Friday, July 10, 2026

Pendamping Nakal Bab 5 : Bukti yang Tersisa

Bab 5 – Bukti yang Tersisa

Jarum jam di dinding ruang mading menunjukkan pukul empat sore tepat ketika Rania membuka pintu.
Rido, Tia, dan Nanda yang sudah menunggu langsung berdiri.
"Ada apa, Ran? Mukamu pucat banget," tanya Tia.
Rania tidak menjawab. Ia hanya menyingkap sedikit kerah bajunya.
Bekas jari berwarna kemerahan masih membekas jelas di lehernya.
"Astaga...!" Tia spontan menutup mulutnya.
"Galang?" tanya Nanda. 
Rania mengangguk pelan.
"Dia tahu aku ngambil sesuatu dari tasnya."
Suasana ruang mading mendadak sunyi.
Perlahan Rania mengeluarkan sebuah ponsel putih dari dalam tas.
Gantungan bunga matahari itu masih tergantung di sudut casing.
Nanda langsung mengenalinya.
"Itu... HP Sarah, kan?"
"Iya."
Rania meletakkannya di atas meja.
"Galang rela membunuhku demi HP ini. Aku rasa, ada rahasia besar di dalamnya. Tapi aku nggak bisa buka hape ini karena pakai sandi,” ucap Rania. 
Rido langsung mengerti maksud Rania, ia menarik laptop dari dalam tasnya.
"Biar aku coba!"
“Hati-hati, Do! Jangan sampai datanya hilang," pesan Rania.
Rido mengangguk. "Aku bukan hacker hebat, tapi aku coba semampuku."
Rido mengeluarkan kabel data dan mulai menyambungkan ponsel Sarah ke laptopnya.
Beberapa menit berlalu.
Sesekali Rido menggeleng.
"PIN-nya nggak bisa ditembus."
"Tuh, kan..." gumam Nanda kecewa.
"Tapi..." Jari Rido berhenti mengetik.
"Laptopku mendeteksi kalau HP ini pernah melakukan sinkronisasi otomatis."
"Maksudnya?" tanya Tia.
"Kalau aku beruntung..."
Beberapa detik kemudian...
Layar laptop berkedip.
Sebuah folder muncul.
Backup WhatsApp – Sarah
"Nah!"
Semua spontan mendekat.
"Isinya masih ada?" tanya Rania.
Rido membuka folder itu. Ratusan percakapan bermunculan. Sebagian besar biasa saja. Obrolan dengan teman kelas. Grup sekolah. Keluarga.
Namun satu nama langsung menarik perhatian. Galang.
Ruangan mendadak hening.
Rania menelan ludah. "Buka!"
Rido mengklik percakapan itu.
Pesan-pesan terakhir muncul di layar.
Sarah: Aku nggak kuat terus-terusan nyembunyiin kehamilan ini.
Tak seorang pun bersuara.
Rido menggulir layar perlahan.
Galang: Diam. Jangan cerita ke siapa pun! 
Pesan berikutnya.
Sarah: Rania mulai curiga.
Lalu balasan Galang. “Kalau dia terus ikut campur, bikin aja semua orang nganggep dia gila. Biar nggak ada yang percaya sama tulisan ataupun omongannya!”
Tangan Rania mulai gemetar.
Masih ada pesan lain.
Sarah: Aku takut.
Galang: Aku yang urus. Setelah Rania selesai, tinggal kita berdua yang tahu semuanya.
Nanda mundur selangkah.
"Itu... maksudnya apa?"
Tak ada yang menjawab. Mereka terus membaca.
Pesan terakhir dikirim sehari sebelum Sarah meninggal.
Sarah: Aku kesel sama Rania karena dia sering banget posting berita sesukanya. Dia pikir, dia itu hebat? Bisa nggak, kamu musnahin aja cewek satu itu biar nggak ngeribetin hidupku? Aku pengen dia cepet-cepet mati!
Rania, Rido, Nanda dan Tia saling pandang. 
“Ran, Sarah bukan cuma melukai kamu. Tapi dia juga pengen kamu mati,” ucap Tia. 
Rania duduk terdiam sambil menggigiti ujung kuku tangannya. Sepertinya, Galang memang sudah mengincar nyawanya sejak Sarah masih hidup. 
“Apa kita semua bakal tetep aman? Mereka pengen kita bungkam,” tanya Nanda. “Kita nulis berita yang aman-aman aja, deh!”
Rania menggeleng. “Nggak bisa, Nan! Nggak boleh! Kita menulis berita harus jujur dan apa adanya. Nggak boleh menyembunyikan apa pun. Bukan tugas kita menyembunyikan aib orang lain. Itu tugas mereka sendiri! Baik dan buruknya seseorang, kita tulis apa adanya.”
“Bener, Ran!” sahut Rido menambahkan. “Kita harus berpegang teguh pada kejujuran dan integritas. Meski kita masih muda dan sering diremehkan, ini waktu yang tepat buat kita belajar lebih dari yang lain. Termasuk mempelajari tentang kehidupan.”
“Terus, apa yang harus kita lakuin setelah ini?” tanya Nanda.
“Kita makan-makan...!” seru Tia ceria. 
“Selesaikan dulu artikel untuk majalah sekolah minggu ini!” pinta Rania. “Nanti aku traktir kalian.”
Tia, Rido dan Nanda saling pandang sambil menyunggingkan senyuman. 
“Fokus dulu ke kasus Sarah dan Galang!” pinta Rania. 
“Sebenarnya, kita nggak perlu banyak ikut campur soal kematian Sarah. Udah ditangani sama polisi, Ran. Kita main aman aja, deh!” ucap Nanda lagi. 
“Memangnya ada polisi yang bisa dipercaya buat nyelidiki kasus?” tanya Rania. “Kalau buat ngehilangin kasus, baru ada.”
Rido tertawa kecil menanggapi ucapan Rania. 
Kini mereka mengerti mengapa Galang begitu panik kehilangan ponsel itu.
"Kita harus simpan semua bukti ini,” pinta Rania. 
Rido mengangguk. Ia menyalin seluruh isi percakapan ke dalam laptop dan sebuah flashdisk.
"Kalau HP ini hilang lagi, kita masih punya cadangan."
Tanpa terasa, langit di luar mulai gelap. Jam menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ayo, kita pulang!” ajak Rania sambil memasukkan ponsel Sarah kembali ke dalam tas.
Tia, Rido, dan Nanda mengangguk bersamaan. Mereka segera merapikan meja kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah. 
Rania mengendarai sepeda motornya seperti biasa bersama ketiga temannya. Begitu keluar dari gang masuk sekolah, mereka semua berpisah karena arah rumah mereka berbeda-beda. 
Rania sempat berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Ia tidak ingin berangkat ke sekolah terburu-buru dan masih harus mencari bensin di pagi hari. 
Rania tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. 
Rania melajukan kembali sepeda motornya menuju kawasan perumahan elit di Balikpapan Regency. 
Jalanan tampak lengang. Dikawasan itu, tak pernah ramai kendaraan. Sehingga tidak pernah ada kata macet. 
Tiin.. Tiin ...! 
Suara klakson mengalihkan perhatian Rania. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari jenis dan warna sepeda motor yang digunakan, ia langsung tahu kalau cowok yang kini sudah berada di sampingnya itu adalah Galang. 
“Berhenti atau kutendang motormu!” teriak Galang sambil berusaha menjejak sepeda motor Rania dengan kakinya. 
Rania langsung menepikan sepeda motornya perlahan. “Kamu mau apa?” tanyanya. 
Galang tersenyum sinis sambil menghampiri Rania begitu ia turun dari sepeda motornya. Ia langsung mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan dari balik jaketnya dan menghunuskan ke arah Rania. 
Rania spontan melangkah mundur saat melihat kilau cahaya dari benda tajam yang digenggam Galang.
“Serahin hape itu ke aku!” pinta Galang lembut dengan senyum penuh kebencian. 
Rania menggeleng. “Aku nggak tahu apa yang kamu maksud,” ucapnya. 
“Kamu kira aku bodoh, hah!?” sentak Galang sambil menghunuskan ujung pisaunya ke leher Rania. “Aku punya banyak mata-mata di kota ini. Kamu nggak akan bisa ngelawan aku!”
Rania terdiam. Ia berusaha menelan saliva dengan susah payah saat ujung pisau itu tepat menempel di lehernya.
Galang langsung merebut tas yang ada di tubuh Rania. Ia langsung membalikkan tas tersebut dan semua isinya berserakan di lantai jalanan. Matanya langsung tertuju pada ponsel Sarah yang tergeletak di sana. 
Galang tersenyun miring. “Ini yang kamu bilang nggak tahu?” tanyanya. Ia segera meraih ponsel tersebut dan memasukkan ke dalam saku jasnya. 
Rania bergeming. 
“Aku sudah peringatkan kamu berkali-kali. Jangan campuri urusanku kalau masih sayang sama nyawamu!” ucap Galang menahan amarah di dalam dadanya. 
Galang langsung menarik lengan kiri Rania dan menekankan ujung pisau ke lengan gadis itu hingga cairan merah segar mengucur dari lengan Rania. 
“Aargh ...!” teriak Rania menahan sakit. 
“Ini baru peringatan buat kamu. Kalau sampai kamu masih ikut campur urusanku, kamu nggak akan selamat!”
“Brengsek kamu!” umpat Rania sambil menggenggam lengan kirinya agar darah tidak mengucur semakin deras. “Kami sama Sarah itu sama aja. Sama-sama nggak punya hati!”
Galang tertawa mendengar ucapan Rania. “Aku memang nggak punya hati. Makanya, kamu harus hati-hati!”
Rania menatap tajam ke arah Galang sambil menahan rasa sakit. “Aku nggak ikhlas kamu lukai seperti ini. Kusumpahin hidupmu sial terus!”
“Hahaha.” Galang tergelak mendengar ucapan Rania. “Makan aja sumpahmu yang nggak berguna itu!” ucapnya. Ia langsung berbalik, menaiki motor dan pergi meninggalkan Rania begitu saja. 
“Aaargh...!” Rania menahan amarah yang sudah membakar dadanya. Bagi seorang penulis dan jurnalis, tangan adalah bagian paling penting. Sarah dan Galang benar-benar berniat membuatnya berhenti menulis.
“MATI AJA KAMU!” teriak Rania yang tak lagi mampu mengendalikan emosinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia segera menghubungi orang rumah agar menjemputnya. Sebab, ia tidak bisa lagi mengendarai sepeda motor dengan kondisi lengannya yang terluka. 


(Bersambung...)

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas