Semua orang menikmati makan malam sambil
berbincang hangat.
“Tante, ada kecap?” tanya Yeriko sambil mengamati
meja makan.
“Ada, di dapur. Biar Tante ambilkan,” jawab Melan.
“Nggak usah, Tante. Biar aku yang ambil sendiri!”
sahut Yeriko sambil bangkit dari tempat duduknya.
Melan mengangguk-anggukkan kepala, ia melanjutkan
menyantap makan malamnya. “Huft, untung aja aku udah suruh pembantu buat buang
sampah. Nggak akan berbahaya,” batin Melan.
Yeriko tersenyum sinis sambil melangkahkan kakinya
masuk ke dapur. Ia mengamati tempat sampah yang sudah bersih. “Sial, udah
dibuang!” umpatnya dalam hati.
Yeriko memeriksa tempat sampah yang ada di dapur
tersebut. Ia sangat penasaran dengan apa yang dibuang oleh Tarudi saat
berseteru dengan Melan di dapur ini.
Yeriko terus mengedarkan pandangannya ke lantai.
Matanya kemudian tertuju pada satu butir pil yang tergeletak di sudut lantai.
Ia langsung menarik tisu yang ada di atas meja, mengambil pil tersebut dan
membungkusnya. Yeriko meraih botol kecap yang ada di atas meja, tangan satunya
memasukkan bungkusan pil tersebut ke dalam saku kemejanya. Ia bergegas kembali
ke meja makan.
“Mau kecap?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna yang
duduk di sampingnya.
Yuna menggelengkan kepala.
Yeriko tersenyum sambil menuangkan kecap ke atas
potongan daging yang ada di atas piringnya. Ia memicingkan mata sambil menatap
daging yang sudah terlumuri kecap. “Pake kecap, enak nggak ya?” batin Yeriko.
Ia tersenyum sambil mengedarkan pandangannya.
“Kenapa tiba-tiba makan daging sama kecap?
Bukannya kamu nggak suka daging dikecapin?” bisik Yuna di telinga Yeriko.
Yeriko hanya tersenyum sambil menatap Yuna.
“Terpaksa,” jawab Yeriko berbisik. Sebab, hanya kecaplah yang terlintas di
kepalanya agar ia bisa masuk ke dapur itu.
Yuna menahan tawa. Ia masih tidak mengerti apa
yang sedang direncanakan oleh suaminya hingga rela menikmati makanan yang tidak
disukainya.
Yeriko hanya tersenyum sambil mengusap ujung
kepala Yuna.
Usai makan malam, mereka bersantai sambil
berbincang banyak hal. Adjie, Tarudi dan Yeriko berbincang di ruang tamu.
Sementara, Yuna memilih untuk duduk santai di teras rumah seorang diri. Ia
memilih untuk menghindari Melan dan Bellina.
“Yun, kenapa di luar?” tanya Lian sambil menatap
Yuna.
“Eh!? Nggak papa, Li. Enak aja di sini.”
Lian tersenyum sambil menyodorkan gelas berisi air
hangat ke hadapan Yuna. “Di sini dingin. Aku bawakan air hangat buat kamu.”
‘Thank’s Li,” balas Yuna sambil menerima gelas air
hangat dari tangan Lian.
Lian memilih untuk duduk di kursi yang ada di
hadapan Yuna. “Gimana keadaan kandungan kamu, sehat?”
Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Lian tersenyum ke arah Yuna. “Kamu kelihatan
bahagia banget hidup sama dia.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Sangat bahagia.
Kamu dan Belli, juga telah menjalani kehidupan yang baik. Jaga hubungan kalian
dengan baik ya!”
Lian hanya tersenyum sambil menatap Yuna. Matanya
kemudian beralih pada perut Yuna yang sudah membuncit. “Udah berapa bulan,
Yun?”
“Tujuh bulan,” jawab Yuna sambil menyesap air
hangat yang diberi Lian.
“Nggak terasa. Kayaknya, baru setahun kita pisah.
Kamu sudah mau jadi ibu. Selamat ya, Yun! Selamat tahun baru, menjalani
hari-hari baru dengan kehidupan barumu,” tutur Lian sambil tersenyum.
“Sama-sama, Li. Semoga kamu selalu bahagia dengan
kehidupan barumu. Mudahan, kamu juga cepet jadi Bapak,” tutur Yuna sambil
tersenyum lebar.
Lian tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Di sudut lain, Bellina terus memperhatikan Lian
dan Yuna yang sedang berbincang di teras rumah. Ia ingin melihat apa yang akan
Lian lakukan terhadap Yuna.
“Kalian berdua lagi ngobrolin apaan?” tanya Yeriko
sambil menghampiri Yuna dan Lian.
Lian langsung menoleh ke arah Yeriko. “Cuma
ngucapin selamat tahun baru ke Yuna.”
“Oh.” Yeriko langsung duduk di sebelah Yuna,
merangkul tubuh istrinya itu sambil mengecup pelipisnya.
Lian menahan napas saat melihat Yeriko sengaja
bermesraan di hadapannya. Ia bangkit dan memilih menjauh dari Yuna dan Yeriko.
Yeriko langsung tertawa kecil begitu Lian masuk ke
dalam rumah. “Dia masih ngerayu kamu?” bisiknya di telinga Yuna.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku juga nggak akan
tertarik sama rayuannya.”
Yeriko tersenyum sambil memeluk tubuh Yuna. Ia
mengecup kepala Yuna berkali-kali. “Kita pulang sekarang, gimana?”
“Ayah masih ngobrol sama Oom Rudi. Pada ngomongin
apaan sih? Serius banget?”
“Biasa. Soal hobi dan bisnis,” jawab Yeriko.
Yuna menghela napas. “Kenapa ayah masih aja mau
berbaik hati ke Oom Rudi. Aku sendiri, masih belum bisa merelakan semuanya.”
“Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir!” pinta
Yeriko. “Jangan mengingat masa lalu kamu yang menyakitkan! Apa kebahagiaan dari
aku, masih kurang untuk menutupi semua kesedihanmu?”
Yuna langsung menatap mata Yeriko. Memang tidak
seharusnya ia merasa hidupnya selalu menderita. Banyak hal yang telah dilakukan
oleh suaminya. Jika ia masih merasa tidak bahagia, bukankah artinya telah
melukai perasaan Yeriko yang berusaha membuatnya bahagia setiap detik.
“Makasih untuk semua hal yang udah kamu kasih ke
aku!” ucap Yuna sambil menengadahkan kepalanya di bawah kepala Yeriko.
Yeriko tersenyum. Ia langsung mengecup bibir Yuna
dan memainkan hidungnya di atas hidung Yuna. Mereka tertawa bahagia sambil
menunggu Adjie selesai berbincang dengan adik kandungnya.
Di ruangan lain, Bellina langsung
menghampiri Lian yang baru saja masuk. “Li ...!”
“Umh.” Lian menyahut tanpa menoleh ke arah
Bellina. Ia menyesap kopi sambil menatap ke luar jendela dapurnya.
“Abis ngapain sama Yuna?” tanya Bellina.
Lian langsung menoleh ke arah Bellina. “Nggak
ngapa-ngapain.”
“Kamu datengin dia, bahkan ngobrol asyik banget
sama dia. Kamu masih cinta sama Yuna?”
Lian menggelengkan kepala. “Cuma ngobrol sebentar.
Kenapa kamu langsung mengartikan kalau aku masih cinta sama Yuna?”
“Karena kamu masih perhatian banget sama dia.
Gimana aku nggak salah paham kalau kamu masih kayak gini terus?”
“Bel, dia itu bukan sekedar mantan pacarku, dia
sepupu kamu, dia juga mantan karyawan di perusahaan kita. Apa salahnya menjaga
hubungan baik. Nggak ada bedanya ngobrol ke yang lain,” jawab Lian.
“Jadi beda kalau orang itu si Yuna!” sahut
Bellina.
“Apa bedanya? Dia sama aja kayak yang lain,” sahut
Lian.
“Dia mantan pacar kamu. Pastinya kamu punya
perasaan yang beda. Kamu pernah sayang sama dia. Sampai kapan aku akan jadi
bayangan Yuna dalam hidup kamu?”
Lian menghela napas. “Bel, kamu ini salah paham.
Aku sama Yuna, udah nggak ada hubungan apa-apa. Kita sudah punya kehidupan
masing-masing. Yuna juga sudah menikah. Apa yang kamu khawatirkan?”
“Kamu tahu dengan jelas, apa yang aku khawatirkan.
Kenapa masih ditanyain lagi?”
Lian langsung merengkuh Bellina ke dalam
pelukannya. “Sudahlah. Kamu jangan mikir macam-macam!” bisik Lian. “Aku hanya
ingin menjaga hubungan baik keluarga kita. Nggak perlu khawatir!”
Bellina tersenyum sambil melingkarkan kedua
lengannya ke pinggang Lian. Ia merasa sangat bahagia setiap kali Lian
memperlakukan dirinya dengan baik. Ia tidak ingin Lian terus-menerus
memerhatikan orang lain, apalagi memerhatikan mantan pacar yang
juga
sepupunya itu.
((Bersambung ...))
Misteri apa
yang belum terpecahkan di Perfect Hero?
Dukung terus
cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment