Yeriko dan Yuna kembali ke rumah usai makan malam
romantis di hari ulang tahun mereka.
DUAR ...!
DUAR ...!
Yuna terkejut saat ia baru masuk ke rumah dan
mendengar suara petasan kertas di dalam rumahnya. Lampu ruangan yang gelap,
tiba-tiba menyala. Ada Jheni dan sahabat-sahabatnya yang sudah menunggu di
sana.
“Selamat ulang tahun ...!” seru Jheni yang sudah
ada di dalam rumah Yuna.
“Kalian pada di sini?” tanya Yuna sambil menutup
mulutnya. Ia tak menyangka kalau Jheni akan memberikan kejutan ulang tahun
kepadanya.
“Iya, dong! Waktu aku ulang tahun, kita bikin
perayaan kecil. Kalian berdua ulang tahun, mau diam-diam aja?”
Yuna dan Yeriko saling pandang. “Tapi, kami nggak
ada persiapan buat perayaan. Besok malam aja, gimana? Nggak ada makanan di
rumah,” tutur Yuna.
“Tenang aja! Kita sama Bibi War udah siapin
makanan banyak di meja makan,” sahut Icha.
“Serius?” tanya Yuna dengan wajah berbinar.
Jheni menganggukkan kepala. Ia dan yang lainnya
mengucapkan selamat ulang tahun untuk Yuna dan Yeriko.
“Kalian itu emang ditakdirkan buat berjodoh, ya?
Ulang tahunnya aja barengan,” tutur Jheni.
“Hahaha.”
“Aku udah laper, nih. Makan yuk!” ajak Lutfi.
“Ayo!” sahut Jheni ceria.
“Eh, beresin dulu ini!” perintah Yeriko. “Ini
sudah hampir tengah malam. Pembantu udah pada pulang semua. Kalian malah
ngotorin rumahku!” tutur Yeriko sambil menunjuk lantai yang sudah berserakan
dengan kertas-kertas yang baru saja mereka tembakan sebagai kejutan ulang
tahun.
“Astaga! Besok aja dibersihkan. Ada banyak
pembantu juga.”
“Sekarang! Aku risih lihat rumah kotor kayak
gini.”
“Iih ... kamu ini nggak seru banget, sih! Ambil
sapu, Cha!” perintah Jheni kesal.
Yuna tertawa kecil melihat Jheni yang kesal karena
perlakuan Yeriko. “Kamu juga nggak suka kotor-kotor kayak gini ‘kan?”
Jheni menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.
“Bersihin dulu ya!” perintah Yuna sambil ngeloyor
pergi ke meja makan. Ia melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan lezat
yang disediakan oleh sahabat-sahabatnya.
“Temen nggak tahu diri! Dikasih kejutan malah
nyiksa!” seru Jheni sambil membersihkan kotoran kertas yang berserakan di
lantai.
“Sini, aku bantuin!” Chandra langsung mengambil
alih sapu yang ada di tangan Jheni. “Kamu langsung ke meja makan aja!”
“Uch, emang pacar yang pengertian. Thank’ you!”
Jheni langsung menyerahkan sapu ke tangan Chandra. Ia mengecup pipi Chandra dan
bergegas pergi ke meja makan.
“Nyiksa pacar sendiri!” dengus Yuna begitu Jheni
duduk di salah satu meja makan.
“Daripada kamu, nyiksa temen sendiri!” sahut Jheni
tak mau kalah.
“Udah, kalian jangan berantem!” pinta Lutfi. “Mau
makan aja ribut.”
Yuna dan Jheni terkekeh. Bagi mereka, yang
dirindukan adalah saat-saat mereka berdebat, saat mereka bertengkar dan
menangis bersama.
“Kalian cuma mau ngerayain ulang tahun berdua aja?
Nggak punya perasaan!” celetuk Jheni.
“Kami butuh waktu buat berduaan. Kamu yang nggak
pengertian,” sahut Yeriko.
Jheni gelagapan sambil menoleh ke arah Yeriko.
Yuna langsung menendang kaki Yeriko. Walau
bagaimanapun, ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya.
“Kalian itu udah berduaan setiap hari. Masih nggak
cukup? Harusnya, yang kayak gini tuh aku sama Chandra. Karena kami jarang
ketemu. Kalo kalian, tiap hari kelonan di dalam kamar. Masih aja mau minta
waktu berduaan?” cerocos Jheni.
Chandra yang baru muncul langsung merangkul pundak
Jheni. Telapak tangannya menutup mulut Jheni yang seringkali bicara sesukanya.
“Mau makan atau ngomel?”
Jheni terdiam, ia hanya menghela napas.
“Mulutnya dia itu minta disumpal pake bibir,
Chan!” seru Lutfi.
“Halah, kamu aja yang sewot sama aku,” sahut
Jheni.
Chandra tersenyum tepat di hadapan wajah Jheni.
“Kalau masih nggak mau diam, beneran aku sumpal pake bibir.”
“Aargh ...! Mau banget!” seru Jheni, ia menutup
mulut sambil menahan tawa.
Chandra berusaha menepikan tangan Jheni yang
menutup mulutnya.
Jheni menggeleng-gelengkan kepala sambil
memundurkan kepalanya. “Aku bercanda, nggak beneran.”
Yuna dan yang lainnya tertawa melihat candaan
Jheni dan Chandra.
“Aku nggak pernah bercanda,” sahut Chandra sambil
melepaskan rangkulannya dan memperbaiki posisi duduknya.
“Makanya, Chan ... buruan lamar si Jheni!” pinta
Yeriko.
Chandra langsung melirik ke arah Yeriko. “Dikira
nikah itu gampang? Ngomongmu aja gampang!”
“Gampang. Tinggal bawa penghulu, kelar!”
“Kalo kayak kamu mah enak. Hidup nggak ada yang
ngatur, udah mapan, banyak yang suka. Mana ada cewek yang nolak kamu nikahin,”
tutur Chandra.
“Emangnya si Jheni nolak?” tanya Yeriko sambil
menahan tawa.
“Bukan nolak, Yer. Aku belum siap nikah. Aku masih
meniti karir. Kalo aku nikah dan punya anak. Aku nggak bisa bebas lagi.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Udah, nggak usah dibahas lagi! Emang dua-duanya
nggak mau terikat. Maunya pacaran doang!” sahut Lutfi. “Oh ya, ini hadiah dari
aku sama Icha,” lanjutnya sambil menyodorkan kotak hadiah berwarna hijau tua
dengan pita merah di tengahnya.
“Wah ...! Thank you!” seru Yuna sambil menerima
hadiah dari Lutfi. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Aku boleh terima ‘kan?”
Yeriko menganggukkan kepala sambil menyuap
potongan udang yang ada di tangannya.
“Emangnya kenapa?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna
dan Yeriko bergantian. “Cemburu lagi?”
Yuna tertawa mendengar pertanyaan Lutfi. “Kayak
nggak tahu dia aja. Aku nggak boleh nerima hadiah dari orang lain.”
“Hahaha. Kalo aku, kubiarkan aja si Icha nerima
hadiah dari orang lain. Lumayan, hemat pengeluaran,” sahut Lutfi santai.
“Kalo Yeriko, mana mau begitu. Harga diri
laki-laki lebih penting dari apa pun!” sahut Jheni.
“Maksud kamu, aku nggak punya harga diri, gitu?”
“Kalo dilihat sih begitu. Kamu kan cowok mauan,”
jawab Jheni.
“Kamu ...!?” Lutfi menatap geram ke arah Jheni.
“Udah, jangan berantem! Nggak baik berantem di
meja makan!” pinta Icha sambil mengelus lembut tangan Lutfi.
Lutfi menghela napas panjang. “Sabarkan Aim, ya
Allah ...!”
Icha tertawa kecil melihat tingkah Lutfi yang
seperti anak kecil.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
“Jhen, mana hadiah kamu untuk Kakak Ipar?” tanya
Lutfi. Meski sering berdebat, tapi mereka tak pernah serius melakukannya.
“Oh, iya.” Jheni langsung mengeluarkan kotak
hadiah yang sudah ia simpan di bawah meja dan menyodorkan ke arah Yuna.
“Selamat ulang tahun buat kalian berdua. Semoga panjang umur, sehat selalu dan
terus saling menyayangi seperti ini!”
“Aamiin. Thank’s, Jhen!”
Jheni menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan
makan sambil berbincang banyak hal. Setiap berkumpul, mereka tak pernah sepi.
Selalu dipenuhi dengan canda tawa hingga larut malam.
Setelah sahabat-sahabatnya kembali ke rumah
masing-masing. Yuna dan Yeriko langsung masuk ke dalam kamar untuk
beristirahat.
“Kenapa mereka datang di saat kayak gini?” gumam
Yeriko sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
“Kamu nggak suka sama kedatangan mereka?”
“Suka. Waktunya aja yang nggak tepat,” jawab
Yeriko sambil menarik tubuh Yuna hingga jatuh ke dalam pelukannya. “Aku ingin
menghabiskan waktu bercumbu denganmu sampai pagi,” bisiknya.
Yuna tersenyum sambil menatap mata Yeriko. Ia
menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukkan Yeriko. Menikmati setiap sentuhan
kulit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Mereka selalu bermain dengan hati-hati
agar tidak menyakiti anak yang ada di dalam perut Yuna.
((Bersambung ...))
Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria.
Muach!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment