“Ma, siapin makan malam spesial untuk malam ini!”
perintah Tarudi pada hari keempat setelah malam pergantian tahun baru.
“Papa jadi ngundang mereka makan malam di rumah
kita?” tanya Melan.
Tarudi menganggukkan kepala.
“Apa sih yang Papa rencanakan? Gimana kalau mereka
diam-diam malah ngambil alih perusahaan kita?”
“Sudahlah. Jangan terus-menerus membahas soal
perusahaan! Ini semua Papa lakukan untuk menjaga nama baik keluarga besar kita.
Ini murni acara keluarga. Jangan bikin ulah!” sahut Tarudi.
Melan menarik napas dalam-dalam. Ia langsung
berbalik dan pergi ke dapur. Memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan banyak
makanan enak. Karena malam ini, mereka akan menjamu Adjie dan keluarganya. Ia
sangat berharap kalau hubungan baik yang akan mereka jalin bisa membuat Adjie
mempercayakan perusahaan pada suaminya saja.
Tarudi mondar-mandir di teras rumahnya. Ia
khawatir kalau Yuna tidak memenuhi janjinya untuk makan malam bersama di
rumahnya. Ia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja dan langsung menelepon
Yuna.
“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan telepon
dari Tarudi tersambung.
“Halo, Yuna. Ingat ‘kan kalau malam ini makan
malam di rumah Oom?”
“Ingat, Oom. Kami berangkat dari rumah jam tujuh
ya.”
“Oke, Oom tunggu!” sahut Tarudi.
“Iya, Oom.”
Tarudi langsung mematikan panggilan teleponnya.
...
Di saat yang sama ...
Bellina mendesah kesal karena panggilan teleponnya tak kunjung
dijawab oleh mamanya.
“Mama lagi apa sih?” gumam Bellina sambil menempelkan ponsel ke
telinganya.
“Halo ...!” Suara Melan akhirnya terdengar pada panggilan
kedelapan.
“Halo, Ma ...! Mama lagi apa? Lama banget angkat teleponnya?”
“Mama lagi masak, nih. Soalnya si Adjie sama anaknya yang
sok cantik itu bakal makan malam di sini.”
“Mereka mau makan malam di sana? Kok, Mama nggak kasih tahu aku?”
“Papa kamu yang minta. Karena malam tahun baru, mereka nggak bisa
ngumpul sama keluarga kita. Jadi, papa kamu mengundang mereka makan malam ini.”
“Oh. Gitu? Aku sama Lian ke sana juga.”
“Mau ke sini juga?”
“Iya, dong. Ada sepupuku yang paling kaya raya bakal makan di
rumah Mama. Masa aku nggak datang? Aku nggak mau melewatkan momen seru yang
akan terjadi nanti.”
“Bell, Papa kamu udah pesan supaya nggak bikin ulah. Kita nggak
pernah tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Jadi, kita harus baik-baik sama
mereka supaya mereka bisa mengurungkan niatnya untuk mengambil alih
perusahaan.”
“Tenang, Ma! Aku bakal bersikap semanis mungkin. Mama nggak perlu
khawatir!” pinta Bellina.
“Oke. Mama tunggu! Ajak Lian sekalian!”
“Pasti, dong! Ya udah, aku siap-siap dulu, Ma.”
“Oke. Bye!” Melan langsung mematikan panggilan teleponnya.
Bellina tersenyum begitu mendengar kalau keluarganya akan menjamu
Yuna. “Pasti ada Yeriko di sana,” gumamnya sambil tersenyum. Ia memerhatikan
tubuhnya di depan cermin. “Aku harus tampil lebih cantik dari Yuna!”
Bellina segera bersiap dan menelepon suaminya.
“Halo ...!” sapa Lian begitu panggilan telepon dari Bellina
tersambung.
“Halo, kamu pulang jam berapa?” tanya Bellina.
“Belum tahu. Kenapa?”
“Malam ini papaku ngundang Yuna makan malam di rumah. Jadi, aku
mau ke sana juga. Kamu mau ikutan atau nggak?”
“Jam berapa?”
“Jam tujuh.”
“Oke. Aku pulang dua jam lagi.”
“Oke. Aku tunggu di rumah. I love you ...”
“I love you too,” sahut Lian.
Bellina langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia segera memilih
pakaian terbaik untuk makan malam. Ia tidak ingin terlihat payah di depan Yuna
atau pun Yeriko.
Beberapa jam kemudian ...
Yuna menarik napas beberapa kali saat mobil Yeriko berhenti di
halaman rumah keluarga Linandar.
Yeriko melirik Adjie yang sudah keluar dari mobil terlebih dahulu.
“Udah siap?” tanya Yeriko sambil menggenggam tangan Yuna.
Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Yakin, nggak papa?”
“Nggak papa. Ada aku sama Ayah Adjie. Kamu nggak percaya sama
kami?”
Yuna menggigit bibir. Ia melepas safety belt yang melingkar di
pinggangnya.
Yeriko tersenyum kecil. Ia segera keluar dari mobil. Mereka
menghampiri Adjie yang sudah lebih dahulu berada di luar mobil.
“Yah ...!” panggil Yuna sambil merangkul lengan Adjie.
Adjie tersenyum sambil mengelus tangan Yuna. “Jangan kayak gini!
Kamu sudah dewasa,” bisiknya.
Yuna langsung melepas lengan Adjie. Ia menggigit bibir
sambil mengikuti langkah Adjie menghampiri pintu rumah itu.
Adjie menarik napas dalam-dalam. Ia menekan bel, kemudian menunggu
selama beberapa detik.
“Kak Adjie ...? Sudah datang. Ayo, masuk!” sapa Tarudi begitu ia
membuka pintu.
Adjie menganggukkan kepala. Ia, Yuna dan Yeriko langsung melangkah
masuk ke dalam rumah tersebut.
Tarudi langsung mengajak mereka ke meja makan. Di sana, sudah ada
Bellina dan Lian.
“Malam ...!” sapa Yuna sambil tersenyum manis.
“Malam, Yun! Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?” balas Bellina. Ia
bangkit dari tempat duduk dan ingin memeluk tubuh Yuna.
Yuna langsung melangkah mundur, menghindari Bellina agar tidak
menyentuh tubuhnya. Ia hanya tersenyum menatap wajah Bellina.
Wajah Bellina berubah masam saat Yuna menolak niat baiknya.
Yeriko langsung merangkul tubuh Yuna. Ia tersenyum ke arah
Bellina, kemudian mengajak Yuna untuk duduk di kursi, tepat di hadapan Lian dan
Bellina.
Lian bangkit dari tempat duduk. “Apa kabar, Yer?” sapa Lian sambil
mengulurkan tangan ke arah Yeriko.
“Baik,” jawab Yeriko sambil membalas uluran tangan Lian. Ia
tersenyum sambil menekan tangan Lian saat Lian berusaha mencuri pandang ke arah
istrinya.
Lian tertawa kecil. Ia menoleh ke arah Adjie. “Apa kabar, Oom?”
sapanya sambil mengulurkan tangan ke arah Adjie.
“Baik. Kamu suaminya Bellina ya?” balas Adjie sambil membalas
uluran tangan Lian.
Lian menganggukkan kepala sambil tersenyum sopan. Ia tidak berani
mengatakan hubungan masa lalunya dengan Yuna. Ia hanya melirik Yuna yang duduk
di sebelah Yeriko.
“Apa kabar, Yun?” tanya Lian sambil menatap Yuna yang sedang
memainkan ponselnya.
Yuna langsung menengadahkan kepala menatap Lian. “Baik, Li. Jauh
lebih baik dari setahun lalu,” jawab Yuna sambil tersenyum.
Yeriko ikut tersenyum sambil menggenggam tangan Yuna. Ia sangat
mengerti bagaimana hati istrinya sangat terluka setahun lalu. Saat Lian dengan
mudah mencampakkan Yuna dan memilih menikahi selingkuhannya. Ia ingin, Lian
terus hidup dalam penyesalan karena sudah melukai istrinya di masa lalu.
Lian terlihat sangat canggung. Terlebih Bellina, ia terus menatap
Yuna dan Yeriko yang begitu mesra.
“Kamu sibuk ngapain sih?” tanya Yeriko sambil mengintip layar
ponsel Yuna.
Yuna berbisik sambil memperlihatkan video lucu yang ada di
ponselnya.
Yeriko tertawa tanpa suara. Ia mengelus-elus kepala Yuna sambil
mengecup pelipis Yuna. “Kamu nih, ada-ada aja.”
Yuna tertawa kecil. Ia melirik ayah dan pamannya yang sedang
berbincang soal pekerjaan. Sementara, ia dan Yeriko sibuk melihat gambar dan
video bayi-bayi lucu yang ada di internet.
Bellina menatap Yuna yang diperlakukan begitu lembut dan mesra
oleh suaminya. Ia menyentuh tangan Lian yang duduk di sampingnya. “Li ...!”
panggilnya lirih.
Lian langsung mengelus lengan Bellina. Melihat Yuna dan Yeriko
yang bermesraan di depannya, membuat ia juga terpancing untuk memperlakukan
Bellina dengan mesra.
Yuna terus tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di bahu
Yeriko. Ia tak terpengaruh sedikit pun dengan Lian dan Bellina yang juga
terlihat mesra. Baginya, Lian hanya bagian dari masa lalu yang membawanya masuk
ke dalam pelukan Yeriko.
((Bersambung ...))
Misteri apa
yang belum terpecahkan di Perfect Hero?
Dukung terus
cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment