Wednesday, February 25, 2026

Perfect Hero Bab 468 : Survive

 


Saat Yuna baru saja bangkit dari lantai, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Ada banyak preman yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Si Gundul dan Si Keriting langsung menoleh ke arah preman-preman bertubuh kekar tersebut.

 

“Hei, kalian udah datang?” tanya pria bertato yang sudah setengah mabuk itu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya.

 

“Iya, Bos! Kami sudah nggak sabar untuk melakukan eksekusi malam ini.”

 

Pria bertato itu tersenyum. “Semuanya sudah disiapkan. Wanita itu ...” Ia menghentikan ucapannya saat melihat Yuna tak ada lagi di tempatnya. “Mana perempuan yang di sini?” tanyanya sambil menunjuk tiang yang dipakai untuk mengikat Yuna.

 

Si Gundul dan si Keriting saling merapatkan tubuhnya. Mereka menyembunyikan tubuh Yuna di belakang tubuh mereka.

 

“Kalian berdua berkhianat, hah!?” sentak pria bertato sambil menatap si Keriting dan si Gundul.

 

“Bos, kami nggak mau ada yang terbunuh di sini,” jawab si Gundul dengan bibir bergetar.

 

“Siapa yang mau membunuh? Mereka ke sini cuma mau bersenang-senang sama perempuan ini!” seru pria bertato itu. “Kalian jangan menghalang-halangi!”

 

“Wanita itu nggak akan mati kalau hanya melayani kami semua satu malam ini,” tutur pria berbadan kekar yang baru saja datang bersama tujuh pria lain.

 

Si Gundul dan si Keriting menggelengkan kepala. Mereka berusaha untuk melindungi Yuna dari serangan teman-teman penculik lainnya.

 

“Mbak, kabur, Mbak!” perintah si Keriting pada Yuna yang bersembunyi di belakangnya.

 

Yuna langsung melangkah mundur perlahan. Ia berbalik dan berusaha pergi dari ruangan itu. Namun, terlalu banyak pria yang harus ia hadapi. Membuat Yuna tidak tahu lagi harus melakukan apa saat tiga pria bertubuh kekar menghadangnya.

 

Sementara, si Keriting dan si Gundul yang berusaha melindungi Yuna, ditaklukan dengan mudahnya oleh pria-pria bertubuh kekar tersebut.

 

Yuna tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia menghunuskan pisau buah yang ada di tangannya ke arah pria-pria yang mengelilinginya.

 

“Dia dapat pisau dari mana?” tanya salah seorang di antara mereka.

 

“Nggak tahu,” jawab pria yang lainnya.

 

“Mbak, tenang dulu!” pinta seorang pria sambil berusaha mendekati Yuna.

 

“Jangan mendekat!” seru Yuna sambil menghunuskan pisau di tangannya.

 

“Kita di sini dibayar bukan untuk membunuh orang. Jangan sampai ada yang mati! Bisa habis masa depan kita,” tutur si Bos.

 

Yuna tersenyum sinis menatap pria yang ada di hadapannya itu. “Kamu masih mikir masa depan kamu juga?” tanya Yuna.

 

“Mbak, kami ini cuma penculik. Bukan pembunuh. Kami cuma dibayar karena butuh uang.”

 

Yuna menggeleng-gelengkan kepala. Ia terus berputar untuk memastikan kalau pria-pria yang mengelilinginya tidak membahayakan dirinya. Ia menoleh ke arah si Keriting dan si Gundul yang sudah tersungkur ke lantai karena melawan bosnya sendiri.

 

“Kalian beraninya main keroyokan? Kalau berani, hadapi aku satu per satu!” pinta Yuna penuh keberanian. Dalam hatinya, ia berdoa agar Yeriko segera datang menyelamatkan dirinya.

 

Yuna mengedarkan pandangannya. Mencari celah untuk bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Ia terus bergerak hingga tubuhnya bersandar ke dinding.

 

“Cepet ambil pisaunya!” perintah si Bos. “Masa kalah sama perempuan kecil kayak gini!” serunya lagi.

 

“Jangan mendekat!” seru Yuna. “Kalian nggak tahu aku ini siapa, hah!?”

 

Semua orang saling pandang, kemudian tertawa lebar. “Kami nggak peduli kamu siapa. Kami cuma mau bersenang-senang. Sebaiknya, kamu serahkan tubuh kamu secara sukarela. Jangan memaksa kami melakukan kekerasan!”

 

Yuna menggelengkan kepalanya. “Lebih baik aku mati daripada harus melayani kalian!”

 

“Keras kepala ini cewek. Udah kayak gini, masih aja nggak mau nyerah!”

 

“Aku nggak akan nyerah. Suamiku pasti datang buat ngabisin kalian semua!” sahut Yuna.

 

“Hahaha. Suami kamu mana? Emangnya dia siapa? Nggak akan bisa ngelawan kami semua.”

 

“Suamiku pemilik Galaxy Group. Kalau kalian pernah dengar, kalian pasti tahu siapa dia!”

 

“Siapa?” Pria-pria itu saling pandang dan saling tanya.

 

Salah seorang di antara mereka terlihat sangat ketakutan mendengar nama Galaxy. “Bos, Galaxy itu penguasa di kota ini. Bosnya pengusaha besar dan dari keluarga militer. Juga punya hubungan baik dengan pejabat-pejabat kota. Apa kita nggak salah nyulik orang?”

 

“Hah!? Serius?”

 

“Iya, Bos.” Pria itu membuka ponsel dan menunjukkan potret wajah Yuna di internet. “Ini orangnya, dia beneran Nyonya Besar.”

 

“Apa yang akan terjadi sama kita kalau bikin masalah sama pengusaha ini.”

 

Pria itu berbisik ke telinga pria lainnya. Membuat mereka mulai gentar untuk melanjutkan kejahatan mereka terhadap Yuna.’

 

Yuna tersenyum menatap preman-preman itu. “Kalian udah tahu aku siapa? Aku bisa bayar kalian dua kali lipat kalau kalian mau ngelepasin aku!”

 

Semua orang saling pandang. Mereka mulai gentar, terlebih tawaran dari Yuna lumayan menggiurkan untuk mereka yang menginginkan uang dengan cepat.

 

“Halah ... nggak usah terpengaruh sama berita kayak gitu. Kalau dia beneran istri bos besar, bukannya malah bagus. Kita semua bisa icip tubuhnya secara gratis,” tutur salah seorang pria.

 

“Bener juga, Bos.” Pria yang lain mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Udah, jangan mengulur waktu terus! Selesaikan secepatnya!” perintah si Bos.

 

Tiga orang pria yang ada di sana langsung merebut pisau dari tangan Yuna. Yuna berusaha mempertahankan pisau yang ada di tangannya. Namun, ia justru gagal dan pisau itu sudah berpindah ke tangan penculik.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sambil menendang dua pria yang ada di hadapannya. Ia berusaha berlari dari tempat itu. Namun, lagi-lagi ia dihadang oleh pria lain.

 

Yuna memundurkan langkahnya perlahan. Ia menoleh ke arah benda di dekat kakinya yang sedikit bersinar diterpa cahaya bulan yang masuk lewat lubang-lubang cahaya di tempat itu.

 

Yuna langsung mengambil pecahan kaca yang ada di dekatnya dan menempelkan ke lehernya sendiri, ia melakukan itu semua penuh keberanian.

 

“Lebih baik aku mati daripada harus melayani pria hidung belang seperti kalian!” tegas Yuna sambil mengangkat dagu, sejajar dengan pandangan matanya.

 

“Nggak ada yang boleh mati di sini!” seru si Bos. Ia berusaha merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

Yuna masih tak mau menyerah. Ia melihat lubang kecil yang jaraknya hanya beberapa meter dari tubuhnya. Yuna melangkah perlahan mendekati lubang tersebut.

 

“Kamu sudah gila, ya! Aku nggak akan ngebiarin kamu mati di sini!” seru salah seorang pria sambil merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

Yuna berusaha mempertahankan pecahan kaca itu dari tangannya. Hingga membuat si Bos yang berusaha merebutnya terluka.

 

“Aargh ...! Perempuan jalang!” sentak si Bos yang tangannya terluka karena pecahan kaca. Ia langsung menampar wajah Yuna begitu ia berhasil merebut pecahan kaca dari tangan Yuna.

 

“Selesaikan perempuan ini!” perintah si Bos sambil menahan sakit di telapak tangannya, ia sangat kesal melihat darah yang mengucur dari sana.

 

Yuna berusaha melawan pria yang terus mengejarnya. Ia masuk ke dalam sebuah lubang kecil yang tak jauh dari dirinya. Tubuhnya yang mungil, bisa dengan mudahnya masuk ke dalam lubang yang tak lebih dari lima puluh sentimeter itu.

 

“Heh, keluar kamu!” seru seorang pria sambil berusaha menarik lengan Yuna.

 

“Nggak mau!” teriak Yuna. Ia langsung menggigit tangan pria itu kuat-kuat.

 

“Aargh ...!” teriak pria itu saat punggung tangannya digigit oleh Yuna. “Perempuan sialan!”

 

Yuna meringkuk sambil memundurkan tubuhnya agar pria-pria yang ada di sana tidak ada yang bisa meraih tubuhnya. Ia mengepalkan tangan, tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana dan bertahan berapa lama dari serangan preman-preman ganas itu.

 

“Yeriko, kamu di mana?” Ia mulai menangis sambil mempertahankan diri agar pria yang berusaha menarik tubuhnya itu tidak berhasil mengeluarkan dirinya. “Aku takut!” rintih Yuna sambil memeluk kakinya. Ia terus meringkuk di dalam lubang kecil yang sangat bau dan berdebu.

 

“Keluar kamu!” perintah pria-pria yang ada di luar sana sambil berusaha meraih tubuh Yuna.

 

“Aargh ...! Nggak mau!” teriak Yuna sambil memundurkan tubuhnya lagi hingga pria-ptia itu kesulitan menjangkau tubuhnya.

 

“Dia udah nggak bisa ke mana-mana lagi. Kita tunggu aja sampai dia keluar dari lubang itu!” tutur si Bos yang sudah kesal dengan apa yang dilakukan Yuna.

 

“Kalau dia nggak mau keluar dan mati di dalam sana gimana?” tanya pria yang lainnya.

 

“Biar aja mati!” sahut si Bos yang sudah kesal.

 

“Bos, dia bukan orang sembarangan. Kita bisa habis kalau sampai ketahuan nyulik istrinya Bos Besar. Apalagi sampai mati di dalam sana,” tutur seorang pria yang dari awal sudah ketakutan karena mendengar nama Galaxy Group.

 

Yuna bisa mendengar dengan jelas pembicaraan orang yang di luar sana. Ia tetap tidak ingin keluar. Ia masih berharap kalau suaminya akan menyelamatkan dirinya.

 

“Ay, kamu pasti datang ‘kan?” tutur Yuna sambil terisak. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri kalau suaminya pasti sedang berusaha mencari keberadaannya. Ia tidak akan menyerah begitu saja karena ia tahu ... di luar sana, Yeriko pasti sedang berjuang menemukan dirinya.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Yuna supaya dia selalu kuat ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas