Usai liburan di Paris. Alluna menjalani aktivitas seperti biasa. Setiap hari pergi kuliah bersama Evan. Ia tidak pernah diizinkan pergi sendiri karena Evan takut kalau Joni akan kembali mendatangi Alluna saat ia masih lengah.
Joni memang sempat ditahan pihak kepolisian, tapi dia tidak dipenjara. Namun, sejak kejadian itu ia tidak pernah lagi muncul di kampus atau pun di hadapan Evan. Sama seperti Stella yang terlihat tak pernah mendekati Evan lagi. Tiba-tiba saja dia berubah, bahkan ia sekarang sudah menggandeng cowok lain. Jelas saja hal ini membuat hubungan Alluna dan Evan bisa semakin harmonis.
“Selamat siang ...!” sapa seorang cowok berjas hitam saat Alluna sedang menunggu Evan di salah satu restoran cepat saji.
“Siang,” jawab Alluna.
“Alluna, ya?”
“Iya, bener. Kok, tahu?”
“Kenalin, aku Andre,” jawab cowok itu sembari mengulurkan tangannya.
Alluna membalas uluran tangannya tanpa menyebutkan nama.
“Kemarin aku lihat kamu nyanyi di acara tunangan Rani dan Jono. Suara kamu bagus,” puji cowok itu sembari duduk di kursi yang ada di hadapan Alluna.
“Makasih.”
“Aku mau nawarin kamu jadi penyanyi untuk WO aku.”
Alluna menatap cowok yang ada di hadapannya. Ia masih belum tahu harus berbuat apa. Ia cuma berharap cowok ini segera pergi sebelum Evan datang dan melihatnya bersama cowok asing. Cowok ini lumayan tampan, sangat berpotensi membuat Evan cemburu buta.
“Oh ... ini kartu nama aku. Kalau kamu berminat, bisa hubungi aku.” Andre menyodorkan kartu nama dan meletakkannya di meja.
“Oke, aku pikirin dulu. Sekarang bisa pergi?” tanya Alluna sambil tersenyum.
“Oh, ya. I see ... lagi nunggu seseorang ya?”
Alluna mengangguk.
Andre bangkit dari tempat duduk. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alluna. “Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” bisiknya sembari mengedipkan mata. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Alluna.
Alluna bernapas lega karena cowok itu segera pergi dari hadapannya.
“Siapa dia?” tanya Evan yang sudah berdiri di samping Alluna.
“Eh!? Kamu kok udah di sini? Udah dari tadi?” tanya Alluna balik.
“Baru aja. Dia siapa?” tanya Evan lagi.
“Duduk dulu. Mau aku pesenin apa?” tanya Alluna.
“Dia siapa?!”
“Nanti aku kasih tahu. Duduk dulu!” pinta Alluna sambil meraih lengan Evan agar duduk di hadapannya.
“Kamu nggak coba buat cari cowok lagi, kan?”
“Iih, kamu curigaan mulu. Nih!” Alluna menyodorkan kartu nama yang sedari tadi di mejanya.
Evan membaca kartu nama tersebut. “Oh, kamu ngomongnya nggak mau nikah tapi diam-diam nyiapain pernikahan buat kita?” tanya Evan sambil tertawa kecil.
“Idih, pede amat! Bukan, bukan aku yang mau nikah.”
“Trus? Sodara?”
“Bukan.”
“Jadi?”
“Dia nawarin aku buat jadi penyanyi di WO dia itu.”
“Oo ... terus?”
“Aku nggak tau mau nerima tawaran dia atau enggak,” jawab Alluna lesu.
Evan tertawa kecil melihat Alluna yang memasang wajah murung di hadapannya. “Kenapa bingung? Bukannya nyanyi jadi salah satu hobi yang paling kamu suka?”
“Iya, sih. Tapi, apa kamu suka aku jadi penyanyi?”
Evan tergelak. “Kamu kenapa sih? Pertanyaan kamu aneh, deh. Kita udah sering nyanyi bareng. Kenapa mesti nanya begitu?”
“Beda kalo nyanyi di rumah sama di tempat umum. Kamu nggak takut kalo nanti ada cowok lain yang godain aku, kayak si Joni?”
Evan menahan tawa mendengar ucapan Alluna. “Kayaknya, aku udah mulai kebal sama kayak gitu.”
“Jadi, aku boleh ambil tawaran nyanyi?” tanya Alluna.
Evan mengangguk.
“Makasih...!” ucap Alluna sumringah sembari menggenggam kedua tangan Evan.
“Yang penting, tetap utamain keluarga dan pacar kamu!” pinta Evan sambil tersenyum.
Alluna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Mmh ... terus rencana aku bikin usaha sepatu gimana?”
Evan menaikkan kedua alisnya. “Nanti aku bantu. Jangan ambil job nyanyi terlalu banyak!”
Alluna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
***
Alluna mulai sibuk dengan job menyanyi sekaligus menjalani kesibukan barunya memulai usaha sepatu.
“Lun, kenapa lo nggak bikin channel youtube kayak Evan? Lo kan tetep bisa nyanyi tanpa harus manggung sana-sini?” tanya Rani saat mereka sedang berkumpul di apartemen Austin.
“Iya, Lun. Lo kan bisa duet tuh sama Evan. Suara kalian bagus.”
“Mmh ... gue pikir-pikir dulu, deh.”
“Yaelah ... pake dipikir-pikir segala? Langsung eksekusi aja!” sahut Rani.
“Nggak semudah itu, Ran. Lagian konten di youtube itu lebih banyak peminatnya kalo kita bikin sensasi, ngerjain orang, pamer harta, pamer punya pacar kaya raya ...,”
“Ya udah, lo bikin kayak gitu aja. Lo kaya, Evan juga pengusaha. Lo bisa pamer barang-barang branded lo atau pamer naik jet pribadinya Evan,” celetuk Hastri.
PLETAK!
Alluna menjitak kepala Hastri. “Nggak sampe punya jet pribadi juga kali dia.”
“Yee, mana tau rezeki. Bisa aja perusahaan Evan makin besar dan dia makin kaya raya,” sahut Austin.
“Aamiin.”
“Lihat ini deh!” Austin melempar majalah bisnis ke pangkuan Alluna.
“Cowok lo jadi headline di majalah bisnis. Kayaknya dia bener-bener kerja keras akhir-akhir ini sampe bisa bikin dua anak perusahaan sekaligus,” tutur Austin.
Alluna langsung membuka majalah dan membaca berita tentang Evan Noah yang membuka dua anak perusahaan di Singapura dan Thailand. “Ah ... pacar gue emang keren!” ucap Alluna dengan mata berbunga-bunga.
“Tapi, kenapa dia belum ngelamar lo sampe sekarang? Dia udah punya semuanya. Emang nunggu apa lagi?” tanya Rani.
“Nunggu gue kelar kuliah.”
“Emang yakin kuliah lo bakal kelar?” tanya Hastri.
Alluna langsung menepuk kepala Hastri menggunakan majalah yang dipegangnya. “Enak aja lo ngomong. Ya, bakal kelar, lah,” jawab Alluna yang diiringi gelak tawa ketiga sahabatnya.
“Eh, gue punya gosip terbaru. Mau denger, nggak?” tutur Hastri.
“Gosip apaan?” tanya Rani.
“Tentang siapa?” tanya Alluna.
“Tentang gue, dong!” jawab Hastri sumringah.
Alluna dan Rani saling pandang sambil mencebik. Sementara Austin hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
“Idih, serius ini gue!”
“Iya, deh. Apa?” tanya Rani dan Alluna bersamaan.
“Bulan depan, gue mau lamaran!” ucap Hastri sambil berjingkrak kegirangan.
Alluna, Rani dan Hastri saling pandang. “SERIUS?!”
Hastri mengangguk sambil tersenyum.
“Selamat ya!” ucap ketiga sahabat Hastri dan langsung berpelukan erat layaknya teletubbies.
“Berarti tinggal kalian berdua nih yang belum ada kabar kapan mau nikah?” tanya Hastri menunjuk Alluna dan Austin.
“Gue, nunggu dia dulu. Nggak etis kalo adik nikah duluan, kan?” jawab Austin.
“Hahaha. Doain aja, semoga Evan cepet ngelamar gue! Aamiin.” ucap Alluna sambil menengadahkan kedua tangannya dan mengusapkan di wajahnya.
“Iya. Jangan kondangan mulu, dikondangin juga, dong!” canda Rani.
“Artis kondang?”
“Artis kondangan!”
“Hahaha.”
***
Seiring berjalannya waktu, hubungan Evan dan Alluna selalu menuai pertanyaan, “Kapan kalian nikah?” atau “Kapan kalian nyusul?” setiap kali menghadiri acara pernikahan teman atau keluarga.
“Van, kenapa ya setiap kali kita ke pesta atau ngumpul sama temen atau keluarga. Mereka selalu nanyain kapan kita nikah?” tanya Alluna saat ia berada di apartemen Evan.
“Kenapa? Kamu mulai nggak nyaman sama pertanyaan itu?”
Alluna hanya diam sembari menatap layar televisi yang ada di depannya. Mulutnya yang sibuk menggigit jari menunjukkan kegelisahan dalam hatinya.
“Besok, aku bakal ngomong sama orang tuaku. Supaya kita bisa menikah secepatnya.”
“Jangan, Van!”
“Terus, mau kamu gimana?”
“Aku belum pengen nikah muda.”
Evan menghela napas. “Kenapa kamu terganggu sama pertanyaan orang-orang itu?”
“Nggak.”
“Aku lihatnya begitu.”
“Enggak, Evan. Aku baik-baik aja.”
“Aku juga nggak mau orang-orang menilai kalau aku tuh nggak pernah serius sama kamu.”
“Aku tahu kamu serius.”
“Tapi kenapa kamu nggak mau aku lamar?” tanya Evan.
“Aku belum siap, Van.”
“Mau sampe kapan kamu siapnya? Sampe ada cowok lain yang datang ke kamu, bikin kamu jatuh cinta dan kamu ninggalin aku?”
“Van, kamu kok ngomongnya gitu, sih?” Alluna menatap wajah Evan yang terlihat menahan kecewa.
“Lun, aku tuh dari dulu udah ngajak kamu nikah. Bahkan dari saat aku lulus SMA. Sampai sekarang, kuliah kamu tinggal 4 semester lagi. Aku masih di sini. Masih ngajak kamu nikah dan kamu selalu nolak. Kenapa?” Suara Evan mulai meninggi.
“Aku belum siap, lagipula Daren belum nikah,” jawab Alluna.
“Soal Daren itu bukan perkara sulit, Lun. Yang sulit itu ini!” Evan menoyor dada Alluna dengan jari telunjuknya.
DEG!
Jantung Alluna terasa berhenti berdetak. Ia bergeming menatap bayangan dirinya sendiri. “Apa iya karena hatinya sendiri? Kenapa hatinya masih menolak permintaan Evan untuk menyatukan cinta mereka dalam ruang yang sejati. Sejatinya, cinta tidak akan pernah menolak apa pun. Sekalipun itu rasa sakit, cinta akan selalu menerimanya.”
“Aku belum siap,” ucap Alluna lirih.
“Ya udah, aku juga nggak maksa. Kamu juga jangan terlalu mikirin pertanyaan orang soal pernikahan. Kita senyumin aja kayak biasanya,” tutur Evan sambil tersenyum.
Alluna membalas senyuman Evan. Evan mengusap ujung kepalanya. “Satu jam lagi aku mau ketemu sama klien. Mau ikut?” tanya Evan.
“Nggak, ah. Aku capek. Mau istirahat aja,” jawab Alluna.
“Oke. Jangan ke mana-mana sampai aku pulang!” Evan masuk kamar dan keluar dalam keadaan sudah rapi.
“Aku berangkat dulu, ya!” pamit Evan sembari mengecup bibir Alluna.
“Hati-hati ya!”
Evan mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Bukannya segera keluar, ia malah membalikkan tubuhnya menatap Alluna yang masih duduk di sofa. Ia berjalan menghampiri Alluna dan mengecup keningya dengan lembut.
Alluna tersenyum, bangkit dari duduknya dan menemani Evan sampai ke luar pintu apartemennya.
“Beneran nggak mau ikut?” tanya Evan lagi.
“Iya. Aku mau istirahat.”
“Ya udah. Mau dibeliin makan apa?”
Alluna menggeleng.
“Kenapa?”
“Nggak laper. Lagian, abis kamu selesaikan kerjaan, kita mau ke rumah Rani. Bantu persiapan pernikahannya besok. Makan di sana aja, deh. Aku juga kangen masakan mamanya Rani.”
“Astaga!” Evan menepuk jidatnya. “Iya. Aku lupa.” Evan meraih jemari tangan Alluna. “Aku usahain pulang lebih cepat.”
Alluna mengangguk. Evan berlalu pergi meninggalkan apartemen. Sementara Alluna memilih untuk tidur di apartemen Evan.
***
Pernikahan Rani berlangsung di Pulau Dewata, Bali. Hal ini membuat Evan dan Alluna juga akhirnya pergi ke Bali untuk menghadiri acara pernikahan Rani.
“Kenapa mereka pilih Bali?” tanya Evan saat mereka tiba di Inaya Putri Bali Resort.
“Banyak artis memilih menikah di Bali. Alasannya, karena Bali tempat yang indah dan romantis,” jawab Alluna sembari merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
“Gila aja, mereka booking kamar buat kita. Emangnya mau diajak honeymoon sekalian, ya?” Evan membuka gorden dan langsung mendapati pemandangan kolam renang di teras kamar mereka. “Berenang, yuk!” ajaknya.
“Gak, ah. Capek. Mau tidur,” sahut Alluna sembari menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
Evan melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Alluna. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang Alluna, kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di atas Alluna yang sedang berbaring. “Berenang atau gue tidurin?”
“Dua-duanya asyik,” sahut Alluna sambil tersenyum nakal.
“Udah mulai nakal, ya....” Evan langsung memeluk tubuh Alluna dan menggelitik pinggangnya sampai Alluna kelelahan tertawa.
“Udah, Van. Aku capek ketawa. Lihat ini jam berapa? Tiga jam lagi acara pemberkatan Rani dan Jono. Aku mandi.” Alluna langsung turun dari ranjang, membuka isi koper untuk mengambil peralatan mandi miliknya dan bergegas masuk ke kamar mandi.
“Kamu berenang aja dulu!” teriak Alluna.
“Oke.”
***
Acara pemberkatan pernikahan Rani dan Jono dilaksanakan di tepi pantai. Suasana yang sungguh indah dan romantis. Hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat-sahabat, menjadikan momen pernikahan ini terasa begitu sakral. Evan dan Alluna duduk berdampingan saat acara pemberkatan Rani dan Jono alias Jonathan Obey berlangsung.
Alluna sangat gugup, ia sempat menatap Hastri dan Austin yang juga duduk di deretan kursi yang sama. Alluna meraih tangan Evan dengan gemetar. Evan yang mengetahui hal itu, langsung memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari tangan Alluna. Tangan satunya mengusap punggung tangan Alluna dengan lembut. Entah kenapa, Alluna benar-benar gugup ketika harus menyaksikan acara pernikahan yang benar-benar sakral.
Alluna menitikan air mata, tangan satunya menyentuh paha Hastri yang langsung direspon oleh sahabatnya itu. Bagi Alluna, ini adalah momen paling membahagiakan, paling mengharukan sekaligus momen di mana ia akan kehilangan banyak waktu bersama sahabatnya.
Alluna membayangkan hari-hari saat ia masih bersama dengan Rani. Sejak masa SMA, mereka menghabiskan waktu bersama. Makan bareng, bolos bareng, jalan bareng, sampai mandi bareng dalam satu kamar mandi. Itu momen yang tidak akan pernah terjadi lagi dalam hari-harinya yang akan datang. Sahabatnya telah memilih laki-laki yang akan mendampinginya dalam suka dan duka.
“Semoga kalian bahagia.” Alluna tersenyum sembari mengusap air matanya saat pemberkatan telah usai.
Tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Acara pelemparan bouquet bunga dari sang pengantin. Kata orang, siapa yang mendapat bouquet bunga itu akan segera menyusul menjadi pengantin. Semua orang yang belum punya pasangan berkumpul dan menanti bouquet bunga itu jatuh ke tangan mereka.
Evan dan Alluna memilih tidak berkerumun, mereka hanya menyaksikan dari belakang sembari tersenyum melihat momen tersebut. Bagi Alluna, ia tidak perlu menerima bouquet bunga itu karena dia belum berkeinginan untuk menikah sebelum kakak kandungnya menikah.
“Satu ... Dua ... Tiga ...!” Rani membelakangi para tamu, ia melemparkan bouquet bunga ke arah belakang dengan kuat. Semua berteriak dan berusaha mengambil bouquet tersebut. Tak disangka kalau bouquet tersebut melayang tinggi dan jatuh tepat di genggaman Evan.
Alluna langsung menoleh ke arah Evan yang tersenyum saat mendapat bouquet bunga di tangannya. “Kita sudah coba menghindari, tapi Tuhan menakdirkan bunga ini jatuh di tanganmu. Lucu banget, sih.”
“Semoga kita benar-benar berjodoh.” Evan merangkul pundak Alluna dan mengecup pelipis kanannya. “Woii....! Doain kita cepetan nyusul!” teriak Evan penuh bahagia. Ia menarik tangan Alluna dan mengajaknya ke tepi pantai.
Rani dan Jono tersenyum bahagia menyaksikan dua sejoli yang terlihat begitu romantis bercanda tawa sembari memainkan air laut.
“Kebahagiaan hari ini bukan cuma milik pengantin, tapi milik kita semua,” ucap Hastri yang sudah berada di belakang Rani bersama Austin dan pasangan mereka.
Rani langsung merangkul dua sahabatnya penuh bahagia. Mereka berdiri menyaksikan Alluna dan Evan yang berlari-larian di bibir pantai sambil tertawa bahagia.
“Lun, pada akhirnya kita harus bahagia.” Evan meraih jemari tangan Alluna dan menggenggamnya dengan erat.
“Seperti mereka ...,” ucap Alluna sembari menyandarkan kepalanya di pundak Evan. Mereka sama-sama menatap air laut yang berkilauan terpapar sinar mentari.
((Bersambung...))
0 komentar:
Post a Comment