Alluna menatap cincin yang melingkar di jemari manisnya sambil tersenyum. Akhirnya, ia resmi menjadi tunangan Evan Noah. Cowok yang sudah lama mendampingi hari-harinya. Bukan hanya tentang bagaimana mencintai dalam suka dan duka. Tapi, mereka juga merasakan jatuh bangunnya membangun sebuah usaha untuk masa depan mereka dan anak-anak mereka kelak.
“Permisi, Bu ...,” sapa salah satu karyawan Alluna sembari membuka pintu ruang kerja Alluna.
“Ya. Masuk!”
“Ini desain terbaru yang ibu minta,” ucapnya sambil membawa box transparan yang berisi beberapa desain sepatu terbaru.
“Oke. Taruh di meja, ya!” pinta Alluna. Ia langsung meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi. “Hallo... Kak Daren apa kabar?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.
“Baik, kamu di mana?” tanya Daren dari ujung telepon.
“Di Galleri, Kak. Kakak kapan pulang?”
“Masih banyak kerjaan di sini. Minggu depan bisa ke sini?”
“Hah!? Ke Singapura? Ngapain?”
“Ada, deh. Pokoknya lo harus dateng bareng Evan!” tegas Daren.
“Evan? Dia lagi sibuk banget sekarang. Besok dia berangkat ke Papua.”
“Ngapain dia ke Papua?”
“Buka cabang perusahaan baru di sana.”
“Yaelah, dia kan bos. Ntar gue telpon dia, deh. Dia bisa aja ninggalin kerjaannya sehari dua hari doang. Anak buahnya kan banyak.”
“Yah, ntar gue coba ngomong sama dia. Penting banget emang?” tanya Alluna.
“Penting! Ini tentang masa depan kalian,” tegas Daren.
Alluna menghela napas. “Sejak kapan lo mikirin masa depan kita?”
“Udah, deh. Nggak usah ngajak berantem! Pokoknya, tanggal 17 lo udah harus di sini. Sore ini, Mama sama Papa sampe ke Singapura.”
“Ada apa, sih? Kok, lo sampe nyuruh Mama sama Papa ke sana? Lo nggak sakit keras, kan?”
“GUE LAGI SAKIT KERAS! Dan lo nggak peduli, hah?”
“Kak ... serius, deh. Ada apa?”
“Pokoknya lo harus ke sini. Kalo enggak, lo bakal nyesal seumur hidup!” tegas Daren langsung memutuskan sambungan telepon.
“Kak ...!” Alluna memandang layar ponselnya yang menunjukkan kalau panggilannya sudah berakhir.
Alluna menarik sweeter yang tergantung di kursi kerjanya. Ia bergegas keluar untuk menemui Evan secepat mungkin.
“Eh, Van? Kebetulan banget kamu ke sini,” ucap Alluna yang melihat Evan datang saat ia akan keluar dari Galleri.
“Kenapa?” tanya Evan bingung.
“Daren barusan nelpon gue. Katanya, kita disuruh ke tempat dia minggu depan. Aku bener-bener khawatir, nih. Soalnya, Mama sama Papa juga disuruh ke sana sama dia. Aku takut dia kenapa-kenapa. Gimana kalau kita nyusul Mama dan Papa aku juga sore ini ke Singapura?” cerocos Alluna.
Evan tertawa kecil melihat sikap Alluna yang terlihat panik.
“Kok, ketawa?” dengus Alluna kesal.
“Aku udah tahu. Kita ke sana kalo aku udah balik dari Papua,” jawab Evan sambil tersenyum, tangannya menyentuh pundak Alluna agar cewek kesayangannya itu bisa menjadi lebih tenang.
“Di Papua berapa hari?” tanya Alluna.
“Lima hari.”
“Lama banget.”
“Kenapa? Kamu nggak tahan kangen?”
“Kamu sendiri?”
“Nggak tahan, sih. Gimana kalau kamu ikut aja ke Papua?”
“Ngapain di sana? Kamu kerja.”
“Aku kerja, kamu bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Papua.”
“Nggak, ah. Masa kamu kerja, aku jalan-jalan sendirian. Nggak asyik banget!”
“Hehehe ... jadi, nggak mau?”
Alluna menggeleng.
“Tapi ... kalo aku ajak makan siang, mau?” tanya Evan sembari menyodorkan wajahnya.
Alluna tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya. Evan langsung menggandengnya keluar dari Galleri, menuju restoran favorite mereka.
***
Alluna tidak menyangka kalau ia akan mendapat kejutan istimewa dari kakaknya di Singapura. Diam-diam, Daren memboyong kedua orang tua dan keluarga kecilnya untuk melakukan sebuah prosesi lamaran di Singapura. Alluna bahkan tidak pernah tahu siapa pacar kakaknya. Tiba-tiba saja, Daren langsung meminta kedua orang tuanya untuk melamar gadis pujaan hatinya. Gadis asal Indonesia yang tinggal menetap di Singapura.
“Kenalin, dia Selena. Calon kakak ipar kamu,” tutur Daren usai melangsungkan prosesi lamaran yang hanya dihadiri oleh keluarga saja.
Selena mengulurkan tangannya sembari tersenyum dan langsung dibalas oleh Alluna. “Alluna,” ucap Alluna menyebutkan namanya.
“Nama yang cantik, sama seperti orangnya,” puji Selena.
“Ini tunangan Alluna.” Daren menunjuk Evan yang berdiri di samping Alluna.
“Oh ya? Jadi, mereka udah lebih dulu tunangan?” tanya Selena.
“Iya, pacaran dari SMA sampe sekarang. Tapi, mereka nggak akan menikah sebelum kita menikah,” bisik Daren.
“Oh, ya? Why?”
Alluna dan Evan saling pandang sambil tersenyum kecut.
“Kita nikah tiga tahun lagi. Nggak sabar gue,” celetuk Daren.
Alluna membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Daren. “What!? Tiga tahun?” batinnya dalam hati.
“Sayang, kamu nggak boleh gitu sama adik kamu sendiri.” Selena melirik tajam ke arah Daren. “Yang bener, tiga bulan lagi,” bisik Selena sembari menyondongkan wajahnya ke wajah Alluna.
Mata Alluna berbinar mendengar ucapan Selena. Ia menatap Evan yang juga tersenyum bahagia. Evan merengkuh bahu Alluna dengan lembut sembari tersenyum menatap Daren. “Kasih tahu gue WO yang recomended banget menurut kalian!”
“Asyiaap!”
Pada akhirnya, semua orang pasti akan menikah. Hanya waktu saja yang membuat mereka berada di tempat dan cara yang berbeda.
Sebagian orang takut dengan pertanyaan “Kapan nikah?” karena berpikir dirinya adalah bagian dari orang yang tidak laku, tepatnya belum laku-laku. Tapi, sebagian lagi merasa bangga dengan pertanyaan tersebut karena mereka punya waktu menata masa depan mereka dengan baik. Sebab cinta adalah tentang bagaimana berjuang bersama, bukan membuat dia berjuang sendiri untuk kita.
Alluna memilih tetap bertahan dengan komitmennya untuk tidak menikah muda. Bukan karena dia tidak siap menjadi seorang ibu di usia muda. Dia hanya tidak siap jika tidak bisa memberikan masa depan yang baik untuk anak-anaknya kelak.
Sebab menikah bukan hanya soal aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Menikah bukan soal bagaimana kita bisa hidup bersama selamanya. Ada hal lain yang akan kita perjuangkan, yakni masa depan anak-anak ... masa depan buah cintanya.
Alluna bukan hanya mencintai Evan, bukan hanya menerima kekurangan Evan saja. Dia juga harus mencintai keluarganya, menerima kelebihan dan kekurangan keluarganya. Begitu juga sebaliknya.
Menikah ... bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai. Menikah ... menyatukan dua keluarga yang berbeda untuk saling menyayangi dan melengkapi.
Alluna bahagia karena ia bisa mengenakan gaun pengantin bersama Evan, bukan sebagai model bayaran. Tapi, ia sungguhan memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri. Istri dari seorang pria yang menyayangi dan mencintai dia apa adanya. Istri dari seorang pria yang tidak akan membiarkan dirinya terluka. Istri dari seorang pria yang telah berjuang memberikan masa depan yang baik untuk anak-anak mereka kelak.
“Terima kasih sudah menjadi wanita yang mencintai aku apa adanya. Yang menemani aku dalam suka dan duka. Yang selalu memberi maaf saat aku khilaf dan lupa. Yang selalu memberi aku semangat saat aku jatuh. Jadilah ibu terbaik untuk anak-anak kita!” ucap Evan lirih kemudian mengecup kening Alluna penuh kelembutan.
SELESAI ...
Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca tulisanku ini. Semoga aku makin semangat menulis cerita-cerita terbaru.
0 komentar:
Post a Comment