Tuesday, January 27, 2026

Ruang Jahit Hampa



Waktu sudah menunjukkan pukul 00.08 WITA dan aku masih terjaga. 
Entah apa yang membuat mataku sulit untuk terpejam. 
Ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum tidur dan terkadang membuatku resag. 
Misalnya, memikirkan menu apa yang akan aku masak besok pagi? Bahan dapur yang habis dan harus aku beli apa saja? 
Hal kecil seperti ini harus kupikirkan dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuatku justru enggan memejamkan mata. 
Ditambah lagi dengan rencana-rencana kegiatan yang akan aku lakukan esok. Belum lagi jika ada masalah hari ini yang belum bisa aku selesaikan. 
Entahlah. 
Kenapa pikiranku sepenuh ini? 
Aku seringkali mengajak pikiranku untuk berhenti sejenak karena aku lelah. Tapi aku justru terlalu banyak berpikir. Sepertinya, pikiranku sendiri sudah enggan 'aku beri perintah'. 

Padahal, hari-hariku selalu ramai dan sibuk. Aku punya taman baca kecil yang selalu ramai dengan anak-anak. Aku punya kafe buku mungil yang selalu jadi tempat yang nyaman untuk bersantai. Aku punya ruang jahit yang selalu menjadi ruang ide dan ekspresiku dalam berkarya. Aku punya deretan naskah novel yang kejar tayang setiap hari. 
Seharusnya, semua hal itu membuatku sibuk dan tidak perlu memikirkan hal-hal lain yang belum aku lakukan. 

Namun, ketika malam hari menjelang... 
Ketika semua orang sudah terlelap. 
Ketika semua aktivitas manusia sudah berhenti dan suara jangkrik jadi irama malam. 
Saat itulah pikiranku mulai berkelana. 
Sambil memandangi langit-langit kamar yang sunyi.
Sesekali aku melangkah ke ruang jahitku. Menatap deretan benang yang biasa mewarnai hari-hariku.

Sendiri dan sepi memang mengajarkan banyak hal. Mengajarkan kita untuk lebih mawas diri. Membuat kita selalu memikirkan apa kesalahan yang kita buat hari ini dan bagaimana cara memperbaikinya esok hari.

Malam yang hampa membuatku seketika terpikir tentang sosok Nabi Adam AS., manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam tinggal di surga, memiliki semua hal yang dia inginkan. Tapi Nabi Adam tidak bahagia karena sendirian. Itulah kenapa Allah ciptakan Hawa untuk menemani Nabi Adam.

Ternyata, perasaan kesepiaan adalah naluri alami manusia. Manusia selalu membutuhkan manusia lain. Itulah mengapa manusia disebut sebagai makhluk sosial. Sebab, kita hanya manusia biasa yang hidup di dunia, bukan hidup di surga. Kita tidak bisa memiliki segalanya hanya dengan meminta pada Allah. Kita masih harus berusaha untuk mendapatkannya.
Sedang, kemampuan manusia sangat terbatas. Manusia tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya sekaligus. Tidak ada manusia yang bisa beternak, berkebun, menjahit, memasak, mengurus rumah, mengurus anak, bersekolah dan sebagainya sekaligus. 

Aku yang memiliki takdir sebagai seorang penjahit, bisa menyediakan pakaian untuk orang lain. Tetapi aku tidak bisa menyiapkan bahan makanan untuk diriku sendiri, sehingga aku membutuhkan orang lain, juga dibutuhkan oleh orang lain.

Hiruk-pikuk dunia siang memang mampu mengalahkan segalanya.
Tetapi ketika sunyi malam datang, selimut kesepian itu juga datang.
Mungkinkah semua orang merasakan apa yang aku rasakan?
Atau hanya karena kegelisahanku sendiri karena aku punya insomina?

Aku sangat bahagia ketika aku bisa tidur lebih awal. Karena aku tidak perlu mengetahui hening dan pekatnya malam yang begitu sepi. Pikiranku tak perlu berkelana ke segala arah. Aku selalu menolak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi atau yang telah terlewati. Aku ingin punya pikiran yang sehat dan bisa tidur dengan nyenyak. Karena untukku, hari esok sangatlah berharga untuk dijalani kembali.

Kehampaan yang hadir dalam ruang penuh hiruk-pikuk, membuatku senantiasa belajar. Belajar untuk bersyukur atas semua hal yang telah Allah berikan untukku. Bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik dalam hidupku, bersyukur karena malaikat Allah selalu bekerja dengan begitu indah untuk menyelesaikan semua permasalahan hidupku.

Jika ada ruang dan waktu hampa di kediamanku, aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Akan aku isi dengan doa-doa agar setiap rasa sepi yang menghampiriku menjadi ruang untuk terus mencintai Allah SWT.








0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas