Kematian Galang
“Ran, sudah dua kali kamu terluka seperti ini. Mama akan buat laporan ke polisi,” ucap Mama Rania setelah ia selesai memasangkan perban di tangan Rania.
Rania mengangguk. Sebenarnya, ia juga sempat ingin melaporkan Sarah ke kantor polisi saat wanita itu melukai jemari tangannya. Tapi, Sarah sudah meninggal lebih dahulu.
“Mama juga akan ke sekolahmu. Sekolahmu nggak lagi aman. Ini bukan cuma kasus bullying, tapi sudah masuk kriminal,” ucap Mama Rania lagi.
Rania terdiam mendengar ucapan mamanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu punya banyak musuh?” tanya Mama Rania penasaran.
“Aku cuma menulis berita dengan jujur,” jawab Rania lirih.
Mama Rania menghela napas pelan. “Papa kamu juga jurnalis. Dia bahkan jarang pulang karena harus keliling Indonesia mencari berita. Tapi, dia tidak pernah mengalami kekerasan seperti kamu.”
“Mama yakin kalau Papa nggak pernah dapet intimidasi atau kekerasan?” tanya Rania.
Mama Rania terdiam. Suaminya lebih sering berada di luar kota daripada di rumah. Jadi, ia tidak tahu persis apa yang terjadi di luar sana saat suaminya sedang bertugas.
Rania segera bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ada banyak buku, majalah dan tulisan-tulisan sang ayah yang tidak berhenti ditulis.
***
Keesokan harinya, Rania melangkahkan kaki menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan perbuatan Galang, termasuk isi chat di ponsel Sarah.
Belum sampai masuk ke kantor polisi, matanya tertuju pada sepeda motor CBR warna hitam-merah yang tidak asing lagi baginya. Sepeda motor itu sangat mirip dengan sepeda motor milik Galang. Tapi kondisinya tidak baik-baik saja, terlihat ringsek di beberapa bagian.
Rania menepis prasangka buruk dalam hatinya dan segera masuk ke kantor polisi untuk membuat laporan.
30 menit kemudian...
“Mohon maaf, laporan Anda tidak bisa kami proses karena pihak terlspor sudah meninggal dunia,” ucap seorang polisi wanita sambil menghampiri Rania kembali.
“Meninggal? Nggak mungkin! Dia baru saja menusuk tanganku malam tadi,” ucap Rania.
“Anda melaporkan kejadiannya sekitar pukul 19.30 WITA. Dia mengalami kecelakaan pukul 22.00 WITA dan langsung meninggal di tempat,” ucap polisi wanita tersebut.
“Ibu yakin? Nggak salah orang?” tanya Rania lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Galang.
Polisi wanita itu mengangguk. “Foto yang kamu kirimkan, sama persis dengan foto korban. Ciri-ciri kendaraan dan nomor polisinya juga sama persis. Kamu bisa cek di luar. Kendaraan korban masih ada di halaman kantor kami.”
Rania tak banyak bertanya lagi. Ia segera melangkah keluar dan menghampiri sepeda motor yang dimaksud oleh polisi wanita tersebut. “Beneran motor punya Galang,” gumamnya.
TING!
Tiba-tiba notifikasi grup Mading masuk ke ponsel Rania.
Tia : Udah lihat kabar terbaru yang lagi heboh?
Nanda : Apaan?
Tia : Galang meninggal kecelakaan. [Send; Link berita]
Rania langsung membuka beberapa link berita yang dikirim oleh Tia. Di sana, ia bisa melihat dengan jelas kalau Galang mengalami kecelakaan dan terlindas oleh mobil Fuso bermuatan.
Tia : Infonya, badannya hancur. Tangan kanannya terpisah dari tubuhnya.
Nanda : Serius? Mengenaskan banget?
Tia : Iya. Kasihan juga, sih.
Nanda : Kamu nggak ada foto-foto korban?
Tia : Belum dapet, Nan.
Rido : [Sending 15 photo]
Rania menutup mulut saat membuka foto-foto yang dikirimkan oleh Rido. Entah bagaimana cara Rido mendapatkannya. Tapi dia selalu punya bukti-bukti foto korban kecelakaan.
Tia : Kami dapet foto-foto ini dari mana, Do?
Rido : Abangku dokter forensik. Kebetulan, dia yang nangani kasus ini. Aku retas hape dia. Jangan disebarkan fotonya! Kalau ketahuan, aku bisa dibunuh sama Abangku.
Tia : Aman.
Nanda : Aman, Do. Kita tahu batasan privasi orang lain.
Rania hanya sibuk membaca chat di grup. Ia tidak merespon sama sekali pembicaraan teman-temannya.
Tia : Rania read doang. Lagi sibuk, Ran?
Rania menghela napas. Akhirnya, Tia menyenggol namanya karena ia tidak ikut bergabung dalam pembicaraan.
Rania memotret lengannya yang sudah terbungkus perban dan mengirimkan ke grup Mading.
Rania : Sebelum kecelakaan, Galang nusuk tanganku. Aku emosi banget n sumpahin dia mati. Eh, mati beneran.
Hening.
Tidak ada satu pun anggota grup yang membalas chat Rania meski semua sudah membaca chat tersebut.
Rania menghela napas. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di parkiran dan segera meninggalkan kantor polisi tersebut.
***
Tia, Rido dan Nanda berkumpul di ruang mading usai jam pulang sekolah. Sedangkan Rania masih istirahat di rumah untuk memulihkan tangannya yang terluka.
“Do, kamu ngerasa ada yang aneh sama kematian Sarah dan Galang?” tanya Tia sambil memilah-milah foto yang akan digunakan sebagai artikel mading minggu ini.
“Iya, aneh. Mereka sama-sama mati dengan cara mengenaskan,” jawab Rido santai sambil menatap layar laptopnya.
“Dan semuanya berhubungan sama Rania,” sahut Tia.
Rido dan Nanda saling pandang mendengar ucapan terakhir Tia.
“Maksud kamu ... Rania yang bunuh mereka?” tanya Nanda.
“Nggak mungkin. Mereka meninggal kecelakaan,” jawab Rido.
“Terus, apa maksud Tia? Apa hubungannya sama Rania?” tanya Nanda lagi. “Nggak ada, kan?”
Tia menghela napas sambil menatap wajah Nanda. “Kalian pernah dengar atau baca artikel tentang seseorang yang dijuluki ‘Si Pahit Lidah’?”
Rido dan Nanda menggeleng bersamaan.
Tia menghela napas kembali. “Sudahlah. Mungkin aku yang berpikir berlebihan. Mungkin ... cuma kebetulan aja.”
“Kamu kebanyakan nonton film horor, Ti. Mana mungkin Rania yang bunuh mereka,” ucap Nanda.
Tia mengangguk.
“Tapi ... ada banyak probability yang bisa terjadi. Bisa juga si Rania dendam karena dilukai. Dia bayar orang buat celakai Sarah dan Galang,” ucap Rido.
“Ini lagi ... kebanyakan nonton sinetron!” sambar Nanda.
Tia bergeming sambil menggigit bibir bawahnya. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Rania bisa jadi pelaku dan juga tidak. Pikirannya mulai liar karena kematian Sarah dan Galang hampir mirip. Mereka sama-sama mati mengenaskan setelah melukai Rania.
Rido terkekeh. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar topik tentang Rania tidak menjadi bola liar yang lari ke mana-mana. Tapi tak bisa dipungkiri jika pikirannya sudah bergerak liar. Ia juga sangat khawatir jika Rania terlibat dalam kematian Sarah dan Galang. Mungkinkah selama ini Rania menyembunyikan sesuatu dari mereka?
Nanda juga memiliki pemikiran yang sama. Meski ia selalu berusaha menepisnya. Ia percaya kalau Rania adalah gadis baik. Tidak mungkin Rania terlibat dalam kasus pembunuhan. Apalagi semuanya sudah jelas kalau Sarah dan Galang meninggal karena kecelakaan, bukan karena pembunuhan.
***
Di saat bersamaan...
Rania menatap layar laptopnya. Ia memperhatikan foto-foto kematian Sarah dan Galang yang tersimpan di sana. Keduanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.
“Kenapa mereka meninggal setelah berantem sama aku?” tanya Rania pada dirinya sendiri.
Rania terus memikirkan kematian Sarah dan Galang yang terjadi secara kebetulan. Ia merasa keinginannya bisa terkabulkan. Di satu sisi ia merasa senang karena orang-orang yang mencelakainya bisa pergi dari dunia ini untuk selamanya. Tapi di sisi lain, ia merasa iba karena keduanya harus meninggal di usia yang masih sangat muda dan nasib akhirnya begitu mengenaskan.
0 komentar:
Post a Comment