Aku mengabdikan diri sebagai relawan pegiat literasi sejak tahun 2017. Di tahun 2025 aku lolos menjadi Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara. Kemudian, masih dipercaya melanjutkan perjuangan di tahun 2026.
Tahun ini, langkahku sedikit berbeda dengan tahun lalu. Kalau tahun lalu aku berkeliling ke TBM dan perpustakaan desa/kelurahan, tahun ini aku boleh memilih sendiri lokasi yang akan aku inventarisasi dan berkegiatan literasi.
Tahun ini juga diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di sekolah. Sehingga, aku merasa berpijak pada dunia baru, yaitu dunia anak-anak yang sedang tumbuh dengan harapannya.
Aku tahu, sistem pendidikan di Indonesia semuanya sama. Aku rasa, sistem di satu sekolah juga sama dengan di sekolah lain. Meski ada beberapa sekolah yang masuk kategori pengecualian, entah karena apa. Sebab, aku tidak tahu.
Baru menginjakkan kaki ke dua sekolah (SD & SMP), aku langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepala selama beberapa tahun terakhir ini. Pertanyaan tentang rendahnya minat baca yang tidak kunjung membaik meski pemerintah telah melakukan banyak upaya.
Saat aku bersilaturahmi ke sekolah, semua guru terlihat sibuk. Hanya petugas perpustakaan yang menemaniku melangkah ke dalam ruang perpustakaan. Itupun harus meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukannya mengajar di kelas. Sebab, rata-rata sekolah belum memiliki petugas khusus perpustakaan atau petugas perpustakaan masih merangkap sebagai guru ajar di kelas.
Perpustakaan sebagai sumber ilmu utama, justru menjadi ruang yang paling tersisihkan. Berkunjung ke perpustakaan hanya untuk mengisi waktu luang, bukan menjadi salah satu tujuan dalam pembelajaran.
Waktu anak-anak sudah habis di kelas untuk mengejar target mata pelajaran. Lalu, kapan anak-anak bisa membaca dengan tenang atau membaca buku lebih dalam?
Waktunya memang tidak ada. Waktu istirahat sudah habis digunakan untuk makan di kantin.
Tidak heran jika minat baca di negara kita masih sangat rendah. Anak-anak tidak diberikan jam khusus ke perpustakaan. Tidak ada kegiatan di perpustakaan yang bisa mengembangkan kreatifitas membaca. Maka, selamanya perpustakaan sekolah hanya akan menjadi tempat untuk menyimpan buku, bukan sebagai sumber belajar dan menggali ilmu.
Sekuat apa pun saya membantu meningkatkan minat baca, tidak akan bisa terwujud jika kebijakan dari pemerintah tidak mendukung kegiatan di perpustakaan. Kebijakan inilah yang terkadang membuat minat baca jadi semakin rendah meski program peningkatan minat baca sangat masif dilakukan.

0 komentar:
Post a Comment