di toko pakaian tersebut.

 

Mata Yeriko tertuju pada gaun panjang berwarna pastel yang ada di sudut toko. Ia mengambil gaun tersebut dan memberikannya pada Yuna. “Cobain ini!” pintanya.

 

Yuna mengangguk. Ia segera mencoba gaun yang diberikan oleh Yeriko.

 

“Gimana, bagus?” tanya Yuna begitu ia keluar dari kamar ganti.

 

Yeriko mengacungkan jempol ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum senang, ia merasa gaun pilihan Yeriko sangat baik. Bunga aster yang jatuh menghiasi gaunnya dan sedikit warna debu membuatnya terlihat sangat cantik dan elegan.

 

Usai memilih pakaian, mereka bergegas kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri pergi ke perjamuan ulang tahun istri walikota.

 

“Udah bisa make-up sendiri?” tanya Yeriko begitu melihat istrinya sibuk merias wajahnya di depan cermin.

 

“He-em.” Yuna mengangguk kecil. “Bilang Irvan, aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri. Jadi, aku belajar make-up sendiri. Nggak perlu keluar biaya buat bayar make-up artist. Lebih hemat.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengenakan jasnya. “Masih aja perhitungan kalo soal uang. Nggak perlu pelit buat diri sendiri.”

 

“Mmh ... aku tahu suamiku sangat kaya. Tapi, aku tetep aja harus berhemat. Kasihan suamiku yang capek kerja, terus aku cuma hambur-hambur uang.”

 

“Aku emang cari uang buat kamu.”

 

“Eh!?” Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko yang sudah ada di atasnya.

 

Yeriko tersenyum menatap istrinya dari balik cermin.

 

Yuna bergegas menyelesaikan riasannya. Ia bangkit dan meraih kotak kado yang telah ia siapkan untuk istri walikota. Ia menarik napas beberapa kali. Di tempat pesta, ia akan bertemu dengan kolega-kolega suaminya dan juga beberapa pejabat pemerintahan.

 

“Udah siap?” tanya Yeriko sambil merangkul pinggang Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar rumah, berangkat menuju tempat acara ulang tahun istri walikota.

 

“Hari ini udah minum obat?” tanya Yeriko saat di tengah perjalanan.

 

Yuna mengangguk. “Bibi War perhatian banget sama aku. Dia nggak pernah telat sedetikpun buat nyiapin obat.”

 

Yeriko tersenyum sambil menoleh ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. “Ini pesta ulang tahun, di sana banyak makanan enak. Kamu jangan makan sembarangan!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk.

 

“Nggak boleh minum alkohol. Kamu lagi program hamil.”

 

Yuna mengangguk lagi.

 

“Jangan jauh-jauh dari aku!” pinta Yeriko lagi. “Di sana, akan ada banyak kolega yang datang. Kamu ngerti kan harus gimana sebagai Nyonya Muda Galaxy Group?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Mama udah sampai di mana?” tanya Yeriko.

 

“Udah di jalan juga.” Yuna menatap layar ponsel sambil membaca pesan dari Rullyta. “Kok tahu kalau aku lagi chatting sama Mama?” batin Yuna dalam hati.

 

“Oh ya, sampai di mana persiapan pesta pernikahan kita?” tanya Yeriko lagi.

 

“Mama lagi cari venue.”

 

“Vendor udah dapet?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu kenapa?”

 

“Eh, nggak papa.”

 

“Dari tadi, cuma manggut-manggut aja. Biasanya mobil ini penuh sama suara kamu.”

 

Yuna meringis sambil menoleh ke arah Yeriko. “Aku nervous.”

 

“Nervous kenapa?”

 

“Nggak papa. Kali ini bakal ketemu banyak ibu pejabat. Masih mikir aja, mereka bakal ngajuin pertanyaan apa aja ke aku. Aku takut salah.”

 

“Jawab apa adanya!”

 

Yuna tersenyum dan mengangguk kecil. Ia merasa sangat bahagia memiliki suami yang terus mendukung setiap langkahnya. Walau ia merasa, Yeriko mulai protektif dan mengontrol dirinya. Ia menerima dengan bahagia.

 

 

(( Bersambung ))

 

Bulan baru, jadi awal yang baru juga. Dukung terus Perfect Hero biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih manis dan lebih seru lagi. Thanks semua atas dukungan Star dan hadiahnya. I Love you double-double ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas