Thursday, March 5, 2026

Perfect Hero Bab 499 : Suka Cita Malam Tahun Baru

 


Tepat saat malam pergantian tahun, Yuna dan Yeriko ikut menikmati suasana di rumah keluarga Hadikusuma. Bukan hanya keluarga Linandar, tapi juga ada banyak sanak saudara yang berdatangan ke rumah keluarga besar Hadikusuma.

 

“Mau jagung bakar?” tanya Yeriko sambil menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengangguk, ia langsung menyambar jagung bakar dari tangan Yeriko. Namun, Yeriko malah menjauhkan tangannya.

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Kok, gitu?”

 

“Kamu lagi hamil. Nggak boleh makan sembarangan. Ini nggak higienis. Jadi, buat aku aja!” sahut Yeriko sambil menggigit jagung bakar yang ada di tangannya.

 

“Iih ... culas!” sahut Yuna sambil menarik lengan Yeriko, ia berusaha merebut jagung bakar dari tangan suaminya.

 

Yeriko tertawa melihat tingkah Yuna. Ia malah menyembunyikan jagung bakar di belakang punggungnya.

 

“Biar aja, ntar anak kamu ileran!” dengus Yuna.

 

“Eh, jangan!” sahut Yeriko. Ia langsung menyodorkan jagung bakar ke hadapan Yuna. “Sedikit aja!” perintahnya.

 

Yuna langsung meraih jagung bakar itu dan menggigitnya.

 

“Oom, ini buat Oom sama Tante!” seru salah seorang anak remaja yang masih menjadi keluarga besar Hadikusuma. Ia menyodorkan piring berisi potongan daging bakar.

 

“Mmh ... harum banget!” seru Yuna sambil mengendus wangi daging bakar yang ada di piring tersebut. “Kamu yang bakar?” tanyanya.

 

Pria remaja itu menganggukkan kepala.

 

“Makasih, ya! Kamu rajin banget!” puji Yuna sambil meraih piring dari tangan keponakan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengambil garpu dan menusuk potongan daging yang ada di piring tersebut. “Makanlah!” pintanya sambil menyodorkan ke mulut Yuna.

 

Yuna langsung melahap potongan daging yang ada di tangan Yeriko. “Mmh ... enak!”

 

“Suka?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Habisin! Nanti aku minta si Ardi bakarin lagi buat kamu.”

 

“Kasihan dia dari tadi udah sibuk bakarin ikan, ayam, daging dan jagung buat kita semua. Aku mau, kamu yang bakarin buat aku.”

 

“Oke. Kita bakar bareng-bareng! Eh, aku aja. Kamu lagi hamil, nggak boleh terlalu dekat sama asap.”

 

“Oke. Aku tunggu di sini!”

 

Yeriko mengangguk. Ia melangkahkan kakinya menghampiri keponakan kecilnya yang sedang membakar beberapa potong daging di sudut halaman rumah itu.

 

Yuna duduk di salah satu kursi sambil menatap Yeriko dari kejauhan. Ia merasa sangat bahagia karena bisa melewati malam tahun baru bersama keluarga besar Hadikusuma. Biasanya, dia hanya akan melihat pesta kembang api dari jendela kamarnya seorang diri.

 

(You still have all of my ... You still have all of my ... You still have all of my heart ...)

 

Yuna langsung menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja, tepat di sebelahnya. Ia meraih ponsel tersebut, membaca nama kontak yang tertera di layar tersebut.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu ia menjawab panggilan telepon dari pamannya.

 

“Halo ...! Selamat tahun baru, ya!” ucap Tarudi dari seberang telepon.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak begitu suka dengan ucapan selamat dari pamannya. Tapi, ia juga tidak punya alasan untuk menolak pamannya yang kini bersikap baik kepadanya.

 

“Selamat tahun baru juga, Oom!” balas Yuna.

 

“Apa kamu lagi sama ayah kamu?” tanya Tarudi.

 

“Iya.”

 

“Oom telepon ayah kamu. Tapi tidak diangkat-angkat.”

 

“Ayah lagi ngobrol sama Kakek Ali.”

 

“Oh. Kamu lagi di rumah keluarga besar Hadikusuma?”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Tarudi terdengar menghela napas. “Yun, kita sudah menyambut tahun yang baru. Oom harap, kamu bisa memaafkan apa yang sudah terjadi dalam setahun belakangan ini. Oom tidak ingin terus-menerus ada dendam dalam keluarga kita.”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia menggigit bibir, terus-menerus menyimpan kecurigaan memang tidak terlalu baik untuk hatinya. Mungkin, melepaskan semuanya akan membuat hari-harinya jauh lebih tenang. Ia juga sudah terbiasa dengan sikap Melan dan Bellina yang selalu menyulitkan hidupnya.

 

“Yuna ...!” panggil Tarudi karena ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Iya, Oom.”

 

“Mmh ... kalau gitu, kamu bujuk ayah kamu untuk makan malam bersama kami. Gimana?” tanya Tarudi.

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia teringat saat terakhir makan malam di rumah keluarga Lin dan ia harus mendapat fitnah akibat ulah Bellina.

 

“Kamu nggak usah khawatir! Ini murni makan malam untuk merayakan tahun baru. Seperti apa pun, kita masih bersaudara. Jadi, jangan sampai di luar sana ada desas-desus kalau keluarga Linandar tidak akur. Kita ini keluarga terhormat, harus bisa saling menjaga hubungan.”

 

Yuna mengerutkan hidung. Ia sangat kesal mendengar ucapan pamannya yang terkesan menganggap Yuna sebagai sumber masalah dalam keluarga besar Linandar.

 

“Yun, ini cuma makan malam biasa. Nggak ada salahnya kita berkumpul. Sudah lama, keluarga kita tidak menikmati kebersamaan.”

 

Yuna menghela napas. “Oke, Oom. Aku bicarakan sama ayah dulu. Nanti, aku kasih kabar ke Oom lagi.”

 

“Oke. Oom tunggu kabar baiknya. Oom harap, kalian bisa berbesar hati melupakan semua yang sudah terjadi setahun belakangan ini dan menjalani tahun ke depan dengan hal yang lebih baik lagi.”

 

“Iya, Oom.”

 

“Selamat tahun baru. Salam untuk ayah kamu. Oom tunggu kabar baiknya, ya!”

 

“Iya, Oom.”

 

“Oom tutup teleponnya!”

 

“Umh.” Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna memeluk ponsel di dada sambil mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok Yeriko yang sudah tidak ada di sudut halaman bersama dengan pembakarannya.

 

“Suamiku ke mana ya?” tanya Yuna. Ia memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Yeriko.

 

“Cari aku?” tanya Yeriko sambil membungkukkan tubuhnya menatap Yuna.

 

Yuna meringis ke arah Yeriko. “Kok, tahu?”

 

Yeriko mengecup kening Yuna. Ia langsung duduk di sebelah istrinya sambil membawa piring yang sudah berisi daging bakar. “Makan!” pintanya.

 

“Kamu nggak makan?”

 

“Udah kenyang,” jawab Yeriko santai.

 

Yuna tertawa kecil. Ia langsung melahap potongan daging bakar yang sudah dibuat oleh Yeriko.

 

“Siapa yang telepon?” tanya Yeriko.

 

“Oom Rudi,” jawab Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko.

 

“Dia ngundang ayah untuk makan malam.”

 

Yeriko langsung mengerutkan dahi. “Makan malam?”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Menurut kamu, gimana?”

 

“Mmh ... biar bagaimanapun, dia tetap Oom kamu. Walau istri dan anaknya itu selalu berulah ... aku lihat, Oom kamu itu nggak terlalu buruk. Dia hampir sama seperti ayah kamu. Bedanya ...”

 

“Apa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Oom kamu takut jatuh miskin,” jawab Yeriko berbisik.

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Jadi, aku harus bujuk ayah supaya ikut makan makam di rumah keluarga Linandar? Aku takut, Bellina bikin ulah lagi. Mereka bisa saja mencelakai ayah lagi.”

 

“Aku akan menjaga kalian,” sahut Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna langsung menatap mata Yeriko penuh cinta. Ia merasa sangat tenang kalau ada Yeriko di sisinya. Ke mana pun ia pergi, ia tak akan merasa ragu dan resah.

 

“Itu ayah, ngomong gih!” perintah Yeriko.

 

Yuna mengangguk. Ia meletakkan piring di atas meja dan bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri ayahnya yang sedang berbincang dengan salah satu sanak saudara dari keluarga Hadikusuma.

 

“Yah ...!” panggil Yuna.

 

Adjie langsung menoleh ke arah Yuna yang sudah berdiri di sampingnya. “Ada apa?”

 

“Mmh ... ada yang mau aku bicarain.”

 

Adjie mengangguk. “Saya permisi dulu!” pamitnya pada orang yang sedang berbicara dengannya. Ia mengajak puteri kesayangannya itu menepi dari kerumunan orang-orang yang ada di sana.

 

“Ada apa?” tanya Adjie.

 

“Oom Rudi ngundang ayah makan malam di rumahnya untuk merayakan tahun baru bersama keluarga Lin. Menurut ayah, gimana?”

 

Adjie tak menyahut. Ia terlihat berpikir sejenak. “Ayah akan ke sana di hari keempat.”

 

“Hari keempat?” tanya Yuna.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Ayah nggak khawatir kalau mereka akan mencelakai kita?”

 

Adjie menghela napas. “Rudi itu adik kandung Ayah. Dia tidak akan tega berbuat macam-macam.”

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Dia udah ambil semuanya dari keluarga kita. Ayah masih aja baik sama Oom Rudi.”

 

“Dia adik Ayah, Yun. Dia juga mengurus perusahaan dengan baik. Tidak usah berpikir terlalu jauh. Ayah akan penuhi undangan makan malamnya di hari keempat.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Oke.” Ia menghela napas lega. Ia merasa, dirinya hanya berpikir berlebihan. Sebab, Yeriko dan ayahnya bisa melepaskan dan mengikhlaskan yang telah terjadi. Ia juga harus bisa melepaskan semuanya.   

 

((Bersambung ...))

Udah masuk tahun baru, nih. Akan ada cerita baru di kehidupan Mr. Ye and Mrs. Ye. Dukung terus, biar author makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas