Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 539 : Hasil Tes DNA

 


“Pa ... Papa udah datang?” sapa Bellina sambil menghampiri dan memeluk lengan Tarudi.

 

Tarudi hanya bisa tersenyum. Ia masih enggan menerima kehadiran Bellina, tapi ia juga tidak bisa menolak saat Bellina memeluknya. Ia mengelus lengan Bellina dengan lembut, sementara matanya terus tertuju pada Melan yang bergelayut mesra di tubuh Lonan.

 

Selama beberapa menit, suasana menjadi sangat canggung. Mereka terlihat seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

 

“Selamat pagi ...!” sapa seorang pria tua berseragam dokter.

 

“Pagi ...!” balas semua orang yang ada di sana sambil menoleh ke dokter tersebut.

 

“Pak Tarudi?”

 

Tarudi langsung menganggukkan kepala.

 

“Mari, ikut ke ruangan saya!” perintah dokter tersebut.

 

“Baik, Prof!” sahut Tarudi sambil melangkahkan kakinya mengikuti dokter tersebut. Di belakangnya, ada Melan dan Lonan yang juga ikut serta untuk mengetahui hasil tes DNA yang sudah mereka nantikan.

 

Begitu semua orang masuk ke dalam ruangan. Dokter itu langsung mengeluarkan amplop yang berisi hasil identifikasi DNA Bellina dan Lonan.

 

“Silakan dilihat hasilnya!” perintah dokter itu sambil menyodorkan amplop ke arah Tarudi.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar, ia tak punya kekuatan untuk meraih amplop tersebut dari tangan dokter yang memeriksa DNA puterinya. Ia sangat takut mengetahui kenyataan kalau Bellina bukanlah darah dagingnya.

 

“Lama banget!” celetuk Lonan sambil menyambar amplop dari tangan dokter dan bergegas membukanya. Ia tersenyum penuh percaya diri, sebab ia yakin kalau Bellina adalah anaknya.

 

Melan terus tersenyum sambil merangkul lengan Lonan. Ia juga berharap kalau Bellina adalah anak dari pria yang ia cintai selama ini.

 

Lonan menggelengkan kepala begitu melihat hasil tes DNA yang tertera di dokumen tersebut. “Nggak mungkin! Ini pasti salah!” serunya.

 

Bellina langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat raut wajah Lonan yang terlihat kecewa. Ia langsung menyambar dokumen dari tangan Lonan dan membacanya.

 

“Pa, lihat!” seru Bellina dengan wajah sumringah. Ia memperlihatkan hasil tes DNA itu ke arah Tarudi. “Aku bukan anak dia. Aku anak papa!”

 

Tarudi langsung tersenyum penuh kemenangan begitu hasil tes DNA menyatakan kalau Bellina bukanlah anak dari Lonan. Ia langsung merangkul Bellina dan memeluknya sangat erat.

 

“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak akan pernah bahagia menjadi anak orang lain. Papa sayang sama aku ‘kan?” tanya Bellina dengan mata berkaca-kaca.

 

“Papa selalu sayang sama kamu,” jawab Tarudi sambil menangkup pipi puterinya. “Jangan tinggalin papa sendirian, ya!”

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia terus memeluk tubuh papanya, tak ingin berjarak walau hanya sedikit saja. Ia sangat bahagia karena dia bukan anak seorang mantan narapidana. Ia tidak ingin punya papa seorang napi, ia tidak ingin posisinya direndahkan oleh semua orang.

 

Melan dan Lonan saling pandang. Mereka masih tidak percaya dengan hasil tes DNA kali ini.

 

Lonan langsung maju mendekati dokter tersebut. “Dokter, Anda pasti sudah merekayasa hasil penelitian DNA ini ‘kan?” tanyanya sambil menunjuk dokter tersebut.

 

Dokter itu menggelengkan kepala. “Saya sudah memeriksanya dan hasilnya memang sesuai dengan yang tertulis.”

 

“Bohong! Dokter pasti sudah dibayar sama laki-laki ini untuk memalsukan hasil tes DNA kali ini. Bellina itu anak saya, Dokter!” seru Lonan. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Bellina bukanlah anak kandungnya.

 

“Aku bukan anak kamu!” sahut Bellina kesal.

 

“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui aku sebagai ayah kamu hanya karena aku mantan napi?” tanya Lonan sambil menatap Bellina.

 

Bellina tak menjawab pertanyaan dari Lonan.

 

“Bel, mama yakin kalau dia adalah ayah kamu. Hasil tes ini pasti palsu!” sahut Melan.

 

“Aku percaya sama hasil tes itu. Aku cuma mau jadi anak papa Rudi. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah mau jadi anak dia!” tegas Bellina sambil menunjuk wajah Lonan.

 

Dokter di dalam ruangan itu mulai bingung dengan perdebatan yang terjadi di antara keluarga itu. Semuanya saling mempertahankan pendapatnya masing-masing dan membuat ia kesulitan untuk menjelaskannya.

 

“Aku ini Papa kamu, Bel! Kamu lebih mirip aku daripada laki-laki ini!” tegas Lonan. Ia tetap ingin mengambil Bellina sebagai anaknya.

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Bedebah sama hasil tes ini!” maki Lonan sambil memukul meja yang ada di hadapannya. Ia langsung menatap tajam ke arah dokter tersebut.

 

“Dokter, kamu pasti sudah bersekongkol dengan Rudi ‘kan?” tanya Lonan. “Aku nggak percaya sama hasil tes DNA ini. Aku minta tes ulang!”

 

Dokter itu menghela napas panjang. “Sekalipun saya melakukan tes DNA berulang-ulang. Hasilnya akan tetap sama. Saudari Bellina bukanlah anak kandung Anda. Sebab, dari pemeriksaan medis yang sudah dilakukan. Anda tidak bisa memiliki keturunan.”

 

“Apa!?” Melan dan Lonan menggelengkan kepala bersamaan.

 

Lonan masih tidak percaya dengan semua ini. Ia tidak mungkin tidak memiliki keturunan. Ia sangat berharap kalau Bellina adalah anak kandunganya.

 

Melan menatap Lonan sambil menggelengkan kepala. Ia juga tidak percaya kalau Bellina adalah anak kandung Tarudi. Ia pikir, Bellina adalah anak kandung Lonan.

 

Tarudi tersenyum lega. Ia kini bisa menerima semua dengan lapang dada. Ia bisa melepaskan Melan penuh keyakinan.

 

“Terima kasih untuk kerja keras dokter selama beberapa hari ini. Saya percaya dengan kinerja Anda. Saya permisi dulu!” pamit Tarudi sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.

 

Bellina langsung mengikuti langkah Tarudi keluar dari ruangan tersebut.

 

“Bel ...!” panggil Melan. “Tunggu, Bel!” Ia mengejar Bellina dan Tarudi keluar dari ruangan tersebut.

 

Lonan berusaha mencegah langkah Melan. Namun, Melan tak memperdulikan Lonan. Ia menyadari kalau semua hal dalam hidupnya nyaris hilang karena hubungannya dengan Lonan.

 

“Pa ...! Tunggu, pa!” pinta Melan sambil mengejar langkah Tarudi. Ia langsung menghadang tubuh Tarudi yang enggan menghentikan langkahnya.

 

Tarudi menghentikan langkahnya tanpa mengatakan apa pun. Ia hanya menatap Melan sambil menahan sakit di dadanya karena sikap istrinya yang menikam hatinya secara terang-terangan.

 

“Pa, maafin mama! Mama khilaf, Pa. Mama mohon, maafin mama! Kita bisa kembali menjadi keluarga seperti dulu lagi,” pinta Melan sambil meraih tangan Tarudi. “Mama janji, Mama ...”

 

Tarudi menepis tangan Melan begitu saja. Ia tak mengucapkan apa pun dan memilih pergi meninggalkan istrinya.

 

“Pa ...!” panggil Melan dengan mata berkaca-kaca. Ia terus menatap punggung Tarudi dan Bellina yang bergerak menjauhinya.

 

Melan terduduk lemas di lantai koridor rumah sakit. Air matanya mengalir begitu saja. Ia sadar kalau ia tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak akan bisa menyelamatkan hubungannya dengan Tarudi. Apa pun yang akan dia ucapkan saat ini, tidak akan pernah bisa mengubah keputusan Tarudi yang ingin menceraikannya.

 

 Tarudi terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedetik pun. Ia tidak ingin melihat wajah wanita yang telah menyakiti hati dan mencoreng nama baik keluarganya.

 

“Pa, aku ke rumah papa ya?” tutur Bellina sambil bergelayut manja di pundak Tarudi.

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia merogoh ponsel yang ada di saku kemejanya.

 

“Halo ...!” sapa seseorang di seberang telepon.

 

“Halo, saya minta dokumen perceraian saya dikirim ke rumah, sekarang juga!” perintah Tarudi.

 

“Siap, Pak!”

 

Tarudi langsung mematikan panggilan telepon dan memasukkan kembali ponsel ke saku kemejanya. Ia bergegas menghampiri mobilnya yang ada di parkiran.

 

“Pa, apa papa beneran mau menceraikan mama?” tanya Bellina saat mereka sudah duduk bersama di dalam mobil.

 

Tarudi menyalakan mesin mobil dan mulai menggerakkan kemudinya. “Apa pertanyaanmu ini masih harus dicari jawabannya? Papa nggak mau dipermainkan seperti ini!”

 

Bellina mengangguk. Ia hanya meremas safety belt sambil menggigit bibirnya. Kini, ia tidak tahu harus berpihak pada siapa. Seburuk apa pun, Melan tetaplah ibu kandungnya. Ia tidak bisa memutuskan hubungan darah dengan Melan, meski ia membencinya.

 

((Bersambung...))

Thanks udah dukung terus ceritanya ...

I’m so sorry ...! Ternyata Bellina bukan anak Lonan. Gimana dong?

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas