Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 484 : Rest in Peace for Refi Tata

 


Yuna mondar-mandir di dalam kamar sambil memikirkan hal yang sudah terjadi pada Refi. Ia masih tidak percaya kalau Refi lebih memilih mengakhiri hidup daripada menghadapi dirinya. Ia teringat bagaimana Refi selalu semangat dan penuh keberanian berhadapan dengannya.

 

“Kenapa dia bisa bunuh diri? Apa sih yang terjadi sama dia sebenarnya?” gumam Yuna. “Bukannya kasus video itu akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu. Kenapa harus bunuh diri?”

 

Yeriko yang baru saja masuk ke kamar, melihat istrinya masih berdiri di depan jendela kamar. Ia langsung menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang. “Udah malam, kenapa belum tidur?” bisiknya.

 

“Eh!? Nggak papa. Belum ngantuk aja,” jawab Yuna. Ia mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Walau bagaimana pun, ini semua adalah pilihan Refi sendiri. Tidak seharusnya ia terlalu memikirkan apa yang telah terjadi pada Refi hari ini.

 

“Nunggu aku?” bisik Yeriko sambil mengendus telinga Yuna.

 

Yuna tersenyum, ia memutar tubuhnya menghadap ke dada Yeriko. “Udah selesai kerjaannya?”

 

Yeriko mengangguk. “Kamu lagi mikirin sesuatu?”

 

Yuna menggeleng. Ia melangkah dan menaiki tempat tidurnya.

 

“Hari ini, kamu ke mana aja?” tanya Yeriko sambil duduk di samping Yuna.

 

“Ke Galeri, seperti biasa.”

 

“Lagi belajar bikin apa? Wajah kamu lelah banget?”

 

Yuna melebarkan kelopak mata sambil menyentuh pipinya sendiri. “Masa, sih?”

 

Yeriko mengangguk, ia menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Kamu lagi nyiapin kado ulang tahun buat aku?”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kok, kamu tahu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Apa yang bisa kamu sembunyiin dari aku?” tanya Yeriko balik.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Nggak seru banget. Masa, kamu udah tahu duluan kado yang aku siapin buat kamu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Mmh ... aku tahu, kamu lagi nyiapin hadiah buat aku. Tapi, aku belum lihat, kok.”

 

“Walau belum lihat, tetep aja udah tahu kalau aku bikin di Galeri Mbah To. Kalo gitu, kamu harus kasih tahu aku ... hadiah apa yang kamu siapin buat aku?”

 

Yeriko mengangkat kedua alis sambil menatap wajah Yuna. “Mmh ... masih rahasia.”

 

“Kado dari aku, kamu udah tahu. Masa kamu nggak kasih tahu apa yang kamu siapin buat aku?”

 

“Kamu maunya apa?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... aku mau hadiah yang kamu buat dengan tangan kamu sendiri!” pinta Yuna.

 

“Mie instan?” tanya Yeriko.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...!” Yeriko merintih sambil memegangi perutnya.

 

“Masa, aku dikasih hadiah mie instan!?” dengus Yuna.

 

“Yang penting aku buat dengan tanganku sendiri ‘kan?”

 

“Iya, emang. Tapi nggak begitu juga!” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko terkekeh menatap wajah Yuna.

 

“Mmh ... aku nggak bisa bikin apa-apa selain bikin kamu jatuh cinta sama aku,” tutur Yeriko sambil tertawa kecil.

 

Yuna tersenyum bahagia sambil menggigit bibirnya. “Kamu sekarang kuat ngegombal.”

 

“Harus kuat, supaya kamu selalu bahagia.”

 

Yuna tersenyum. Ia langsung memeluk erat tubuh Yeriko penuh kehangatan. “Aku sudah bahagia ada di dekat kamu setiap hari.”

 

“Mmh ... kalau gitu, aku nggak perlu bikin apa-apa untuk hadiah ulang tahun kamu. Cukup aku aja ‘kan?”

 

Yuna memainkan bibirnya. Ia tidak begitu menginginkan hadiah, tapi juga ingin menuntut suaminya itu memberikan hadiah pertama untuk ulang tahunnya. Sebab, tahun-tahun sebelumnya mereka belum saling mengenal.

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengamati wajah Yuna. “Jelek banget mukanya kalau kayak gitu? Aku pasti kasih kamu hadiah, kok. Masih aku pikirin hadiahnya.”

 

Yuna mengerutkan dahi sambil menatap wajah Yeriko. “Tiga hari lagi ulang tahun kita. Hadiahnya masih mikir?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Nanti aku suruh Riyan carikan hadiah yang cocok buat kamu.”

 

“Kok, Riyan?”

 

“Kalo diibaratkan cerita Rama-Shinta, Riyan itu Hanoman,” tutur Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Idih, jahat banget!”

 

“Apanya yang jahat? Hanoman adalah contoh orang hebat.”

 

“Tapi kan dia monyet.”

 

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk dahi Yuna. “Monyet itu hanya penjelmaan. Walau monyet, dia punya sifat yang mulia. Don’t judge people by the cover!”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “I see. So, apa hadiah yang mau kamu siapin buat aku?” tanyanya lagi.

 

Yeriko tertawa kecil. “Masih tanya lagi?”

 

“Aku nggak akan berhenti bertanya sampai dapet jawabannya.”

 

“Hmm ... masih aku pikirin.”

 

“Gimana buatnya kalau sekarang masih dipikirin?”

 

Yeriko tersenyum sambil mengeratkan pelukkannya. “Andai bisa kubuat dunia. Aku ingin menciptakan dunia untuk kamu. Supaya kamu selalu bahagia,” bisiknya.

 

“Kamu sudah menciptakan dunia untukku sejak pertama kali aku masuk ke rumah ini,” tutur Yuna sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam, ia langsung menarik tengkuk Yuna dan mencium bibir istrinya itu penuh kehangatan. Ia terus memainkan bibirnya di wajah Yuna, hingga seluruh tubuh yang membuatnya selalu bahagia. Menikmati waktu-waktunya bersama wanita yang kini menjadi satu-satunya tempat untuk menciptakan dunia baru dalam hidupnya.

 

 

 

....

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

“Chan, si Refi beneran bunuh diri?” tanya Jheni sambil asyik menggoreskan styllus pen ke atas layar tab-nya.

 

“Iya.”

 

“Kamu ikut ke pemakaman Refi?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia mau dimakamkan di Jakarta. Riyan udah urus semuanya.”

 

“Huft, kenapa dia sampai bunuh diri, ya?”

 

Chandra mengedikkan bahunya. Ia duduk tepat di hadapan Jheni. “Kamu udah makan?”

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengalihkan pandangannya. “Kamu udah makan?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Pulang semalam ini, nggak makan di kantor?”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Sibuk banget. Aku lupa makan.”

 

Jheni menghela napas. “Sesibuk apa pun, harus tetap makan!” pintanya sambil menyodorkan snack yang ada di tangannya.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Kamu makan aja! Aku mau mandi dulu.”

 

Jheni mengangguk. “Aku masakin mie instan buat kamu, ya!?”

 

Chandra mengangguk sambil melangkah menuju kamar mandi.

 

Baru saja akan bangkit, ponsel Jheni tiba-tiba berdering. Ia langsung menjawab panggilan dari Icha. “Halo, Cha! Kenapa?”

 

“Kamu udah baca cerita soal Refi?”

 

“Udah.”

 

“Itu beneran?”

 

“Iya, beneran. Aku udah tanya ke Chandra,” jawab Jheni sambil melangkah ke dapur.

 

“Kamu lagi apa sih malam-malam gini.”

 

“Masak mie instan. Si Chandra baru aja pulang kerja.”

 

“Rajin amat pacarmu, Jhen.”

 

“Harus rajin, dong. Biar tambah kaya.”

 

“Lutfi yang malas aja udah kaya. Gimana kalau dia jadi rajin juga? Hahaha.”

 

“Huu ... sombong, lu! Eh, aku masak dulu ya!”

 

“Masak mie doang, Jhen. Kasihan Chandra, kenapa kamu kasih makan mie instan?”

 

“Udah malam gini, adanya cuma mie instan sama telur. Iih, kamu nih bawel banget sih? Aku masak dulu, Bye!” tutur Jheni. “Lanjut chat aja, Cha!” seru Jheni sambil mematikan panggilan teleponnya.

 

Jheni dan Icha terus membicarakan soal kejadian bunuh diri yang menimpa Refi. Walau mereka mengutuk perbuatan Refi saat masih hidup, mereka juga iba dengan keadaan Refi yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

 

Banyak juga fans Refi Tata yang ikut berbela sungkawa dan mengumpulkan karya-karya tarian Refi sebagai persembahan terakhir untuk dunia hiburan, membuat semua orang terharu dengan akhir hidup Refi yang menyedihkan ... tapi masih membawa kenangan-kenangan prestasi yang pernah ia ukir di masa lalunya.

 

 Author’s Note:

Thanks udah baca terus sampai di sini. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup dari cerita-cerita yang aku tulis.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas