Monday, March 2, 2026

Perfect Hero Bab 488 : Menjadi Pelayanmu Seumur Hidup

 


Di atas rooftop Galaxy Office, Yeriko menyiapkan makan malam romantis hanya untuk dia dan istrinya. Ia sangat bahagia karena tahun ini bisa merayakan ulang tahun bersama seseorang yang spesial dalam hidupnya.

 

“Yun, aku nggak pernah menyangka kalau aku akan merayakan ulang tahunku di tempat seperti ini. Hanya berdua dengan kamu ... ini yang paling spesial seumur hidupku,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Oh ya? Sebelumnya, kamu selalu ngerayain ulang tahun di mana?” tanya Yuna.

 

“Di klub, kafe atau hotel. Selalu bikin pesta bareng sahabat-sahabatku,” jawab Yeriko. “Kenapa kamu nggak mau bikin pesta ulang tahun?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku lebih suka merayakan ulang tahunku dengan ketenangan seperti ini.”

 

“Gimana kamu melewati hari ulang tahun kamu selama ini?” tanya Yeriko sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Semenjak Bunda meninggal, aku nggak pernah merayakan ulang tahun. Biasanya, aku menghabiskan malam ulang tahunku sambil nemenin ayah di rumah sakit. Saat aku kuliah di Melbourne ... aku menghabiskan malam ulang tahunku di perpustakaan.”

 

“Perpustakaan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Setiap hari ulang tahunku, aku pasti merindukan kehangatan orang tuaku. Aku menghabiskan waktu di perpustakaan, menyibukkan diri dengan tugas dan kegiatan untuk mengalihkan kesedihanku. Setiap tahunnya, aku selalu menjalaninya seorang diri.”

 

Yeriko tersenyum sambil menyentuh pipi Yuna. “Mulai sekarang, kita akan merayakan ulang tahun bersama-sama.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Seorang pelayan, tiba-tiba datang sambil membawa kue ulang tahun. Membuat Yuna hampir tidak bisa berkata-kata. Di atas kue itu, ada dua pasang lilin yang menyala. Lilin itu menunjukkan usia Yuna yang sudah genap dua puluh lima tahun, satunya lagi menunjukkan usia Yeriko yang genap tiga puluh tahun.

 

“Maaf, aku cuma mampu beli satu kue untuk ulang tahun kita!” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

Yuna tertawa kecil. “Apaan, sih? Merendah banget,” sahut Yuna.

 

Yeriko mengulurkan tangannya ke arah Yuna. Ia mengajak Yuna untuk berdiri di depan kue tersebut, melaksanakan ritual tiup lilin seperti biasanya.

 

Seorang pelayan berusaha menyalakan lilin yang ada di atas kue tersebut. Namun, ia kesulitan karena angin yang ada di atas gedung tersebut terlalu kencang.

 

“Tuan, lilinnya susah dinyalain. Angin di sini terlalu kencang.”

 

Yeriko mengerutkan dahi sambil berkacak pinggang. “Cari cara supaya lilinnya nggak mati. Gimana, sih!?” sahutnya kesal.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia bergegas mencari sesuatu untuk melindungi lilin dari terpaan angin kencang yang ada di atas gedung tersebut.

 

Yeriko memerhatikan beberapa pelayan yang terlihat sibuk mencari sesuatu untuk menutupi lilin agar tidak mudah mati saat tertiup angin kencang.

 

“Kenapa sih selalu aja kacau saat mau bikin kejutan?” batin Yeriko kesal.

 

“Ay, di atas gedung memang anginnya kencang banget. Nggak usah tiup lilin, gimana?” tutur Yuna sambil mengambil lilin yang ada di atas kue tersebut.

 

“Nggak bisa, tetap harus tiup lilin!” sahut Yeriko sambil mengembalikan lilin yang ada di tangan Yuna ke tempatnya.

 

“Ay, ini di luar ruangan. Di atas gedung juga. Angin di sini kencang banget. Kasihan pelayan itu, mereka juga bingung mau gimana.”

 

“Argh, mereka pasti punya cara untuk melindungi lilin-lilin ini dari angin. Aku lihat di drama yang kamu tonton, mereka bisa tiup lilin di atas gedung.”

 

Yuna menghela napas. Ia tak berani berargumen lagi karena suaminya keukeuh ingin meniup lilin di tempat itu.

 

“Mbak, ditutupin pakai nampan aja, ya!” perintah Yuna. “Tiup lilin cuma sebentar aja, kok.”

 

Pelayan yang ada di sana menganggukkan kepala. Ia dan tiga orang pelayan lainnya langsung berdiri mengelilingi Yuna dan Yeriko. Salah seorang menyalakan lilin dan yang lainnya melindungi lilin tersebut dari terpaan angin malam yang cukup kencang.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang.  Mereka berhadapan sambil berpegangan tangan.

 

“Make a wish dulu!” pinta Yuna sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna memejamkan matanya perlahan, diikuti dengan Yeriko. Mereka memanjatkan doa untuk masa depan mereka.

 

Yuna menghela napas saat ia sudah selesai berdoa dan membuka matanya kembali. Ia dan Yeriko serempak meniup lilin yang ada di atas kue yang sudah disediakan Yeriko.

 

Prook ...! Prook ...! Prook ...!

 

Tepuk tangan dari pelayan-pelayan di sana membuat semua orang tersenyum bahagia.

 

“Potong kuenya! Potong kuenya ...!” seru pelayan-pelayan itu sambil bertepuk tangan.

 

“Nggak usah dipotong kuenya,” tutur Yeriko.

 

Yune menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?”

 

Yeriko menyolek icing kue yang ada di hadapannya dan menempelkan ke hidung Yuna.

 

“Iih ... kotor! Kamu jahil ...!” seru Yuna. Ia berusaha menggapai kue ulang tahun yang ada di hadapannya, tapi tubuhnya ditahan oleh Yeriko.

 

“Nggak bisa!” sahut Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna agar tidak bisa meraih kue tersebut.

 

“Iih ... culas!” seru Yuna sambil berusaha mencapai kue tersebut.

 

Yeriko tertawa kecil. “Mbak, kuenya bawa pergi!” perintah Yeriko sambil mengambil icing lebih banyak lagi dan mengoleskan ke wajah Yuna.

 

“Aargh ...! Mukaku kotor! Nanti jerawatan!” seru Yuna. Ia kesal karena kue ulang tahunnya sudah dibawa pergi oleh pelayan yang ada di sana.

 

Yeriko tergelak melihat wajah Yuna. “Lucu! Kayak badut di Jatim Park!”

 

Yuna mengerutkan hidungnya sambil menatap Yeriko. “Bersihin!” pintanya.

 

Yeriko masih tertawa melihat wajah Yuna.

 

“Bersihin! Kalo nggak, aku marah!” ancam Yuna.

 

“Iya, iya.” Yeriko menarik beberapa tisu yang ada di tas meja.

 

Yuna menahan tawa. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko dan mengusap-usapkan wajahnya ke dada Yeriko.

 

“Eh, eh ...!? Baju aku kotor, Yun!” seru Yeriko.

 

“Biar aja!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

Yeriko langsung mengelap bajunya yang kotor menggunakan tisu. “Nah, kan ... kena noda bedak juga,” gumam Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil. “Lagian, masa mukaku mau dilap pake tisu? Kasar banget!” dengusnya.

 

“Terus, dilap pake apaan? Adanya tisu.”

 

“Aku bawa micellar water sama kapas,” jawab Yuna sambil meraih tas tangannya.

 

“Baju aku gimana? Bisa dibersihin pakai micellar water?” tanya Yeriko.

 

“Nggak bisa. Cuci aja!” sahut Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil, ia kembali duduk di kursinya sambil mengamati Yuna yang sedang membersihkan wajahnya sendiri.

 

“Nggak dibersihin bajunya?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu juga yang nyuci bajuku. Biar aja!”

 

Yuna membelalakkan matanya. “Iya, ya?” gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit menyesal karena sudah mengotori kemeja suaminya itu.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia terus memerhatikan istrinya hingga selesai membersihkan wajahnya dari icing kue dan make-up yang sebelumnya digunakan oleh istrinya itu.

 

“Kenapa senyum terus?” tanya Yuna saat ia sudah selesai membersihkan wajahnya.

 

“Kamu lebih cantik kalau nggak pakai make-up.”

 

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Gombal! Jelas-jelas lebih cantik kalau pake make-up.”

 

Yeriko tertawa kecil. Ia mengeluarkan kotak hadiah dari saku jasnya. Membuat Yuna juga mengeluarkan kotak hadiah yang sudah ia siapkan untuk suaminya itu. Mereka tersenyum sambil bertukar hadiah ulang tahun.

 

Yuna melihat kotak kecil yang dikeluarkan Yeriko, membuatnya tidak begitu bersemangat. “Cincin lagi? Kalung lagi? Perhiasan lagi? Nggak kreatif banget jadi cowok!” batinnya.

 

Yeriko membuka kotak hadiah yang diberikan Yuna. Ia langsung tersenyum menatap sepasang cangkir susun warna merah dan gambar beruang yang ada di sana. “Ini kamu buat sendiri?” tanyanya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Suka?”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil mengamati cangkir lucu buatan Yuna. Mungkin, ia tidak akan pernah menemukan barang yang sama di dunia ini. Istrinya memang yang paling pandai memberikan hadiah spesial untuknya.

 

Yeriko mengalihakan pandangannya melihat Yuna yang masih belum membuka hadiah yang ia berikan. “Kenapa nggak dibuka?”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia tak bersemangat membuka kotak hadiah yang diberikan oleh Yeriko. Ia pikir, Yeriko akan memberikan hadiah yang dibuat sendiri dengan tangannya. Lagi-lagi, Yeriko memberikan hadiah mewah yang bisa dibeli dengan uang yang dimilikinya.

 

Yuna membuka kotak itu perlahan. Ia tertegun selama beberapa detik saat melihat hadiah yang diberikan oleh Yeriko.

 

“Gimana? Suka?”

 

“Ini ...? Bikin sendiri?” tanya Yuna balik.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Suka, nggak?”

 

Yuna mengeluarkan hadiah dari kotak tersebut dan meletakkan di atas telapak tangannya. Ia tersenyum melihat gelang kaki yang terbuat dari rajutan. Ada tulisan “YY” di bagian tengahnya. Persis seperti sweater rajut yang ia buat untuk Yeriko.

 

“Kamu bisa ngerajut?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Jadi, ini bukan buatan kamu?”

 

“Itu buatanku. Setiap hari aku belajar membuat gelang itu. Kamu tahu, aku menghabiskan waktu sampai satu minggu untuk membuat gelang itu. Aku nggak berbakat seperti kamu. Tapi aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak kebayang gimana rumitnya kamu buatkan aku sweater.”

 

“Kalau gitu, kamu harus menjaga sweeter buatanku dengan baik!” Yuna tersenyum bahagia melihat hadiah dari Yeriko. Ia langsung menyodorkan gelang kaki tersebut ke hadapan suaminya.

 

Yeriko mengerutkan dahinya. “Kenapa dibalikin? Nggak suka?”

 

“Pakein!” pinta Yuna.

 

Yeriko tersenyum lebar. Ia langsung meraih gelang dari tangan Yuna. Bangkit dari tempat duduk dan memasangkan gelang kaki itu di kaki Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia saat Yeriko memasangkan gelang ke kakinya. “Kenapa kamu ngasih aku gelang kaki? Kenapa bukan gelang tangan? Kamu nggak perlu berlutut seperti ini.

 

Aku sengaja, supaya bisa berlutut di hadapan kamu. Karena aku ingin mengabdikan seluruh hidupku untuk kamu. Menjadi pelayanmu seumur hidupku,” jawab Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

 

Yuna menangkupkan kedua tangan di wajah Yeriko. “Bukankah seharusnya aku yang melayani kamu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Akulah yang lebih pantas menjadi pelayanmu seumur hidup. Karena kamu adalah wanita yang mulia. Wanita yang harus aku lindungi, aku bahagiakan, aku cintai sepanjang usiaku.

 

Yuna menatap wajah Yeriko dengan mata berkaca-kaca. Ia menempelkan dahinya ke dahi Yeriko. Menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untuk pria yang membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dunia ini.

 

 ((Bersambung ...))

 

Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria. Muach!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas