Tepat saat malam pergantian tahun, Yuna dan Yeriko
ikut menikmati suasana di rumah keluarga Hadikusuma. Bukan hanya keluarga
Linandar, tapi juga ada banyak sanak saudara yang berdatangan ke rumah keluarga
besar Hadikusuma.
“Mau jagung bakar?” tanya Yeriko sambil
menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna.
Yuna mengangguk, ia langsung menyambar jagung
bakar dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko malah menjauhkan tangannya.
Yuna mengerutkan dahinya. “Kok, gitu?”
“Kamu lagi hamil. Nggak boleh makan sembarangan.
Ini nggak higienis. Jadi, buat aku aja!” sahut Yeriko sambil menggigit jagung
bakar yang ada di tangannya.
“Iih ... culas!” sahut Yuna sambil menarik lengan
Yeriko, ia berusaha merebut jagung bakar dari tangan suaminya.
Yeriko tertawa melihat tingkah Yuna. Ia malah
menyembunyikan jagung bakar di belakang punggungnya.
“Biar aja, ntar anak kamu ileran!” dengus Yuna.
“Eh, jangan!” sahut Yeriko. Ia langsung
menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna. “Sedikit aja!” perintahnya.
Yuna langsung meraih jagung bakar itu dan
menggigitnya.
“Oom, ini buat Oom sama Tante!” seru salah seorang
anak remaja yang masih menjadi keluarga besar Hadikusuma. Ia menyodorkan
piring berisi potongan daging bakar.
“Mmh ... harum banget!” seru Yuna sambil mengendus
wangi daging bakar yang ada di piring tersebut. “Kamu yang bakar?” tanyanya.
Pria remaja itu menganggukkan kepala.
“Makasih, ya! Kamu rajin banget!” puji Yuna sambil
meraih piring dari tangan keponakan Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil. Ia mengambil garpu dan
menusuk potongan daging yang ada di piring tersebut. “Makanlah!” pintanya
sambil menyodorkan ke mulut Yuna.
Yuna langsung melahap potongan daging yang ada di
tangan Yeriko. “Mmh ... enak!”
“Suka?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Habisin! Nanti aku minta si Ardi bakarin lagi
buat kamu.”
“Kasihan dia dari tadi udah sibuk bakarin ikan,
ayam, daging dan jagung buat kita semua. Aku mau, kamu yang bakarin buat aku.”
“Oke. Kita bakar bareng-bareng! Eh, aku aja. Kamu
lagi hamil, nggak boleh terlalu dekat sama asap.”
“Oke. Aku tunggu di sini!”
Yeriko mengangguk. Ia melangkahkan kakinya
menghampiri keponakan kecilnya yang sedang membakar beberapa potong daging di
sudut halaman rumah itu.
Yuna duduk di salah satu kursi sambil menatap
Yeriko dari kejauhan. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melewati malam tahun
baru bersama keluarga besar Hadikusuma. Biasanya, dia hanya akan melihat pesta
kembang api dari jendela kamarnya seorang diri.
(You still have all of my ... You still have all of my ...
You still have all of my heart ...)
Yuna langsung menoleh ke arah ponsel yang ia
letakkan di atas meja, tepat di sebelahnya. Ia meraih ponsel tersebut, membaca
nama kontak yang tertera di layar tersebut.
“Halo ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan
telepon dari pamannya.
“Halo ...! Selamat tahun baru, ya!” ucap Tarudi
dari seberang telepon.
Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak begitu
suka dengan ucapan selamat dari pamannya. Tapi, ia juga tidak punya alasan
untuk menolak pamannya yang kini bersikap baik kepadanya.
“Selamat tahun baru juga, Oom!” balas Yuna.
“Apa kamu lagi sama ayah kamu?” tanya Tarudi.
“Iya.”
“Oom telepon ayah kamu. Tapi tidak
diangkat-angkat.”
“Ayah lagi ngobrol sama Kakek Ali.”
“Oh. Kamu lagi di rumah keluarga besar
Hadikusuma?”
“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.
Tarudi terdengar menghela napas. “Yun, kita sudah
menyambut tahun yang baru. Oom harap, kamu bisa memaafkan apa yang sudah
terjadi dalam setahun belakangan ini. Oom tidak ingin terus-menerus ada dendam
dalam keluarga kita.”
Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia menggigit
bibir, terus-menerus menyimpan kecurigaan memang tidak terlalu baik untuk
hatinya. Mungkin, melepaskan semuanya akan membuat hari-harinya jauh lebih
tenang. Ia juga sudah terbiasa dengan sikap Melan dan Bellina yang selalu
menyulitkan hidupnya.
“Yuna ...!” panggil Tarudi karena ia tak kunjung
mendapatkan jawaban dari Yuna.
Yuna tersenyum kecil. “Iya, Oom.”
“Mmh ... kalau gitu, kamu bujuk ayah kamu untuk
makan malam bersama kami. Gimana?” tanya Tarudi.
Yuna menggigit bibirnya. Ia teringat saat terakhir
makan malam di rumah keluarga Lin dan ia harus mendapat fitnah akibat ulah
Bellina.
“Kamu nggak usah khawatir! Ini murni makan malam
untuk merayakan tahun baru. Seperti apa pun, kita masih bersaudara. Jadi,
jangan sampai di luar sana ada desas-desus kalau keluarga Linandar tidak akur.
Kita ini keluarga terhormat, harus bisa saling menjaga hubungan.”
Yuna mengerutkan hidung. Ia sangat kesal mendengar
ucapan pamannya yang terkesan menganggap Yuna sebagai sumber masalah dalam
keluarga besar Linandar.
“Yun, ini cuma makan malam biasa. Nggak ada
salahnya kita berkumpul. Sudah lama, keluarga kita tidak menikmati
kebersamaan.”
Yuna menghela napas. “Oke, Oom. Aku bicarakan sama
ayah dulu. Nanti, aku kasih kabar ke Oom lagi.”
“Oke. Oom tunggu kabar baiknya. Oom harap, kalian
bisa berbesar hati melupakan semua yang sudah terjadi setahun belakangan ini
dan menjalani tahun ke depan dengan hal yang lebih baik lagi.”
“Iya, Oom.”
“Selamat tahun baru. Salam untuk ayah kamu. Oom
tunggu kabar baiknya, ya!”
“Iya, Oom.”
“Oom tutup teleponnya!”
“Umh.” Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas
mematikan panggilan teleponnya.
Yuna memeluk ponsel di dada sambil mengedarkan
pandangannya. Ia mencari sosok Yeriko yang sudah tidak ada di sudut halaman
bersama dengan pembakarannya.
“Suamiku ke mana ya?” tanya Yuna. Ia memutar
tubuhnya untuk mencari keberadaan Yeriko.
“Cari aku?” tanya Yeriko sambil membungkukkan
tubuhnya menatap Yuna.
Yuna meringis ke arah Yeriko. “Kok, tahu?”
Yeriko mengecup kening Yuna. Ia langsung duduk di
sebelah istrinya sambil membawa piring yang sudah berisi daging bakar. “Makan!”
pintanya.
“Kamu nggak makan?”
“Udah kenyang,” jawab Yeriko santai.
Yuna tertawa kecil. Ia langsung melahap potongan
daging bakar yang sudah dibuat oleh Yeriko.
“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.
“Oom Rudi,” jawab Yuna dengan mulut penuh makanan.
“Ada apa?” tanya Yeriko.
“Dia ngundang ayah untuk makan malam.”
Yeriko langsung mengerutkan dahi. “Makan malam?”
Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Menurut kamu,
gimana?”
“Mmh ... biar bagaimanapun, dia tetap Oom kamu.
Walau istri dan anaknya itu selalu berulah ... aku lihat, Oom kamu itu nggak
terlalu buruk. Dia hampir sama seperti ayah kamu. Bedanya ...”
“Apa?” tanya Yuna penasaran.
“Oom kamu takut jatuh miskin,” jawab Yeriko
berbisik.
Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Jadi, aku
harus bujuk ayah supaya ikut makan makam di rumah keluarga Linandar? Aku takut,
Bellina bikin ulah lagi. Mereka bisa saja mencelakai ayah lagi.”
“Aku akan menjaga kalian,” sahut Yeriko sambil
tersenyum.
Yuna langsung menatap mata Yeriko penuh cinta. Ia
merasa sangat tenang kalau ada Yeriko di sisinya. Ke mana pun ia pergi, ia tak
akan merasa ragu dan resah.
“Itu ayah, ngomong gih!” perintah Yeriko.
Yuna mengangguk. Ia meletakkan piring di atas meja
dan bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri ayahnya yang sedang berbincang
dengan salah satu sanak saudara dari keluarga Hadikusuma.
“Yah ...!” panggil Yuna.
Adjie langsung menoleh ke arah Yuna yang sudah
berdiri di sampingnya. “Ada apa?”
“Mmh ... ada yang mau aku bicarain.”
Adjie mengangguk. “Saya permisi dulu!” pamitnya
pada orang yang sedang berbicara dengannya. Ia mengajak puteri kesayangannya
itu menepi dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.
“Ada apa?” tanya Adjie.
“Oom Rudi ngundang ayah makan malam di rumahnya
untuk merayakan tahun baru bersama keluarga Lin. Menurut ayah, gimana?”
Adjie tak menyahut. Ia terlihat berpikir sejenak.
“Ayah akan ke sana di hari keempat.”
“Hari keempat?” tanya Yuna.
Adjie mengangguk-anggukkan kepala.
“Ayah nggak khawatir kalau mereka akan mencelakai
kita?”
Adjie menghela napas. “Rudi itu adik kandung Ayah.
Dia tidak akan tega berbuat macam-macam.”
Yuna mengerutkan dahinya. “Dia udah ambil semuanya
dari keluarga kita. Ayah masih aja baik sama Oom Rudi.”
“Dia adik Ayah, Yun. Dia juga mengurus perusahaan
dengan baik. Tidak usah berpikir terlalu jauh. Ayah akan penuhi undangan makan
malamnya di hari keempat.”
Yuna menganggukkan kepala. “Oke.” Ia menghela
napas lega. Ia merasa, dirinya hanya berpikir berlebihan. Sebab, Yeriko dan
ayahnya bisa melepaskan dan mengikhlaskan yang telah terjadi. Ia juga harus
bisa melepaskan semuanya.
((Bersambung ...))
Udah masuk tahun baru, nih.
Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author
makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment