“Van, gimana keadaan Alluna?” Hastri, Rani, Austin, Jono dan teman-teman yang lain. Mereka menghampiri Evan yang sedang duduk di kursi tunggu ruang ICU.
Evan tak menjawab, ia hanya menatap lantai di bawahnya dengan tatapan kosong. Austin dan lainnya saling pandang melihat banyak bercak darah di baju Evan.
“Suster, gimana keadaan teman saya?” Rani langsung menghampiri perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Pasien atas nama Alluna?”
Mereka mengangguk bersamaan. “Gimana, Sus?”
“Doakan saja semoga pasien bisa melewati masa kritisnya,” jawab suster tersebut sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan.
“Kritis?” Rani terkejut mendengarnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Austin dan Hastri juga langsung memeluknya. Mereka tidak dapat menahan air mata jatuh satu per satu di pipi mereka.
“Alluna gimana?” Mama Alluna sangat panik dan langsung menepuk bahu Evan.
Evan menggeleng lemah. “Dia kritis, Tante,” jawab Evan.
Mama Alluna menatap pintu ruangan tempat Alluna ditangani. Ia tidak bisa masuk dan melihat ke dalam karena Alluna sedang mendapatkan penanganan medis.
Semua mata menoleh saat pintu ruangan terbuka dan dua orang keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter, gimana keadaan anak saya?” tanya Mama Alluna sambil menangis sesenggukkan.
“Sabar ya, Bu. Sedang kami tangani.”
Evan semakin gusar ketika mengetahui harus ada tambahan tenaga medis yang menangani Alluna. “Aargh...!” ia menjambak rambutnya sendiri.
Mama Alluna mengusap bahu Evan agar bisa mengendalikan diri.
“Jon, belum ada informasi apa-apa?” tanya Rani sambil mengusap matanya yang sembab.
“Baru ini.” Jono menunjukkan sebuah foto instagram yang memberikan informasi seputar kota mereka. Insiden kecelakaan lalu lintas yang dialami Alluna dan Joni sudah masuk ke media massa dan media online dengan cepat.
“Si Joni gimana?” bisik Rani.
“Dia langsung ditahan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. Info yang gue dapet kayak gitu.”
Rani menoleh ke arah Evan dan Mama Alluna yang masih duduk di kursi. Ia menarik Jono menjauh dari mereka. Austin dan Hastri juga langsung mengikuti langkah Rani. Mereka duduk di kursi yang tidak begitu jauh dari ruang ICU. Namun, bisa dipastikan kalau Mama Alluna tidak akan mendengar pembicaraan mereka.
“Astagfirullah...!” Jono membuka mulutnya ketika mendapat pesan Whatsapp.
“Kenapa, Jon?” Rani langsung menyambar ponsel Jono. Hastri dan Austin ikut merapat.
Mereka tak kalah terkejutnya melihat foto yang tersebar di grup WA SMA mereka. Kabar Alluna sudah sampai ke alumni-alumni SMA dan mereka mendapat foto-foto kondisi Alluna saat kecelakaan dari netizen.
Alluna terlihat terluka parah, pantas saja baju Evan berlumuran darah. Karena saat kejadian, terlihat Evan menggendong Alluna sambil menangis. Evan terlihat panik dan ketakutan.
“Ya Allah, selamatkan Alluna.” Rani, Hastri dan Austin saling berangkulan.
“Ini semua salah Evan, tante. Kalau aja kami nggak berantem, kejadiannya pasti nggak akan kayak gini.” Evan menghentakkan kepalanya ke dinding berkali-kali.
“Sudah. Tidak baik menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir. Sekarang kita doakan semoga Alluna cepat melewati masa kritisnya.” Mama Alluna sudah terlihat lebih kuat. Dalam hati ia tak henti mendoakan keselamatan putri kesayangannya itu.
Evan mengangguk lemah. Sesekali air matanya menetes karena ia memang tak sanggup menahan kesedihan. Rasa takut kehilangan benar-benar membayangi pikirannya saat ini.
***
Seminggu kemudian ...
Alluna masih terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Keluarga dan sahabat-sahabatnya silih berganti menjenguk Alluna. Begitu juga dengan Evan yang sudah memberikan waktunya 24 jam untuk menjaga Alluna.
“Lun, kamu bangun, dong! Aku kangen denger kamu marah-marah.” Evan terus mengajak Alluna berbicara walau ia tahu Alluna tidak bisa membalasnya. Ia tahu, Alluna bisa mendengar ucapannya.
“Lun, kamu suka pesta 'kan? Minggu depan aku dapet undangan nikahan temen aku. Kamu temenin aku, ya! Aku nggak akan berangkat tanpa kamu. Kamu tahu nggak, aku suka banget lihat kamu pakai baju pesta. Kamu cantik. Jauh lebih cantik dari pengantinnya.” Evan tersenyum sambil mengecup tangan Alluna. Evan terus mengajak Alluna bicara sampai ia tertidur sambil menggenggam tangan Alluna.
***
“Jon, gimana? Udah lo cari tahu?” Rani menghampiri Jono yang sedang bercengkerama bersama teman-temannya di taman kampus.
“Tenang aja, gue selalu update setiap ada berita terbaru. Eh, sini dulu!” Jono meminta Rani duduk di sisinya. “Kita nemuin fakta baru,” ucap Jono lirih.
“Oh, ya? Apa?” tanya Rani serius.
Jono mengambil ponsel dari saku jaketnya. “Ini.” Ia menunjukkan sesuatu kepada Rani.
“Ini beneran?”
Jono mengedikkan bahunya. “Belum tahu, sih. Kita masih harus ngecek, itu bener atau hoax. Gue nggak mau langsung menarik kesimpulan sebelum semuanya jelas.”
“Ah, Jono.” Mata Rani berbunga-bunga melihat sikap Jono, ia tak menyangka kalau Jono ternyata cowok yang bijak dan cerdas dalam menanggapi berita yang muncul. “Lo emang paling keren deh!” puji Rani. “Makasih ya, lo emang paling the best lah soal beginian.” Rani mengacungkan dua jempolnya.
“Iya. Siapa dulu, Jono gitu loh,” ucap Jono dengan bangganya.
Rani tertawa. “Gue balik ke kelas dulu ya!” Rani bangkit dan langsung berlalu pergi.
“Jon, dia makin cantik aja ya?” tanya Aldo yang ada di dekat Jono.
“Iya,” jawab Jono sambil tersenyum menatap kepergian Rani.
***
“Van...!” Mama Alluna memanggil Evan perlahan. Ia merasa iba melihat Evan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Evan mengangkat kepala. “Ya, tante.” Ia melihat Mama Alluna sudah berdiri di depannya.
“Kamu istirahat dulu, gih! Biar Mama yang jaga Alluna,” pinta Mama Alluna.
Evan bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju sofa yang tak jauh dari ranjang Alluna. Bergantian Mama Alluna yang duduk di samping ranjang Alluna.
“Sayang ... Mama punya desain gaun baru buat kamu. Kamu pasti suka. Mama bikin khusus buat ulang tahun Alluna hari ini. Alluna bangun, ya! Mama pengen lihat Alluna pakai gaun itu. Alluna pasti cantik,” tutur Mama Alluna sembari membelai lembut rambut Alluna, tangan satunya lagi menggenggam tangan Alluna dan meletakkan di pipinya. Ia menatap puterinya penuh kerinduan.
Evan langsung menoleh ke arah Mama Alluna. Ia memeriksa kalender di ponsel. Ini hari ulang tahun Alluna yang ke-20 dan Evan melupakannya. Harusnya, ia bisa mengajak Alluna makan malam di tempat romantis atau mengajaknya liburan ke suatu tempat. Alluna suka dengan pesta, ia suka terlihat cantik. Walau sebenarnya, dia memang sudah cantik.
Ia sampai belum mengucapkan ulang tahun ke Alluna. Ia tersenyum menatap Alluna dan mamanya. Setidaknya, orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun adalah mamanya. Evan selalu bahagia melihat kemesraan dua wanita yang ada di hadapannya itu.
Evan melangkahkan kaki keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.
“Hai, Van...! Gimana keadaan Alluna?” sapa Austin saat Evan baru saja keluar dari pintu. Di belakangnya ada Rani dan Hastri.
Evan menatap mereka bertiga. Tangan mereka penuh dengan kotak hadiah, parcel buah, bunga dan boneka. Evan tersenyum kecil melihat tiga sahabat Alluna. Mereka tidak pernah lupa dengan hari ulang tahun Alluna. “Alluna belum sadar.”
“Kita mau ngucapin ulang tahun dan ngasih hadiah ini. Kalau dia sadar nanti, dia pasti bakal lihat kado-kado ini. Dia pasti seneng,” sahut Hastri sambil tersenyum bahagia.
Evan tertawa kecil. “Makasi,h ya! Gue yang pacarnya malah nggak ngasih apa-apa ke dia. Ngucapin ultah aja belum.”
“Van, Alluna itu selalu bahagia saat deket sama lo. Dengan lo selalu ada di sisinya, itu udah jadi hadiah buat dia.” Austin menepuk lembut bahu Evan.
“Ya udah, kita masuk dulu, ya!” Rani langsung masuk ke ruang rawat Alluna diikuti Hastri dan Austin. Mereka meletakkan kado-kado untuk Alluna di atas meja, tepat di depan ranjang Alluna.
Mereka menghampiri Alluna dan mengucapkan selamat ulang tahun satu per satu. Mama Alluna memberi ruang untuk mereka, ia memilih keluar dari ruangan bersama Evan.
Mama Alluna mengambil ponsel dan duduk di sisi Evan. Ia melakukan panggilan video pada dua orang sekaligus, Daren dan ayahnya.
“Halo, sayang. Lagi apa?” tanya Mama Alluna saat panggilannya tersambung dengan Daren.
“Lagi di perpus, Ma. Ngerjain tugas. Alluna gimana keadaannya?” tanya Daren.
“Dia masih koma,” jawab Mamanya.
“Minggu ini Daren pulang, deh. Kelar ujian langsung terbang ke sana. Evan gimana?” tanya Daren.
“Nih.” Mama Alluna menggeser posisi ponselnya dan menunjukkan wajah Evan yang sedang menyandarkan kepala ke dinding.
“Hai, Bang!” sapa Evan datar.
“Kacau banget, lu. Udah nggak mandi berapa hari?” tanya Daren.
Evan tertawa kecil menanggapi pertanyaan Daren.
“Dia mandi tiap hari, tapi nggak sempat perawatan. Lihat aja tuh kumis sama brewoknya sampe kelihatan gitu. Eh!? Papa kamu kayaknya masih sibuk. Nggak dijawab nih video call dari mama.”
“Papa nggak balik ke Indo?” tanya Evan.
“Enggak. Masih banyak kerjaan.”
“Tega banget sih Papa. Sama sekali nggak pengen jenguk Alluna?”
“Jangan bilang gitu! Papa sebenarnya mau jenguk, tapi kerjaan dia masih banyak. Lagian, papa kamu selalu memantau perkembangan adik kamu dari sana, kok.”
“Oh, ya udah, Ma. Aku mau masuk kelas dulu. Mau ujian.” Daren langsung mengakhiri panggilan videonya.
***
Sudah sepuluh hari Evan menemani Alluna di rumah sakit. Ia terlihat lebih kurus, kucel dan kurang tidur. Ia ingin terus berada di sisi Alluna saat gadis itu tersadar.
Evan merebahkan tubunya di sofa. Ia menengadahkan kepala sambil memejamkan mata dan ia langsung tertidur pulas.
Alluna membuka matanya perlahan. Penglihatannya buram sampai ia benar-benar bisa melihat lampu yang ada di atasnya. Ia melihat seorang suster sedang memeriksa kantong infus miliknya. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir yang menimpanya. Yang ia ingat, terakhir kali bersama Joni di dalam sebuah mobil. Selebihnya, ia tidak mengingat apa-apa.
“Mbak Alluna sudah sadar?” Perawat itu tersenyum bahagia begitu melihat Alluna membuka mata. “Saya panggil dokter dulu, ya!” Ia langsung bergegas keluar dari ruangan.
Alluna menatap cowok yang tertidur di depannya dalam posisi duduk. Ia tersenyum mengamati cowok yang tak asing lagi baginya. Namun, cowok itu terlihat sangat kacau. Ia tidak mencukur kumis atau brewoknya. Cowok itu terlihat lebih tua dari biasanya.
Alluna mencoba mengangkat tubuhnya, masih berat.
Seorang dokter dan dua perawat masuk ke ruangan Alluna. “Hai, cantik! Sudah bangun?” sapa dokter setengah baya itu dengan ramah.
Alluna menganggukkan kepalanya.
“Kamu tidurnya nyenyak sekali. Sudah sepuluh hari kamu tertidur. Saya periksa dulu, boleh?” Dokter tersebut langsung memeriksa detak jantung Alluna, mata dan bagian lainnya.
“Sepuluh hari?” tanya Alluna, ia memandang cowok berkemeja biru yang tertidur di sofa. Di depannya, ada sebuah meja yang penuh dengan kado.
“Dia sudah menemani kamu selama 24 jam. Sepertinya dia sekarang tertidur pulas. Biasanya, dia akan langsung bangun begitu ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini,” ucap dokter itu lirih.
“Mau kami bangunkan?”
Alluna menggeleng. “Nggak usah, dok. Biarkan saja dia tidur.” Alluna tidak tega jika harus membangunkan Evan.
“Oke. Semuanya baik. Tapi, kamu harus benar-benar sehat, baru boleh pulang.” Dokter itu tersenyum menatap Alluna. Kemudian pergi dari ruangan Alluna bersama dua perawat yang menemaninya.
Evan langsung terbangun begitu mendengar pintu ruangan ditutup. Ia langsung memandang ke arah pintu. Ia benar-benar tertidur sampai-sampai tidak mendengar ada orang masuk ke dalam ruangan.
“Lun...!” Evan terkejut saat memalingkan pandangannya ke ranjang Alluna. Gadis itu sudah duduk bersandar sambil tersenyum menatapnya. Ia langsung berlari menghampiri Alluna. Ia tak peduli dengan kakinya yang sempat menabrak meja dan menjatuhkan beberapa kado Alluna.
“Kamu sudah sadar?” Evan menarik kursi dan langsung menggenggam tangan Alluna. Ia menciumi tangan Alluna penuh kerinduan.
Alluna mengangguk. “Masih agak pusing,” sahutnya sambil memegangi kepala.
“Baring aja, ya!” pinta Evan sambil merendahkan kembali posisi ranjang Alluna. “Aku kangen banget sama kamu,” Evan mengusap kepala Alluna dengan lembut.
Alluna tersenyum.
“Maafin aku, ya!” Evan mengecup punggung tangan Alluna. “Seandainya aku nggak terpancing emosi, kejadiannya nggak akan kayak gini. Aku nyesel banget!”
Alluna menganggukkan kepalanya. “Joni gimana?” tanya Alluna, yang ia ingat saat itu sedang bersama Joni. Dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Joni setelah kecelakaan itu.
“Ditahan polisi.”
“Kenapa?”
“Dia jadi tersangka kecelakaan tunggal ini. Belum jelas juga dia bakal dipenjara atau enggak. Kalau yang aku baca di media, dia masih dimintai keterangan terus. Karena waktu kejadian, mobil yang dia bawa memang melampaui batas kecepatan.”
“Ini salah aku, bukan salah dia,” sahut Alluna.
Evan terdiam. “Di saat kayak gini, kamu masih belain Joni?” batin Evan menahan marah.
“Aku yang minta dia buat laju. Kalau bukan karena permintaan aku, dia nggak akan bawa mobil dengan kecepatan tinggi,” ucap Alluna lirih.
“Lun, tetep aja dia salah. Harusnya dia bisa lebih bijak berkendara. Bukan ugal-ugalan karena ngikutin permintaan seseorang yang lagi emosi,” tutur Evan lembut sambil mengusap dahi Alluna.
Alluna diam.
“Oh ya, itu ada banyak hadiah buat kamu. Selamat ulang tahun yang ke-20. Semoga panjang umur, sehat selalu, makin cantik, makin sayang sama keluarga, sayang sama aku dan nggak cemburuan lagi,” tutur Evan lembut, ia mengecup kening Alluna.
“Makasiih,” balas Alluna.
“Hai...!” Tiba-tiba tiga sahabat Alluna sudah masuk ruangan dan menyapa mereka. “Gimana? Udah enakan?” tanya Hastri.
Alluna mengangguk pelan.
“Iiih, kita kangen banget sama lo. Lo cepet sehat, dong! Nyokap lo lagi di jalan mau ke sini. Lo mau nitip bawain apa?” tanya Austin.
Alluna menggeleng. “Nggak usah.”
Austin nyengir. Mereka kemudian asyik bercerita hal-hal lucu yang terjadi di kampus untuk menghibur Alluna.
“Lo sih tidurnya kelamaan. Nggak denger gosip terbaru, terhot, ter, ter, ter pokoknya. Mau tau, nggak?” ucap Hastri.
“Iya, Lun. Ada gosip terbaru yang bakal bikin lo kaget banget,” seru Austin.
“Oh ya? Apaan?” tanya Alluna penasaran.
Austin dan Hastri memandang ke arah Rani yang tersipu. Alluna mulai curiga, ada sesuatu yang terjadi pada Rani, tapi entah apa.
“Jono nembak si Rani!” teriak Austin dan Hastri bersamaan.
“Sst...! Jangan keras-keras ngomongnya,” sela Evan.
“Ups, sorry!” sahut Hastri sambil menutup bibirnya.
“Hah!? Seriusan?” tanya Alluna menatap Rani. Rani hanya tersenyum sebagai tanda mengiyakan pernyataan kedua sahabatnya.
“Hmm, ada hikmahnya juga ya gue koma sepuluh hari.”
“Iih, lo jangan ngomong kayak gitu, dong!”
“Setidaknya, Evan bisa tenang lah karena cowok yang godain Alluna berkurang,” celetuk Austin.
“Iya, sih. Tapi cewek yang godain Evan belum berkurang. Bisa-bisa ada yang ngamuk lagi,” goda Rani yang langsung disambung gelak tawa di seluruh ruangan.
“Anak Mama udah sehat?” sapa Mama Alluna begitu masuk ke dalam ruangan.
Alluna mengangguk. Mama Alluna langsung memeluk erat putri kesayangannya itu.
“Mama punya sesuatu buat kamu,” Mama Alluna mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia menekan tombol panggilan video ke suaminya.
“Hai, Pa!” sapa Alluna begitu panggilan video mereka tersambung.
“Hai, sayang? Udah sehat?” tanya Papa Alluna.
Alluna mengangguk. “Papa kapan pulang?” tanya Alluna.
“Hmm, belum tahu. Kerjaan Papa masih banyak banget!”
“Iih, Papa nggak kangen sama Alluna?”
“Kangen. Makanya Papa telepon.”
“Telepon sama ketemu langsung itu beda, Pa.”
“Iya. Selamat ulang tahun, ya! Maafkan Papa karena belum bisa pulang. Sebagai gantinya ... Papa mau kasih kalian tiket liburan ke Paris.”
“Hah!? Seriusan?” Alluna memandang Mamanya sambil tersenyum bahagia. Dia memang ingin sekali bisa liburan ke Paris.
Mama dan Papa Alluna mengangguk bersamaan.
Alluna menatap Evan yang sedang duduk di sofa sambil melipat kedua tangan. “Aku ... sama Evan boleh nggak, Pa?” tanyanya dengan nada lirih, hampir tak terdengar.
Papa Evan tergelak. “Nggak boleh!”
Alluna langsung muram saat itu juga.
“Nggak boleh enggak maksudnya.” Papa Alluna tertawa.
“Iih, Papa sempat-sempatnya ngerjain aku? Nanti aku koma lagi, nih!” ancam Alluna.
“Eh!? Jangan!” sahutnya sambil tertawa. Mama Alluna, Hastri, Evan, Rani dan Austin juga ikut tertawa dan terlarut dalam canda tawa untuk menghibur Alluna.
***
Alluna tersenyum bahagia karena akhirnya bisa menghirup wangi kamarnya. Hampir sebulan tidur di rumah sakit, rasanya seperti sudah dekat dengan Tuhan.
“Sayang, minggu besok kita berangkat ke Paris.” Mama Alluna mengusap rambut Alluna dengan lembut. “Jangan lupa packing!” Ia mengedipkan mata sambil berlalu pergi keluar dari ruangan Alluna.
Alluna mengangguk. Ia mengambil ponsel dan langsung menelepon Evan.
“Halo...!” sapa Evan di ujung telepon.
“Halo juga, udah sampai?” tanya Alluna.
“Baru aja sampai di apartemen. Kamu udah makan?” tanya Evan.
“Belum.”
“Makan, dong!”
“Iya, bentar. Paling nggak lama lagi diteriakin Mama dari bawah, hehehe.”
“Besok aku diundang ke acara tunangan temen aku, kamu bisa ikut?”
“Siapa? Aku kenal?” tanya Alluna.
“Hmm, bisa kenal, bisa enggak. Bisa ikut nggak?” tanya Evan lagi.
“Belum tahu. Kayaknya, kaki aku belum bisa pakai high heels deh.” Alluna memandangi kakinya yang masih belum pulih seperti semula.
“Pakai flat shoes aja!” pinta Evan.
Alluna menghela napas dalam-dalam. “Aku nggak bisa. Takut ngerepotin kamu entar. Jalanku aja masih pincang gini.”
Evan tergelak. “Ngerepotin apa? Kamu tinggal duduk di mobil, jalan bentar masuk ke acara dan langsung duduk aja sampe acara kelar.”
“Hmm....” Alluna menatap langit kamarnya. “Boleh, deh. Aku bilang Mama dulu.”
“Pergi sama aku masih bilang sama Mama?”
“Aku baru keluar dari rumah sakit, Van. Takutnya entar mama ngomel kalo aku jalan ke luar.”
“Aku udah ngomong sama mama kamu.”
“Seriusan?”
“Iya. Besok jam 7 malam aku jemput, ya!”
“Tapi, Van...”
“Kenapa lagi?”
“Lusa kita berangkat ke Paris. Aku belum packing barang nih. Kakiku juga masih sakit,” rengek Alluna.
Evan tertawa kecil. “Kamu kenapa tiba-tiba jadi bingung gitu? Kan ada Bi Ira bisa bantuin kamu packing.”
“Oh, iya, ya? Efek kelamaan nggak ketemu Bi Ira, jadi lupa. Ya udah, besok boleh jemput aku. Tapi, ada syaratnya,” ucap Alluna manja.
“Iya. Apa?”
“Ambilin baju di butik mama! Buat ke pesta. Nanti aku chat manager.”
Evan mengerutkan kening. “Kenapa aku? Kamu kan bisa suruh karyawan mama kamu buat anter ke rumah?”
“Nggak. Aku maunya kamu yang ambilin dan bawa ke rumah aku!”
“Siap, Tuan Puteri.”
Alluna langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
***
Karena Alluna belum bisa berjalan dengan sempurna seperti biasa, Evan memilih memakai supir untuk mengantarnya pergi ke acara pertunangan salah satu temannya.
Mobil Evan berhenti tepat di depan salah satu rumah mewah di wilayah Kuningan. Ia membantu Alluna berjalan memasuki acara pesta.
“Hai, Lun. Apa kabar? Udah sehat?” sapa beberapa orang yang tidak asing lagi di mata Alluna.
“Ini acara siapa, Van? Kok, banyak teman sekolah aku, ya?” tanya Alluna.
“Nanti juga tahu.” Evan tersenyum sembari memapah Alluna menuju kursi paling depan. Di sana sudah ada Hastri dan Austin.
Alluna memonyongkan bibirnya sembari menatap curiga ke arah Austin dan Hastri. “Kalian di sini juga? Ini acara siapa?” tanya Alluna.
“Nanti juga tahu,” jawab Hastri dan Austin berbarengan.
“Kaki lo masih sakit, Lun?” tanya Hastri.
“Dikit. Kalau pake high heels belum bisa. Makanya aku pake flat shoes kayak gini.”
“Nggak papa kali. Nggak pake high heels juga lo tetep lebih tinggi dari gue,” sambung Hastri.
Alluna nyengir. Ia memalingkan wajahnya ke arah MC saat suaranya mulai menggema di seluruh ruangan.
“Terima kasih buat para undangan yang sudah berkenan hadir,” ucap MC yang juga teman sekelas Alluna.
“Malam ini akan menjadi malam bersejarah bagi dua orang yang saling mencintai. Karena malam ini adalah malam pertunangan mereka.”
“Mari kita panggil kehadiran mereka di tengah-tengah kita.” MC itu memberi jeda saat alunan piano mulai mengalun dengan lembut. “Jonathan Obey dan Rani Audrey!” teriak MC diiringi lantunan musik piano yang romantis.
Dari balik pintu yang ditunjuk MC, terlihat Jono dan Rani melangkah bersama.
Alluna benar-benar terkejut melihat sahabatnya yang terlihat begitu cantik dengan gaunnya. “Ini serius!?”
“Surprise!!!” ucap Hastri dan Austin pada Alluna.
Alluna meneteskan air matanya. “Kalian jahat! Kenapa aku nggak dikasih tahu duluan?” ucap Alluna sembari mengusap air matanya. Ia benar-benar terharu dengan apa yang dilakukan Jono.
“Nggak surprise dong namanya?” sahut Hastri sambil tersenyum penuh arti.
“Aku nggak nyangka kalo Jono secepat itu ngelamar Rani.” Alluna menggenggam tangan Evan yang ada di sampingnya.
Evan mengusap punggung tangan Alluna, balas menggenggamnya. “Kamu kapan siap aku lamar?” bisik Evan.
Alluna tertawa kecil. Ia sama sekali belum punya keinginan untuk menikah sebelum ia menyelesaikan kuliahnya.
“Ran, mungkin aku selama ini terlalu naif. Selama ini kita sering ketemu, juga sering berantem. Bahkan, di antara kita ada jeda waktu panjang yang membuat kita tidak saling bersama. Aku telah bertemu banyak wanita, begitu juga dengan kamu. Tapi, Tuhan membuat kita kembali sendiri dengan caraNya. Dan di jeda waktu kesendirian kita, Tuhan menyentuh hati kita untuk saling mengagumi hal paling sederhana dalam diri kita. Aku jatuh cinta padamu bukan pada pandangan pertama. Aku bahkan sudah jatuh cinta sebelum aku memandangmu, hanya saja aku baru menyadarinya ... sekarang.” Jono berbicara menggunakan mikrofon. Ia meraih satu tangan Rani dan menjatuhkan lututnya ke lantai. “Maukah kamu jadi ibu dari anak-anak aku kelak?”
Alluna hampir saja bersorak bahagia melihat adegan itu. Namun, ia menyadari semua orang sedang larut dalam romantisme prosesi lamaran ini. “So sweet!” Alluna merangkul lengan Evan dan menyandarkan kepala ke pundaknya.
Rani menganggukkan kepalanya. Jono tersenyum bahagia, ia mengeluarkan cincin dari saku jas dan memasangkan di jemari manis Rani.
Rani mulai menggunakan mikrofon. “Terima kasih buat semua teman-teman yang sudah hadir malam ini. Terima kasih buat keluarga, sahabat dan semuanya. Karena malam ini adalah malam pertunangan saya. Saya meminta sahabat saya Alluna untuk bernyanyi.” Rani menatap Alluna sambil membungkukkan badannya.
Alluna menatap Evan yang langsung menganggukkan kepalanya. “Berdua, ya?” pinta Alluna.
Evan langsung membantu Alluna menaiki panggung, mereka menyanyikan lagu “Ada Cinta” yang khusus mereka persembahkan untuk Rani dan Jono.
Setelah Alluna dan Evan selesai bernyanyi. Acara selanjutnya yakni pesta dansa.
Alunan musik mengalun lembut di seluruh ruangan. Alluna menatap Jono dan Rani yang sedang berdansa dengan mesra. “Kenapa nggak dari dulu kalian jadian? Kalian cocok banget?” batin Alluna.
“Dansa, yuk!” ajak Evan. Ia sudah berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Alluna.
Alluna mengangkat kedua alisnya. “Kaki aku masih sakit, kalau keinjak gimana?”
“Nggak akan. Aku bakal jagain kamu. Yuk!” Evan menggoyangkan alisnya sebagai tanda ajakan.
Alluna tersenyum, menuruti keinginan Evan. Ini pertama kalinya mereka berdansa walau sudah sudah empat tahun pacaran. Sejak Alluna kelas 2 SMA, sampai usianya 20 tahun. Baru kali ini Evan mengajaknya ke lantai dansa.
Evan menarik tangan Alluna untuk bersandar di pundaknya. Ia memegang pinggang Alluna dan mulai bergerak mengikuti alunan musik dansa.
“Lun, kemarin aku benar-benar takut akan kehilangan kamu selamanya,” ucap Evan lirih.
“Semua orang akan mati. Kita semua akan merasakan kehilangan.”
“Tapi, aku nggak mau kita berpisah dalam keadaan sedang bertengkar. Kamu mau tahu rasanya?”
“Apa?”
“Sulit. Karena aku nggak akan pernah tahu kapan kamu memaafkan aku. Kalau kamu nggak kembali, aku nggak pernah tahu seberapa lama kamu marah sama aku.”
“Selama sepuluh hari kamu tertidur, aku kangen denger kamu ngomel. Dulu, aku sering kesal denger kamu suka ngomel nggak jelas. Sekarang, aku benci lihat kamu diam.”
“Jadi, maunya aku ngomel mulu?” sahut Alluna sambil tersenyum.
Evan tersenyum kecil. “Iya. Supaya aku tahu kalau kamu masih ada buat aku.”
Alluna menatap Evan tepat di manik matanya. Air matanya jatuh terharu mendengar ucapan Evan. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Evan.
Evan balas memeluk gadis itu dengan erat. “Don’t leave me alone,” bisiknya.
“Don’t leave me for someone else!” Alluna menengadahkan kepalanya menatap Evan.
“Promise.” Evan menganggukkan kepalanya.
((Bersambung...))
0 komentar:
Post a Comment