Beberapa
jam sebelum kematian Refina ...
“Suster,
aku di mana?” tanya Refi saat ia membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya ke
seluruh ruangan yang bernuansa putih. Hanya ada ranjang tidurnya, tak ada
perabotan lain di tempat itu.
“Di
kamar kamu, seperti biasa,” jawab perawat yang sedang mengantarkan makanan
untuk Refi. “Makan dulu, ya!”
Refi
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil makanan dengan
tangannya, tak menggunakan sendok. Makan asal-asalan layaknya pengemis yang
berkelana di jalanan. Kesadarannya kali ini sulit untuk dikendalikan. Ia
kesulitan membedakan mana dunia nyata dan halusinasi yang menghantui
pikirannya.
Terkadang,
Refi terlihat seperti manusia normal. Ia menyisir rambutnya, mengenakan pakaian
yang ia inginkan. Seperti hari ini, ia tiba-tiba ingin mengenakan Black Swan
Costume.
“Suster,
aku minta satu set pakaian balet!” pinta Refi. “Yang warna hitam, ya!”
Perawat
yang ada di ruangan itu tak menjawab permintaan Refi.
“Suster
...!” sentak Refi. “Dengar, nggak sih!?”
Perawat
tersebut menghela napas dan mengangguk. “Iya, saya carikan pakaian balet untuk
kamu.”
Refi
tersenyum. “Cepet ya, Sus! Aku ingin menari untuk terakhir kalinya.”
Perawat
itu tersenyum. “Iya. Makan dulu ya! Setelah makanannya habis, saya carikan
kostum balet untuk kamu.”
Refi
tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat bahagia dan ingin
menghabiskan makanannya lebih cepat.
“Suster,
cepat ya!” pinta Refi. “Aku mau cantik hari ini. Suster harus lihat aku nari!”
Perawat
itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.
Setelah
dua jam berlalu, perawat yang diminta menyediakan kostum balet tak kunjung
datang. Hal ini benar-benar memancing amarah Refi yang kondisi kejiwaannya
memang sudah tidak stabil.
“Suster
...! Mana kostum aku!” teriak Refi sekencang-kencangnya. Ia terus berusaha
memanggil perawat dan keluar dari ruang tidurnya.
“Dia
kenapa?” tanya salah seorang perawat saat melihat Refi keluar dari ruangan itu
sambil berteriak.
“Suster
...! Mana gaun yang aku minta!” seru Refi kesal. Ia sengaja memukul kaca
jendela, tak peduli melukai tangannya sendiri.
“Sus,
tolong! Pasien ini ngamuk lagi,” seru salah seorang perawat sambil berlari
menghampiri Refi untuk menenangkan wanita itu.
“Mana
gaun yang aku minta!?” sentak Refi.
“Sabar
ya, Mbak! Suster lagi carikan gaun untuk Mbak Refi.”
“Cepetan!
Saya mau nari. Penonton udah nunggu. Ini pertunjukkan terakhir saya!” teriak
Refi.
Perawat
yang ada di sana saling pandang dan menggelengkan kepala. Mereka bergegas
mengajak Refi kembali ke ruangannya.
“Aku
mau nunggu di sini. Aku nunggu gaunku datang. Di sana, penonton sudah nunggu
aku. Aku harus cantik, harus bisa mengambil perhatian dari semua penonton. Di
sana juga ada juri dari New York yang akan menilai penampilanku. Aku nggak
boleh ngecewain mereka,” gerutu Refi sambil duduk di lantai. Ia meringkuk
sambil memeluk kakinya sendiri.
“Suster,
siapa yang tugas jaga dia hari ini? Apa gaun yang dia minta beneran dicarikan?”
“Ini
gaunnya, Suster!” Perawat yang diminta menyediakan gaun untuk Refi langsung
datang.
“Dia
cuma mau nari, kasih gaunnya supaya dia tenang!” pinta perawat yang lainnya.
Refi
menengadahkan kepalanya melihat suster yang sudah memegang kostum lengkap Black
Swan yang ia inginkan. Tangan Refi mengambil pecahan kaca jendela yang masih
berserak di lantai, menyimpan ke saku bajunya. Ia bangkit dan merebut kostum
dari tangan perawat dan berlari masuk ke ruang tidurnya.
Refi
buru-buru mengganti pakaiannya. Tapi ia tak bisa melihat wajahnya sendiri saat
ini karena tak ada cermin di dalam ruangan itu. Ia mengambil pecahan kaca yang
tadi ia pungut dari lantai dan menempelkan ke dinding. Ia bisa melihat wajahnya
yang tersenyum di balik pecahan kaca mungil itu.
“Kamu
cantik!” tutur Refi sambil tertawa bahagia. Ia mengelipkan pecahan kaca
tersebut ke bawah tempat tidurnya agar ia bisa bercermin.
Dengan
kaki yang tak lagi kokoh seperti dulu, Refi terus menggerakkan tubuhnya
perlahan. Menggerakkan kakinya agar bisa menciptakan tarian yang indah. Ia tak
peduli beberapa kali ia terjatuh, ia tetap bangkit dan berusaha.
Refi
terus menari sepanjang hari. Perawat yang berjaga pun hanya menggelengkan
kepala memerhatikan Refi dari balik pintu ruangan yang terbuka.
Sampai
tengah malam, Refi masih terus menampilkan tariannya. Di dalam setiap gerakan
tangan dan kakinya. Ia bisa melihat semua masa lalunya tergambar jelas di dalam
langit malam yang gelap. Sedikit cahaya yang ada di luar sana, membuat bayangan
masa lalunya terus terukir silih berganti bersama langit yang penuh bintang.
Refi
tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam, ia ingin memerankan dirinya sebagai
White Sawn dan Black Sawn yang sempurna.
“Yeriko
...! Aku tetap cinta sama kamu sampai langit runtuh. Semoga kamu bahagia. Aku
ingin terbang ke kehidupan yang baru. Meninggalkan penderitaan yang setiap hari
menghantuiku.”
Refi
mengambil pecahan kaca yang ada di bawah bantal. Ia kembali menari sambil
menggenggam pecahan kaca yang ada di tangannya. Ia ingin semuanya berakhir. Ia
tak ingin lagi mengejar cinta Yeriko. Ia tak ingin lagi kembali ke kehidupan
nyatanya bersama Deny. Ia tak ingin seumur hidupnya mengingat delapan pria yang
telah menikmati tubuhnya bersamaan.
Refi
menarik napas dalam-dalam. Ia menyayat urat nadinya dan melanjutkan tariannya
penuh gairah. Ia ingin mengakhiri hidupnya tanpa penyesalan. Ia ingin menjalani
semuanya tanpa rasa sakit.
“Ma
... Pa ... maafin Refi!” bisik Refi sambil menatap wajah kedua orang tuanya
yang tersenyum ke arahnya.
Refi
mengakhiri tarian sensual Black Swan dengan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia
menengadah ke langit-langit, sementara darah masih mengucur dari nadi yang ada
di pergelangan tangannya. Ia tersenyum menatap langit-langit ruangan. Perlahan,
menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil memejamkan mata.
Angin
malam yang sepi menjadi saksi jiwa yang menepi. Membawa jiwanya melayang pergi
ke langit yang tinggi. Ia menikmati kesendiriannya di ruang-ruang yang sepi.
Di
detik terakhir hidupnya ... Refi masih berharap bisa kembali ke kehidupan kedua
yang bahagia. Menjadi wanita yang terhormat seperti dongeng-dongeng dalam
sejarah. Sayangnya, ia memilih kematian sebagai jalan keabadiannya. Ia ingin
menjadi White Swan dalam balutan Black Swan. Menari bersama para angsa seperti
dulu. Terlihat cantik, dikagumi, penuh keberanian dan sensualitas.
Refi,
memilih jalan kematian dengan caranya. Ia tak pernah menyesali jalan kematian
yang ia pilih. Sebab dengan cara inilah ia bisa merelakan orang-orang yang ia
cintai hidup bahagia tanpa rasa sakit.
“Aaargh
...!” Suara perawat yang masuk ke dalam kamar tidur Refi mengundang perhatian
semua orang. Dokter dan perawat yang bertugas langsung berlarian ke sumber
suara.
Dokter
yang bertugas langsung memeriksa kondisi Refi. “Dia masih hidup. Siapkan
peralatan!”
Perawat
yang bertugas langsung berlarian untuk melakukan pertolongan pertama.
Usai mendapatkan pertolongan pertama, Refi langsung dirujuk ke rumah sakit
sebelumnya. Sayangnya, nyawa Refi tetap tak bisa tertolong meski dokter sudah
mengupayakan banyak hal.
((Bersambung ...))
Untuk menjadi White Sawn (Lembut & Rapuh) dan Black Sawn (Kuat &
Binal), seorang Ballerina akan berhadapan dengan kondisi psikologis yang
bertentangan demi penjiwaan yang sempurna...
Follow IG : @vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment