Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 483 : White Sawn in Black Sawn Dance

 


Beberapa jam sebelum kematian Refina ...

 

“Suster, aku di mana?” tanya Refi saat ia membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang bernuansa putih. Hanya ada ranjang tidurnya, tak ada perabotan lain di tempat itu.

 

“Di kamar kamu, seperti biasa,” jawab perawat yang sedang mengantarkan makanan untuk Refi. “Makan dulu, ya!”

 

Refi tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil makanan dengan tangannya, tak menggunakan sendok. Makan asal-asalan layaknya pengemis yang berkelana di jalanan. Kesadarannya kali ini sulit untuk dikendalikan. Ia kesulitan membedakan mana dunia nyata dan halusinasi yang menghantui pikirannya.

 

Terkadang, Refi terlihat seperti manusia normal. Ia menyisir rambutnya, mengenakan pakaian yang ia inginkan. Seperti hari ini, ia tiba-tiba ingin mengenakan Black Swan Costume.

 

“Suster, aku minta satu set pakaian balet!” pinta Refi. “Yang warna hitam, ya!”

 

Perawat yang ada di ruangan itu tak menjawab permintaan Refi.

 

“Suster ...!” sentak Refi. “Dengar, nggak sih!?”

 

Perawat tersebut menghela napas dan mengangguk. “Iya, saya carikan pakaian balet untuk kamu.”

 

Refi tersenyum. “Cepet ya, Sus! Aku ingin menari untuk terakhir kalinya.”

 

Perawat itu tersenyum. “Iya. Makan dulu ya! Setelah makanannya habis, saya carikan kostum balet untuk kamu.”

 

Refi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat bahagia dan ingin menghabiskan makanannya lebih cepat.

 

“Suster, cepat ya!” pinta Refi. “Aku mau cantik hari ini. Suster harus lihat aku nari!”

 

Perawat itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

 

Setelah dua jam berlalu, perawat yang diminta menyediakan kostum balet tak kunjung datang. Hal ini benar-benar memancing amarah Refi yang kondisi kejiwaannya memang sudah tidak stabil.

 

“Suster ...! Mana kostum aku!” teriak Refi sekencang-kencangnya. Ia terus berusaha memanggil perawat dan keluar dari ruang tidurnya.

 

“Dia kenapa?” tanya salah seorang perawat saat melihat Refi keluar dari ruangan itu sambil berteriak.

 

“Suster ...! Mana gaun yang aku minta!” seru Refi kesal. Ia sengaja memukul kaca jendela, tak peduli melukai tangannya sendiri.

 

“Sus, tolong! Pasien ini ngamuk lagi,” seru salah seorang perawat sambil berlari menghampiri Refi untuk menenangkan wanita itu.

 

“Mana gaun yang aku minta!?” sentak Refi.

 

“Sabar ya, Mbak! Suster lagi carikan gaun untuk Mbak Refi.”

 

“Cepetan! Saya mau nari. Penonton udah nunggu. Ini pertunjukkan terakhir saya!” teriak Refi.

 

Perawat yang ada di sana saling pandang dan menggelengkan kepala. Mereka bergegas mengajak Refi kembali ke ruangannya.

 

“Aku mau nunggu di sini. Aku nunggu gaunku datang. Di sana, penonton sudah nunggu aku. Aku harus cantik, harus bisa mengambil perhatian dari semua penonton. Di sana juga ada juri dari New York yang akan menilai penampilanku. Aku nggak boleh ngecewain mereka,” gerutu Refi sambil duduk di lantai. Ia meringkuk sambil memeluk kakinya sendiri.

 

“Suster, siapa yang tugas jaga dia hari ini? Apa gaun yang dia minta beneran dicarikan?”

 

“Ini gaunnya, Suster!” Perawat yang diminta menyediakan gaun untuk Refi langsung datang.

 

“Dia cuma mau nari, kasih gaunnya supaya dia tenang!” pinta perawat yang lainnya.

 

Refi menengadahkan kepalanya melihat suster yang sudah memegang kostum lengkap Black Swan yang ia inginkan. Tangan Refi mengambil pecahan kaca jendela yang masih berserak di lantai, menyimpan ke saku bajunya. Ia bangkit dan merebut kostum dari tangan perawat dan berlari masuk ke ruang tidurnya.

 

Refi buru-buru mengganti pakaiannya. Tapi ia tak bisa melihat wajahnya sendiri saat ini karena tak ada cermin di dalam ruangan itu. Ia mengambil pecahan kaca yang tadi ia pungut dari lantai dan menempelkan ke dinding. Ia bisa melihat wajahnya yang tersenyum di balik pecahan kaca mungil itu.

 

“Kamu cantik!” tutur Refi sambil tertawa bahagia. Ia mengelipkan pecahan kaca tersebut ke bawah tempat tidurnya agar ia bisa bercermin.

 

Dengan kaki yang tak lagi kokoh seperti dulu, Refi terus menggerakkan tubuhnya perlahan. Menggerakkan kakinya agar bisa menciptakan tarian yang indah. Ia tak peduli beberapa kali ia terjatuh, ia tetap bangkit dan berusaha.

 

Refi terus menari sepanjang hari. Perawat yang berjaga pun hanya menggelengkan kepala memerhatikan Refi dari balik pintu ruangan yang terbuka.

 

Sampai tengah malam, Refi masih terus menampilkan tariannya. Di dalam setiap gerakan tangan dan kakinya. Ia bisa melihat semua masa lalunya tergambar jelas di dalam langit malam yang gelap. Sedikit cahaya yang ada di luar sana, membuat bayangan masa lalunya terus terukir silih berganti bersama langit yang penuh bintang.

 

Refi tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam, ia ingin memerankan dirinya sebagai White Sawn dan Black Sawn yang sempurna.

 

“Yeriko ...! Aku tetap cinta sama kamu sampai langit runtuh. Semoga kamu bahagia. Aku ingin terbang ke kehidupan yang baru. Meninggalkan penderitaan yang setiap hari menghantuiku.”

 

Refi mengambil pecahan kaca yang ada di bawah bantal. Ia kembali menari sambil menggenggam pecahan kaca yang ada di tangannya. Ia ingin semuanya berakhir. Ia tak ingin lagi mengejar cinta Yeriko. Ia tak ingin lagi kembali ke kehidupan nyatanya bersama Deny. Ia tak ingin seumur hidupnya mengingat delapan pria yang telah menikmati tubuhnya bersamaan.

 

Refi menarik napas dalam-dalam. Ia menyayat urat nadinya dan melanjutkan tariannya penuh gairah. Ia ingin mengakhiri hidupnya tanpa penyesalan. Ia ingin menjalani semuanya tanpa rasa sakit.

 

“Ma ... Pa ... maafin Refi!” bisik Refi sambil menatap wajah kedua orang tuanya yang tersenyum ke arahnya.

 

Refi mengakhiri tarian sensual Black Swan dengan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia menengadah ke langit-langit, sementara darah masih mengucur dari nadi yang ada di pergelangan tangannya. Ia tersenyum menatap langit-langit ruangan. Perlahan, menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil memejamkan mata.

 

Angin malam yang sepi menjadi saksi jiwa yang menepi. Membawa jiwanya melayang pergi ke langit yang tinggi. Ia menikmati kesendiriannya di ruang-ruang yang sepi.

 

Di detik terakhir hidupnya ... Refi masih berharap bisa kembali ke kehidupan kedua yang bahagia. Menjadi wanita yang terhormat seperti dongeng-dongeng dalam sejarah. Sayangnya, ia memilih kematian sebagai jalan keabadiannya. Ia ingin menjadi White Swan dalam balutan Black Swan. Menari bersama para angsa seperti dulu. Terlihat cantik, dikagumi, penuh keberanian dan sensualitas.

 

Refi, memilih jalan kematian dengan caranya. Ia tak pernah menyesali jalan kematian yang ia pilih. Sebab dengan cara inilah ia bisa merelakan orang-orang yang ia cintai hidup bahagia tanpa rasa sakit.

 

“Aaargh ...!” Suara perawat yang masuk ke dalam kamar tidur Refi mengundang perhatian semua orang. Dokter dan perawat yang bertugas langsung berlarian ke sumber suara.

 

Dokter yang bertugas langsung memeriksa kondisi Refi. “Dia masih hidup. Siapkan peralatan!”

 

Perawat yang bertugas langsung berlarian untuk melakukan pertolongan pertama.  Usai mendapatkan pertolongan pertama, Refi langsung dirujuk ke rumah sakit sebelumnya. Sayangnya, nyawa Refi tetap tak bisa tertolong meski dokter sudah mengupayakan banyak hal.

 

 ((Bersambung ...))

Untuk menjadi White Sawn (Lembut & Rapuh) dan Black Sawn (Kuat & Binal), seorang Ballerina akan berhadapan dengan kondisi psikologis yang bertentangan demi penjiwaan yang sempurna...

 

 

Follow IG : @vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas