Bellina terus menangis setelah mamanya pergi
meninggalkan dirinya. Ia sangat kesal karena mama kandungnya sendiri hanya
memanfaatkannya untuk mendapatkan uang.
“Aargh ...!” Bellina menghambur semua barangnya
yang ada di atas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa sambil menatap
langit-langit ruangan. “Mama ngeselin! Aku nggak mau punya mama kayak kamu!”
Bellina terus mengumpat, ia mendesah sejenak saat
ia sudah merasa lelah. Bellina mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba, matanya
tertuju pada kartu nama yang tergeletak di lantai.
Bellina meraih kartu nama tersebut dan membaca
tulisan ‘Arjuna Club’ yang tertera di sana. Ia langsung tersenyum lebar.
“Daripada pusing sendirian di rumah. Mending main ke klub aja,” celetuk Bellina
sambil bangkit dari sofa.
Bellina membereskan barangnya yang berserakan di
lantai dan bersiap-siap pergi ke klub malam.
Satu jam kemudian, Bellina pergi ke Arjuna Club
dengan wajah full make-up. Ia kembali duduk di salah satu meja bar.
“Minum apa, Mbak?” tanya salah seorang bartender
yang sedang berdiri sambil meracik minuman untuk pelanggannya.
“Bellissimo Moscato, dua!” pinta Bellina.
Bartender itu mengangguk. Ia memerintahkan pelayan
yang berdiri di sebelahnya untuk mengambil dua botol Bellisimo Moscato yang
diinginkan Bellina.
“Bos kalian mana?” tanya Bellina.
“Bang Jun?” tanya bartender itu sambil menatap
wajah Bellina yang ada di depannya. Ia menyodorkan Stem Glass ke hadapan
Bellina. “Mau pakai es?”
Bellina menganggukkan kepala.
Bartender tersebut segera mengganti Unstem Glass
untuk Bellina. Ia langsung membuka tutup botol Bellisimo Moscato dan
mengembalikannya ke hadapan Bellina. Dengan gaya khasnya, ia masukkan beberapa
potong es batu ke dalam Unstem Glass yang ada di tangan Bellina.
Bellina menuangkan minuman yang ia pesan ke dalam
sloki yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sambil menikmati setiap
gerakan bartender yang ada di sana.
“Bang Jun belum datang jam segini. Dia datang di
atas jam sepuluh malam,” tutur bartender tersebut.
“Oh.” Bellina meneguk minumannya perlahan sambil
menikmati suasana di dalam ruangan tersebut.
“Mau aku teleponin? Biar dia ke sini lebih cepat?”
Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak cari dia,
kok.”
“Terus, ke sini cari apa?”
“Pengen buang sial,” sahut Bellina sambil
tersenyum.
“Oh. Lagi sial?”
Bellina tak menyahut. Ia kesal dengan pertanyaan
bartender tersebut.
“Tenang aja! Tempat ini banyak membawa kesenangan
dan keberuntungan.”
“Aku harap begitu,” tutur Bellina sambil memainkan
gelas di tangannya. Ia tidak menginginkan hal lain. Ia hanya ingin melampiaskan
kekesalannya di tempat ini. Ia berharap bisa mendapatkan kesenangan di tempat
ini. Tempat yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri tanpa ada yang
memperdulikan statusnya sebagai seorang istri dari keluarga kaya.
...
“Malam, Pak Bos!” sapa Riyan begitu ia masuk ke
dalam rumah dan mendapati Yeriko sedang menikmati makan malam bersama istri
tercintanya.
“Malam, Yan! Udah datang? Duduk!” perintah Yeriko.
Riyan langsung duduk di kursi kosong yang ada di
sana.
“Makan, Yan!” perintah Yeriko. “Bi ...! Bibi ...!
Bawain piring untuk Riyan!” teriak Yeriko sambil menoleh ke arah dapur.
“Iya, Mas!” sahut Bibi War dari arah dapur. Ia
bergegas mengambil alat makan tambahan untuk Riyan.
“Dari mana, Yan?” tanya Yuna yang duduk
berseberangan dengan Riyan.
Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko saat ia
mendengar pertanyaan dari Yuna. “Dari perusahaan.”
“Lembur?” tanya Yuna lagi.
Riyan menganggukkan kepala.
“Makan yang banyak!” pinta Yuna sambil tersenyum.
Riyan menganggukkan kepala. Ia ikut bergabung
menikmati makan malam bersama bosnya.
“Ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Yeriko sambil
menatap Riyan.
Riyan menganggukkan kepala. “Soal Ibu Melan ...”
“Gimana?” tanya Yeriko santai.
“Beberapa hari ini, Ibu Melan sudah menghabiskan
tabungannya untuk berfoya-foya dengan pria selingkuhannya itu,” tutur Riyan.
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Bagus!”
“Sore ini, Ibu Melan baru keluar dari rumah Mbak
Belli. Seperti yang sudah kita rencanakan, dia minta uang sama anaknya itu.”
Yeriko langsung tersenyum sinis mendengar ucapan
yang keluar dari mulut Riyan. Sementara, Yuna hanya melongo menatap dua pria
yang ada di hadapannya.
“Bellina langsung pergi ke klub malam.”
“Malam ini, dia di klub?” tanya Yeriko.
Riyan mengangguk-anggukkan kepala.
“Atur rencana selanjutnya! Oh ya, Chandra sudah
balik?”
Riyan menggelengkan kepala. “Kalau sesuai jadwal,
dia pulang sore ini.”
“Siapa yang jemput?”
“Mbak Jheni.”
“Oh, iya. Dia sekarang udah punya pacar. Nggak
perlu dijemput supir kantor.”
Riyan mengangguk-anggukkan kepala sambil menikmati
makan malam bersama Yeriko dan Yuna.
“Yan ...!” panggil Yuna berbisik.
“Ya, Nyonya Muda. Ada apa?”
“Kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Yuna
berbisik.
Riyan menggelengkan kepala.
“Kenapa belum punya pacar?” tanya Yuna lagi sambil
berbisik. “Karena bos kamu galak?”
Riyan terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Yeriko melirik Yuna dan Riyan bergantian. “Kenapa
tanyanya bisik-bisik?” tanya Yeriko.
Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko.
“Asisten kamu jomblo terus. Kapan dia dapet jodoh kalau disuruh kerja terus?”
“Dia masih muda. Masih harus banyak belajar. Belum
jadi apa-apa, udah mau nyari jodoh. Biarkan dia fokus kerja. Nggak boleh
pacaran!” sahut Yeriko.
“Galak banget!?” dengus Yuna. “Kalau dia punya
pacar, dia pasti makin semangat kerjanya. Iya ‘kan?” tanya Yuna sambil menatap
wajah Riyan.
Riyan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Belum ketemu cewek yang pas.”
“Kamu mau yang gimana? Ntar, aku kenalin sama
temen-temenku!”
Yeriko langsung menutup wajah Yuna dengan telapak
tangannya. “Nggak usah ajarin Riyan yang aneh-aneh!”
“Aku nggak ngajarin apa-apa, cuma nanya doang,”
sahut Yuna sambil menyingkirkan telapak tangan Yeriko dari wajahnya.
Yeriko mengambil potongan udang goreng dan
memasukkan ke mulut Yuna. “Makan yang banyak! Biar nggak banyak bicara,”
pintanya sambil tersenyum.
Yuna mengerutkan hidung. Ia mengunyah makanan di
mulutnya dan tidak berbicara sedikit pun sampai mereka menyelesaikan makan
malam.
“Pak Bos, saya pulang dulu ya!” pamit Riyan begitu
mereka sudah selesai makan dan duduk santai di ruang tamu.
“Eh, dokumen yang aku minta ... mana?” tanya
Yeriko.
“Oh, iya. Masih di mobil. Sebentar!” pinta Riyan
sambil berlari menghampiri mobil, mengambil dokumen yang tertinggal dan kembali
menghampiri Yeriko.
“Ini, Pak Bos!” Riyan langsung menyodorkan map
berisi beberapa dokumen yang diminta oleh Yeriko. “Di dalam sini, sudah ada
agenda terbaru yang saya siapkan untuk Pak Bos.”
Yeriko mengangguk. “Thank’s, Yan!”
Riyan menganggukkan kepala. “Mmh ... saya sudah
boleh pulang ‘kan?”
Yeriko menganggukkan kepala.
Riyan tersenyum. Ia meletakkan kunci mobil di atas
meja. “Mobil udah saya masukan ke garasi. Saya pulang dulu, Pak Bos!” pamitnya.
“Hati-hati ya, Yan!”
Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas keluar
dari rumah Yeriko dan menghampiri taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Di dalam rumah, Yuna memperhatikan Yeriko yang
duduk santai sambil membaca majalah bisnis.
“Ay ...!”
“Umh.”
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”
“Tanya aja!” jawab Yeriko tanpa mengalihkan
pandangannya.
“Bacanya nanti dulu!” pinta Yuna.
Yeriko langsung menutup majalah yang sedang
dibacanya dan meletakkan di atas meja. “Mau tanya apa?”
“Apa kamu yang udah bikin Oom Rudi dan Tante Mega
tahu soal skandal perselingkuhan Tante Melan?” tanya Yuna sambil menatap wajah
Yeriko.
“Soal Oom Rudi, memang aku yang menggiring dia
untuk mengetahui peselingkuhan istrinya. Tapi ... kalau soal Ibu Mega, aku
nggak tahu siapa yang melakukannya."
Yuna mengernyitkan dahi sambil menggigit bibirnya.
“Apa ada orang lain yang udah bocorin ke Tante Mega?”
Yeriko mengedikkan bahunya.
“Bellina nuduh aku terus. Padahal, aku nggak
ngasih tahu Tante Mega sama sekali. Ketemu sama dia, juga nggak. Kalau bukan
kamu yang kasih tahu ... siapa yang udah ngasih tahu Tante Mega?”
Yeriko mengedikkan bahu. “Mungkin ... musuh
Bellina yang lain.”
“Apa dia punya musuh di luar sana?”
“Bisa aja. Dia kelakuannya begitu, bisa aja banyak
orang yang dendam sama dia.”
“Kira-kira siapa ya?” tanya Yuna.
“Nggak tahu. Nggak usah dipikirin! Nanti, aku
suruh Riyan buat cari tahu.”
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Ay!
Kasihan si Riyan, kerjaannya udah banyak. Nggak begitu penting banget, sih.
Cuma ... kasihan aja sama Belli kalau dia dimarahin terus sama mama mertuanya.”
“Kamu masih kasihan sama dia? Dia udah jahat sama
kamu selama ini?”
“Iya, juga sih. Aku nggak suka sama dia. Tapi ...
kasihan juga. Selama ini, dia selalu menyalahkan aku kalau mengalami masalah.
Kalau dia terlalu banyak menderita, aku takut ... dia makin benci sama aku.”
Yeriko menghela napas begitu melihat wajah Yuna
murung. “Semua penderitaan yang dia alami sekarang, itu balasan atas perbuatan
dia. Nggak ada hubungannya sama kamu.”
Yuna memutar bola matanya. “Iya ya?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu
khawatir! Semua yang terjadi sama dia, nggak ada hubungannya sama kamu.”
Yuna menganggukkan kepala. “Semoga aja dia dapet
balasan yang setimpal dan nggak ganggu hidupku lagi.”
Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pasti melindungi
kamu.”
Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. Ia
merasa sangat nyaman dan bahagia selama berada di sisi suaminya. Ia berharap
kalau sepupunya itu bisa berubah menjadi wanita yang baik sebelum merasakan
sakit yang lebih dalam lagi.
((Bersambung...))
Dukung terus cerita ini biar
aku makin semangat nulisnya setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment