Di atas rooftop Galaxy Office, Yeriko menyiapkan
makan malam romantis hanya untuk dia dan istrinya. Ia sangat bahagia karena
tahun ini bisa merayakan ulang tahun bersama seseorang yang spesial dalam
hidupnya.
“Yun, aku nggak pernah menyangka kalau aku akan
merayakan ulang tahunku di tempat seperti ini. Hanya berdua dengan kamu ... ini
yang paling spesial seumur hidupku,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
“Oh ya? Sebelumnya, kamu selalu ngerayain ulang
tahun di mana?” tanya Yuna.
“Di klub, kafe atau hotel. Selalu bikin pesta
bareng sahabat-sahabatku,” jawab Yeriko. “Kenapa kamu nggak mau bikin pesta
ulang tahun?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku lebih suka
merayakan ulang tahunku dengan ketenangan seperti ini.”
“Gimana kamu melewati hari ulang tahun kamu selama
ini?” tanya Yeriko sambil menyuap makanan ke mulutnya.
Yuna menggelengkan kepala. “Semenjak Bunda
meninggal, aku nggak pernah merayakan ulang tahun. Biasanya, aku menghabiskan
malam ulang tahunku sambil nemenin ayah di rumah sakit. Saat aku kuliah di
Melbourne ... aku menghabiskan malam ulang tahunku di perpustakaan.”
“Perpustakaan?”
Yuna menganggukkan kepala. “Setiap hari ulang
tahunku, aku pasti merindukan kehangatan orang tuaku. Aku menghabiskan waktu di
perpustakaan, menyibukkan diri dengan tugas dan kegiatan untuk mengalihkan
kesedihanku. Setiap tahunnya, aku selalu menjalaninya seorang diri.”
Yeriko tersenyum sambil menyentuh pipi Yuna.
“Mulai sekarang, kita akan merayakan ulang tahun bersama-sama.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Seorang pelayan, tiba-tiba datang sambil membawa
kue ulang tahun. Membuat Yuna hampir tidak bisa berkata-kata. Di atas kue itu,
ada dua pasang lilin yang menyala. Lilin itu menunjukkan usia Yuna yang sudah
genap dua puluh lima tahun, satunya lagi menunjukkan usia Yeriko yang genap
tiga puluh tahun.
“Maaf, aku cuma mampu beli satu kue untuk ulang
tahun kita!” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.
Yuna tertawa kecil. “Apaan, sih? Merendah banget,”
sahut Yuna.
Yeriko mengulurkan tangannya ke arah Yuna. Ia
mengajak Yuna untuk berdiri di depan kue tersebut, melaksanakan ritual tiup
lilin seperti biasanya.
Seorang pelayan berusaha menyalakan lilin yang ada
di atas kue tersebut. Namun, ia kesulitan karena angin yang ada di atas gedung
tersebut terlalu kencang.
“Tuan, lilinnya susah dinyalain. Angin di sini
terlalu kencang.”
Yeriko mengerutkan dahi sambil berkacak pinggang.
“Cari cara supaya lilinnya nggak mati. Gimana, sih!?” sahutnya kesal.
Pelayan itu mengangguk. Ia bergegas mencari
sesuatu untuk melindungi lilin dari terpaan angin kencang yang ada di atas
gedung tersebut.
Yeriko memerhatikan beberapa pelayan yang terlihat
sibuk mencari sesuatu untuk menutupi lilin agar tidak mudah mati saat tertiup
angin kencang.
“Kenapa sih selalu aja kacau saat mau bikin
kejutan?” batin Yeriko kesal.
“Ay, di atas gedung memang anginnya kencang
banget. Nggak usah tiup lilin, gimana?” tutur Yuna sambil mengambil lilin yang
ada di atas kue tersebut.
“Nggak bisa, tetap harus tiup lilin!” sahut Yeriko
sambil mengembalikan lilin yang ada di tangan Yuna ke tempatnya.
“Ay, ini di luar ruangan. Di atas gedung juga.
Angin di sini kencang banget. Kasihan pelayan itu, mereka juga bingung mau
gimana.”
“Argh, mereka pasti punya cara untuk melindungi
lilin-lilin ini dari angin. Aku lihat di drama yang kamu tonton, mereka bisa
tiup lilin di atas gedung.”
Yuna menghela napas. Ia tak berani berargumen lagi
karena suaminya keukeuh ingin meniup lilin di tempat itu.
“Mbak, ditutupin pakai nampan aja, ya!” perintah
Yuna. “Tiup lilin cuma sebentar aja, kok.”
Pelayan yang ada di sana menganggukkan kepala. Ia
dan tiga orang pelayan lainnya langsung berdiri mengelilingi Yuna dan Yeriko.
Salah seorang menyalakan lilin dan yang lainnya melindungi lilin tersebut dari
terpaan angin malam yang cukup kencang.
Yeriko dan Yuna saling pandang. Mereka
berhadapan sambil berpegangan tangan.
“Make a wish dulu!” pinta Yuna sambil menatap
Yeriko.
Yeriko menganggukkan kepala.
Yuna memejamkan matanya perlahan, diikuti dengan
Yeriko. Mereka memanjatkan doa untuk masa depan mereka.
Yuna menghela napas saat ia sudah selesai berdoa
dan membuka matanya kembali. Ia dan Yeriko serempak meniup lilin yang ada di
atas kue yang sudah disediakan Yeriko.
Prook ...! Prook ...! Prook ...!
Tepuk tangan dari pelayan-pelayan di sana membuat
semua orang tersenyum bahagia.
“Potong kuenya! Potong kuenya ...!” seru
pelayan-pelayan itu sambil bertepuk tangan.
“Nggak usah dipotong kuenya,” tutur Yeriko.
Yune menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?”
Yeriko menyolek icing kue yang ada di hadapannya
dan menempelkan ke hidung Yuna.
“Iih ... kotor! Kamu jahil ...!” seru Yuna. Ia
berusaha menggapai kue ulang tahun yang ada di hadapannya, tapi tubuhnya
ditahan oleh Yeriko.
“Nggak bisa!” sahut Yeriko sambil memeluk tubuh
Yuna agar tidak bisa meraih kue tersebut.
“Iih ... culas!” seru Yuna sambil berusaha
mencapai kue tersebut.
Yeriko tertawa kecil. “Mbak, kuenya bawa pergi!”
perintah Yeriko sambil mengambil icing lebih banyak lagi dan mengoleskan ke
wajah Yuna.
“Aargh ...! Mukaku kotor! Nanti jerawatan!” seru
Yuna. Ia kesal karena kue ulang tahunnya sudah dibawa pergi oleh pelayan yang
ada di sana.
Yeriko tergelak melihat wajah Yuna. “Lucu! Kayak
badut di Jatim Park!”
Yuna mengerutkan hidungnya sambil menatap Yeriko.
“Bersihin!” pintanya.
Yeriko masih tertawa melihat wajah Yuna.
“Bersihin! Kalo nggak, aku marah!” ancam Yuna.
“Iya, iya.” Yeriko menarik beberapa tisu yang ada
di tas meja.
Yuna menahan tawa. Ia langsung memeluk tubuh
Yeriko dan mengusap-usapkan wajahnya ke dada Yeriko.
“Eh, eh ...!? Baju aku kotor, Yun!” seru Yeriko.
“Biar aja!” sahut Yuna sambil menjulurkan
lidahnya.
Yeriko langsung mengelap bajunya yang kotor
menggunakan tisu. “Nah, kan ... kena noda bedak juga,” gumam Yeriko.
Yuna tertawa kecil. “Lagian, masa mukaku mau dilap
pake tisu? Kasar banget!” dengusnya.
“Terus, dilap pake apaan? Adanya tisu.”
“Aku bawa micellar water sama kapas,” jawab Yuna
sambil meraih tas tangannya.
“Baju aku gimana? Bisa dibersihin pakai micellar
water?” tanya Yeriko.
“Nggak bisa. Cuci aja!” sahut Yuna.
Yeriko tertawa kecil, ia kembali duduk di kursinya
sambil mengamati Yuna yang sedang membersihkan wajahnya sendiri.
“Nggak dibersihin bajunya?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu juga yang nyuci
bajuku. Biar aja!”
Yuna membelalakkan matanya. “Iya, ya?” gumamnya
sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit menyesal karena sudah
mengotori kemeja suaminya itu.
Yeriko tertawa kecil. Ia terus memerhatikan
istrinya hingga selesai membersihkan wajahnya dari icing kue dan make-up yang
sebelumnya digunakan oleh istrinya itu.
“Kenapa senyum terus?” tanya Yuna saat ia sudah
selesai membersihkan wajahnya.
“Kamu lebih cantik kalau nggak pakai make-up.”
Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Gombal! Jelas-jelas
lebih cantik kalau pake make-up.”
Yeriko tertawa kecil. Ia mengeluarkan kotak hadiah
dari saku jasnya. Membuat Yuna juga mengeluarkan kotak hadiah yang sudah ia
siapkan untuk suaminya itu. Mereka tersenyum sambil bertukar hadiah ulang
tahun.
Yuna melihat kotak kecil yang dikeluarkan Yeriko,
membuatnya tidak begitu bersemangat. “Cincin lagi? Kalung lagi? Perhiasan lagi?
Nggak kreatif banget jadi cowok!” batinnya.
Yeriko membuka kotak hadiah yang diberikan Yuna.
Ia langsung tersenyum menatap sepasang cangkir susun warna merah dan gambar
beruang yang ada di sana. “Ini kamu buat sendiri?” tanyanya.
Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Suka?”
Yeriko menganggukkan kepala sambil mengamati
cangkir lucu buatan Yuna. Mungkin, ia tidak akan pernah menemukan barang yang
sama di dunia ini. Istrinya memang yang paling pandai memberikan hadiah spesial
untuknya.
Yeriko mengalihakan pandangannya melihat Yuna yang
masih belum membuka hadiah yang ia berikan. “Kenapa nggak dibuka?”
Yuna tersenyum kecil. Ia tak bersemangat membuka
kotak hadiah yang diberikan oleh Yeriko. Ia pikir, Yeriko akan memberikan
hadiah yang dibuat sendiri dengan tangannya. Lagi-lagi, Yeriko memberikan
hadiah mewah yang bisa dibeli dengan uang yang dimilikinya.
Yuna membuka kotak itu perlahan. Ia tertegun
selama beberapa detik saat melihat hadiah yang diberikan oleh Yeriko.
“Gimana? Suka?”
“Ini ...? Bikin sendiri?” tanya Yuna balik.
Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Suka,
nggak?”
Yuna mengeluarkan hadiah dari kotak tersebut dan
meletakkan di atas telapak tangannya. Ia tersenyum melihat gelang kaki yang
terbuat dari rajutan. Ada tulisan “YY” di bagian tengahnya. Persis seperti
sweater rajut yang ia buat untuk Yeriko.
“Kamu bisa ngerajut?”
Yeriko menggelengkan kepala.
“Jadi, ini bukan buatan kamu?”
“Itu buatanku. Setiap hari aku belajar membuat
gelang itu. Kamu tahu, aku menghabiskan waktu sampai satu minggu untuk membuat
gelang itu. Aku nggak berbakat seperti kamu. Tapi aku melakukannya untuk kamu.
Aku nggak kebayang gimana rumitnya kamu buatkan aku sweater.”
“Kalau gitu, kamu harus
menjaga sweeter buatanku dengan baik!” Yuna tersenyum bahagia melihat
hadiah dari Yeriko. Ia langsung menyodorkan gelang kaki tersebut ke hadapan
suaminya.
Yeriko mengerutkan dahinya. “Kenapa dibalikin?
Nggak suka?”
“Pakein!” pinta Yuna.
Yeriko tersenyum lebar. Ia langsung meraih gelang
dari tangan Yuna. Bangkit dari tempat duduk dan memasangkan gelang kaki itu di
kaki Yuna.
Yuna tersenyum bahagia saat Yeriko memasangkan
gelang ke kakinya. “Kenapa kamu ngasih aku gelang kaki? Kenapa bukan gelang
tangan? Kamu nggak perlu berlutut seperti ini.”
“Aku sengaja, supaya bisa berlutut di hadapan
kamu. Karena
aku ingin mengabdikan seluruh hidupku untuk kamu. Menjadi
pelayanmu seumur hidupku,” jawab Yeriko sambil menengadahkan kepalanya
menatap Yuna.
Yuna menangkupkan kedua tangan di wajah Yeriko.
“Bukankah seharusnya aku yang melayani kamu?”
Yeriko menggelengkan kepala. “Akulah yang lebih
pantas menjadi pelayanmu seumur hidup. Karena kamu adalah wanita
yang mulia. Wanita yang harus aku lindungi, aku bahagiakan, aku cintai
sepanjang usiaku.”
Yuna menatap wajah Yeriko dengan mata
berkaca-kaca. Ia menempelkan dahinya ke dahi Yeriko. Menyerahkan seluruh hati
dan hidupnya untuk pria yang membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga
di dunia ini.
((Bersambung ...))
Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria.
Muach!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment