Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 523 : Kemunculan Lonan

 


“Jeng, lihat deh! Aku baru aja beli tas limited edition keluaran terbaru. Murah banget! Cuma tiga ratus juta,” tutur salah satu teman Melan saat mereka berkumpul di salah satu restoran mewah yang ada di pusat kota.

 

“Itu keluaran brand yang lagi hits itu ya? Aku udah nggak kebagian. Kok, kamu bisa dapet sih?” sahut wanita yang lainnya lagi.

 

“Dapet, dong. Aku selalu langganan newsletter produk ini. Jadi, waktu rilis produk baru ... aku langsung order. Termasuk beruntung karena ada jutaan orang yang pengen produk ini.”

 

“Lebih beruntung lagi kalau suami langsung kasih izin buat beli tas keluaran terbaru,” sahut yang lainnya.

 

“Yaelah, aku mah nggak perlu izin sama suami kalau mau beli tas branded. Uang yang dia kasih buat aku, nggak pernah ditanyain lagi untuk apa. Waktu ulang tahun kemarin, dia bahkan belikan aku tas yang harganya tujuh ratus juta.”

 

“Wah, enak banget kalau punya suami kayak gitu.”

 

“Iya, dong. Eh, Jeng Melan ... kenapa diam aja? Nggak kebagian tas keluaran baru atau nggak dikasih izin suami buat beli tas baru?” tanya wanita paruh baya yang sedang memamerkan tas branded yang baru saja ia beli.

 

“Belum ada yang menarik perhatianku. Design tasnya biasa aja,” sahut Melan.

 

“Kok, biasa aja? Ini design-nya bagus banget. Mewah dan elegan. Perpaduan warnanya juga keren, cocok banget buat ibu-ibu sosialita kayak kita.”

 

Melan hanya menanggapi ucapan wanita itu dengan senyuman. “Buat aku, masih biasa aja.”

 

“Halah, bilang aja kalau mau beli tas mahal ... masih perlu izin dari suami,” celetuk wanita lainnya.

 

Melan tersenyum kecut. Ia memang tidak bisa menggunakan uang dari suaminya untuk sembarang hal. Terlebih, saat ini ia harus memberikan banyak uang untuk Lonan. Membuat ia berpikir dua kali jika ingin membeli tas keluaran terbaru.

 

“Selamat siang ...!” Suara seorang pria mengalihkan perhatian semua orang.

 

Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat mengamati pria yang sudah berdiri di sebelah mereka.

 

Melan langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat Lonan sudah ada di sana dengan penampilan yang berantakan.

 

“Siapa ya?” tanya salah seorang wanita sambil menatap risih ke arah Lonan.

 

“Aku nyari dia,” jawab Lonan sambil menunjuk wajah Melan.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Melan.

 

“Kamu kenal sama laki-laki ini?” tanya salah seorang wanita sambil menatap Melan.

 

Melan hanya meringis menanggapi pertanyaan dari teman-teman arisannya. “Adik sepupuku dari jauh,” jawab Melan. Ia bangkit dari tempat duduk dan menarik Lonan menjauh dari kerumunan teman-teman arisannya.

 

“Kamu ngapain ke sini?” bisik Melan sambil menatap wajah Lonan.

 

“Nyari kamu. Aku udah telepon, nomor kamu nggak aktif. Kamu mau kabur dari aku setelah manfaatin aku?”

 

“Kabur gimana? Aku lupa taruh hapeku. Sampai sekarang, masih belum ketemu.”

 

“Aku nggak peduli sama itu. Aku cuma mau, kamu kasih aku uang lagi!”

 

“Kemarin baru aja aku kasih uang, udah habis?” tanya Melan berbisik.

 

“Uang yang kamu kasih ke aku, cuma bisa buat bertahan dua hari,” jawab Lonan. “Kamu tahu, aku baru keluar dari penjara dan nggak punya uang untuk bertahan hidup. Aku cuma bisa mengandalkan uang dari kamu.”

 

“Tapi, aku belum bisa kasih kamu uang sekarang.”

 

“Aku udah banyak bantu kamu tanpa memperhitungkan apa pun. Kamu masih mau perhitungan sama aku? Aku bakal bilang ke semua orang, siapa aku sebenarnya!”

 

Melan menghela napas. “Oke. Oke. Aku kasih kamu uang, tapi jangan macam-macam lagi!”

 

Lonan langsung tersenyum manis ke arah Melan. “Gitu, dong!” tuturnya sambil menyolek dagu Melan.

 

Melan menepis tangan Lonan begitu saja. Ia mengeluarkan uang yang ada di dompetnya dan menyodorkan ke arah Lonan.

 

“Cuma segini?” tanya Lonan sambil menatap lembaran uang merah yang tak lebih dari sepuluh juta rupiah. Amarahnya langsung tersulut karena merasa dimanfaatkan oleh Melan tanpa imbalan setimpal seperti yang ia inginkan.

 

“Aku cuma ada uang ini aja,” sahut Melan berbisik.

 

“Uang segini, nggak akan bisa membungkam mulutku. Ini cuma cukup buat hidup sehari. Kamu mau main-main sama aku, hah!?”

 

“Nan, aku cuma ada segini dulu. Nanti, aku kasih lagi setelah ...”

 

“Aku mau bayaran yang setimpal. Kalau kamu nggak mau ngasih uang yang aku butuhkan, aku bakal seret kamu dalam kasus ini!” tegas Lonan.

 

“Iya. Aku pasti kasih uang yang kamu butuhkan,” sahut Melan lirih. “Nanti, kita atur waktu untuk ketemu lagi. Aku masih arisan, aku selesaikan arisanku, dulu. Gimana?”

 

Lonan langsung menoleh ke arah kumpulan ibu-ibu yang menjadi teman arisan Melan. Ia tertawa kecil sambil mengalahkan pandangannya ke arah Melan. “Kamu beneran sudah jadi orang kaya?”

 

Melan menghela napas. “Kamu kira, incaranku itu main-main kekayaannya?”

 

Lonan tersenyum sambil menatap Melan. “Baguslah. Setidaknya, aku juga bisa ikut menikmati kekayaan suami kamu yang bodoh itu, hahaha.”

 

Melan tersenyum sambil menatap Lonan. Matanya kemudian tertuju pada teman-teman arisan yang mulai mengalihkan perhatian ke arahnya. “Sekarang, kamu pulang!”

 

Lonan mengangkat kedua alisnya. “Pulang ke mana dengan uang segini.”

 

“Itu cukup untuk check-in hotel. Aku bakal temui kamu ntar malam untuk ngantar uang yang kamu butuhkan.”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Oke. Aku bakal tunggu kamu nanti malam.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Cepat pergi!” pintanya lirih.

 

Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan selama beberapa detik. Ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Melan begitu saja.

 

Melan langsung menghela napas begitu melihat Lonan sudah pergi dari hadapannya. “Huft, ini orang bikin panik aja,” celetuknya sambil melangkahkan kaki menghanpiri meja teman-teman arisannya kembali.

 

“Ada apa dengan sepupu kamu itu?” tanya salah seorang wanita.

 

“Nggak ada apa-apa,” jawab Melan.

 

“Kelihatannya, sepupu kamu itu ... bukan dari keluarga kaya. Penampilannya nggak banget.”

 

Melan tersenyum kecut. “Dia memang lebih suka tampil apa adanya.”

 

“Oh. Merendah gitu ya?” sahut wanita lain sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Yah, seperti itulah,” sahut Melan. Ia tidak ingin semua teman-teman sosialitanya mengetahui siapa Lonan sebenarnya. Ia juga tak ingin dipandang rendah oleh teman-teman yang lain hanya karena uang.

 

“Jeng, aku balik duluan ya! Mau jemput anak kesayangan di sekolah,” pamit salah seorang wanita yang ada di sana.

 

“Emangnya nggak pakai supir?”

 

“Ada supir. Tapi, dia lebih bahagia kalau mamanya yang jemput langsung. Aku juga lebih suka mengurus anakku sendiri. Kalau soal anak, jangan sampai diurus orang lain.”

 

Wanita yang lain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Usai salah satu temannya pergi dari tempat itu, mereka semua keluar satu per satu dari restoran.

 

Melan menghela napas begitu semua temannya pergi. Ia merasa kali ini hidupnya tidak sesantai biasanya. Ia tidak menikmati apa yang dia lakukan hari ini. Perasaannya masih cemas karena banyak hal yang tidak bisa ia tebak ke depannya.

 

“Huft, mungkin cuma  perasaanku aja,” gumam Melan sambil bangkit dari tempat duduk, melangkah keluar menuju parkiran.

 

Melan membuka pintu mobil, ia langsung duduk di belakang kemudi sambil memasukkan kunci dengan tangan gemetaran.

 

“Kenapa sih ini tangan!?” maki Melan kesal saat kunci mobilnya jatuh ke sela-sela kakinya. Ia menunduk sambil meraba-raba lantai di bawah kakinya.

 

“Astaga ...! Ternyata hapeku di sini!?” seru Melan sambil meraih ponsel dari bawah kakinya. Ia tersenyum bahagia dan kembali mencari kunci mobilnya.

 

Usai mendapatkan kunci, ia langsung bergegas menyalakan mesin mobil. Ia mencoba menyalakan ponselnya yang sudah mati.

 

“Kelamaan nggak di-charge,” gumam Melan sambil mengeluarkan kabel charger yang ia simpan di laci dashboard dan menyambungkan ponselnya untuk mengisi daya baterai.

 

Usai mengisi daya batrainya, ia bergegas menjalankan mobil tersebut keluar dari halaman parkir, kembali menuju rumahnya.

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas