Thursday, March 26, 2026

Secercah Harapan Karya Anak Desa bersama JNE






Sejak kecil aku sudah menyukai dunia seni fashion dan kriya. Ketika menjadi ibu rumah tangga, aku tidak meninggalkan kebiasaanku dalam membuat kerajinan tangan. Bagiku, waktu begitu bermakna ketika aku bisa menghasilkan sebuah karya dari bahan yang dipandang sebelah mata.

Setiap minggunya, aku selalu berusaha untuk menghasilkan karya fashion dan kerajinan tangan. Mulai dari hal sederhana seperti membuat bros, anting-anting, jepit rambut, gantungan kunci, kalung, hingga membuat kostum tari dan kebaya modern. Setiap karya baru adalah tantangan yang harus aku takhlukan.

Seiring berjalannya waktu, kain perca di rumah semakin menumpuk dan aku tidak tega untuk membuangnya begitu saja. Cukup lama aku memikirkan bagaimana kain perca sisa jahitan bisa kumanfaatkan kembali.

Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, aku mulai memilah kain perca dari ukuran besar sampai ukuran terkecil.

Kain perca yang ukurannya besar, aku gunakan untuk membuat baju anak dengan motif kombinasi. Kain perca  berukuran sedang, aku potong dengan ukuran yang sama untuk aku buat cover mesin, cover printer, cover bantal, dll. Sedang kain perca berukuran kecil dan tidak bisa dijahit lagi, aku hancurkan untuk menjadi isian bantal. Jadi, semua sisa kain bisa dimanfaatkan dan tidak terbuang sia-sia.

Selain limbah kain, aku juga banyak menghasilkan limbah lain. Baik itu limbah plastik maupun limbah organik. Aku tidak membuangnya begitu saja. Aku merasa bahwa limbah-limbah itu masih memiliki kesempatan kedua jika dikelola dengan baik.

Produk daur ulang yang aku miliki jadi semakin banyak dan tidak punya tempat lagi. Aku mulai berpikir untuk menjualnya. Dengan begini, aku tidak hanya menjalankan hobiku, tapi juga bisa mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab, semakin dewasa, semakin banyak pengeluaran yang harus dipenuhi setiap bulannya.

Menjual produk daur ulang tidaklah mudah. Sebab, tidak semua orang menyukai produk seperti ini. Apalagi, kebanyakan orang menganggapnya tetaplah sampah yang tidak layak untuk dikoleksi.

Kalau aku bikin toko fashion dan kriya, kira-kira laku atau nggak, ya?” pertanyaan ini terus menggantung di pikiranku.

Aku tinggal di pelosok desa kayak gini. Orang-orang di desa nggak mungkin beli produk seni. Mereka akan memilih produk yang bisa dikonsumsi setiap harinya. Gimana caranya supaya produk aku bisa laku dan punya pasar yang lebih luas lagi?

Banyak hal yang menjadi kegelisahanku selama ini. Ingin punya usaha, tapi tinggalnya di pedalaman. Rasanya sangat mustahil. Padahal, internet sudah membuat produk kita mudah untuk dijangkau oleh pelanggan. Sayangnya, pengiriman barang selalu terkendala karena minimnya akses transportasi umum.

Suatu hari, aku mendapatkan pesanan dari seseorang di luar daerah. Aku sangat bimbang untuk mengambil orderan tersebut karena pengiriman barangnya lumayan jauh. Ongkos kirim akan jadi lebih mahal dari harga barang. Membuatku tidak percaya diri untuk menjual produk ke luar daerah. Harga produk yang aku punya menjadi tidak kompetitif lagi di pasaran.

“Kak, ongkir ke tempat Kakak lumayan mahal. Rumahku juga jauh dari kantor JNE. Masih harus keluar dari desa untuk bisa kirimkan barangnya dan perlu ongkos bensin tambahan,” ucapku saat mendapat pesanan dari customer.

“Nggak masalah, Kak. Semuanya aku tanggung. Karena aku suka barang yang Kakak buat,” jawab customer pertamaku.

“Beneran? Ini ongkirnya dua kali lipat dari harga barangnya, loh,” tanyaku lagi meyakinkan. Aku benar-benar tidak ingin membuat pembeli kecewa.

“Iya, nggak papa, Kak. Aku tanggung ongkirnya. Bisa Kakak kirimkan barangnya, ya!”

Seorang customer  menjadi penyemangat atas keraguanku. Dia bersedia menanggung ongkos kirim karena produk yang aku punya tidak ada di toko lain dan dia sangat menyukainya. Alhasil, aku beranikan diri untuk menerima orderan tersebut.

Keraguan dalam hatiku sirna sudah. Tapi muncul masalah baru lagi. Kantor JNE jaraknya masih lumayan jauh dari rumahku. Sekitar 15 kilometer lagi. Sedangkan aku tidak ada waktu dan tenaga untuk sekedar pergi ke kantor JNE karena sibuk menyelesaikan pesanan.

Setelah berusaha mencari informasi, ternyata JNE memiliki layanan Pick Up. Layanan ini sangat cocok untukku dan tarifnya juga sudah disetujui oleh customer. Artinya, aku tidak perlu berpanas-panasan keluar dari rumah, menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mengirimkan barang kepada pelanggan. Aku cukup mengemasnya dengan rapi dan menunggu kurir menjemput barang pesanan di rumahku.

Layanan pick up ini sangat cocok untukku karena bisa menghemat biaya kirim dan operasional. Dengan begini, aku tidak khawatir lagi jika hargaku tidak kompetitif. Karena barang yang aku jual memiliki keunikan tersendiri. Produk kerajinan memang tak banyak peminatnya, tapi masih memiliki tempat di hati orang-orang yang istimewa.

Hingga saat ini, aku masih konsisten untuk berkarya, meski tidak banyak. Kesibukanku sebagai Ibu Rumah Tangga dengan tiga anak, terkadang masih membuatku kesulitan. Aku belum terbiasa dengan itu semua. Tapi aku yakin, suatu saat nanti aku bisa menjalankan toko online-ku dengan baik dan mampu memproduksi lebih banyak karya lagi. Sebab, dunia sudah menyuguhkan begitu banyak kemudahan dan kita hanya tinggal memanfaatkannya saja.

 

 



#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas