Monday, February 17, 2025

Perfect Hero Bab 148 : Romansa Luka Kecil || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Minum ini dulu ya!” pinta Yeriko sambil membawakan Chicken Tonic Soup buatan Bibi War.

 

Yuna mengangguk sambil memperbaiki posisi duduknya.

 

Yeriko duduk di sisi Yuna dan menyuapi Yuna perlahan sambil meniup sup yang masih panas.

 

“Lain kali, kalau Refi ngajak ketemuan. Lebih baik nggak usah kamu tanggepin!” tutur Yeriko sambil meniup sup di sendok dan menyuapkan ke mulut Yuna.

 

“Aku nggak tahu kalau ternyata dia mau jebak aku,” sahut Yuna lirih.

 

Yeriko menghela napas. Kemudian tersenyum kecil sambil menatap Yuna. “Lebih baik, bicarakan dulu sama aku sebelum kamu ketemu Refi!”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum. Ia terus menyuapkan sup ke mulut Yuna.

 

“Mmh ... aku boleh tanya sesuatu?”

 

“Apa?”

 

“Apa Refi nggak punya keluarga? Dia selalu sendirian di rumah sakit dan selalu mengandalkan kamu. Dia ...”

 

“Nggak usah bahas Refi lagi!” pinta Yeriko.

 

“Kenapa?” tanya Yuna sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menatap wajah Yuna beberapa saat. Kemudian menghela napas sambil menundukkan kepalanya. “Dari dulu, hubungan dia dan mamanya nggak baik.”

 

“Apa keluarga lainnya nggak ada?” tanya Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam sembari menatap Yuna. “Nggak usah bahas dia lagi!” pintanya.

 

Yuna terdiam melihat tatapan dingin Yeriko. Sepertinya, Yeriko memang tidak punya keinginan untuk membahas tentang kehidupan Refi.

 

Mereka terdiam selama beberapa saat. Usai menghabiskan supnya, Yuna berusaha untuk turun dari tempat tidur.

 

“Mau ke mana?”

 

“Mau mandi,” jawab Yuna.

 

“Nggak usah mandi!” pinta Yeriko. “Kaki kamu masih luka.”

 

“Yang luka cuma kakinya. Badanku bau asem kalo nggak mandi.” Yuna menurunkan kakinya perlahan.

 

Yeriko mendesah kesal. Ia langsung mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke kamar mandi. “Aku mandiin kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil melingkarkan lengannya ke leher Yeriko. Ia merasa, perhatian Yeriko tak pernah berubah. Selalu menjadi suami yang berinisiatif dan menyayanginya sepenuh hati.

 

“Yer, pelan-pelan!” pinta Yuna sambil meringis saat Yeriko melepas pakaian Yuna perlahan.

 

“Ini udah pelan,” jawab Yeriko.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko.

 

“Ku seka aja ya?” tanya Yeriko sambil menatap tubuh Yuna.

 

“Mmh… okay,” jawab Yuna sambil tersenyum bahagia.

 

Yeriko memandikan Yuna dengan hati-hati, kemudian membawa Yuna ke atas tempat tidur kembali.

 

“Mau pakai baju yang mana?” tanya Yeriko.

 

“Sembarang aja,” jawab Yuna.

 

Yeriko melangkah menuju lemari pakaian dan mengambilkan piyama untuk Yuna.

 

“Aku bisa pakai sendiri,” tutur Yuna sambil meraih pakaian dari tangan Yeriko.

 

“Yakin?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko melipat kedua tangan sambil berdiri di samping tempat tidur. Ia memerhatikan Yuna yang sedang memakai celana dalam dengan susah payah karena lututnya terluka.

 

Yuna meringis kesakitan saat berusaha menekuk lututnya.

 

Yeriko menghela napas dan langsung membantu Yuna. “Kenapa selalu memaksakan diri?” tanyanya sambil memakaikan celana untuk Yuna.

 

Yuna meringis menatap Yeriko. Ia membuka handuk yang membalut tubuhnya dan mengganti dengan piyama yang dipilih oleh Yeriko.

 

“Kamu istirahat dulu!” pinta Yeriko. “Aku mau mandi.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Yeriko bangkit, ia meraih ponsel dan langsung menelepon nomor telepon rumahnya sendiri.

 

“Halo ...! Bi, tolong antarkan makan malam ke kamar ya!” perintah Yeriko. Ia langsung mematikan telepon dan bergegas masuk ke kamar mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. “Bibi belum antar makanan?” tanyanya sambil mengenakan kaos miliknya.

 

Yuna menggelengkan kepala sambil menatap layar ponselnya.

 

Yeriko menghampiri Yuna dan merebut ponsel dari tangan istrinya.

 

“Eh!? Kenapa diambil?” Yuna berusaha meraih ponselnya kembali dari tangan Yeriko.

 

Yeriko menatap layar ponsel Yuna yang berisi berita viral yang terjadi siang tadi. Ia melihat foto Yuna bersama Refi di taman rumah sakit. Juga, banyak komentar dari penggemar Refi yang menyerang Yuna.

 

Yeriko menghela napas sambil menatap Yuna. “Jangan baca berita lagi!” pintanya sambil mematikan ponsel Yuna dan menyimpannya di laci.

 

Yuna menggigit bibir bawahnya. Walau komentar-komentar netizen membuat perasaannya memburuk. Tapi ia masih terus penasaran dan ingin membacanya.

 

Yeriko duduk di tepi tempat tidur sambil menatap Yuna. “Aku bakal nyelesaikan masalah ini secepatnya. Percaya sama aku!” pinta Yeriko sambil mengusap lembut pipi Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Mmh ...”

 

“Kenapa?”

 

“Tadi, waktu aku jatuh dan Andre nolongin aku. Ada banyak wartawan yang motoin. Aku khawatir kalau bakal ada masalah baru.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Mereka cuma bisa menciptakan rumor tanpa tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Aku percaya sama kamu.”

 

Yuna menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

“Kenapa malah sedih?”

 

“Aku bukan sedih. Aku terlalu bahagia karena bisa punya kamu dalam hidupku,” jawab Yuna lirih sambil mengusap bulir air mata yang jatuh di pipinya.

 

Yeriko tersenyum sambil merengkuh kepala Yuna.

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu kamar. “Masuk, Bi!”

 

Pintu kamar terbuka perlahan. Bibi War masuk sambil membawakan makanan untuk Yuna dan Yeriko.

 

“Ini, makan malam untuk kalian!”

 

Yeriko mengangguk. “Makasih, Bi!”

 

Bibi War mengangguk. Ia meletakkan makanan ke atas meja dan bergegas keluar dari kamar Yeriko.

 

“Makan dulu, ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung menggendong tubuh Yuna dan membawanya ke sofa. Ia menyalakan televisi sambil menikmati makan malam bersama Yuna.

 

“Oh ya, obat kamu mana?” tanya Yeriko usai menghabiskan makan malam mereka.

 

“Masih di dalam tas.”

 

Yeriko bangkit, ia melangkahkan kakinya menuju lemari yang berisi semua tas koleksi istrinya. “Tas yang mana?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Yeriko. “Tas yang di atas meja. Yang aku pakai tadi.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah meja yang ada di samping tempat tidurnya. “Oh.” Ia melangkahkan kaki mendekati meja dan mengambil obat dari dalam tas Yuna.

 

“Minum obat dulu ya!” pinta Yeriko sambil mengeluarkan obat satu per satu.

 

Yuna langsung meminum obat yang disodorkan oleh Yeriko.

 

Yeriko mengernyitkan dahi saat melihat obat oles yang ada di dalam kantong obat tersebut. Ia menoleh ke arah lutut Yuna yang masih dibalut kain perban.

 

“Ini ... obat olesnya buat dipakai sekarang?” tanya Yeriko.

 

“Iya. Masa tahun depan?” sahut Yuna.

 

“Bukan gitu. Kaki kamu aja masih diperban. Gimana makenya?”

 

“Dibuka perbannya!” sahut Yuna.

 

Yeriko tersenyum. “Oke. Kamu buka perbannya ya!” perintah Yeriko. “Aku balikin tempat makan yang kotor ke dapur sekalian ambil air hangat.”

 

“Air hangat buat apa?” tanya Yuna.

 

“Buat bersihin luka kamu sebelum dikasih obat oles.”

 

“Oh.” Yuna manggut-manggut. Ia segera membuka perban di lututnya secara perlahan sambil menatap tubuh Yeriko yang berjalan keluar kamar.

 

Tak berapa lama. Yeriko kembali dengan membawa ember kecil berisi air hangat dan handuk kecil. Ia membasuh luka di lutut Yuna dengan hati-hati.

 

“Aw ...! Pelan-pelan!” desis Yuna.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Tahan ya!” pinta Yeriko sambil mengoleskan obat di luka Yuna. “Sakit?” tanyanya sambil menatap Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil menggigit kerah bajunya. “Perih,” bisiknya lirih dengan mata berkaca-kaca.

 

Yeriko meletakkan obat di atas meja usai mengoleskannya pada luka Yuna. Ia membersihkan tangannya dengan handuk basah dan mengeringkannya menggunakan tisu.

 

Yuna terus merintih kesakitan.

 

Yeriko mengusap air mata Yuna perlahan. “Udah nangisnya!” pinta Yeriko. “Katanya, Ayuna cewek yang kuat?”

 

“Sakit!”

 

“Iya, tahu. Jangan nangis! Kayak anak kecil,” tutur Yeriko sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yuna tertawa kecil. “Iya, sih. Masih lebih sakit yang di sini,” tutur Yuna sambil menunjuk dadanya sendiri.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam dan menarik Yuna ke dalam pelukannya. Ia mengerti, akhir-akhir ini telah banyak hal yang terjadi dalam hubungan mereka dan menyakiti Yuna. “Kita hadapi semuanya sama-sama,” bisik Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 147 : Duel Sengit || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna menyadari tatapan kedua pria di hadapannya sama-sama berbahaya. Ia sangat mengerti bagaimana keduanya. Ia mengkhawatirkan keduanya yang sama-sama berambisi.

 

“Yer ...!” panggil Yuna lirih sambil meraih ujung jari Yeriko.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna sambil tersenyum. “Ya.”

 

“Kita pulang sekarang, yuk!” ajak Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Tunggu!” seru Andre sambil menghampiri Yeriko. “Ada hal penting yang mau aku bicarakan.”

 

“Apa?”

 

“Nggak di sini.” Andre melangkahkan kakinya.

 

Yeriko melangkah mengikuti Andre.

 

“Yer ...!” panggil Yuna lagi. Ia sangat mengkhawatirkan keduanya.

 

Yeriko tersenyum ke arah Yuna. “Semua bakal baik-baik aja.”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas mengikuti langkah Andre sampai ke taman rumah sakit.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko.

 

“Kamu ke mana aja?” tanya Andre dingin. “Sudah lima hari Yuna digosipin aneh-aneh sama mantan pacar kamu itu. Kamu diam aja? Sampai sekarang Yuna terluka kayak gini, kamu masih nggak mau berbuat apa pun? Suami nggak becus!” sembur Andre.

 

“Kamu siapa? Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga aku!” sahut Yeriko.

 

Andre melebarkan matanya menatap Yeriko. Ia mengepal tangannya perlahan. Menarik napas dalam-dalam dan langsung menghujankan pukulan ke wajah Yeriko. “Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Yuna sekalipun kamu suaminya dia!” seru Andre dengan napas memburu.

 

Yeriko menatap wajah Andre kesal. Ia tak menyangka kalau Andre akan menghujaninya dengan pukulan. Tanpa pikir panjang, ia langsung membalas pukulan Andre hingga Andre tersungkur ke tanah.

 

Andre bangkit dan kembali memukul Yeriko. Mereka saling pukul di taman hingga menarik perhatian orang lain. Orang-orang langsung memanggil satpam untuk melerai keduanya.

 

“Jangan sentuh aku!” sentak Andre pada satpam sambil merapikan jaketnya. “Aku bisa pergi sendiri.”

 

Satpam yang berjaga membiarkan Andre pergi sendirian. Sementara Yeriko masih berdiri di tempatnya sambil menikmati rasa nyeri di rahangnya. Ia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.

 

Yeriko melangkah menuju toilet untuk memastikan tidak ada luka di wajahnya yang akan menarik perhatian Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari toilet dan langsung menghampiri Yuna.

 

“Andre mana?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Kamu nggak macem-macemin dia kan?”

 

“Ck, kamu malah mengkhawatirkan orang lain?”

 

“Bukan gitu. Dia udah nolongin aku hari ini. Nggak enak aja kalau dia tiba-tiba ngilang gitu aja.”

 

“Aku udah wakilin kamu buat ngucapin terima kasih ke dia. Dia masih banyak kerjaan. Jadi, pulang duluan.”

 

“Oh.” Yuna manggut-manggut.

 

“Kita pulang sekarang!” ajak Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Icha yang masih berdiri di sebelahnya.

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Aku bawa motor sendiri, Yun.”

 

“Makasih, ya! Udah temenin aku.”

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Cepet sembuh ya!”

 

Yuna mengangguk.

 

Icha bergegas pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.

 

Yeriko menghela napas, ia mendorong kursi roda Yuna keluar dari rumah sakit.

 

“Tunggu di sini  sebentar!” pinta Yeriko. “Aku ambil mobil dulu.”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas mengambil mobil. Ia menghampiri Yuna yang masih duduk di kursi roda dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.

 

“Kenapa sama Andre?” tanya Yeriko saat mereka dalam perjalanan pulang.

 

“Eh!?”

 

“Temen kantor kamu banyak. Kenapa harus Andre?” tanya Yeriko lagi.

 

Yuna tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yeriko. “Kamu cemburu ya?” godanya.

 

Yeriko tak menjawab pertanyaan Yuna. Ia fokus menatap jalanan yang ada di depannya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya melihat sikap Yeriko. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi sambil memejamkan mata.

 

Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menggendong Yuna masuk ke kamar, membaringkan Yuna ke atas tempat tidur.

 

“Istirahatlah!” pinta Yeriko.

 

Yuna merangkul leher Yeriko sambil tersenyum. “Kamu marah?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Kenapa diam aja sepanjang jalan?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa. Banyak hal yang lagi aku pikirkan. Kamu istirahat ya!”

 

Yuna mengangguk kecil.

 

Yeriko tersenyum, kemudian mengecup lembut kening Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia.

 

Yeriko menyelimuti tubuh Yuna dan melangkah keluar dari kamar. Ia menuju ruang kerja pribadinya. Menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal yang terjadi hari ini.

 

Yeriko menoleh ke arah ponsel yang berdering di atas meja. Ia meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilan telepon dari mamanya.

 

“Halo ...!”

 

“Ya, Ma.”

 

“Yuna terluka?”

 

“Iya. Mama tahu dari mana?”

 

“Pemberitaan media semakin menjadi-jadi. Kenapa kamu diam aja?” sentak Rullyta.

 

Yeriko terdiam. Ia tidak ingin memperburuk kondisi mental Refi, tapi malah menyakiti istrinya sendiri.

 

“Kenapa diam!?”

 

“Aku bakal selesaikan secepatnya.”

 

“Kalau kamu nggak mampu menghadapi Refi, biar Mama yang turun tangan menyelesaikan masalah ini.”

 

“Ma, biar kami selesaikan sendiri. Ini masalah kami bertiga dan ...”

 

“Kamu anggap Mama orang lain, hah!?” teriak Rullyta.

 

Yeriko menjauhkan ponsel dari telinganya.

 

“Ma, kondisi mental Refi lagi nggak baik. Aku takut dia bakal ngancam bunuh diri lagi.”

 

“Kamu masih mikirin cewek gila itu, hah!? Nggak mikirin perasaan istri kamu sendiri?”

 

“Yuna jauh lebih kuat dari Refi. Aku nggak mau Refi bikin semuanya semakin rumit dan semakin menyakiti Yuna.”

 

“Kamu bener-bener nggak berguna!” sahut Rullyta kesal, ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yeriko menghela napas sejenak. Ia langsung menelepon Riyan.

 

“Halo, Pak Bos!” sapa Riyan.

 

“Gimana hasil meeting hari ini?”

 

“Semuanya oke. Report-nya udah saya kirim ke email Pak Bos.”

 

“Oh, oke. Sekarang di mana?”

 

“Di jalan, mau pulang.”

 

“Aku ada tugas buat kamu?”

 

“Ya.”

 

“Cari tahu dalang di balik pemberitaan Yuna di media!”

 

“Siap, Pak!”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia keluar dari ruang kerja dan turun ke dapur menemui Bibi War.

 

“Bi, Yuna terluka,” tutur Yeriko.

 

“Apa!?” Bibi War terkejut mendengar pernyataan Yeriko. “Gimana keadaannya sekarang?”

 

“Dia baik-baik aja. Lagi istirahat di kamar.”

 

“Biar bibi buatkan sup untuk Mbak Yuna.”

 

Yeriko mengangguk. “Aku naik ke kamar dulu temenin Yuna. Nanti, kalau Riyan datang, panggil aku ya!”

 

“Siap, Mas!”

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia melangkahkan kaki perlahan menuju ke kamarnya.

 

“Nggak tidur?” tanya Yeriko sambil melepas jasnya. Ia menghampiri Yuna yang sedang asyik bermain ponsel. “Malah main game.”

 

Yuna meringis. “Bete, nggak tahu mau ngapain.”

 

Yeriko tersenyum. Ia menggeser tubuh Yuna, duduk bersandar di tempat tidur sambil memeluk Yuna dari belakang. “Yun ...!” bisik Yeriko sambil mengendus leher Yuna.

 

“Ya,” sahut Yuna, ia masih saja fokus dengan ponselnya.

 

“Apa kamu bisa menghindari Andre?”

 

Yuna mendongakkan kepala menatap Yeriko sambil tersenyum. “Kamu masih cemburu?”

 

“Sedikit.”

 

“Cuma sedikit?”

 

Yeriko mengangguk.

 

“Huft, padahal cemburuku ke Refi besaaaar banget! Tapi aku nggak pernah minta kamu buat menghindari dia.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena aku percaya sama suamiku. Suamiku pria yang sangat tampan. Ada banyak cewek yang menginginkannya. Aku nggak akan menghindari mereka, aku akan menghadapinya dan mempertahankan rumah tanggaku,” jawab Yuna sambil tersenyum manis. Ia menepuk-nepuk pipi Yeriko dengan lembut.

 

Yeriko menatap Yuna penuh cinta. Ia mengulum bibir Yuna perlahan sambil memeluk erat tubuh Yuna.

 

Bagi Yeriko, Yuna adalah wanita yang paling spesial dalam hidupnya. Awalnya, ia menikahi Yuna hanya karena menginginkan status di perusahaannya saja. Bukan karena cinta. Tapi, perhatian kecil Yuna membuatnya jatuh cinta setiap hari.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas