Arjuna terus tersenyum sambil
memainkan kunci mobil begitu ia selesai memarkirkan mobilnya. Ia melangkahkan
kakinya sambil bersenandung dan menari kegirangan menuju ke lantai
apartemennya.
“Kamu dari mana?” tanya
seorang wanita yang sudah menunggu Arjuna di depan pintu apartemennya.
Arjuna mengangkat kedua
alisnya. “Kamu udah lama di sini?”
Wanita itu menganggukkan
kepala. “Kamu dari mana?” tanyanya sekali lagi. “Kamu lupa kalau hari ini ada
janji makan siang bareng aku?”
Arjuna langsung menepuk
dahinya. “Iya, aku lupa. Gimana, kalau aku ganti besok?” tanyanya.
Wanita itu terus menatap
Arjuna yang menyunggingkan senyum dan terlihat sangat bahagia. Sejak kecil,
mereka selalu bersama ... namun, baru kali ini ia melihat wajah Arjuna begitu
ceria setelah sekian lama.
“Kamu ngapain aja siang ini?”
tanya wanita itu.
“Aku? Menikmati hidup,
seperti biasa,” jawab Arjuna sambil membuka pintu apartemennya.
“Kamu punya mainan baru
lagi?” tanya wanita itu sambil mengikuti langkah Arjuna memasuki apartemennya.
“Mmh ... bukan mainan. Tapi,
cukup menyenangkan,” jawab Arjuna sambil tersenyum manis membayangkan wajah
Yuna yang baru saja bersamanya.
Wanita itu menatap Arjuna
yang begitu terlihat bahagia. Semenjak papanya meninggal setahun lalu, ia tidak
pernah melihat Arjuna tersenyum. Ia merasa tertohok karena telah menemani
Arjuna bertahun-tahun, tapi tetap tidak bisa membuat Arjuna meliriknya.
“Kamu nggak sibuk hari ini?”
tanya Arjuna.
Wanita itu menggelengkan
kepala. “Nanti malam, kita makan bareng, yuk! Gimana?”
“Ntar malam aku di klub. Kamu
ke klub aja!”
Wanita itu menghela napas. Ia
tidak suka menghampiri Arjuna di klub karena terlalu berisik, tidak ada waktu
untuk bicara berdua saja.
“Vina, aku mau tidur. Kalau
nggak ada yang mau kamu urus di sini, lebih baik kamu pulang!” pinta Arjuna.
Wanita muda bernama Vina itu
langsung mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan berbalik, melangkah keluar
dari apartemen Arjuna. Ia sangat kesal karena Arjuna tetap saja menganggapnya
sebagai teman biasa walau banyak hal yang sudah ia lakukan untuk pria itu.
...
Yuna terkejut saat melihat
suaminya sudah ada di dalam rumah saat ia kembali dari makan siangnya.
“Ay, kamu udah pulang?” tanya
Yuna sambil menghampiri Yeriko yang duduk di sofa sambil membaca majalah.
“Kenapa? Nggak boleh pulang
cepat?” tanya Yeriko balik tanpa menoleh ke arah Yuna.
Yuna menahan tawa melihat
sikap suaminya. “Kamu cemburu?”
Yeriko langsung melirik tajam
ke arah Yuna. “Kamu pergi makan siang sama pria lain, gimana aku nggak
cemburu?”
Yuna tersenyum, ia
menghampiri Yeriko dan duduk di sebelahnya. “Ay, aku kan udah bilang kalau aku
mau makan siang sama Arjuna. Aku punya hutang budi sama dia. Nggak ada maksud
lain.”
“Kamu nggak ada maksud lain.
Gimana sama dia?” tanya Yeriko.
“Kamu cemburu sama anak-anak?
Dia itu jauh lebih muda dari aku. Baru dua puluh tahun. Mana ada anak muda yang
mau sama perempuan yang lebih tua dan dalam keadaan hamil seperti aku. Udahlah,
jangan cemburuan terus!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di bahu Yeriko.
Yeriko melirik wajah Yuna
yang begitu dekat dengan pipinya. “Kamu jangan berkeliaran di luar sana sama
pria lain. Gimana kalau ada yang fotoin kamu dan dijadiin headline koran atau
majalah? Kamu harus tahu posisi kamu sekarang!”
Yuna menghela napas. Ia
mengangguk-anggukkan kepala. Ia tidak bisa membantah apa pun ucapan suaminya.
Hanya bisa menuruti agar tidak membuat mereka bertengkar hanya karena masalah
kecil.
Yeriko langsung merengkuh
kepala Yuna ke dalam pelukannya. Pikirannya masih terganggu dengan kehadiran
Arjuna yang masih sangat muda dan tampan. “Kehadiran Lian dan Andre aja sudah
bikin aku kesal. Sekarang, datang lagi pria muda yang mau deketin kamu. Ck,
kenapa sainganku semakin bertambah? Padahal, kamu sudah hamil seperti ini. Apa
cowok-cowok zaman sekarang lebih senang mengincar istri orang?”
Yuna tertawa kecil sambil
menatap wajah Yeriko. “Perasaan kamu aja. Mereka pria yang normal. Wilian sudah
punya istri, Andre juga sudah punya tunangan. Kamu nggak perlu berpikir terlalu
jauh!” pinta Yuna.
Yeriko memperhatikan wajah
Yuna. “Oh ya, kenapa kamu nggak pernah cemburu sama aku?”
“Cemburu? Sering. Tapi aku
nggak posesif kayak kamu.”
“Posesif? Emangnya aku
posesif?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan kepala.
“Nggak, kok. Kamu nggak posesif. Cuma ...”
“Cuma apa?”
“Cuma ... cemburunya kayak
Merapi lagi erupsi,” jawab Yuna sambil tertawa.
Yeriko hanya tersenyum kecil
sambil menatap wajah Yuna. “Kamu yang senang bikin aku erupsi.”
Yuna terkekeh mendengar
ucapan Yeriko. “Oh, ya ... besok ayah udah boleh keluar dari rumah sakit. Kita
jemput dia, gimana?”
“Jam berapa?” tanya Yeriko.
“Mmh ... mungkin, setelah jam
makan siang. Katanya, setelah kunjungan dokter. Biasanya, dokter periksa ayah
jam sepuluhan. Jadi, kita jemput dia setelah jam makan siang. Gimana?”
“Aku ada jadwal meeting
setelah makan siang. Gimana kalau minta temenin Angga?”
“Angga lagi temenin Mama
Rully ke Jakarta. Dia nggak ada di sini.”
“Oh. Aku suruh Riyan.
Soalnya, aku nggak bisa tinggalin meetingku kali ini.”
Yuna mengangguk-anggukkan
kepala. “Aku ngerti, kok.”
“Setelah ini, kamu jangan
keluar rumah lagi ya!” pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala.
“Kalau kamu bosan sendirian,
panggil Jheni atau Icha ke sini!”
“Siap, Bos!”
Yeriko tersenyum sambil
mengecup kening Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena memiliki istri yang mau
mematuhi keinginannya.
Keesokan harinya ...
Yuna menjemput ayahnya yang
sudah sembuh dan membawanya kembali ke apartemen.
“Yah, mau makan apa?” tanya
Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam apartemen Adjie.
“Ayah sudah sembuh. Kamu
nggak perlu masak untuk Ayah. Kali ini, Ayah yang akan masakin kamu.”
“Jangan, dong! Biar aku yang
masak untuk ayah!” pinta Yuna.
“Kamu lagi hamil. Banyak
istirahat! Jangan sampai kelelahan!” pinta Adjie lembut.
Yuna tersenyum sambil menatap
wajah ayahnya. “Oke. Kalau gitu, hari ini aku akan makan semua masakan ayah.”
Adjie mengangguk-anggukkan
kepala. “Kamu duduk aja!”
Yuna menganggukkan kepala. Ia
memberikan kesempatan pada ayahnya untuk memasak. Sementara, ia masuk ke kamar
Adjie untuk melipat pakaian ayahnya dan merapikan ke dalam lemari. Ia juga
membawa pakaian kotor yang dibawa dari rumah sakit dan membawanya ke dalam
kamar mandi.
Adjie langsung berlari ke
kamar mandi begitu melihat Yuna membawa pakaian kotor ke dalamnya. “Biar Ayah
cuci sendiri! Kamu duduk aja!” pinta Adjie.
“Nggak papa, Yah. Nyuci juga
pakai mesin. Ayah lanjutin masaknya aja! Aku bisa nyuci sambil baca majalah.”
Adjie tersenyum kecil. Ia
memperhatikan puterinya yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam mesin.
Kemudian, ia kembali ke dapur setelah Yuna duduk di sofa sambil menunggu mesin
cuci yang bekerja sendiri.
Beberapa menit kemudian,
mereka berdua sudah berada di meja makan. Mereka menikmati makanan sambil
berbincang banyak hal. Mereka sama-sama ingin menikmati hari-hari dengan tenang
dan bahagia seperti ini.
...
Di tempat lain ...
Melan justru terlihat sangat
gelisah karena sikap Yuna dan keluarganya yang begitu tenang. Ia tidak bisa
menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Ia mencoba menghubungi Lonan
beberapa kali, tapi tetap tidak bisa tersambung.
Di menit berikutnya, Melan
menerima panggilan telepon dari Lonan. Ia langsung tersenyum lebar begitu nomor
Lonan tertera di layar ponselnya.
“Halo ...!” sapa Melan begitu
ia menjawab panggilan telepon dari Lonan.
“Halo ...! Gimana di sana?
Ada yang curiga?” tanya Lonan.
“Kamu tenang aja! Suamiku
bisa dikendalikan,” jawab Melan sambil tersenyum.
“Baguslah. Aku butuh uang,
sekarang!”
“Berapa?” tanya Melan.
“Cukup untuk aku makan dan
tidur sebulan ke depan,” jawab Lonan santai.
“Oke. Aku antar ke mana
uangnya?” tanya Melan.
“Aku sekarang ada di Malang.
Kamu transfer aja uangnya.”
“Malang? Kenapa di sana?”
“Aku kabur. Ada dua orang
laki-laki ngejar aku terus sepanjang hari. Kamu pikir, aku mau membahayakan
diriku sendiri dengan menetap di Surabaya?”
Melan menghela napas. “Aku
nggak bisa kasih uang dengan transfer. Suamiku, bisa melacak transaksi
rekeningku. Lebih baik, kita ketemu langsung.”
“Oke. Aku di Swiss-Bell
Malang. Cepetan ke sini!” perintah Lonan.
“Iya, aku ke sana sekarang!”
Melan segera mematikan panggilan teleponnya. Ia bersiap-siap untuk menemui
Lonan agar bisa membungkam mulut pria itu.
Sebelum menuju ke kota
Malang, Melan terlebih dahulu pergi ke salah satu Bank untuk mengambil uang
yang ia butuhkan. Ia tidak ingin jejak kejahatannya kali ini terungkap. Ia
harus bisa membuat Lonan mengorbankan semua untuknya seperti yang sudah
dilakukan selama bertahun-tahun.
Melan keluar dari gedung bank
swasta sambil tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia karena Lonan kembali
dalam hidupnya dan bersedia membantu dirinya melakukan banyak hal. Meski ia
masih sedikit khawatir dengan keadaan Lonan, mendengar semua baik-baik saja ...
ia sudah merasa tenang.
“Mau ke mana, Tante?”
Melan langsung menghentikan
langkah dan melebarkan kelopak matanya menatap wajah Yeriko yang sudah berdiri
menghadangnya.
Yeriko tersenyum dingin
sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Melan memaksa bibirnya untuk
tersenyum ke arah Yeriko. “Aku mau ke mana aja, bukan urusan kamu!”
Yeriko tersenyum sinis.
Tangan kirinya membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya, sedang tangan
satunya menarik lengan Melan dan mendorong tubuh wanita itu masuk ke dalam
mobil.
“Kamu mau apa!?” seru Melan.
Ia menoleh ke arah dua pria berjas yang duduk di kursi depan. “Kalian siapa?”
“Kami pengawal Tuan Ye,”
jawab pria yang ada di dalam mobil itu.
Yeriko tersenyum, ia masuk ke
dalam mobil dan duduk santai di sebelah Melan.
“Kamu mau nyulik saya, hah!?”
seru Melan.
Yeriko tersenyum sambil
menatap wajah Melan. “Aku nggak akan dapet keuntungan dengan menculik Tante
Melan. Aku cuma mau bermain-main sebentar saja.”
“Maksud kamu?” Melan
mengernyitkan dahi sambil menatap wajah Yeriko.
Yeriko tersenyum sambil
menatap tajam ke arah Melan. Tatapannya bersiap menerkam tubuh Melan dan
membuat Melan gemetaran.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa.
Kenapa kamu culik aku?” tanya Melan dengan bibir bergetar.
“Aku cuma mau main-main. Sudah
lama, aku nggak punya mainan yang begitu asyik dan mendebarkan,” jawab Yeriko
sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
Melan langsung meraih handle
pintu mobil. Ia melemparkan tas tangannya ke wajah Yeriko dan berlari keluar
dari mobil.
Yeriko tersenyum sinis. Ia
meraih tas tangan milik Melan. Ia buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas
tersebut. “Jalan, Pak!” perintahnya pada supir yang mengawalnya.
Supir itu mengangguk. Ia
langsung menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.
Yeriko tersenyum sambil
menatap ponsel yang sudah ada di tangannya. Ia membuka kaca mobil dan
melemparkan tas Melan keluar dari mobilnya. “Aku akan ikuti permainan kamu,”
ucapnya sambil tersenyum.
Yeriko merogoh kantong
plastik yang ada di sakunya dan memasukkan ponsel Melan ke dalamnya. Ia melepas
sarung tangan yang menutupi tangannya sambil tersenyum puas. Ia ingin semuanya
berada di bawah kendalinya, termasuk menghancurkan kehidupan Melan secara
perlahan.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment