Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 507 : Selidiki Kasus

 


“Dokter, gimana kondisi ayah saya?” tanya Yuna setelah dokter melakukan operasi selama empat jam.

 

Dokter membuka maskernya dan menatap wajah Yuna. “Operasinya berjalan dengan lancar. Kami masih harus memantau perkembangan pasien selama beberapa jam ke depan untuk memastikan kondisi beliau.”

 

“Dia baik-baik aja ‘kan, Dokter?” tanya Yuna.

 

Dokter itu hanya menghela napas. “Saya tidak bisa memberi banyak harapan, banyak-banyak berdoa untuk keselamatan ayah kamu.”

 

Yuna kembali terisak saat mendengar ucapan dokter tersebut.

 

“Apa kami sudah bisa jenguk ayah kami, Dokter?” tanya Yeriko.

 

“Bisa. Setelah pasien dipindahkan dari ruang operasi,” jawab dokter tersebut sambil berlalu pergi.

 

“Hiks ... hiks ... ayahku gimana?” Yuna terus terisak sambil meremas baju Yeriko.

 

Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna. “Ayah adjie akan baik-baik aja! Dia pasti baik-baik aja,” tutur Yeriko lirih. Meski ia tak yakin dengan ucapannya sendiri. Ia tetap berusaha untuk menenangkan hati istrinya.

 

Yuna terus terisak dalam pelukkan Yeriko hingga membuat kemeja suaminya basah dengan air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya.

 

“Kamu temani ayah dulu di sini. Aku akan urus ini sama Satria!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ...!” pinta Yuna sambil melirik ke arah tiga pria berseragam polisi yang sudah menginterogasi kejadian kecelakaan ini beberapa jam sebelumnya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia melangkahkan kakinya menghampiri tiga pria berseragam polisi dan melangkah pergi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kejadian yang menimpa Adjie kali ini.

 

Yeriko merogoh ponsel dari dalam sakunya dan langsung menelepon Satria.

 

“Halo, Sat! Pesan yang aku kirim beberapa jam lalu, sudah diurus?”

 

“Sudah, Yer.”

 

“Posisi di mana, sekarang?” tanya Yeriko.

 

“Di Satlantas.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pria berseragam polisi yang ada di sebelahnya. “Satlantas deket sini ‘kan?”

 

“Iya, Mas. Cuma enam menit dari sini.”

 

“Oke. Teman saya sudah di sana untuk bantu penyelidikan. Saya mau kasus ini diusut sampai selesai!”

 

“Siap, Mas! Kami juga akan melaksanakan tugas kami dengan baik.”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju lokasi Satria berada.

 

“Gimana, Sat?” tanya Yeriko saat ia baru sampai di kantor Satlantas dan melihat Satria sudah keluar dari sana.

 

“Udah dapet copy rekaman CCTV yang aku butuhkan. Kita kerjain di rumah aja. Kalau nunggu penyidikan dari kepolisian, mereka lambat,” bisik Satria.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

 

“Mereka nggak bisa disuruh lembur sampai pagi. Dapetin ini rekaman juga ribet. Untung papaku walikota, hihihi.”

 

“Ada gunanya juga jadi anak walikota,” sahut Yeriko.

 

“Ck, aku ini anak walikota, juga komandan TNI-AD. Masih aja diremehkan kayak gini?”

 

“Heh, orang hebat itu sesekali perlu diremehkan supaya kemampuannya semakin meningkat,” sahut Yeriko.

 

“Teorimu, Yer! Kamu sendiri nggak terima kalau diremehkan orang lain.

 

“Hahaha. Buruan masuk mobil!” perintah Yeriko.

 

“Aku bawa motor, Yer.”

 

“Mana motormu?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke halaman parkir tersebut.

 

“Itu!”

 

“Kamu pake motor siapa?”

 

“Biasa. Motor anggota. Kalau pake mobil, nggak bebas bergerak di jalanan. Enakan pake motor,” jawab Satria sambil memasangkan helm di kepalanya.

 

“Oke. Aku tunggu kamu di rumah,” tutur Yeriko.

 

“Eh, di rumahku aja!” sahut Satria.

 

“Kenapa?”

 

“Lebih gampang di rumahku. Peralatanku di rumah semua.”

 

“Oke. Aku langsung meluncur ke sana.”

 

“Yo’i!”

 

Yeriko bergegas menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia berpamitan dengan beberapa orang berseragam polisi yang sedang bertugas dan bergegas pergi.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berada di dalam kamar Satria. Mereka sibuk mengamati rekaman CCTV yang tak jauh dari lokasi kejadian.

 

“Putar lagi, Sat!” perintah Yeriko saat melihat tubuh Adjie melayang ke udara karena benturan tubuhnya dengan mobil yang melaju kencang malam itu.

 

“Yer, bukannya mertua kamu itu di perjalanan mau ke resort? Kenapa dia jalan kaki di sini?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Di tempat sebelumnya ada CCTV, nggak?”

 

“Bentar, aku nunggu kabar dari anak buahku, Yer.”

 

Yeriko memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Gimana keadaan mertua kamu?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Belum sadar.”

 

“Ini kasus tabrak lari. Jelas-jelas pelakunya kabur. Aku masih nunggu tersambung ke semua CCTV di kota ini, Yer. Udah malam gini, agak lama minta izin aksesnya.”

 

“Emangnya yang piket nggak gantian.”

 

“Ada yang piket, tapi nggak ngerti caranya ngasih akses.”

 

Yeriko termenung sambil mengamati rekaman CCTV yang ada di layar laptop Satria.

 

“Masuk, Yer!” tutur Satria.

 

“Gimana?” tanya Yeriko saat layar komputer Satria memunculkan banyak rekaman CCTV dari setiap sudut kota.

 

“Nah, ini taksi yang dipakai sama ayah mertua kamu!” tutur Satria. Ia langsung mengambil pena dan buku, kemudian mencatat plat nomor taksi tersebut untuk mengecek perjalanan mobil itu.

 

“Semuanya kelihatan normal sampai di sini ... terus ... Pak Adjie berhenti di jalanan itu untuk beli sesuatu di minimarket. Dan ini ... ini ... ini mobil yang nabrak Pak Adjie!” seru Satria.

 

“Kelihatan plat mobilnya dari sudut itu?” tanya Yeriko.

 

“Nggak terlalu jelas karena malam hari, Yer. Aku coba telusuri lewat CCTV lain.”

 

Yeriko menghela napas. “Aku dari dulu sudah curiga sama tantenya Yuna. pasti dia yang sudah mencelakai ayah mertuaku.”

 

“Kita belum punya bukti, Yer. Pengendara mobil itu jelas-jelas cowok. Tapi mukanya nggak tertangkap jelas.”

 

“Dari semua CCTV yang ada di kota ini, masa nggak ada satu pun yang bisa merekam itu plat mobil!?” tutur Yeriko mulai kesal.

 

“Sabar, Yer. Pencahayaan di malam hari, nggak sebaik waktu siang.”

 

“Besok, kamu suruh ayah kamu yang walikota itu buat ganti semua lampu kota dengan lampu yang lebih terang lagi!”

 

“Bangsat kamu, Yer! Kamu kira pakai anggaran negara bisa seenak udelmu!?”

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria.

 

“Eh, yang ini dapet plat mobilnya. Yer, ini mobil sempat berhenti beberapa meter dari lokasi kejadian. Artinya, pelaku tabrak lagi ini sudah menargetkan Pak Adjie. Lihat! Setelah kejadian tabrakan, kecepatan mobil dia di atas enam puluh kilometer per jam. Ini bukan tabrakan biasa,” tutur Satria sambil meraih ponselnya dan menelepon seseorang.

 

“Halo, Bang!”

 

“Bisa lacak plat mobil DD 1168 C yang hilang ke arah Sidoarjo malam ini?” tanya Satria tanpa basa-basi.”

 

“Bisa, Bang. Berapa tadi nomor platnya?”

 

“DD 1168 C.”

 

“Itu plat wilayah SulSel, Bang. Ada apa sama plat itu?”

 

“Sulawesi Selatan?”

 

“Iya, Bang.”

 

“Bisa dilacak pemilik mobilnya?”

 

“Wah, kalau ke Samsat Sulsel  agak rumit, Bang.”

 

“Emangnya nggak bisa minta link nasional? Semua data pemerintahan seharusnya sudah terintegrasi. Masa nggak ada datanya di Samsat online?” tanya Satria.

 

“Bang, harus minta akses ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk dapetin datanya. Data yang ada sama saya punya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.”

 

“Berapa lama minta akses ke sana?” tanya Satria.

 

“Nggak lama kalau ada surat perintah dari Walikota. Ini sudah terlalu malam. Kalau besok pagi, gimana?”

 

“Aku nggak bisa nunggu terlalu lama!” sahut Satria. “Kamu pikirin idenya gimana!?”

 

“Saya bisa buatkan surat permohonan aksesnya, Bang. Tapi butuh tanda tangan Pak Wali, gimana?”

 

“Papaku di rumah! Ke rumah sekarang juga!”

 

“Tapi, Bang ... saya nggak enak kalau mengganggu waktu istirahat Pak Wali.”

 

“Halah, nggak usah kebanyakan alasan!” sahut Satria. “Aku yang tanggung jawab. Ntar aku yang bangunin papa!”

 

“Oke, Bang! Saya langsung ke sana.”

 

“Lima belas menit sudah sampai di sini ya!” perintah Satria.

 

“Dua puluh menit, Bang!” pinta pria yang ada di seberang telepon tersebut.

 

“Lima belas menit aja lama. Malah minta dua puluh menit!”

 

“Saya butuh waktu untuk cetak surat dan siap-siap karena ini di luar jam kerja.”

 

“Jam kerja memang ada batasnya. Tapi tanggung jawab, nggak ada waktunya. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Kalau sampai nggak mau bantuin, aku suruh papaku pecat kamu dan blacklist nama kamu dari pemerintahan atau swasta!” ancam Satria.

 

“Iya, Bang! Siap! Lima belas menit, saya sudah sampai di sana.

 

“Nah, gitu dong!” seru Satria sambil tertawa lebar. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya begitu saja.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

“Wait! Sabar, ya! Aku udah suruh orang untuk melacak pemilik mobil itu. Pemiliknya kemungkinan adalah orang suruhan Melan.

 

“Kalau sampai si Melan yang sengaja mencelakai ayah mertuaku, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” gerutu Yeriko.

 

Satria terus melakukan penyelidikan untuk menemukan siapa orang yang telah menabrak Adjie dengan kecepatan tinggi. Kali ini, ia menggeleng-gelengkan kepala karena mobil tersebut sengaja mencelakai ayah Yuna.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus Bang Satria biar makin keren kalau melakukan penyelidikan. Kasih saran yang bagus buat Bang Sat biar cepet nemuin pelaku tabrak larinya ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas