Thursday, March 5, 2026

THEN LOVE BAB 60: KEHANGATAN CAHAYA DI BATU DINDING

 


BAB 60

KEHANGATAN CAHAYA DI BATU DINDING

 

Jingga perlahan-lahan berganti pekat malam. Delana dan Hesa masih duduk bersama menikmati langit jingga yang perlahan berganti malam bertaburan bintang-bintang.

“Kak, kira-kira si Alan sama Dhanu nyariin kita nggak ya?” tanya Delana.

“Mereka udah tahu.”

“Tahu dari mana?” tanya Delana.

“Aku udah sms.”

“Emangnya di sini ada signal?”

“Ada kalo buat telepon atau sms. Kalo buat internet nggak bisa.”

“Oh. Bagus, deh! Rasanya, aku nggak mau beranjak dari sini. Terlalu indah buat aku lewatkan,” tutur Delana.

“Kamu udah sering ke sini?” tanya Hesa. Ia menggeser duduknya menghadap ke arah Delana.

“This is first time,” jawab Delana sambil tersenyum.

Hesa tersenyum. Ada banyak hal yang membuatnya begitu mengagumi Delana. Ia semakin tidak bisa menahan diri untuk berdekatan dengan gadis itu.

“Berarti, aku cowok yang beruntung karena bisa menemani kamu melakukan hal pertama kali dalam hidupmu,” tutur Hesa sambil tersenyum.

Delana melirik ke arah Hesa yang menatapnya. Ia tersenyum dan berkata, “pede amat!”

Hesa tertawa kecil. “Ya harus pede buat dapetin cewek secantik kamu.”

Delana mengernyitkan dahinya. “Nggak usah ngegombal!” Delana menepuk paha Hesa.

Hesa menarik napas begitu pahanya ditepuk oleh tangan Delana. Bukan karena kesakitan. Tapi karena ia merasa darahnya tiba-tiba mengalir begitu cepat dan tak bisa ia kendalikan.

“Kak, cewekmu ada berapa sekarang?” tanya Delana.

“Eh!? Nggak ada,” jawab Hesa sambil menggelengkan kepalanya.

Delana tertawa kecil menatap Hesa. “Masa cowok playboy kayak Kakak nggak punya pacar? Mustahil!”

“Sueerr!!” sahut Hesa sambil mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya bersamaan.

“Mmh ... jangan bilang kalo aku bakal jadi korban selanjutnya!?” dengus Delana sambil menahan tawa.

“Korban apaan?”

“Korban perasaan.”

“Astaga ...! Kamu ini berprasangka buruk terus sama aku. Aku tuh setia.”

“Preett!!! Setia – Setiap tikungan ada!”

Hesa tertawa kecil menatap wajah Delana yang terlihat sangat menggemaskan.

“Kalo sama kamu, nggak berani aku macam-macam. Aku pasti setia.”

“Duh, Kak. Jangan gombalin aku, deh! Nggak bakalan mempan,” sahut Delana.

“Aku nggak ngegombal, Dek.”

Delana hanya tertawa kecil. Ia tak lagi menghiraukan candaan Hesa. Ia menengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang yang ada di langit.

“Kenapa sih kamu percaya gosip tentang aku tanpa kamu cari tahu dulu kebenarannya?” tanya Hesa.

Delana menahan tawa. “Kebenaran seperti apa yang harus aku cari tahu?”

Hesa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Delana tertawa kecil dan menoleh ke arah Hesa. Ia terpaku karena tiba-tiba senyuman dan mata Chilton menatapnya begitu hangat. Ia rindu dengan tatapan itu. Andai cowok itu adalah Chilton sungguhan, dia adalah wanita paling bahagia di dunia ini.

Hesa tersenyum menatap wajah cantik Delana yang begitu indah diterpa cahaya bulan. Sejak pertama mereka bertemu, baru kali ini ia mendapati Delana menatapnya dengan hangat.

“Hei ...!” sapa Hesa sambil memetik jemarinya di depan wajah Delana.

Delana gelagapan dan semua lamunannya tentang Chilton pun buyar.

“Tumben ngelihatin aku kayak gitu? Apa aku kelihatan sepuluh kali lebih ganteng kalo malam kayak gini?” canda Hesa.

Delana tergelak. “Iya. Kak Hesa jauh lebih ganteng kalo nggak kelihatan!” serunya.

“Ngolok, ya!?” dengus Hesa sambil menggelitiki pinggang Delana.

Delana semakin tertawa geli. Ia berusaha menghindari jemari Hesa yang menggelitiki pinggangnya.

“Jangan ke mana-mana! Tenpat ini terlalu sempit buat berlari,” Hesa memeluk pinggang Delana agar ia tak beranjak dari tempatnya walau hanya satu sentimeter. Mereka berada di atas ketinggian lebih dari sepuluh meter dan tidak ingin mengambil resiko hanya karena Delana ingin menghindarinya.

Delana tertegun saat lengan tangan Hesa melingkar erat di pinggangnya. Ia tak menyangka kalau akan berada sedekat ini dengan Hesa. Cara Hesa menatapnya, sama seperti Chilton sehingga ia merasa begitu nyaman berada di samping Hesa.

“Sorry ...! Aku nggak mau kamu jatuh,” tutur Hesa sambil melepaskan pelukannya.

Delana tersenyum. “Nggak papa, Kak. Kita turun sekarang yuk!” ajak Delana sambil mengusap-usap lengannya.

“Dingin?” tanya Hesa sambil melepas jaketnya.

Delana meringis. “Nggak usah, Kak. Aku udah pake baju lengan panjang. Nggak terlalu dingin, kok. Nanti Kak Hesa malah kedinginan karna pake kaos pendek begitu.”

“Cowok punya suhu tubuh yang lebih tinggi daripada cewek. Aku nggak bakal kedinginan.” Hesa langsung meletakkan jaketnya di punggung Delana. “Ayo, kita turun!” ajak Hesa sambil menggenggam pundak Delana.

Delana menganggukkan kepala. “Makasih ya, Kak!”

Hesa tersenyum. Ia bangkit dan langsung menyalakan senter yang ada di ponselnya. “Jalan duluan!” pinta Hesa.

Delana menganggukkan kepala. Ia bangkit dan langsung berjalan perlahan-lahan menuruni bebatuan.

“Hati-hati!” pinta Hesa. Satu tangannya mengarahkan cahaya senter agar mempermudah langkah Delana. Sedang satu tangan lagi selalu siap siaga setiap kali Delana akan terjatuh.

Hesa menghela napas begitu sudah sampai di bawah. “Kenapa sih kamu suka tempat berbahaya kayak gini?”

“Bahaya apanya?” tanya Delana balik.

“Kalo jatuh, aku nggak tahu bakal jadi apa.” Hesa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tenang aja! Tempat ini udah dijadiin tempat wisata dan aku rasa pengelolanya udah bikin tempat ini aman untuk dikunjungi.”

“Ckckck. Kalo tahu tempatnya ekstrim banget kayak gini. Aku nggak bakal ngebiarin kamu pergi ke sini.”

“Jadinya nyesel antarin aku?”

“Eh!? Enggak.” Hesa menggelengkan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Delana tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya menuju tenda mereka. Di sana, ada Alan dan Dhanuar yang sudah duduk di depan api unggun sambil bermain gitar.

“Udah, Hes?” tanya Dhanuar.

“Udah apanya?” tanya Delana balik.

“Lihat sunsetnya,” jawab Dhanuar sambil tersenyum penuh arti.

“Udah,” jawab Delana. Ia masuk ke dalam tenda untuk mengambil jaket miliknya. Ia melepaskan jaket milik Hesa, kemudian memakai jaket miliknya sendiri.

Delana langsung keluar dari tenda dan mengembalikan jaket milik Hesa. “Makasih ya, Kak!” ucap Delana sambil menyodorkan jaket Hesa.

Hesa tersenyum, ia meraih jaket itu dan memakainya kembali.

“Kalian tadi nggak naik?” tanya Delana pada Dhanuar dan Alan.

“Nggak. Besok pagi aja kami lihat sunrise,” jawab Dhanuar.

“Masih ada air panasnya?” tanya Hesa ketika melihat dua gelas kopi sudah ada di samping Alan dan Dhanuar.

“Ada tuh di panci.” Dhanuar menunjuk panci dengan dagunya.

Hesa langsung membuka panci tersebut. Tapi, airnya hanya tinggal sedikit dan tidak terlalu panas. Ia mengambil botol berisi air mineral dan menumpahkannya ke panci. Kemudian memasak air kembali.

“Haus ya?” tanya Delana menghampiri Hesa.

“Jangan ke sini, panas!” seru Hesa.

Delana hanya tersenyum, ia berjongkok di samping Hesa. “Hangat, Kak.” Delana membuka telapak tangannya dan mengarahkannya ke api yang sedang menyala. Kemudian ia mengusapkannya ke pipi dan merasakan kehangatan.

Hesa tersenyum menatap Delana. Rasanya, ia ingin memeluk gadis itu dan merasakan kehangatan bersamanya.

Beberapa menit kemudian, air yang dimasak Hesa sudah mendidih.

“Udah menggurak, Kak!” seru Delana. Ia bangkit dan mengambil gelas, juga gula dan kopi yang berada di dalam box.

“Kamu ngopi juga?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Hesa ikut tersenyum. Ia menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah diisi gula dan kopi oleh Delana.

“Lan, aku udah ngantuk. Aku tidur duluan ya!” pamit Dhanuar bangkit dari tempat duduknya dan langsung masuk ke dalam tenda.

Alan menoleh ke arah Dhanuar yang tiba-tiba pergi. Kemudian menatap Delana dan Hesa yang sedang asyik berduaan. “Jadi obat nyamuk, dah,” gumamnya. Ia menyandarkan gitarnya dan ikut masuk ke dalam tenda bersama dengan Dhanuar.

“Loh? Mereka ke mana?” tanya Delana saat ingin duduk bersama Dhanuar dan Alan.

Hesa mengedikkan bahunya. “Udah pada ngantuk kali,” tuturnya. Ia langsung duduk di atas kayu.

“Tumben jam segini udah ngantuk,” celetuk Delana. Ia juga ikut duduk di samping Hesa.

Hesa meraih gitar milik Alan. “Kita nyanyi aja, yuk!”

“Nyanyi apa?” tanya Delana.

“Terserah kamu,” jawab Hesa.

“Terserah lagunya siapa ya?” tanya Delama sambil berpikir.

“Glen Fredly kayaknya,” jawab Hesa. Ia langsung memetik senar gitar. “Terserah, kali ini ... sungguh aku tak akan pernah peduli. Aku tak sanggup lagi, jalani cinta denganmu ...” Hesa menghentikan lagunya. “Nggak enak lagunya. Bagusnya nyanyi apa ya?”

Delana hanya tersenyum. “Suara Kakak bagus, kok. Kenapa nggak dilanjutin?”

“Nggak suka lagunya.” Ia menyandarkan gitarnya kembali dan mengambil gelas kopi untuk ia minum.

Delana juga ikut menyeruput kopi miliknya.

“Aargh ....!” teriak Delana saat melihat seekor ular kecil melintas di dekat kakinya. Ia langsung melompat ke pangkuan Hesa dan memeluk Hesa yang ada di sampingnya.

“Kenapa?” tanya Hesa bingung.

“Ada ular, Kak!” Delana menunjuk ular kecil yang masih berjalan di depan mereka.

Hesa tersenyum kecil. “Nggak papa, itu cuma ular lidi.”

“Tapi aku takut!” teriak Delana sambil memeluk pundak Hesa.

“Nggak papa. Itu ularnya udah pergi sendiri,” tutur Hesa sambil menepuk-nepuk pundak Delana.

“Kalo dia balik lagi gimana? Kalo masih ada banyak lagi ular yang lebih gede gimana?” Delana merengek ketakutan.

Hesa tertawa kecil. “Kamu tuh aneh. Mau camping tapi takut ular. Mereka nggak bakal ngapa-ngapain kalo nggak diganggu,” tutur Hesa.

“Tetep aja aku takut dipatok,” sahut Delana.

“Mana ada ular lidi matok,” sahut Hesa.

Delana mengerucutkan bibirnya. Ia melepas pelukannya dan bangkit. Tapi, Hesa justru menahannya agar ia tetap duduk di pangkuan Hesa.

Delana berusaha melepaskan diri dari tangan Hesa yang memeluk erat pinggangnya. “Lepasin, Kak! Aku berat!” seru Delana.

“Nggak,” sahut Hesa sambil tersenyum. “Tetaplah seperti ini, sebentar aja!” bisik Hesa.

Delana terdiam. Ia menatap wajah Hesa yang hanya berjarak sepuluh sentimeter dengan wajahnya.

Hesa terus tersenyum menatap wajah cantik Delana. Membuat jantung Delana berdegup begitu kencang. Ia tak pernah sedekat ini dengan laki-laki dan merasa begitu nyaman. Ia merasa, tatapan mata Hesa sama seperti Chilton dan memiliki kedekatan dengannya.

Jarak yang begitu dekat, membuat Hesa tidak bisa menahan keinginannya untuk mencium gadis itu. Perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Delana. Ia langsung mencium lembut bibir Delana dan gadis itu tidak menolaknya.

Otak Delana terasa kosong saat bibir Hesa menyentuh bibirnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini. Hesa mengulum lembut bibirnya dan ia hanya terdiam membeku.

Delana langsung mendorong tubuh Hesa dan bangkit begitu menyadari apa yang telah terjadi antara dia dan Hesa. Semuanya terjadi begitu cepat dan ia tak bisa mencegah suasana yang membuat mereka akhirnya berciuman.

“Sorry ... Kak!” tutur Delana. Ia kembali duduk di samping Hesa dan menyeruput kopi miliknya.

“Kenapa?” tanya Hesa sambil menatap Delana yang ada di sampingnya.

Tatapan Hesa kali ini benar-benar membuatnya gugup. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Entah kenapa ia membiarkan Hesa menciumnya begitu saja.

Hesa tertawa kecil. “Kamu belum pernah pacaran?”

“Eh!? Kok tahu?” tanya Delana sambil tersenyum kecut.

“Kamu nggak bisa ciuman,” jawab Hesa sambil tertawa kecil.

Delana mendelik ke arah Hesa. Ia mengerutkan hidungnya karena kesal. Bisa-bisanya ia diremehkan karena tidak pernah berciuman sama sekali.

Hesa tersenyum kecil menatap Delana. “Mau aku ajarin ciuman yang enak?”

Delana menggelengkan kepalanya.

“Serius nggak mau? Aku bisa jadi guru yang baik. Setidaknya, kamu nggak mengecewakan cowok yang kamu sukai,” tutur Hesa.

“Apaan sih!? Nggak lucu!” dengus Delana.

“Aku emang nggak lucu. Yang lucu itu kamu,” sahut Hesa tertawa kecil.

Delana mencebik ke arah Hesa. “Nggak usah ngolok terus!”

Hesa tertawa kecil. “Jangan mainin bibir kayal gitu! Bikin aku pengen cium kamu terus.”

“Eh!?” Delana mengangkat kedua alisnya.

Hesa tersenyum. Ia menarik tengkuk Delana dan kembali menciumnya. Delana masih begitu kaku menerima ciuman  dari Hesa. Hesa menghentikan ciumannya. “Nikmati aja!” bisiknya di telinga Delana.

Delana menatap mata Hesa yang begitu dekat dengannya. Ia merasa jantungnya berdegup kencang dan tidak bisa menolak perlakuan Hesa yang membuatnya hampir terbang melayang.

Hesa tersenyum, ia menempelkan dahinya ke dahi Delana. Membuat gadis itu semakin nyaman dengan tatapannya. Perlahan-lahan, Hesa melumat bibir Delana yang begitu lembut dan gadis itu mulai menikmatinya.

“Kak Hesa ...!” teriak Delana di telinga Hesa.

Hesa tersadar dari khayalan nakalnya. Ia tersenyum sambil menatap gelas kopi yang sedari tadi di tangannya.

“Kakak ngelamunin apaan sih? Dari tadi diajak cerita nggak dengerin,” tutur Delana.

Hesa tertawa kecil menanggapi pertanyaan Delana.

“Malah senyum-senyum sendiri. Ntar dikira gila loh kalo senyum-senyum sendiri kayak gitu,” tutur Delana.

“Nggak papa. Aku lagi mikirin sesuatu,” ucap Hesa. Ia menatap wajah Delana yang tertimpa cahaya api.

Delana meringis. “Aku laper, Kak,” tuturnya sambil memegangi perutnya.

“Eh, iya. Mereka udah pada makan apa belum ya?”

“Pasti udah pada ngemil. Lihat tuh!” Delana menunjuk beberapa bungkus snack yang sudah dibungkus di dalam kantong plastik.

Hesa tersenyum kecil. “Enaknya makan apa malam ini?” tanya Hesa.

“Makan mie instan aja. Biar aku yang masakin,” sahut Delana.

“Mmh ... boleh juga. Mau aku bantu?”

“Nggak usah. Cuma masak mie instan doang.”

Hesa tertawa kecil. Ia kembali bermain gitar sembari memerhatikan Delana yang sibuk memasak mie instan untuk mereka.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah menghidangkan mangkuk mie di hadapan Hesa.

“Mangkuknya cuma satu, Kak. Makan semangkuk berdua nggak papa, ya?” tutur Delana sambil menatap Hesa.

Hesa menganggukkan kepala. “Nggak papa. Romantis,” ucapnya.

Delana tergelak. “Udah kayak orang pacaran aja,” celetuknya sambil tertawa kecil.

“Emangnya makan sepiring berdua cuma berlaku buat orang yang lagi pacaran?” tanya Hesa sambil tertawa kecil. Ia menyuap satu sendok ke mulutnya. Sebenarnya, ia berharap kalau Delana bisa menjadi kekasihnya. Hanya saja, ia tak ingin keduanya merasa canggung hanya karena Delana tahu kalau Hesa menyukainya.

Delana tertawa kecil sambil menelan mie yang sudah masuk ke dalam mulutnya. “Ya, nggak sih. Kenapa ya kalo makan sepiring berdua itu dibilang romantis. Padahal, jelas-jelas lagi susah. Nggak punya piring lagi. Hahaha.”

“Atau emang udah nggak punya duit lagi buat beli makanan lebih,” sahut Hesa sambil tertawa.

Delana tergelak. “Aku jadi ngebayangin kalo Kak Hesa kayak gitu.”

“Eh!?” Hesa melongo menatap Delana yang ada di hadapannya. “Maksudnya?”

“Ya kayak gitu. Cowok yang nggak punya duit buat beliin makanan lebih. Masih ada nggak ya cewek yang bakal mau deket sama Kakak?” tutur Delana sambil tersenyum nakal.

“Yee ... aku mah ganteng. Biar nggak punya duit, masih banyak cewek yang mau sama aku. Cari cewek yang kaya dong. Biar aku yang ditraktir makan,” sahut Hesa.

“Dasar cowok matre!”

“Emangnya cewek aja yang bisa matre?” tanya Hesa sambil tertawa.

“Yee ... cewek tuh bukan matre, tapi realistis. Emangnya bisa kenyang makan cinta doang!?”

“Halah, pembelaan diri,” celetuk Hesa.

Delana tergelak. Mereka menikmati semangkuk mie instan bersama sambil bercanda. Bagi Delana, malam ini merupakan malam yang indah karena ia bisa tertawa lepas bersama Hesa. Ia teringat masa-masa kecilnya saat bersama Hesa.

Untuk pertama kalinya Hesa merasakan makan malam yang berbeda. Ia belum pernah makan sepiring atau semangkuk berdua bersama seorang wanita di bawah taburan bintang, diiringi musik alam. Sangat berbeda dengan makan malam yang sering ia lakukan di restoran mewah. Ia bisa memilih menu makanan mahal dengan iringan musik romantis.

Walau hanya makan semangkuk mie instan bersama. Tapi, Delana begitu membekas di hati dan pikiran Hesa. Delana bukan gadis biasa. Ia terlahir dan besar dari keluarga kaya. Tapi, ia tetap bisa hidup sederhana bahkan di saat sulit sekalipun.

“Del, apa kamu terbiasa ngelakuin semuanya sendiri?” tanya Hesa.

“Mmh ... maksudnya?”

“Kamu masak sendiri. Nyiapin makan siang sendiri. Aku nggak lihat ada pembantu di rumah kamu.”

“Ada,” jawab Delana sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Tapi, dia cuma bantu bersih-bersih sama nyuci aja. Kalo udah kelar, langsung pulang.”

“Kenapa nggak tinggal di rumah kamu? Bukannya lebih enak semuanya disiapin sama pembantu? Kamu nggak perlu capek-capek masak sendiri.”

“Mmh ... iya, sih. Tapi aku terbiasa ngelakuin semuanya sendiri. Kalo semuanya disiapin sama pembantu. Aku ngapain dong?” tanya Delana.

“Ya, santai-santai aja,” jawab Hesa.

“Nggak enak tahu! Rasanya bosan kalo nggak ada kegiatan,” tutur Delana.

Hesa tersenyum kecil. “Baru kali ini aku kenal cewek kayak kamu.”

“Hah!? Emangnya aku kayak apa? Langka gitu ya?” tanya Delana sambil tertawa kecil.

“Iya. Udah cantik, baik, mandiri, pintar masak juga,” jawab Hesa.

“Udah cocok apa belum jadi menantu idaman?”

“Cocok banget! Jadi istri idaman,” jawab Hesa sambil mengacungkan jempolnya.

Delana menghela napas. “Sayangnya, nggak ada cowok yang mau sama aku,” tuturnya lemas.

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Hesa.

“Aku sendiri.”

“Kamu tuh cantik, kaya, baik, mandiri dan punya semuanya. Cowok bego aja yang nggak mau sama kamu,” tutur Hesa.

“Oh ya?” Delana menatap Hesa. “Kalo Kak Hesa, ada dibarisan mana?”

Hesa menatap Delana. Ia menghela napas dan berpikir. “Aku pikir-pikir dulu!” ucapnya sambil tersenyum.

“Iih ...!” Delana memukul paha Hesa. “Peres kan ngatain aku cantik?”

“Enggak,” jawab Hesa sambil tersenyum.

“Bohong!”

Hesa tergelak. Mereka tertawa bersama sambil menghabiskan semangkuk mie instan.

“Astaga ...!” Hesa mengangkat kakinya naik ke atas tempat duduknya.

“Kenapa, Kak?” tanya Delana memerhatikan sesuatu yang bergerak di bawah kakinya. Delana langsung tertawa terbahak-bahak melihat Hesa ketakutan. “Cuma tikus doang aja takut,” celetuknya.

“Bukan takut, Del. Geli!” seru Hesa sambil bergidik.

Delana tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri ember air untuk membersihkan mangkuk yang baru saja ia pakai.

“Biasanya, kalo ada tikus, ada ular,” tutur Delana.

“Kamu nggak takut?” tanya Hesa.

Delana menggelengkan kepalanya. “Aku lebih takut sama ular berkepala dua,” ucapnya sambil tertawa.

Hesa tertawa kecil. Baru saja ia membayangkan kalau Delana akan ketakutan saat melihat ular seperti kebanyakan cewek agar ia bisa punya kesempatan berdekatan dengan Delana. Eh, kenyataannya dia yang lebih takut dengan makhluk-makhluk penghuni hutan. Otak Hesa benar-benar sudah kacau.

“Kakak belum ngantuk?” tanya Delana. Ia kembali duduk di samping Hesa.

“Belum.”

“Sering begadang?” tanya Delana.

Hesa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Delana.

“Aku tidur duluan ya!” pamit Delana. Ia bergegas bangkit, tapi Hesa menahan tangannya. “Kenapa?”

“Kamu yakin mau tidur?”

Delana menganggukkan kepala.

“Baru aja selesai makan udah langsung mau tidur. Nggak baik buat kesehatan. Ntar badanmu melar!”

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya. “Iya, juga ya? Enaknya ngapain ya biar nggak ngantuk?” tanya Delana.

“Kita main ABC Lima Dasar aja, gimana?” tanya Hesa.

“Boleh juga.” Delana langsung mengangkat kakinya dan duduk bersila di hadapan Hesa.

“Yuk!” Hesa juga bersiap untuk bermain bersama Delana.

“Nama-nama apa?” tanya Delana.

“Nama-nama buah aja yang gampang,” jawab Hesa.

“Oke. Hukumannya apa kalo kalah? Aku nggak mau kalo yang sakit-sakit,” tanya Delana.

“Mmh ... yang kalah nyium pipi yang menang!” seru Hesa.

“Yee ... nggak mau! Keenakan kamunya!” dengus Delana.

“Terus apa hukuman yang nggak sakit?” tanya Hesa sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Delana mengedarkan pandangannya sambil berpikir. Matanya tertuju pada botol air mineral berukuran besar. “Yang kalah minum air!” seru Delana.

“Air putih?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala.

“Ah, sayang banget nggak bawa bir ke sini,” celetuk Hesa.

“Emangnya mau minum bir?”

“Kan lebih asyik kalo yang kalah minum bir,” tutur Hesa.

“Karena adanya cuma air putih, kita minum air putih aja. Lain kali kita minum bir,” tutur Delana.

“Beneran ya?”

“Iya.”

“Janji?”

Delana menganggukkan kepala.

“Aku tunggu janjimu buat minum bir bareng! Awas kalo sampe bohong!”

Delana tertawa kecil. “Emangnya mau diapain kalo aku bohong?”

“Kalo kamu sampe bohong, aku jadiin pacar!”

“Yee ... maksa!”

Hesa tertawa melihat ekspresi wajah Delana. Ia tahu, Delana akan menanggapi setiap ucapannya sebagai bahan candaan.

Mereka menghabiskan malam bersama sambil bermain sampai rasa kantuk menghampiri mereka.

 

 

((Bersambung...))

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas