Saat
Yuna baru saja bangkit dari lantai, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka.
Ada banyak preman yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Si Gundul dan
Si Keriting langsung menoleh ke arah preman-preman bertubuh kekar tersebut.
“Hei,
kalian udah datang?” tanya pria bertato yang sudah setengah mabuk itu. Ia
mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya.
“Iya,
Bos! Kami sudah nggak sabar untuk melakukan eksekusi malam ini.”
Pria
bertato itu tersenyum. “Semuanya sudah disiapkan. Wanita itu ...” Ia
menghentikan ucapannya saat melihat Yuna tak ada lagi di tempatnya. “Mana
perempuan yang di sini?” tanyanya sambil menunjuk tiang yang dipakai untuk
mengikat Yuna.
Si
Gundul dan si Keriting saling merapatkan tubuhnya. Mereka menyembunyikan tubuh
Yuna di belakang tubuh mereka.
“Kalian
berdua berkhianat, hah!?” sentak pria bertato sambil menatap si Keriting dan si
Gundul.
“Bos,
kami nggak mau ada yang terbunuh di sini,” jawab si Gundul dengan bibir
bergetar.
“Siapa
yang mau membunuh? Mereka ke sini cuma mau bersenang-senang sama perempuan
ini!” seru pria bertato itu. “Kalian jangan menghalang-halangi!”
“Wanita
itu nggak akan mati kalau hanya melayani kami semua satu malam ini,” tutur pria
berbadan kekar yang baru saja datang bersama tujuh pria lain.
Si
Gundul dan si Keriting menggelengkan kepala. Mereka berusaha untuk melindungi
Yuna dari serangan teman-teman penculik lainnya.
“Mbak,
kabur, Mbak!” perintah si Keriting pada Yuna yang bersembunyi di belakangnya.
Yuna
langsung melangkah mundur perlahan. Ia berbalik dan berusaha pergi dari ruangan
itu. Namun, terlalu banyak pria yang harus ia hadapi. Membuat Yuna tidak tahu
lagi harus melakukan apa saat tiga pria bertubuh kekar menghadangnya.
Sementara,
si Keriting dan si Gundul yang berusaha melindungi Yuna, ditaklukan dengan
mudahnya oleh pria-pria bertubuh kekar tersebut.
Yuna
tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia menghunuskan pisau buah yang ada di
tangannya ke arah pria-pria yang mengelilinginya.
“Dia
dapat pisau dari mana?” tanya salah seorang di antara mereka.
“Nggak
tahu,” jawab pria yang lainnya.
“Mbak,
tenang dulu!” pinta seorang pria sambil berusaha mendekati Yuna.
“Jangan
mendekat!” seru Yuna sambil menghunuskan pisau di tangannya.
“Kita
di sini dibayar bukan untuk membunuh orang. Jangan sampai ada yang mati! Bisa
habis masa depan kita,” tutur si Bos.
Yuna
tersenyum sinis menatap pria yang ada di hadapannya itu. “Kamu masih mikir masa
depan kamu juga?” tanya Yuna.
“Mbak,
kami ini cuma penculik. Bukan pembunuh. Kami cuma dibayar karena butuh uang.”
Yuna
menggeleng-gelengkan kepala. Ia terus berputar untuk memastikan kalau pria-pria
yang mengelilinginya tidak membahayakan dirinya. Ia menoleh ke arah si Keriting
dan si Gundul yang sudah tersungkur ke lantai karena melawan bosnya sendiri.
“Kalian
beraninya main keroyokan? Kalau berani, hadapi aku satu per satu!” pinta Yuna
penuh keberanian. Dalam hatinya, ia berdoa agar Yeriko segera datang
menyelamatkan dirinya.
Yuna
mengedarkan pandangannya. Mencari celah untuk bisa menyelamatkan dirinya
sendiri. Ia terus bergerak hingga tubuhnya bersandar ke dinding.
“Cepet
ambil pisaunya!” perintah si Bos. “Masa kalah sama perempuan kecil kayak gini!”
serunya lagi.
“Jangan
mendekat!” seru Yuna. “Kalian nggak tahu aku ini siapa, hah!?”
Semua
orang saling pandang, kemudian tertawa lebar. “Kami nggak peduli kamu siapa.
Kami cuma mau bersenang-senang. Sebaiknya, kamu serahkan tubuh kamu secara
sukarela. Jangan memaksa kami melakukan kekerasan!”
Yuna
menggelengkan kepalanya. “Lebih baik aku mati daripada harus melayani kalian!”
“Keras
kepala ini cewek. Udah kayak gini, masih aja nggak mau nyerah!”
“Aku
nggak akan nyerah. Suamiku pasti datang buat ngabisin kalian semua!” sahut
Yuna.
“Hahaha.
Suami kamu mana? Emangnya dia siapa? Nggak akan bisa ngelawan kami semua.”
“Suamiku
pemilik Galaxy Group. Kalau kalian pernah dengar, kalian pasti tahu siapa dia!”
“Siapa?”
Pria-pria itu saling pandang dan saling tanya.
Salah
seorang di antara mereka terlihat sangat ketakutan mendengar nama Galaxy. “Bos,
Galaxy itu penguasa di kota ini. Bosnya pengusaha besar dan dari keluarga
militer. Juga punya hubungan baik dengan pejabat-pejabat kota. Apa kita nggak
salah nyulik orang?”
“Hah!?
Serius?”
“Iya,
Bos.” Pria itu membuka ponsel dan menunjukkan potret wajah Yuna di internet.
“Ini orangnya, dia beneran Nyonya Besar.”
“Apa
yang akan terjadi sama kita kalau bikin masalah sama pengusaha ini.”
Pria
itu berbisik ke telinga pria lainnya. Membuat mereka mulai gentar untuk
melanjutkan kejahatan mereka terhadap Yuna.’
Yuna
tersenyum menatap preman-preman itu. “Kalian udah tahu aku siapa? Aku bisa
bayar kalian dua kali lipat kalau kalian mau ngelepasin aku!”
Semua
orang saling pandang. Mereka mulai gentar, terlebih tawaran dari Yuna lumayan
menggiurkan untuk mereka yang menginginkan uang dengan cepat.
“Halah
... nggak usah terpengaruh sama berita kayak gitu. Kalau dia beneran istri bos
besar, bukannya malah bagus. Kita semua bisa icip tubuhnya secara gratis,”
tutur salah seorang pria.
“Bener
juga, Bos.” Pria yang lain mengangguk-anggukkan kepala.
“Udah,
jangan mengulur waktu terus! Selesaikan secepatnya!” perintah si Bos.
Tiga
orang pria yang ada di sana langsung merebut pisau dari tangan Yuna. Yuna
berusaha mempertahankan pisau yang ada di tangannya. Namun, ia justru gagal dan
pisau itu sudah berpindah ke tangan penculik.
“Aargh
...!” teriak Yuna sambil menendang dua pria yang ada di hadapannya. Ia berusaha
berlari dari tempat itu. Namun, lagi-lagi ia dihadang oleh pria lain.
Yuna
memundurkan langkahnya perlahan. Ia menoleh ke arah benda di dekat kakinya yang
sedikit bersinar diterpa cahaya bulan yang masuk lewat lubang-lubang cahaya di
tempat itu.
Yuna
langsung mengambil pecahan kaca yang ada di dekatnya dan menempelkan ke
lehernya sendiri, ia melakukan itu semua penuh keberanian.
“Lebih
baik aku mati daripada harus melayani pria hidung belang seperti kalian!” tegas
Yuna sambil mengangkat dagu, sejajar dengan pandangan matanya.
“Nggak
ada yang boleh mati di sini!” seru si Bos. Ia berusaha merebut pecahan kaca
dari tangan Yuna.
Yuna
masih tak mau menyerah. Ia melihat lubang kecil yang jaraknya hanya beberapa
meter dari tubuhnya. Yuna melangkah perlahan mendekati lubang tersebut.
“Kamu
sudah gila, ya! Aku nggak akan ngebiarin kamu mati di sini!” seru salah seorang
pria sambil merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.
Yuna
berusaha mempertahankan pecahan kaca itu dari tangannya. Hingga membuat si Bos
yang berusaha merebutnya terluka.
“Aargh
...! Perempuan jalang!” sentak si Bos yang tangannya terluka karena pecahan
kaca. Ia langsung menampar wajah Yuna begitu ia berhasil merebut pecahan kaca
dari tangan Yuna.
“Selesaikan
perempuan ini!” perintah si Bos sambil menahan sakit di telapak tangannya, ia
sangat kesal melihat darah yang mengucur dari sana.
Yuna
berusaha melawan pria yang terus mengejarnya. Ia masuk ke dalam sebuah lubang
kecil yang tak jauh dari dirinya. Tubuhnya yang mungil, bisa dengan mudahnya
masuk ke dalam lubang yang tak lebih dari lima puluh sentimeter itu.
“Heh,
keluar kamu!” seru seorang pria sambil berusaha menarik lengan Yuna.
“Nggak
mau!” teriak Yuna. Ia langsung menggigit tangan pria itu kuat-kuat.
“Aargh
...!” teriak pria itu saat punggung tangannya digigit oleh Yuna. “Perempuan
sialan!”
Yuna
meringkuk sambil memundurkan tubuhnya agar pria-pria yang ada di sana tidak ada
yang bisa meraih tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, tubuhnya gemetaran karena
ketakutan. Ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana dan bertahan berapa lama dari
serangan preman-preman ganas itu.
“Yeriko,
kamu di mana?” Ia mulai menangis sambil mempertahankan diri agar pria yang
berusaha menarik tubuhnya itu tidak berhasil mengeluarkan dirinya. “Aku takut!”
rintih Yuna sambil memeluk kakinya. Ia terus meringkuk di dalam lubang kecil
yang sangat bau dan berdebu.
“Keluar
kamu!” perintah pria-pria yang ada di luar sana sambil berusaha meraih tubuh
Yuna.
“Aargh
...! Nggak mau!” teriak Yuna sambil memundurkan tubuhnya lagi hingga pria-ptia
itu kesulitan menjangkau tubuhnya.
“Dia
udah nggak bisa ke mana-mana lagi. Kita tunggu aja sampai dia keluar dari
lubang itu!” tutur si Bos yang sudah kesal dengan apa yang dilakukan Yuna.
“Kalau
dia nggak mau keluar dan mati di dalam sana gimana?” tanya pria yang lainnya.
“Biar
aja mati!” sahut si Bos yang sudah kesal.
“Bos,
dia bukan orang sembarangan. Kita bisa habis kalau sampai ketahuan nyulik
istrinya Bos Besar. Apalagi sampai mati di dalam sana,” tutur seorang pria yang
dari awal sudah ketakutan karena mendengar nama Galaxy Group.
Yuna
bisa mendengar dengan jelas pembicaraan orang yang di luar sana. Ia tetap tidak
ingin keluar. Ia masih berharap kalau suaminya akan menyelamatkan dirinya.
“Ay,
kamu pasti datang ‘kan?” tutur Yuna sambil terisak. Ia berusaha meyakinkan diri
sendiri kalau suaminya pasti sedang berusaha mencari keberadaannya. Ia tidak
akan menyerah begitu saja karena ia tahu ... di luar sana, Yeriko pasti sedang berjuang menemukan dirinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Yuna supaya dia selalu
kuat ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment