“Pa ... Papa udah datang?” sapa Bellina sambil
menghampiri dan memeluk lengan Tarudi.
Tarudi hanya bisa tersenyum. Ia masih enggan
menerima kehadiran Bellina, tapi ia juga tidak bisa menolak saat Bellina
memeluknya. Ia mengelus lengan Bellina dengan lembut, sementara matanya terus
tertuju pada Melan yang bergelayut mesra di tubuh Lonan.
Selama beberapa menit, suasana menjadi sangat
canggung. Mereka terlihat seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama
lain. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Selamat pagi ...!” sapa seorang pria tua
berseragam dokter.
“Pagi ...!” balas semua orang yang ada di sana
sambil menoleh ke dokter tersebut.
“Pak Tarudi?”
Tarudi langsung menganggukkan kepala.
“Mari, ikut ke ruangan saya!” perintah dokter
tersebut.
“Baik, Prof!” sahut Tarudi sambil melangkahkan
kakinya mengikuti dokter tersebut. Di belakangnya, ada Melan dan Lonan yang
juga ikut serta untuk mengetahui hasil tes DNA yang sudah mereka nantikan.
Begitu semua orang masuk ke dalam ruangan. Dokter
itu langsung mengeluarkan amplop yang berisi hasil identifikasi DNA Bellina dan
Lonan.
“Silakan dilihat hasilnya!” perintah dokter itu
sambil menyodorkan amplop ke arah Tarudi.
Tarudi menarik napas dalam-dalam. Tangannya
gemetar, ia tak punya kekuatan untuk meraih amplop tersebut dari tangan dokter
yang memeriksa DNA puterinya. Ia sangat takut mengetahui kenyataan kalau
Bellina bukanlah darah dagingnya.
“Lama banget!” celetuk Lonan sambil menyambar
amplop dari tangan dokter dan bergegas membukanya. Ia tersenyum penuh percaya
diri, sebab ia yakin kalau Bellina adalah anaknya.
Melan terus tersenyum sambil merangkul lengan
Lonan. Ia juga berharap kalau Bellina adalah anak dari pria yang ia cintai
selama ini.
Lonan menggelengkan kepala begitu melihat hasil
tes DNA yang tertera di dokumen tersebut. “Nggak mungkin! Ini pasti salah!”
serunya.
Bellina langsung melebarkan kelopak matanya begitu
melihat raut wajah Lonan yang terlihat kecewa. Ia langsung menyambar dokumen
dari tangan Lonan dan membacanya.
“Pa, lihat!” seru Bellina dengan wajah sumringah.
Ia memperlihatkan hasil tes DNA itu ke arah Tarudi. “Aku bukan anak dia. Aku
anak papa!”
Tarudi langsung tersenyum penuh kemenangan begitu
hasil tes DNA menyatakan kalau Bellina bukanlah anak dari Lonan. Ia langsung
merangkul Bellina dan memeluknya sangat erat.
“Pa, aku sayang sama papa. Aku nggak akan pernah
bahagia menjadi anak orang lain. Papa sayang sama aku ‘kan?” tanya Bellina
dengan mata berkaca-kaca.
“Papa selalu sayang sama kamu,” jawab Tarudi
sambil menangkup pipi puterinya. “Jangan tinggalin papa sendirian, ya!”
Bellina menganggukkan kepala. Ia terus memeluk
tubuh papanya, tak ingin berjarak walau hanya sedikit saja. Ia sangat bahagia
karena dia bukan anak seorang mantan narapidana. Ia tidak ingin punya papa
seorang napi, ia tidak ingin posisinya direndahkan oleh semua orang.
Melan dan Lonan saling pandang. Mereka masih tidak
percaya dengan hasil tes DNA kali ini.
Lonan langsung maju mendekati dokter tersebut.
“Dokter, Anda pasti sudah merekayasa hasil penelitian DNA ini ‘kan?” tanyanya
sambil menunjuk dokter tersebut.
Dokter itu menggelengkan kepala. “Saya sudah
memeriksanya dan hasilnya memang sesuai dengan yang tertulis.”
“Bohong! Dokter pasti sudah dibayar sama laki-laki
ini untuk memalsukan hasil tes DNA kali ini. Bellina itu anak saya, Dokter!”
seru Lonan. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Bellina bukanlah anak
kandungnya.
“Aku bukan anak kamu!” sahut Bellina kesal.
“Kenapa? Kamu nggak mau mengakui aku sebagai ayah
kamu hanya karena aku mantan napi?” tanya Lonan sambil menatap Bellina.
Bellina tak menjawab pertanyaan dari Lonan.
“Bel, mama yakin kalau dia adalah ayah kamu. Hasil
tes ini pasti palsu!” sahut Melan.
“Aku percaya sama hasil tes itu. Aku cuma mau jadi
anak papa Rudi. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah mau jadi anak dia!” tegas
Bellina sambil menunjuk wajah Lonan.
Dokter di dalam ruangan itu mulai bingung dengan
perdebatan yang terjadi di antara keluarga itu. Semuanya saling mempertahankan
pendapatnya masing-masing dan membuat ia kesulitan untuk menjelaskannya.
“Aku ini Papa kamu, Bel! Kamu lebih mirip aku
daripada laki-laki ini!” tegas Lonan. Ia tetap ingin mengambil Bellina sebagai
anaknya.
Bellina menggelengkan kepala.
“Bedebah sama hasil tes ini!” maki Lonan sambil
memukul meja yang ada di hadapannya. Ia langsung menatap tajam ke arah dokter
tersebut.
“Dokter, kamu pasti sudah bersekongkol dengan Rudi
‘kan?” tanya Lonan. “Aku nggak percaya sama hasil tes DNA ini. Aku minta tes
ulang!”
Dokter itu menghela napas panjang. “Sekalipun saya
melakukan tes DNA berulang-ulang. Hasilnya akan tetap sama. Saudari Bellina
bukanlah anak kandung Anda. Sebab, dari pemeriksaan medis yang sudah dilakukan.
Anda tidak bisa memiliki keturunan.”
“Apa!?” Melan dan Lonan menggelengkan kepala
bersamaan.
Lonan masih tidak percaya dengan semua ini. Ia
tidak mungkin tidak memiliki keturunan. Ia sangat berharap kalau Bellina adalah
anak kandunganya.
Melan menatap Lonan sambil menggelengkan kepala.
Ia juga tidak percaya kalau Bellina adalah anak kandung Tarudi. Ia pikir,
Bellina adalah anak kandung Lonan.
Tarudi tersenyum lega. Ia kini bisa menerima semua
dengan lapang dada. Ia bisa melepaskan Melan penuh keyakinan.
“Terima kasih untuk kerja keras dokter selama
beberapa hari ini. Saya percaya dengan kinerja Anda. Saya permisi dulu!” pamit
Tarudi sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Bellina langsung mengikuti langkah Tarudi keluar
dari ruangan tersebut.
“Bel ...!” panggil Melan. “Tunggu, Bel!” Ia
mengejar Bellina dan Tarudi keluar dari ruangan tersebut.
Lonan berusaha mencegah langkah Melan. Namun,
Melan tak memperdulikan Lonan. Ia menyadari kalau semua hal dalam hidupnya
nyaris hilang karena hubungannya dengan Lonan.
“Pa ...! Tunggu, pa!” pinta Melan sambil mengejar
langkah Tarudi. Ia langsung menghadang tubuh Tarudi yang enggan menghentikan
langkahnya.
Tarudi menghentikan langkahnya tanpa mengatakan
apa pun. Ia hanya menatap Melan sambil menahan sakit di dadanya karena sikap
istrinya yang menikam hatinya secara terang-terangan.
“Pa, maafin mama! Mama khilaf, Pa. Mama mohon,
maafin mama! Kita bisa kembali menjadi keluarga seperti dulu lagi,” pinta Melan
sambil meraih tangan Tarudi. “Mama janji, Mama ...”
Tarudi menepis tangan Melan begitu saja. Ia tak
mengucapkan apa pun dan memilih pergi meninggalkan istrinya.
“Pa ...!” panggil Melan dengan mata berkaca-kaca.
Ia terus menatap punggung Tarudi dan Bellina yang bergerak menjauhinya.
Melan terduduk lemas di lantai koridor rumah
sakit. Air matanya mengalir begitu saja. Ia sadar kalau ia tidak akan bisa
mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak akan bisa menyelamatkan
hubungannya dengan Tarudi. Apa pun yang akan dia ucapkan saat ini, tidak akan
pernah bisa mengubah keputusan Tarudi yang ingin menceraikannya.
Tarudi terus melangkahkan kakinya tanpa
menoleh sedetik pun. Ia tidak ingin melihat wajah wanita yang telah menyakiti
hati dan mencoreng nama baik keluarganya.
“Pa, aku ke rumah papa ya?” tutur Bellina sambil
bergelayut manja di pundak Tarudi.
Tarudi menganggukkan kepala. Ia merogoh ponsel
yang ada di saku kemejanya.
“Halo ...!” sapa seseorang di seberang telepon.
“Halo, saya minta dokumen perceraian saya dikirim
ke rumah, sekarang juga!” perintah Tarudi.
“Siap, Pak!”
Tarudi langsung mematikan panggilan telepon dan
memasukkan kembali ponsel ke saku kemejanya. Ia bergegas menghampiri mobilnya
yang ada di parkiran.
“Pa, apa papa beneran mau menceraikan mama?” tanya
Bellina saat mereka sudah duduk bersama di dalam mobil.
Tarudi menyalakan mesin mobil dan mulai
menggerakkan kemudinya. “Apa pertanyaanmu ini masih harus dicari jawabannya?
Papa nggak mau dipermainkan seperti ini!”
Bellina mengangguk. Ia hanya meremas safety belt
sambil menggigit bibirnya. Kini, ia tidak tahu harus berpihak pada siapa.
Seburuk apa pun, Melan tetaplah ibu kandungnya. Ia tidak bisa memutuskan
hubungan darah dengan Melan, meski ia membencinya.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung terus ceritanya ...
I’m so sorry ...! Ternyata Bellina bukan anak
Lonan. Gimana dong?
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment