“Jeng, lihat deh! Aku baru
aja beli tas limited edition keluaran terbaru. Murah banget! Cuma tiga ratus
juta,” tutur salah satu teman Melan saat mereka berkumpul di salah satu
restoran mewah yang ada di pusat kota.
“Itu keluaran brand yang lagi
hits itu ya? Aku udah nggak kebagian. Kok, kamu bisa dapet sih?” sahut wanita
yang lainnya lagi.
“Dapet, dong. Aku selalu
langganan newsletter produk ini. Jadi, waktu rilis produk baru ... aku langsung
order. Termasuk beruntung karena ada jutaan orang yang pengen produk ini.”
“Lebih beruntung lagi kalau
suami langsung kasih izin buat beli tas keluaran terbaru,” sahut yang lainnya.
“Yaelah, aku mah nggak perlu
izin sama suami kalau mau beli tas branded. Uang yang dia kasih buat aku, nggak
pernah ditanyain lagi untuk apa. Waktu ulang tahun kemarin, dia bahkan belikan
aku tas yang harganya tujuh ratus juta.”
“Wah, enak banget kalau punya
suami kayak gitu.”
“Iya, dong. Eh, Jeng Melan
... kenapa diam aja? Nggak kebagian tas keluaran baru atau nggak dikasih izin
suami buat beli tas baru?” tanya wanita paruh baya yang sedang memamerkan tas
branded yang baru saja ia beli.
“Belum ada yang menarik
perhatianku. Design tasnya biasa aja,” sahut Melan.
“Kok, biasa aja? Ini
design-nya bagus banget. Mewah dan elegan. Perpaduan warnanya juga keren, cocok
banget buat ibu-ibu sosialita kayak kita.”
Melan hanya menanggapi ucapan
wanita itu dengan senyuman. “Buat aku, masih biasa aja.”
“Halah, bilang aja kalau mau
beli tas mahal ... masih perlu izin dari suami,” celetuk wanita lainnya.
Melan tersenyum kecut. Ia
memang tidak bisa menggunakan uang dari suaminya untuk sembarang hal. Terlebih,
saat ini ia harus memberikan banyak uang untuk Lonan. Membuat ia berpikir dua
kali jika ingin membeli tas keluaran terbaru.
“Selamat siang ...!” Suara
seorang pria mengalihkan perhatian semua orang.
Semua orang yang ada di
ruangan itu terlihat mengamati pria yang sudah berdiri di sebelah mereka.
Melan langsung melebarkan
kelopak matanya begitu melihat Lonan sudah ada di sana dengan penampilan yang
berantakan.
“Siapa ya?” tanya salah
seorang wanita sambil menatap risih ke arah Lonan.
“Aku nyari dia,” jawab Lonan
sambil menunjuk wajah Melan.
Semua orang langsung menoleh
ke arah Melan.
“Kamu kenal sama laki-laki
ini?” tanya salah seorang wanita sambil menatap Melan.
Melan hanya meringis
menanggapi pertanyaan dari teman-teman arisannya. “Adik sepupuku dari jauh,”
jawab Melan. Ia bangkit dari tempat duduk dan menarik Lonan menjauh dari
kerumunan teman-teman arisannya.
“Kamu ngapain ke sini?” bisik
Melan sambil menatap wajah Lonan.
“Nyari kamu. Aku udah
telepon, nomor kamu nggak aktif. Kamu mau kabur dari aku setelah manfaatin
aku?”
“Kabur gimana? Aku lupa taruh
hapeku. Sampai sekarang, masih belum ketemu.”
“Aku nggak peduli sama itu.
Aku cuma mau, kamu kasih aku uang lagi!”
“Kemarin baru aja aku kasih
uang, udah habis?” tanya Melan berbisik.
“Uang yang kamu kasih ke aku,
cuma bisa buat bertahan dua hari,” jawab Lonan. “Kamu tahu, aku baru keluar
dari penjara dan nggak punya uang untuk bertahan hidup. Aku cuma bisa
mengandalkan uang dari kamu.”
“Tapi, aku belum bisa kasih
kamu uang sekarang.”
“Aku udah banyak bantu kamu
tanpa memperhitungkan apa pun. Kamu masih mau perhitungan sama aku? Aku bakal
bilang ke semua orang, siapa aku sebenarnya!”
Melan menghela napas. “Oke.
Oke. Aku kasih kamu uang, tapi jangan macam-macam lagi!”
Lonan langsung tersenyum
manis ke arah Melan. “Gitu, dong!” tuturnya sambil menyolek dagu Melan.
Melan menepis tangan Lonan
begitu saja. Ia mengeluarkan uang yang ada di dompetnya dan menyodorkan ke arah
Lonan.
“Cuma segini?” tanya Lonan
sambil menatap lembaran uang merah yang tak lebih dari sepuluh juta rupiah.
Amarahnya langsung tersulut karena merasa dimanfaatkan oleh Melan tanpa imbalan
setimpal seperti yang ia inginkan.
“Aku cuma ada uang ini aja,”
sahut Melan berbisik.
“Uang segini, nggak akan bisa
membungkam mulutku. Ini cuma cukup buat hidup sehari. Kamu mau
main-main sama aku, hah!?”
“Nan, aku cuma ada segini
dulu. Nanti, aku kasih lagi setelah ...”
“Aku mau bayaran yang setimpal. Kalau
kamu nggak mau ngasih uang yang aku butuhkan, aku bakal seret kamu dalam kasus
ini!” tegas Lonan.
“Iya. Aku pasti kasih uang
yang kamu butuhkan,” sahut Melan lirih. “Nanti, kita atur waktu untuk ketemu
lagi. Aku masih arisan, aku selesaikan arisanku, dulu. Gimana?”
Lonan langsung menoleh ke
arah kumpulan ibu-ibu yang menjadi teman arisan Melan. Ia tertawa kecil sambil
mengalahkan pandangannya ke arah Melan. “Kamu beneran sudah jadi orang kaya?”
Melan menghela napas. “Kamu
kira, incaranku itu main-main kekayaannya?”
Lonan tersenyum sambil
menatap Melan. “Baguslah. Setidaknya, aku juga bisa ikut menikmati kekayaan
suami kamu yang bodoh itu, hahaha.”
Melan tersenyum sambil
menatap Lonan. Matanya kemudian tertuju pada teman-teman arisan yang mulai
mengalihkan perhatian ke arahnya. “Sekarang, kamu pulang!”
Lonan mengangkat kedua
alisnya. “Pulang ke mana dengan uang segini.”
“Itu cukup untuk check-in hotel. Aku
bakal temui kamu ntar malam untuk ngantar uang yang kamu butuhkan.”
Lonan menganggukkan kepala.
“Oke. Aku bakal tunggu kamu nanti malam.”
Melan menganggukkan kepala.
“Cepat pergi!” pintanya lirih.
Lonan tersenyum sambil
menatap wajah Melan selama beberapa detik. Ia langsung berbalik dan pergi
meninggalkan Melan begitu saja.
Melan langsung menghela napas
begitu melihat Lonan sudah pergi dari hadapannya. “Huft, ini orang bikin panik
aja,” celetuknya sambil melangkahkan kaki menghanpiri meja teman-teman
arisannya kembali.
“Ada apa dengan sepupu kamu
itu?” tanya salah seorang wanita.
“Nggak ada apa-apa,” jawab
Melan.
“Kelihatannya, sepupu kamu
itu ... bukan dari keluarga kaya. Penampilannya nggak banget.”
Melan tersenyum kecut. “Dia
memang lebih suka tampil apa adanya.”
“Oh. Merendah gitu ya?” sahut
wanita lain sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Yah, seperti itulah,” sahut
Melan. Ia tidak ingin semua teman-teman sosialitanya mengetahui siapa Lonan
sebenarnya. Ia juga tak ingin dipandang rendah oleh teman-teman yang lain hanya
karena uang.
“Jeng, aku balik duluan ya!
Mau jemput anak kesayangan di sekolah,” pamit salah seorang wanita yang ada di
sana.
“Emangnya nggak pakai supir?”
“Ada supir. Tapi, dia lebih
bahagia kalau mamanya yang jemput langsung. Aku juga lebih suka mengurus anakku
sendiri. Kalau soal anak, jangan sampai diurus orang lain.”
Wanita yang lain
mengangguk-angguk sambil tersenyum. Usai salah satu temannya pergi dari tempat
itu, mereka semua keluar satu per satu dari restoran.
Melan menghela napas begitu
semua temannya pergi. Ia merasa kali ini hidupnya tidak sesantai biasanya. Ia
tidak menikmati apa yang dia lakukan hari ini. Perasaannya masih cemas karena
banyak hal yang tidak bisa ia tebak ke depannya.
“Huft, mungkin cuma
perasaanku aja,” gumam Melan sambil bangkit dari tempat duduk, melangkah keluar
menuju parkiran.
Melan membuka pintu mobil, ia
langsung duduk di belakang kemudi sambil memasukkan kunci dengan tangan
gemetaran.
“Kenapa sih ini tangan!?”
maki Melan kesal saat kunci mobilnya jatuh ke sela-sela kakinya. Ia menunduk
sambil meraba-raba lantai di bawah kakinya.
“Astaga ...! Ternyata hapeku
di sini!?” seru Melan sambil meraih ponsel dari bawah kakinya. Ia tersenyum
bahagia dan kembali mencari kunci mobilnya.
Usai mendapatkan kunci, ia
langsung bergegas menyalakan mesin mobil. Ia mencoba menyalakan ponselnya yang
sudah mati.
“Kelamaan nggak di-charge,”
gumam Melan sambil mengeluarkan kabel charger yang ia simpan di laci dashboard
dan menyambungkan ponselnya untuk mengisi daya baterai.
Usai mengisi daya batrainya,
ia bergegas menjalankan mobil tersebut keluar dari halaman parkir, kembali
menuju rumahnya.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment