Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 546 : Masuk Perangkap

 


Bellina terus menangis setelah mamanya pergi meninggalkan dirinya. Ia sangat kesal karena mama kandungnya sendiri hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan uang.

 

“Aargh ...!” Bellina menghambur semua barangnya yang ada di atas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa sambil menatap langit-langit ruangan. “Mama ngeselin! Aku nggak mau punya mama kayak kamu!”

 

Bellina terus mengumpat, ia mendesah sejenak saat ia sudah merasa lelah. Bellina mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada kartu nama yang tergeletak di lantai.

 

Bellina meraih kartu nama tersebut dan membaca tulisan ‘Arjuna Club’ yang tertera di sana. Ia langsung tersenyum lebar. “Daripada pusing sendirian di rumah. Mending main ke klub aja,” celetuk Bellina sambil bangkit dari sofa.

 

Bellina membereskan barangnya yang berserakan di lantai dan bersiap-siap pergi ke klub malam.

 

Satu jam kemudian, Bellina pergi ke Arjuna Club dengan wajah full make-up. Ia kembali duduk di salah satu meja bar.

 

“Minum apa, Mbak?” tanya salah seorang bartender yang sedang berdiri sambil meracik minuman untuk pelanggannya.

 

“Bellissimo Moscato, dua!” pinta Bellina.

 

Bartender itu mengangguk. Ia memerintahkan pelayan yang berdiri di sebelahnya untuk mengambil dua botol Bellisimo Moscato yang diinginkan Bellina.

 

“Bos kalian mana?” tanya Bellina.

 

“Bang Jun?” tanya bartender itu sambil menatap wajah Bellina yang ada di depannya. Ia menyodorkan Stem Glass ke hadapan Bellina. “Mau pakai es?”

 

Bellina menganggukkan kepala.

 

Bartender tersebut segera mengganti Unstem Glass untuk Bellina. Ia langsung membuka tutup botol Bellisimo Moscato dan mengembalikannya ke hadapan Bellina. Dengan gaya khasnya, ia masukkan beberapa potong es batu ke dalam Unstem Glass yang ada di tangan Bellina.

 

Bellina menuangkan minuman yang ia pesan ke dalam sloki yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sambil menikmati setiap gerakan bartender yang ada di sana.

 

“Bang Jun belum datang jam segini. Dia datang di atas jam sepuluh malam,” tutur bartender tersebut.

 

“Oh.” Bellina meneguk minumannya perlahan sambil menikmati suasana di dalam ruangan tersebut.

 

“Mau aku teleponin? Biar dia ke sini lebih cepat?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak cari dia, kok.”

 

“Terus, ke sini cari apa?”

 

“Pengen buang sial,” sahut Bellina sambil tersenyum.

 

“Oh. Lagi sial?”

 

Bellina tak menyahut. Ia kesal dengan pertanyaan bartender tersebut.

 

“Tenang aja! Tempat ini banyak membawa kesenangan dan keberuntungan.”

 

“Aku harap begitu,” tutur Bellina sambil memainkan gelas di tangannya. Ia tidak menginginkan hal lain. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya di tempat ini. Ia berharap bisa mendapatkan kesenangan di tempat ini. Tempat yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri tanpa ada yang memperdulikan statusnya sebagai seorang istri dari keluarga kaya.

 

 

 

...

 

 

 

“Malam, Pak Bos!” sapa Riyan begitu ia masuk ke dalam rumah dan mendapati Yeriko sedang menikmati makan malam bersama istri tercintanya.

 

“Malam, Yan! Udah datang? Duduk!” perintah Yeriko.

 

Riyan langsung duduk di kursi kosong yang ada di sana.

 

“Makan, Yan!” perintah Yeriko. “Bi ...! Bibi ...! Bawain piring untuk Riyan!” teriak Yeriko sambil menoleh ke arah dapur.

 

“Iya, Mas!” sahut Bibi War dari arah dapur. Ia bergegas mengambil alat makan tambahan untuk Riyan.

 

“Dari mana, Yan?” tanya Yuna yang duduk berseberangan dengan Riyan.

 

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko saat ia mendengar pertanyaan dari Yuna. “Dari perusahaan.”

 

“Lembur?” tanya Yuna lagi.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Makan yang banyak!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia ikut bergabung menikmati makan malam bersama bosnya.

 

“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Yeriko sambil menatap Riyan.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Soal Ibu Melan ...”

 

“Gimana?” tanya Yeriko santai.

 

“Beberapa hari ini, Ibu Melan sudah menghabiskan tabungannya untuk berfoya-foya dengan pria selingkuhannya itu,” tutur Riyan.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus!”

 

“Sore ini, Ibu Melan baru keluar dari rumah Mbak Belli. Seperti yang sudah kita rencanakan, dia minta uang sama anaknya itu.”

 

Yeriko langsung tersenyum sinis mendengar ucapan yang keluar dari mulut Riyan. Sementara, Yuna hanya melongo menatap dua pria yang ada di hadapannya.

 

“Bellina langsung pergi ke klub malam.”

 

“Malam ini, dia di klub?” tanya Yeriko.

 

Riyan mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Atur rencana selanjutnya! Oh ya, Chandra sudah balik?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Kalau sesuai jadwal, dia pulang sore ini.”

 

“Siapa yang jemput?”

 

“Mbak Jheni.”

 

“Oh, iya. Dia sekarang udah punya pacar. Nggak perlu dijemput supir kantor.”

 

Riyan mengangguk-anggukkan kepala sambil menikmati makan malam bersama Yeriko dan Yuna.

 

“Yan ...!” panggil Yuna berbisik.

 

“Ya, Nyonya Muda. Ada apa?”

 

“Kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Yuna berbisik.

 

Riyan menggelengkan kepala.

 

“Kenapa belum punya pacar?” tanya Yuna lagi sambil berbisik. “Karena bos kamu galak?”

 

Riyan terkekeh sambil menggelengkan kepala.

 

Yeriko melirik Yuna dan Riyan bergantian. “Kenapa tanyanya bisik-bisik?” tanya Yeriko.

 

Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko. “Asisten kamu jomblo terus. Kapan dia dapet jodoh kalau disuruh kerja terus?”

 

“Dia masih muda. Masih harus banyak belajar. Belum jadi apa-apa, udah mau nyari jodoh. Biarkan dia fokus kerja. Nggak boleh pacaran!” sahut Yeriko.

 

“Galak banget!?” dengus Yuna. “Kalau dia punya pacar, dia pasti makin semangat kerjanya. Iya ‘kan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Riyan.

 

Riyan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Belum ketemu cewek yang pas.”

 

“Kamu mau yang gimana? Ntar, aku kenalin sama temen-temenku!”

 

Yeriko langsung menutup wajah Yuna dengan telapak tangannya. “Nggak usah ajarin Riyan yang aneh-aneh!”

 

“Aku nggak ngajarin apa-apa, cuma nanya doang,” sahut Yuna sambil menyingkirkan telapak tangan Yeriko dari wajahnya.

 

Yeriko mengambil potongan udang goreng dan memasukkan ke mulut Yuna. “Makan yang banyak! Biar nggak banyak bicara,” pintanya sambil tersenyum.

 

Yuna mengerutkan hidung. Ia mengunyah makanan di mulutnya dan tidak berbicara sedikit pun sampai mereka menyelesaikan makan malam.

 

“Pak Bos, saya pulang dulu ya!” pamit Riyan begitu mereka sudah selesai makan dan duduk santai di ruang tamu.

 

“Eh, dokumen yang aku minta ... mana?” tanya Yeriko.

 

“Oh, iya. Masih di mobil. Sebentar!” pinta Riyan sambil berlari menghampiri mobil, mengambil dokumen yang tertinggal dan kembali menghampiri Yeriko.

 

“Ini, Pak Bos!” Riyan langsung menyodorkan map berisi beberapa dokumen yang diminta oleh Yeriko. “Di dalam sini, sudah ada agenda terbaru yang saya siapkan untuk Pak Bos.”

 

Yeriko mengangguk. “Thank’s, Yan!”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Mmh ... saya sudah boleh pulang ‘kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Riyan tersenyum. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja. “Mobil udah saya masukan ke garasi. Saya pulang dulu, Pak Bos!” pamitnya.

 

“Hati-hati ya, Yan!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar dari rumah Yeriko dan menghampiri taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.

 

Di dalam rumah, Yuna memperhatikan Yeriko yang duduk santai sambil membaca majalah bisnis.

 

“Ay ...!”

 

“Umh.”

 

“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”

 

“Tanya aja!” jawab Yeriko tanpa mengalihkan pandangannya.

 

“Bacanya nanti dulu!” pinta Yuna.

 

Yeriko langsung menutup majalah yang sedang dibacanya dan meletakkan di atas meja. “Mau tanya apa?”

 

“Apa kamu yang udah bikin Oom Rudi dan Tante Mega tahu soal skandal perselingkuhan Tante Melan?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Soal Oom Rudi, memang aku yang menggiring dia untuk mengetahui peselingkuhan istrinya. Tapi ... kalau soal Ibu Mega, aku nggak tahu siapa yang melakukannya."

 

Yuna mengernyitkan dahi sambil menggigit bibirnya. “Apa ada orang lain yang udah bocorin ke Tante Mega?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Bellina nuduh aku terus. Padahal, aku nggak ngasih tahu Tante Mega sama sekali. Ketemu sama dia, juga nggak. Kalau bukan kamu yang kasih tahu ... siapa yang udah ngasih tahu Tante Mega?”

 

Yeriko mengedikkan bahu. “Mungkin ... musuh Bellina yang lain.”

 

“Apa dia punya musuh di luar sana?”

 

“Bisa aja. Dia kelakuannya begitu, bisa aja banyak orang yang dendam sama dia.”

 

“Kira-kira siapa ya?” tanya Yuna.

 

“Nggak tahu. Nggak usah dipikirin! Nanti, aku suruh Riyan buat cari tahu.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Ay! Kasihan si Riyan, kerjaannya udah banyak. Nggak begitu penting banget, sih. Cuma ... kasihan aja sama Belli kalau dia dimarahin terus sama mama mertuanya.”

 

“Kamu masih kasihan sama dia? Dia udah jahat sama kamu selama ini?”

 

“Iya, juga sih. Aku nggak suka sama dia. Tapi ... kasihan juga. Selama ini, dia selalu menyalahkan aku kalau mengalami masalah. Kalau dia terlalu banyak menderita, aku takut ... dia makin benci sama aku.”

 

Yeriko menghela napas begitu melihat wajah Yuna murung. “Semua penderitaan yang dia alami sekarang, itu balasan atas perbuatan dia. Nggak ada hubungannya sama kamu.”

 

Yuna memutar bola matanya. “Iya ya?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Semua yang terjadi sama dia, nggak ada hubungannya sama kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Semoga aja dia dapet balasan yang setimpal dan nggak ganggu hidupku lagi.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti melindungi kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia merasa sangat nyaman dan bahagia selama berada di sisi suaminya. Ia berharap kalau sepupunya itu bisa berubah menjadi wanita yang baik sebelum merasakan sakit yang lebih dalam lagi.

 

 ((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas