Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 522 : Mama Tiri Muda

 



“Hahaha. Yuhu ...! Akhirnya, ketemu juga!” seru Lutfi sambil menatap layar ponselnya.

 

“Apaan, Lut?” tanya Chandra.

 

“Ini si Lonan udah ketemu,” jawab Lutfi sambil tersenyum. Ia langsung menunjukkan potret Lonan saat pria itu memasuki sebuah hotel di kota Malang.

 

“Dapet dari mana?” tanya Chandra.

 

“Weh, jangan meremehkan aku! Siapa penguasa hotel dan villa di Pulau Jawa?”

 

“Siapa?”

 

“Aku, dong! Siapa lagi?”

 

Chandra langsung menoyor kepala Lutfi. “Masih punya Mbahmu!”

 

“Pewarisnya tetep aku, Chan.”

 

“Iyalah. Sekarepmu!”

 

“Enaknya kita apain ya si Lonan ini?” tanya Lutfi.

 

Chandra mengetuk-ngetuk dahinya. “Kita teror aja dia.”

 

“Teror gimana?” tanya Lutfi. “Jelas-jelas dia masih berani kabur, padahal kita udah ngejar seharian. Emangnya, teror mempan buat dia? Nggak takut mati itu orang.”

 

“Jadi, enaknya gimana? Yeriko nggak mungkin ngelepasin dia. Masukin ke penjara, lebih nggak mungkin lagi. Penjara terlalu mudah buat orang yang sudah keluar-masuk penjara kayak dia.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Eh, Yeriko nggak ada ngomong apa-apa?” tanyanya.

 

“Emangnya mau ngomong apa?”

 

“Ck, kamu ini ...!? Nggak usah mancing emosiku!” sahut Lutfi kesal.

 

Chandra terkekeh melihat reaksi Lutfi.

 

“Seriuslah, Chan!”

 

“Emangnya aku lagi bercanda?”

 

“Mukamu, Chan! Ngece banget! Kalo bukan temen, udah aku tendang ke Laut Selatan.”

 

“Hahaha ... tendang aja!” sahut Chandra santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.

 

Lutfi mendengus sambil menendang kaki Chandra.

 

Chandra hanya terkekeh sambil menatap wajah Lutfi. “Eh, di mana dia sekarang?”

 

“Siapa? Lonan?”

 

“Iya, siapa lagi.”

 

“Di salah satu hotel di Malang.”

 

“Kita ke sana, sekarang?”

 

“Nggak usah.”

 

“Kenapa?”

 

“Pantau aja dari jauh pergerakannya. Udah ada orang mantau di sana. Tenang aja!”

 

“Kalau dia tahu diikuti, ntar kabur lagi.”

 

“Ck, makanya ... aku suruh Hellboy buat mantau pergerakan dia.”

 

“Hellboy atau Bellboy?” tanya Chandra sambil mengerutkan dahi.

 

“Bellboy. Aku lebih senang manggil dia Hellboy, hahaha.”

 

“Asem! Aku bayangin Hellboy, cuk!”

 

“Mau rilis versi terbaru tahun depan,” tutur Lutfi.

 

“Serius?”

 

“Ck, kalo soal film ... masa aku bercanda?” sahut Lutfi.

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepala. “Fokus ke Lonan lagi!” pintanya.

 

“Udah kelar. Tunggu kabar selanjutnya dari Hellboy-ku.”

 

“Bellboy, Lut!” sahut Chandra kesal.

 

Lutfi terkekeh mendengar ucapan Chandra. “Anak buahku sendiri, suka-suka mau manggil apa.”

 

Chandra hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lutfi. “Oh ya, Lut. Kapan acara pernikahanmu?” tanyanya.

 

“Kenapa tanya-tanya? Mau nikah juga?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Takut ngadepin mama tiri? Jheni udah ketemu sama mama tiri kamu?” tanya Lutfi sambil tertawa kecil.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Rencananya mau kuajak ke Jogja minggu-minggu ini buat kenalan sama keluargaku.”

 

“Gimana kalau Jheni tahu ... mama tiri kamu itu ...??? Ah, aku ngebayangin ekspresi wajah Jheni dulu!” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

 

“Ck, entahlah. Yang penting, aku bawa Jheni dulu. Dia mau menerima keadaan keluargaku atau nggak, itu tergantung dia lagi, Lut.”

 

“Jheni pasti nerima. Dia cinta mati sama kamu. Nggak akan peduli sama yang lain,” sahut Lutfi.

 

Chandra menarik napas dalam-dalam sambil menengadahkan kepala menatap langit yang terbentang luas di atasnya. Ia rasa, sudah saatnya Jheni mengetahui semua hal tentang keluarganya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

 

 

“Yun, Yeriko nyuruh aku ke sini terus. Kenapa sih?” tanya Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Mungkin ... karena dia nggak bolehin aku keluar rumah lagi.”

 

“Kenapa?”

 

“Dia bilang, aku nggak boleh ke mana-mana karena udah deket lahiran, Jhen.”

 

“Oh ... aku disuruh jadi sahabat siaga gitu? Harusnya, dia yang jadi suami siaga. Malah sibuk kerja terus.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Jheni. “Dia juga siaga, Jhen. Makanya, aku nggak dibolehin ke mana-mana lagi. Dia juga kan punya tanggung jawab sama perusahaan.”

 

“Iya juga, sih. Jadi bos itu nggak mudah juga ya? Setiap hari kerja terus. Padahal, dia udah punya asisten pribadi, dua sekretaris, direktur banyak, istri juga ada. Kenapa masih sibuk terus?”

 

“Semakin banyak orang, semakin banyak yang harus diurus, Jhen. Dia juga selalu ngirim orang untuk jagain aku. Lihat aja! Ada Bibi War, ada banyak pelayan, ada kamu juga.”

 

“Iya juga, sih.” Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Eh, ada yang mau aku ceritain ke kamu.”

 

“Apa?”

 

“Soal mama tirinya Chandra.”

 

“Kenapa? Kamu udah ketemu sama mama tirinya? Beneran galak?”

 

Jheni menggelengkan kepalanya. “Kalau aku lihat dari fotonya, kayaknya nggak galak deh.”

 

“Kamu lihat fotonya di mana?”

 

“Aku nggak sengaja buka chat-nya Chandra. Mama tirinya dia ngirimin foto lagi liburan sama papanya Chandra dan ...”

 

Yuna mengangkat kedua alis saat Jheni menghentikan ucapannya.

 

“Kelihatannya, mama tirinya Chandra lebih muda dari papanya.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Itu kan biasa. Aku sama Yeriko juga lebih muda aku.”

 

“Ck, ini nggak biasa, Yun. Dia bukan cuma kelihatan lebih muda dari papanya Chandra. Tapi juga lebih muda dari Chandra.”

 

“What!?”

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu pikir, deh! Kenapa Chandra sering berantem sama papanya karena mama tirinya itu? Awalnya, aku pikir karena mama tirinya itu galak.”

 

“Terus?”

 

“Aku rasa, bukan karena mama tirinya galak. Tapi karena ...”

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. “Jangan-jangan ... mama tirinya Chandra itu mantan pacarnya dia juga? Hahaha.”

 

“Iih ... kamu, nih. Jangan sampai, deh! Masa aku harus ngadepin mama tiri sekaligus mantannya Chandra?”

 

Yuna terkekeh menatap wajah Jheni. “Nggak papa. Jadi, kamu bisa manggil mamanya Chandra itu ... Adik Mama!”

 

Jheni memonyongkan bibirnya.

 

“Mama Kecil ...!” goda Yuna sambil menatap wajah Jheni.

 

“Nggak papa, kali. Ntar aku ajak shopping, nyalon dan liburan bareng. Wee ...!” sahut Jheni sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Wah, jadi udah siap, nih?” tanya Yuna.

 

“Siap apaan?” tanya Jheni sambil melirik kesal.

 

“Siap jadi ibu muda. Eh, punya mamah muda.”

 

Jheni mengerucutkan bibirnya. “Kalo emang beneran ... aku harus gimana di depan mama tirinya Chandra, ya?”

 

“Kamu maunya gimana?”

 

“Aku maunya bisa menjalani hidup normal seperti yang lain. Punya ibu mertua seperti Mama Rully. Kalau terlalu muda, apalagi lebih muda dari aku ... mmh, aku belum tahu harus gimana.”

 

“Katanya mau diajak shopping bareng?” goda Yuna.

 

“Iih ... nggak beneran, Yun. Masa iya aku kayak gitu sama mertuaku. Aku bayanginnya aja udah aneh. Gimana ngejalaninya?”

 

“Coba aja dulu, Jhen! Gimana ke depannya, dipikir nanti aja, deh! Yang penting, kamu sudah punya keberanian untuk menghadapi apa yang seharusnya kamu hadapi.”

 

Jheni berdecak sambil memangku kepalanya. “Bingung banget aku, Yun. Di saat aku udah siap mau ketemu orang tuanya dia. Malah ada kenyataan baru yang bikin perasaanku makin nggak karuan. Aku sekarang ngerti gimana posisi Chandra. Gimana perasaannya dia saat menerima wanita yang lebih muda menjadi mamanya.”

 

“Jhen, nggak semua ibu tiri itu jahat seperti yang ada di dongeng Cinderella. Banyak ibu tiri yang baik. Kamu cukup menghadapinya aja. Siapa tahu, dia malah lebih baik dari Mama Rully.”

 

“Aku harap begitu,” ucap Jheni sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih tidak mengerti bagaimana ia harus menghadapi mama tiri Chandra yang usianya jauh lebih muda dari Chandra. Bisa jadi, juga lebih muda dari dirinya.

 

Yuna tersenyum menatap wajah Jheni. Ia berusaha menenangkan dan menghibur Jheni agar sahabatnya itu memiliki banyak keberanian untuk menghadapi apa yang seharusnya bisa dihadapi. Sebab, banyak hal yang ingin membuat manusia ingin menyerah pada hidup. Tapi manusia tetap tidak bisa menyerah pada hidup begitu saja, karena semua terlahir untuk mengendalikan dan mewarnai kehidupan. 

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas