Yuna
mondar-mandir di dalam kamar sambil memikirkan hal yang sudah terjadi pada
Refi. Ia masih tidak percaya kalau Refi lebih memilih mengakhiri hidup daripada
menghadapi dirinya. Ia teringat bagaimana Refi selalu semangat dan penuh
keberanian berhadapan dengannya.
“Kenapa
dia bisa bunuh diri? Apa sih yang terjadi sama dia sebenarnya?” gumam Yuna.
“Bukannya kasus video itu akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu.
Kenapa harus bunuh diri?”
Yeriko
yang baru saja masuk ke kamar, melihat istrinya masih berdiri di depan jendela
kamar. Ia langsung menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang. “Udah malam,
kenapa belum tidur?” bisiknya.
“Eh!?
Nggak papa. Belum ngantuk aja,” jawab Yuna. Ia mencoba menyembunyikan
kegelisahannya. Walau bagaimana pun, ini semua adalah pilihan Refi sendiri.
Tidak seharusnya ia terlalu memikirkan apa yang telah terjadi pada Refi hari
ini.
“Nunggu
aku?” bisik Yeriko sambil mengendus telinga Yuna.
Yuna
tersenyum, ia memutar tubuhnya menghadap ke dada Yeriko. “Udah selesai
kerjaannya?”
Yeriko
mengangguk. “Kamu lagi mikirin sesuatu?”
Yuna
menggeleng. Ia melangkah dan menaiki tempat tidurnya.
“Hari
ini, kamu ke mana aja?” tanya Yeriko sambil duduk di samping Yuna.
“Ke
Galeri, seperti biasa.”
“Lagi
belajar bikin apa? Wajah kamu lelah banget?”
Yuna
melebarkan kelopak mata sambil menyentuh pipinya sendiri. “Masa, sih?”
Yeriko
mengangguk, ia menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu lagi nyiapin kado
ulang tahun buat aku?”
Yuna
langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kok, kamu tahu?”
Yeriko
tertawa kecil. “Apa yang bisa kamu sembunyiin dari aku?” tanya Yeriko balik.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Nggak seru banget. Masa, kamu udah tahu duluan kado
yang aku siapin buat kamu?”
Yeriko
tertawa kecil. “Mmh ... aku tahu, kamu lagi nyiapin hadiah buat aku. Tapi, aku
belum lihat, kok.”
“Walau
belum lihat, tetep aja udah tahu kalau aku bikin di Galeri Mbah To. Kalo gitu,
kamu harus kasih tahu aku ... hadiah apa yang kamu siapin buat aku?”
Yeriko
mengangkat kedua alis sambil menatap wajah Yuna. “Mmh ... masih rahasia.”
“Kado
dari aku, kamu udah tahu. Masa kamu nggak kasih tahu apa yang kamu siapin buat
aku?”
“Kamu
maunya apa?” tanya Yeriko.
“Mmh
... aku mau hadiah yang kamu buat dengan tangan kamu sendiri!” pinta Yuna.
“Mie
instan?” tanya Yeriko.
Yuna
memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.
“Aw
...!” Yeriko merintih sambil memegangi perutnya.
“Masa,
aku dikasih hadiah mie instan!?” dengus Yuna.
“Yang
penting aku buat dengan tanganku sendiri ‘kan?”
“Iya,
emang. Tapi nggak begitu juga!” sahut Yuna kesal.
Yeriko
terkekeh menatap wajah Yuna.
“Mmh
... aku nggak bisa bikin apa-apa selain bikin kamu jatuh cinta sama aku,” tutur
Yeriko sambil tertawa kecil.
Yuna
tersenyum bahagia sambil menggigit bibirnya. “Kamu sekarang kuat ngegombal.”
“Harus
kuat, supaya kamu selalu bahagia.”
Yuna
tersenyum. Ia langsung memeluk erat tubuh Yeriko penuh kehangatan. “Aku sudah
bahagia ada di dekat kamu setiap hari.”
“Mmh
... kalau gitu, aku nggak perlu bikin apa-apa untuk hadiah ulang tahun kamu.
Cukup aku aja ‘kan?”
Yuna
memainkan bibirnya. Ia tidak begitu menginginkan hadiah, tapi juga ingin
menuntut suaminya itu memberikan hadiah pertama untuk ulang tahunnya. Sebab,
tahun-tahun sebelumnya mereka belum saling mengenal.
Yeriko
tertawa kecil sambil mengamati wajah Yuna. “Jelek banget mukanya kalau kayak
gitu? Aku pasti kasih kamu hadiah, kok. Masih aku pikirin hadiahnya.”
Yuna
mengerutkan dahi sambil menatap wajah Yeriko. “Tiga hari lagi ulang tahun kita.
Hadiahnya masih mikir?”
Yeriko
tertawa kecil. “Nanti aku suruh Riyan carikan hadiah yang cocok buat kamu.”
“Kok,
Riyan?”
“Kalo
diibaratkan cerita Rama-Shinta, Riyan itu Hanoman,” tutur Yeriko sambil menahan
tawa.
“Idih,
jahat banget!”
“Apanya
yang jahat? Hanoman adalah contoh orang hebat.”
“Tapi
kan dia monyet.”
Yeriko
tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Monyet itu hanya penjelmaan. Walau
monyet, dia punya sifat yang mulia. Don’t judge people by the cover!”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepalanya. “I see. So, apa hadiah yang mau kamu siapin
buat aku?” tanyanya lagi.
Yeriko
tertawa kecil. “Masih tanya lagi?”
“Aku
nggak akan berhenti bertanya sampai dapet jawabannya.”
“Hmm
... masih aku pikirin.”
“Gimana
buatnya kalau sekarang masih dipikirin?”
Yeriko
tersenyum sambil mengeratkan pelukkannya. “Andai bisa kubuat dunia. Aku ingin
menciptakan dunia untuk kamu. Supaya kamu selalu bahagia,” bisiknya.
“Kamu
sudah menciptakan dunia untukku sejak pertama kali aku masuk ke rumah ini,”
tutur Yuna sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko.
Yeriko
menarik napas dalam-dalam, ia langsung menarik tengkuk Yuna dan mencium bibir
istrinya itu penuh kehangatan. Ia terus memainkan bibirnya di wajah Yuna,
hingga seluruh tubuh yang membuatnya selalu bahagia. Menikmati waktu-waktunya
bersama wanita yang kini menjadi satu-satunya tempat untuk menciptakan dunia
baru dalam hidupnya.
....
Di
tempat lain ...
“Chan,
si Refi beneran bunuh diri?” tanya Jheni sambil asyik menggoreskan styllus pen
ke atas layar tab-nya.
“Iya.”
“Kamu
ikut ke pemakaman Refi?”
Chandra
menggelengkan kepala. “Dia mau dimakamkan di Jakarta. Riyan udah urus
semuanya.”
“Huft,
kenapa dia sampai bunuh diri, ya?”
Chandra
mengedikkan bahunya. Ia duduk tepat di hadapan Jheni. “Kamu udah makan?”
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya. “Kamu udah makan?”
Chandra
menggelengkan kepala.
“Kenapa?
Pulang semalam ini, nggak makan di kantor?”
Chandra
menggelengkan kepala. “Sibuk banget. Aku lupa makan.”
Jheni
menghela napas. “Sesibuk apa pun, harus tetap makan!” pintanya sambil
menyodorkan snack yang ada di tangannya.
Chandra
menggelengkan kepala. “Kamu makan aja! Aku mau mandi dulu.”
Jheni
mengangguk. “Aku masakin mie instan buat kamu, ya!?”
Chandra
mengangguk sambil melangkah menuju kamar mandi.
Baru
saja akan bangkit, ponsel Jheni tiba-tiba berdering. Ia langsung menjawab
panggilan dari Icha. “Halo, Cha! Kenapa?”
“Kamu
udah baca cerita soal Refi?”
“Udah.”
“Itu
beneran?”
“Iya,
beneran. Aku udah tanya ke Chandra,” jawab Jheni sambil melangkah ke dapur.
“Kamu
lagi apa sih malam-malam gini.”
“Masak
mie instan. Si Chandra baru aja pulang kerja.”
“Rajin
amat pacarmu, Jhen.”
“Harus
rajin, dong. Biar tambah kaya.”
“Lutfi
yang malas aja udah kaya. Gimana kalau dia jadi rajin juga? Hahaha.”
“Huu
... sombong, lu! Eh, aku masak dulu ya!”
“Masak
mie doang, Jhen. Kasihan Chandra, kenapa kamu kasih makan mie instan?”
“Udah
malam gini, adanya cuma mie instan sama telur. Iih, kamu nih bawel banget sih?
Aku masak dulu, Bye!” tutur Jheni. “Lanjut chat aja, Cha!” seru Jheni sambil
mematikan panggilan teleponnya.
Jheni
dan Icha terus membicarakan soal kejadian bunuh diri yang menimpa Refi. Walau
mereka mengutuk perbuatan Refi saat masih hidup, mereka juga iba dengan keadaan
Refi yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Banyak
juga fans Refi Tata yang ikut berbela sungkawa dan mengumpulkan karya-karya
tarian Refi sebagai persembahan terakhir untuk dunia hiburan, membuat semua
orang terharu dengan akhir hidup Refi yang menyedihkan ... tapi masih membawa
kenangan-kenangan prestasi yang pernah ia ukir di masa lalunya.
Author’s Note:
Thanks udah baca terus sampai di sini. Semoga kita bisa mengambil banyak
pelajaran hidup dari cerita-cerita yang aku tulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment