Butuh waktu lebih dari 16 jam untuk bisa sampai ke Paris. Evan, Alluna dan Daren duduk berdampingan di atas pesawat Qatar Airways QR-957 Boeing 787. Sedangkan Mama Alluna terpisah, ia berada di kursi sebelah Daren.
Evan menatap wajah Alluna yang sudah tertidur pulas.
“Dia tidur?” tanya Daren.
Evan mengangguk.
“Tukang tidur memang. Kalo dibiarin, dia nggak bangun-bangun tuh sampe kita balik ke Indonesia lagi,” celetuk Daren.
Evan hanya tertawa kecil sembari merapatkan jaketnya.
“Van, lo serius sama adik gue?” tanya Daren tanpa menatap Evan.
“Serius,” jawab Evan datar.
“Kalian pacaran udah lama. Nggak pengen ke tahap yang lebih serius?”
Evan menoleh ke arah Daren. “Maksudnya ... tunangan gitu?”
Daren menganggukkan kepalanya. “Engaged or married?”
Evan tertawa tanpa mengeluarkan suara. “Gue pengen, tapi dianya belum mau.”
“Bukannya dia pengen banget dilamar sama lo?”
Evan menatap Daren serius. “Serius, Bang?” tanya Evan balik. “Selama ini kalau gue bahas soal nikah, dia ngeles mulu.”
“Yaelah, namanya juga cewek. Sok jual mahal aja tuh dia. Waktu itu dia vidcall gue, katanya lo ngajak merit tapi muka lo nggak ada serius-seriusnya. Dia ngarep banget tuh sebenarnya,” bisik Daren sambil mengintip Alluna yang masih terlelap. Ia takut ketahuan kalau dia membocorkan rahasia adiknya.
Evan tertawa kecil, membayangkan saat dirinya iseng mengajak Alluna menikah dan gadis itu selalu menolaknya.
“Apalagi pas kemarin dia bilang si Rani lamaran. Dia kirim ini.” Daren menunjukkan foto acara pertunangan Rani dan Jono yang dikirim Alluna.
“Rani udah tunangan malam ini. Pacaran belum sebulan udah dilamar. Gue pacaran hampir 4 tahun, nggak dilamar-lamar sama Evan.”
Evan membaca pesan yang dikirim setelah Alluna mengirim foto pertunangan Rani ke kakaknya.
“Trus gue harus gimana?” tanya Evan.
Daren meletakkan punggung tangannya di dahi Evan. “Lo sehat, kan?”
“Ck, gue takut ditolak.”
Daren tergelak mendengar ucapan Evan. “Astaga! Kalo dia mau nolak, udah lama kalian putus. Lagian, apa sih yang diharepin seorang cewek dari hubungan yang sudah berjalan lama? Married, kan?”
Evan tersenyum membayangkan dirinya akan menikah dengan gadis yang ia cintai. “Emangnya lo nggak keberatan kalo kita merit duluan?” tanya Evan.
“Keberatan lah,” jawab Daren spontan.
Evan membelalakkan matanya. “Gimana sih? Katanya suruh ngelamar, tapi nggak boleh nikah duluan?” batin Evan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalian boleh tunangan, tapi nggak boleh nikah duluan dari gue. Enak aja! Mau ditaruh mana muka ganteng gue ini kalo sampe adik gue yang nikah duluan?” celetuk Daren.
“Lo udah punya calon?”
“Ya ... belum, lah,” jawab Daren.
“Lama, dong?”
“Ya, ntar gue langsung nikah aja. Nggak usah pacaran lama-lama,” sahut Daren.
“Yang udah pacaran aja nikahnya lama. Apalagi yang enggak?”
Daren menggaruk kepalanya. “Jangan desak gue buat cepet nikah supaya kalian bisa cepet nikah juga!”
“Enggak, lah.” Evan tersenyum penuh arti. “Asalkan lo bolehin gue nikahin Alluna duluan.”
Daren melirik tajam ke arah Evan. “Nikah aja duluan kalo kalian tega!” celetuknya kemudian.
Evan tergelak melihat sikap Daren yang mirip sekali seperti Alluna saat ia sedang kesal. “Transit di Doha, temenin gue ke suatu tempat!” pinta Evan.
“Ke mana?”
“Ada, lah. Ntar juga tahu.”
“Jangan lama-lama! Kita transit cuma dua jam.”
“Bentar doang,” sahut Evan.
Daren mengacungkan jempolnya.
“Alluna sering cerita sama lo soal gue?” tanya Evan.
“Ya. Gue kakaknya dan gue berhak tahu dia lagi sama siapa dan bahagia atau enggak,” jawab Daren sambil tersenyum, senyum yang sama persis dengan adiknya.
“Kakak yang baik.” Evan menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata.
Daren menoleh ke arah Evan yang sudah memejamkan matanya. Alluna juga sudah tertidur pulas. Ia memalingkan wajahnya ke mamanya yang terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. Ia mendesah, ikut menyandarkan tubuh sembari menutup mata. Tak ada yang bisa ia ajak bicara selama perjalanan. Tidur adalah pilihan terbaik.
***
“Papa...!” teriak Alluna langsung memeluk papanya begitu sampai di terminal kedatangan Charles De Gaulle Internasional Airport.
“Akhirnya, bisa ketemu sama anak kesayangan Papa yang paling cantik di dunia,” puji Papa Alluna sembari memeluk putrinya dengan erat.
“Alluna kangen. Papa lama banget di sininya.” Alluna merengek manja.
“Namanya juga banyak kerjaan.”
Daren dan Evan langsung mencium tangan Papa Alluna.
“Ini yang namanya Evan?” tanya Papa Alluna menatap Evan.
“Iya, Oom,” jawab Evan canggung.
“Nggak usah canggung gitu! Anggap aja Papa kamu sendiri. Alluna cerita banyak soal kamu.”
Evan hanya tersenyum menanggapi ucapan Papa Alluna.
“Iih, Papa. Jangan bilang-bilang!” sambar Alluna.
Papa Alluna tersenyum kemudian memeluk istrinya, mereka melanjutkan pembicaraan di dalam mobil.
“Pa, ini keren banget! Aku bisa lihat menara Eiffel dari sini!” teriak Alluna sambil melompat bahagia ketika bisa melihat Eiffel Tower dari Jendela ruang tamu.
“Kamu suka? Nggak pengen pindah ke Paris?” tanya Papa Alluna.
Alluna menatap Evan. “Nggak. Bahasa orang sini terlalu rumit buat aku pelajari.”
Papa Alluna terkekeh. “Kalian istirahatlah. Pasti lelah karena harus menempuh perjalanan panjang.”
“Siap! Alluna ke kamar dulu,” pamit Alluna.
“Aku juga. Kayaknya harus kumpulin banyak energi buat jalan-jalan besok,” ucap Daren sambil menarik koper masuk ke kamar.
Papa Alluna menatap Evan yang masih bergeming. “Kamar kamu yang diujung sana,” Papa Alluna menunjuk ke arah pintu yang berada di sudut ruangan.
“Baik, Om!” Evan menundukkan kepalanya dan memasuki kamar.
“Nggak terasa kalau anak kita ternyata sudah dewasa. Sepertinya, sebentar lagi bakal punya cucu,” celetuk Papa Alluna.
“Iya, Pa. Mama jadi kangen sama anak-anak waktu mereka masih kecil. Sepertinya rumah bakal ramai terus kalau kita punya cucu,” tutur Mama Alluna.
“Kamu mulai merasa kesepian?”
“Hmm ... sepertinya begitu. Soalnya, sekarang anak-anak udah besar. Mereka lebih banyak di luar rumah.”
“Papa juga ngerasa seperti itu. Kita istirahat dulu. Besok kita punya banyak kerjaan.” Papa Alluna menggandeng istrinya masuk ke kamar.
***
Alluna merebahkan tubuh di atas kasur. Ia tidak mengantuk karena lebih banyak tidur selama di perjalanan. Alluna menoleh ke arah jendela. Ia bangkit perlahan dan membuka tirai jendela.
“Papa bener-bener nggak asyik!” Alluna mendesah kecewa saat ia tidak bisa melihat indahnya menara Eiffel dari jendela kamarnya.
Ia menyalakan ponsel dan menelepon Austin. “Hei, lagi apa?” tanya Alluna sambil keluar dari kamar.
“Kita lagi ngumpul nih sambil ngerumpi, tadi abis dari acara pesta pernikahan Resti.”
“Resti yang dulu anak kelas 3 B yang atlet volly itu?” tanya Alluna.
“Iya. Emang siapa lagi?”
“Wah ... udah sold out juga ya cewek tomboy kayak dia. Kirain nggak bakal nikah. Kok, gue nggak diundang, ya?” Alluna melangkahkan kakinya mendekati jendela ruang tamu. Ia bisa melihat jelas Menara Eiffel yang sangat indah di depannya.
“Diundang keles. Lo aja yang sibuk mau ke Paris. Kita kan udah bahas 2 minggu yang lalu.”
“Hah!? Masa sih?”
“Iya.”
Alluna mencoba mengingat-ingat. “Oh... iya, aku ingat. Dia ngasih undangan 2 minggu yang lalu. Rada kelamaan undangannya sampe lupa kalo hari ini acara nikahannya dia.”
“Tega lo ya sampe lupa. Kalo sampe lupa sama hari pernikahan gue, gue bakal bikin perhitungan sama lo,” sambar Rani.
“Nggak lah. Khusus buat kalian, gue nggak akan pernah lupa.”
“Bener, ya? Btw, lo lagi di mana?” tanya Austin dan Rani.
“Di rumah. Nggak tanya lagi ngapain?”
“Lagi ngapain emangnya?”
“Gue lagi menatap Menara Eiffel dari jendela ruang tamu. Indah bangeeet!”
“So sweet ... pasti lagi bareng Evan ya?”
“Enggak.” Alluna menatap pintu kamar yang berada sekitar 3 meter dari sisinya. “Dia sudah tidur.”
“Uh, dasar Evan! Nggak romantis banget!” celetuk Hastri.
“Kita baru nyampe. Wajar kali kalo dia capek.”
“Lo sendiri nggak capek?”
“Nggak. Gue udah tidur berjam-jam di pesawat,” sahut Alluna sambil cengengesan. Setelah mereka mengobrol hampir satu jam, Alluna mematikan teleponnya karena waktu di Jakarta 5 jam lebih cepat dari Paris. Artinya, dia mengajak teman-temannya mengobrol via telepon saat tengah malam.
***
“Pagi...!” sapa Alluna begitu sampai di meja makan. Semua sudah menunggunya untuk sarapan.
“Pagi, gimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Papa Alluna.
Alluna mengangguk, ia menjatuhkan dirinya di kursi dan langsung bergabung menikmati sarapan.
“Dua jam lagi kalian siap-siap ke studio! Karyawan Papa sudah nunggu.” Papa Alluna melihat arloji di tangannya.”Papa berangkat duluan.”
“What!?” Alluna dan Evan saling pandang. “Papa suruh ke sini untuk liburan, kan? Bukan pemotretan.”
“Sekalian, lah. Mumpung kalian di sini sepuluh hari. Daripada entar Papa harus cari model. Bayarnya mahal!” bisik Papa di telinga Alluna.
“Maksudnya? Papa nggak mau bayar kita?”
“Udah dibayar pake tiket liburan ke Paris.” Papa Alluna tersenyum penuh arti.
“PAPA!!!”
Papa Alluna tersenyum sembari melangkahkan kakinya menuju pintu. “Kalian punya waktu 7 hari untuk beberapa sesi pemotretan. Setelah itu, kalian boleh liburan ke mana aja yang kalian mau.”
“Pa ... Papa sama sekali belum bilang ke Alluna kalo—”
“Papa harus minta persetujuan? Ini sudah mendesak. Kalian bertiga harus siap-siap sekarang. Papa nggak akan kasih tiket pulang ke Indonesia kalau sampai pemotretan untuk katalog baru nggak berjalan dengan baik.”
“Bertiga!?”
Daren hampir tersedak makanan yang sudah masuk di mulutnya.
“Ya,” jawab Papa Alluna, ia keluar dari pintu dan tidak terlihat lagi.
“Ma, kenapa Daren ikutan jadi model juga?” tanya Daren.
Mama Alluna menghela napas. “Kita lagi banyak masalah. Usaha papa kamu nyaris bangkrut. Tapi, dia tetap ingin mempertahankan usaha ini. Jalan satu-satunya adalah meminta kalian menjadi model untuk fashion-fashion baru yang akan kita pamerkan di Fashion Week sebulan lagi. Kami harus menghemat keuangan. Cuma kalian harapan kami untuk bisa membuat usaha kami di sini tetap bertahan.”
Alluna menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. “Ma ... Mama serius?” tanya Alluna dengan mata berkaca-kaca.
Mama Alluna mengangguk. “Kami nggak tahu harus gimana lagi. Maafin Mama dan Papa karena sudah memanfaatkan kalian,” tutur Mama Alluna terisak.
“Tante nggak perlu minta maaf. Kami sama sekali nggak keberatan. Justru kami senang bisa bantu,” ucap Evan menenangkan.
Alluna dan Daren saling pandang. Mereka tersenyum, menganggukkan kepalanya dengan pasti. Secepatnya mereka bersiap ke studio foto yang ada di galeri fashion milik orang tuanya.
***
Sesampainya di studio, Alluna langsung bersiap. Ia tidak mau membuang-buang waktu. Baginya, lebih cepat lebih baik. Dia bisa segera beristirahat atau pergi jalan-jalan menikmati indahnya kota Paris.
“Ada 5 dress yang harus Mbak Alluna pakai hari ini,” tutur salah satu make up artist yang kebetulan juga orang Indonesia.
Evan dan Daren sudah siap lebih dahulu dengan kemeja dan jas warna senada dengan gaun yang dikenakan Alluna. Mereka terlihat sangat tampan. Mama tidak salah memilih mereka menjadi model. Mereka punya postur tubuh yang tinggi dan proporsional.
Di mata Alluna, Evan tetap yang paling keren dibanding Daren. Evan itu Swedish Man, cowok keturunan Swedia yang lahir dan besar di Indonesia. Bahasa Indonesianya jelas lebih baik, tapi wajahnya tetap saja memperlihatkan kalau dia bukan orang Asia.
Alluna menghela napas. “Lama atau nggak?” tanya Alluna pada periasnya.
“Sampai malam.”
“What!?”
“Karena setiap ganti baju, kita harus ganti make up. Pemotretan pertama di studio, abis itu kita akan ambil gambar di Eiffel Tower.”
“Wah, berarti kita bakal ke Menara Eiffel?” tanya Alluna.
“Iya,” jawab si make up artist. “Sempurna. Mbak Alluna memang cantik banget!” Ia menatap wajah Alluna di cermin saat ia sudah menyelesaikan riasannya.
Mereka langsung bersiap melakukan pemotretan.
“Aku mau secepatnya bisa selesai,” bisik Alluna sembari menyandarkan pundaknya di kursi, Evan duduk di belakangnya sembari memegangi bahu Alluna. Beberapa kamera langsung membidik setiap kali mereka berganti pose.
“Udah pake gaun pengantin, tinggal ke KUA nih,” goda Evan saat mereka harus berpose mesra.
“Apaan sih!?” sahut Alluna.
“Kenapa sih kamu nggak mau nikah sama aku?”
“Karena dia belum nikah,” jawab Alluna sambil menatap Daren yang sedang berdiri di samping photografer.
“Sebenarnya dia udah punya cewek atau belum?” bisik Evan.
“Nggak tau.”
Evan mengedipkan matanya. “Semoga aja dia cepet ketemu jodohnya.”
“Daren come in!” pinta seseorang yang mengarahkan mereka selama pemotretan.
Daren melangkahkan kakinya mendekat ke sofa yang diduduki Alluna. Bersiap untuk ikut melakukan sesi pemotretan sesuai dengan yang diperintahkan. Satu gadis cantik dengan dua pria ganteng di sisinya. Ini terlihat seperti pemotretan untuk cover sebuah buku atau film romance.
***
“Bener kata orang, paris emang tempat yang romantis ya?” tutur Alluna usai melakukan pemotretan di Eiffel Tower. Mereka menyempatkan diri untuk naik ke menara dan melihat seisi kota Paris dari ketinggian.
“Sebenarnya, semua tempat sama aja. Yang bikin romantis atau enggak itu orang yang bareng kita.” Evan menatap lurus ke depan, ia tidak menoleh ke arah Alluna yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
Alluna menyandarkan kepalanya ke pundak Evan.
“Besok kita ke sana, yuk!” ajak Evan sambil menunjuk titik yang begitu jauh di antara bintang-bintang. Semuanya sama di mata Alluna, hanya cahaya lampu yang bertebaran.
“Ke mana?”
“Ntar juga tahu.”
“Besok bukannya masih ada pemotretan?”
“Hmm, iya sih. Abis pemotretan kelar, kita ke sana ya!” pinta Evan.
Alluna menganggukkan kepalanya.
Evan mengecup kepala Alluna dengan lembut. Mereka sama-sama menikmati keindahan kota Paris dari atas menara Eiffel.
Keesokan harinya, mereka masih harus menjalani pemotretan di beberapa tempat yang memang terkenal hits seperti Louvre Museum, Arch de Triomphe dan beberapa taman di Paris.
***
Setelah 7 hari di Paris, Alluna bisa bernapas lega karena pemotretan sudah selesai.
Pagi ini, Evan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Belum tahu di mana tempatnya, karena Evan tidak mengatakan apa pun dan langsung melajukan mobilnya ke arah barat kota Paris.
“Ini kita di mana?” tanya Alluna begitu sampai di depan pintu gerbang emas sebuah bangunan megah.
“Versailles.”
“Baru denger.”
“Ke Perancis tahunya Eiffel doang?”
Alluna meringis.
“Van, ini tempatnya bagus banget!” ucap Alluna sambil berjingkrak kegirangan begitu memasuki halaman Istana King Louis.
“Suka?”
“Suka banget!” Alluna tersenyum bahagia.
Evan menggandeng tangan Alluna untuk berkeliling di sekitar Versailles Palace sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam untuk menikmati keindahan dan kemewahan Istana King Louis.
Berkeliling seharian di Versailles, rasanya belum cukup untuk Alluna. Ia sangat menikmati setiap detail dan sudut bangunan megah itu. Juga taman-tamannya yang indah.
Matahari mulai tenggelam, Evan dan Alluna berada di atas bangunan Istana dan melihat pemandangan taman Istana yang begitu luas, indah, bersih dan rapi.
“Van, makasih ya udah ajak aku ke sini,” ucap Alluna. “Menurut kamu, lebih romantis mana Paris sama Versailles?” tanya Alluna.
“Nggak ada yang romantis.”
“Ih, kamu kok gitu? Semua orang bilang kalo Paris itu kota yang romantis,” sahut Alluna.
“Romantis kalo ada pasangannya, kalo nggak ada?”
“Mmh ... iya, juga sih.” Alluna menatap lembayung senja yang terpancar indah di hadapannya.
Evan menatap Alluna, ia memperbaiki posisi tubuhnya menghadap Alluna. “Semua tempat akan jadi romantis, kalau kamu yang ada di depan aku,” ucapnya lirih sembari memegang kedua bahu Alluna.
Alluna menatap lekat mata Evan. “Serius?”
“Iya, seindah apa pun tempatnya. Kalau kita nggak sama-sama melihatnya, nggak akan menjadi indah.”
“Kamu tumben ngomongnya romantis gini?” tanya Alluna sembari menahan tawa.
Evan melepas genggamannya. “Tuh, kan? Romantis salah, nggak romantis juga salah. Kamu maunya gimana?!”
“Mmh ... aku maunya yang romantis. Tapi, masih ngerasa aneh aja gitu kalo kita tiba-tiba ngomongnya serius dan puitis banget. Rasanya, masih geli dengernya.”
Evan tertawa kecil. Ia menyadari kalau dia dan Alluna sama-sama bukan tipe orang romantis yang berkata menggunakan bahasa puitis. Evan menarik napasnya berkali-kali di depan Alluna untuk mengendalikan dirinya dari perasaan nervous. “Lun, aku punya sesuatu buat kamu,” ucapnya sembari menghela napas.
“Apa?”
Evan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lagi.
“Kamu kenapa? Tiba-tiba jadi gugup gitu?” tanya Alluna sembari menatap Evan yang berdiri di sisinya.
“Nggak papa. Tutup mata kamu!” jawab Evan masih gugup. Ia menyembunyikan kedua tangan di dalam saku celana agar terlihat lebih rileks.
Alluna menutup matanya perlahan.
“Ada yang bisa kamu lihat?” tanya Evan.
Alluna menggelengkan kepalanya. “Gelap.”
Evan tertawa kecil. “Seperti itulah hidupku tanpa kamu, Alluna,” bisik Evan.
Alluna langsung membuka mata.
“Eh!? Kok, melek?” Evan hampir saja mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Aku nggak mau nutup mata.”
Evan menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?”
“Aku takut.” Alluna menitikan air mata. “Aku takut ... saat aku buka mata, kamu pergi ninggalin aku. Aku takut gelap, aku takut kamu pergi, aku takut kita pisah.”
Evan tersenyum kecil menatap Alluna. “Aku nggak akan pergi ke mana-mana.” Evan mengusap air mata Alluna. “Tutup mata, ya! Aku punya hadiah buat kamu.”
Alluna mengangguk. Ia memejamkan matanya perlahan.
Evan menatap pacarnya selama beberapa menit tanpa bersuara sampai ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
“Van, kamu masih di sini?” tanya Alluna karena ia tidak mendengar ucapan atau pun sentuhan dari Evan.
“Ya.”
“Jangan ngerjain aku!”
“Nggak.” Evan membuka kotak kecil itu dan menjulurkannya tepat di depan dada Alluna. “Sekarang, boleh buka mata kamu.”
Alluna membuka matanya perlahan. Ia terkejut melihat hadiah kecil pemberian Evan. Sebuah kalung dengan liontin berhiaskan berlian yang begitu indah. “Buat aku?” tanya Alluna masih tidak percaya.
Evan mengangguk. Ia memasangkannya di leher Alluna. “Jangan sampai hilang, ya!” bisik Evan.
Alluna tersenyum sembari menyentuh liontin yang menempel di dadanya. “Ini lamaran?”
Evan menggelengkan kepalanya. “Hadiah ulang tahun kamu. Karena kemarin waktu kamu ulang tahun, kamu masih koma. Aku belum ngasih hadiah,” bisik Evan sambil tersenyum.
Evan mengunci kalung tersebut, memastikan tidak akan terlepas dari leher Alluna. Jemarinya berjalan menyusuri rantai kalung hingga menyentuh liontin yang kini terlihat begitu manis di dada Alluna. Ia menatap Alluna, mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan manis di bibir Alluna. “Be my queen, Alluna!” bisiknya lembut.
Alluna tersipu dengan sikap Evan yang berusaha romantis untuk dirinya. Walau selalu berakhir dengan kata garing, tapi itulah yang membuat Alluna selalu merindukannya.
Alluna tidak menjawab, ia memeluk erat tubuh Evan.
SYUT!!!
DAR! DAR! DAR!
Evan dan Alluna memalingkan pandangannya ke arah kembang api yang sedang menari indah di langit, tepat di hadapan mereka.
Alluna terpesona dengan pertunjukkan cahaya yang begitu indah dan Evan menggenggam jemarinya.
“Ada perayaan apa?” tanya Alluna.
Evan mengedikkan bahunya. “Kebetulan aja kita ke sini pas ada perayaan.”
Alluna tersenyum sembari menghela napasnya. “Aku pikir, kamu bakal ngelamar aku malam ini,” gumam Alluna.
“Apa?”
“Nggak papa.”
“Kamu barusan ngomong apa?”
“Nggak ngomong apa-apa?”
“Aku dengar.”
“Baguslah.”
“Kamu udah siap?” tanya Evan.
“Siap apa?”
“Menikah.”
Alluna hanya tersenyum menanggapi ucapan Evan. Ia ingin sekali bisa menikah dengan pria yang ia cintai. Tapi ia juga harus mengejar impiannya sendiri dan menyelesaikan kuliahnya.
“Sebenarnya, aku yang belum siap menikah sama kamu.”
Alluna menoleh ke arah Evan penuh tanya.
“Aku belum punya apa-apa sekarang. Aku takut nggak bisa bahagiain kamu. Menikah bukan cuma soal cinta. Tapi juga soal masa depan kita dan anak-anak kita. Sekarang, aku memang punya perusahaan. Tapi, itu perusahaan papa dan aku masih harus kerja keras sampai aku bisa punya perusahaan sendiri.”
“Aku nggak mungkin nikahin kamu sekarang.”
Alluna tersenyum menatap Evan. “Kamu juga tahu kalau aku belum mau menikah. Aku masih mau selesaikan kuliah dan pengen punya usaha sepatu.”
“Sepatu?”
Alluna menganggukkan kepalanya. “Kemarin, waktu pemotretan ... aku kepikiran buat bikin usaha sepatu. Kayaknya keren kalo aku bisa pake sepatu hasil rancangan aku sendiri.”
Evan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ide bagus.”
Alluna tersenyum. “Kita turun yuk! Kayaknya di bawah ada perayaan,” ajak Alluna.
Evan menganggukkan kepala. “Kita masih punya banyak waktu sampai kita benar-benar dewasa dan siap untuk menjadi orang tua,” ucapnya sembari melangkahkan kaki menuju halaman Versailles.
“Aku belum bisa membayangkan saat aku menjadi seorang ibu.”
“Setidaknya kamu tahu caranya menyusui anak kita.”
Alluna tertawa kecil, ia mengeratkan genggaman tangan Evan.
((Bersambung...))
0 komentar:
Post a Comment