Bellina langsung merebahkan tubuhnya ke sofa
begitu ia sampai ke rumah. Ia baru menyadari kalau mamanya tidak pernah
menghubunginya setelah bercerai dengan papanya.
“Argh, bodo amat!” celetuk Bellina sambil
memejamkan mata. Suasana hatinya yang sedang tidak baik membuatnya acuh tak
acuh terhadap mamanya sendiri.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Bellina langsung menoleh ke arah pintu ketika bel
rumahnya tiba-tiba berbunyi.
“Siapa yang ke sini malam-malam gini?” gumam
Bellina sambil bangkit dari sofa. Ia melangkah tak bersemangat menuju pintu
rumahnya.
“Malam, Bel ...!” sapa Melan begitu Bellina
membukakan pintu untuknya.
“Mama!?” Bellina mengerutkan dahi begitu melihat
mamanya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Melan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam
rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa? Kamu heran
lihat mama?”
“Mama nggak pernah hubungi aku semenjak bercerai
sama papa. Aku heran aja, kenapa tiba-tiba ke sini malam-malam begini?” tanya
Bellina.
Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia
menatap wajah Bellina dan bertanya, “mmh ... mama boleh tahu, berapa harga
rumah kamu ini?” tanya Melan.
“Kenapa?” tanya Bellina menyelidik. Ia mulai
curiga dengan sikap Melan yang tiba-tiba menanyakan harga rumah. Padahal, ia
sudah lama membeli rumah tersebut.
“Mama cuma pengen tahu aja harga rumah ini,” jawab
Melan sambil menyentuh sofa ruang tamu menggunakan ujung-ujung jarinya.
“Cuma empat Milyar,” jawab Bellina sambil menatap
wajah mamanya.
Melan langsung tersenyum dan menghampiri Bellina.
“Bel, saat ini ... mama masih tinggal di hotel. Mama pengen beli rumah baru.”
“Beli aja,” sahut Bellina sambil melangkah menuju
sofa dan duduk dengan santai.
Melan terus mendekati Bellina dan duduk di samping
puteri kesayangannya itu. “Mama butuh uang, Bel. Kamu bisa kasih sedikit uang
kamu untuk mama?”
“Uang untuk apa, Ma?” tanya Bellina balik.
“Untuk beli rumah baru, Bel. Mama nggak punya
uang.”
“Mama baru aja cerai sama papa. Papa ngasih
tunjangan perceraian ke mama ‘kan?”
Melan meringis mendapati pertanyaan Bellina. “Uang
tunjangan dari papa kamu nggak seberapa. Sudah habis untuk keperluan
sehari-hari mama.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Suami baru
mama, nggak kasih uang?”
“Dia baru aja keluar dari penjara. Belum dapet
pekerjaan. Jadi, belum bisa menghidupi mama.”
“Kalau dia nggak bisa menghidupi mama, kenapa
harus pilih dia?” tanya Bellina kesal.
“Bel, semua butuh waktu. Mantan narapidana seperti
dia, sulit mendapatkan pekerjaan baru.”
“Lagian, kenapa mama lebih milih hidup sama
laki-laki kotor itu daripada sama papa? Papa Rudi itu baik, Ma. Dia udah
berjuang buat keluarga. Dia ngasih semua yang kita butuhkan. Dia bisa bikin
mama hidup layak. Tapi, mama malah tega-teganya nyakitin papa!”
“Kamu pikir, mama bahagia hidup dengan pria yang
tidak mama cintai dan tidak mencintai mama?” sahut Melan kesal.
“Oh ... ada hal lain yang bisa bikin mama lebih
bahagia dari uang?” tanya Bellina. “Ya udah, mama hidup ada dengan cinta sama
pria itu!”
“Bel, mama ke sini baik-baik. Kamu malah kayak
gini sama mama. Kamu tega lihat mama menderita di luar sana, sementara kamu
bisa tidur dengan enak dan tenang di rumah mewah kayak gini?”
Bellina terdiam. Ia juga tidak tega melihat
mamanya hidup menderita di luar sana. Hanya saja, wajah Lonan membuatnya sangat
kesal. Sampai kapan pun, ia tidak akan berdamai dengan pria asing yang telah
menghancurkan kehidupan keluarganya itu.
“Bel, mama sudah membesarkan kamu selama ini. Apa
kamu nggak ingat gimana kamu bisa hidup selama ini. Semua yang kamu mau, selalu
mama penuhi. Sekarang, mama cuma butuh sedikit uang kamu aja. Sebelumnya, mama
nggak pernah minta uang sama kamu.”
“Uang mama tinggal sedikit, Bel. Cuma bisa
bertahan sepuluh hari tinggal di hotel. Setelahnya, mama akan tinggal di mana
kalau kamu nggak mau kasih mama uang buat beli rumah baru. Kamu mau lihat mama
tidur di pinggir jalan?”
Bellina langsung menatap tajam ke arah Melan. Ia
baru saja mendengar makian dari mama mertuanya. Sekarang, mamanya sendiri juga
ikut berteriak di hadapannya. Hal ini membuat kepalanya semakin sakit.
“Kalau kamu nggak mau kasih uang mama, mama akan
tidur di pinggir jalan. Biar semua orang tahu kalau anak mama yang kaya raya
ini sudah membuang dan menyia-nyiakan mamanya sendiri!” ancam Melan.
Bellina langsung membelalakkan matanya. Ia tidak
ingin mamanya semakin berulah, membuat keluarganya dan keluarga Wijaya malu
karena perbuatan gila mamanya.
Melan tersenyum sambil menatap wajah Bellina. Ia
sangat berharap kalau Bellina mengeluarkan uang untuk dirinya.
“Mama butuh berapa?” tanya Bellina.
“Nggak banyak, kok. Cuma dua milyar,” jawab Melan
sambil tersenyum manis.
“Banyak banget!?” seru Bellina.
“Bel, mama butuh uang buat beli rumah baru. Kamu
tega lihat mama tidur di jalanan? Biar semua orang tahu kalau anak dan menantu
mama yang kaya raya ini sudah menelantarkan mamanya sendiri?”
“Aargh ...! Mama bikin kepalaku mau pecah. Ma, aku
nggak punya uang sebanyak itu!” sahut Bellina kesal.
“Dua milyar itu nggak banyak, Bel. Kamu bisa
dapetin dengan mudah dari suami atau papa kamu. Gaji kamu sebagai direktur di
perusahaan, juga nggak kecil. Tabungan kamu pasti lebih dari empat kali lipat
rumah ini ‘kan?”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, mama pikir
... aku punya uang sebanyak itu? Seandainya ada, aku juga nggak akan pakai
uangku untuk menghidupi mama dan pria kotor itu!”
Melan sangat kesal dengan sikap Bellina. Namun, ia
tidak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan uang dari Bellina.
“Oke. Kalau emang kamu nggak mau kasih mama uang.
Mama akan tinggal di jalanan dan bilang ke semua orang kalau anak dan menantu
mama sudah ...”
“Stop, Ma!” teriak Bellina sambil bangkit dari
sofa. “Mama nggak usah ngancam aku dan Lian!” pintanya sambil bergegas
melangkah ke kamarnya. “Tunggu di sini!”
Melan langsung tersenyum lebar begitu melihat
Bellina masuk ke kamarnya. Ia sangat berharap kalau puteri kesayangannya itu
segera memberikan uang yang ia butuhkan.
Beberapa menit kemudian, Bellina keluar dari kamar
dan menghampiri mamanya. Ia langsung menyodorkan kartu debit ke arah mamanya
tersebut.
Melan langsung tersenyum sambil menyambar kartu
dari tangan Bellina.
“Itu uang tabunganku. Cuma ada satu milyar.
Pin-nya hari ulang tahunku,” tutur Bellina sambil duduk kembali ke sofa.
“Bel, mama butuh dua milyar. Mama butuh beli rumah
dan untuk hidup sehari-hari.”
“Ma, itu cukup buat beli rumah. Mama beli rumah
yang murah-murah aja. Suruh suami baru mama itu buat cari nafkah. Supaya nggak
ganggu aku terus!”
“Bel, aku ini mama kamu. Apa kata orang kalau mama
beli rumah murah? Mereka bakal menilai kalau kamu bener-bener sudah
menelantarkan mamanya sendiri.”
Bellina menarik napas dalam-dalam. “Ma, itu cukup
buat beli rumah. Rumah yang harganya lima ratus juta, juga udah bagus untuk
mama. Kalau mama mau beli rumah mewah, mama usaha sendiri! Jangan morotin aku
dan suamiku, Ma!”
“Apa!? Kamu tega ngatain mama seperti ini? Aku ini
mama kandung kamu, Bel. Yang udah melahirkan dan membesarkan kamu selama ini.
Ini balasan kamu buat mama? Kamu bener-bener nggak punya hati nuraini.
Tega-teganya bikin mama kamu sendiri hidup terlantar.”
Bellina menarik napas panjang. Ia menarik tas
tangan yang tak jauh dari dirinya dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Ia
mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet tersebut. “Aku cuma punya uang
segini. Kalau mau, mama ambil. Kalau nggak, silakan pergi dari rumah ini dan
cari uang sendiri!”
Melan tersenyum lebar dan menyambar uang dari
tangan Bellina. Ia sangat bahagia karena puterinya bisa memberikan banyak uang
untuknya.
“Ma, mama sudah bisa pulang, sekarang? Mama ke
sini cuma butuh uang aja ‘kan?”
Melan langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu
ngusir mama?”
“Aku lagi pusing, Ma. Banyak hal yang harus aku
hadapi. Mama tolong ngertiin posisiku. Jangan bikin aku makin kesulitan!” pinta
Bellina dengan mata memerah.
Melan menatap wajah Bellina. Ia bisa mengetahui
kalau anaknya sedang banyak masalah. Namun, ia masih membutuhkan banyak uang
untuk bisa bertahan hidup di luar sana.
“Ma, semua yang mama lakuin beberapa hari
belakangan ini. Sudah bikin keluarga Linandar dan Wijaya malu banget. Aku baru
aja dimaki-maki sama mamanya Lian. Tolong, Ma! Jangan bawa aku ke dalam masalah
baru lagi! Mama Mega sudah mendesak Lian terus-menerus untuk menceraikan aku.
Aku belum hamil juga sampai sekarang, status mama yang sekarang bukan
siapa-siapa lagi di keluarga Lin. Bikin Mama Mega semakin benci sama aku.
Gimana kalau aku bener-bener dibuang dari keluarga Wijaya?” tanya Bellina
dengan mata berkaca-kaca.
Melan menghela napas. Ia ingin mendapatkan banyak
uang dari Bellina, tapi ia juga tidak bisa melihat puteri kesayangannya itu
berada dalam kesulitan. Ia ingin Bellina hidup baik dan bahagia di keluarga
ini.
Bellina menutup wajahnya sambil menangis. Ia tidak
bisa lagi menahan rasa sakit bertubi-tubi yang terus menimpa dirinya. Ia hanya
ingin mendapatkan kebahagiaan. Ia ingin memiliki suami yang menyayanginya,
mertua yang menyayanginya dan keluarga yang sehat. Tapi, semua hal yang ia
inginkan justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.
“Maafin, Mama! Mama nggak akan mendesak kamu lagi
untuk memberikan uang,” tutur Melan lirih. Ia bangkit dari sofa sambil menatap
Bellina yang masih terisak. “Mama pulang dulu!” pamitnya.
Bellina tak menyahut. Ia masih sibuk dengan
pikirannya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka kalau ia akan dimanfaatkan
oleh mamanya sendiri.
Melan tak berani menyentuh Bellina yang suasana
hatinya sedang buruk. Ia memilih melangkahkan kakinya perlahan keluar dari
rumah tersebut. “Aku bisa minta uang ke sini lagi kalau suasana hati Bellina
sudah membaik,” batin Melan.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar
aku makin semangat nulisnya setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment