Di hari berikutnya, Yuna kembali ke rumah sakit
untuk menemani ayahnya.
“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Adjie saat
melihat Yuna masuk seorang diri ke ruang rawatnya.
“Diantar sama supir. Ayah makan dulu, ya!” pinta
Yuna sambil meletakkan termos makanan ke atas meja dan membukanya perlahan.
“Yeriko kerja?” tanya Adjie.
Yuna menganggukkan kepala.
“Kamu nggak antar makan siang untuk dia?” tanya
Adjie lagi.
Yuna menggelengkan kepala. “Hari ini, dia ada
jadwal makan siang sama kliennya. Jadi, aku nggak antar makan siang ke kantor.”
“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepala tanda
mengerti.
“Ayah makan, ya!” pinta Yuna sambil menyendok
makanan yang ia bawa.
“Ayah bisa makan sendiri,” tutur Adjie sambil
meraih tempat makan dari tangan Yuna.
Yuna tersenyum sambil menatap ayahnya yang sudah
membaik. Ia menemani ayahnya sambil bercerita banyak hal.
“Yah, Yuna pulang dulu ya!” pamit Yuna sambil
mengemas tempat bekal yang ia bawa, usai ayahnya selesai makan.
Adjie menganggukkan kepala. “Istirahatlah di
rumah! Kamu lagi hamil, harus banyak istirahat.”
Yuna tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. “Kata
dokter, aku harus banyak bergerak supaya bisa melahirkan secara normal dengan
mudah. Aku sudah bersantai-santai sepanjang hari, Yah. Suamiku terlalu
memanjakanku.”
Adjie tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Ayah
senang karena kamu mendapatkan suami yang sangat baik dan bertanggung jawab.”
“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan selalu hidup
dengan baik.”
“Bundamu pasti bangga melihat anak gadis
kesayangannya sudah dewasa dan hidup bahagia.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang
dulu, Yah! Ayah cepet sembuh ya,” pamitnya sambil mengecup kening ayahnya.
Adjie menganggukkan kepala. “Hati-hati di jalan!
Sudah dijemput supir?”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak mungkin
bilang ke ayah kalau aku naik taksi. Ntar ayah khawatir. Yeriko dan Angga lagi
sibuk banget,” batinnya dalam hati.
“Ya sudah, hati-hati ya! Sampai rumah langsung
istirahat!”
Yuna mengangguk. Ia bergegas keluar dari ruang
rawat ayahnya dan melangkah menyusuri koridor rumah sakit.
“Hai ...! Gimana kabar ayah kamu?” sapaan
seseorang menghentikan langkah kaki Yuna.
“Kamu!? Yang kemarin nolongin ayahku?” tanya Yuna
dengan mata berbinar.
Arjuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Makasih ya sudah bantu ayahku. Maaf, aku belum
sempat nyari kamu untuk berterima kasih. Aku akan secepatnya menyempatkan waktu
untuk membalas budi.”
Arjuna tersenyum menatap wajah Yuna. “Mau balas
budi?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Balas budi pakai apa?” tanya Arjuna.
“Kamu mau apa?” tanya Yuna.
“Aku nggak mau dibayar pakai uang atau barang,”
jawab Arjuna sambil tersenyum.
“Maksud kamu ...!?” Yuna langsung melebarkan
kelopak matanya menatap Arjuna.
Arjuna tertawa kecil. “Jangan negatif thinking
dulu!” pintanya. “Aku pria yang tampan dan bermartabat,” lanjutnya penuh
percaya diri.
Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan pria
muda yang ada di hadapannya itu.
“Hutang uang dibayar uang, hutang barang dibayar
barang, hutang jasa dibayar jasa. Gimana?” tanya Arjuna.
“Oh ... oke. Aku ngerti. Kamu mau, aku melakukan
apa buat kamu?”
Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna.
“Temenin aku makan siang! Gimana?”
“Makan siang doang?” tanya Yuna.
Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Boleh. Sekarang?”
Arjuna menganggukkan kepala. Ia segera mengajak
Yuna keluar dari rumah sakit dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Yuna menarik napas dalam-dalam saat ia sudah ada
di dalam mobil. Ia merogoh ponsel dan meninggalkan pesan singkat untuk
suaminya.
“Nama kamu siapa?” tanya Arjuna sambil menyalakan
mesin mobil dan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari parkiran.
“Ayuna, panggil aja Yuna!”
“Oke.” Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Oh ya? Nama kamu siapa ya? Aku lupa,” tanya Yuna
sambil berusaha mengingat nama pria itu.
“Arjuna. Panggil Arjun!”
“Oh, iya. Arjun ya? Arjun ...” tutur Yuna lirih
sambil berusaha mengingat-ingat nama Arjuna.
“Panggil Juna juga boleh, supaya sama dengan kamu
... Yuna.”
Yuna tertawa kecil. “Kamu bisa aja. Siapa tahu,
kita bisa jadi saudara. Kamu ganteng banget. Aku pasti seneng kalau punya adik
ganteng kayak kamu.”
“Aku cocok jadi adik kamu?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Apa aku harus manggil kamu dengan panggilan
kakak?” tanya Arjuna.
“Boleh,” jawab Yuna sambil tertawa.
Arjuna hanya tersenyum kecil. Ia sesekali melirik
wajah Yuna yang duduk di sisinya. “Kamu hamil berapa bulan?”
“Tujuh,” jawab Yuna.
“Oh. Udah lama nikahnya?”
“Setahun. Kamu sendiri, sudah punya pacar?” tanya
Yuna.
Arjuna menggelengkan kepala.
“Kenapa? Kamu masih muda dan ganteng banget. Masa
nggak punya pacar? Aku nggak percaya,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.
Arjuna hanya melirik Yuna sambil menghela napas.
“Belum dapet yang pas.”
“Emangnya mau yang kayak gimana? Siapa tahu, aku
bisa bantu jadi jasa mak comblang. Supaya aku bisa lunasin hutang jasaku ke
kamu.”
“Hahaha. Aku nggak perlu mak comblang. Laki-laki
harus bisa mendapatkan wanita impian dengan kemampuannya sendiri.”
“Oh ... ya, ya, ya,” sahut Yuna sambil
manggut-manggut. “Laki-laki selalu menjaga harga dirinya yang super tinggi itu.
Oh ya, kamu tinggal di mana?”
“Di Gunung Arjuna.”
“Hah!?”
“Bercanda,” ucap Arjuna sambil tertawa kecil. “Aku
tinggal di salah satu apartemen di Pakuwon.”
“Mmh ... kayaknya, waktu itu bilang kalau kamu
pemilik Arjuna Club ya?” tanya Yuna.
Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Masih semuda ini, kamu sudah bisnis klub malam?”
tanya Yuna.
“Emangnya kenapa?”
“Sejak usia berapa belajar soal dunia malam?”
Arjuna tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku
cuma nerusin bisnis almarhum Papa.”
“Oh, Sorry ...! Aku nggak tahu kalau ...”
“Nggak masalah. Santai aja! Papaku meninggal
setahun lalu. Mamaku ... dia sudah meninggal sejak aku masih kecil. Aku sudah
terbiasa hidup di klub bareng Papa.”
Yuna mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Ia tidak ingin membuka kesedihan Arjuna karena kehilangan. Sebab, ia juga
pernah merasakan kehilangan seorang ibu.
“Kamu masih muda dan cantik, kenapa memilih
menjadi seorang ibu muda?” tanya Arjuna.
Yuna mengangkat kedua alisnya. “Apa aku kelihatan
masih muda? Aku rasa, masih lebih muda kamu. Berapa usia kamu, sekarang?”
“Dua puluh tahun.”
Yuna terkekeh mendengar jawaban Arjuna.
“Kenapa ketawa?” tanya Arjuna.
“Kamu itu lima tahun lebih muda dari aku. Gimana
bisa kamu ngatain aku masih muda? Kalau cantiknya ... bolehlah.”
“Penampilan kamu masih seperti gadis umur enam
belas tahun.”
“Oh ya? Masa sih? Gimana kalau gadis enam belas
tahun ini manggil kamu ‘Adik’?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.
Arjuna tertawa kecil. “Adik kecil ini juga bisa
bikin adik.”
Yuna melebarkan kelopak matanya. Ia yang tadinya
tersenyum sambil menatap Arjuna, tiba-tiba berubah menjadi khawatir karena ia
hanya berduaan dengan Arjuna. Otaknya yang liar, mulai berpikir yang
tidak-tidak.
Arjuna hanya tersenyum kecil melihat sikap Yuna
yang salah tingkah. Ia terus melajukan mobilnya menuju salah satu restoran
mewah yang berada di pusat kota.
Begitu sampai di restoran, Arjuna mengajak Yuna
masuk ke dalam private room di restoran tersebut.
“Kenapa harus makan di private room?” tanya Yuna
saat ia melangkah masuk ke dalam private room tersebut.
“Biar lebih leluasa,” jawab Arjuna santai.
“Biar nggak ketahuan orang lain kalau kamu bawa
makan siang seorang wanita hamil?”
“Hahaha. Bukan gitu. Aku nggak suka kalau jadi
pusat perhatian orang banyak. Aku terlalu tampan berada di luar sana.”
Yuna tergelak mendengar ucapan Arjuna.
Arjuna tersenyum. Ia memanggil pelayan dan memesan
makanan untuk mereka tanpa bertanya makanan apa yang diinginkan Yuna.
Beberapa menit kemudian, semua menu yang dipesan
Arjuna sudah terhidang di atas meja.
Mata Yuna berbinar saat melihat semua makanan
kesukaannya ada di atas meja. “Wah, selera kita sama?”
Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna yang
begitu ceria. “Makanlah! Aku sengaja pesan banyak makanan karena kamu berbadan
dua. Makannya pasti lebih banyak.”
“Hahaha. Nggak gitu juga. Bukannya hari ini, aku
yang traktir kamu makan? Kamu yang harus makan lebih banyak!”
Arjuna mengangguk-anggukkan kepala. Mereka
menikmati makan siang bersama dalam private room tersebut. Namun, Arjuna tak
begitu menikmati makanan yang ada di hadapannya, ia lebih sibuk menikmati wajah
Yuna yang makan dengan lahap.
“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Kamu nggak makan?”
“Aku udah kenyang,” jawab Arjuna sambil tersenyum.
Yuna tertawa kecil. Ia segera menghentikan
makannya.
“Kenapa?”
“Huft, hari ini aku yang traktir kamu makan siang.
Kenapa aku yang makan lebih banyak?”
Arjuna tertawa kecil. “Aku nggak bisa makan
banyak.”
“Kenapa pesan makan sebanyak ini?” tanya Yuna.
“Buat kamu yang lagi hamil.”
“Makasih ...!” ucap Yuna sambil tersenyum manis.
Ia memanggil pelayan untuk membayar semua tagihan makan siang mereka.
“Biar aku yang bayar!” pinta Arjuna sambil
memberikan kartu pada pelayan restoran tersebut saat Yuna baru saja
mengeluarkan dompetnya.
“Eh!?” Yuna langsung melebarkan kelopak matanya.
“Bukannya, hari ini aku yang harusnya traktir kamu?” tanyanya sambil menatap
wajah Arjuna. Pandangannya kemudian beralih pada pelayan yang sudah berdiri di
sebelah mejanya.
“Pakai punya saya aja, Mbak!” pinta Yuna sambil
menyodorkan kartu ke arah pelayan tersebut.
Pelayan itu menatap wajah Arjuna dan Yuna
bergantian.
Arjuna langsung mengisyaratkan pelayan itu keluar
dari ruangan itu.
Pelayan itu mengangguk dan bergerak keluar dari
ruangan tersebut.
Yuna mengerutkan hidungnya menatap Arjuna. “Kenapa
malah kamu yang bayar makan?”
“Apa aku kelihatan seperti laki-laki yang
kekurangan uang? Aku paling benci, saat makan dibayarin sama perempuan.”
Yuna menghela napas. “Tapi, kali ini aku ingin
membalas budi karena kamu sudah menolong ayahku. Seharusnya, kamu nggak menolak
niat baikku dan keadaan ini bisa jadi pengecualian.”
Arjuna tersenyum sinis. “Aku cuma minta kamu
nemenin makan siang, bukan bayarin aku makan.”
Yuna menggigit bibirnya. Ia merasa kalau pria muda
yang ada di hadapannya itu cukup sulit dihadapi karena pendirian dan harga
dirinya begitu tinggi. “Kalau kayak gini, bukannya aku malah berhutang banyak?”
gumamnya.
Arjuna terus tersenyum sambil menatap wajah Yuna
yang begitu cantik meski tanpa riasan di wajahnya. Ia tak pernah merasakan
makan siang sebahagia ini. Melihat cara Yuna menikmati makanan, membuatnya
merasakan hal yang berbeda.
“Aku pulang dulu, ya!” pamit Yuna sambil bangkit
dari tempat duduknya. Aku nggak bisa ada di luar terlalu lama.
“Takut sama suami kamu?” tanya Arjuna.
“Eh!?”
Arjuna tersenyum kecil. “Suami kamu itu terlalu
mengekang kamu. Apa kamu bahagia jadi wanita yang dikurung dalam rumah?”
tanyanya sambil bangkit dari tempat duduk.
Yuna langsung menatap wajah Arjuna. “Maksud kamu?”
Arjuna hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan
Yuna. “Aku antar kamu pulang.”
“Nggak usah! Aku bisa naik taksi,” sahut Yuna.
Arjuna tersenyum sambil menatap Yuna. “Aku suka
caramu menolak. Sepertinya ... kamu lebih menikmati hidup dalam sangkar
daripada terbang bebas menikmati keindahan di luar sana.”
Yuna tersenyum sinis. Ia mulai mengerti maksud
dari kalimat yang keluar dari mulut Arjuna. “Aku sudah pernah merasakan terbang
bebas di luar sana. Bukan hanya menikmati keindahan, tapi juga menantang
bahaya. Burung cantik sepertiku, terlalu berbahaya berada di luar karena banyak
pemburu yang bersiap memangsaku.”
“Bukankah lebih baik aku jadi burung yang cantik
dan manis bersama tuanku? Aku bisa makan dan tidur dengan baik, aku juga sering
diajak keluar untuk menikmati keindahan di bawah perlindungan dia,” lanjut Yuna
sambil tersenyum manis.
Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna.
Mendengar tanggapan Yuna, membuat ia semakin mengagumi karakter Yuna.
“Aku pulang dulu! Terima kasih untuk traktirannya.
Aku nggak akan lupa dengan kebaikanmu dan pasti membalas semuanya,” pamit Yuna.
Ia berbalik dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Arjuna tersenyum kecil. Ia terus mengikuti langkah
kaki Yuna dari belakang hingga wanita itu berdiri di tepi jalan.
“Kenapa ngikutin aku?” tanya Yuna saat Arjuna
berdiri di hadapannya.
“Aku harus pastikan kalau kamu sampai ke rumah
dalam keadaan baik,” jawab Arjuna. Ia menghentikan taksi yang kebetulan
melintas di hadapannya.
“Makasih!” ucap Yuna. Ia bergegas membuka pintu
taksi dan masuk ke dalamnya.
Arjuna juga dengan cepat masuk ke dalam taksi
tersebut.
“Kamu!?” Yuna membelalakkan matanya begitu melihat
Arjuna sudah duduk di sampingnya.
Arjuna tersenyum kecil sambil menatap Yuna.
“Jalan, Pak!” perintahnya pada supir taksi tersebut.
Yuna menghela napas. “Dasar bocah! Kamu ini
terlalu kekanak-kanakkan!”
“Aku yang bawa kamu keluar. Kalau ada apa-apa,
suami kamu bisa membahayakan buat aku. Aku pastikan kamu sampai di rumah dengan
selamat, baru bisa tidur dengan tenang,” tutur Arjuna sambil melipat kedua
tangan di dada sambil memejamkan mata. Ia menyandarkan kepalanya dan terlihat
sangat santai menikmati perjalanan menuju ke rumah Yuna.
Yuna menghela napas. Ia tidak ingin berdebat
dengan orang yang telah membantunya. Ia memilih untuk diam sepanjang
perjalanan, sesekali melirik pria muda yang ada di sebelahnya itu. Ia tidak
tahu bagaimana cara membalas budi pada pria muda yang sulit untuk ia pahami
keinginannya.
((Bersambung ...))
Sapa aku
terus di kolom komentar, biar aku makin
semangat nulisnya. Walau nggak sempat balas satu per satu, tapi aku selalu baca
dan bikin aku semangat!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment