Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 520 : Hati yang Bergejolak

 


Arjuna terus tersenyum sambil memainkan kunci mobil begitu ia selesai memarkirkan mobilnya. Ia melangkahkan kakinya sambil bersenandung dan menari kegirangan menuju ke lantai apartemennya.

 

“Kamu dari mana?” tanya seorang wanita yang sudah menunggu Arjuna di depan pintu apartemennya.

 

Arjuna mengangkat kedua alisnya. “Kamu udah lama di sini?”

 

Wanita itu menganggukkan kepala. “Kamu dari mana?” tanyanya sekali lagi. “Kamu lupa kalau hari ini ada janji makan siang bareng aku?”

 

Arjuna langsung menepuk dahinya. “Iya, aku lupa. Gimana, kalau aku ganti besok?” tanyanya.

 

Wanita itu terus menatap Arjuna yang menyunggingkan senyum dan terlihat sangat bahagia. Sejak kecil, mereka selalu bersama ... namun, baru kali ini ia melihat wajah Arjuna begitu ceria setelah sekian lama.

 

“Kamu ngapain aja siang ini?” tanya wanita itu.

 

“Aku? Menikmati hidup, seperti biasa,” jawab Arjuna sambil membuka pintu apartemennya.

 

“Kamu punya mainan baru lagi?” tanya wanita itu sambil mengikuti langkah Arjuna memasuki apartemennya.

 

“Mmh ... bukan mainan. Tapi, cukup menyenangkan,” jawab Arjuna sambil tersenyum manis membayangkan wajah Yuna yang baru saja bersamanya.

 

Wanita itu menatap Arjuna yang begitu terlihat bahagia. Semenjak papanya meninggal setahun lalu, ia tidak pernah melihat Arjuna tersenyum. Ia merasa tertohok karena telah menemani Arjuna bertahun-tahun, tapi tetap tidak bisa membuat Arjuna meliriknya.

 

“Kamu nggak sibuk hari ini?” tanya Arjuna.

 

Wanita itu menggelengkan kepala. “Nanti malam, kita makan bareng, yuk! Gimana?”

 

“Ntar malam aku di klub. Kamu ke klub aja!”

 

Wanita itu menghela napas. Ia tidak suka menghampiri Arjuna di klub karena terlalu berisik, tidak ada waktu untuk bicara berdua saja.

 

“Vina, aku mau tidur. Kalau nggak ada yang mau kamu urus di sini, lebih baik kamu pulang!” pinta Arjuna.

 

Wanita muda bernama Vina itu langsung mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan berbalik, melangkah keluar dari apartemen Arjuna. Ia sangat kesal karena Arjuna tetap saja menganggapnya sebagai teman biasa walau banyak hal yang sudah ia lakukan untuk pria itu.

 

 

 

...

 

 

 

Yuna terkejut saat melihat suaminya sudah ada di dalam rumah saat ia kembali dari makan siangnya.

 

“Ay, kamu udah pulang?” tanya Yuna sambil menghampiri Yeriko yang duduk di sofa sambil membaca majalah.

 

“Kenapa? Nggak boleh pulang cepat?” tanya Yeriko balik tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menahan tawa melihat sikap suaminya. “Kamu cemburu?”

 

Yeriko langsung melirik tajam ke arah Yuna. “Kamu pergi makan siang sama pria lain, gimana aku nggak cemburu?”

 

Yuna tersenyum, ia menghampiri Yeriko dan duduk di sebelahnya. “Ay, aku kan udah bilang kalau aku mau makan siang sama Arjuna. Aku punya hutang budi sama dia. Nggak ada maksud lain.”

 

“Kamu nggak ada maksud lain. Gimana sama dia?” tanya Yeriko.

 

“Kamu cemburu sama anak-anak? Dia itu jauh lebih muda dari aku. Baru dua puluh tahun. Mana ada anak muda yang mau sama perempuan yang lebih tua dan dalam keadaan hamil seperti aku. Udahlah, jangan cemburuan terus!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di bahu Yeriko.

 

Yeriko melirik wajah Yuna yang begitu dekat dengan pipinya. “Kamu jangan berkeliaran di luar sana sama pria lain. Gimana kalau ada yang fotoin kamu dan dijadiin headline koran atau majalah? Kamu harus tahu posisi kamu sekarang!”

 

Yuna menghela napas. Ia mengangguk-anggukkan kepala. Ia tidak bisa membantah apa pun ucapan suaminya. Hanya bisa menuruti agar tidak membuat mereka bertengkar hanya karena masalah kecil.

 

Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna ke dalam pelukannya. Pikirannya masih terganggu dengan kehadiran Arjuna yang masih sangat muda dan tampan. “Kehadiran Lian dan Andre aja sudah bikin aku kesal. Sekarang, datang lagi pria muda yang mau deketin kamu. Ck, kenapa sainganku semakin bertambah? Padahal, kamu sudah hamil seperti ini. Apa cowok-cowok zaman sekarang lebih senang mengincar istri orang?”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Perasaan kamu aja. Mereka pria yang normal. Wilian sudah punya istri, Andre juga sudah punya tunangan. Kamu nggak perlu berpikir terlalu jauh!” pinta Yuna.

 

Yeriko memperhatikan wajah Yuna. “Oh ya, kenapa kamu nggak pernah cemburu sama aku?”

 

“Cemburu? Sering. Tapi aku nggak posesif kayak kamu.”

 

“Posesif? Emangnya aku posesif?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak, kok. Kamu nggak posesif. Cuma ...”

 

“Cuma apa?”

 

“Cuma ... cemburunya kayak Merapi lagi erupsi,” jawab Yuna sambil tertawa.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Kamu yang senang bikin aku erupsi.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Oh, ya ... besok ayah udah boleh keluar dari rumah sakit. Kita jemput dia, gimana?”

 

“Jam berapa?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... mungkin, setelah jam makan siang. Katanya, setelah kunjungan dokter. Biasanya, dokter periksa ayah jam sepuluhan. Jadi, kita jemput dia setelah jam makan siang. Gimana?”

 

“Aku ada jadwal meeting setelah makan siang. Gimana kalau minta temenin Angga?”

 

“Angga lagi temenin Mama Rully ke Jakarta. Dia nggak ada di sini.”

 

“Oh. Aku suruh Riyan. Soalnya, aku nggak bisa tinggalin meetingku kali ini.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti, kok.”

 

“Setelah ini, kamu jangan keluar rumah lagi ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau kamu bosan sendirian, panggil Jheni atau Icha ke sini!”

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko tersenyum sambil mengecup kening Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena memiliki istri yang mau mematuhi keinginannya.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna menjemput ayahnya yang sudah sembuh dan membawanya kembali ke apartemen.

 

“Yah, mau makan apa?” tanya Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam apartemen Adjie.

 

“Ayah sudah sembuh. Kamu nggak perlu masak untuk Ayah. Kali ini, Ayah yang akan masakin kamu.”

 

“Jangan, dong! Biar aku yang masak untuk ayah!” pinta Yuna.

 

“Kamu lagi hamil. Banyak istirahat! Jangan sampai kelelahan!” pinta Adjie lembut.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah ayahnya. “Oke. Kalau gitu, hari ini aku akan makan semua masakan ayah.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu duduk aja!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia memberikan kesempatan pada ayahnya untuk memasak. Sementara, ia masuk ke kamar Adjie untuk melipat pakaian ayahnya dan merapikan ke dalam lemari. Ia juga membawa pakaian kotor yang dibawa dari rumah sakit dan membawanya ke dalam kamar mandi.

 

Adjie langsung berlari ke kamar mandi begitu melihat Yuna membawa pakaian kotor ke dalamnya. “Biar Ayah cuci sendiri! Kamu duduk aja!” pinta Adjie.

 

“Nggak papa, Yah. Nyuci juga pakai mesin. Ayah lanjutin masaknya aja! Aku bisa nyuci sambil baca majalah.”

 

Adjie tersenyum kecil. Ia memperhatikan puterinya yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam mesin. Kemudian, ia kembali ke dapur setelah Yuna duduk di sofa sambil menunggu mesin cuci yang bekerja sendiri.

 

Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di meja makan. Mereka menikmati makanan sambil berbincang banyak hal. Mereka sama-sama ingin menikmati hari-hari dengan tenang dan bahagia seperti ini.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan justru terlihat sangat gelisah karena sikap Yuna dan keluarganya yang begitu tenang. Ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Ia mencoba menghubungi Lonan beberapa kali, tapi tetap tidak bisa tersambung.

 

Di menit berikutnya, Melan menerima panggilan telepon dari Lonan. Ia langsung tersenyum lebar begitu nomor Lonan tertera di layar ponselnya.

 

“Halo ...!” sapa Melan begitu ia menjawab panggilan telepon dari Lonan.

 

“Halo ...! Gimana di sana? Ada yang curiga?” tanya Lonan.

 

“Kamu tenang aja! Suamiku bisa dikendalikan,” jawab Melan sambil tersenyum.

 

“Baguslah. Aku butuh uang, sekarang!”

 

“Berapa?” tanya Melan.

 

“Cukup untuk aku makan dan tidur sebulan ke depan,” jawab Lonan santai.

 

“Oke. Aku antar ke mana uangnya?” tanya Melan.

 

“Aku sekarang ada di Malang. Kamu transfer aja uangnya.”

 

“Malang? Kenapa di sana?”

 

“Aku kabur. Ada dua orang laki-laki ngejar aku terus sepanjang hari. Kamu pikir, aku mau membahayakan diriku sendiri dengan menetap di Surabaya?”

 

Melan menghela napas. “Aku nggak bisa kasih uang dengan transfer. Suamiku, bisa melacak transaksi rekeningku. Lebih baik, kita ketemu langsung.”

 

“Oke. Aku di Swiss-Bell Malang. Cepetan ke sini!” perintah Lonan.

 

“Iya, aku ke sana sekarang!” Melan segera mematikan panggilan teleponnya. Ia bersiap-siap untuk menemui Lonan agar bisa membungkam mulut pria itu.

 

Sebelum menuju ke kota Malang, Melan terlebih dahulu pergi ke salah satu Bank untuk mengambil uang yang ia butuhkan. Ia tidak ingin jejak kejahatannya kali ini terungkap. Ia harus bisa membuat Lonan mengorbankan semua untuknya seperti yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.

 

Melan keluar dari gedung bank swasta sambil tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia karena Lonan kembali dalam hidupnya dan bersedia membantu dirinya melakukan banyak hal. Meski ia masih sedikit khawatir dengan keadaan Lonan, mendengar semua baik-baik saja ... ia sudah merasa tenang.

 

“Mau ke mana, Tante?”

 

Melan langsung menghentikan langkah dan melebarkan kelopak matanya menatap wajah Yeriko yang sudah berdiri menghadangnya.

 

Yeriko tersenyum dingin sambil melipat kedua tangan di dadanya.

 

Melan memaksa bibirnya untuk tersenyum ke arah Yeriko. “Aku mau ke mana aja, bukan urusan kamu!”

 

Yeriko tersenyum sinis. Tangan kirinya membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya, sedang tangan satunya menarik lengan Melan dan mendorong tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil.

 

“Kamu mau apa!?” seru Melan. Ia menoleh ke arah dua pria berjas yang duduk di kursi depan. “Kalian siapa?”

 

“Kami pengawal Tuan Ye,” jawab pria yang ada di dalam mobil itu.

 

Yeriko tersenyum, ia masuk ke dalam mobil dan duduk santai di sebelah Melan.

 

“Kamu mau nyulik saya, hah!?” seru Melan.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Aku nggak akan dapet keuntungan dengan menculik Tante Melan. Aku cuma mau bermain-main sebentar saja.”

 

“Maksud kamu?” Melan mengernyitkan dahi sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap tajam ke arah Melan. Tatapannya bersiap menerkam tubuh Melan dan membuat Melan gemetaran.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kenapa kamu culik aku?” tanya Melan dengan bibir bergetar.

 

“Aku cuma mau main-main. Sudah lama, aku nggak punya mainan yang begitu asyik dan mendebarkan,” jawab Yeriko sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya.

 

Melan langsung meraih handle pintu mobil. Ia melemparkan tas tangannya ke wajah Yeriko dan berlari keluar dari mobil.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia meraih tas tangan milik Melan. Ia buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas tersebut. “Jalan, Pak!” perintahnya pada supir yang mengawalnya.

 

Supir itu mengangguk. Ia langsung menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap ponsel yang sudah ada di tangannya. Ia membuka kaca mobil dan melemparkan tas Melan keluar dari mobilnya. “Aku akan ikuti permainan kamu,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Yeriko merogoh kantong plastik yang ada di sakunya dan memasukkan ponsel Melan ke dalamnya. Ia melepas sarung tangan yang menutupi tangannya sambil tersenyum puas. Ia ingin semuanya berada di bawah kendalinya, termasuk menghancurkan kehidupan Melan secara perlahan.

 

 

((Bersambung ...))



 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas