Wednesday, February 19, 2025

Perfect Hero Bab 151 : Paket Misterius || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Gimana luka kamu? Udah sembuh?” tanya Rullyta saat Yuna sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.

 

“Udah mendingan, Ma,” jawab Yuna sambil bangkit. “Udah bisa dipake jalan walau belum bisa lari,” lanjutnya sambil meringis. Ia bangkit, mencium punggung tangan Rullyta dan kedua pipinya.

 

“Hmm … kamu masih bacain majalah ini?” tanya Rullyta sambil melirik beberapa majalah yang tergeletak di atas meja.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Jangan dibaca lagi!” Rullyta membereskan majalah-majalah tersebut dan menyimpannya ke bawah meja.

 

Yuna tersenyum kecil. “Nggak papa, Ma. Aku baik-baik aja, kok. Toh, berita itu nggak bener.”

 

“Huft, Mama tetep khawatir sama hubungan kalian. Itu si Yeri masih bisa aja santai-santai diterpa isu kayak gini. Mama pusing mikirin anak itu,” tutur Rullyta sambil memijat keningnya.

 

“Ma, hubungan kami nggak ada masalah. Semua masih baik-baik aja,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

Rullyta menautkan kedua alisnya menatap Yuna. “Kamu juga nanggepinnya sesantai ini?”

 

Yuna mengangguk. “Yeriko udah janji bakal nyelesaiin semuanya. Aku percaya sama dia.”

 

“Huft, dia lagi sibuk ngurusin masalah perusahaan. Terlalu lama menangani Refi,” sahut Rullyta.

 

Yuna menaikkan kedua alisnya. “Perusahaan lagi bermasalah?”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Gosip tentang kalian, mempengaruhi perusahaan.”

 

“Ma, apa hubungannya kehidupan pribadi dengan perusahaan? Aku juga nggak kerja di perusahaan Yeriko. Aku sama sekali nggak tahu kalau …”

 

“Kamu tahu, Yeriko bukan orang sembarangan. Apalagi Refi sudah memperbesar masalah ini.”

 

“Terus, aku harus gimana buat bantu Yeriko?”

 

Rullyta dan Yuna langsung menoleh ke arah pintu saat bel berbunyi.

 

“Siapa?” tanya Rullyta sambil menatap ke arah Yuna.

 

“Nggak tahu, Ma. Biar aku lihat dulu.”

 

“Biar Mama aja!” pinta Rullyta sambil menahan tangan Yuna agar tidak bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah perlahan dan langsung membukakan pintu rumah. Ia langsung mengetahui pria berseragam khas yang berdiri di depannya adalah kurir dari perusahaan ekspedisi.

 

“Siang, Bu! Apa benar ini rumah Ayuna?”

 

“Iya, bener.”

 

“Ada paketan untuk Mbak Ayuna.” Pria itu menyodorkan kotak ke arah Rullyta.

 

Rullyta mengangguk sambil menerima kotak pemberian kurir tersebut.

 

“Tolong tanda tangan di sini!”

 

Rullyta mengangguk. Ia segera memberikan tanda tangan dan kembali masuk ke dalam rumah.

 

“Siapa, Ma?”

 

“Paket.”

 

“Buat Yeri?”

 

“Buat kamu.”

 

“Hah!?” Yuna membelalakkan mata menatap box yang ada di tangan Rullyta. “Dari siapa?”

 

“Dari online shop,” jawab Rullyta sambil membaca nama pengirim paketan tersebut.

 

“Aku nggak ada pesan apa-apa,” tutur Yuna sambil mengernyitkan dahinya.

 

Rullyta dan Yuna saling pandang. Rullyta langsung meletakkan box tersebut ke atas meja.

 

“Buka! Ini paketan buat kamu,” seru Rullyta.

 

“Aku nggak pesen apa-apa,” sahut Yuna.

 

“Iya, buka dulu! Itu tulisannya kain.”

 

“Nggak mau! Aku takut!” teriak Yuna.

 

“Terus gimana?” sahut Rullyta tak kalah heboh.

 

“Ini ada apa? Kok, teriak-teriak?” tanya Bibi War.

 

“Aha … Bi, tolong lihat isi box itu!” pinta Rullyta.

 

Bibi War langsung menoleh ke arah kotak yang ditunjuk oleh Rullyta.

 

“Iya, Bi. Tolong dong!” pinta Yuna.

 

Bibi War langsung menghampiri kotak tersebut dan membaca tulisan di atasnya. “Cuma kain, kenapa kalian ketakutan?” tanya Bibi War. Ia memegang kotak tersebut dan mulai membukanya.

 

Wajah Yuna dan Rullyta menegang. Mereka saling berpelukan sambil menahan napas.

 

Bibi War terkejut melihat isi kotak tersebut karena tidak sesuai dengan tulisan yang tertera.

 

Rullyta dan Yuna saling pandang saat mendapati ekspresi wajah Bibi War.

 

“Beneran bom?” seru Rullyta.

 

Bibi War menggelengkan kepala. “Ini … lebih bahaya dari bom.”

 

“Hah!?”

 

“Ma, aku belum mau mati!” seru Yuna. “Aku masih terlalu muda. Masih belum meraih mimpiku. Karirku baru aja dimulai. Aku baru aja nikah, belum punya keturunan. Aku nggak mau mati muda dalam keadaan mengenaskan,” ceracau Yuna.

 

“Kamu kira Mama mau mati mengenaskan di sini? Mama juga belum punya cucu!” seru Rullyta.

 

Yuna langsung menatap wajah Rullyta. “Ma, apa itu ada hubungannya sama aku?” seru Yuna.

 

“Kalian ini kenapa?” tanya Bibi War. Ia menatap Yuna dan Rullyta sambil mengernyitkan dahi. “Kalian lihat dulu sisinya!”

 

Yuna dan Rullyta mendekati kotak itu perlahan.

 

“Aaargh …!” Yuna dan Rullyta berteriak saat melihat iai kotak tersebut.

 

“Kelakuan siapa ini?” seru Rullyta sambil mengambil boneka pocong dari dalam kotak tersebut. Ia juga melihat foto Yuna yang ditusuk dengan jarum.

 

“Ini … apa maksudnya ada yang mau nyantet Mbak Yuna?” celetuk Bibi War.

 

“Bi …!?” Rullyta mendelik ke arah Bibi War.

 

“Siapa yang iseng ngirimin beginian?” gumam Bibi War sambil menatap isi kotak tersebut.

 

“Ini bukan iseng,” sahut Rullyta.

 

Yuna menatap wajah Rullyta. “Mmh … aku ngerasa nggak punya musuh. Yang sering bikin masalah sama aku cuma Bellina. Tapi, dia nggak mungkin ngelakuin ini. Biarpun dia ngeselin, tapi dia nggak akan ngelukain aku.”

 

“Pasti Refi. Siapa lagi kalau bukan cewek gila itu?” sahut Rullyta.

 

“Maksud Mama?”

 

Rullyta menarik napas panjang. “Anak ini, selalu berprasangka baik. Sampai tidak menyadari kalau dia lagi dalam bahaya,” batin Rullyta.

 

Yuna tersenyum kecil sambil menatap Rullyta.

 

“Bi, tolong masukin kotak itu ke dalam mobil saya!” perintah Rullyta pada Bibi War.

 

Bibi War mengangguk dan bergegas melakukan perintah dari majikannya.

 

Rullyta menatap serius ke wajah Yuna selama beberapa detik. “Ganti baju, dandan yang cantik, terus ikut Mama!” pinta Rullyta.

 

“Ke mana?”

 

“Nggak usah banyak tanya!” tegas Rullyta. “Buruan ganti!” Ia menarik lengan Yuna dan mendorongnya menaiki anak tangga.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna kembali menghampiri Rullyta.

 

Rullyta tersenyum senang menatap Yuna yang terlihat begitu manis dan cantik.

 

“Yuk!” ajak Rullyta. Mereka bergegas keluar rumah.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di Rumah Sakit Orthopedi and Traumatologi (RSOT).

 

“Ma, kita mau nemuin Refi?” tanya Yuna.

 

Rullyta mengangukkan kepala. “Nggak usah khawatir!”

 

“Mmh … tapi, Yeriko ngelarang aku buat ketemu sama Refi. Dia khawatir kalau …”

 

“Kamu tenang aja!” sahut Rullyta sambil merangkul pundak Yuna. “Kali ini, Mama yang temui Refi. Yeri nggak akan marah.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Mama yakin kalau Refi yang ngirim boneka itu?”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Ma, apa itu sejenis santet? Tapi, kenapa aku masih baik-baik aja?”

 

“Kamu ngarepin mati kena santet!?” dengus Rullyta kesal.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kalo menurut film yang pernah aku tonton, orang yang kena santet bakalan sakit dan …”

 

“Refi itu perempuan modern. Dia nggak mungkin main belakang kayak gitu. Pasti, dia ngirimin kotak itu cuma buat ngancam dan nakut-nakutin kamu doang.”

 

“Bisa aja dia terpengaruh sama keluarganya. Siapa tahu, keluarganya dia ada yang masih percaya begituan.”

 

“Huft, Mama rasa keluarganya nggak ada yang ngehirauin dia.”

 

“Kenapa?” tanya Yuna.

 

“Nanti aja Mama ceritain kalau kita udah di rumah. Sekarang, kita temui dia dulu.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Mereka bergegas masuk ke rumah sakit untuk menemui Refi yang tengah menjalani perawatan.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Monday, February 17, 2025

Perfect Hero Bab 150 Rapat Dadakan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Pak Bos, semua dewan komisaris sudah menunggu di ruang rapat,” tutur Riyan sambil membukakan pintu mobil untuk Yeriko.

 

Yeriko mengangguk kecil. Ia keluar dari mobil dan bergegas masuk ke gedung perkantoran miliknya.

 

“Pak, gosip soal Nyonya Muda mempengaruhi kredibilitas perusahaan kita. Sehingga, semua pemegang saham meminta untuk diadakan rapat secepatnya karena minggu ini saham perusahaan kita menurun drastis. Beberapa klien yang sedang dalam proses kontrak dengan perusahaan kita, memilih untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita.”

 

“Kamu atasi mereka. Soal dewan komisaris, aku atasi secepatnya. Semua bakal baik-baik aja.”

 

“He-em.” Riyan menganggukkan kepala.

 

Yeriko memasuki ruang rapat dan langsung duduk di kursinya. Ia menatap dingin semua orang yang telah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

“Ehem ...!” Salah satu dewan komisaris tertua berdehem, sebab Yeriko tak kunjung mengatakan apa pun untuk membuka rapat.

 

“Sampaikan! Apa yang kalian inginkan?” Yeriko menatap dingin ke semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Semua orang saling pandang dan berbisik selama beberapa saat.

 

“Mmh ... Direktur Ye, saham perusahaan kita merosot drastis minggu ini. Ini pertama kalinya Galaxy Group mengalami krisis kepercayaan. Berita yang beredar di media, sangat mempengaruhi kredibilitas perusahaan.”

 

“Terus?” Yeriko menanggapinya dengan santai.

 

“Kalau saham terus menurun, kita bisa mengalami kerugian terus-menerus. Apa yang akan Anda lakukan untuk menghadapi krisis ini?”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Ini cuma sebentar. Setelah kehebohan ini terjadi, semua akan kembali seperti semula dan akan lebih baik lagi.”

 

Semua dewan komisaris menatap Yeriko dan saling berbisik. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Yeriko karena sikap Yeriko yang begitu santai menghadapi krisis kepercayaan di perusahaannya.

 

“Pak Ye, kalau tidak diselesaikan dengan cepat, kami khawatir akan terus merugi,” sahut yang lain. “Jika tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu, kami akan menarik seluruh investasi.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kalian mau ngancam saya?”

 

“Kami nggak punya pilihan lain.”

 

“Oke. Satu minggu, semua akan kembali seperti semula!” tegas Yeriko.

 

Semua orang yang ada di dalam ruang rapat berbisik dan mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kami percaya sama Anda. Kami beri waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini.”

 

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

 

Semua orang masih saling berbisik. Walau mereka percaya dengan kinerja Yeriko, tapi tetap saja merasa khawatir kalau Yeriko tidak bisa menyelesaikan masalah keluarganya hanya dalam waktu satu minggu.

 

“Ada lagi?” tanya Yeriko sambil menatap meja yang ada di depannya.

 

Semua orang diam, tak ada yang mengeluarkan pertanyaan atau pernyataan sedikitpun di depan Yeriko.

 

Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya. “Kalau udah nggak ada, aku pergi dulu!” pamit Yeriko. Ia bergegas meninggalkan ruang rapat bersama dengan Riyan.

 

Yeriko masuk ke ruang kerja sembari membanting pintu dengan keras. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menyandarkan punggungnya.

 

“Gimana hasil pelacakan majalah itu?” tanya Yeriko sambil melonggarkan dasinya.

 

“Penulis artikelnya menggunakan akun anonim untuk menyebarkan rumor. Masih ditangani oleh departemen IT untuk mencari tahu dari mana posisi pelaku saat mengakses internet.”

 

“Dua jam!” pinta Yeriko.

 

“Eh!?” Riyan melongo sambil menatap Yeriko.

 

“Saya kasih waktu dua jam buat dapetin semua informasinya!” sentak Yeriko.

 

“Oke, Pak!” sahut Riyan. Ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko dan melangkahkan kakinya menuju ruang departemen IT.

 

“Selamat siang temen-temen!” sapa Riyan ramah.

 

“Siang!” sahut yang lainnya.

 

“Gimana soal data yang aku minta kemarin? Apa sudah ada hasilnya? Pak Ye cuma ngasih waktu dua jam dari sekarang,” tutur Riyan pada kepala Departemen IT.

 

“Masih proses, Mas Riyan.”

 

“Bisa dipercepat!” pintanya. “Pak Bos minta secepatnya.”

 

“Hah!? Oke. Oke.” Kepala Departemen langsung menepuk tangan meminta perhatian dari timnya. “Pekerjaan yang lain, kalian hold dulu sementara. Kerjain tugas dari Pak Ye untuk mencari pembuat berita di media.”

 

Semua mengangguk.

 

“Pak, saya sudah dapet IP pengguna. Dia mengakses internet lewat warnet saat mengunggah berita tersebut.” Salah satu IT junior telah lebih dahulu mendapatkan informasi.

 

“Warnet?” Riyan mengernyitkan dahi. “Apa itu artinya, nggak bisa dilacak?”

 

“Bisa. Harus menghubungi pemilik warnet untuk mencari tahu nama pelanggan yang mengakses komputer mereka di hari tersebut,” jawab Kepala Departemen IT. “Akan lebih baik lagi kalau di tempat itu ada CCTV.”

 

“Oke. Good!” Riyan mengacungkan jempol. “Apa alamat warnetnya bisa dilacak?”

 

“Sudah terlacak.”

 

“Oke. Dua orang ikut saya ke warnet itu sekarang juga!”

 

Kepala Departemen menganggukkan kepala. Ia menunjuk dua orang berbakat yang berada di dalam tim kerjanya.

 

Riyan bergegas keluar dari perusahaan untuk mendapatkan informasi pelaku penyebaran berita hoax yang telah mempengaruhi kredibilitas perusahaan.

 

Kurang dari dua jam, Riyan sudah berhasil mengumpulkan informasi dan membawakannya ke hadapan Yeriko.

 

“Pak Bos, ini informasi yang kami dapat.” Riyan menyodorkan map berisi informasi tentang pelaku yang menyebarkan isu di internet.

 

Yeriko meraih map tersebut dan membukanya. Ia tersenyum sinis melihat foto yang ada di dalam map tersebut.

 

“Pak Bos kenal sama orang ini?” tanya Riyan.

 

Yeriko hanya tersenyum sinis. “Panggilkan Kepala Departemen Humas ke sini!” perintah Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala, ia bergegas keluar dari ruangan Yeriko dan pergi ke ruang Departemen Humas sesuai dengan perintah Yeriko.

 

“Yeriko!” Rullyta langsung berteriak begitu masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

“Ma, ada apa?” tanya Yeriko.

 

“Masih tanya ada apa, hah!? Kalau kamu nggak menyelesaikan secepatnya, kakek kamu akan segera tahu masalah ini. Mama nggak bisa menutupinya lagi.”

 

“Mama tenang aja. Aku bakal selesaikan secepatnya,” sahut Yeriko. “Masalah kakek, tolong Mama kendalikan dia dulu!” pintanya.

 

“Mama cuma bisa melakukannya sementara. Kalau kamu belum bisa ngatasi dalam minggu ini, Kakek kamu akan segera tahu soal kondisi perusahaan.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Mama tenang aja!”

 

Rullyta menarik napas dalam-dalam. Ia masih tidak mengerti kenapa anaknya terlihat sangat tenang menghadapi masalah keluarga dan masalah perusahaan.

 

“Huft, kalian akan segera menikah dan banyak hal yang harus kalian hadapi sekarang,” celetuk Rullyta sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

 

“Ma, kita udah nikah.”

 

“Ya, ya, ya. Mama tahu. Tapi, pernikahan kalian belum banyak yang tahu. Bahkan, Mama dan kakek pun nggak tahu saat kamu menikahi Yuna. Apa kamu pikir itu bagus? Nyembunyikan pernikahan di depan keluarga sendiri, hah!?”

 

“Ck, Mama nggak usah ungkit soal itu lagi! Pernikahan kami bukan buat dapetin pengakuan dari semua orang.”

 

“Sekarang kamu biarin orang luar ngacau semuanya? Ini karena kamu ngerahasiain pernikahan kamu di depan publik.”

 

“Aku nggak ngerahasiain. Semua orang di perusahaan tahu pernikahan kami.”

 

“Orang perusahaan kamu nggak akan berbuat onar seperti Refi,” sahut Rullyta. “Mama heran, kenapa dia tiba-tiba muncul lagi dan bikin kekacauan kayak gini.”

 

“Ck, Ma ... aku lagi banyak kerjaan. Bisa diomongin nanti di rumah?”

 

Rullyta mengernyitkan dahi menatap Yeriko. “Masalah sepenting ini, kamu masih santai dan mau ngomongin nanti?”

 

“Huft ...” Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Ma, masalah perusahaan juga sama pentingnya. Aku selesaikan dulu. Soal Refi, kita omongin di rumah.”

 

Rullyta menghela napas. Ia bangkit dan langsung bergegas keluar dari ruangan Yeriko. “Dasar, anak nggak berguna,” celetuknya kesal.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu saat mamanya keluar sambil membanting pintu dengan keras. Yeriko menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ia merasa sangat bahagia karena mamanya sangat memperhatikan hubungannya dengan Yuna, juga menyayangi istrinya seperti anak sendiri.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 149 : Perhatian Mama Mertua || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko bangkit dan keluar kamar setelah Yuna tertidur pulas. Ia melangkah menuju ruang kerjanya. Kemudian, duduk bersandar di sofa sambil menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan.

 

Yeriko menatap layar ponsel dan segera menelepon Riyan.

 

“Halo ...! Ada apa, Pak Bos?”

 

“Yan, kamu selidiki gosip yang tersebar hari ini!” pinta Yeriko. “Cari tahu orang yang ngirim foto-foto itu ke redaksi majalah!”

 

“Oke. Siap, Bos!”

 

“Oh ya, soal PT. Cahaya Gemilang, apa sudah ada perkembangan?”

 

“Sudah, Pak Bos. Dalam waktu kurang dari sebulan, saya pastikan perusahaan itu sudah bangkrut.”

 

“Bagus.”

 

“Ada perintah lagi?” tanya Riyan.

 

“Nggak ada. Sementara, bantu selidiki masalah Nyonya Muda dulu!”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Kemudian, ia kembali menelepon Wilian.

 

“Halo ...!” sapa Lian begitu panggilan telepon Yeriko tersambung.

 

“Halo ...! Udah tidur?”

 

“Belum. Gimana keadaan Yuna? Aku denger dari karyawan, dia luka?”

 

“He-em. Dia nggak bisa masuk kerja sampai lima hari ke depan.”

 

“Oke. Nggak masalah. Salam untuk Yuna, semoga cepat sehat lagi!”

 

“He-em.” Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

Yeriko menyentuh rahangnya yang masih terasa ngilu akibat perkelahiannya dengan Andre. Andre memang sangat menyebalkan. Tapi juga sangat peduli pada Yuna.

 

“Bagus juga kalau ada orang lain yang bisa melindungi kamu,” gumam Yeriko. Ia menuangkan wine yang ada di atas meja dan menenggaknya perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyum, hatinya merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Sebab, ia tidak mampu melindungi Yuna di saat-saat kritis.

 

“Aku nggak pernah peduli sama apa pun selain bisnis. Tapi, kamu sudah berhasil mengubah seluruh hidupku,” celetuk Yeriko sambil membaringkan tubuhnya di sofa.

 

Untuk pertama kalinya, Yeriko memikirkan banyak hal di luar bisnis. Ia terus memikirkan hubungannya dengan Yuna. Tanpa sadar, ia terlelap begitu saja di sofa ruang kerjanya.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna terbangun dari tidurnya dan mendapati suaminya masih terlelap di sisinya.

 

“Yer, nggak kerja?” Yuna menggoyangkan tubuh Yeriko.

 

Yeriko meraih lengan Yuna dan memasukkan ke dalam bajunya. “Tidur dulu!” pintanya.

 

“Udah siang. Aku juga mau kerja,” tutur Yuna sambil menatap tirai kamar yang sudah terbuka.

 

“Aku udah izinin kamu ke Lian. Nggak usah masuk kerja sampai lima hari ke depan!” Yeriko meraih remote tirai dan menutup kembali tirai kamarnya yang sudah terbuka agar cahaya matahari tak mengganggu tidurnya.

 

“Beneran?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk, kemudian memejamkan matanya kembali. “Gimana luka kamu? Udah sembuh?”

 

“Udah mendingan,” jawab Yuna.

 

“Kalo gitu, temenin aku tidur sebentar!” pinta Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Jam sepuluh, aku baru masuk kantor.”

 

“Siang banget?” Yuna mengernyitkan dahi.

 

Yeriko tersenyum sambil memicingkan mata menatap Yuna. Ia menempelkan hidungnya ke hidung Yuna. “Siapa yang mau marah kalau aku berangkat ke kantornya siang?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kamu yang punya perusahaan. Nggak bakal ada yang marah.”

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Cuma Nyonya Ye yang bisa marahin aku,” tuturnya sambil mencubit hidung Yuna. “Kita tidur sebentar lagi!” pintanya sambil memeluk kepala Yuna ke dalam dadanya.

 

 

 

Bukannya mereda, berita tentang Yuna semakin menjadi. Kali ini, majalah cetak dan online menampilkan foto Andre saat menolong Yuna di depan kantor Wijaya Group. Rumor kali ini benar-benar membuat semua keluarga Yeriko kesal.

 

“Mama? Tumben pagi-pagi udah di sini?” tanya Yeriko saat ia akan berangkat ke tempat kerjanya.

 

Rullyta menatap tajam ke arah Yeriko sambil melipat kedua tangannya. “Kamu masih bisa sesantai ini? Gosip di luar sana sudah heboh banget dan kamu bertingkah seolah-olah nggak ada apa-apa?”

 

“Gosip Yuna sama Andre?” tanya Yeriko santai.

 

Rullyta melebarkan matanya saat mendengar pertanyaan Yeriko. “Kamu sudah tahu? Siapa laki-laki itu?”

 

“Temen kecilnya Yuna. Dia yang nolongin Yuna waktu Yuna terluka karena ulah wartawan-wartawan itu.”

 

“Mereka nggak ada hubungan apa pun?”

 

“Nggak ada, Ma. Aku kenal sama Andre.”

 

Rullyta menghela napas lega. “Kenapa gosip yang beredar kayak gitu?”

 

“Wartawan bikin spekulasi sendiri.”

 

“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Rullyta.

 

“Pak Bos!” Riyan tiba-tiba menerobos masuk. “Eh, Nyonya Besar? Selamat pagi!” sapa Riyan sambil membungkukkan punggungnya di hadapan Rullyta.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko saat menangkap ekspresi wajah Riyan yang tak biasa.

 

Riyan membisikkan sesuatu di telinga Yeriko.

 

“Ma, aku pergi kerja dulu!” pamit Yeriko.

 

“Eh!? Kita belum selesai ngomong!” seru Rullyta.

 

“Aku masih ada urusan penting. Kita bicarakan setelah aku pulang. Gimana?”

 

“Oke. Yuna mana?”

 

“Di kamar. Kakinya masih sakit.”

 

Rullyta berbalik dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar anaknya. Ia membuka pintu perlahan dan mendapati Yuna sedang berbaring di tempat tidur.

 

“Pagi ...!” sapa Rullyta sambil menghampiri Yuna.

 

“Eh, Mama? Udah dari tadi?” Yuna berusaha bangkit dari tempat tidur.

 

“Nggak usah turun!” pinta Rullyta sambil menghampiri Yuna dan ikut duduk di tepi tempat tidur. “Gimana lukamu?”

 

“Udah mendingan, Ma. Cuma luka sedikit aja, kok.”

 

“Kamu sudah lihat berita hari ini?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta menghela napas panjang. “Gimana bisa, mereka jadikan itu bahan masakan lezat? Kamu, nggak ada hubungan spesial sama Andre kan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kami sahabat dari kecil. Kami sudah seperti adik-kakak. Saat itu, Andre datang karena khawatir soal gosip yang disebar sama Refi. Di sana ada banyak wartawan. Aku jatuh, Andre nolongin aku dan ...”

 

“Mereka langsung menggodok itu. Nulis di berita kalau kamu selingkuh sama Andre?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, semua itu nggak bener. Yeriko tahu kalau aku ...”

 

“Mama percaya sama kamu!” Rullyta tersenyum sambil mengusap lembut pipi Yuna.

 

“Makasih, Ma!” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

“Jangan nangis! Mama akan bantu kalian buat nyelesaikan masalah ini.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

 

 

Rullyta dan Yuna langsung menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Asisten pribadi Rullyta masuk ke dalam, membisikkan sesuatu di telinga Rullyta sambil menyodorkan tab ke arah bosnya itu.

 

“Yun, Mama pulang dulu!” pamit Rullyta. “Cepet sembuh ya! Nanti sore, Mama mau ajak kamu ke rumah sakit.”

 

“Rumah sakit?”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Kita temui Refi.”

 

“Oh. Oke.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta tersenyum. Ia mencium kedua pipi Yuna dan bergegas turun dari kamar.

 

“Bi, hubungan mereka gimana? Apa baik-baik aja?” tanya Rully sambil menghampiri Bibi War yang sedang memasak di dapur.

 

“Baik, Bu.”

 

“Gosip yang lagi viral, nggak mempengaruhi hubungan mereka?”

 

Bibi War menggelengkan kepala. “Mas Yeri kelihatan baik-baik aja.”

 

“Huft, dia terlalu santai menanggapinya,” celetuk Rullyta. “Tolong perhatikan Yuna!” pinta Rullyta.

 

“Baik, Bu.”

 

“Nanti sore saya ke sini lagi.”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Rullyta segera pergi dari rumah Yeriko.

 

Bibi War mengambil mangkuk berisi sup tonik untuk Yuna dan membawakannya ke kamar.

 

“Mbak, supnya diminum dulu ya! Biar cepet sehat!” pinta Bibi War sambil menyodorkan mangkuk sup ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengangguk. “Makasih banyak, Bi!” Yuna langsung menerima sup pemberian Bibi War dan meminumnya perlahan.

 

“Mbak Yuna baik-baik aja?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Gosip yang lagi beredar, apa itu juga kerjaan Refi?”

 

“Belum tahu, Bi. Sepertinya ... kali ini memang hasil godokan wartawan.”

 

“Hmm ... Bibi kesel banget. Kenapa setiap hari ada aja berita yang menyudutkan Mbak Yuna. Kalau bukan karena Refi, Mbak Yuna nggak akan menerima penderitaan seperti ini.”

 

Yuna tersenyum menatap Bibi War. “Nggak usah khawatir, Bi! Aku baik-baik aja,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

Bibi War ikut tersenyum menatap wajah Yuna. Ia selalu melihat Yuna sebagai wanita yang mandiri. Selalu berusaha mengandalkan dirinya sendiri. Tapi, tetap saja ia khawatir dengan hubungan mereka. Ia takut, Yeriko yang tak mampu menenangkan Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas