Mega bangkit dari tanah. Ia langsung menarik
Bellina yang masih tertegun melihat mama mertuanya juga ikut dipermalukan di
depan orang-orang penting yang ada di kota itu.
“Kenapa kamu mempermalukan kami di depan semua
orang? Kami salah apa sama kamu?” tanya Mega sambil menatap Yana.
Yana tersenyum menanggapi pertanyaan Mega. “Aku
sengaja bikin pesta ini cuma untuk membantu Yuna membalaskan dendamnya. Menantu
kamu ini sudah membuat keluarga Hadikusuma dan keluarga kami marah.”
Mega langsung menoleh ke arah Bellina. Ia sama
sekali tidak tahu apa yang diperbuat oleh anak menantunya di luar sana. Ia
semakin membenci sikap Bellina.
“Ayo, kita pulang!” perintah Mega sambil menarik
lengan Bellina.
“Ma, kita nggak bisa diam aja!” seru Bellina
sambil berusaha menepiskan tangan Mega.
“Udah, Bel. Kalau kita di sini terus, mereka akan
semakin mempermalukan kita. Lihat penampilan kamu sekarang! Nggak akan ada yang
menghargai kita di tempat ini,” tutur Mega sambil melirik kesal ke semua orang
yang ada di sana.
“Tapi, Ma ...!”
Mega langsung menarik tangan Bellina keluar dari
rumah tersebut. Mereka berjalan sambil menundukkan kepala saat semua orang
menertawakan penampilan mereka.
Rullyta tersenyum sinis sambil menatap tubuh
Bellina yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Kamu pikir,
kamu bisa menghadapi aku dengan mudah!?” gerutunya kesal.
Semua orang yang ada di sana langsung tersenyum
dan bersikap baik pada Rullyta dan Yana. Mereka tidak ingin membuat dua orang
bersahabat itu merasa tersinggung dan mempermalukan mereka suatu hari nanti.
“Perhatian semuanya ...! Pesta teh hari ini, cukup
sampai di sini. Kalian semua boleh pulang. Aku mau istirahat.”
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit kecewa
karena perjamuan kali ini sangat singkat. Namun, tak ada yang berani bersuara
dan memilih untuk pergi satu persatu.
“Akhirnya ... selesai juga,” tutur Yana sambil
merebahkan tubuhnya di sofa.
“Aku puas banget lihat muka mereka hari ini. Biar
semua orang tahu, nggak ada yang bisa main-main sama keluarga kita.” Rullyta
ikut merebahkan diri di samping Yana.
Yuna hanya tersenyum sambil ikut duduk di hadapan
Rullyta dan Yana. “Ma, Mama harusnya nggak perlu repot-repot bikin pesta palsu
kayak gini buat balas perlakuan Bellina ke aku!”
Rullyta tersenyum sambil menatap Yuna. “Kamu nggak
perlu protes! Mama paling nggak suka diprotes. Kalau masih mau jadi anak mama,
kamu harus nurut sama mama!”
“Iya, Ma,” jawab Yuna sambil menganggukkan kepala.
“Gitu, dong! Jadi anak baik!”
Yuna tersenyum. Ia melepas gelang giok yang
melingkar di pergelangan tangannya. “Bunda, ini ... aku kembalikan gelang punya
bunda.”
Yana langsung menoleh ke arah Yuna yang duduk di
hadapannya. “Barang yang udah bunda kasih, nggak boleh dikembalikan lagi!”
“Eh!? Bukannya ini cuma sandiwara?” tanya Yuna.
“Yang bilang ini sandiwara ... siapa?” tanya Bunda
Yana.
Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini
serius, Yun. Kamu kira mama dan Bunda Yana suka main-main kalau masalah kayak
gini?”
Yuna menggigit bibirnya. “Tapi, gelang ini terlalu
mahal buat aku, Ma.”
“Halah, berapa sih harganya? Nggak sampe jual
rumah, kok,” sahut Bunda Yana.
“Iya. Masih mahal cincin pernikahan pemberian
Yeriko ‘kan?” sahut Rullyta sambil menatap wajah Yuna. “Ambil aja! Mumpung
dikasih gratis sama Bunda Yana. Kapan lagi bisa morotin duitnya Bunda Yana?”
Yana tertawa kecil. “Kalau Satria udah nikah, aku
bakal suruh istrinya dia buat morotin duitmu juga.”
“Hahaha. Enak aja!” dengus Rullyta. “Kalau dia
baik kayak Yuna, bolehlah aku kasih sedikit.”
“Yuna, mama mertua kamu ini pelit banget.”
“Eh, aku nggak pelit. Tanya ke dia!” sahut
Rullyta.
Yuna hanya tertawa kecil melihat hubungan
persahabatan Mama Rullyta dan Bunda Yana. Ia berharap kalau persahabatan ia dan
Jheni juga bisa abadi seperti dua orang yang kini ada di hadapannya.
...
“Bel, apa yang sudah kamu lakuin ke keluarga Hadikusuma? Kenapa
sampai membuat kita dipermalukan seperti ini? Kamu itu menantu keluarga Wijaya.
Bisa nggak jaga sikap kamu di luar sana!?” tutur Mega sambil menahan kesal saat
mereka sudah ada di dalam mobil.
Bellina tak menyahut. Ia sibuk membersihkan daun teh yang masih
menempel di tubuhnya.
“Bersihin di rumah aja! Jangan bikin kotor mobil mama!” sentak
Mega.
Bellina langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menyembunyikan
bibir sambil menahan kesal. Mama mertuanya yang kasar dan pemarah, jauh berbeda
dengan mertua Yuna yang lembut dan menyenangkan.
“Kenapa lihatin saya begitu!?” tanya Mega sambil mendelik ke arah
Bellina.
“Nggak papa, Ma.” Bellina memilih untuk menundukkan kepala dan
tidak mengatakan apa pun. Ia masih harus menghadapi kenyataan mamanya yang
bermain gila dengan pria lain dan juga mama mertua yang bersikap kasar
terhadapnya.
“Kalau tahu mau ada hal seperti ini, mama nggak akan bawa kamu ke
pesta teh. Mama juga nggak akan datang ke tempat itu. Mereka sengaja
mempermalukan mama karena kesalahan yang kamu buat ke keluarga Hadikusuma. Apa
kamu memang senang bikin malu keluarga kami?” omel Mega.
Bellina menghela napas kecil. Ia sudah memilih mengalah dan
mendengarkan semua omelan Mega yang begitu menusuk batinnya. “Kenapa semua
orang nggak menerima kehadiranku? Semuanya selalu membanggakan Yuna, Yuna dan
Yuna!” batinnya sambil menatap lantai mobil yang ada di bawah kakinya.
“Masalah mama kamu belum selesai. Sekarang, kamu malah bikin
masalah baru. Kamu bikin mama stres! Lihat si Yuna itu! Dia pintar dan baik
dalam bersikap. Kalau tahu gini, mama biarin Lian menikahi Yuna aja. Aku
menyesal banget sudah pilih kamu jadi menantu.”
Bellina hanya menundukkan kepala. Ia semakin membenci Yuna
saat mama mertuanya membandingkan dirinya dengan Yuna. “Yun, kenapa selalu
kamu?” batinnya penuh kebencian.
“Bel, kalau kamu masih bikin ulah terus di luar sana. Lian pasti
akan menceraikan kamu. Masih lebih baik punya menantu bodoh tapi bisa menjaga
nama baik keluarga. Daripada menantu yang pintar, tapi pintarnya bikin malu
keluarga aja!”
Bellina langsung menoleh ke arah Mega. “Ma, aku nggak ngelakuin
hal berlebihan di luar sana. Emang si Yuna aja yang nggak berani ngadepin aku
sendirian, dia nyuruh mama mertuanya buat ngadepin aku. Masalah aku dan Yuna,
nggak ada hubungannya sama keluarga Hadikusuma atau keluarga Wijaya!” tegasnya.
“Sudah terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bilang kalau ini
nggak ada hubungannya dengan keluarga Wijaya? Otakmu ini ditaruh mana, hah!?”
sahut Mega sambil menoyor kepala Bellina.
Bellina mengerutkan hidung sambil menatap tajam ke arah Mega.
“Kenapa? Marah? Mau berantem sama mama?” tanya Mega.
Bellina menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia
juga tidak ingin melawan mama mertuanya dan membuat suasana semakin panas. Mama
mertuanya memang masih emosi karena latar belakang Bellina yang belum jelas.
Kalau ia berusaha melawan mama mertuanya, posisinya di keluarga Wijaya akan
semakin terancam.
“Kamu pulang ke rumah kami aja dulu!” pinta Mega. “Jangan sampai
Lian tahu soal ini! Mama nggak mau kejadian ini mempengaruhi perusahaan yang
sedang diurusnya!”
Bellina menganggukkan kepala. Ia juga tidak ingin Lian mengetahui
apa yang sudah terjadi hari ini antara dia dan Yuna. Yang Lian tahu,
hubungannya dengan Yuna sudah membaik. Ia tidak ingin Lian mengetahui apa yang
telah ia lakukan saat ini.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment