Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 521 : Pria Misterius

 



“Jangan ...! Jangan mendekat!” seru Tarudi sambil menatap pria berjubah hitam yang ada di hadapannya. Mata pria itu menyala merah saat menatap ke arahnya, di tangannya ada sebilah pisau yang bersiap menghujam ke tubuh Tarudi.

 

“Kamu harus membayar semua yang sudah kamu lakukan!” tegas pria bersuara berat itu sambil mengangkat pisaunya tinggi-tinggi.

 

Tarudi terus melangkah mundur dengan kaki gemetar. Semakin pria itu mendekat, ketakutannya semakin bertambah hingga lututnya lemas dan tersungkur ke lantai.

 

“Aargh ...!” teriak Tarudi begitu pisau yang ada di atas kepala menghujam kepalanya. Ia berteriak sekuat-kuatnya hingga menggema ke seluruh ruangan.

 

Tarudi terus memejamkan mata sambil berteriak hingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Ia menghentikan teriakannya dan membuka mata perlahan. Saat cahaya putih menyilaukan menerpa matanya, ia mengerjap beberapa kali. Ia berusaha mencari kesadarannya.

 

Tarudi mengatur napasnya yang tersengal sambil mengedarkan pandangannya. Ia bangkit dari tempat tidur, meraih air minum yang ada di atas nakas dan meminumnya. “Cuma mimpi,” gumamnya sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

 

Pandangan mata Tarudi beralih pada ponsel yang bergetar diiringi dering yang keras. Ia meraih ponsel tersebut dan menatap layar yang menunjukkan nomor tidak dikenal sedang memanggilnya.

 

Tarudi tidak ingin menjawab panggilan telepon tersebut. Namun, penelepon itu tetap saja menghubunginya hingga beberapa kali.

 

“Halo ...!” sapa suara berat yang ada di seberang telepon.

 

Tarudi tidak menyahut. Ia menyadari suara yang meneleponnya adalah orang yang ada di masa lalunya. Ia sangat ketakutan mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.

 

“Rudi ... kenapa dia masih berkeliaran?” tanya seseorang di seberang telepon.

 

“D-dia s-siapa?” tanya Tarudi.

 

“Kamu nggak usah pura-pura! Aku sudah membantu kamu mendapatkan perusahaan. Kenapa kamu tidak menyelesaikan apa yang sudah aku perintahkan?”

 

Tarudi menahan napas sambil mengusap peluh yang mengucur di keningnya. Suhu ruang kamarnya yang dingin, tetap saja membuatnya berkeringat karena cemas.

 

“Aku benci dikhianati. Kamu akan menanggung akibatnya jika tidak bisa menyelesaikan apa yang aku perintahkan!” tegas pria yang ada di seberang sana.

 

Tarudi terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata karena selama ini ... ia selalu menuruti semua perintah pria itu.

 

“Aku mau, kita bertemu secepatnya untuk menyelesaikan masalah ini!” perintah pria yang ada di seberang telepon, lalu mematikan panggilannya.

 

Tarudi menarik napas panjang begitu panggilan teleponnya terputus. Ia semakin tidak tenang dengan kehadiran pria itu kembali dalam kehidupannya. Sudah lama, ia dan pria itu tidak saling berkomunikasi. Siapa yang menyangka kalau orang itu kembali setelah mengetahui kalau Adjie masih hidup.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Tarudi dikejutkan dengan mobil Cadillac XTS Limousine yang berhenti di depannya saat ia baru saja keluar dari mobil.

 

Kaca mobil Limousine itu terbuka, menampakkan sosok pria paruh baya yang melirik Tarudi tanpa ekspresi.

 

Tarudi bergeming selama beberapa detik. Ia tak bisa melawan orang yang menatapnya penuh bahaya. Tanpa bertanya, ia segera masuk ke dalam Limousine tersebut.

 

Tanpa aba-aba, supir yang membawa Limousine tersebut langsung menjalankan mobilnya setelah Tarudi masuk ke dalam mobil. Mobil itu langsung melaju kencang, membelah jalanan kota hingga naik ke perbukitan yang sepi. Empat puluh menit dari perusahaan Tarudi, mereka akhirnya sampai di salah satu rumah villa yang jauh dari pusat kota.

 

Tarudi masuk ke dalam villa dengan pengawalan ketat. Private villa itu tidak bisa dikunjungi oleh sembarang orang karena milik pribadi dan tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalamnya tanpa izin.

 

“Aku mau, kamu selesaikan pekerjaan kamu sesuai dengan perjanjian!” perintah pria berjas itu sambil menyodorkan sebuah botol ke hadapan Tarudi.

 

Tarudi bergeming, ia hanya menatap botol itu tanpa berkata atau pun bertanya.

 

“Aku mau kamu suntikan ini ke tubuh Adjie, buat dia mati perlahan-lahan!”

 

“Mmh ... semua sudah berlalu. Aku sudah mencoba melakukannya, tapi selalu gagal. Gimana kalau kita tukar perjanjian kita?”

 

“Aku nggak butuh yang lain. Aku cuma mau nyawa Adjie dan semua keluarganya!” tegas pria itu.

 

“Tapi ...”

 

“Kamu mau ganti dengan nyawa kamu dan keluarga kamu sendiri?”

 

Tarudi menggelengkan kepala. Ia tidak ingin anak dan istrinya menjadi korban, tapi juga tidak ingin mengorbankan kakak kandungnya untuk menyelamatkan keluarganya sendiri.

 

“Kamu bilang ... kamu sudah membunuh seluruh keluarga Adjie. Nyatanya, dia masih berkeliaran di kota ini. Bahkan, kamu sengaja menyembunyikan puterinya dari aku.”

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Aku nggak menyembunyikan mereka. Aku pikir, semuanya sudah berlalu karena sudah begitu lama aku ...”

 

“Aku nggak akan melepaskan mereka. Sebelum Adjie dan keturunannya itu mati.”

 

GLEG!

 

Tarudi hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan pria itu.

 

“Aku mau, kamu bisa beresin secepatnya! Kalau tidak, semua keluargamu juga aku habisin!” perintah pria tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia bergegas meninggalkan Tarudi seorang diri.

 

Tarudi termenung di tempatnya sambil menatap botol cairan yang ada di hadapannya. Botol berisi cairan succinylcholine chloride itu dapat melumpuhkan sekaligus mematikan hanya dengan dosis 100 miligram. Ia sudah berusaha mengendalikan dosis obat yang disuntikan pada tubuh Adjie selama sebelas tahun ini agar kakaknya tetap dapat hidup walau dalam keadaan koma.

 

Tarudi termenung dalam waktu yang cukup lama. Hingga matahari terbenam, ia masih bergeming di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak ingin kehilangan perusahaan, juga tidak ingin membunuh siapa pun.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan baru menyadari kalau ponselnya menghilang saat ia sudah sampai di depan Swiss-Bell Malang.

 

“Hapeku jatuh di mana?” tanyanya pada diri sendiri sambil memeriksa isi tasnya. “Apa lupa kubawa ya?”

 

“Ini si Lonan di kamar nomor berapa?” gumam Melan sambil melangkah masuk menuju lobi hotel tersebut.

 

“Permisi, Mbak. Saya mau ketemu sama rekan saya. Namanya, Lasiono Adnan. Dia nginap di kamar nomor berapa ya?” tanya Melan pada petugas resepsionis.

 

“Sebentar ya, Bu!” balas resepsionis hotel sambil tersenyum ramah. Ia mengecek data pengunjung.

 

“Nama Ibu siapa?” tanya resepsionis itu lagi.

 

“Melan Anggraini.”

 

Resepsionis itu tersenyum. Ia menekan telepon yang tersambung ke kamar Lonan. “Selamat siang, Pak! Ada pengunjung bernama Melan Anggraini ingin bertemu dengan Bapak. Apakah kami bisa menginformasikan nomor kamar Anda pada Ibu Melan?”

 

Resepsionis itu menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban dari Lonan. Ia menutup telepon dan menuliskan nomor kamar Lonan di atas kertas post-it.

 

“Makasih, Mbak ...!” ucap Melan sambil menyambar catatan yang diberikan oleh resepsionis tersebut sebelum petugas itu mengucapkan kalimat untuk Melan.

 

Resepsionis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia terus menatap tubuh Melan yang bergerak menjauh. “Sombong banget!” cibirnya kesal.

 

Melan bergegas pergi ke kamar Lonan untuk memberikan uang yang dibutuhkan oleh pria itu.

 

“Hai, Cantik ...! Akhirnya, kamu datang juga,” sapa Lonan begitu ia membukakan pintu untuk Melan.

 

Melan tersenyum. Ia bergegas masuk ke dalam kamar tersebut, kemudian melepas masker dan scarf yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya.

 

“Kamu kenapa?” tanya Lonan sambil meneliti seluruh tubuh Melan.

 

“Aku nggak mau ketahuan sama siapa pun,” jawab Melan sambil melepas kacamatanya.

 

Lonan mengangguk-anggukkan kepala. “Gimana kabar kamu hari ini?” tanyanya sambil mendekatkan wajah ke arah Melan.

 

“Aku baik,” jawab Melan sambil merogoh uang dari dalam tasnya. “Ini uang buat kamu. Aku nggak bisa lama-lama di sini.”

 

Lonan tersenyum sambil meraih uang dari Melan. “Kenapa? Kamar ini selalu terbuka buat kamu kapan aja.”

 

Melan menatap wajah Lonan. “Aku khawatir ada yang ngikutin ke sini. Karena aku tadi ketemu sama ...” Melan menghentikan ucapannya saat Lonan terus menatap wajahnya sambil tersenyum.

 

“Kamu nggak kangen sama aku?” tanya Lonan sambil menatap Melan penuh gairah. “Sudah bertahun-tahun kita nggak ketemu. Apa kamu nggak mau ngasih yang lain selain uang?”

 

Melan menggelengkan kepala. Ia buru-buru memakai kembali kacamata, scraft dan masker. Kemudian, ia bergegas keluar dari kamar tersebut.

 

Lonan tak membiarkan Melan keluar dari kamarnya begitu saja. Ia menarik tubuh Melan ke dalam pelukannya dan menciumnya penuh gairah. “Sudah lama sekali aku merindukan saat-saat seperti ini,” bisiknya.

 

Melan tak mampu menolak, meski tak pernah bersama ... ia tetap mencintai Lonan. Pria yang selama ini selalu menemani dan membantunya mengerjakan banyak hal. Ia tidak bisa melupakan pria yang ia cintai begitu saja meski ia sudah menikah dengan Tarudi. Sebab, pernikahan yang ia lakukan hanya karena uang.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas