“Hahaha. Yuhu ...! Akhirnya,
ketemu juga!” seru Lutfi sambil menatap layar ponselnya.
“Apaan, Lut?” tanya Chandra.
“Ini si Lonan udah ketemu,”
jawab Lutfi sambil tersenyum. Ia langsung menunjukkan potret Lonan saat pria
itu memasuki sebuah hotel di kota Malang.
“Dapet dari mana?” tanya
Chandra.
“Weh, jangan meremehkan aku!
Siapa penguasa hotel dan villa di Pulau Jawa?”
“Siapa?”
“Aku, dong! Siapa lagi?”
Chandra langsung menoyor
kepala Lutfi. “Masih punya Mbahmu!”
“Pewarisnya tetep aku, Chan.”
“Iyalah. Sekarepmu!”
“Enaknya kita apain ya si
Lonan ini?” tanya Lutfi.
Chandra mengetuk-ngetuk
dahinya. “Kita teror aja dia.”
“Teror gimana?” tanya Lutfi.
“Jelas-jelas dia masih berani kabur, padahal kita udah ngejar seharian.
Emangnya, teror mempan buat dia? Nggak takut mati itu orang.”
“Jadi, enaknya gimana? Yeriko
nggak mungkin ngelepasin dia. Masukin ke penjara, lebih nggak mungkin lagi.
Penjara terlalu mudah buat orang yang sudah keluar-masuk penjara kayak dia.”
Lutfi mengangguk-anggukkan
kepala. “Eh, Yeriko nggak ada ngomong apa-apa?” tanyanya.
“Emangnya mau ngomong apa?”
“Ck, kamu ini ...!? Nggak
usah mancing emosiku!” sahut Lutfi kesal.
Chandra terkekeh melihat
reaksi Lutfi.
“Seriuslah, Chan!”
“Emangnya aku lagi bercanda?”
“Mukamu, Chan! Ngece banget!
Kalo bukan temen, udah aku tendang ke Laut Selatan.”
“Hahaha ... tendang aja!”
sahut Chandra santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.
Lutfi mendengus sambil
menendang kaki Chandra.
Chandra hanya terkekeh sambil
menatap wajah Lutfi. “Eh, di mana dia sekarang?”
“Siapa? Lonan?”
“Iya, siapa lagi.”
“Di salah satu hotel di
Malang.”
“Kita ke sana, sekarang?”
“Nggak usah.”
“Kenapa?”
“Pantau aja dari jauh
pergerakannya. Udah ada orang mantau di sana. Tenang aja!”
“Kalau dia tahu diikuti, ntar
kabur lagi.”
“Ck, makanya ... aku suruh
Hellboy buat mantau pergerakan dia.”
“Hellboy atau Bellboy?” tanya
Chandra sambil mengerutkan dahi.
“Bellboy. Aku lebih senang
manggil dia Hellboy, hahaha.”
“Asem! Aku bayangin Hellboy,
cuk!”
“Mau rilis versi terbaru
tahun depan,” tutur Lutfi.
“Serius?”
“Ck, kalo soal film ... masa
aku bercanda?” sahut Lutfi.
Chandra mengangguk-anggukkan
kepala. “Fokus ke Lonan lagi!” pintanya.
“Udah kelar. Tunggu kabar
selanjutnya dari Hellboy-ku.”
“Bellboy, Lut!” sahut Chandra
kesal.
Lutfi terkekeh mendengar
ucapan Chandra. “Anak buahku sendiri, suka-suka mau manggil apa.”
Chandra hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lutfi. “Oh ya, Lut. Kapan acara
pernikahanmu?” tanyanya.
“Kenapa tanya-tanya? Mau
nikah juga?”
Chandra menggelengkan kepala.
“Kenapa? Takut ngadepin mama
tiri? Jheni udah ketemu sama mama tiri kamu?” tanya Lutfi sambil tertawa kecil.
Chandra menggelengkan kepala.
“Rencananya mau kuajak ke Jogja minggu-minggu ini buat kenalan sama
keluargaku.”
“Gimana kalau Jheni tahu ...
mama tiri kamu itu ...??? Ah, aku ngebayangin ekspresi wajah Jheni dulu!” tutur
Lutfi sambil menahan tawa.
“Ck, entahlah. Yang penting,
aku bawa Jheni dulu. Dia mau menerima keadaan keluargaku atau nggak, itu
tergantung dia lagi, Lut.”
“Jheni pasti nerima. Dia
cinta mati sama kamu. Nggak akan peduli sama yang lain,” sahut Lutfi.
Chandra menarik napas
dalam-dalam sambil menengadahkan kepala menatap langit yang terbentang luas di
atasnya. Ia rasa, sudah saatnya Jheni mengetahui semua hal tentang keluarganya.
...
Di tempat lain ...
“Yun, Yeriko nyuruh aku ke
sini terus. Kenapa sih?” tanya Jheni.
Yuna mengedikkan bahunya.
“Mungkin ... karena dia nggak bolehin aku keluar rumah lagi.”
“Kenapa?”
“Dia bilang, aku nggak boleh
ke mana-mana karena udah deket lahiran, Jhen.”
“Oh ... aku disuruh jadi
sahabat siaga gitu? Harusnya, dia yang jadi suami siaga. Malah sibuk kerja
terus.”
Yuna tersenyum sambil menatap
Jheni. “Dia juga siaga, Jhen. Makanya, aku nggak dibolehin ke mana-mana lagi.
Dia juga kan punya tanggung jawab sama perusahaan.”
“Iya juga, sih. Jadi bos itu
nggak mudah juga ya? Setiap hari kerja terus. Padahal, dia udah punya asisten
pribadi, dua sekretaris, direktur banyak, istri juga ada. Kenapa masih sibuk
terus?”
“Semakin banyak orang,
semakin banyak yang harus diurus, Jhen. Dia juga selalu ngirim orang untuk
jagain aku. Lihat aja! Ada Bibi War, ada banyak pelayan, ada kamu juga.”
“Iya juga, sih.” Jheni
mengangguk-anggukkan kepala. “Eh, ada yang mau aku ceritain ke kamu.”
“Apa?”
“Soal mama tirinya Chandra.”
“Kenapa? Kamu udah ketemu
sama mama tirinya? Beneran galak?”
Jheni menggelengkan
kepalanya. “Kalau aku lihat dari fotonya, kayaknya nggak galak deh.”
“Kamu lihat fotonya di mana?”
“Aku nggak sengaja buka
chat-nya Chandra. Mama tirinya dia ngirimin foto lagi liburan sama papanya
Chandra dan ...”
Yuna mengangkat kedua alis
saat Jheni menghentikan ucapannya.
“Kelihatannya, mama tirinya
Chandra lebih muda dari papanya.”
Yuna terkekeh mendengar
ucapan Jheni. “Itu kan biasa. Aku sama Yeriko juga lebih muda aku.”
“Ck, ini nggak biasa, Yun.
Dia bukan cuma kelihatan lebih muda dari papanya Chandra. Tapi juga lebih muda
dari Chandra.”
“What!?”
Jheni mengangguk-anggukkan
kepala. “Kamu pikir, deh! Kenapa Chandra sering berantem sama papanya karena
mama tirinya itu? Awalnya, aku pikir karena mama tirinya itu galak.”
“Terus?”
“Aku rasa, bukan karena mama
tirinya galak. Tapi karena ...”
Yuna melebarkan kelopak
matanya. “Jangan-jangan ... mama tirinya Chandra itu mantan pacarnya dia juga?
Hahaha.”
“Iih ... kamu, nih. Jangan
sampai, deh! Masa aku harus ngadepin mama tiri sekaligus mantannya Chandra?”
Yuna terkekeh menatap wajah
Jheni. “Nggak papa. Jadi, kamu bisa manggil mamanya Chandra itu ... Adik Mama!”
Jheni memonyongkan bibirnya.
“Mama Kecil ...!” goda Yuna
sambil menatap wajah Jheni.
“Nggak papa, kali. Ntar aku
ajak shopping, nyalon dan liburan bareng. Wee ...!” sahut Jheni sambil
menjulurkan lidahnya.
“Wah, jadi udah siap, nih?”
tanya Yuna.
“Siap apaan?” tanya Jheni
sambil melirik kesal.
“Siap jadi ibu muda. Eh,
punya mamah muda.”
Jheni mengerucutkan bibirnya.
“Kalo emang beneran ... aku harus gimana di depan mama tirinya Chandra, ya?”
“Kamu maunya gimana?”
“Aku maunya bisa menjalani
hidup normal seperti yang lain. Punya ibu mertua seperti Mama Rully. Kalau
terlalu muda, apalagi lebih muda dari aku ... mmh, aku belum tahu harus
gimana.”
“Katanya mau diajak shopping
bareng?” goda Yuna.
“Iih ... nggak beneran, Yun.
Masa iya aku kayak gitu sama mertuaku. Aku bayanginnya aja udah aneh. Gimana
ngejalaninya?”
“Coba aja dulu, Jhen! Gimana
ke depannya, dipikir nanti aja, deh! Yang penting, kamu sudah punya keberanian
untuk menghadapi apa yang seharusnya kamu hadapi.”
Jheni berdecak sambil
memangku kepalanya. “Bingung banget aku, Yun. Di saat aku udah siap mau ketemu
orang tuanya dia. Malah ada kenyataan baru yang bikin perasaanku makin nggak
karuan. Aku sekarang ngerti gimana posisi Chandra. Gimana perasaannya dia saat
menerima wanita yang lebih muda menjadi mamanya.”
“Jhen, nggak semua ibu tiri
itu jahat seperti yang ada di dongeng Cinderella. Banyak ibu tiri yang baik.
Kamu cukup menghadapinya aja. Siapa tahu, dia malah lebih baik dari Mama
Rully.”
“Aku harap begitu,” ucap
Jheni sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih tidak mengerti bagaimana
ia harus menghadapi mama tiri Chandra yang usianya jauh lebih muda dari
Chandra. Bisa jadi, juga lebih muda dari dirinya.
Yuna tersenyum menatap wajah
Jheni. Ia berusaha menenangkan dan menghibur Jheni agar sahabatnya itu memiliki
banyak keberanian untuk menghadapi apa yang seharusnya bisa dihadapi. Sebab,
banyak hal yang ingin membuat manusia ingin menyerah pada hidup. Tapi manusia
tetap tidak bisa menyerah pada hidup begitu saja, karena semua terlahir untuk
mengendalikan dan mewarnai kehidupan.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment