Tuesday, June 2, 2026

Perfect Hero Bab 537 : Wajah-Wajah Memalukan

 


Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di depan orang-orang penting yang ada di kota itu.

 

“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.

 

Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”

 

Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia semakin membenci sikap Bellina.

 

“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik lengan Bellina.

 

“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina sambil berusaha menepiskan tangan Mega.

 

“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang yang ada di sana.

 

“Tapi, Ma ...!”

 

Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang menertawakan penampilan mereka.

 

Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir, kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.

 

Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.

 

“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”

 

Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara dan memilih untuk pergi satu persatu.

 

“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

 

“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta ikut merebahkan diri di samping Yana.

 

Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”

 

Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama, kamu harus nurut sama mama!”

 

“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.

 

“Gitu, dong! Jadi anak baik!”

 

Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya bunda.”

 

Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”

 

“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.

 

“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda Yana.

 

Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak gini?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu mahal buat aku, Ma.”

 

“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual rumah, kok,” sahut Bunda Yana.

 

“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”

 

Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”

 

“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”

 

“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”

 

“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut Rullyta.

 

Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.

 

 

 

...

 

“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya. Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat mereka sudah ada di dalam mobil.

 

Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih menempel di tubuhnya.

 

“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak Mega.

 

Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.

 

“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah Bellina.

 

“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar terhadapnya.

 

“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.

 

Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.

 

“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”

 

Bellina  hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu kamu?” batinnya penuh kebencian.

 

“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu keluarga aja!”

 

Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna, nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.

 

“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?” sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.

 

Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.

 

“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas. Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan semakin terancam.

 

“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang sedang diurusnya!”

 

Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu, hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang telah ia lakukan saat ini.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas