Sejak
kecil aku sudah menyukai dunia seni fashion dan kriya. Ketika menjadi ibu rumah
tangga, aku tidak meninggalkan kebiasaanku dalam membuat kerajinan tangan.
Bagiku, waktu begitu bermakna ketika aku bisa menghasilkan sebuah karya dari
bahan yang dipandang sebelah mata.
Setiap
minggunya, aku selalu berusaha untuk menghasilkan karya fashion dan kerajinan
tangan. Mulai dari hal sederhana seperti membuat bros, anting-anting, jepit
rambut, gantungan kunci, kalung, hingga membuat kostum tari dan kebaya modern. Setiap
karya baru adalah tantangan yang harus aku takhlukan.
Seiring
berjalannya waktu, kain perca di rumah semakin menumpuk dan aku tidak tega
untuk membuangnya begitu saja. Cukup lama aku memikirkan bagaimana kain perca
sisa jahitan bisa kumanfaatkan kembali.
Dengan
penuh kesabaran dan ketelatenan, aku mulai memilah kain perca dari ukuran besar
sampai ukuran terkecil.
Kain
perca yang ukurannya besar, aku gunakan untuk membuat baju anak dengan motif
kombinasi. Kain perca berukuran sedang,
aku potong dengan ukuran yang sama untuk aku buat cover mesin, cover printer, cover
bantal, dll. Sedang kain perca berukuran kecil dan tidak bisa dijahit lagi, aku
hancurkan untuk menjadi isian bantal. Jadi, semua sisa kain bisa dimanfaatkan
dan tidak terbuang sia-sia.
Selain
limbah kain, aku juga banyak menghasilkan limbah lain. Baik itu limbah plastik
maupun limbah organik. Aku tidak membuangnya begitu saja. Aku merasa bahwa
limbah-limbah itu masih memiliki kesempatan kedua jika dikelola dengan baik.
Produk
daur ulang yang aku miliki jadi semakin banyak dan tidak punya tempat lagi. Aku
mulai berpikir untuk menjualnya. Dengan begini, aku tidak hanya menjalankan
hobiku, tapi juga bisa mendapatkan uang tambahan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebab, semakin dewasa, semakin banyak pengeluaran yang harus dipenuhi setiap
bulannya.
Menjual
produk daur ulang tidaklah mudah. Sebab, tidak semua orang menyukai produk
seperti ini. Apalagi, kebanyakan orang menganggapnya tetaplah sampah yang tidak
layak untuk dikoleksi.
“Kalau
aku bikin toko fashion dan kriya, kira-kira laku atau nggak, ya?”
pertanyaan ini terus menggantung di pikiranku.
“Aku
tinggal di pelosok desa kayak gini. Orang-orang di desa nggak mungkin beli
produk seni. Mereka akan memilih produk yang bisa dikonsumsi setiap harinya.
Gimana caranya supaya produk aku bisa laku dan punya pasar yang lebih luas
lagi?”
Banyak
hal yang menjadi kegelisahanku selama ini. Ingin punya usaha, tapi tinggalnya
di pedalaman. Rasanya sangat mustahil. Padahal, internet sudah membuat produk
kita mudah untuk dijangkau oleh pelanggan. Sayangnya, pengiriman barang selalu
terkendala karena minimnya akses transportasi umum.
Suatu
hari, aku mendapatkan pesanan dari seseorang di luar daerah. Aku sangat bimbang
untuk mengambil orderan tersebut karena pengiriman barangnya lumayan jauh.
Ongkos kirim akan jadi lebih mahal dari harga barang. Membuatku tidak percaya
diri untuk menjual produk ke luar daerah. Harga produk yang aku punya menjadi
tidak kompetitif lagi di pasaran.
“Kak,
ongkir ke tempat Kakak lumayan mahal. Rumahku juga jauh dari kantor JNE. Masih
harus keluar dari desa untuk bisa kirimkan barangnya dan perlu ongkos bensin
tambahan,” ucapku saat mendapat pesanan dari customer.
“Nggak
masalah, Kak. Semuanya aku tanggung. Karena aku suka barang yang Kakak buat,”
jawab customer pertamaku.
“Beneran?
Ini ongkirnya dua kali lipat dari harga barangnya, loh,” tanyaku lagi
meyakinkan. Aku benar-benar tidak ingin membuat pembeli kecewa.
“Iya,
nggak papa, Kak. Aku tanggung ongkirnya. Bisa Kakak kirimkan barangnya, ya!”
Seorang
customer menjadi penyemangat atas
keraguanku. Dia bersedia menanggung ongkos kirim karena produk yang aku punya
tidak ada di toko lain dan dia sangat menyukainya. Alhasil, aku beranikan diri
untuk menerima orderan tersebut.
Keraguan
dalam hatiku sirna sudah. Tapi muncul masalah baru lagi. Kantor JNE jaraknya
masih lumayan jauh dari rumahku. Sekitar 15 kilometer lagi. Sedangkan aku tidak
ada waktu dan tenaga untuk sekedar pergi ke kantor JNE karena sibuk
menyelesaikan pesanan.
Setelah
berusaha mencari informasi, ternyata JNE memiliki layanan Pick Up. Layanan ini
sangat cocok untukku dan tarifnya juga sudah disetujui oleh customer. Artinya,
aku tidak perlu berpanas-panasan keluar dari rumah, menghabiskan banyak waktu,
tenaga, dan biaya untuk mengirimkan barang kepada pelanggan. Aku cukup
mengemasnya dengan rapi dan menunggu kurir menjemput barang pesanan di rumahku.
Layanan
pick up ini sangat cocok untukku karena bisa menghemat biaya kirim dan
operasional. Dengan begini, aku tidak khawatir lagi jika hargaku tidak
kompetitif. Karena barang yang aku jual memiliki keunikan tersendiri. Produk
kerajinan memang tak banyak peminatnya, tapi masih memiliki tempat di hati
orang-orang yang istimewa.
Hingga
saat ini, aku masih konsisten untuk berkarya, meski tidak banyak. Kesibukanku
sebagai Ibu Rumah Tangga dengan tiga anak, terkadang masih membuatku kesulitan.
Aku belum terbiasa dengan itu semua. Tapi aku yakin, suatu saat nanti aku bisa
menjalankan toko online-ku dengan baik dan mampu memproduksi lebih banyak karya
lagi. Sebab, dunia sudah menyuguhkan begitu banyak kemudahan dan kita hanya
tinggal memanfaatkannya saja.
.png)
0 komentar:
Post a Comment