Hari ini ada hal penting yang ingin aku tulis. Meski aku sangat jarang menuliskan hal-hal seperti ini. Aku merasa, berita yang beredar dan opini masyarakat yang terus berkembang, sudah cukup untuk menciptakan sejarah masa depan. Terlebih, ada banyak orang hebat di luar sana yang keilmuannya bisa menjadi guru dan panutan bagi kita.
Tapi hari ini, aku benar-benar ingin mengabadikannya di rumahku sendiri. Di blog yang sangat sederhana ini. Blog di mana aku bisa bebas menumpahkan segala ide di kepalaku. Tentang cinta, tentang perjalanan hidup, dan tentang hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak penting tapi bagiku sangat penting.
Beberapa hari belakangan ini beranda media sosialku dipenuhi dengan pemberitaan tentang pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.
Pernyataan presiden menimbulkan banyak spekulasi dan berbagai opini. Hampir semua konten kreator merespon ini. Mulai dari menanggapinya secara serius sampai menjadikannya parodi lucu.
Aku sendiri merasa setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo. Karena kecerdasan seseorang memang tidak berasal dari sekolah. Kecerdasan berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta yang sempurna.
Setiap manusia terlahir dengan kecerdasannya masing-masing. Namun, tidak semua kecerdasan manusia dapat berkembang dengan baik. Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi perkembangan kecerdasan manusia. Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan manusia.
Anak tidak menjadi cerdas semata-mata karena masuk sekolah. Ada kemampua bawaan, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, rasa ingin tahu, pola asuh, interaksi sosial, dan kesempatan belajar yang ikut membentuk kemampuan seseorang.
Kita seringkali menemukan orang yang secara akademik biasa saja, tetapi sangat cerdas dalam membaca situasi, berwirausaha, berkomunikasi, memecahkan masalah, atau memahami orang lain. Ini bukti bahwa kecerdasan manusia bukan hanya secara akademik saja. Bahkan, kecerdasan menjilat penguasa juga bisa menjadi salah satu skill sejak lahir yang dilatih secara terus-menerus. Sebab pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menghafal dan mendapatkan nilai tinggi.
Sekolah memang bukan satu-satunya sumber kecerdasan, tetapi sekolah dapat mengembangkan kecerdasan.
Seorang anak mungkin memiliki rasa ingin tahu yang besar. Tetapi tanpa lingkungan belajar yang baik, rasa ingin tahu itu belum tentu berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis.
Anak mungkin memiliki bakat matematika. Tetapi guru yang baik dapat membantu mengasahnya.
Anak mungkin memiliki kemampuan berbicara. Tetapi membaca, berdiskusi, menulis, dan berlatih presentasi di lingkungan pendidikan dapat membuat kemampuan itu jauh lebih matang.
Menurut saya hubungan yang lebih tepat adalah: Kecerdasan tidak berasal dari sekolah, tetapi kecerdasan dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
Di sinilah peran keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting. Ini akan sangat menarik jika dikaitkan dengan gerakan literasi.
Seorang anak sudah belajar jauh sebelum ia masuk SD. Ia belajar bahasa dari orang tuanya. Belajar bertanya dari lingkungan. Belajar memecahkan masalah dari permainan. Belajar empati dari hubungan dengan orang lain.
Belajar membaca dari kebiasaan di rumah. Belajar berpikir dari percakapan sehari-hari. Sekolah kemudian melanjutkan dan memperluas proses tersebut.
Karena itu, saya lebih suka melihat pendidikan sebagai sebuah ekosistem:
Keluarga → sekolah → masyarakat → pengalaman hidup → literasi → membentuk manusia yang terus belajar.
Ini juga sejalan dengan penekanan Prabowo sendiri di kesempatan lain bahwa semua jenjang pendidikan—dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi—perlu diperbaiki agar mampu menyiapkan generasi yang berkualitas. (Source: Sekretariat Negara)
Ada satu hal yang menurut saya justru sangat penting dan perlu kita garis bawahi. Kita harus berhati-hati agar pernyataan “orang pintar tidak harus sekolah” tidak berubah menjadi:
“Sekolah tidak penting.”
Ini akan sangat berbahaya. Berbahaya bagi pendidikan dan juga generasi mendatang.
Karena bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung, sekolah justru bisa menjadi pintu pertama untuk memperluas dunia mereka.
Tidak semua anak lahir di keluarga yang punya buku.
Tidak semua orang tua punya waktu untuk mengajari anak.
Tidak semua anak punya akses internet.
Tidak semua anak punya lingkungan yang mendorong mereka berpikir.
Bagi anak-anak seperti itu, sekolah dan guru bisa menjadi jembatan menuju dunia yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Dan menurut saya, ini justru alasan mengapa gerakan literasi keluarga, taman baca, komunitas belajar, dan sekolah harus berjalan bersama. Anak tidak cukup hanya “disekolahkan”; mereka perlu berada dalam budaya belajar yang baik, aman dan ramah.
Kalau kita mau lebih kritis lagi, pernyataan Prabowo tersebut bisa menjadi bahan pertanyaan yang jauh lebih besar.
“Kalau kecerdasan tidak lahir dari sekolah, lalu sebenarnya sekolah Indonesia sedang bertugas menciptakan apa?”
Menurut saya, jawabannya bukan sekadar orang pintar, tetapi manusia yang mampu berpikir, membaca realitas, memecahkan masalah, berkarakter, dan terus belajar meskipun sudah tidak berada di bangku sekolah. Bagiku, semua tempat adalah sekolah karena bisa memberikan kita banyak pelajaran dan pengalaman.
Bagi orang yang berpikir, seekor ulat yang sedang berjalan di atas daun pun bisa menjadi pelajaran.
Maka, marilah kita sama-sama berpikir! Masih pentingkah pendidikan di sekolah?
Untuk apa sekolah diciptakan di negeri ini?
Akankah anak-anak masih punya semangat dalam mengembangkan kecerdasan di sekolahnya?

0 komentar:
Post a Comment