Rullyta tersenyum puas setelah berhasil
mempermalukan Mega pada pembukaan acara perjamuan teh di rumah istri walikota.
Hal ini, membuat Mega tidak bisa berkata-kata, akhirnya memilih diam dan
mengalihkan perhatian pada hal lain.
“Menantu keluarga Hadikusuma memang bukan orang
sembarangan. Dia cantik, anggun dan pintar,” celetuk salah seorang wanita yang
ada di tempat itu.
“Mereka keluarga terhormat, nggak mungkin
sembarangan mengambil menantu,” sahut wanita lain.
“Tapi, ada juga loh keluarga terhormat yang salah
ambil menantu. Maklum, zaman sekarang ... banyak perempuan yang mengincar
keluarga kaya supaya bisa menikmati kekayaan dengan mudah.”
“Eh, iya, bener banget! Kita juga mesti hati-hati
kalau mau cari menantu. Harus dilihat bener-bener bibit, bebet dan bobotnya.
Harus jelas, keturunan keluarga mana dan seperti apa masa lalu mereka. Jangan
sampai salah pilih dan bikin jelek nama baik keluarga!”
“Iya, Bu. Aku juga agak khawatir kalau anakku
tergoda sama perempuan sembarangan. Sekarang, banyak perempuan yang menggunakan
anak untuk menipu laki-laki. Laki-laki itu kayak kucing, mana bisa bedain ikan
segar sama ikan sisa kemarin, semuanya dilahap.”
“Anakku perempuan, Bu. Takut juga dapet laki-laki
yang nggak bener.”
“Jangan sampai dapet suami nggak bener! Sekarang,
banyak juga laki-laki pemalas yang manfaatin istrinya buat dapetin uang.”
“Laki atau perempuan, sekarang sama aja. Yang
penting, kita harus mengenal pribadinya dengan baik. Jangan asal-asalan kalau
cari menantu!”
“Bener-bener.”
“Bu Rully itu beruntung banget. Punya anak yang
tampan dan pintar bisnis. Dia juga dapet menantu yang cantik, baik dan cerdas
begitu. Kalau aku punya menantu begitu, udah aku sayang-sayang setiap hari.”
Bellina yang mendengar obrolan dari beberapa
wanita di sisinya merasa sangat kesal. Hatinya begitu panas mendengar Yuna
selalu mendapatkan pujian. Padahal, ia juga banyak kemampuan ... tapi tidak
seorang pun yang membanggakan dirinya kecuali mamanya sendiri.
“Hai, semuanya ...!” seru Yana mengalihkan
perhatian semua orang. “Aku mau tunjukin ke kalian, barang mahal yang aku buat
dengan tanganku sendiri.”
“Apa?”
“Apa?”
“Apa?”
Semua orang langsung bertanya-tanya.
Yana tersenyum. Ia memberikan isyarat pada pelayan
untuk membawakan barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Yana langsung meraih kotak perhiasan dan
membukanya.
“Wah ...! Ini gelang dari batu giok!” seru salah
seorang wanita yang ada di sana. “Bu Wali buat sendiri?”
Yana menganggukkan kepala. “Gelang ini aku buat
dengan pendampingan salah satu ahli perhiasan di Tiongkok. Ini merupakan simbol
kedamaian, keberkahan dan keberuntungan untuk orang yang memakainya.”
“Dijual atau nggak, Bu?” tanya salah seorang
wanita yang ada di sana.
“Mmh ... kalau cocok harganya, bolehlah saya
jual.”
“Mau dijual berapa?”
“Boleh coba?”
Mega dan Bellina juga ikut melihat gelang giok
yang ada di dalam kotak perhiasan tersebut. Gelang itu terbuat dari batu yang
harganya sangat mahal dan membuat semua orang ingin memilikinya.
“Boleh, silakan cobain aja!” perintah Yana sambil
menyodorkan kotak perhiasan tersebut.
Semua orang saling pandang. Mereka sedikit
ragu untuk mencoba gelang giok yang harganya memang sangat mahal untuk sebagian
orang. Mereka takut membuat gelang tersebut rusak dan harus menggantinya.
“Siapa yang mau nyobain duluan?” tanya Yana.
“Aku,” jawab Mega sambil menghampiri Yana. Ia
sangat menyukai model gelang yang ada di tangan Yana.
Yana tersenyum sinis sambil menatap Mega. “Gelang
ini nggak bisa dipakai sembarang orang. Apalagi, ini gelang hasil buatan
tanganku sendiri.”
Mega langsung memanas begitu mendengar ucapan
Yana. Ia merasa sedang dipermainkan oleh Yana. “Tadi, kamu sendiri yang
menyuruh orang lain mencobanya. Kenapa sekarang bicara lain?” tanyanya kesal.
Yana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mega.
“Kalimat itu keluar sebelum kamu muncul di hadapanku!”
“Maksud kamu!?” Mega membelalakkan matanya.
Bellina yang melihat mama mertuanya dipermalukan
dengan sengaja, langsung menghampiri Yana. “Bunda, maksud Bunda apa?”
Yana menaikkan dua alis sambil menatap Bellina.
“Kamu mau coba gelang ini?”
Bellina tak menyahut. Meski kesal dengan ucapan
Bunda Yana, tapi ia juga menginginkan gelang keberuntungan itu.
Yana menaikkan kedua alisnya. “Nggak mau coba?
Sebelum aku berubah pikiran.”
Bellina menarik napas sambil menganggukkan kepala.
Yana tersenyum sambil mengeluarkan gelang tersebut
dari kotaknya. “Mana tangan kamu?” tanya Yana sambil menengadahkan telapak
tangannya.
Bellina tersenyum bahagia karena Bunda Yana ingin
memakaikan gelang itu secara langsung ke tangannya. Ia merasa menjadi orang
yang paling istimewa di tempat tersebut.
Yana memasangkan gelang tersebut. Kemudian, ia
mengamati gelang yang ada di tangan Bellina selama beberapa detik. “Ck, nggak
cocok ada di tangan kamu,” ucapnya sambil melepas kembali gelang tersebut.
Bellina membelalakkan mata. Ia benar-benar tidak
mengerti dengan apa yang dilakukan Bunda Yana terhadapnya.
Semua orang saling pandang. Mereka mulai mengerti
dengan apa yang dilakukan Yana dan Rullyta. Sebab, dari awal perjamuan ... tuan
rumah acara tersebut sudah mengincar Mega dan Bellina sejak awal.
“Bunda, kenapa dilepas lagi?” tanya Bellina.
“Bunda sudah bilang, gelang ini nggak cocok ada di
tangan kamu,” jawab Yana sambil melangkahkan kakinya menghampiri Yuna.
Yana langsung meraih tangan Yuna dan memakaikan
gelang tersebut ke tangan Yuna. Hal ini, semakin membuat emosi Bellina
tersulut.
“Bunda, Bunda sengaja mau mempermainkan kami!?”
seru Bellina.
Yana tak menghiraukan pertanyaan Bellina. Ia
tersenyum sambil memasangkan gelang ke tangan Yuna.
“Bunda, aku merasa nggak pantas pakai barang
semahal ini,” tutur Yuna sambil memperhatikan gelang yang sudah melingkar di
tangannya.
“Benda mati pun tahu siapa yang pantas jadi
pemiliknya. Gelang ini, lebih cocok ada di tangan kamu,” ucap Bunda Yana sambil
tersenyum. Ia mengelus lembut rambut Yuna.
Kalimat lembut yang keluar dari mulut Bunda Yana,
terasa begitu menusuk ke hati Bellina. Ia tidak tahan lagi melihat Yuna yang
diperlakukan sangat istimewa di depan semua orang.
“Kamu lagi hamil, gelang keberuntungan ini lebih
cocok untuk kamu. Semoga, kamu dan si jabang bayi sehat selalu sehat sampai
hari kelahiran nanti,” tutur Bunda Yana sambil mengelus lembut kepala Yuna.
“Makasih, Bunda ...!” ucap Yuna sambil tersenyum
manis.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bunda
Yana, membuat Bellina teringat pada anaknya sendiri. Ia menatap perut Yuna
penuh kebencian. Ia tidak akan pernah rela membiarkan anak yang ada di dalam
perut Yuna bisa hidup bahagia. Ia berniat untuk membalaskan dendam anaknya dan
berharap kalau Yuna bisa menghilang dari muka bumi ini.
Bellina menatap tajam ke arah Yuna sambil
melangkahkan kakinya mendekati Yuna secara perlahan. Kebencian yang menyelimuti
hatinya, membuatnya lupa kalau ia berada di tempat yang seharusnya bisa menjaga
sikapnya dengan baik.
Rullyta dan Yana yang menyadari langkah Bellina,
langsung sigap dan berusaha menarik Yuna untuk menjauh dari Bellina.
Bellina semakin kesal, ia mempercepat langkahnya.
Menerobos tubuh beberapa wanita yang ada di sana dan langsung mendorong tubuh
Yuna.
Yuna memundurkan langkahnya begitu tangan Bellina
mendorong kuat dadanya, ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak
terjatuh. “Apa-apaan sih kamu, Bel!?” serunya kesal.
“Kamu sengaja mau merebut perhatian semua orang
dan mempermalukan aku ‘kan?”
Yuna menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti
dengan Bellina yang terus-menerus menyerangnya.
Bellina kembali menghampiri Yuna untuk menyerang
sepupunya itu.
BYUUR ...!
Langkah Bellina terhenti saat Bunda Yana
menyiramkan teh seduhan ke tubuh Bellina. Seketika, seluruh tubuh Bellina basah
kuyup dengan air seduhan teh. Wajah dan tubuhnya bisa merasakan air hangat yang
menjalar perlahan. Rambut dan pakaiannya juga kotor dengan daun teh yang sudah
mengering.
Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia semakin
kesal dengan perlakuan Yuna dan orang-orang yang melindunginya. Ia
menghentakkan kaki sambil mengepal tangannya kuat-kuat.
Melihat Bellina yang dipermalukan dan emosinya
semakin terpancing, Mega langsung melangkah menghampiri Bellina untuk menarik
menantunya itu pergi.
SRUUK ...!
Belum sampai mencapai tubuh Bellina, Mega malah
terjerembab ke tanah karena salah satu kaki wanita yang ada di sana menghalau
kakinya.
Mega langsung membuka mata dan mulutnya
lebar-lebar. Ia menengadahkan kepala sambil menatap Yana dan Rullyta yang
tertawa lebar melihat ia yang bersimpuh di tanah.
“Kalian sengaja mau mempermalukan kami?” tanya
Mega sambil menatap Rullyta dan Yana.
Rullyta hanya tersenyum sambil memainkan alisnya.
“Kamu tanya sama menantu kamu ini, dia sudah berani main-main sama keluargaku.
Kamu pikir, aku bakal diam aja kalau anak menantuku disakiti, hah!?” sentak
Rullyta sambil mendelik ke arah Mega.
Mega terdiam. Ia mengedarkan pandangannya saat
semua tamu menertawakan dirinya dan anak menantunya yang sudah terlihat kacau.
Semua orang menatap ke arah Mega dan Bellina.
Kini, mereka mengerti kalau keluarga Wijaya pernah melakukan hal yang membuat
keluarga Hadikusuma tersinggung, hingga membuat mereka merasa dipermalukan
seperti sekarang ini.
((Bersambung ...))
Eeeaak ... silakan tertawa. Author mau cari inspirasi dulu.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment