“Dokter, gimana kondisi ayah saya?” tanya Yuna
setelah dokter melakukan operasi selama empat jam.
Dokter membuka maskernya dan menatap wajah Yuna.
“Operasinya berjalan dengan lancar. Kami masih harus memantau perkembangan
pasien selama beberapa jam ke depan untuk memastikan kondisi beliau.”
“Dia baik-baik aja ‘kan, Dokter?” tanya Yuna.
Dokter itu hanya menghela napas. “Saya tidak bisa
memberi banyak harapan, banyak-banyak berdoa untuk keselamatan ayah kamu.”
Yuna kembali terisak saat mendengar ucapan dokter
tersebut.
“Apa kami sudah bisa jenguk ayah kami, Dokter?”
tanya Yeriko.
“Bisa. Setelah pasien dipindahkan dari ruang
operasi,” jawab dokter tersebut sambil berlalu pergi.
“Hiks ... hiks ... ayahku gimana?” Yuna terus
terisak sambil meremas baju Yeriko.
Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna. “Ayah
adjie akan baik-baik aja! Dia pasti baik-baik aja,” tutur Yeriko lirih. Meski
ia tak yakin dengan ucapannya sendiri. Ia tetap berusaha untuk menenangkan hati
istrinya.
Yuna terus terisak dalam pelukkan Yeriko hingga
membuat kemeja suaminya basah dengan air mata dan ingus yang keluar dari
hidungnya.
“Kamu temani ayah dulu di sini. Aku akan urus ini
sama Satria!” pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ...!” pinta
Yuna sambil melirik ke arah tiga pria berseragam polisi yang sudah
menginterogasi kejadian kecelakaan ini beberapa jam sebelumnya.
Yeriko menganggukkan kepala. Ia melangkahkan
kakinya menghampiri tiga pria berseragam polisi dan melangkah pergi untuk
melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kejadian yang menimpa Adjie kali ini.
Yeriko merogoh ponsel dari dalam sakunya dan
langsung menelepon Satria.
“Halo, Sat! Pesan yang aku kirim beberapa jam
lalu, sudah diurus?”
“Sudah, Yer.”
“Posisi di mana, sekarang?” tanya Yeriko.
“Di Satlantas.”
Yeriko langsung menoleh ke arah pria berseragam
polisi yang ada di sebelahnya. “Satlantas deket sini ‘kan?”
“Iya, Mas. Cuma enam menit dari sini.”
“Oke. Teman saya sudah di sana untuk bantu
penyelidikan. Saya mau kasus ini diusut sampai selesai!”
“Siap, Mas! Kami juga akan melaksanakan tugas kami
dengan baik.”
Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke mobil dan
melaju menuju lokasi Satria berada.
“Gimana, Sat?” tanya Yeriko saat ia baru sampai di
kantor Satlantas dan melihat Satria sudah keluar dari sana.
“Udah dapet copy rekaman CCTV yang aku butuhkan.
Kita kerjain di rumah aja. Kalau nunggu penyidikan dari kepolisian, mereka
lambat,” bisik Satria.
Yeriko tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
“Mereka nggak bisa disuruh lembur sampai pagi.
Dapetin ini rekaman juga ribet. Untung papaku walikota, hihihi.”
“Ada gunanya juga jadi anak walikota,” sahut
Yeriko.
“Ck, aku ini anak walikota, juga komandan TNI-AD.
Masih aja diremehkan kayak gini?”
“Heh, orang hebat itu sesekali perlu diremehkan
supaya kemampuannya semakin meningkat,” sahut Yeriko.
“Teorimu, Yer! Kamu sendiri nggak terima kalau
diremehkan orang lain.
“Hahaha. Buruan masuk mobil!” perintah Yeriko.
“Aku bawa motor, Yer.”
“Mana motormu?” tanya Yeriko sambil mengedarkan
pandangannya ke halaman parkir tersebut.
“Itu!”
“Kamu pake motor siapa?”
“Biasa. Motor anggota. Kalau pake mobil, nggak
bebas bergerak di jalanan. Enakan pake motor,” jawab Satria sambil memasangkan
helm di kepalanya.
“Oke. Aku tunggu kamu di rumah,” tutur Yeriko.
“Eh, di rumahku aja!” sahut Satria.
“Kenapa?”
“Lebih gampang di rumahku. Peralatanku di rumah
semua.”
“Oke. Aku langsung meluncur ke sana.”
“Yo’i!”
Yeriko bergegas menyalakan kembali mesin mobilnya.
Ia berpamitan dengan beberapa orang berseragam polisi yang sedang bertugas dan
bergegas pergi.
Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berada di
dalam kamar Satria. Mereka sibuk mengamati rekaman CCTV yang tak jauh dari
lokasi kejadian.
“Putar lagi, Sat!” perintah Yeriko saat melihat
tubuh Adjie melayang ke udara karena benturan tubuhnya dengan mobil yang melaju
kencang malam itu.
“Yer, bukannya mertua kamu itu di perjalanan mau
ke resort? Kenapa dia jalan kaki di sini?”
Yeriko menggelengkan kepala. “Di tempat sebelumnya
ada CCTV, nggak?”
“Bentar, aku nunggu kabar dari anak buahku, Yer.”
Yeriko memijat keningnya yang berdenyut.
“Gimana keadaan mertua kamu?” tanya Satria.
Yeriko menggelengkan kepala. “Belum sadar.”
“Ini kasus tabrak lari. Jelas-jelas pelakunya
kabur. Aku masih nunggu tersambung ke semua CCTV di kota ini, Yer. Udah malam
gini, agak lama minta izin aksesnya.”
“Emangnya yang piket nggak gantian.”
“Ada yang piket, tapi nggak ngerti caranya ngasih
akses.”
Yeriko termenung sambil mengamati rekaman CCTV
yang ada di layar laptop Satria.
“Masuk, Yer!” tutur Satria.
“Gimana?” tanya Yeriko saat layar komputer Satria
memunculkan banyak rekaman CCTV dari setiap sudut kota.
“Nah, ini taksi yang dipakai sama ayah mertua
kamu!” tutur Satria. Ia langsung mengambil pena dan buku, kemudian mencatat
plat nomor taksi tersebut untuk mengecek perjalanan mobil itu.
“Semuanya kelihatan normal sampai di sini ...
terus ... Pak Adjie berhenti di jalanan itu untuk beli sesuatu di minimarket.
Dan ini ... ini ... ini mobil yang nabrak Pak Adjie!” seru Satria.
“Kelihatan plat mobilnya dari sudut itu?” tanya
Yeriko.
“Nggak terlalu jelas karena malam hari, Yer. Aku
coba telusuri lewat CCTV lain.”
Yeriko menghela napas. “Aku dari dulu sudah curiga
sama tantenya Yuna. pasti dia yang sudah mencelakai ayah mertuaku.”
“Kita belum punya bukti, Yer. Pengendara mobil itu
jelas-jelas cowok. Tapi mukanya nggak tertangkap jelas.”
“Dari semua CCTV yang ada di kota ini, masa nggak
ada satu pun yang bisa merekam itu plat mobil!?” tutur Yeriko mulai kesal.
“Sabar, Yer. Pencahayaan di malam hari, nggak
sebaik waktu siang.”
“Besok, kamu suruh ayah kamu yang walikota itu
buat ganti semua lampu kota dengan lampu yang lebih terang lagi!”
“Bangsat kamu, Yer! Kamu kira pakai anggaran
negara bisa seenak udelmu!?”
Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan
Satria.
“Eh, yang ini dapet plat mobilnya. Yer, ini mobil
sempat berhenti beberapa meter dari lokasi kejadian. Artinya, pelaku tabrak
lagi ini sudah menargetkan Pak Adjie. Lihat! Setelah kejadian tabrakan,
kecepatan mobil dia di atas enam puluh kilometer per jam. Ini bukan tabrakan
biasa,” tutur Satria sambil meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
“Halo, Bang!”
“Bisa lacak plat mobil DD 1168 C yang hilang ke
arah Sidoarjo malam ini?” tanya Satria tanpa basa-basi.”
“Bisa, Bang. Berapa tadi nomor platnya?”
“DD 1168 C.”
“Itu plat wilayah SulSel, Bang. Ada apa sama plat
itu?”
“Sulawesi Selatan?”
“Iya, Bang.”
“Bisa dilacak pemilik mobilnya?”
“Wah, kalau ke Samsat Sulsel agak rumit,
Bang.”
“Emangnya nggak bisa minta link nasional? Semua
data pemerintahan seharusnya sudah terintegrasi. Masa nggak ada datanya di
Samsat online?” tanya Satria.
“Bang, harus minta akses ke Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan untuk dapetin datanya. Data yang ada sama saya punya
Pemerintah Provinsi Jawa Timur.”
“Berapa lama minta akses ke sana?” tanya Satria.
“Nggak lama kalau ada surat perintah dari
Walikota. Ini sudah terlalu malam. Kalau besok pagi, gimana?”
“Aku nggak bisa nunggu terlalu lama!” sahut
Satria. “Kamu pikirin idenya gimana!?”
“Saya bisa buatkan surat permohonan aksesnya,
Bang. Tapi butuh tanda tangan Pak Wali, gimana?”
“Papaku di rumah! Ke rumah sekarang juga!”
“Tapi, Bang ... saya nggak enak kalau mengganggu
waktu istirahat Pak Wali.”
“Halah, nggak usah kebanyakan alasan!” sahut
Satria. “Aku yang tanggung jawab. Ntar aku yang bangunin papa!”
“Oke, Bang! Saya langsung ke sana.”
“Lima belas menit sudah sampai di sini ya!”
perintah Satria.
“Dua puluh menit, Bang!” pinta pria yang ada di
seberang telepon tersebut.
“Lima belas menit aja lama. Malah minta dua puluh
menit!”
“Saya butuh waktu untuk cetak surat dan siap-siap
karena ini di luar jam kerja.”
“Jam kerja memang ada batasnya. Tapi tanggung
jawab, nggak ada waktunya. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Kalau
sampai nggak mau bantuin, aku suruh papaku pecat kamu dan blacklist nama kamu
dari pemerintahan atau swasta!” ancam Satria.
“Iya, Bang! Siap! Lima belas menit, saya sudah
sampai di sana.”
“Nah, gitu dong!” seru Satria sambil tertawa
lebar. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya begitu saja.
“Gimana?” tanya Yeriko.
“Wait! Sabar, ya! Aku udah suruh orang untuk
melacak pemilik mobil itu. Pemiliknya kemungkinan adalah orang suruhan Melan.
“Kalau sampai si Melan yang sengaja mencelakai
ayah mertuaku, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” gerutu Yeriko.
Satria terus melakukan penyelidikan untuk
menemukan siapa orang yang telah menabrak Adjie dengan kecepatan tinggi. Kali
ini, ia menggeleng-gelengkan kepala karena mobil tersebut sengaja mencelakai
ayah Yuna.
((Bersambung ...))
Dukung terus Bang Satria biar makin keren kalau melakukan penyelidikan.
Kasih saran yang bagus buat Bang Sat biar cepet nemuin pelaku tabrak larinya
ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment