Friday, July 10, 2026

Pendamping Nakal Bab 4 : Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Bab 4 – Rahasia yang Tak Ikut Terkubur

Malam itu, langit Balikpapan masih menggantungkan awan gelap. Jalanan yang mengarah ke kawasan Kilometer 24 tampak lengang. Hanya suara jangkrik dan embusan angin yang sesekali menggoyangkan daun-daun kelapa sawit.

Di dalam mobil, Rania memandang ke arah jalan yang mulai ditinggalkan Galang.

"Lanjut, Pak. Tapi jangan terlalu dekat!" pintanya kepada sopir.

"Siap, Neng!"

Mobil kembali bergerak perlahan.

Rania mengepalkan jemarinya. Ia tahu, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

***

Galang menghentikan motornya di depan sebuah minimarket. Ia masuk beberapa menit untuk membeli air mineral.

Begitu Galang menghilang di balik pintu kaca, Rania segera membuka pintu mobil.

"Aku cuma sebentar."

Ia berlari kecil menuju motor Galang yang masih terparkir di depan minimarket.

Ransel hitam itu masih menggantung di jok belakang.

Rania menarik resletingnya perlahan.

Kotak kecil yang tadi dilihatnya melalui lalat pengintai masih berada di dalam.

"Ketemu..."

Tangannya sedikit gemetar.

Ia membuka kotak itu.

Sebuah ponsel berwarna putih dengan sudut yang retak terlihat di dalamnya.

Rania langsung mengenali gantungan kecil berbentuk bunga matahari yang masih menempel di casing.

"Ini... ponselnya Sarah."

Ia pernah melihat gantungan itu berkali-kali saat Sarah sibuk bermain ponsel di sekolah.

Tanpa berpikir panjang, Rania memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.

Lalu ia mengambil sebuah batu seukuran ponsel, membungkusnya dengan kain bekas, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak.

Kotak itu ditutup rapat dan dikembalikan ke posisi semula.

Tidak ada yang tampak berubah.

Rania buru-buru kembali masuk ke mobil.

"Tolong jalan, Pak!"

Mobil melaju meninggalkan minimarket tepat ketika Galang keluar sambil membawa sebotol air mineral.

***

Malam semakin larut.

Sesampainya di rumah, Rania langsung mengunci pintu kamar.

Ia mengeluarkan ponsel milik Sarah.

Layar ponsel itu mati total.

"Apa baterainya habis?"

Rania mencari kabel pengisi daya yang kebetulan cocok.

Beberapa detik kemudian...

Logo ponsel menyala.

"Syukurlah..."

Namun sebelum layar utama muncul, permintaan PIN langsung memenuhi layar.

Rania mengembuskan napas panjang.

"Masih dikunci..."

Ia mencoba tanggal lahir Sarah.

Salah.

Nama sekolah.

Salah.

Tanggal kematian.

Salah.

Ponsel itu menampilkan tulisan:

Kesempatan tersisa: 7 kali.

Rania mengurungkan niatnya.

"Jangan gegaba!" Ia mematikan kembali layar ponsel. "Kalau sampai terkunci permanen, malah kacau. Tapi, ada Rido yang jago teknologi. Sepertinya, mudah buat dia buka ponsel ini. Besok aja, deh." Ia memasukkan ponsel itu ke dalam laci meja belajarnya.

***

Keesokan harinya.

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Rania berjalan sendirian menuju parkiran. Belum sempat ia mengambil helm, sebuah tangan menahan stang motornya.

Galang.

Tatapan matanya jauh lebih dingin dibanding pertemuan mereka sebelumnya.

"Aku mau ngobrol!"

"Aku lagi buru-buru."

"Aku nggak tanya!"

Rania menatap lurus ke arah Galang.

"Ada apa?"

Galang melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.

"Kamu ngikutin aku kemarin."

Rania terdiam. "Ngikutin?" tanyanya santai.

"Jangan pura-pura!"

"Aku nggak ngerti maksudmu."

Galang tersenyum tipis. "Mobil hitam itu udah dua kali aku lihat di kaca spion. Mobilmu, kan?"

Jantung Rania berdetak lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang. "Mungkin cuma kebetulan aja jalan kita searah."

"Kebetulan?" Galang tertawa pelan. "Kebetulan kamu berhenti waktu aku berhenti. Kebetulan kamu ada di Kilometer Dua Empat?"

"Aku ke Kilometer Dua Empat karena mau ke rumah saudaraku. Emang kamu ke sana juga? Aku nggak lihat!" sahut Rania. 

"Oh, ya? Kebetulan juga setelah itu ada orang yang buka tasku."

Rania mengedikkan bahu dengan santai. "Apa hubungannya orang itu sama aku?"

Galang kini menatap geram ke arah Rania. Ia sangat kesal dengan wajah Rania yang begitu santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Ia yakin, gadis yang membuka ranselnya di parkiran adalah Rania. Meski gadis itu memakai masker dan topi, tapi postur tubuh Rania bisa ia kenali. Terlebih, ransel yang dipakai Rania sama persis dengan ransel milik gadis itu. 

"Jangan pernah ikut campur urusanku!" Suara Galang berubah pelan. Justru karena pelan, ancamannya terdengar lebih mengerikan.

"Kalau rahasiaku sampai terbongkar..." Ia mencondongkan wajahnya. "Aku bakal bunuh kamu!"

Hening.

Suara burung di halaman sekolah seperti ikut menghilang.

Rania menatap balik tanpa mundur sedikit pun.

"Kamu lagi ngancam aku?"

"Bukan." Galang tersenyum tipis. "Aku cuma ngasih tahu apa yang bakal terjadi." Ia menepuk pelan pundak Rania.

"Kamu nggak bisa main tuduh tanpa bukti. Kalau kamu nggak bisa buktikan itu aku, maka jangan ganggu!"  pinta Rania. 
"Kamu pikir aku nggak punya bukti? Di sana ada CCTV. Kamu lupa?" sahut Galang sambil tersenyum sinis. 

Rania terdiam. Kali ini ia tidak memiliki alibi untuk membantah ucapan Galang. 

"Mana hape yang kamu ambil?" tanyanya. 

Rania mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu."

Galang langsung menyambar leher Rania dan mencengkeramnya dengan erat. 

"Kalau hape itu nggak kembali ke tanganku dalam waktu 24 jam, aku ambil nyawamu!" ancamnya. 

Rania terdiam. Ia hanya menahan rasa sakit di lehernya karena cengkeraman Galang semakin kuat. "Lepasin!" pintanya lirih sambil berusaha menepis tangan Galang yang kokoh. 

"Hei ...! Jangan kasar sama cewek!" seru Rido sambil mendorong tubuh Galang agar berhenti mencekik Rania. 

Galang tersenyum sinis. "Anak Mading sialan!" umpatnya sambil meludah ke tanah.

"Kalau sampai ada berita tentang aku, kalian semua nggak akan selamat! "

Rania menarik napas dalam-dalam sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri. Cengkeraman tangan Galang membekas jelas di kulit Rania yang putih. 

Galang melangkah pergi dengan perasaan tak karuan. Ia sangat kesal karena Rania tak mau mengakui perbuatannya. Sementara, ia sangat membutuhkan ponsel Sarah. Jika sampai ada orang yang bisa membuka ponsel itu, seluruh hidupnya akan habis. Ia tahu, Sarah pasti belum menghapus isi chat-nya sebelum dia meninggal. 

"Galang brengsek!" umpat Rania yang masih menahanbrasa sesak. 
"Sabar, Ran! Lagian dia berani banget giniin kamu di sekolah saat lagi rame kayak gini. Gimana kalau dinluar sekolah?" ucap Rido. 
"Kalau dia sampai sepanik ini, artinya ada rahasia besar yang dia sembunyikan," ucap Rania pelan. 
"Emangnya ada masalah apa antara kamu sama Galang?" tanya Rido. 
"Nanti aku ceritain! Ajak anak-anak ngumpul di ruang mading jam empat sore! Aku pulang dulu. Ada hal penting yang mau aku tunjukkan ke kalian. Jangan lupa bawa perlengkapan IT kamu! Aku perlu bantuanmu," ucap Rania. 
Rido mengangguk sambil menahan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat bahagia ketika kemampuannya dibutuhkan oleh Rania. Dia bisa sembari belajar dan mengasah kemampuannya sebagai hacker. 


((Bersambung...))

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas