“Pak Bos, handphone ibu Melan sudah saya
kembalikan ke mobilnya,” tutur salah seorang anak buah Yeriko saat ia sudah
masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.
“Bagus!” sahut Yeriko.
Pria itu langsung mengangguk
dan bergegas keluar dari ruangan usai memberikan laporan untuk bosnya.
“Hans, udah bisa?” tanya
Yeriko.
“Bentar, Pak Bos. Tunggu dia
nyalakan ponselnya, baru bisa kita lihat semua aktivitas hapenya.”
Yeriko mengangguk-anggukkan
kepala. Ia mengetuk-ngetuk ujung jemari ke atas meja.
“Kamu nyadap, Yer?” tanya
Lutfi sambil menatap Hans yang duduk di sofa ruang kerja Yeriko.
Yeriko hanya tersenyum kecil
sambil memainkan alisnya.
“Gimana caranya dapetin hape
tante itu?” tanya Lutfi.
“Menurut kamu?” tanya Yeriko
sambil melirik ke arah Lutfi.
“Parah kamu, Yer! Kamu
ngerayu tante-tante?”
“Bangsat!” sahut Yeriko
sambil melempar dokumen ke arah Lutfi. “Aku nggak ngerayu. Aku ngambil
handphone dia tanpa dia sadari.”
“Aku suka otak licikmu ini,
Yer,” tutur Lutfi sambil mengangguk-anggukkan tangannya ke arah Yeriko.
Yeriko hanya tersenyum sinis
menanggapi ucapan Lutfi. “Oh ya, Chandra mana?”
“Masih meeting sama timnya,
Pak Bos!” sahut Riyan yang juga berada dalam ruangan itu.
“Oh.” Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Suruh cepet, Yan!”
“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan,
ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko untuk memanggil Chandra.
“Gimana, Hans?” tanya Yeriko
pada salah satu karyawan IT Departemen perusahaannya yang paling muda dan
paling cekatan di perusahaannya.
“Belum nyala, Pak Bos.”
“Oke. Kita tunggu sebentar
lagi sampai dia menemukan ponselnya!” pinta Yeriko.
Hans menganggukkan kepala.
“Kamu masih kuliah, Hans?”
tanya Lutfi sambil asyik memakan kacang kulit yang sudah ada di atas meja.
“Masih, Mas,” jawab Hans
sambil menatap Lutfi yang ada di hadapannya.
“Semester berapa?”
“Semester empat, Mas.”
“Hah!? Baru semester empat?
Kamu kerja di sini udah berapa lama?”
“Tiga tahun,” jawab Hans.
“Masih SMA waktu kerja di
sini?” tanya Lutfi.
Hans menggelengkan kepala.
“Sudah lulus, Mas. Tapi saya belum kuliah karena nggak ada biaya. Bos Yeri yang
minta saya masuk ke perusahaan ini.”
“Serius? Kamu masih semuda
ini bisa memikat hati Tuan Ye yang perfeksionis ini. Gimana kamu ngelamar
kerjanya? Pakai ijazah SMA?”
Hans menganggukkan kepala.
“Lut, jangan lihat ijazahnya!
Ijazah itu cuma kertas. Yang penting kemampuannya.”
“Kamu nemuin anak ini di
mana?” tanya Lutfi.
“Waktu kompetisi antar
sekolah, Mas,” jawab Hans.
“Iya. Dia mengembangkan
aplikasi yang mudah untuk dunia usaha. Simple untuk kalangan menengah ke bawah.
Jadi, aku ambil dia ke sini untuk bisa berkembang dengan tim IT yang lain.”
Lutfi mengangguk-anggukkan
kepala. “Kamu beruntung bisa ketemu Yeriko di usia semuda ini. Dia selalu
menghargai kemampuan orang lain, bukan titelnya. Walau dia lulusan luar negeri
juga.”
Hans mengangguk-anggukkan
kepala. “Iya, Mas. Saya merasa berhutang budi sama Pak Bos. Beliau yang
merekrut saya tanpa melihat usia dan ijazah yang saya miliki. Sekarang, saya
bisa kuliah dari gaji yang saya dapatkan di perusahaan ini. Saya juga bisa membiayai
adik dan orang tua saya.”
Lutfi mengangguk-angguk, ia
melihat wajah Hans yang begitu bersemangat menceritakan masa lalunya saat
bertemu dengan Yeriko. “Dari umur berapa kamu belajar coding?” tanya Lutfi.
“Sepuluh tahun,” jawab Hans.
“Hah!? Sepuluh tahun sudah
belajar coding?” tanya Lutfi sambil membelalakkan mata. “Aku ... sepuluh tahun
... lagi ngapain ya?” tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
“Kamu, sepuluh tahun masih
main odong-odong,” sahut Yeriko sambil tertawa kecil.
“Hahaha. Kayaknya, sih
begitu.”
Hans ikut tertawa kecil.
“Tapi ... Mas Lutfi sudah kaya dari lahir. Nggak perlu kerja keras. Main-main
pun, tetap aja kaya.”
“Ah, kamu ... mau kaya juga
kerja keras. Lebih enak jadi orang seperti kamu, bisa menikmati hidup. Coba
lihat si Yeri!” pinta Lutfi sambil menatap Yeriko yang sedang memeriksa dokumen
di meja kerjanya.
Yeriko langsung melirik ke
arah Lutfi begitu namanya disebut.
“Ada apa dengan Pak Bos?”
tanya Hans.
“Semakin besar perusahaannya,
semakin banyak orang yang bergantung hidup sama dia. Kalau kamu mikirin dapur
keluargamu sendiri, Yeriko mikirin dapurnya ratusan bahkan ribuan keluarga di
luar sana. Lihat aja mukanya, cepet tua. Hahaha.”
Yeriko langsung mendelik ke
arah Lutfi.
“Ah, Pak Bos masih muda dan
ganteng banget. Saya aja kalah gantengnya,” tutur Hans sambil menatap Yeriko.
“Nah, ini baru bener!” sahut
Yeriko. “Minta gaji berapa?” tanyanya sambil menahan tawa.
“Yang sekarang udah lebih
dari cukup, Pak Bos! Nanti, kalau skill saya meningkat, baru boleh minta upah
meningkat juga ‘kan?”
“Hahaha. Saya suka anak muda
seperti kamu,” sahut Yeriko. “Gimana? Udah tersambung?” tanya Yeriko.
Hans langsung menyalakan
kembali layar laptop yang ada di hadapannya. “Sudah, Pak Bos!” serunya.
Yeriko langsung bangkit dari
kursi dan menghampiri Hans. “Ada pergerakan apa?” tanyanya.
“Belum ada?”
“Pesan masuk, pesan keluar,
panggilan masuk, panggilan keluar ... semuanya bisa kita lihat dari sini ‘kan?”
“Bisa, Pak. Semua pergerakan
ponselnya bisa kita lihat dari sini sesuai dengan yang dilakukan pengguna.”
“Wah, kamu pintar juga,
Hans!” puji Lutfi. “Bisa hack akun bank dia atau nggak? Siapa tahu, bisa ambil
duitnya,” tutur Lutfi yang sudah duduk di sebelah Hans sambil menatap layar
laptop.
Yeriko langsung mengeplak
kepala Lutfi. “Kamu mau maling? Kayak kekurangan duit aja!”
Lutfi langsung memutar
kepala, menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di belakangnya. “Lumayan, bisa buat
party, Yer!”
“Abis party dimasukin bui!” dengus Yeriko.
Lutfi terkekeh mendengar
ucapan Yeriko. “Emangnya bisa ketahuan?”
“Bisa, Mas. Kalau ada IT yang
melacak. Kepolisian juga punya badan inteligen yang khusus menangani masalah
cyber crime.”
“Oh ... aku kira, nggak bisa
ketahuan. Ini si Tante Melan tahu atau nggak kalau handphone dia lagi disadap?”
tanya Lutfi.
Hans menggelengkan kepala.
“Wah, calon mafia ini, Yer!”
seru Lutfi sambil menunjuk wajah Hans.
“Dia nggak akan jadi mafia
selama aku masih bisa ngasih dia makan,” sahut Yeriko.
“Bisa aja hatinya dia
berubah, Yer.”
“Mudahan nggak, Mas. Ada
orang yang memilih untuk menjadi orang baik dalam kesulitan, ada juga yang
memilih untuk menjadi jahat dalam menghadapi kesulitan.”
“Kamu pilih yang mana?” tanya
Lutfi sambil menatap Hans.
“Saya pilih jadi orang baik.
Karena Tuhan akan mempertemukan saya dengan orang-orang yang lebih baik dari
saya. Contohnya, saya bertemu dengan Bos Ye yang membuat hidup saya banyak
berubah,” jawab Hans sambil mengamati pergerakan layar laptopnya.
Lutfi tersenyum sambil
menatap Hans dan Yeriko bergantian.
“Dia karyawanku yang paling
muda, cerdas, loyal dan pekerja keras. Punya sepuluh orang anak muda kayak dia
di perusahaanku, aku berjaya, Lut,” tutur Yeriko sambil tersenyum bangga.
“Kamu memang paling pintar
memanfaatkan potensi orang lain, Yer,” sahut Lutfi. Pandangan matanya langsung
beralih saat layar laptop Hans mengeluarkan suara.
Melan Calling ...
“Dia nelepon siapa?” tanya
Lutfi.
“Nomer yang ini, Mas,” jawab
Hans sambil menunjukkan nomor ponsel tanpa nama.
“Dengerin aja! Mungkin, itu
orang suruhan Melan,” perintah Yeriko.
Hans dan Lutfi menganggukkan
kepala. Mereka bertiga bersiap menyimak pembicaraan telepon Melan yang sudah
mereka sadap sebelumnya.
“Halo, Honey ...!” sapa Lonan
yang mengangkat panggilan telepon dari Melan.
Lutfi dan Yeriko langsung
saling pandang begitu mendengar sapaan hangat dari pria asing yang tersambung
dengan panggilan telepon Melan.
“Halo ...!” balas Melan
dengan nada yang sangat lembut. “Yang kamu butuhkan sudah ada. Kita ketemu di
mana?” tanya Melan.
“Aku nginap di Sheraton
Hotel. Kamu ke sini aja! Langsung ke kamarku!”
“Kamar nomor berapa?” tanya
Melan.
“Kamar 235,” jawab Lonan.
“Oke, aku ke sana jam tujuh
malam.”
“Oke, Honey. Aku tunggu
secepatnya, ya! Udah nggak sabar pengen ketemu kamu lagi.”
“Iya. Aku juga kangen pengen
ketemu sama kamu,” tutur Melan. “Sampai jumpa nanti malam!” ucapnya sambil
memutuskan panggilan telepon.
“Uweeek ...! Jijik aku
dengernya!” seru Lutfi sambil bergidik. “Mamanya Belatung parah banget! Pantes
aja, anaknya jadi Belatung.”
Yeriko hanya tertawa kecil
menanggapi ucapan Lutfi. Ia merogoh ponsel dari saku kemejanya dan langsung
menelepon Riyan.
“Halo ...!” sapa Riyan begitu
panggilan Yeriko tersambung.
“Kamu ke mana?”
“Ini sudah mau ke ruangan Pak
Bos. Nunggu Mas Chandra selesai meeting.”
“Cepet! Aku tunggu!” seru
Yeriko.
“Kami udah sampai,” seru
Chandra yang baru saja masuk ke ruangan Yeriko bersama dengan Riyan.
Yeriko langsung memutar
tubuhnya menatap Chandra dan Riyan. “Yan, tolong booking kamar yang
berseberangan dengan kamar 235 di Sheraton Hotel. Sekarang juga!” perintahnya.
“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan
sambil merogoh ponsel dan menghubungi pihak hotel untuk memesan kamar yang
diinginkan oleh bosnya.
Yeriko langsung duduk sambil
menyandarkan tubuhnya di sofa. “Ada permainan baru,” gumamnya sambil tersenyum.
Ia menatap layar ponsel, kemudian mengirimkan pesan singkat pada Tarudi untuk
bertemu dengannya di Sheraton Hotel.
“Ada rencana apa?” tanya
Chandra yang baru saja bergabung dengan mereka.
“Melan sama Lonan bakal
ketemu malam ini di Sheraton Hotel.”
“Kita mau nangkap orang yang
lagi selingkuh?” tanya Chandra.
“Bukan kita, tapi suaminya,”
jawab Yeriko sambil memainkan alisnya. “Aku udah kirim pesan ke Oom Rudi. Dia
bakal datang ke sana di jam yang sama. Usahakan, semua terlihat secara alami.
Kita cukup jadi penonton aja!”
“Hahaha. Udah ngerti isi
otakmu. Jadi, malam ini kita ke Sheraton?” tanya Chandra.
Yeriko mengangguk-anggukkan
kepala.
“Yes! ada tontonan seru malam
ini!” seru Lutfi sambil tertawa bahagia. “Aku ngebayangin dulu gimana Tante
Melan yang lagi enak-enak sama pacarnya, terus ketahuan sama suaminya. Hahaha.”
Yeriko hanya tertawa sambil
menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu tertawa lebar. Mereka mulai
menyusun rencana untuk membuat Melan jatuh secara perlahan tanpa bisa kembali
ke tempat yang saat ini ia rebut dengan cara yang tidak manusiawi.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment