Thursday, March 5, 2026

THEN LOVE BAB 59: PESONA KECANTIKAN DELANA

 


BAB 59

PESONA KECANTIKAN DELANA

 

“Hei, Hesa ...!” sapa Dhanuar yang sedang duduk di ruang tamu dan melihat Hesa sudah berdiri di depan pintu. “Masuk!” pintanya.

Hesa tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah Delana. “Dela mana?” tanya Hesa. Ia langsung duduk di samping Dhanuar.

“Ada di dapur. Katanya lagi nyiapin makan siang buat kamu,” jawab Dhanuar.

Hesa tertawa kecil. “Cewek idaman banget,” gumamnya.

“Apa?” tanya Dhanuar yang mendengar gumaman Hesa.

“Nggak papa,” jawab Hesa sambil menoleh ke arah pintu dapur. Saat itu juga, Delana terlihat keluar dari dapur. Hesa langsung tersenyum menatap gadis cantik yang masih mengenakan apron itu.

Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya menghampiri Hesa. “Udah dari tadi?” tanya Delana.

“Nggak. Baru aja sampai, kok,” jawab Hesa.

“Kita makan dulu, abis itu langsung berangkat!” ajak Delana sambil berbalik ke arah dapur.

Hesa melongo menatap punggung Delana. Delana langsung menoleh ke arah Hesa yang masih terpaku menatapnya dan tak segera beranjak dari tempat duduknya. “Ayo!” ajak Delana. “Kita makan di dapur!” ajak Delana.

“Kamu udah makan?” tanya Hesa pada Dhanuar.

“Udah. Kalian makan aja, dulu!” sahut Dhanuar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam.

Hesa tersenyum. Ia menepuk paha Dhanuar, kemudian beranjak mengikuti langkah Delana menuju dapur.

Rumah Delana memang bisa dibilang mewah dan meja makan berada di dalam dapur yang cukup luas. Hesa mengedarkan pandangannya, menatap design interior dapur yang begitu cantik.

“Ini dapur, kamu design sendiri?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala. “Ayo duduk!” perintah Delana. Ia mengajak Hesa untuk duduk di meja makan. “Aku lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Jadi, aku bikin designnya soft dan nggak ngebosenin,” tutur Delana sambil tersenyum.

“Oh ya?” Hesa menatap Delana sambil tersenyum. “Masakan kamu pasti enak-enak, nih.” Hesa menatap beberapa menu yang tersedia di atas meja.

“Nggak juga. Aku masak nggak terlalu banyak karena kita mau pergi juga. Paling, Bryan aja yang makan di rumah,” tutur Delana sambil menyendokkan nasi untuk Hesa.

“Dia nggak ikut?” tanya Hesa. Ia menerima piring berisi nasi yang disodorkan oleh Delana. Hesa tersenyum, ia senang sekali dengan perlakuan Delana yang penuh perhatian. Ia berharap, Delana belum punya kekasih.

“Nggak. Dia ada ujian karate sih katanya. Jadi, nggak bisa ikut camping,” tutur Delana.

“Oh.” Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita makan dulu, yuk!” ajak Delana.

Hesa menganggukkan kepala. Ia melirik Delana yang duduk di hadapannya. Ini pertama kalinya ia menyantap makanan yang dimasak sendiri oleh gadis cantik yang ia kenal. Biasanya, ia menghabiskan waktu makan siang atau makan malam di restoran. Memilih restoran terbaik untuk memikat para cewek yang ia suka.

Tapi, kali ini ia bukan sedang memikat seorang gadis cantik. Ia justru terpikat dengan kecantikan dan kebaikan gadis ini. Delana tidak hanya cantik dan ramah. Tapi, dia juga pandai memasak, lembut dan penuh perhatian.

“Kok, diam aja? Mau lauk apa?” tanya Delana yang melihat Hesa tak kunjung mengambil lauk, justru sibuk melamun.

“Eh!?” Hesa gelagapan. Ia kemudian menertawakan dirinya sendiri. Ia tak pernah merasakan gugup dan kehabisan kata-kata seperti ini. Bagaimana bisa, jurus rayuan mautnya tidak bisa ia keluarkan. Ia malah sibuk mengagumi Delana dalam hati.

“Mau ayam atau ikan?” tanya Delana.

“Ayam aja,” jawab Hesa tanpa berkedip menatap Delana.

Delana tersenyum dan mengambilkan satu potong daging ayam, ia meletakkannya ke atas piring Hesa. “Makan sayur, nggak?” tanya Delana.

Hesa menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada bibir Delana yang mungil dan begitu menggoda.

Delana menghela napas. Ia menyendokkan sayur untuk Hesa.

“Kak Hesa ...!” panggil Delana sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hesa.

“Eh ... oh ... eh ...” Hesa benar-benar gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia langsung memperbaiki posisi duduknya yang sudah benar dan mulai menyuap makanan ke mulutnya.

“Kakak ngelamunin apaan sih?” tanya Delana. “Ada yang lagi di pikirin?” tanya Delana.

Hesa menggelengkan kepala. “Aku lagi mikirin kamu,” bisiknya dalam hati.

“Ya udah, cepet makan gih! Makan yang banyak!” pinta Delana sambil tersenyum.

“Iya. Masakan kamu enak banget. Aku pasti makan banyak,” tutur Hesa dengan mulut penuh makanan.

Delana tertawa kecil. Mereka menikmati makan siang bersama sebelum berangkat ke Batu Dinding.

Setelah selesai makan, Delana langsung membereskan dapur. Hesa tak beranjak dari tempat duduknya dan terus memerhatikan gerak-gerik Delana.

“Dhan ... Alan belum balik?” teriak Delana sambil mencuci piring.

“Belum,” jawab Dhanuar dari ruang tamu.

“Kok, tumben lama banget? Padahal cuma beli lotion anti nyamuk doang,” tutur Delana.

“Emang dia ke mana?” tanya  Hesa.

“Beli lotion anti nyamuk. Lupa nggak dibeli tadi pagi,” jawab Delana.

“Oh. Di mana belinya?”

“Kayaknya cuma di minimarket depan sana. Harusnya sih udah balik dari tadi,” jawab Delana sambil meletakkan peralatan dapur yang sudah ia cuci ke tempatnya.

“Telpon aja!” tutur Hesa.

“Iya, juga ya?” Delana langsung mengelap tangannya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja dapur.

Delana langsung menelepon nomor Alan. Ia menoleh ke arah ruang tamu karena nada ponsel Alan terdengar dari sana. “Udah balik kali dia.” Delana langsung melangkahkan kakinya keluar dari dapur.

“Kamu yang nelpon?” tanya Dhanuar.

“Iya.”

“Hp-nya nggak dibawa,” tutur Dhanuar.

“Hadeh ...!” Delana memutar bola matanya.

“Tunggu aja! nggak papa, kok,” tutur Hesa. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Dhanuar yang sedang asyik bermain game online.

Beberapa menit kemudian, motor Delana masuk ke dalam garasi. Alan langsung masuk ke dalam rumah. Ia menyapa semua orang yang menunggunya di ruang tamu.

“Lama banget? Beli lotion-nya di Makassar?” tanya Delana.

Alan tertawa kecil. Ia memasukkan dua botol lotion anti nyamuk ke dalam tas ranselnya. “Ban motormu bocor tadi. Aku masih ke bengkel dulu.”

“Astaga ...! Pantesan lama,” sahut Delana. “Terus, diganti atau ditambal?” tanya Delana.

“Aku ganti aja. Kalo nambal nunggunya lama.”

“Berapa duit? Ntar aku ganti duitnya,” tutur Delana.

“Nggak usah,” sahut Alan.

“Jadi, kita berangkat sekarang?” tanya Dhanuar. Ia bangkit dari tempat duduk dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong.

“Sekarang?” tanya Alan.

“Iya. Dari tadi cuma nunggu kamu aja,” jawab Dhanuar.

“Ayo!” Alan terlihat bersemangat untuk pergi berlibur.

“Aku ganti baju sama ambil tasku dulu di kamar. Kalian bawa dulu ini semuanya ke mobil!” pinta Delana sambil menunjuk barang-barang yang sudah disiapkan sebagai bekal untuk camping.

Dhanuar, Alan dan Hesa langsung bersiap membawa barang-barang mereka ke mobil satu persatu. Sementara Delana langsung naik ke kamarnya untuk bersiap.

Beberapa menit kemudian, Delana turun dari kamar dan langsung keluar dari rumahnya. Ia memastikan semua pintu rumahnya terkunci dengan baik. Kemudian, ia menghampiri Hesa dan dua sepupunya yang sudah menunggunya di mobil.

Mereka menikmati perjalanan dengan canda tawa. Karena Alan membawa gitar, Delana dan Dhanuar asyik bernyanyi riang gembira sepanjang perjalanan.

Sesekali Hesa melirik Delana yang begitu ceria di sampingnya sambil fokus menyetir. Delana terlihat sangat cantik saat tertawa. Bukan hanya cantik, tapi tawanya memberikan kebahagiaan tersendiri di hati Hesa.

“Del, kamu tahu nggak. Aku berkali-kali mau pinjam mobilnya Hesa nggak pernah dikasih. Giliran kamu yang pinjam mobil langsung dikasih, malah diantar sekalian,” tutur Dhanuar.

“Oh ya?” tanya Delana menoleh ke arah Dhanuar. “Emang bener kayak gitu?” tanya Delana menatap Hesa.

Hesa tersenyum kecil. “Dia tuh pinjem mobil buat hal-hal nggak penting,” jawab Hesa.

“Nggak penting gimana? Penting tau! Kamunya aja medit bin pelit!” dengus Dhanuar.

Keperluan cowok itu nggak terlalu penting, keperluan cewek baru penting banget buat aku,” tutur Hesa dalam hatinya.

“Tuh lihat! Mukanya songong gitu, Del,” bisik Dhanuar di telinga Delana.

Delana hanya tertawa kecil sambil menatap Hesa yang terus fokus menyetir.

“Nyanyi lagi!” pinta Delana sambil menatap Alan yang masih memegang gitarnya.

“Nyanyi apa?” tanya Alan.

“Sembarang aja! Yang penting jangan lagu sedih!” pinta Delana.

“Kenapa emangnya kalo lagu sedih?”

“Ngerusak suasana,” sahut Delana.

Alan dan Dhanuar tertawa. Mereka kembali bernyanyi gembira sampai mereka memasuki jalanan kecil yang menuju ke Batu Dinding.

Mobil Hesa berhenti di pos penjagaan pertama.

“Maaf, Mas. Mobilnya nggak boleh masuk,” tutur petugas yang berjaga di pos jaga.

“Hah!? Terus gimana?” tanya Hesa.

“Mobilnya ditinggal di sini. Yang boleh masuk cuma kendaraan roda dua sampai pos terakhir,” tutur petugas jaga.

“Kenapa begitu, Pak?” tanya Dhanuar.

“Jalannya terlalu sempit, Mas. Mobil memang nggak bisa masuk.”

“Oh. Jadi, kalo mau ke Batu Dinding gimana, Pak?” tanya Delana.

“Jalan kaki, Mbak.”

“Seberapa jauh?” tanya Delana.

“Sekitar tiga kilometer ke dalam.”

Delana mengernyitkan dahinya. Ia menatap tiga cowok yang bersamanya dan mengajaknya berkompromi.

“Tiga kilo itu nggak kejauhan? Kita bawa barang banyak. Kalian sanggup jalan kaki?” bisik Delana.

“Sanggup kalo cuma tiga kilo aja mah deket,” sahut Hesa.

“Deket apanya? Masalahnya barang bawaan kita juga banyak. Emangnya kuat sambil bawa barang?” tanya Delana menatap Hesa.

Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Di sini nggak ada penyewaan motor? Atau ojek gitu yang bisa bawa barang-barang kita masuk?” tanyanya.

“Hmm ...” Delana melirik ke atas. Ucapan Hesa benar juga. Kalau ada penyewan motor atau ojek, mereka tidak perlu jalan kaki. Lagipula, hari sudah sore dan mereka harus membuat tenda sebelum gelap.

Delana melangkahkan kakinya menghampiri petugas pos jaga. “Pak, nggak ada penyewaan motor atau ojek buat ke sana?” tanya Delana.

“Mmh ... nggak ada, Mbak.”

“Please, Pak! Kita mau jalan kaki ke sana jauh banget dan barang bawaan kita juga banyak.”

“Kalian mau camping?” tanya petugas jaga tersebut.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Cuma ada dua motor kalau mau diantar, Mbak.”

“Gantian gitu ya?” tanya Delana memastikan.

“Iya, Mbak.”

“Ya udah, nggak papa gantian. Yang penting kami ke sana nggak jalan kaki,” tutur Delana.

“Bisa, Mbak.” Petugas pos itu memanggil dua orang yang ada di dalam warung untuk mengantarkan Delana dan tiga cowok yang bersamanya.

“Siapa yang mau duluan?”

“Aku belakangan aja,” tutur Delana.

“Aku juga,” sahut Hesa.

Dhanuar tersenyum sambil mengangkat alisnya menatap Hesa. “Ayo, Lan! Kita duluan!” perintah Dhanuar pada Alan.

“Ayolah!” sahut Alan. Mereka bergegas membawa tas yang berisi tenda dan tas lain yang berisi makanan dan pakaian ganti mereka.

Delana tersenyum menatap dua saudaranya itu. “Hati-hati ya!” seru Delana sambil melambaikan tangan ke arah Dhanuar dan Alan yang mulai meninggalkan mereka.

“Mau minum?” tanya Hesa.

Delana menoleh ke arah Hesa, kemudian ia menatap warung yang ada di belakangnya. “Boleh juga. Ada minuman dingin nggak ya?” tanyanya sambil melangkahkan kaki memasuki warung.

“Cari apa, Mbak?” tanya penjaga warung.

“Ada minuman dingin?” tanya Delana.

“Nggak ada, Mbak. Es batunya habis.”

“Oh. Ya udah, beli ini aja, Bu,” tutur Delana sambil meraih satu botol air mineral yang ada di warung itu.

Hesa langsung duduk di kursi kayu yang ada di dalam warung. “Ada kopi, Bu?” tanya Hesa.

“Ada, Mas,” jawab ibu penjaga warung sambil tersenyum.

“Kopi satu ya!” pinta Hesa.

Delana menggigit bibirnya dan langsung duduk di hadapan Hesa. “Aku nggak mau Kakak lama-lama ngopinya. Keburu sore ntar.”

Hesa tertawa kecil menanggapi ucapan Delana. “Selow aja! Masih lama mereka balik ke sini. Masih bisa ngopi-ngopi,” tutur Hesa. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya. Ia mengambil satu batang dan menyalakan api untuk membakar satu batang rokok yang sudah ia jepit di bibirnya.

Delana menatap Hesa dengan seksama. Ia tidak suka cowok perokok, tapi entah kenapa gaya Hesa saat merokok terlihat lebih keren. Huft ... apa otaknya sudah rusak? Delana memukul-mukul kepalanya perlahan untuk mengembalikan kondisi otaknya agar berfungsi dengan baik.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku ganteng ya?” tanya Hesa sambil tersenyum menatap Delana.

Delana mencebik mendengar ucapan Hesa.

Hesa hanya tertawa kecil melihat ekspresi Delana yang begitu lucu. Ia kemudian asyik menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi hitam.

“Kita balik ke Balikpapan kapan?” tanya Hesa.

“Besok sore,” jawab Delana. “Aku masih pengen nikmatin suasana di sini.”

Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian, sepeda motor yang mengantar Dhanuar dan Alan kembali.        

“Mereka udah datang. Yuk!” ajak Delana. Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari warung.

“Berapa semuanya, Bu?” tanya Hesa pada penjual warung sambil merogoh sakunya.

“Lima belas ribu, Mas.”

Hesa langsung mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. “Ambil aja kembaliannya!” pintanya. Ia mengejar Delana keluar dari warung.

Delana langsung melangkahkan kakinya menuju mobil. Mengambil beberapa barang yang belum terbawa. Hesa hanya tersenyum melihat Delana yang terlihat begitu energik. Ia langsung mengunci mobilnya dan bergegas menghampiri sepeda motor yang sudah menunggunya.

Delana langsung naik ke atas motor. “Ayo, jalan Pak!” pinta Delana. Supir ojek itu langsung menyalakan sepeda motornya dan bergegas pergi.

Delana menoleh ke belakang. Melihat Hesa yang tak kunjung naik motor. Ia justru sibuk mengobrol dengan petugas penjaga pos. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ia mengalihkan pandangannya saat Hesa sudah selesai mengobrol dan mulai menaiki sepeda motor. Mereka bersama-sama menuju pos terakhir dan bersiap untuk menghabiskan malam bersama di tempat ini.

Delana tersenyum bahagia begitu sampai di lokasi dan mendapati dua sepupunya sudah selesai membuat satu tenda.

“Kalian memang selalu bisa diandalkan,” tutur Delana begitu ia turun dari motor.

“Enak aja! Ini mah tenda buat kita. Kamu bikin sendiri lah,” sahut Dhanuar.

“What!?” Delana menatap kedua sepupunya dengan kesal.

“Makasih ya, Pak!” Hesa turun dari motor. Ia merogoh dompet di saku celananya dan memberikan empat lembar uang seratus ribuan pada pengendara motor yang mengantarnya. “Jangan lupa ya!” pinta Hesa.

“Siap, Mas!” sahut pengendara motor itu sambil mengacungkan jempolnya. “Kalo ada perlu telpon aja, Mas!” pintanya.

“Sip!” tutur Hesa sambil mengangkat jempolnya.                 

“Kami balik dulu, Mas!” pamit kedua pengendara sepeda motor.

“Hati-hati ya!” seru Hesa sambil melambaikan tangannya.

Kedua pengendara motor itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

Delana menghampiri Hesa. “Kamu ada kompromi apa sama mereka?” bisik Delana penasaran.

“Kompromi apaan?” tanya Hesa.

“Tadi tuh orang ngomongnya telepon aja kalo ada perlu. Emangnya kamu udah tukeran nomer hp sama dia?” tanya Delana.

Hesa tersenyum penuh arti. “Kalo cuma dapetin nomer hp aja gampang,” tuturnya.

Delana mencebik. Ia langsung meninggalkan Hesa dan menghampiri kedua sepupunya.

“Pasangin tenda aku juga, dong!” pinta Delana pada Dhanuar dan Alan yang sudah duduk santai di atas rerumputan.

“Males, ah!” sahut Dhanuar. Ia tersenyum sambil menoleh ke arah Alan. Mereka terlihat kompak tidak mau memasangkan tenda untuk Delana.

“Iih ...!” dengus Delana kesal sambil menghentakkan kakinya. Ia langsung menyeret tenda miliknya dan mulai memasang sendirian.

“Sini aku bantuin!” Hesa langsung menawarkan bantuan begitu melihat Delana kesulitan.

“Nggak usah! Aku bisa sendiri,” sahut Delana dengan wajah kesal.

Hesa menahan tawa melihat tingkah Delana. Terlihat jelas kalau ia kesulitan tapi masih saja tidak mau menerima bantuan orang lain. Hesa tak lagi menghiraukan apakah Delana mengizinkan membantunya atau tidak. Dengan cepat ia membantu Delana memasang tenda.

Dhanuar menyikut Alan. Ia tersenyum kecil sambil menunjuk Hesa dengan dagunya.

Alan hanya tersenyum menanggapinya. “Hesa lagi pedekate sama Dela. Kita jangan ganggu mereka. Sebelum gelap, kita cari kayu bakar yuk!” ajak Alan.

“Ayo!” Dhanuar dan Alan langsung bangkit dan bergegas pergi.

“Kalian mau ke mana?” tanya Delana begitu menyadari kedua sepupunya beranjak pergi dari tempat mereka mendirikan tenda.

“Mau cari kayu bakar,” jawab Alan.

“Oh.” Delana tak banyak bertanya. Ia kembali membantu Hesa untuk menyelesaikan memasang tenda.

“Kak Hesa pernah camping sebelumnya?” tanya Delana.

“Dulu, waktu masih SMA. Itupun karena ikut ekskul pramuka.”

“Oh, pantesan!”

“Kenapa emangnya?” tanya Hesa menatap Delana yang ada di sampingnya.

“Nggak papa. Kak Hesa pintar pasang tendanya,” tutur Delana.

Hesa tersenyum kecil. “Rasanya, semua cowok harus tahu gimana caranya pasang tenda untuk camping. Kebangetan kalo sampe nggak bisa masang.”

“Hmm ... tapi bukannya Kakak lama di luar negeri? Masih ingat caranya?”

“Untuk mahasiswa lulusan luar negeri seperti aku, apa masih perlu diragukan lagi soal ingatannya?” tutur Hesa sambil tersenyum kecil.

“Sepertinya begitu. Buktinya, Kak Hesa lupa sama aku,” tutur Delana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hesa.

“Bukan lupa, itu karena kamu ...” Hesa menoleh ke arah Delana yang berdiri di sampingnya. Ia tertegun saat mendapati wajah Delana begitu dekat dengannya. Hanya berjarak lima belas sentimeter dan berhasil membuat degup jantungnya tak karuan.

Hesa terpaku menatap bayangan dirinya yang terlukis di manik mata Delana. Dalam benaknya, ia ingin masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi sampai ke dalam relung hati Delana.

“Kak ...!” panggil Delana.

Panggilan Delana membuyarkan lamunan Hesa.

“Kok, malah ngelamun?” tanya Delana.

“Nggak papa.” Hesa memalingkan wajahnya dan kembali menyelesaikan memasang tenda. “Dikit lagi kelar,” tutur Hesa sambil mengeratkan ujung tali terakhirnya.

“Selesai!” seru Hesa sambil membersihkan tangannya.

“Hore ...! Makasih ya, Kak!” tutur Delana. “Kalo nggak ada Kak Hesa. Aku pasti udah pasang tenda sendiri,” tutur Delana sambil merengut.

“Mereka nggak mungkin biarin cewek secantik kamu pasang tenda sendiri,” sahut Hesa.

“Buktinya, mereka beneran nggak mau bantu aku pasang tenda.”

“Mereka bercanda aja. Dan kamunya juga gampang ngambek.”

Delana hanya meringis mendengar ucapan Hesa.

Hesa melangkahkan kaki dan duduk di atas kayu pohon yang telah tumbang.

“Mereka kok lama ya?” gumam Delana.

“Namanya juga cari kayu bakar. Mungkin cari kayunya agak susah.”

“Aku takutnya mereka nyasar,” tutur Delana.

Hesa tertawa kecil. “Mereka udah gede. Nggak bakalan nyasar. Lagipula, tempat ini bukan hutan belantara.”

“Hmm ... iya, juga sih.” Delana duduk di samping Hesa.

Hesa menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Kita naik yuk! Lihat sunset,” ajak Hesa.

“Tapi, Dhanuar sama Alan gimana? Kita tinggal?” tanya Delana. Ia ragu untuk meninggalkan kedua sepupunya itu.

“Nanti mereka pasti nyusul,” tutur Hesa. “Aku ambil kamera dulu!” Hesa melangkahkan kakinya menuju tenda. Ia masuk ke dalam tenda dan keluar dengan kamera DSLR di tangannya.

“Kak Hesa bawa kamera?” tanya Delana dengan mata berbinar.

“Iya,” jawab Hesa sambil tersenyum.

“Aku nggak kepikiran bawa kamera gede. Cuma bawa bekal kamera hp aja. Ntar fotoin aku ya Kak!” pinta Delana.

“Iya. Naik sekarang yuk!” ajak Hesa sambil meraih lengan Delana dan mengajaknya pergi menaiki Batu Dinding.

Delana menatap lengan Hesa yang menggenggam pergelangan tangannya. Ia teringat pada seseorang yang pernah menggenggam tangannya seperti ini. Delana menghela napas, ia masih belum bisa melupakan cowok itu sepenuhnya.

“Kamu naik duluan!” pinta Hesa saat mereka akan menaiki bebatuan yang hanya cukup dilewati oleh satu orang saja.

“Aku?” Delana menunjuk dirinya sendiri.

Hesa tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mempersilakan Delana untuk berjalan di depannya.

Delana melangkahkan kakinya perlahan melewati tubuh Hesa yang tadi di depannya. Hesa langsung mengikuti langkah Delana. Ia memerhatikan setiap gerakan kaki Delana untuk memastikan kalau kaki gadis itu tidak berada dalam bahaya.

Delana menginjak bebatuan kecil dan membuat kakinya sedikit terpeleset. Dengan cepat Delana langsung memegang kayu pagar yang menjadi pembatas tepi batu Dinding agar tidak terjatuh.

Hesa dengan cepat memegangi tubuh Delana dari belakang. “Hati-hati!” pinta Hesa.

“Sorry!” Delana memperbaiki posisinya dan kembali berjalan menaiki Batu Dinding yang cukup curam.

“Kalo hujan, di sini bakal licin banget,” tutur Hesa.

“Sepertinya begitu. Mudahan nggak hujan,” sahut Delana.

“Aamiin.”

Delana dan Hesa akhirnya bisa berada di atas Batu Dinding. “Kakak berani ke ujung sana?” tanya Delana sambil menunjuk ujung puncak tertinggi Batu Dinding.

“Berani. Tapi, aku rasa kita nggak usah ke sana.”

“Why?”

“Ini udah senja. Kalau kita ke sana. Balik ke sini lagi pasti malam. Tempat ini terlalu tinggi dan ekstrim banget. Aku nggak mau ambil resiko.”

“Hmm ... ya udah. Jadi, kita di sini aja?” tanya Delana.

“Iya.” Hesa langsung mengeluarkan kameranya dan membidik ojek sunset yang begitu indah.

“Kalo gitu, besok pagi pas sunrise, kita harus ke sana ya!” pinta Delana.

Hesa menatap Delana sambil tersenyum. “Kalo besok pagi, boleh.”

Delana tersenyum senang. Ia tahu kalau Hesa mengkhawatirkan dirinya. Mereka lebih memilih menikmati sunset dari satu sudut ketinggian Batu Dinding. Semuanya terlihat begitu indah.

Hesa terus menatap wajah Delana yang tertimpa cahaya matahari senja. Gadis itu benar-benar memikat hati dengan sikap cueknya itu. Ia berharap, hubungannya dengan Delana tidak hanya sekedar teman baik.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas