“Siang, Ma!” sapa Alluna begitu masuk rumah.
“Siang. Kirain masih mau nginap tempat Austin. Biasanya pagi-pagi udah pulang,” sahut Mama Alluna.
“Aku bangun kesiangan. Daren mana, Ma?”
“Di kamar.”
“Oke.” Alluna terlihat sumringah sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Ia langsung masuk ke kamar Daren, duduk di samping sang kakak yang sedang asyik bermain game online.
“Kak...!” panggil Alluna sembari menyenggol lengan Daren.
“Hmm.”
“Berhenti dulu mainnya! Gue mau cerita.”
“Cerita aja!”
“Males. Ntar nggak didengerin!”
“Denger gue.”
“Berhenti dulu mainnya!” pinta Alluna.
“Bentar! Nanggung, nih.”
Alluna mencebik. “Gue matiin, nih, wifinya!” ancam Alluna.
“Jangan, dong! Bentar lagi, kok,” ucap Daren tanpa menoleh.
Alluna memangku wajah dengan telapak tangan sembari menunggu kakaknya selesai bermain game.
“Kenapa?” tanya Daren beberapa saat kemudian, ia letakkan ponsel di sisi tempat duduknya.
“Minggu depan ada acara, nggak?”
“Nggak ada—”
“Temenin gue kondangan ke Jaktim, ya! Ada acara senior gue. Gue nggak enak banget kalo dateng sendirian.”
“Kalo orang ngomong itu dengerin dulu! Gue belum kelar ngomong main samber aja,” celetuk Daren.
“Eh!?” Alluna langsung memasang wajah sok polos.
“Minggu depan gue udah balik kuliah ke Singapura. Makanya, cari cowok biar punya partner kondangan!”
“Awas, ya! Kalo sampe gue punya pacar. Uang jajan lo setahun buat gue.”
“Iya. Gue kasih jatah uang jajan gue setahun kalo lo bisa dapetin pacar dalam waktu seminggu. Dan saat lo ke acara kondangan, lo mesti vidcall gue dan tunjukkin pacar lo itu.”
“Oke. Siapa takut. Pacar doang mah gampang.”
“Eits, tapi ada syaratnya.”
“Pake syarat segala?”
“Iya. Pacarnya kudu pacar beneran. Bukan bo’ongan kayak waktu itu. Lo udah ambil uang jajan gue dua bulan, sekalinya cowok bayaran.”
“Biarin. Yang penting gue untung.” Alluna menjulurkan lidahnya.
“Pinter bisnis lo ya? Sampe pacar pun dibisnisin.”
“Bodo amat! Yang penting, minggu depan gue bakal dapet uang jajan lo selama setahun. Lumayan, bisa buat beli mobil baru buat gue,” Alluna tergelak.
“Seneng lo ya!? Tapi ingat, harus pacar beneran. Kalo dalam waktu dua tahun lo udah putus sama dia, artinya lo harus ngembalikan duit gue 4x lipat.”
“Lah? Tekor dong gue kalo putus sama pacar?”
“Bodo amat! Yang penting gue untung.”
“Idih, dibales gue. Yang namanya pacaran kan bisa putus kapan aja kalo udah nggak cocok.”
“Nggak usah ngeles!”
“Lah? Bukan ngeles. Lo sendiri aja gonta-ganti pacar.”
“Belum dapet yang pas aja. Lagian, gue ganteng gini. Siapa sih yang nggak mau jadi pacar gue?” Daren tersenyum bangga sambil memainkan kedua alisnya.
Alluna melipat kedua tangannya di dada. Berpikir sejenak, kemudian pergi meninggalkan Daren yang kembali fokus dengan game-nya.
Alluna masuk ke kamar mamanya, dia heran karena mamanya sedang mengemasi pakaian ke dalam koper dibantu oleh pembantunya. “Mau ke mana?” Alluna melirik isi koper milik mamanya.
“Mau nyusul papa,” jawab Mama Alluna.
“Papa nggak jadi pulang minggu ini?”
Mama Alluna menggeleng. “Katanya, kerjaan di sana masih harus diperpanjang karena ada beberapa problem. Jadi, papa minta mama ke sana supaya bisa bantu masalah usaha di sana. Biar cepet kelar.”
“Jadi, berapa hari Mama di Paris?” tanya Alluna.
“Mama belum tahu, Sayang. Kalau masalah di sana sudah selesai, Mama pasti langsung pulang.” Mama mengelus lembut rambut Alluna.
Alluna duduk di sisi ranjang sambil menghela napas kecewa.
“Kenapa? Kok, murung?” Mama Alluna meraih dagu Alluna dan menatap wajahnya dengan seksama.
“Minggu depan, ada acara nikahan senior musik aku di Jaktim. Terus, aku perginya sama siapa?”
“Sama supir, ya!?”
“Ma, supir mah cuma nganterin doang sampe depan. Masa iya aku mau gandengan sama supir? Mama tega banget, sih!?” Alluna merengek manja.
“Ya sudah, kamu minta temanin Hastri, Austin atau Rani. Nanti Mama telepon mereka buat temenin kamu, ya?” Mama Alluna tetap bersikap lembut meski Alluna selalu merengek manja bila menginginkan sesuatu.
“Aku udah tanya sama mereka. Nggak ada yang bisa satu pun. Alasannya banyak. Yang bilang jauh lah, nggak kenal lah and bla bla bla. Malah aku disuruh pergi sama Evan!” celetuk Alluna. Ia langsung menutup mulut karena keceplosan menyebut nama Evan di depan mamanya.
Mama Alluna mengernyitkan dahinya. “Evan? Siapa dia?”
“Duh, kenapa gue bisa keceplosan gini sih. Gue belum siap cerita apa pun soal Evan. Kita baru aja kenal dan mama nggak akan ngebiarin gue deket sama sembarang cowok,” batin Alluna sambil menggigit bibir bawahnya.
“Siapa? Kamu kasih tahu Mama atau Mama cari tahu sendiri?” Mama Alluna mendelik, membuat Alluna menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Dia ... dia ... sepupu Austin, Ma. Kakak kelas Alluna,” ucap Alluna lirih, hampir tak terdengar di telinga mamanya.
“Oh ... sepupu Austin? Oke, kamu boleh pergi sama dia.” Mama Alluna tersenyum sambil melipat kedua tangan di dada.
Alluna mendongakkan kepalanya. “Serius, Ma? Mama nggak marah?” tanya Alluna dengan wajah sumringah.
Mama Alluna menggelengkan kepalanya. “Asal cowok itu jelas asal-usulnya dan Mama kenal, why not?”
“Mama kenal dia?”
“Evan sepupu Austin, kan? Mama kenal waktu pesta ulang tahun kamu kemarin.”
“Serius? Makasih, Ma! Mama baik banget!” Alluna memeluk tubuh mamanya erat-erat.
“Eits, tapi tetep harus ingat! Hape kamu harus selalu standby kalau mama video call. Di mana aja, kamu harus update. Oke?” Mama Alluna mengacungkan jempolnya.
“Beres, Ma!”
“Nanti Mama minta nomor WA Evan.”
“Hah!? Buat apa?”
“Buat mastiin, kalo dia bisa jaga kamu dengan baik.”
“Oh, oke. Ntar aku kirim ke Mama.”
“Ya udah, Mama siap-siap dulu, ya!”
Alluna mengangguk, keluar dari kamar dengan hati berbunga-bunga. Dia sendiri tidak menyangka kalau mamanya mengizinkan dia pergi dengan cowok yang baru saja ia kenal. Sekali lagi ia kagum pada Evan, bukan hanya berhasil merebut hatinya tapi juga hati Mama tanpa sepengetahuannya.
***
“Hai...!” sapa Evan saat Alluna dan teman-temannya di kantin. Ketiga teman Alluna langsung menepi.
“Kalian mau ke mana?” tanya Alluna, heran dengan sikap ketiga temannya.
“Mau ke toilet,” jawab Hastri.
“Gue mau ke kelas,” jawab Austin.
“Gue mau ke ruang OSIS.” Rani juga ikutan pergi.
Evan tersenyum, duduk di samping Alluna. Ia melipat kedua tangannya ke atas meja, mengacungkan jempol ke arah Austin cs. tanpa diketahui oleh Alluna.
Alluna menyeruput minumannya lebih cepat agar ada alasan untuk pergi dari kantin.
“Lun, semalam nyokap lo telepon gue,” tutur Evan menatap wajah Alluna.
“Uhuk ... uhuk ...!”
Alluna tersedak minuman yang ingin ia habiskan secepatnya. Air minum keluar dari mulutnya, membasahi baju dan meja kantin.
Evan langsung meraih tisu. “Hati-hati kalau minum.” Ia mengelap mulut Alluna yang basah. Adegan ini menarik banyak pasang mata di kantin.
Alluna melirik ke beberapa murid yang memperhatikan mereka berdua sambil berbisik. "Bakalan ada gosip baru, nih."
“Gue bisa sendiri.” Buru-buru ia raih tisu dan mengelap bajunya sendiri.
“Hari Minggu jadi ke Jaktim?” tanya Evan.
Alluna menganggukkan kepala.
“Oke. Mau berangkat jam berapa?”
“Pagi.”
“Jam?”
“Sembilan.”
“Oke, jam sembilan gue jemput, ya!” Evan mengelus rambut Alluna dan mengecup pelipis gadis itu. Beberapa murid perempuan yang ada di kantin sempat berteriak melihat adegan itu, sementara para cowok justru melongo.
Evan adalah salah satu cowok yang banyak dikagumi murid cewek. Tak heran kalau mereka terkejut melihat kedekatan Evan dan Alluna. Bahkan, gosip kalau mereka jadian sudah beredar sejak seminggu yang lalu.
“Van, ini tempat umum,” bisik Alluna dengan hati berdebar.
“Nggak papa, dikit doang. Gue ke kelas duluan, ya!” Evan mengusap ujung kepala Alluna dan berlalu pergi.
Alluna menundukkan kepala karena hampir semua murid di kantin menatapnya. It’s crazy! Kenapa mereka memandang Alluna berlebihan? Padahal, ada banyak pasangan kekasih yang beradegan mesra di kantin. Tapi, Alluna dan Evan selalu menjadi sorotan. Dua-duanya digandrungi oleh lawan jenis mereka.
“Wah, bakal ada hari patah hati se-SMA 28, nih,” celetuk salah seorang murid.
“Duh, rasanya hati gue ditusuk-tusuk.” Jono menepuk-nepuk dadanya sendiri, ia yang selama ini terkenal getol mengejar cinta Alluna.
“Sabar, Jon!” sahut salah satu temannya sambil mengelus dada Jono.
Gosip hubungan Alluna dan Evan sudah menyebar ke seluruh sekolah. Semua murid sudah tahu kalau Evan dan Alluna jadian. Terlebih, sekarang Alluna berangkat dan pulang sekolah bareng Evan. Tidak lagi diantar supir atau naik taksi. Bahkan Evan juga menemaninya ke tempat les.
***
Sehari sebelum pergi ke acara kondangan, Alluna mengajak Evan mencari gaun baru dan kado pernikahan.
“Lun, ke apartemen gue dulu, ya! Gue mandi, ganti baju terus gue antar lo ke rumah. Abis itu baru kita jalan ke mall. Gimana?” tanya Evan saat mereka sudah ada di dalam mobil sepulang sekolah.
“Agree.”
Evan tersenyum, melajukan mobilnya ke arah Senopati Suite, salah satu apartemen mewah di wilayah Jakarta Selatan. Sekitar dua puluh menit, mereka sudah sampai di apartemen.
“Gue mandi dulu, ya!” Evan melempar tas ranselnya ke sofa.
Alluna mengangguk.
“Mau ikut?” tanya Evan.
“Ikut ke mana?”
“Mandi,” jawab Evan cengengesan.
“Ogah!”
“Ya udah. Lo main piano atau gitar aja. Gue mandi dulu.” Evan langsung masuk kamar.
Alluna lebih memilih bermain gitar sambil duduk di sofa. Ia menyalakan kamera video dan mulai merekam dirinya bernyanyi. Usai menyanyikan satu buah lagu, ia berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Pandangannya tertuju pada pintu kamar yang setengah terbuka. Ia membuka pintu tersebut semakin lebar dan memperhatikan ruangan yang masih kosong, tidak ada furniture satu pun di sana. Ia berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut. Berdiri di depan kaca jendela dengan view pemandangan di luar apartemen.
“Ini kamar untuk anak, tapi anaknya belum dibikin.” Tiba-tiba Evan datang sembari mengenakan sweeter berwarna abu-abu.
Alluna membalikkan tubuhnya, menatap Evan yang sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya. “Kenapa ruangan dibiarin kosong? Sayang banget.”
“Hahaha. Buat apa juga diisi kalo nggak dipake? Gue di sini sendirian aja. Kalo lo mau tinggal di sini, gue isiin furniture khusus buat lo.”
“Emang gue cewek apaan!?”
“Jadi, lo nggak mau tinggal sama gue?”
“Nggak.”
“After Married?” Evan menatap wajah Alluna serius.
“Apaan!? Pacaran aja belom, udah ngomongin merit,” celetuk Alluna. Ia kembali membalikkan tubuhnya menatap ke luar jendela, membelakangi Evan.
Evan tergelak. “Nggak penting pacaran atau enggak. Pacaran itu cuma label. Yang penting, gue sayang sama lo dan lo sayang sama gue. Lagian nyokap lo udah ngasih golden tiket ke gue.” Evan mendekatkan tubuhnya perlahan, memeluk Alluna perlahan dari belakang. “Be mine forever,” bisiknya.
Alluna ingin marah. Tapi bibirnya malah tersenyum, wajahnya menghangat, ia merasakan pelukan Evan semakin erat, bisikan lembut dari Evan membuatnya nyaman. Ia tak ingin beranjak, ingin tetap seperti ini. Menatap ke depan bersama seseorang yang istimewa.
Evan membalikkan tubuh Alluna, menatapnya penuh cinta. Ia mendekatkan wajahnya perlahan seiring Alluna menenggelamkan wajahnya. “Don’t afraid!” bisiknya. Ia mengangkat perlahan dagu Alluna, mengecupnya perlahan.
Alluna langsung menarik tubuhnya menjauh dari Evan. Ia membalikkan tubuh membelakangi pria itu agar ia bisa menyembunyikan wajahnya yang merona merah.
Alluna menyunggingkan senyum kecil di bibirnya. Ia merasakan ciuman pertama yang benar-benar menggetarkan hati. Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan aliran darahnya berbalik. Pertama kalinya ia merasakan hal yang indah, sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ia merasa bahagia.
Alluna memejamkan mata, bayangan Mama terlintas di pikirannya. Ia sadar telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia berciuman dengan laki-laki yang bukan suaminya. Bukan ini yang diajarkan mama. Mama selalu mengingatkan untuk menjaga diri. Dia bahkan sudah percaya pada Evan.
“Sorry, gue—”
Alluna tidak ingin mendengar apa pun dari mulut Evan, ia berjalan keluar melewati tubuh Evan begitu saja.
“Lun...!” Evan menarik lengan Alluna agar berhenti.
“Berangkat, yuk! Lo udah siap 'kan?” Alluna tersenyum sambil menggoyangkan kepala sebagai isyarat mengajaknya pergi.
Evan tersenyum lega dan melepas genggamannya. Ia merasa lega karena Alluna tidak marah, cewek yang satu ini memang sulit ditebak. Ia mengikuti langkah Alluna dari belakang. Menikmati cara jalan gadis berseragam putih abu-abu yang begitu menggoda.
Alluna meletakkan gelas air minum di meja dapur sebelum mengambil tasnya di sofa. Mereka bergegas menuju rumah Alluna yang berada di sekitaran Tulodong.
Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumah Alluna. Mobil Evan langsung memasuki parkiran rumah mewah bercat putih dengan luas bangunan 600 meter persegi dan luas tanah 1,4 Ha.
“Gue nunggu di luar aja, ya!” pinta Evan. Ia lebih senang menunggu di luar rumah bersama tukang kebun Alluna. Karena ada teman ngobrol sambil menunggu. Kalau menunggu di dalam, benar-benar menjenuhkan bagi Evan.
Alluna menganggukkan kepalanya. “Mang, temenin dia, ya! Awas, jangan sampe ilang!” canda Alluna pada Mang Udin yang sejak tadi sudah membukakan pintu gerbang.
“Iya, neng,” jawab Mang Udin.
Alluna langsung masuk ke rumah. Sementara Evan duduk di kursi taman sembari bercerita dengan Mang Udin. Terkadang Bibi Ira juga ikut bergabung sejenak sambil mengantar secangkir kopi untuk Evan.
“Mau jalan ya, Mas?” tanya Bi Ira sembari meletakkan secangkir kopi di meja. Evan sudah mulai akrab dan terbiasa dengan penghuni rumah Alluna.
“Iya, Bi.”
“Pantesan, Mbak Alluna tuh kalo mau jalan pasti ribet,” bisik Bi Ira.
Evan tertawa kecil menanggapi ucapan Bi Ira. “Maklum, namanya juga cewek.”
“Iya. Sebentar lagi, pasti kedengaran teriakannya Mba Alluna.”
“Bii ...!” Baru saja diucapkan Bi Ira, teriakan Alluna sudah terdengar.
“Maaf ya, Mas! Bibi bantu Mba Alluna dulu.” Bi Ira langsung berlalu pergi meninggalkan Evan dan Mang Udin.
Bi Ira tergopoh-gopoh menghampiri Alluna.
“Dari mana sih, Bi? Lama banget!”
“Ngantar kopi buat Mas Evan.”
“Tolong beresin baju aku, ya!” pintanya. Alluna sudah bersiap pergi. Seperti biasa, ia selalu mengeluarkan semua pakaian dan sepatunya setiap kali mau pergi ke luar rumah. Jadi, Bi Ira harus standby untuk membereskan dan meletakkan ke tempat semula.
Alluna langsung keluar rumah dan menghampiri Evan. Mereka bergegas pergi menuju butik milik Mama Alluna.
Sesampainya di butik, Alluna langsung menyapa semua karyawan yang ia temui dengan senyuman paling manis yang ia punya.
Evan senang melihat perubahan dalam diri Alluna. Dia yang suka jutek dan mengomel, kini lebih banyak tersenyum dan ramah pada semua orang.
“Mbak, ada design baru, nggak?” tanya Alluna pada manager yang mengelola butik mamanya.
“Ada, Mbak. Di ruangan biasa,” jawabnya.
Alluna langsung masuk ke sebuah ruangan yang tidak asing lagi baginya. Setiap ada design baru, akan diletakkan di ruangan ini. Ia memperhatikan satu per satu gaun yang ada di dalam ruangan itu.
“Bagus semua, gue bingung pilih yang mana,” celetuk Alluna.
“Ini bagus, nggak?” Ia meminta pendapat Evan sambil menunjukkan gaun dengan dada terbuka dan memiliki belahan di atas lutut.
Evan menggelengkan kepalanya. “Terlalu sexy.”
“Yang ini?” Alluna menunjukkan gaun berwarna biru terang dengan aksen batik warna putih di beberapa tempat.
“Hmm, boleh. Nggak terlalu terbuka banget.”
“Aku cobain dulu, ya?”
Evan menganggukkan kepalanya. Alluna langsung menyambar gaun itu dan masuk ke ruang ganti. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan anggun sambil tersenyum pada Evan.
“Gimana?”
“Cantik,” puji Evan.
Alluna memutar tubuhnya, memperlihatkan bagian belakang gaun yang transparan sampai ke pinggang.
Evan menepuk jidatnya, ia sama sekali tidak melihat bagian belakangnya sebelum baju itu dipakai oleh Alluna.
“Aku juga suka banget!” teriak Alluna sumringah. “Bagus, kan?” tanyanya lagi meminta pendapat.
Evan mengangguk-anggukan kepalanya. Tubuh Alluna memang terlalu indah untuk dilewatkan. Tapi, kalau untuk ke acara pesta, dia tidak nyaman dengan mata pria yang memandang Alluna.
Yah, sebenarnya ini hal biasa. Banyak cewek yang pakaiannya jauh lebih seksi saat menghadiri pesta. Tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Alluna. Ia ingin menikmati kecantikan Alluna sendiri, bukan bersama orang lain. Ah, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat gadis itu terlihat bahagia.
Alluna tersenyum, dia tidak lama memilih karena langsung jatuh hati pada gaun yang pertama kali ia coba. Ia kembali berkeliling untuk mencari sepatu high heels warna senada, juga mencari kado pernikahan untuk seniornya.
Setelah lelah berbelanja, main game dan makan. Evan mengantar Alluna pulang ke rumahnya.
***
Minggu, jam sembilan pagi, mobil Evan sudah terparkir di depan rumah Alluna sesuai dengan janji sebelumnya.
“Alluna mana, Bi?” tanya Evan.
“Masih tidur,” jawab Bi Ira.
“Hah!? Dia lupa kalo hari ini mau kondangan?”
“Nggak tau, Mas. Tadi sudah bibi bangunin, tapi belum bangun-bangun juga.”
“Ya udah, biar aku yang bangunin. Kamarnya di mana?” tanya Evan.
Bi Irah langsung mengantarkan Evan menuju kamar Alluna di lantai dua.
“Lun, bangun!” Evan menggoyangkan tubuh Alluna beberapa kali.
“Hmm,” sahut Alluna tanpa membuka mata. Ia pikir itu suara Daren, dia cuek saja dan melanjutkan tidurnya karena masih ngantuk berat.
Evan menghela napas dan memandang Bi Ira yang masih berdiri di pintu. “Ambilin es batu, dikit!” pinta Evan.
Bi Ira menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari kamar Alluna.
Begitu Bi Ira pergi, dengan cepat Evan mencium bibir Alluna dan melumatnya. Alluna yang merasakan bibirnya dicium dengan brutal langsung membuka mata.
“Evan...!” teriaknya sambil mendorong tubuh Evan.
“Lo tuh kalo tidur kayak kebo, susah amat dibangunin!” sentak Evan.
“Iya. Tapi nggak pake dicium segala kali,” celetuk Alluna.
“Kata Hastri, lo tuh kayak Sleeping Beauty. Tidurnya kayak kebo. Ya gue coba cium aja. Siapa tahu aja kayak cerita dongeng, dicium langsung bangun. Eh, ternyata beneran.”
Alluna tersenyum menatap Evan yang sudah memakai setelan jas dan terlihat tampan bak pangeran. “Ah, apa iya aku seperti Sleeping Beauty? Tokoh princess favoritku? Evan emang ganteng kayak pangeran sih. Tapi, kadang sikapnya suka nyebelin. Mana ada pangeran yang nyebelin kayak Evan,” batinnya.
“Lo mau ke mana? Kok, ganteng banget?” tanya Alluna yang masih setengah mengantuk.
“Lupa? Gue mau ke Jaktim, ke nikahan senior musik gue!” jawab Evan pura-pura kesal.
“Astaga!” Alluna menepuk dahinya. “Jam berapa ini?”
“Sembilan lewat lima belas menit dua puluh tujuh detik,” jawab Evan sambil menatap arlojinya.
“Ya ampun!” Alluna melompat dari atas ranjang. “Bibi!” teriaknya panik. Tak peduli dengan Evan yang masih duduk di sisi ranjang sambil tertawa kecil melihat tingkah Alluna.
“Lo ngapain masih di sini? Gue mau mandi, mau ganti baju. Lo mau ngintip?” Alluna mendelik ke arah Evan.
Evan hanya tersenyum melihat tingkah Alluna yang tiba-tiba heboh. Ia bangkit dan keluar dari kamar Alluna. “Gue tunggu di bawah, gak pake lama!”
Alluna mendengus. “Bibi...!” teriak Alluna lagi. Bi Ira datang dengan mangkok berisi es batu. “Buat apa ini?” tanya Alluna.
“Disuruh Mas Evan, buat bangunin Mbak Alluna.”
“Aku udah bangun! Bibi tolong beresin kamar aku, ya! Jangan lupa siapin baju, sepatu sama perhiasan yang mau aku pakai. Bibi udah aku kasih tau kan semalam? Aku nanti telat, nih,” cerocos Alluna sambil berjalan ke kamar mandi.
Alluna terburu-buru saat berganti pakaian. Ia meminta bibi Ira menyiapkan alat make up ke dalam tasnya. “Aku make up di mobil aja.”
Alluna setengah berlari turun dari tangga. Rambutnya masih belum ia rapikan, sisir masih ada di kepalanya.
“Kenapa kacau gini?” tanya Evan keheranan.
“Udah, deh. Gue make up sama rapi-rapi di mobil lo aja. Weekend gini Jakarta macet, pasti lama di jalan. Gue sempat lah rapi-rapi rambut sama make up di mobil.” Alluna menenteng tas dan sepatu high heels-nya. Ia mengenakan sandal boneka yang biasa ia pakai ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Evan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alluna. “Nggak ada jaim-jaimnya nih cewek,” gumamnya.
“Udah siap?” tanya Evan memastikan saat ia sudah duduk di belakang setir. Ia menatap Alluna yang sudah duduk di sisinya.
Alluna menganggukkan kepala. Ia menatap wajahnya di depan cermin saku yang ia bawa dan mulai menyisir rambut yang sudah ia keringkan menggunakan hair dryer sebelumnya.
Evan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah Alluna. Melajukan mobilnya menuju Jakarta Timur.
“Cantik nggak, sih?” Alluna meminta pendapat Evan sambil menunjukkan wajahnya.
Evan menoleh sebentar. “Lo tuh nggak dandan juga udah cantik.”
Alluna memonyongkan bibirnya. “Lo takut ngomong jujur kalo sebenernya make up gue jelek?” Alluna menatap kembali wajahnya di cermin. Memastikan make up-nya terlihat sempurna.
“Au...!” teriak Alluna yang membuat Evan terkejut.
“Kenapa?” tanya Evan.
“Kalung gue lepas, padahal cuma kesentuh ini.” Alluna menunjukkan maskara yang baru saja ia kenakan. “Bi Ira nggak bener nih makeinnya,” gerutunya.
Evan menepikan mobilnya dan berhenti. Ia memperhatikan leher dan tubuh Alluna, mencari keberadaan kalung milik Alluna. “Kalungnya mana?” tanya Evan.
“Jatuh.”
“Coba angkat kaki lo!” pinta Evan.
“Buat apa?”
“Cari kalungnya.”
“Kalungnya jatuh di sini.” Alluna menunjukkan belahan dadanya. Kalung yang ia kenakan jatuh menyelip ke dalam dadanya.
“Haduh, Lun. Gimana gue nggak mesum kalo lo mancing gue mulu kayak gini? Makanya gue bilang juga apa, nggak usah pake gaun yang dadanya terbuka kayak gini. Ambil sendiri, deh!”
“Yee, siapa juga yang nyuruh lo ambilin!” Alluna mencebik.
Evan menghela napas dan membuang pandangannya ke luar jendela agar tidak melihat adegan Alluna mengeluarkan kalung dari belahan payudara.
“Bantu pakein, dong! Susah, nih!” pinta Alluna.
Evan menoleh ke arah Alluna. Ia melihat Alluna kesulitan memasangkan kunci kalungnya. Dengan cepat tangan Evan melingkar ke leher Alluna dan membantu memasangkan kalungnya.
Evan menatap liontin kalung berlian milik Alluna, bukan sekedar liontin yang dilihatnya, tapi juga belahan dada milik Alluna. Ia tidak bisa menahan dirinya, terlebih aroma tubuh Alluna begitu menggoda. Evan mengendus belakang telinga Alluna.
“Van...,” Alluna menyetuh pipi Evan sambil tersenyum. “Jalan lagi, yuk!” pinta Alluna.
“Ck.” Evan menghela napas kecewa, ia kembali melajukan mobilnya.
“Astaga!” teriak Alluna saat mereka sudah memasuki wilayah Jakarta Timur.
“Kenapa lagi?”
“Kadonya ketinggalan, Van.” Alluna menepuk jidatnya.
“Kok, bisa sih?”
“Lo kan tau, tadi gue buru-buru. Kemarin kita jalan sampe malam, dah gitu lo masih telpon gue sampe jam dua belas malam. Jadi, gue kesiangan bangunnya. Jelas aja gue buru-buru. Gue takut ntar telat ke acara. Karena acaranya di gedung dan cuma sampai jam satu siang aja. Kalo telat, yang ada kita datang kayak tukang beres-beres gedung,” cerocos Alluna panjang lebar.
Evan tertawa kecil mendengar ucapan Alluna, tapi ia tetap fokus menyetir. “Jadi gimana? Balik lagi, udah jauh.”
Alluna menghela napas. “Kasih amplop aja, deh. Mampir ke toko sebentar beli amplop dulu, ya!” pinta Alluna.
“Siap, tuan puteri,” jawab Evan sambil tersenyum menatap Alluna yang tersipu.
Evan langsung menepi ke toko terdekat untuk membeli amplop. Ia menahan Alluna turun dari mobil karena dia yang akan membelikannya di toko tempat mereka berhenti. Tidak hanya membeli amplop, Evan juga membeli satu kantong makanan ringan dan minuman untuk mereka konsumsi selama perjalanan.
Sesampainya di tempat acara, Alluna diminta seniornya untuk menyanyikan sebuah lagu. Sebab, seniornya tahu kalau Alluna memiliki suara yang merdu. Alluna mengajak serta Evan untuk berduet bersamanya.
“Ini pasangan serasi, ganteng dan cantik. Suaranya keren abis. Semoga bisa cepat menyusul ke pelaminan, ya!” ucap MC acara saat Alluna dan Evan turun dari panggung.
Alluna dan Evan tersenyum sambil bergandengan tangan. “Aamiin.” Evan mengamini doa MC yang telah mendoakan mereka berdua.
“Kok, amin sih?”
“Emang lo nggak mau nikah sama gue?” bisik Evan.
“Mau.”
“Lulus sekolah gue lamar,” bisik Evan.
Alluna mengedikkan bahunya. “Enggak ah, gue nggak mau nikah muda.”
Evan tersenyum penuh arti, momen paling menyenangkan adalah melihat ekspresi wajah Alluna yang lucu ketika ia menggodanya. Kali ini, mereka mulai terbiasa tampil mesra di depan umum. Alluna tidak pernah lupa memberikan update setiap kegiatannya di story instagram agar mamanya tidak banyak bertanya tentang kesehariannya selama ia ditinggal pergi ke Paris.

0 komentar:
Post a Comment