BAB
59
PESONA
KECANTIKAN DELANA
“Hei, Hesa ...!” sapa
Dhanuar yang sedang duduk di ruang tamu dan melihat Hesa sudah berdiri di depan
pintu. “Masuk!” pintanya.
Hesa tersenyum dan
langsung masuk ke dalam rumah Delana. “Dela mana?” tanya Hesa. Ia langsung
duduk di samping Dhanuar.
“Ada di dapur. Katanya
lagi nyiapin makan siang buat kamu,” jawab Dhanuar.
Hesa tertawa kecil.
“Cewek idaman banget,” gumamnya.
“Apa?” tanya Dhanuar
yang mendengar gumaman Hesa.
“Nggak papa,” jawab
Hesa sambil menoleh ke arah pintu dapur. Saat itu juga, Delana terlihat keluar
dari dapur. Hesa langsung tersenyum menatap gadis cantik yang masih mengenakan
apron itu.
Delana tersenyum dan
melangkahkan kakinya menghampiri Hesa. “Udah dari tadi?” tanya Delana.
“Nggak. Baru aja
sampai, kok,” jawab Hesa.
“Kita makan dulu, abis
itu langsung berangkat!” ajak Delana sambil berbalik ke arah dapur.
Hesa melongo menatap
punggung Delana. Delana langsung menoleh ke arah Hesa yang masih terpaku
menatapnya dan tak segera beranjak dari tempat duduknya. “Ayo!” ajak Delana.
“Kita makan di dapur!” ajak Delana.
“Kamu udah makan?”
tanya Hesa pada Dhanuar.
“Udah. Kalian makan
aja, dulu!” sahut Dhanuar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia
genggam.
Hesa tersenyum. Ia
menepuk paha Dhanuar, kemudian beranjak mengikuti langkah Delana menuju dapur.
Rumah Delana memang
bisa dibilang mewah dan meja makan berada di dalam dapur yang cukup luas. Hesa
mengedarkan pandangannya, menatap design interior dapur yang begitu cantik.
“Ini dapur, kamu design
sendiri?” tanya Hesa.
Delana menganggukkan
kepala. “Ayo duduk!” perintah Delana. Ia mengajak Hesa untuk duduk di meja
makan. “Aku lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Jadi, aku bikin designnya
soft dan nggak ngebosenin,” tutur Delana sambil tersenyum.
“Oh ya?” Hesa menatap
Delana sambil tersenyum. “Masakan kamu pasti enak-enak, nih.” Hesa menatap
beberapa menu yang tersedia di atas meja.
“Nggak juga. Aku masak
nggak terlalu banyak karena kita mau pergi juga. Paling, Bryan aja yang makan
di rumah,” tutur Delana sambil menyendokkan nasi untuk Hesa.
“Dia nggak ikut?” tanya
Hesa. Ia menerima piring berisi nasi yang disodorkan oleh Delana. Hesa
tersenyum, ia senang sekali dengan perlakuan Delana yang penuh perhatian. Ia
berharap, Delana belum punya kekasih.
“Nggak. Dia ada ujian
karate sih katanya. Jadi, nggak bisa ikut camping,” tutur Delana.
“Oh.” Hesa
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kita makan dulu, yuk!”
ajak Delana.
Hesa menganggukkan
kepala. Ia melirik Delana yang duduk di hadapannya. Ini pertama kalinya ia
menyantap makanan yang dimasak sendiri oleh gadis cantik yang ia kenal.
Biasanya, ia menghabiskan waktu makan siang atau makan malam di restoran.
Memilih restoran terbaik untuk memikat para cewek yang ia suka.
Tapi, kali ini ia bukan
sedang memikat seorang gadis cantik. Ia justru terpikat dengan kecantikan dan
kebaikan gadis ini. Delana tidak hanya cantik dan ramah. Tapi, dia juga pandai
memasak, lembut dan penuh perhatian.
“Kok, diam aja? Mau
lauk apa?” tanya Delana yang melihat Hesa tak kunjung mengambil lauk, justru
sibuk melamun.
“Eh!?” Hesa gelagapan.
Ia kemudian menertawakan dirinya sendiri. Ia tak pernah merasakan gugup dan
kehabisan kata-kata seperti ini. Bagaimana bisa, jurus rayuan mautnya tidak
bisa ia keluarkan. Ia malah sibuk mengagumi Delana dalam hati.
“Mau ayam atau ikan?”
tanya Delana.
“Ayam aja,” jawab Hesa
tanpa berkedip menatap Delana.
Delana tersenyum dan
mengambilkan satu potong daging ayam, ia meletakkannya ke atas piring Hesa.
“Makan sayur, nggak?” tanya Delana.
Hesa menganggukkan
kepala. Matanya tertuju pada bibir Delana yang mungil dan begitu menggoda.
Delana menghela napas.
Ia menyendokkan sayur untuk Hesa.
“Kak Hesa ...!” panggil
Delana sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hesa.
“Eh ... oh ... eh ...”
Hesa benar-benar gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia langsung
memperbaiki posisi duduknya yang sudah benar dan mulai menyuap makanan ke
mulutnya.
“Kakak ngelamunin apaan
sih?” tanya Delana. “Ada yang lagi di pikirin?” tanya Delana.
Hesa menggelengkan
kepala. “Aku lagi mikirin kamu,” bisiknya dalam hati.
“Ya udah, cepet makan
gih! Makan yang banyak!” pinta Delana sambil tersenyum.
“Iya. Masakan kamu enak
banget. Aku pasti makan banyak,” tutur Hesa dengan mulut penuh makanan.
Delana tertawa kecil. Mereka
menikmati makan siang bersama sebelum berangkat ke Batu Dinding.
Setelah selesai makan,
Delana langsung membereskan dapur. Hesa tak beranjak dari tempat duduknya dan
terus memerhatikan gerak-gerik Delana.
“Dhan ... Alan belum
balik?” teriak Delana sambil mencuci piring.
“Belum,” jawab Dhanuar
dari ruang tamu.
“Kok, tumben lama
banget? Padahal cuma beli lotion anti nyamuk doang,” tutur Delana.
“Emang dia ke mana?”
tanya Hesa.
“Beli lotion anti
nyamuk. Lupa nggak dibeli tadi pagi,” jawab Delana.
“Oh. Di mana belinya?”
“Kayaknya cuma di
minimarket depan sana. Harusnya sih udah balik dari tadi,” jawab Delana sambil
meletakkan peralatan dapur yang sudah ia cuci ke tempatnya.
“Telpon aja!” tutur
Hesa.
“Iya, juga ya?” Delana
langsung mengelap tangannya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja
dapur.
Delana langsung
menelepon nomor Alan. Ia menoleh ke arah ruang tamu karena nada ponsel Alan
terdengar dari sana. “Udah balik kali dia.” Delana langsung melangkahkan
kakinya keluar dari dapur.
“Kamu yang nelpon?”
tanya Dhanuar.
“Iya.”
“Hp-nya nggak dibawa,”
tutur Dhanuar.
“Hadeh ...!” Delana
memutar bola matanya.
“Tunggu aja! nggak
papa, kok,” tutur Hesa. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Dhanuar yang sedang
asyik bermain game online.
Beberapa menit
kemudian, motor Delana masuk ke dalam garasi. Alan langsung masuk ke dalam
rumah. Ia menyapa semua orang yang menunggunya di ruang tamu.
“Lama banget? Beli
lotion-nya di Makassar?” tanya Delana.
Alan tertawa kecil. Ia
memasukkan dua botol lotion anti nyamuk ke dalam tas ranselnya. “Ban motormu
bocor tadi. Aku masih ke bengkel dulu.”
“Astaga ...! Pantesan
lama,” sahut Delana. “Terus, diganti atau ditambal?” tanya Delana.
“Aku ganti aja. Kalo
nambal nunggunya lama.”
“Berapa duit? Ntar aku
ganti duitnya,” tutur Delana.
“Nggak usah,” sahut
Alan.
“Jadi, kita berangkat
sekarang?” tanya Dhanuar. Ia bangkit dari tempat duduk dan menyimpan ponselnya
ke dalam kantong.
“Sekarang?” tanya Alan.
“Iya. Dari tadi cuma
nunggu kamu aja,” jawab Dhanuar.
“Ayo!” Alan terlihat
bersemangat untuk pergi berlibur.
“Aku ganti baju sama
ambil tasku dulu di kamar. Kalian bawa dulu ini semuanya ke mobil!” pinta
Delana sambil menunjuk barang-barang yang sudah disiapkan sebagai bekal untuk
camping.
Dhanuar, Alan dan Hesa
langsung bersiap membawa barang-barang mereka ke mobil satu persatu. Sementara
Delana langsung naik ke kamarnya untuk bersiap.
Beberapa menit
kemudian, Delana turun dari kamar dan langsung keluar dari rumahnya. Ia
memastikan semua pintu rumahnya terkunci dengan baik. Kemudian, ia menghampiri
Hesa dan dua sepupunya yang sudah menunggunya di mobil.
Mereka menikmati
perjalanan dengan canda tawa. Karena Alan membawa gitar, Delana dan Dhanuar
asyik bernyanyi riang gembira sepanjang perjalanan.
Sesekali Hesa melirik
Delana yang begitu ceria di sampingnya sambil fokus menyetir. Delana terlihat
sangat cantik saat tertawa. Bukan hanya cantik, tapi tawanya memberikan
kebahagiaan tersendiri di hati Hesa.
“Del, kamu tahu nggak.
Aku berkali-kali mau pinjam mobilnya Hesa nggak pernah dikasih. Giliran kamu
yang pinjam mobil langsung dikasih, malah diantar sekalian,” tutur Dhanuar.
“Oh ya?” tanya Delana
menoleh ke arah Dhanuar. “Emang bener kayak gitu?” tanya Delana menatap Hesa.
Hesa tersenyum kecil.
“Dia tuh pinjem mobil buat hal-hal nggak penting,” jawab Hesa.
“Nggak penting gimana? Penting
tau! Kamunya aja medit bin pelit!” dengus Dhanuar.
“Keperluan cowok itu
nggak terlalu penting, keperluan cewek baru penting banget buat aku,” tutur
Hesa dalam hatinya.
“Tuh lihat! Mukanya
songong gitu, Del,” bisik Dhanuar di telinga Delana.
Delana hanya tertawa
kecil sambil menatap Hesa yang terus fokus menyetir.
“Nyanyi lagi!” pinta
Delana sambil menatap Alan yang masih memegang gitarnya.
“Nyanyi apa?” tanya
Alan.
“Sembarang aja! Yang
penting jangan lagu sedih!” pinta Delana.
“Kenapa emangnya kalo
lagu sedih?”
“Ngerusak suasana,”
sahut Delana.
Alan dan Dhanuar
tertawa. Mereka kembali bernyanyi gembira sampai mereka memasuki jalanan kecil
yang menuju ke Batu Dinding.
Mobil Hesa berhenti di
pos penjagaan pertama.
“Maaf, Mas. Mobilnya
nggak boleh masuk,” tutur petugas yang berjaga di pos jaga.
“Hah!? Terus gimana?”
tanya Hesa.
“Mobilnya ditinggal di
sini. Yang boleh masuk cuma kendaraan roda dua sampai pos terakhir,” tutur
petugas jaga.
“Kenapa begitu, Pak?”
tanya Dhanuar.
“Jalannya terlalu
sempit, Mas. Mobil memang nggak bisa masuk.”
“Oh. Jadi, kalo mau ke
Batu Dinding gimana, Pak?” tanya Delana.
“Jalan kaki, Mbak.”
“Seberapa jauh?” tanya
Delana.
“Sekitar tiga kilometer
ke dalam.”
Delana mengernyitkan
dahinya. Ia menatap tiga cowok yang bersamanya dan mengajaknya berkompromi.
“Tiga kilo itu nggak
kejauhan? Kita bawa barang banyak. Kalian sanggup jalan kaki?” bisik Delana.
“Sanggup kalo cuma tiga
kilo aja mah deket,” sahut Hesa.
“Deket apanya?
Masalahnya barang bawaan kita juga banyak. Emangnya kuat sambil bawa barang?”
tanya Delana menatap Hesa.
Hesa menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. “Di sini nggak ada penyewaan motor? Atau ojek gitu
yang bisa bawa barang-barang kita masuk?” tanyanya.
“Hmm ...” Delana
melirik ke atas. Ucapan Hesa benar juga. Kalau ada penyewan motor atau ojek,
mereka tidak perlu jalan kaki. Lagipula, hari sudah sore dan mereka harus
membuat tenda sebelum gelap.
Delana melangkahkan
kakinya menghampiri petugas pos jaga. “Pak, nggak ada penyewaan motor atau ojek
buat ke sana?” tanya Delana.
“Mmh ... nggak ada,
Mbak.”
“Please, Pak! Kita mau
jalan kaki ke sana jauh banget dan barang bawaan kita juga banyak.”
“Kalian mau camping?”
tanya petugas jaga tersebut.
Delana menganggukkan
kepala sambil tersenyum.
“Cuma ada dua motor
kalau mau diantar, Mbak.”
“Gantian gitu ya?”
tanya Delana memastikan.
“Iya, Mbak.”
“Ya udah, nggak papa
gantian. Yang penting kami ke sana nggak jalan kaki,” tutur Delana.
“Bisa, Mbak.” Petugas
pos itu memanggil dua orang yang ada di dalam warung untuk mengantarkan Delana
dan tiga cowok yang bersamanya.
“Siapa yang mau
duluan?”
“Aku belakangan aja,”
tutur Delana.
“Aku juga,” sahut Hesa.
Dhanuar tersenyum
sambil mengangkat alisnya menatap Hesa. “Ayo, Lan! Kita duluan!” perintah
Dhanuar pada Alan.
“Ayolah!” sahut Alan.
Mereka bergegas membawa tas yang berisi tenda dan tas lain yang berisi makanan
dan pakaian ganti mereka.
Delana tersenyum
menatap dua saudaranya itu. “Hati-hati ya!” seru Delana sambil melambaikan
tangan ke arah Dhanuar dan Alan yang mulai meninggalkan mereka.
“Mau minum?” tanya
Hesa.
Delana menoleh ke arah
Hesa, kemudian ia menatap warung yang ada di belakangnya. “Boleh juga. Ada
minuman dingin nggak ya?” tanyanya sambil melangkahkan kaki memasuki warung.
“Cari apa, Mbak?” tanya
penjaga warung.
“Ada minuman dingin?”
tanya Delana.
“Nggak ada, Mbak. Es
batunya habis.”
“Oh. Ya udah, beli ini
aja, Bu,” tutur Delana sambil meraih satu botol air mineral yang ada di warung
itu.
Hesa langsung duduk di
kursi kayu yang ada di dalam warung. “Ada kopi, Bu?” tanya Hesa.
“Ada, Mas,” jawab ibu
penjaga warung sambil tersenyum.
“Kopi satu ya!” pinta
Hesa.
Delana menggigit
bibirnya dan langsung duduk di hadapan Hesa. “Aku nggak mau Kakak lama-lama
ngopinya. Keburu sore ntar.”
Hesa tertawa kecil
menanggapi ucapan Delana. “Selow aja! Masih lama mereka balik ke sini. Masih
bisa ngopi-ngopi,” tutur Hesa. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya. Ia mengambil
satu batang dan menyalakan api untuk membakar satu batang rokok yang sudah ia
jepit di bibirnya.
Delana menatap Hesa
dengan seksama. Ia tidak suka cowok perokok, tapi entah kenapa gaya Hesa saat
merokok terlihat lebih keren. Huft ... apa otaknya sudah rusak? Delana
memukul-mukul kepalanya perlahan untuk mengembalikan kondisi otaknya agar
berfungsi dengan baik.
“Kenapa lihatin aku
kayak gitu? Aku ganteng ya?” tanya Hesa sambil tersenyum menatap Delana.
Delana mencebik
mendengar ucapan Hesa.
Hesa hanya tertawa
kecil melihat ekspresi Delana yang begitu lucu. Ia kemudian asyik menikmati
sebatang rokok dan secangkir kopi hitam.
“Kita balik ke
Balikpapan kapan?” tanya Hesa.
“Besok sore,” jawab
Delana. “Aku masih pengen nikmatin suasana di sini.”
Hesa
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Beberapa menit
kemudian, sepeda motor yang mengantar Dhanuar dan Alan kembali.
“Mereka udah datang.
Yuk!” ajak Delana. Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari
warung.
“Berapa semuanya, Bu?”
tanya Hesa pada penjual warung sambil merogoh sakunya.
“Lima belas ribu, Mas.”
Hesa langsung
mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. “Ambil aja kembaliannya!”
pintanya. Ia mengejar Delana keluar dari warung.
Delana langsung
melangkahkan kakinya menuju mobil. Mengambil beberapa barang yang belum
terbawa. Hesa hanya tersenyum melihat Delana yang terlihat begitu energik. Ia
langsung mengunci mobilnya dan bergegas menghampiri sepeda motor yang sudah
menunggunya.
Delana langsung naik ke
atas motor. “Ayo, jalan Pak!” pinta Delana. Supir ojek itu langsung menyalakan
sepeda motornya dan bergegas pergi.
Delana menoleh ke
belakang. Melihat Hesa yang tak kunjung naik motor. Ia justru sibuk mengobrol
dengan petugas penjaga pos. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ia
mengalihkan pandangannya saat Hesa sudah selesai mengobrol dan mulai menaiki
sepeda motor. Mereka bersama-sama menuju pos terakhir dan bersiap untuk
menghabiskan malam bersama di tempat ini.
Delana
tersenyum bahagia begitu sampai di lokasi dan mendapati dua sepupunya sudah
selesai membuat satu tenda.
“Kalian
memang selalu bisa diandalkan,” tutur Delana begitu ia turun dari motor.
“Enak
aja! Ini mah tenda buat kita. Kamu bikin sendiri lah,” sahut Dhanuar.
“What!?”
Delana menatap kedua sepupunya dengan kesal.
“Makasih
ya, Pak!” Hesa turun dari motor. Ia merogoh dompet di saku celananya dan
memberikan empat lembar uang seratus ribuan pada pengendara motor yang
mengantarnya. “Jangan lupa ya!” pinta Hesa.
“Siap,
Mas!” sahut pengendara motor itu sambil mengacungkan jempolnya. “Kalo ada perlu
telpon aja, Mas!” pintanya.
“Sip!” tutur Hesa sambil mengangkat jempolnya.
“Kami
balik dulu, Mas!” pamit kedua pengendara sepeda motor.
“Hati-hati
ya!” seru Hesa sambil melambaikan tangannya.
Kedua
pengendara motor itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.
Delana
menghampiri Hesa. “Kamu ada kompromi apa sama mereka?” bisik Delana penasaran.
“Kompromi
apaan?” tanya Hesa.
“Tadi
tuh orang ngomongnya telepon aja kalo ada perlu. Emangnya kamu udah tukeran
nomer hp sama dia?” tanya Delana.
Hesa
tersenyum penuh arti. “Kalo cuma dapetin nomer hp aja gampang,” tuturnya.
Delana
mencebik. Ia langsung meninggalkan Hesa dan menghampiri kedua sepupunya.
“Pasangin
tenda aku juga, dong!” pinta Delana pada Dhanuar dan Alan yang sudah duduk
santai di atas rerumputan.
“Males,
ah!” sahut Dhanuar. Ia tersenyum sambil menoleh ke arah Alan. Mereka terlihat
kompak tidak mau memasangkan tenda untuk Delana.
“Iih
...!” dengus Delana kesal sambil menghentakkan kakinya. Ia langsung menyeret
tenda miliknya dan mulai memasang sendirian.
“Sini
aku bantuin!” Hesa langsung menawarkan bantuan begitu melihat Delana kesulitan.
“Nggak
usah! Aku bisa sendiri,” sahut Delana dengan wajah kesal.
Hesa
menahan tawa melihat tingkah Delana. Terlihat jelas kalau ia kesulitan tapi
masih saja tidak mau menerima bantuan orang lain. Hesa tak lagi menghiraukan
apakah Delana mengizinkan membantunya atau tidak. Dengan cepat ia membantu
Delana memasang tenda.
Dhanuar
menyikut Alan. Ia tersenyum kecil sambil menunjuk Hesa dengan dagunya.
Alan
hanya tersenyum menanggapinya. “Hesa lagi pedekate sama Dela. Kita jangan
ganggu mereka. Sebelum gelap, kita cari kayu bakar yuk!” ajak Alan.
“Ayo!”
Dhanuar dan Alan langsung bangkit dan bergegas pergi.
“Kalian
mau ke mana?” tanya Delana begitu menyadari kedua sepupunya beranjak pergi dari
tempat mereka mendirikan tenda.
“Mau
cari kayu bakar,” jawab Alan.
“Oh.”
Delana tak banyak bertanya. Ia kembali membantu Hesa untuk menyelesaikan
memasang tenda.
“Kak
Hesa pernah camping sebelumnya?” tanya Delana.
“Dulu,
waktu masih SMA. Itupun karena ikut ekskul pramuka.”
“Oh,
pantesan!”
“Kenapa
emangnya?” tanya Hesa menatap Delana yang ada di sampingnya.
“Nggak
papa. Kak Hesa pintar pasang tendanya,” tutur Delana.
Hesa
tersenyum kecil. “Rasanya, semua cowok harus tahu gimana caranya pasang tenda
untuk camping. Kebangetan kalo sampe nggak bisa masang.”
“Hmm
... tapi bukannya Kakak lama di luar negeri? Masih ingat caranya?”
“Untuk
mahasiswa lulusan luar negeri seperti aku, apa masih perlu diragukan lagi soal
ingatannya?” tutur Hesa sambil tersenyum kecil.
“Sepertinya
begitu. Buktinya, Kak Hesa lupa sama aku,” tutur Delana sambil mendekatkan
wajahnya ke wajah Hesa.
“Bukan
lupa, itu karena kamu ...” Hesa menoleh ke arah Delana yang berdiri di
sampingnya. Ia tertegun saat mendapati wajah Delana begitu dekat dengannya.
Hanya berjarak lima belas sentimeter dan berhasil membuat degup jantungnya tak
karuan.
Hesa
terpaku menatap bayangan dirinya yang terlukis di manik mata Delana. Dalam
benaknya, ia ingin masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi sampai ke dalam
relung hati Delana.
“Kak
...!” panggil Delana.
Panggilan
Delana membuyarkan lamunan Hesa.
“Kok,
malah ngelamun?” tanya Delana.
“Nggak
papa.” Hesa memalingkan wajahnya dan kembali menyelesaikan memasang tenda.
“Dikit lagi kelar,” tutur Hesa sambil mengeratkan ujung tali terakhirnya.
“Selesai!”
seru Hesa sambil membersihkan tangannya.
“Hore
...! Makasih ya, Kak!” tutur Delana. “Kalo nggak ada Kak Hesa. Aku pasti udah
pasang tenda sendiri,” tutur Delana sambil merengut.
“Mereka
nggak mungkin biarin cewek secantik kamu pasang tenda sendiri,” sahut Hesa.
“Buktinya,
mereka beneran nggak mau bantu aku pasang tenda.”
“Mereka
bercanda aja. Dan kamunya juga gampang ngambek.”
Delana
hanya meringis mendengar ucapan Hesa.
Hesa
melangkahkan kaki dan duduk di atas kayu pohon yang telah tumbang.
“Mereka
kok lama ya?” gumam Delana.
“Namanya
juga cari kayu bakar. Mungkin cari kayunya agak susah.”
“Aku
takutnya mereka nyasar,” tutur Delana.
Hesa
tertawa kecil. “Mereka udah gede. Nggak bakalan nyasar. Lagipula, tempat ini
bukan hutan belantara.”
“Hmm
... iya, juga sih.” Delana duduk di samping Hesa.
Hesa
menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Kita naik yuk! Lihat sunset,” ajak
Hesa.
“Tapi,
Dhanuar sama Alan gimana? Kita tinggal?” tanya Delana. Ia ragu untuk
meninggalkan kedua sepupunya itu.
“Nanti
mereka pasti nyusul,” tutur Hesa. “Aku ambil kamera dulu!” Hesa melangkahkan
kakinya menuju tenda. Ia masuk ke dalam tenda dan keluar dengan kamera DSLR di
tangannya.
“Kak
Hesa bawa kamera?” tanya Delana dengan mata berbinar.
“Iya,”
jawab Hesa sambil tersenyum.
“Aku
nggak kepikiran bawa kamera gede. Cuma bawa bekal kamera hp aja. Ntar fotoin
aku ya Kak!” pinta Delana.
“Iya.
Naik sekarang yuk!” ajak Hesa sambil meraih lengan Delana dan mengajaknya pergi
menaiki Batu Dinding.
Delana
menatap lengan Hesa yang menggenggam pergelangan tangannya. Ia teringat pada
seseorang yang pernah menggenggam tangannya seperti ini. Delana menghela napas,
ia masih belum bisa melupakan cowok itu sepenuhnya.
“Kamu
naik duluan!” pinta Hesa saat mereka akan menaiki bebatuan yang hanya cukup
dilewati oleh satu orang saja.
“Aku?”
Delana menunjuk dirinya sendiri.
Hesa
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mempersilakan Delana untuk berjalan
di depannya.
Delana
melangkahkan kakinya perlahan melewati tubuh Hesa yang tadi di depannya. Hesa
langsung mengikuti langkah Delana. Ia memerhatikan setiap gerakan kaki Delana
untuk memastikan kalau kaki gadis itu tidak berada dalam bahaya.
Delana
menginjak bebatuan kecil dan membuat kakinya sedikit terpeleset. Dengan cepat
Delana langsung memegang kayu pagar yang menjadi pembatas tepi batu Dinding
agar tidak terjatuh.
Hesa
dengan cepat memegangi tubuh Delana dari belakang. “Hati-hati!” pinta Hesa.
“Sorry!”
Delana memperbaiki posisinya dan kembali berjalan menaiki Batu Dinding yang
cukup curam.
“Kalo
hujan, di sini bakal licin banget,” tutur Hesa.
“Sepertinya
begitu. Mudahan nggak hujan,” sahut Delana.
“Aamiin.”
Delana
dan Hesa akhirnya bisa berada di atas Batu Dinding. “Kakak berani ke ujung
sana?” tanya Delana sambil menunjuk ujung puncak tertinggi Batu Dinding.
“Berani.
Tapi, aku rasa kita nggak usah ke sana.”
“Why?”
“Ini
udah senja. Kalau kita ke sana. Balik ke sini lagi pasti malam. Tempat ini
terlalu tinggi dan ekstrim banget. Aku nggak mau ambil resiko.”
“Hmm
... ya udah. Jadi, kita di sini aja?” tanya Delana.
“Iya.”
Hesa langsung mengeluarkan kameranya dan membidik ojek sunset yang begitu
indah.
“Kalo
gitu, besok pagi pas sunrise, kita harus ke sana ya!” pinta Delana.
Hesa
menatap Delana sambil tersenyum. “Kalo besok pagi, boleh.”
Delana
tersenyum senang. Ia tahu kalau Hesa mengkhawatirkan dirinya. Mereka lebih
memilih menikmati sunset dari satu sudut ketinggian Batu Dinding. Semuanya
terlihat begitu indah.
Hesa
terus menatap wajah Delana yang tertimpa cahaya matahari senja. Gadis itu
benar-benar memikat hati dengan sikap cueknya itu. Ia berharap, hubungannya
dengan Delana tidak hanya sekedar teman baik.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment