“Jangan ...! Jangan mendekat!” seru Tarudi sambil menatap pria berjubah hitam yang ada di hadapannya. Mata pria itu menyala merah saat menatap ke arahnya, di tangannya ada sebilah pisau yang bersiap menghujam ke tubuh Tarudi.
“Kamu harus membayar semua
yang sudah kamu lakukan!” tegas pria bersuara berat itu sambil mengangkat
pisaunya tinggi-tinggi.
Tarudi terus melangkah mundur
dengan kaki gemetar. Semakin pria itu mendekat, ketakutannya semakin bertambah
hingga lututnya lemas dan tersungkur ke lantai.
“Aargh ...!” teriak Tarudi
begitu pisau yang ada di atas kepala menghujam kepalanya. Ia berteriak
sekuat-kuatnya hingga menggema ke seluruh ruangan.
Tarudi terus memejamkan mata
sambil berteriak hingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Ia menghentikan
teriakannya dan membuka mata perlahan. Saat cahaya putih menyilaukan menerpa
matanya, ia mengerjap beberapa kali. Ia berusaha mencari kesadarannya.
Tarudi mengatur napasnya yang
tersengal sambil mengedarkan pandangannya. Ia bangkit dari tempat tidur, meraih
air minum yang ada di atas nakas dan meminumnya. “Cuma mimpi,” gumamnya sambil
memegangi dadanya yang terasa ngilu.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
Pandangan mata Tarudi beralih
pada ponsel yang bergetar diiringi dering yang keras. Ia meraih ponsel tersebut
dan menatap layar yang menunjukkan nomor tidak dikenal sedang memanggilnya.
Tarudi tidak ingin menjawab
panggilan telepon tersebut. Namun, penelepon itu tetap saja menghubunginya
hingga beberapa kali.
“Halo ...!” sapa suara berat
yang ada di seberang telepon.
Tarudi tidak menyahut. Ia
menyadari suara yang meneleponnya adalah orang yang ada di masa lalunya. Ia
sangat ketakutan mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.
“Rudi ... kenapa dia masih
berkeliaran?” tanya seseorang di seberang telepon.
“D-dia s-siapa?” tanya
Tarudi.
“Kamu nggak usah pura-pura!
Aku sudah membantu kamu mendapatkan perusahaan. Kenapa kamu tidak menyelesaikan
apa yang sudah aku perintahkan?”
Tarudi menahan napas sambil
mengusap peluh yang mengucur di keningnya. Suhu ruang kamarnya yang dingin,
tetap saja membuatnya berkeringat karena cemas.
“Aku benci dikhianati. Kamu
akan menanggung akibatnya jika tidak bisa menyelesaikan apa yang aku
perintahkan!” tegas pria yang ada di seberang sana.
Tarudi terdiam. Ia tidak bisa
berkata-kata karena selama ini ... ia selalu menuruti semua perintah pria itu.
“Aku mau, kita bertemu
secepatnya untuk menyelesaikan masalah ini!” perintah pria yang ada di seberang
telepon, lalu mematikan panggilannya.
Tarudi menarik napas panjang
begitu panggilan teleponnya terputus. Ia semakin tidak tenang dengan kehadiran
pria itu kembali dalam kehidupannya. Sudah lama, ia dan pria itu tidak saling
berkomunikasi. Siapa yang menyangka kalau orang itu kembali setelah mengetahui
kalau Adjie masih hidup.
Keesokan harinya ...
Tarudi dikejutkan dengan
mobil Cadillac XTS Limousine yang berhenti di depannya saat ia baru saja keluar
dari mobil.
Kaca mobil Limousine itu
terbuka, menampakkan sosok pria paruh baya yang melirik Tarudi tanpa ekspresi.
Tarudi bergeming selama
beberapa detik. Ia tak bisa melawan orang yang menatapnya penuh bahaya. Tanpa
bertanya, ia segera masuk ke dalam Limousine tersebut.
Tanpa aba-aba, supir yang
membawa Limousine tersebut langsung menjalankan mobilnya setelah Tarudi masuk
ke dalam mobil. Mobil itu langsung melaju kencang, membelah jalanan kota hingga
naik ke perbukitan yang sepi. Empat puluh menit dari perusahaan Tarudi, mereka
akhirnya sampai di salah satu rumah villa yang jauh dari pusat kota.
Tarudi masuk ke dalam villa
dengan pengawalan ketat. Private villa itu tidak bisa dikunjungi oleh sembarang
orang karena milik pribadi dan tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalamnya
tanpa izin.
“Aku mau, kamu selesaikan
pekerjaan kamu sesuai dengan perjanjian!” perintah pria berjas itu sambil
menyodorkan sebuah botol ke hadapan Tarudi.
Tarudi bergeming, ia hanya
menatap botol itu tanpa berkata atau pun bertanya.
“Aku mau kamu suntikan ini ke
tubuh Adjie, buat dia mati perlahan-lahan!”
“Mmh ... semua sudah berlalu.
Aku sudah mencoba melakukannya, tapi selalu gagal. Gimana kalau kita tukar
perjanjian kita?”
“Aku nggak butuh yang lain.
Aku cuma mau nyawa Adjie dan semua keluarganya!” tegas pria itu.
“Tapi ...”
“Kamu mau ganti dengan nyawa
kamu dan keluarga kamu sendiri?”
Tarudi menggelengkan kepala.
Ia tidak ingin anak dan istrinya menjadi korban, tapi juga tidak ingin
mengorbankan kakak kandungnya untuk menyelamatkan keluarganya sendiri.
“Kamu bilang ... kamu sudah
membunuh seluruh keluarga Adjie. Nyatanya, dia masih berkeliaran di kota ini.
Bahkan, kamu sengaja menyembunyikan puterinya dari aku.”
Tarudi menggelengkan kepala.
“Aku nggak menyembunyikan mereka. Aku pikir, semuanya sudah berlalu karena
sudah begitu lama aku ...”
“Aku nggak akan melepaskan
mereka. Sebelum Adjie dan keturunannya itu mati.”
GLEG!
Tarudi hanya bisa menelan
ludah mendengar ucapan pria itu.
“Aku mau, kamu bisa beresin
secepatnya! Kalau tidak, semua keluargamu juga aku
habisin!” perintah pria tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia
bergegas meninggalkan Tarudi seorang diri.
Tarudi termenung di tempatnya
sambil menatap botol cairan yang ada di hadapannya. Botol berisi cairan
succinylcholine chloride itu dapat melumpuhkan sekaligus mematikan hanya dengan
dosis 100 miligram. Ia sudah berusaha mengendalikan dosis obat yang disuntikan
pada tubuh Adjie selama sebelas tahun ini agar kakaknya tetap dapat hidup walau
dalam keadaan koma.
Tarudi termenung dalam waktu
yang cukup lama. Hingga matahari terbenam, ia masih bergeming di tempatnya. Ia
tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak ingin kehilangan
perusahaan, juga tidak ingin membunuh siapa pun.
...
Di tempat lain ...
Melan baru menyadari kalau
ponselnya menghilang saat ia sudah sampai di depan Swiss-Bell Malang.
“Hapeku jatuh di mana?”
tanyanya pada diri sendiri sambil memeriksa isi tasnya. “Apa lupa kubawa ya?”
“Ini si Lonan di kamar nomor
berapa?” gumam Melan sambil melangkah masuk menuju lobi hotel tersebut.
“Permisi, Mbak. Saya mau
ketemu sama rekan saya. Namanya, Lasiono Adnan. Dia nginap di kamar nomor
berapa ya?” tanya Melan pada petugas resepsionis.
“Sebentar ya, Bu!” balas
resepsionis hotel sambil tersenyum ramah. Ia mengecek data pengunjung.
“Nama Ibu siapa?” tanya
resepsionis itu lagi.
“Melan Anggraini.”
Resepsionis itu tersenyum. Ia
menekan telepon yang tersambung ke kamar Lonan. “Selamat siang, Pak! Ada
pengunjung bernama Melan Anggraini ingin bertemu dengan Bapak. Apakah kami bisa
menginformasikan nomor kamar Anda pada Ibu Melan?”
Resepsionis itu menganggukkan
kepala setelah mendengar jawaban dari Lonan. Ia menutup telepon dan menuliskan
nomor kamar Lonan di atas kertas post-it.
“Makasih, Mbak ...!” ucap
Melan sambil menyambar catatan yang diberikan oleh resepsionis tersebut sebelum
petugas itu mengucapkan kalimat untuk Melan.
Resepsionis itu tersenyum
sambil menganggukkan kepala. Ia terus menatap tubuh Melan yang bergerak
menjauh. “Sombong banget!” cibirnya kesal.
Melan bergegas pergi ke kamar
Lonan untuk memberikan uang yang dibutuhkan oleh pria itu.
“Hai, Cantik ...! Akhirnya,
kamu datang juga,” sapa Lonan begitu ia membukakan pintu untuk Melan.
Melan tersenyum. Ia bergegas
masuk ke dalam kamar tersebut, kemudian melepas masker dan scarf yang ia
gunakan untuk menutupi kepalanya.
“Kamu kenapa?” tanya Lonan
sambil meneliti seluruh tubuh Melan.
“Aku nggak mau ketahuan sama
siapa pun,” jawab Melan sambil melepas kacamatanya.
Lonan mengangguk-anggukkan
kepala. “Gimana kabar kamu hari ini?” tanyanya sambil mendekatkan wajah ke arah
Melan.
“Aku baik,” jawab Melan
sambil merogoh uang dari dalam tasnya. “Ini uang buat kamu. Aku nggak bisa
lama-lama di sini.”
Lonan tersenyum sambil meraih
uang dari Melan. “Kenapa? Kamar ini selalu terbuka buat kamu kapan aja.”
Melan menatap wajah Lonan.
“Aku khawatir ada yang ngikutin ke sini. Karena aku tadi ketemu sama ...” Melan
menghentikan ucapannya saat Lonan terus menatap wajahnya sambil tersenyum.
“Kamu nggak kangen sama aku?”
tanya Lonan sambil menatap Melan penuh gairah. “Sudah bertahun-tahun kita nggak
ketemu. Apa kamu nggak mau ngasih yang lain selain uang?”
Melan menggelengkan kepala.
Ia buru-buru memakai kembali kacamata, scraft dan masker. Kemudian, ia bergegas
keluar dari kamar tersebut.
Lonan tak membiarkan Melan
keluar dari kamarnya begitu saja. Ia menarik tubuh Melan ke dalam pelukannya
dan menciumnya penuh gairah. “Sudah lama sekali aku merindukan saat-saat
seperti ini,” bisiknya.
Melan tak mampu menolak,
meski tak pernah bersama ... ia tetap mencintai Lonan. Pria yang selama ini
selalu menemani dan membantunya mengerjakan banyak hal. Ia tidak bisa melupakan
pria yang ia cintai begitu saja meski ia sudah menikah dengan Tarudi. Sebab, pernikahan
yang ia lakukan hanya karena uang.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment