Tuesday, June 2, 2026

Saya Baru Tahu, Ternyata Bubur Sum-Sum Setelah Hajatan Punya Makna yang Luar Biasa






Ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali menghadiri hajatan pernikahan di kampung-kampung Jawa. Ketika tenda mulai dibongkar, kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, dan para tamu terakhir berpamitan, dapur justru masih menyimpan cerita. 
Di sudut rumah, ibu-ibu yang sejak beberapa hari lalu sibuk rewang masih berkumpul sambil menikmati semangkuk bubur sum-sum hangat yang disiram kuah gula merah, mereka sering menyebutnya "juruh". 
Sederhana. Tidak mewah. Namun justru di situlah tersimpan makna yang begitu dalam.
Bubur sum-sum bukan sekadar makanan penutup setelah pesta usai. Dalam banyak tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini memiliki filosofi yang erat dengan rasa syukur, ketulusan, dan harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. 
Kata sum-sum sendiri sering dimaknai sebagai inti atau sari dari kehidupan. Setelah seluruh rangkaian hajatan berlangsung dengan segala tenaga, pikiran, dan biaya yang telah dicurahkan, bubur sum-sum hadir sebagai simbol kembalinya manusia pada kesederhanaan. Bahwa sebesar apa pun pesta yang digelar, pada akhirnya yang dicari adalah ketenteraman hati dan keberkahan hidup.

Saya selalu menyukai cara orang-orang tua menjelaskan makna makanan tradisional. Mereka tidak menggunakan istilah rumit atau teori filsafat yang sulit dipahami. Dari semangkuk bubur putih yang lembut, mereka mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang baru dibangun pengantin juga seharusnya seperti itu. Lembut dalam bertutur kata, tenang dalam menghadapi masalah, dan mampu menyatukan berbagai rasa dalam satu wadah kebersamaan. Kuah gula merah yang manis menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manisnya kebahagiaan akan terasa ketika dijalani bersama.

Tradisi menyajikan bubur sum-sum setelah hajatan juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Di banyak desa, bubur ini biasanya dinikmati bersama-sama oleh para tetangga dan kerabat yang ikut membantu acara. Mereka duduk lesehan, berbincang santai, saling bercanda, lalu pulang membawa rasa lega karena pekerjaan besar telah selesai. Tidak ada lagi sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua kembali menjadi bagian dari masyarakat yang saling menguatkan. Dari sini kita belajar bahwa sebuah pernikahan tidak pernah hanya menjadi urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan banyak tangan dan banyak hati.

Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, tradisi seperti ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya kuno. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan sesuatu yang mulai jarang dimiliki zaman sekarang: kebersamaan yang tulus tanpa pamrih. Ketika ibu-ibu rewang memasak sejak dini hari, ketika bapak-bapak membantu mendirikan tenda, ketika tetangga datang membawa tenaga dan waktu tanpa meminta imbalan, sesungguhnya mereka sedang merawat modal sosial yang sangat berharga. Bubur sum-sum menjadi penutup yang manis untuk seluruh proses gotong royong tersebut.

Mungkin itulah sebabnya aroma santan hangat dan gula merah selalu membawa saya pada kenangan tentang kampung halaman. Tentang suara orang-orang yang bercakap di dapur, asap tungku yang mengepul, serta tawa yang masih terdengar meski tubuh sudah lelah bekerja seharian. Semangkuk bubur sum-sum mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana: semangkuk bubur hangat yang disantap bersama setelah semua pekerjaan selesai.

Dan seperti pernikahan itu sendiri, bubur sum-sum mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pesta yang meriah, melainkan tentang bagaimana menjaga rasa syukur setelah pesta usai. Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa megah acaranya, melainkan seberapa hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya. Sebagaimana bubur sum-sum yang lembut dan menenangkan, semoga setiap rumah tangga yang baru dibangun juga tumbuh dalam kelembutan, kesabaran, dan keberkahan yang tak pernah habis dibagikan.




Kutai Kartanegara, 02 Juni 2026



Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas