“Oom, Tante Melan mana?” tanya Yuna yang sejak datang belum
melihat Melan bergabung di meja makan.
“Oh, masih di kamar. Sepertinya masih ganti pakaian.”
“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Oom panggil tante kamu dulu!” pamit Tarudi sambil bangkit dari
kursinya dan bergegas pergi.
“Kenapa tanyain tante kamu? Kangen sama dia?” bisik Yeriko di
telinga Yuna.
Yuna mengerutkan hidung sambil mencubit perut Yeriko.
“Aw ...!” seru Yeriko diiringi desahan dari mulutnya. “Enak. Lagi
dong!”
Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. Ia bisa melihat wajah
kesal Lian dan Bellina dari sudut matanya. Ia merasa sangat puas bisa
melepaskan masa lalunya dengan Lian penuh kebahagiaan. Ia ingin menunjukkan
bahwa hidupnya jauh lebih bahagia saat ia sudah tidak bersama Lian lagi.
Sementara itu, Melan sibuk mencari obat di dalam kamarnya. “Adjie
harus aku kembalikan dalam tidur panjangnya. Supaya nggak ngambil alih
perusahaan lagi,” ucapnya sambil menggenggam obat yang baru di dapatnya.
Kreek ...!
Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Melan buru-buru
menyembunyikan obat ke belakang tubuhnya.
“Ma, Kak Adjie dan Yuna sudah datang dari tadi. Kenapa Mama lama
banget?” tanya Tarudi sambil menatap Melan.
“Eh ... oh ... eh, bentar, Pa. Mama baru selesai ganti baju. Mama
sisir rambut dulu!”
Tarudi menganggukkan kepala. Ia menatap wajah Melan yang terlihat
gelisah. “Mama kenapa?” tanyanya sambil menghampiri Melan.
“Eh!? Nggak papa,” jawab Melan sambil duduk di kursi rias, ia
meletakkan obat di bawah pantatnya. Ia mengambil sisir dan mulai menyisir
rambutnya.
“Ma, jangan bikin ulah lagi sama Kak Adjie!” tegas Tarudi.
Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Papa tenang
aja! Semua akan baik-baik aja.”
“Ya sudah. Papa tunggu secepatnya!”
Melan mengangguk-anggukkan kepala.
Tarudi bergegas keluar dari kamarnya dan kembali ke meja makan.
“Selamat malam semua ...!” sapa Melan dengan ramah dan tersenyum
manis. Ia menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Yuna memaksa bibirnya untuk tersenyum saat melihat sikap manis
Melan. “Sumpah, ini Maleficent mau apa lagi? Dia cuma nyamar jadi malaikat
kalau ada maunya doang,” batinnya.
“Kak Adjie, malam ini aku masakin banyak makanan spesial untuk
kalian,” tutur Melan sambil mengamati makanan yang sudah terhidang di atas
meja.
“Sebentar, ada menu yang ketinggalan. Aku ambil dulu!” tutur Melan
sambil bergegas masuk ke dapur.
Tarudi merasa ada keanehan yang terjadi pada istrinya. Ia langsung
bangkit dari tempat duduk dan mengikuti langkah Melan menuju dapur.
“Apa ini?” tanya Tarudi sambil menyambar kantong obat dari tangan
Melan.
Melan membelalakkan matanya sambil menatap Tarudi yang tiba-tiba
sudah ada di sebelahnya.
“Ma, aku udah bilang ... jangan macam-macam!” tegas Tarudi sambil
membuang obat itu ke tempat sampah.
“Pa, kita harus bisa bikin si Adjie itu tertidur lagi. Dia akan
mengancam posisi Papa di perusahaan.”
“Papa punya cara sendiri. Kak Adjie tidak akan melukai Papa atau
merebut kekuasaan di perusahaan. Asal Mama jangan macam-macam!”
“Pa, kita nggak pernah tahu gimana berbahayanya Adjie buat kita?”
Tarudi menghela napas. “Papa tetap nggak setuju dengan cara Mama.
Jangan lukai Kak Adjie lagi! Aku memang menginginkan kekuasaan di perusahaan,
tapi tidak dengan cara melukai dia. Kita ini sudah semakin tua. Apa yang kita
buat sebelas tahun lalu, sudah cukup. Papa ingin hidup tenang. Kita akhiri
semua ini dengan cara baik-baik!” pinta Tarudi.
Melan mendengus kesal. Tapi ia tak bisa melawan Tarudi yang
menatap tajam ke arahnya.
“Bawa keluar makanannya dan jangan buat masalah lagi!” perintah
Tarudi.
Melan langsung mengambil makanan yang belum ia keluarkan dari
dapur dan melangkah ke meja makan.
Yeriko terus memerhatikan gerak-gerik Melan dan Tarudi sejak masuk
ke dapur. Dari balik kaca dapur, ia bisa melihat perdebatan yang terjadi antara
Melan dan suaminya.
“Maaf, jadi lama,” tutur Melan sambil duduk di kursinya. “Ayo,
kita makan!” ajaknya sambil melirik Tarudi yang sudah duduk di kursinya.
Tarudi tersenyum. “Ayo, makan! Jarang sekali kita bisa berkumpul
di meja makan seperti ini.”
Semua orang menganggukkan kepala.
Tarudi dan Adjie menikmati makan malam sambil berbincang akrab
layaknya kakak beradik.
Sementara, Yeriko sibuk memberikan perhatian pada istrinya, bahkan
menyuapkan makanan yang ada di tangannya ke mulut Yuna.
“Ay, kamu makan sendiri! Kalau disuap ke aku terus, kapan kamu
kenyang?”
“Asal kamu kenyang, aku juga kenyang,” jawab Yeriko sambil
tersenyum.
“Aku udah buncit,nih,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.
“Makanya, si Dedek juga harus dikasih makan yang banyak. Biar
sehat terus!” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.
“Tenang aja, dia nggak kekurangan makanan dan nutrisi karena
ayahnya selalu perhatikan dia dengan baik,” tutur Yuna sambil tersenyum bahagia
menatap Yeriko.
Melan dan Tarudi ikut tersenyum mendengar pembicaraan Yuna dan
Yeriko.
“Kalian ini memang pasangan yang romantis. Semoga, bisa bertahan
sampai kakek-nenek,” tutur Melan sambil tersenyum.
Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan tantenya. Ia tidak yakin
kalau ucapan yang keluar dari mulut Melan adalah perkataan yang jujur.
“Awas kamu, Yun! Aku pasti bikin perhitungan sama kamu dan bakal
bikin kamu menderita seumur hidup!” batin Bellina sambil menekan garpu yang ada
di tangannya ke atas potongan daging. Kebenciannya pada Yuna belum benar-benar
hilang, terlebih saat melihat Yuna begitu bahagia mendapatkan suami yang
tampan, kaya dan penyayang.
“Yer, Oom dengar ... kamu lagi mau bikin proyek apartemen?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Iya, Oom,” jawabnya. Tangannya tetap
saja melingkar di pinggang Yuna.
Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Di Jakarta atau di sini?”
“Dua-duanya, Oom.”
“Kenapa kamu nggak tinggal di Jakarta? Bukannya lebih mudah kalau
kantor pusat ada di sana?”
“Sekarang zaman sudah canggih. Kantor pusat di mana pun nggak akan
berpengaruh besar. Bisnis yang di Jakarta juga sudah ditangani langsung sama
kakek. Aku fokus mengembangkan bisnis yang ada di kota ini dulu.”
“Ada rencana untuk mengembangkan bisnis ke kota-kota lain?” tanya
Tarudi lagi.
Yeriko menganggukkan kepala. “Bisnis keluarga saya sudah tersebar
ke seluruh kota di Indonesia sejak saya masih kecil. Kami sedang mencoba
memasuki pasar Eropa-Amerika.”
Tarudi mengangguk-anggukkan kepala sambil menoleh ke arah Adjie.
“Menantu Kak Adjie sangat hebat. Masih muda, sudah punya bisnis yang sangat
besar.”
Adjie hanya tersenyum menanggapi pujian dari Tarudi. Ia melirik ke
arah Lian yang mungkin saja tersinggung dengan sikap Tarudi.
“Biasa aja, Oom. Ini semua karena warisan dari keluarga. Saya
hanya meneruskan dan mengembangkan bisnis ini,” tutur Yeriko.
Tarudi mengangguk-anggukkan tanda mengerti. Di sebelahnya, wajah
Melan terlihat sangat tidak bersahabat.
Bellina terus mencuri pandang ke arah Yeriko. Ia selalu
menginginkan apa pun yang dimiliki Yuna dan berusaha merebutnya. Kali ini, Yuna mendapatkan
begitu banyak kebahagiaan setelah ia berhasil merebut Lian dari pelukkan Yuna.
Ia tidak pernah berpikir kalau Yuna justru mendapatkan hidup yang jauh lebih
baik dari dirinya.
((Bersambung ...))
Misteri apa
yang belum terpecahkan di Perfect Hero?
Dukung terus
cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment