Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 190 - Holiday in Vanda || a Romance Novel by Vella Nine

 


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Akhirnya, Yuna dan Yeriko sampai di Vanda. Salah satu resort mewah milik keluarga Lutfi.

 

“Yer, kenapa tiba-tiba ngajak liburan?” tanya Yuna sambil masuk ke dalam kamar untuk menyimpan koper yang ia bawa.

 

“Suntuk. Pengen liburan,” jawab Yeriko sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.

 

“Tumben banget? Ini kan hari kerja. Kenapa nggak nunggu weekend?”

 

“Aku maunya sekarang. Sini!” pinta Yeriko sambil menepuk kasur di sampingnya.

 

“Apa?” tanya Yuna sambil naik ke kasur dan duduk di sebelah Yeriko.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Apa masih takut?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Sebenarnya, apa yang bikin kamu takut?”

 

“Kamu,” jawab Yuna sambil meringis.

 

“Apa aku harus pergi supaya kamu nggak takut lagi?”

 

“Jangan! Aku takut kalo kamu nggak ada lagi di samping aku. Sekarang, aku cuma punya kamu.”

 

“Kalo gitu, kamu harus ngomong sama aku kalo lagi ada masalah!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil meletakkan wajahnya ke dada Yeriko.

 

Beberapa menit kemudian, mereka berkumpul di meja makan.

 

“Yer, abis makan kita berenang!” ajak Lutfi.

 

“Boleh.”

 

“Balapan. Siapa yang paling cepat, boleh minta apa aja,” tutur Lutfi.

 

“Kalian berdua aja!” pinta Yeriko. “Aku lagi nggak butuh apa-apa. Jadi wasit aja.”

 

“Jiiaah … sombongnya keluar lagi,” sahut Lutfi.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku yang nentuin tantangannya. Gimana?”

 

“Boleh,” sahut Lutfi. “Gimana, Chan?” tanyanya sambil menatap Chandra.

 

Chandra tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Apa tantangannya?”  tanya Lutfi.

 

“Yang kalah, harus masak buat kita semua malam ini. Sendirian. Gimana?”

 

“Oke. Tantangan diterima!” sahut Lutfi.

 

Yuna dan kedua sahabatnya tersenyum melihat tiga pria yang begitu hangat di meja makan.

 

“Cha, kenapa kamu kurusan?” tanya Yuna sambil memerhatikan Icha.

 

“Eh!? Masa sih?”

 

“Makanmu gak teratur? Banyak kerjaan? Atau lagi banyak tekanan?” tanya Yuna sambil menatap Icha.

 

“Nggak ada. Aku baik-baik aja,” jawab Icha.

 

“Ck, akhir-akhir ini aku lihat kamu selalu murung. Kalau ada masalah, cerita ke kita!” pinta Yuna. “Kamu anggap kita orang asing?” tanya Yuna sambil melirik Lutfi.

 

Lutfi langsung salah tingkah begitu Yuna melirik ke arahnya.

 

“Lutfi ...!” seru Yuna.

 

“Apa sih? Aku deket ini, nggak usah teriak,” sahut Lutfi sambil menatap Yuna.

 

“Kamu itu pacarnya Icha, nggak perhatiin dia?”

 

“Eh!? Perhatiin, kok. Dia baik-baik aja. Kayak yang dia bilang.”

 

Yuna menatap wajah Lutfi tanpa berkedip. “Hubungan kalian lagi ada masalah?”

 

“Eh!? Enggak. Kami baik-baik aja. Iya kan, Cha?” jawab Lutfi sambil merangkul Icha yang duduk di sampingnya.

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Kalau kamu berani macam-macam sama Icha, awas aja ya! Kita nggak akan ngelepasin kamu.” ancam Yuna sambil menatap ke arah Lutfi.

 

“Eh!? Nggaklah. Masa aku tega macam-macam sama pacar aku sendiri?”

 

Yuna mencebik ke arah Lutfi.

 

“Kakak Ipar, kenapa kalo sama aku sewot banget? Chandra tuh, nggak pernah disewotin.”

 

“Karena kamu yang paling slengean!” dengus Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Kalo nggak ada orang kayak aku, dunia ini nggak rame.” semua orang tertawa lalu melanjutkan makannya.

 

Usai makan, mereka bersiap untuk berenang di kolam renang milik Vanda. Sesuai kesepakatan, Yeriko berdiri di tepi kolam sambil memegang stopwatch. Lutfi dan Chandra memulai aksi mereka, menunjukkan kecepatan berenangnya masing-masing.

 

“Huu ... menang!” seru Lutfi sambil naik ke lantai.

 

Chandra hanya tersenyum kecil sambil keluar dari kolam renang.

 

“Chan, siap-siap masak buat kita!” seru Lutfi.

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Yer, kamu mau makan apa aja?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

“Sate. Cocok,” sahut Yeriko.

 

“Kakak Ipar mau makan apa?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna. “Kalian juga?” tanyanya pada Icha dan Jheni.

 

“Mmh ... apa ya?” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Yang agak susah masaknya!” pinta Lutfi. “Ngerjain orang jangan setengah-setengah. Dosanya sama, hahaha.”

 

Yuna tergelak mendengar ucapan Lutfi. “Aku mau bebek bakar, pakai sambal yang pedas.”

 

“Cari bebeknya di mana?” sahut Chandra. “Kamu mau nyusahin aku?”

 

Yuna menjulurkan lidahnya. “Di pasar pasti ada.”

 

Chandra menggeleng-gelengkan kepala. Teman-temannya, sepertinya sengaja mengerjai dirinya.

 

“Cha, kamu mau makan apa ntar malem?” tanya Lutfi.

 

“Ayam bakar aja.”

 

“Hadeh, Cha. Yang agak susah dikit napa? Ayam bakar? Apaan itu? Gampang banget buatnya,” sahut Lutfi. “Jhen, kamu mau makan apa?” Lutfi menatap Jheni.

 

“Ikut aja sama yang lain.”

 

“Halah, kamu pasti nggak tega kan sama Chandra?” sahut Lutfi.

 

Jheni hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Giliran aku,” tutur Lutfi. “Chan, dengerin baik-baik ya! Aku mau makan rendang, Gudeg, rica-rica mentok, iga bakar sama kepiting.”

 

Chandra mengeratkan bibirnya, ia berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Lutfi.

 

“Astaga! Body Chandra bagus banget!” seru Jheny dalam hati.

 

Lutfi tergelak mendapati tatapan Chandra.

 

“Kamu minta dibunuh, Lut?” Chandra langsung merangkul leher Lutfi dan menceburkan diri kembali ke kolam.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya itu.

 

Chandra dengan sengaja menenggelamkan kepala Lutfi selama beberapa detik.

 

Icha yang melihatnya langsung panik dan berlari ke tepi kolam. “Chan, kamu gila ya! Lepasin Lutfi!” teriaknya.

 

Chandra melepas tangannya dari kepala Lutfi.

 

Lutfi langsung muncul dari balik air dan bernapas lega.

 

Chandra tersenyum dan kembali menenggelamkan kepala Lutfi. Lutfi langsung menarik kaki Chandra dan membuatnya masuk ke dalam air. Mereka terus bergulat di dalam air.

 

“Yer, pisahin mereka!” pinta Jheni. Ia mulai panik melihat pergulatan antara Lutfi dan Chandra. “Mereka berantem beneran!”

 

Yeriko tertawa kecil. “Mereka nggak bakal mati. Kalo udah capek, berhenti sendiri,” tuturnya.

 

Yuna ikut tertawa. “Mereka sering kayak gitu?”

 

Yeriko mengangguk. Ia duduk di sebelah Yuna sambil memerhatikan Chandra dan Lutfi yang masih bergulat di dalam air.

 

“Udah, Chan!” seru Jheni. Ia ikut masuk ke dalam air dan menahan tubuh Chandra. Begitu juga dengan Icha.

 

Lutfi tergelak sambil menatap Chandra. “Buruan cari bahan buat dimasak!”

 

“Awas kamu! Tunggu pembalasanku!” dengus Chandra kesal. Ia dan Jheni langsung keluar dari dalam kolam.

 

Lutfi terus tersenyum sambil memeluk tubuh Icha. “Jhen, bantuin Chandra sebelum dia nangis!” seru Lutfi sambil tertawa.

 

“Kamu ini ... kenapa sih seneng banget ngerjain orang?” tanya Icha.

 

“Biar aja. Kapan lagi bisa ngerjain Chandra,” sahutnya sambil mengecup pipi Icha. “Berenang lagi, yuk!” ajaknya.

 

Sementara itu, Yuna dan Yeriko memilih untuk duduk santai di tepi kolam.

 

“Yer, aku ngerasa hubungan Icha dan Lutfi nggak begitu baik. Kayaknya, mereka sering berantem di belakang kita.”

 

“Nggak usah mikir macem-macem! Mereka kelihatan baik-baik aja.”

 

“Baik-baik aja gimana? Icha kelihatan murung akhir-akhir ini. Dia juga kurusan. Kalo dia nggak mau cerita masalahnya, pasti ada hubungannya sama Lutfi.”

 

“Udahlah, nggak usah ngurusin hubungan mereka. Mereka udah dewasa. Sini!” Yeriko menarik Yuna ke pangkuannya. “Nggak mau berenang lagi?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dingin.”

 

“Mau aku hangatin?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Caranya?”

 

Yeriko langsung mengecup bibir Yuna. “Ayo, kita mandi!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung menggendong tubuh Yuna menuju ke kamar mandi. Yeriko menurunkan tubuh Yuna di depan toilet wanita dan bergegas pergi ke toilet pria.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 189 - Trauma Masa Lalu || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna duduk di balkon sambil merajut sweater yang akan ia hadiahkan untuk Yeriko. Baru dua hari ia tidak bekerja, rasanya ... hidupnya begitu membosankan. Sementara, orang-orang yang ada di sekelilingnya sibuk bekerja. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk bersantai-santai di rumah.

 

“Mbak Yuna lagi apa?” tanya Bibi War yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

 

“Eh, nggak papa, Bi. Lagi bikin sweater buat Yeri.”

 

“Wah ...! Mbak Yuna bisa ngerajut?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mas Yeri pasti suka sama buatan Mbak Yuna.”

 

“Mudah-mudahan ya, Bi!”

 

“Aamiin. Ini Bibi bawakan jus mangga,” ucap Bibi War sambil meletakkan segelas jus ke atas meja.

 

“Makasih, Bi!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.

 

“Mbak, bilang Mas Yeri ... kalau Mbak Yuna bosan di rumah, bisa jalan-jalan ke luar. Nanti Bibi temenin.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Bi. Aku mau ngelarin ini dulu.”

 

Bibi War tersenyum sambil memerhatikan Yuna yang sudah dua hari menghabiskan waktunya di balkon seorang diri. Ia hanya mengkhawatirkan kondisi Yuna apabila terus sendirian seperti ini.

 

“Bibi beres-beres dulu. Kalo butuh apa-apa, panggil Bibi ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Bibi War segera pergi meninggalkan Yuna.

 

Yuna meniup jemarinya beberapa kali. Sudah lama sekali ia tidak pernah menggunakan hakpen. Merajut dalam waktu yang lama, membuat ujung jarinya menjadi callus. Sama seperti jika sudah lama tak bermain gitar. Ujung jarinya akan lecet dan menimbulkan callus.

 

Yuna teringat kejadian beberapa bulan lalu saat ia berusaha keras membuat sweater untuk Lian dan harus menelan pil pahit karena Lian tak pernah menerima sweeter tersebut, bahkan ia membakarnya begitu saja.

 

“Yun, Yeriko bukan Lian. Dia pasti akan menghargai kamu dan nggak akan nyakitin kamu!” ucap Yuna pada dirinya sendiri.

 

Yuna menarik napas. Ia meraih gelas jus yang ada di atas meja dan melangkah menuju lantai bawah untuk menghilangkan sejenak rasa pegal di punggungnya karena duduk terlalu lama.

 

Yuna celingukan mencari sosok Bibi War. Ia terus melangkahkan kakinya mengitari ruangan rumah Yeriko.

 

“Nyari apa, Mbak?” tanya Bibi War sambil memegang rotan pemukul kasur.

 

“Nyari Bibi,” jawab Yuna sambil berbalik menatap Bibi War.

 

 

 

PRANG ...!!!

 

Gelas yang ada di tangan Yuna langsung terlepas dan pecah berserakan di lantai saat melihat Bibi War membawa rotan pemukul kasur. Tubuhnya gemetaran, mengeluarkan keringat dingin, seisi ruangan berputar semakin cepat. Dada Yuna kembang kempis begitu cepat, ia tak bisa mengendalikan diri.

 

“Aargh ...! Ampun ...! Jangan pukul lagi! Jangan! Sakit!” Yuna melipat tubuhnya ke lantai dan terus berteriak histeris sambil menangis.

 

“Mbak Yuna, kenapa?” Bibi War panik melihat Yuna yang tiba-tiba berteriak histeris. Ia langsung melemparkan rotan pemukul kasur yang ada di tangannya. Meraih pundak Yuna dan menggoyang-goyangkan tubuh Yuna agar tersadar.

 

“Mbak Yuna! Mbak! Sadar, Mbak! Ini Bibi!” Bibi War menarik wajah Yuna agar menatapnya.

 

“Bibi?” Yuna terisak dan langsung memeluk Bibi War. “Bi, aku takut!” tutur Yuna sesenggukan.

 

“Nggak usah takut! Ada Bibi di sini,” tutur Bibi War sambil mengusap kepala Yuna dan memeluknya dengan erat. “Ayo, bangun!” Bibi War memapah Yuna untuk duduk di sofa dan memberikan segelas air putih.

 

Yuna melipat kakinya di atas sofa dan menopangkan dagu ke lututnya. Tatapannya kosong, bayangan masa lalu kembali menghantui dirinya.

 

Bibi War sangat khawatir dengan keadaan Yuna. Ia bergegas menjauh dari Yuna, merogoh ponselnya dan menelepon Yeriko.

 

“Ada apa, Bi? Ada masalah?” tanya Yeriko begitu panggilan teleponnya tersambung. Ia sudah mengetahui, Bibi War hanya akan meneleponnya jika terjadi masalah.

 

“Mmh ... Mbak Yuna, Mas.”

 

“Yuna kenapa?”

 

“Apa dia punya trauma masa lalu?” tanya Bibi War berbisik. Ia mengintip Yuna dari kejauhan untuk memastikan kalau Yuna tidak akan mendengar pembicaraannya dengan Yeriko.

 

“Maksud Bibi?”

 

“Tadi, Bibi abis jemur kasurnya Bibi. Bibi pegang rotan pemukul kasur waktu masuk. Mbak Yuna lihat Bibi langsung teriak ketakutan dan nangis histeris. Bibi kebingungan karena dia tiba-tiba seperti itu. Dia kira, Bibi mau mukul dia pakai rotan itu.”

 

“Serius, Bi?”

 

“Iya. Bibi khawatir sama dia.”

 

“Sekarang, keadaannya gimana?”

 

“Udah baikan. Tapi masih murung. Dia masih duduk di sofa dan kelihatan masih ketakutan.”

 

“Oke. Aku pulang sekarang juga.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Tiga puluh menit kemudian, Yeriko sudah sampai di rumah. Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Yuna masih meringkuk di sofa dengan tatapan kosong.

 

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna. Ia langsung menangkup wajah Yuna dengan kedua telapak tangannya.

 

Yuna menatap wajah Yeriko, matanya menyiratkan rasa takut yang begitu besar.

 

Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna. “Nggak papa. Aku di sini, selalu jagain kamu!” bisiknya di telinga Yuna.

 

“Aku takut,” bisik Yuna hampir tak terdengar di telinga Yeriko.

 

“Nggak usah takut!” pintanya. “Ada aku.”

 

Yuna memeluk erat tubuh Yeriko dan tak ingin melepaskannya. Berada dalam pelukan Yeriko, membuat perasaannya jauh lebih baik.

 

Yeriko membiarkan Yuna terus berada dalam pelukannya tanpa bicara apa pun hingga gadis itu terlelap di pelukannya. Ia menggendong Yuna dengan hati-hati dan menidurkannya di kamar. Ia langsung turun kembali menemui Bibi War.

 

“Bi, Bibi yakin kalo Yuna ketakutan karena  lihat rotan?”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Kemungkinan, dia punya trauma masa lalu. Apa masa kecilnya dia sering dipukuli?”

 

“Nggak tahu, Bi. Tapi, aku yakin orang tuanya nggak akan seperti itu ke dia. Kemungkinan besar, dia memang menerima perlakuan buruk sebelas tahun yang lalu. Aku bisa lihat gimana Tante dan sepupunya memperlakukan Yuna begitu kejam.”

 

“Bibi coba tanya tentang masa lalunya dia. Dia tetep nggak mau cerita. Suasana hatinya lagi buruk banget. Bawa dia jalan-jalan kalau kondisinya sudah stabil. Mbak Yuna, sosok yang begitu ceria setiap harinya. Ini pertama kalinya Bibi lihat dia begitu menyedihkan.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia merogoh ponsel dan langsung menelepon Lutfi.

 

“Halo ...! Lut, kamu di mana?”

 

“Di rumah. Kenapa?”

 

“Aku mau bawa Yuna ke Vanda. Kamu ajak Icha sama Jheni buat ikut juga!”

 

“Kapan?”

 

“Besok.”

 

“Kenapa mendadak?”

 

“Suasana hati Yuna lagi nggak bagus. Aku mau bawa dia liburan. Pastikan Chandra, Jheni dan Icha juga bisa ikut!”

 

“Oke.”

 

“Oke. Besok pagi, aku tunggu kalian di rumah. Jam tujuh.”

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko langsung menutup teleponnya. Ia langsung menelepon Riyan untuk mengubah seluruh jadwal meetingnya beberapa hari ke depan.

 

Yeriko duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya. Banyak hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya.

 

Yeriko tidak benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan yang dialami Yuna di masa lalu. Satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi tentang masa lalu Yuna hanyalah Jheni. Ia harap, liburan kali ini bisa membuat suasana hati Yuna menjadi lebih baik lagi.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 188 - Daily Nyonya Ye | a Romance Novel by Vella Nine

 




Pagi-pagi sekali, Yuna sudah berkutat di dapur bersama Bibi War untuk menyiapkan sarapan.

 

“Aargh ...! Akhirnya berhasil!” Yuna melompat kegirangan setelah selesai menyusun makanan di atas meja makan. Ini pertama kalinya ia bisa menyiapkan hidangan untuk suaminya sejak mereka menikah.

 

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna.

 

“Makasih ya, Bi! Udah ngasih aku kesempatan buat pake dapur. Yeriko nggak bisa ngatain aku sebagai pengacau dapur lagi. Waktu itu kan murni kecelakaan.” Yuna tersenyum sambil menatap hidangan yang ia buat untuk Yeriko.

 

“Aargh ...! Yuna, Yuna ... kamu memang perempuan berbakat!” seru Yuna memuji dirinya sendiri. “Nggak ada yang bisa ngeremehin kemampuan kamu termasuk suami kamu sendiri!” tuturnya sambil menari-nari riang. Ia terus berputar, menari dan bersenandung.

 

“Eh!?” Yuna meringis ketika ia menabrak tubuh Yeriko. “Udah bangun?”

 

“Gimana nggak bangun kalo pagi-pagi kamu udah ribut banget?”

 

“Hehehe. Sorry! Aku ganggu tidur kamu ya?”

 

“Banget!” sahut Yeriko.

 

“Sorry! Abisnya, aku seneng banget hari ini.”

 

“Ada apa? Dapet undian berhadiah?”

 

“Ih.. enggak! Taraaaa ...!” Yuna menunjukkan makanan yang terhidang di atas meja.

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Apa istimewanya? Cuma sarapan doang.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia langsung melepas apron. Melempar ke lantai begitu saja dan duduk di kursi sambil melipat wajahnya.

 

Yeriko mengernyitkan dahi. Ia menatap apron yang tergeletak di lantai dan baru memahami maksud Yuna. Ia ikut duduk di kursi meja makan yang ada di sebelah Yuna. “Kenapa tiba-tiba marah?” tanya Yeriko.

 

Yuna tak menyahut. Hanya melipat kedua tangan di depan dada.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Kamu yang masak?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut Yuna.

 

Yuna melirik sambil melipat wajahnya.

 

“Jelek banget kalo cemberut kayak gitu.” Yeriko menjepit rahang Yuna dan menggoyangkan perlahan.

 

Yuna mengerucutkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum dan mengecup bibir Yuna.

 

“Aku udah bisa masak tanpa ngacaukan dapur. Apa aku udah boleh pake dapur?” tanya Yuna sambil memainkan matanya.

 

Yeriko terdiam selama beberapa saat. “Mmh ... aku pikir-pikir dulu.”

 

“Iih .. kok gitu?”

 

“Aku cobain dulu masakan kamu. Kalo enak, dapur ini punyamu.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, cobain!” pinta Yuna sambil menyendokkan makanan ke piring Yeriko.

 

Yeriko mencicipi masakan Yuna perlahan. Tak ada ekspresi senang atau pun tidak senang. Membuat Yuna yang duduk di sampingnya menahan napas menunggu komentar Yeriko.

 

“Gimana?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... lumayan.”

 

“Lumayan? Maksudnya?”

 

“Lumayan enak.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia sudah bersusah payah membuat makanan untuk Yeriko dengan sepenuh hati. Tapi, hasil masakannya tidak bisa membuat suaminya itu puas.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Yuna. “Dapur ini punyamu,” tuturnya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.

 

“Hah!? Serius!?” Yuna langsung menatap wajah Yeriko dengan mata berbinar.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Aargh ...! Makasih!” seru Yuna sambil memeluk tubuh Yeriko.

 

“Hmm ... cuma dapur, bisa bikin kamu seceria ini?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Iya, dong! Mulai hari ini, aku yang masakin buat kamu. Gimana?”

 

“Eh!?” Yeriko langsung menatap Yuna. “Bibi War ngapain kalo kamu yang masak?”

 

“Hmm ... dia bisa bantu aku potong-potong sayuran, beres-beres rumah. Kalo aku yang masak, aku bisa meringankan kerjaan Bibi kan?”

 

“Apa kamu nggak bisa lebih santai aja? Biar semua kerjaan rumah dikerjain Bibi.”

 

“Aku udah nggak kerja. Kalo aku nggak ngapa-ngapain, aku bisa mati kebosanan di rumah sebesar ini.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Gimana kalo kamu kerja di perusahaan aku aja? Kita bisa ketemu setiap hari.”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Karena ... aku nggak mau terlalu diistimewakan di perusahaan kamu. Semua karyawan di sana pasti sungkan sama aku karena aku istrinya bos. Aku nggak mau statusku justru jadi kendala buat kinerja mereka.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Ya udah, kamu di rumah aja!” pinta Yeriko. “Kalo bosan, kamu bisa main ke rumah kakek.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Iya juga, ya? Udah lama gak ke sana.”

 

“Kakek pasti seneng kalau kamu sering datang ke sana.”

 

Yuna mengangguk.

 

“Hari ini, jadi ke pameran kan?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk lagi. “Aku siapin air panas dulu buat kamu mandi. Habisin makannya!” tutur Yuna sambil bangkit dari tempat duduk.

 

“Kamu nggak makan?” tanya Yeriko.

 

“Aku tadi udah makan buah, belum laper,” jawab Yuna sambil melangkah pergi.

 

Yeriko langsung menahan lengan Yuna.

 

“Kenapa?”

 

Yeriko memerhatikan wajah Yuna beberapa saat. “Kamu program diet lagi?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Makan dulu!” perintah Yeriko. Ia memberi isyarat agar Yuna menemaninya menikmati sarapan.

 

Yuna kembali duduk di kursinya dan menikmati sarapan bersama Yeriko.

 

Setelah selesai makan dan mandi bersama. Mereka bersiap untuk pergi ke pameran karya seniman-seniman lokal yang diselenggarakan oleh pemerintah.

 

“Yun, kenapa kamu pengen banget ke pameran ini?” tanya Yeriko sambil menuruni anak tangga.

 

“Karena diundang sama Bunda Yana. Lagian, aku suka sama seni. Jadi, nggak ada salahnya kan lihat-lihat sambil cari inspirasi.”

 

“Kamu juga udah nggak kerja. Cari inspirasi buat apa?”

 

“Buat ... membahagiakan diri sendiri. Hihihi.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Mbak, tadi ada orang antar paket. Bibi taruh di atas meja.” Bibi War menghampiri Yuna dan Yeriko yang baru saja sampai di ujung anak tangga.

 

Yuna menghampiri kotak yang ada di atas meja dan membacanya. “Oh. Ntar tolong bawa ke kamar, Bi!” pinta Yuna.

 

“He-em.” Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Kamu beli apa?” tanya Yeriko.

 

“Beli benang,” jawab Yuna santai.

 

“Buat apa?”

 

Yuna langsung menoleh ke wajah Yeriko. “Duh, gimana sih? Aku kan mau ngasih kejutan buat dia. Kenapa aku jawabnya jujur banget?” batin Yuna.

 

“Mmh ... buat ngisi waktu luang. Biar nggak bosen,” jawab Yuna sambil menarik lengan Yeriko. “Ayo, berangkat!”

 

“Jheni sama Icha jadi ikut?”

 

“Belum tahu. Icha belum jelas mau dateng atau nggak. Kalo Jheni, katanya udah ke sana. Nggak tahu mau ke sana lagi atau nggak,” jawab Yuna sambil melangkah keluar dari rumahnya.

 

“Oh.” Yeriko membukakan pintu mobil untuk Yuna. Mereka bergegas menuju ke venue untuk melihat-lihat hasil karya seniman-seniman daerah.

 

Setelah sampai di tempat pameran, Yuna langsung berkeliling melihat karya seni yang dipamerkan di sana. Bukan hanya seni rupa dan seni kriya, pameran tersebut juga memamerkan produk makanan khas dari berbagai daerah.

 

Yuna menghentikan langkahnya saat melihat seorang seniman airbrush sedang menggambar live di sebuah kaos.

 

“Gila! Bagus banget gambarnya, aku mau!” seru Yuna.

 

“Kamu mau?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko menghampiri seniman yang sedang melukis seseorang menggunakan media kaos. “Mas, bisa lukis kami?” tanya Yeriko.

 

“Bisa banget, Mas!” sahut seniman tersebut. Ia memanggil salah seorang temannya untuk melukis Yuna dan Yeriko di atas sebuah kaos dengan teknik air brush.

 

“Ini komunitas ya?” tanya Yuna sambil duduk berdampingan dengan Yeriko untuk dilukis secara live oleh seniman tersebut.

 

“Iya, Mbak. Kami komunitas airbrush. Ini kartu nama kami. Kalau Mbaknya butuh, kami siap kapan aja.”

 

“Iya, Mbak juga cantik banget. Kalau mau jadi model kaos kami juga bisa, Mbak,” sahut seniman yang lain.

 

“Ah, kalian bisa aja. Aku nggak bakat jadi model.”

 

“Mas, masnya lebih deket lagi!” pinta seniman tersebut.

 

Yeriko langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lagi ke tubuh Yuna.

 

Tak sampai satu jam, seniman tersebut sudah menyelesaikan lukisannya dengan baik.

 

“Pasangan serasi. Cantik dan ganteng,” puji seniman tersebut usai menyelesaikan lukisannya. “Mau bikin satu atau dua mbak?”

 

“Satu aja,” jawab Yuna.

 

“Nggak mau couple?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Kalau bikin dua, aku satu, kamu satu,” tutur Yeriko.

 

“Cukup satu aja,” jawab Yuna. “Aku nggak mau diduain,” tuturnya sambil meringis.

 

“Bukan diduain, bajunya yang dua,” sahut Yeriko.

 

“Nggak usah, satu aja. Kita pakai dan rawat bareng-bareng.”

 

“Aku mana bisa pakai ini. Ukurannya kecil banget.”

 

“Mmh ... iya juga ya?”

 

“Ya udah, Mas. Satu lagi!” pinta Yeriko.

 

Seniman tersebut mengangguk dan langsung membuatkan lukisan yang sama satu lagi.

 

Yuna mengajak Yeriko berkeliling dan melakukan banyak hal bersama sepanjang hari.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas