Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 545 : Minta Uang Bellina

 


Bellina langsung merebahkan tubuhnya ke sofa begitu ia sampai ke rumah. Ia baru menyadari kalau mamanya tidak pernah menghubunginya setelah bercerai dengan papanya.

 

“Argh, bodo amat!” celetuk Bellina sambil memejamkan mata. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuatnya acuh tak acuh terhadap mamanya sendiri.

 

Ting! Tong!

 

Ting! Tong!

 

Bellina langsung menoleh ke arah pintu ketika bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.

 

“Siapa yang ke sini malam-malam gini?” gumam Bellina sambil bangkit dari sofa. Ia melangkah tak bersemangat menuju pintu rumahnya.

 

“Malam, Bel ...!” sapa Melan begitu Bellina membukakan pintu untuknya.

 

“Mama!?” Bellina mengerutkan dahi begitu melihat mamanya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

 

Melan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa? Kamu heran lihat mama?”

 

“Mama nggak pernah hubungi aku semenjak bercerai sama papa. Aku heran aja, kenapa tiba-tiba ke sini malam-malam begini?” tanya Bellina.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia menatap wajah Bellina dan bertanya, “mmh ... mama boleh tahu, berapa harga rumah kamu ini?” tanya Melan.

 

“Kenapa?” tanya Bellina menyelidik. Ia mulai curiga dengan sikap Melan yang tiba-tiba menanyakan harga rumah. Padahal, ia sudah lama membeli rumah tersebut.

 

“Mama cuma pengen tahu aja harga rumah ini,” jawab Melan sambil menyentuh sofa ruang tamu menggunakan ujung-ujung jarinya.

 

“Cuma empat Milyar,” jawab Bellina sambil menatap wajah mamanya.

 

Melan langsung tersenyum dan menghampiri Bellina. “Bel, saat ini ... mama masih tinggal di hotel. Mama pengen beli rumah baru.”

 

“Beli aja,” sahut Bellina sambil melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai.

 

Melan terus mendekati Bellina dan duduk di samping puteri kesayangannya itu. “Mama butuh uang, Bel. Kamu bisa kasih sedikit uang kamu untuk mama?”

 

“Uang untuk apa, Ma?” tanya Bellina balik.

 

“Untuk beli rumah baru, Bel. Mama nggak punya uang.”

 

“Mama baru aja cerai sama papa. Papa ngasih tunjangan perceraian ke mama ‘kan?”

 

Melan meringis mendapati pertanyaan Bellina. “Uang tunjangan dari papa kamu nggak seberapa. Sudah habis untuk keperluan sehari-hari mama.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Suami baru mama, nggak kasih uang?”

 

“Dia baru aja keluar dari penjara. Belum dapet pekerjaan. Jadi, belum bisa menghidupi mama.”

 

“Kalau dia nggak bisa menghidupi mama, kenapa harus pilih dia?” tanya Bellina kesal.

 

“Bel, semua butuh waktu. Mantan narapidana seperti dia, sulit mendapatkan pekerjaan baru.”

 

“Lagian, kenapa mama lebih milih hidup sama laki-laki kotor itu daripada sama papa? Papa Rudi itu baik, Ma. Dia udah berjuang buat keluarga. Dia ngasih semua yang kita butuhkan. Dia bisa bikin mama hidup layak. Tapi, mama malah tega-teganya nyakitin papa!”

 

“Kamu pikir, mama bahagia hidup dengan pria yang tidak mama cintai dan tidak mencintai mama?” sahut Melan kesal.

 

“Oh ... ada hal lain yang bisa bikin mama lebih bahagia dari uang?” tanya Bellina. “Ya udah, mama hidup ada dengan cinta sama pria itu!”

 

“Bel, mama ke sini baik-baik. Kamu malah kayak gini sama mama. Kamu tega lihat mama menderita di luar sana, sementara kamu bisa tidur dengan enak dan tenang di rumah mewah kayak gini?”

 

Bellina terdiam. Ia juga tidak tega melihat mamanya hidup menderita di luar sana. Hanya saja, wajah Lonan membuatnya sangat kesal. Sampai kapan pun, ia tidak akan berdamai dengan pria asing yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya itu.

 

“Bel, mama sudah membesarkan kamu selama ini. Apa kamu nggak ingat gimana kamu bisa hidup selama ini. Semua yang kamu mau, selalu mama penuhi. Sekarang, mama cuma butuh sedikit uang kamu aja. Sebelumnya, mama nggak pernah minta uang sama kamu.”

 

“Uang mama tinggal sedikit, Bel. Cuma bisa bertahan sepuluh hari tinggal di hotel. Setelahnya, mama akan tinggal di mana kalau kamu nggak mau kasih mama uang buat beli rumah baru. Kamu mau lihat mama tidur di pinggir jalan?”

 

Bellina langsung menatap tajam ke arah Melan. Ia baru saja mendengar makian dari mama mertuanya. Sekarang, mamanya sendiri juga ikut berteriak di hadapannya. Hal ini membuat kepalanya semakin sakit.

 

“Kalau kamu nggak mau kasih uang mama, mama akan tidur di pinggir jalan. Biar semua orang tahu kalau anak mama yang kaya raya ini sudah membuang dan menyia-nyiakan mamanya sendiri!” ancam Melan.

 

Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia tidak ingin mamanya semakin berulah, membuat keluarganya dan keluarga Wijaya malu karena perbuatan gila mamanya.

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat berharap kalau Bellina mengeluarkan uang untuk dirinya.

 

“Mama butuh berapa?” tanya Bellina.

 

“Nggak banyak, kok. Cuma dua milyar,” jawab Melan sambil tersenyum manis.

 

“Banyak banget!?” seru Bellina.

 

“Bel, mama butuh uang buat beli rumah baru. Kamu tega lihat mama tidur di jalanan? Biar semua orang tahu kalau anak dan menantu mama yang kaya raya ini sudah menelantarkan mamanya sendiri?”

 

“Aargh ...! Mama bikin kepalaku mau pecah. Ma, aku nggak punya uang sebanyak itu!” sahut Bellina kesal.

 

“Dua milyar itu nggak banyak, Bel. Kamu bisa dapetin dengan mudah dari suami atau papa kamu. Gaji kamu sebagai direktur di perusahaan, juga nggak kecil. Tabungan kamu pasti lebih dari empat kali lipat rumah ini ‘kan?”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, mama pikir ... aku punya uang sebanyak itu? Seandainya ada, aku juga nggak akan pakai uangku untuk menghidupi mama dan pria kotor itu!”

 

Melan sangat kesal dengan sikap Bellina. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan uang dari Bellina.

 

“Oke. Kalau emang kamu nggak mau kasih mama uang. Mama akan tinggal di jalanan dan bilang ke semua orang kalau anak dan menantu mama sudah ...”

 

“Stop, Ma!” teriak Bellina sambil bangkit dari sofa. “Mama nggak usah ngancam aku dan Lian!” pintanya sambil bergegas melangkah ke kamarnya. “Tunggu di sini!”

 

Melan langsung tersenyum lebar begitu melihat Bellina masuk ke kamarnya. Ia sangat berharap kalau puteri kesayangannya itu segera memberikan uang yang ia butuhkan.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina keluar dari kamar dan menghampiri mamanya. Ia langsung menyodorkan kartu debit ke arah mamanya tersebut.

 

Melan langsung tersenyum sambil menyambar kartu dari tangan Bellina.

 

“Itu uang tabunganku. Cuma ada satu milyar. Pin-nya hari ulang tahunku,” tutur Bellina sambil duduk kembali ke sofa.

 

“Bel, mama butuh dua milyar. Mama butuh beli rumah dan untuk hidup sehari-hari.”

 

“Ma, itu cukup buat beli rumah. Mama beli rumah yang murah-murah aja. Suruh suami baru mama itu buat cari nafkah. Supaya nggak ganggu aku terus!”

 

“Bel, aku ini mama kamu. Apa kata orang kalau mama beli rumah murah? Mereka bakal menilai kalau kamu bener-bener sudah menelantarkan mamanya sendiri.”

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, itu cukup buat beli rumah. Rumah yang harganya lima ratus juta, juga udah bagus untuk mama. Kalau mama mau beli rumah mewah, mama usaha sendiri! Jangan morotin aku dan suamiku, Ma!”

 

“Apa!? Kamu tega ngatain mama seperti ini? Aku ini mama kandung kamu, Bel. Yang udah melahirkan dan membesarkan kamu selama ini. Ini balasan kamu buat mama? Kamu bener-bener nggak punya hati nuraini. Tega-teganya bikin mama kamu sendiri hidup terlantar.”

 

Bellina menarik napas panjang. Ia menarik tas tangan yang tak jauh dari dirinya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Ia mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut. “Aku cuma punya uang segini. Kalau mau, mama ambil. Kalau nggak, silakan pergi dari rumah ini dan cari uang sendiri!”

 

Melan tersenyum lebar dan menyambar uang dari tangan Bellina. Ia sangat bahagia karena puterinya bisa memberikan banyak uang untuknya.

 

“Ma, mama sudah bisa pulang, sekarang? Mama ke sini cuma butuh uang aja ‘kan?”

 

Melan langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu ngusir mama?”

 

“Aku lagi pusing, Ma. Banyak hal yang harus aku hadapi. Mama tolong ngertiin posisiku. Jangan bikin aku makin kesulitan!” pinta Bellina dengan mata memerah.

 

Melan menatap wajah Bellina. Ia bisa mengetahui kalau anaknya sedang banyak masalah. Namun, ia masih membutuhkan banyak uang untuk bisa bertahan hidup di luar sana.

 

“Ma, semua yang mama lakuin beberapa hari belakangan ini. Sudah bikin keluarga Linandar dan Wijaya malu banget. Aku baru aja dimaki-maki sama mamanya Lian. Tolong, Ma! Jangan bawa aku ke dalam masalah baru lagi! Mama Mega sudah mendesak Lian terus-menerus untuk menceraikan aku. Aku belum hamil juga sampai sekarang, status mama yang sekarang bukan siapa-siapa lagi di keluarga Lin. Bikin Mama Mega semakin benci sama aku. Gimana kalau aku bener-bener dibuang dari keluarga Wijaya?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

Melan menghela napas. Ia ingin mendapatkan banyak uang dari Bellina, tapi ia juga tidak bisa melihat puteri kesayangannya itu berada dalam kesulitan. Ia ingin Bellina hidup baik dan bahagia di keluarga ini.

 

Bellina menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Ia hanya ingin mendapatkan kebahagiaan. Ia ingin memiliki suami yang menyayanginya, mertua yang menyayanginya dan keluarga yang sehat. Tapi, semua hal yang ia inginkan justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.

 

“Maafin, Mama! Mama nggak akan mendesak kamu lagi untuk memberikan uang,” tutur Melan lirih. Ia bangkit dari sofa sambil menatap Bellina yang masih terisak. “Mama pulang dulu!” pamitnya.

 

Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan dimanfaatkan oleh mamanya sendiri.

 

Melan tak berani menyentuh Bellina yang suasana hatinya sedang buruk. Ia memilih melangkahkan kakinya perlahan keluar dari rumah tersebut. “Aku bisa minta uang ke sini lagi kalau suasana hati Bellina sudah membaik,” batin Melan.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas